FILSAFAT ABAD KE-19

FILSAFAT ABAD KE-19

Oleh : Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

filsafat dan filosof berasal dari kata Yunani “philosophia” dan “philosophos”. Menurut bentuk kata, seorang philosphos adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup iku menentukan arah dan tujuan proses pendidikan.

Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.

Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya.

Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.[1]

Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat pebedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh factor-faktor lain seperti latar belakangpribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat.

Ajaran filsafat yang berbada-beda tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran (sistem) suatu filsafat. Tetapi karena cara dan dasar yang dijadikan criteria dalam menetapkan klasifikasi tersebut berbeda-beda, maka klasifikasi tersebut berbeda-beda pula.[2]

Aliran dalam filsafat sangatlah banyak dia antaranaya empirisme . rasionalisme, matearialisme dan lain-lain namun dalam makalah ini hanya membahas dua aliran dalam filsafat yang timbul pada abad ke 19 yaitu aliran idelaisme dan positivisme.

  1. Rumusan Masalah

berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka pokok bahasan pada rumusan masalah ini dapat di rumuskan sebagai berikut:

  1. apa yang di maksud dengan aliran idealisme dan siapa saja tokoh tokoh aliran ini?
  2. apa yang di maksud dengan aliran positivisme dan siapa saja tokoh tokoh aliran ini ?

BAB II

PEMBAHASAN

    1. Pengertian Idealisme

Idealisme dari bahasa Inggris yaitu Idealism dan kadang juga dipakai istilahnya mentalisme atau imaterialisme. Istilah ini pertama kali digunakan secara filosofis oleh Leibniz pada mula awal abad ke- 18. Leibniz memakai dan menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato,Idealisme ini merupakan kunci masuk ke hakikat realitas.

Aliran Idealisme/Spritualisme, yang mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia. Idealisme: adalah aliran filsafat yg menekankan „idea” (dunia roh) sebagai objek pengertian dan sumber pengetahuan. Idealisme berpandangan bahwa segala sesuatu yg dilakukan oleh manusia tidaklah selalu harus berkaitan dgn hal-hal yg bersifat lahiriah, tetapi harus berdasarkan prinsip kehorhanian (idea). Oleh sebab itu, Idealiseme sangat mementingkan perasaan dan fantasi manusia sebagai sumber pengetahuan.[3]

Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea. Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea. Plato yang memiliki filsafat beraliran idealisme yang realistis mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut kapasitas masin-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan. Mereka yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak. Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan sifat superioritasnya dalam melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran tertinggi.[4]

Beberapa pengertian Idealisme :

  1. Adanya suatu teori bahwa alam semesta beserta isinya adalah suatu penjelmaan pikiran.
  2. Untuk menyatakan eksistensi realitas, tergantung pada suatu pikiran dan aktivitas-aktivitas pikiran.
  3. Realitas dijelaskan berkenaan dengan gejala-gejala psikis seperti pikiran-pikiran, diri, roh, ide-ide, pikiran mutlak, dan lain sebagainya dan bukan berkenaan dengan materi.
  4. Seluruh realitas sangat bersifat mental (spiritual, psikis). Materi dalam bentuk fisik tidak ada.
  5. Hanya ada aktivitas berjenis pikiran dan isi pikiran yang ada. dunia eksternal tidak bersifat fisik.[5]

Pandangan beberapa filsuf mengenai Idealisme.

  1. Schelling memberikan nama Idealisme subyektif pada filsafat Fichte, dengan alasan bahwa dalam Fichte dunia merupakan postulat subyek yang memutuskan.
  2. Idealisme obyektif adalah nama yang diberikan oleh Schelling pada pemikiran filsafatnya. Menurutnya, alam adalah inteligensi yang kelihatan. Hal tersebut menunjukkan semua filsafat yang mengindentikkan realitas dengan ide, akal atau roh.
  3. Hegel menerima klasifikasi Schelling, dan mengubahnya menjadi idealisme absolut sebagai sintesis dari pandangan idealisme subyektif (tesis) dan obyektif (antitesis).
  4. Idealismetransendental adalah pandangan dan penyebutan dari Immanuel Kant. Sering disebut juga disebut sebagai idealisme kritis. Pandangan ini mempunyai alternatif yaitu isi dari pengalaman langsung tidak dianggap sebagai benda dalam dirinya sendiri, sedangkan ruang dan waktu merupakan forma intuisi kita sendiri
  5. Idealisme epistemologis merupakan suatu keputusan bahwa kita membuat kontak hanya dengan ide-ide atau pada peristiwa manapun denga entitas-entitas psikis.
  6. Idealisme personal adalah sisitim filsafat Howison dan Bowne.
  7. Idealisme voluntarisme dikembangkan oleh Fouilee dalam suatu sistim yang melibatkan tenaga pemikiran.
  8. Idealisme teistik pandangan dan sistim filsafat dari Ward.
  9. Idealisme monistik adalah penyebutan dan sistim filsafat dari Paulsen.
  10. Idealisme etis adalah pandangan filsafat yang dianut oleh Sorley dan Messer.
  11. Idealisme Jerman, pemicunya adalah Immanuel Kant dan dikembangkan oleh penerus-penerusnya. Idealisme merupakan pembaharuan dari Platonis, karena para pemikir melakukan terobosan-terobosan filosofis yang sangat penting dalam sejarah manusia, hanya dalam tempo yang sangat singkat, yaitu 40 tahun (1790- 1830) dan gerakan intelektual ini mempunyai kedalaman dan kekayaan berpikir yang tiada bandingnya.[6]

Idealisme sangatlah bertolak belakang dengan materialisme dan naturalisme, idealisme merupakan satu corak kefilsafatan yang berpandangan bahwa hakikat terdalam dari kenyataan tidaklah bersifat materi, melainkan bersifat rohani atau spiritual (kejiwaan)[7] Karena itu istilah idealisme terkadang dikenal juga dengan istilah immaterialisme atau mentalisme. Penganut idealisme berpandangan bahwa pada hakikatnya kenyataan terdalam yang dikenal oleh naturalisme sebagai bersifat alam, atau oleh materialisme sebagai bersifat materi, sebenamya bersifat rohani. Jika benar apa yang dikatakan oleh naturalisme dan materialisme, tentu segala hal dan gejala pasti dapat diterangkan

dengan penjelasan yang bersifat alam atau materi dan tidak ada misted. Akan tetapi demikian banyak terdapat hal atau gejala yang tidak dapat diterangkan dengan cara itu, seperti nilai, makna, pengalaman spiritual dan lain-lain sejenisnya. Bahkan adanya nilai, pada hakikanya mengandung makna adanya jiwa atau roh yang dapat menangkap maknanya. Istilah roh dalam hal ini dimaknai sebagai sesuatu dalam diri yang bukan berupa alat-alat inderawi, yang menangkap dan memberi penghargaan kepada nilai¬nilai. Kareaa itu, idealisme menempatkan pahamnya pada nisi ekstrim sebaliknya, yang sebagaimana pendapat G. Watts Cunningham (dalam Titus et al, 1987) bahwa agar materi atau tatanan kejadian yang terjadi dalam ruang dan waktu dapat dipahami hakikatnya yang terdalam maka, hams adajiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tertentu bersifat mendasari hal-hal tersebut. Dengan pandangan seperti ini, idealisme menyatakan bahwa seluruh realitas (ontologis) bersifat spiritual dan materi (yang fisik) pada hakikatnya tidak ada. lmplikasinya pada pengetahuan (epistemologis) ialah bahwa pengetahuan mengenai realitas hanya mungkin melalui proses-proses mental.[8]

Seperti halnya materialisme, sejarah idealismejuga menunjukkan perkembangan ke dalam berbagai varian, namun tetap bertitik-tolak dari padangan dasar yang sama. Idealisme subyektif berpandangan bahwa dunia merupakan postulat subyek yang memutuskan. Idealisme obyektif berpandangan bahwa alam tidak lain adalah inteligensi yang kelihatan. Idealisme transendental atau idealisme kritis diperkenalkan oleh Immanuel Kant dengan pandangan bahwa pengalaman langsung bukan “benda” dalam dirinya sendiri serta ruang dan waktu adalah forma intuisi manusia sendiri. Terdapat istilah lain, yaitu idealisme epistemologis, yang pada dasamya adalah penamaan lebih lanjut dari pandangan yang menyatakan bahwa kontak manusia dengan alam adalah kontak ide.

Salah satu perkembangan yang diakui dalam perkembangan filsafat Barat modern ialah idealisme Jerman yang muncul sebagai gerakan intelektual yang meletakkan eksistensi dan ide identik. Walaupun antara satu dengan yang lain diantara filsuf faham idealisme Jerman ini terdapat perbedaan, namun mereka sepakat pada dua ide dasar, yaitu : (1) keunggulan fikiran, dan (2) gerakan dialektis. Secara singkat hal itu dapat dijelaskan bahwa rasio sebagai ide dari segala ide dan basis primordial mutlak mengendalikan dirinya sendiri, dan sesudah itu segala sesuatu dalam dirinya sendiri merupakan momen-momen atau tampakan yang yang berkembang sendiri.[9]

idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan a priori atau acctif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan rasionalisme dalam epistemologi ialah empirisisme yang mengatakan bahwa pengetahuan bukan di proleh lewat rasio (akal), melainkan melalui pengalaman empiris. Orang empirisisme amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung pada jiwa atau roh karena pandangan itu melibatkan dogma metafisik.[10]

    1. Tokoh-Tokoh Idealisme
  1. Fichte (1762-1814)

johann Gottlieb Fichte adalah filosof Jarman. la belajar teologi di Jena pada tahun 1780-1788. Berkenalan dengan filsafat Kant di Leipzig 1790. Berkelana ke Konigsberg untuk rnenemui Kant dan menulis Critique of Revelation pada zaman Kant. Buku itu dipersembahkaunya kepada Kant. Tahun 1810-1812 ia menjadi rektor Universitas Berlin.

Menurut Fichte, dasar realitas adalah kemauan. kemauan inilah thing in itself-nya manusia. Penampakan, menurut pendapatnya, adalah sesuatu yang ditanam oleh Roh Absolut sebagai penampakan kemauannya. Roh Absolut adalah sesuatu yang berada di belakang kita. itu adalah Tuhan pada Spinoza.

Filsafat menurut Fichte haruslah dideduksi dari satu prinsip. Ini sudah mencukupi untuk memenuhi tuntutan pemikiran, moral, bahkan seluruh kebutuhan manusia. Prinsip yang dimaksud ada di dalam etika: Bukan teori, melainkan prakteklah yang menjadi pusat yang di sekitarnya kehidupan diatur. Unsur esensial dalam pengalaman adalah tindakan, bukan fakta.[11]

Menurut Fichte, dasar kepribadian adalah kemauan. bukan kemauan irasional seperti pada Schopenhauer, melainkan kemauan yang dikontrol oleh kesadaran bahwa kebebasan diperoleh hanya dengan melalui kepatuhan kepada peraturan. Kehidupan moral adalah kehidupan usaha. Manusia dihadapkan kepada rintangan-rintangan, dan manusia digerakkan oleh rasa wajib bahwa ia berutang pada aturan moral umum yang memungkinkannya mampu memilik. yang baik. Idealisme etis Fichte diringkaskan dalam pernyataan bahwa dunia aktual hanya dapat dipahami sebagai bahan bagi tugas-tugas kita. Oleh karena itu, filsafat bagi Fichte adalah filsafat hidup yang terletak pada pemilihan antara moral idealisme dan moral materialisme. Substansi materialisme menurut Fichte ialah naluri, kenikmatan tak bertanggung jawab, bergantung pada keadaan, sedangkan idealisme ialah kehidupan yang bergantung pada diri sendiri.

Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus berupa langkah menuju kesempurnaan spiritual. itu hanya dapat dicapai dalam masyarakat yang anggota-anggotanya adalah pribadi yang babas merealisasi diri mereka dalam kerja untuk masyarakat. Pada tingkat yang lebih tinggi, keimanaa dan harapan manusia muncul dalam kasih Tuhan.[12]

  1. Schelling (1775-1854)

Friedrich Wilhelm Joseph Schelling sudah mencapai kematangan sebagai     filosof pada waktu ia masih amat muda. Pada tahun 1798, kctika usianya 23 tahun, ia telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Sampai akhir hidupnya. pemikirannya selalu berkembang. Namun, kontinuitasnya tetap ada da periode terkahir dalam hidupnya ia mencurahkan perhatiannya pada agama dan mistik. Dia adalah filosof idealis Jerman yang telah mcletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel. Ia pernah menjadi kawan Fichte. Bersama Fichte dan Hegel, Schelling adalah idealis Jerman yang terbesar. Pemikirannya pun merupakan mata rantai antara Fichte dan Hagel, Seperti Fichte, Schelling mula-mula berusaha menggambarkan jalan yang dilalui intelek dalam proses mengetahui, semacam epistemologi. Fichte memandang alam semesta sebagai lapangan tugas manusia dan sebagai basis kenenasan moral, Schelling membahas realitas lebih obyektif dan menyiapkan jalan bagi idalisme absolut Hegel. [13]

  1. Hegel (1775-1854)

Hegel (1770-1831) Hegel lahir pada tahun 1770 di Stuttgart. Ini adalah tahun-tahun Revolus_ Prancis yang terkenal itu (1789), juga merupakan tahun-tahun berbunganya kesusastraan Jerman. Lessing, Goa-the, dan Schiller hidup pada periode ini jug:, Friedrich Holderlin, sastrawan puisi Jerman terbesar, adalah kawan dekat He-gel, juga lahir pada tahun 1770, sama dengan pengarang lagu yang kondang. Beethoven. Di Universitas Tubingen ia belajar teologi, tahun 1791 ia mempe¬roleh gelar doktor dalam teologi. Oleh karena itu, karya Hegel yang mula-mula adalah mengenai agama Kristen, seperti The Life of Jesus dan The Spirit of Christianity.[14]

Hegel ialah puncak gerakan filsafat Jerman yang berawal dari Kant; walaupun is sering mengkritik Kant, sistem filsafatnya tidak akan pernah muncul kalau tidak ada Kant. Pengaruhnva, kendati kini surut, sangat besar, tidak hanva atau terutama di Jerman. Pada akhir abad kesembilanbelas, para filsuf akademik terkemuka, haik di Amerika maupun Britania Raya, sangat bercarak Hegelian. Di luar filsafat mural, banyak teolog Protestan mengadopsl doktrin-doktrinnya, dan filsafatnya tentang sejarah mempengaruhi teori politik secara mendaiaun. Marx, seperti yang kita ketahui, ialah murid Hegel semasa mudanya, dan dalam sistem filsafatnya yang terakhir is masih mempertahankan heberapa corak Hegelian. Bahkan jika (sebagaimana yang saya yakini) hampir semua doktrin Hegel itu salah, is masih tetap penting, tidak hanya secara historis, sebagai contoh-terbaik jenis filsafat tertentu yang, di sisi lain, kurang runtut dan kurang komprehensif. Dalam hidupnya terdapat beberapa peristiwa penting. Semasa mudanya is tertarik terhadap mistisisme, dan pandangannya yang belakangan bisa dianggap, sedikit-banyak, sebagai intelektualisasi terhadap apa yang mulanya tampak padanya sebagai wawasan mistik. [15]

Hegel menyatakan bahwa ‘ruh dunia’ merkembang menuju pengetahuan itu sendiri yang juga harus berkembang . sama halnya dengan sungai-sungai makin lama sungai menjadi lebar ketika merndekati laut . menurut hegel, sejarah adalah kisah tentang ‘ruh dunia’ yang lambat laun mendekati kesadaraan itu sendiri. Meskipun dunia itu selalu ada, kebudayaan manusia dan perkembangan manusia telah membuat roh dunia semakin sadar akan nilainya yang hakiki.[16]

Hegel menegaskan bahwa yang nyata adalah rasional, dan yang rasional adalah nyata. Namun ketika is mengatakan hal ini is tidak me¬maksudkan “yang nyata” itu sebagai apa yang menurut para empirisis dipandang nyata. Ia mengakui, bahkan meyakinkan, bahwa apa yang bagi empirisis terlihat sebagai fakta adalah, dan pasti, tidak rasional; ini hanya setelah karakter yang terlihat pada fakta itu dijelmakan dengan memandang karakter-karakter itu sebagai aspek-aspek dari keseluruhan sehingga terlihat rasional. Sekalipun begitu, identifikasi terhadap yang nyata dan yang rasional itu tentu menimbulkan beberapa kepuasan yang tak bisa dipisahkan dari keyakinan bahwa “apa Baja yang berada (is), adalah benar”. Keseluruhan itu, dengan segala kerumitannya, oleh Hegel disebut “Yang Mutlak”. Yang Mutlak itu bersifat spiritual; pandangan Spinoza, bahwa ini mempunyai atribut perluasan sebagaimana pada pikiran, di tolak.[17]

  1. B. POSITIVISME

Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.

Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).

Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:

    1. Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer
    2. Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
    3. Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.[18]

a. Positivisme Logis

Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis yang tentunya di pelopori oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Lingkaran Wina.

Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah. Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.

Tujuan akhir dari penelitian yang dilakukan pada positivisme logis ini adalah untuk mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan ilmu” yang juga akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan matematika dianggap sebagai ilmu-ilmu formal.

Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.[19]

Dalam bidang ilmu sosiologi, antropologi, dan bidang ilmu sosial lainnya, istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.[20]

Positivisme adalah aliran filsafat yang secara radikal beranjak dari ketidakpercayaan terhadap pandangan-pandangan dan pembicaraan-pembicraan metafisis yang dilakukan oleh aliran-filsafat sebelumnya. Karena itu, para penganutnya menyatakan bahwa positivisme adalah suatu filsafat non-metafisik.

Dalam pandangan positivisme, pertanyaan-pertanyaan metafisis sama sekali tidak mengandung makna, tidak dapat dipertanggung jawabkan dan tidak ada gunanya”. Pada dasamya, satu-satunya tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui kenyataan adalah apa yang disebut sebagai keadaan dapat diverifikasi (creterion of verifiability), demikian ancangan dasar positivisme. Misalnya, peryataan metafisis yang mengatakan bahwa “ada substansi terdalam dari segenap hal yang menampak”, jelas adalah pemyataan yang tidak ada gunanya karena tidak bermakna, karena tak satupun pengamatan inderawi yang bisa dilakukan untuk mengambil keputusan terhadap kebenaran pemyataan tersebut, dan karenanya is tak bisa dipertanggungjawabkan. Demikian halnya untuk pemyataan-pemyataan metafisik lain.

Positivisme sebagai sebuah aliran filsafat dipopulerkan oleh Auguste Comte (1798-1857) yang juga menamai positivisme sebagai Filsafat Positif Dalam mensistimatisir pandangan positivisme, Comte bertitik-tolak dari pandangan bahwa perkembangan masyarakat sebenarnya ditunjukkan oleh perkembangan cara berfikir (cara berpengetahuan) dalam tiga tahap, yaitu dari tahap teologis, tahap metafisis dan tahap positif. Dalam tahap teologis, perkembangan masyarakat ditandai lagi oleh tiga tahap perkembangan cara berfikir. Pertama adalah cara berfikir animis, dimana masyarakat mempercayai bahwa benda-benda fisis memiliki jiwa. Dalam cara pandang ini realitas dipahami sebagai perwujudan dari kehendak roh atau jiwa yang dimiliki oleh benda-benda. Kedua adalah cara berfikir politeis, dimana masyarakat percaya pada dewa-dewa yang masing-masing menguasai lapangan tertentu. Ketiga adalah cara berfikir monoteis, dimana masyarakat mempercayai adanya hanya satu dewa atau Tuhan sebagai penguasa segala sesuatu. [21]

Dalam tahap metafisis, perkembangan masyarakat ditunjukkan oleh perkembangan pemikiran yang menunjukkan kemampuan untuk melakukan konseptualisasi metafisis melalui konsep-konsep dan prinsip-prinsip abstrak, seperti misalnya, substansi terdalam, esensi, causa, dan sebagainya. Dalam tahap positif, masyarakat telah mencapai tahap tertinggi dalam perkembangannya, dimana masyarakat dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai realitas berdasarkan fakta dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan melalui kemampuan verifikasi empirik. Pada tahap ini, satu-satunya bahasa mengenai realitas adalah bahasa ilmu-ilmu positif yang dicapai melalui metode ilmiah. Sebenamya positivisme sendiri, sebelum sampai pada puncaknya yang dikenal sebagai positivisme logic dewasa ini, paling tidak, menunjukkan tiga tahap perkembangan. Pada tahap pertama, positivisme mengarahkan pengetahuan hanya pada hal-hal yang bersifat positivistik obyektif. Pada tahap kedua, pengetahuan juga sudah menggunakan sudut pandang psikologis yang subyektif Barulah kemudian, pada tahap puncak, melalui kegiatan yang dilakukan oleh apa yang dinamakan sebagai lingkaran Wina, penganut neo-positivisme menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis dan semantika dalam positivisme logis. Pada tahap ini, positivisme secara lebih sistematis dan cermat melakukan pembicaraan mengenai masalah-masalah bahasa, logika simbolis dan struktur penyelidikan ilmiah, yang terutama dengan penggunaan matematika dan logika ilmiah memasuki masalah-masalah epistemologis. Pada tahap terakhir ini, positivisme dikenal sebagai Positivisme Logis. Pembicaraan lebih jauh mengenai positivisme logis pada dasarnya lebih mengarah pada pembahasan epistemologis. Namun demikian, dari padanya dapat ditarik pengertian bahwa secara ontologis is memandang realitas obyektif sebagai hakikat kenyataan yang segala hal mengenainya terlepas dari pandangan-pandangan metafisik, melainkan pengetahuan obyektif yang dapat diverifikasi. Bahkan terhadap hal-hal yang berkenaan dengan realitas kehidupan manusia, positivisme memandangnya sebagai realitas obyektif dalam kebudayaan dan perkembangannya menurut tempat dan waktu. Argumen-argumen lebih jauh mengena positivisme, lebih condong dilakukan dalam pembahasan epistemologis.[22]

BAB V

KESIMPULAN

    1. Idealisme dari bahasa Inggris yaitu Idealism dan kadang juga dipakai istilahnya mentalisme atau imaterialisme. Istilah ini pertama kali digunakan secara filosofis oleh Leibniz pada mula awal abad ke- 18. Leibniz memakai dan menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato,Idealisme ini merupakan kunci masuk ke hakikat realitas.
    2. Idealisme sangatlah bertolak belakang dengan materialisme dan naturalisme, idealisme merupakan satu corak kefilsafatan yang berpandangan bahwa hakikat terdalam dari kenyataan tidaklah bersifat materi, melainkan bersifat rohani atau spiritual (kejiwaan)  Karena itu istilah idealisme terkadang dikenal juga dengan istilah immaterialisme atau mentalisme. Penganut idealisme berpandangan bahwa pada hakikatnya kenyataan terdalam yang dikenal oleh naturalisme sebagai bersifat alam, atau oleh materialisme sebagai bersifat materi, sebenamya bersifat rohani. Jika benar apa yang dikatakan oleh naturalisme dan materialisme, tentu segala hal dan gejala pasti dapat diterangkan
    3. Tokoh tokoh dalam idealisme adalah :  Fichte (1762-1814) , Schelling (1775-1854) , Hegel (1775-1854)
    4. Dalam bidang ilmu sosiologi, antropologi, dan bidang ilmu sosial lainnya, istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.
    5. tokoh positisme adalah Auguste Comte

DAFTAR PUSTAKA

Fuad Rumi MS, filsafat ilmu, universitar muslim Indonesia 1999

Jostein gaarder dunia sophie, mizan pustaka

http://wikipedia.org/wiki/positivisme

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/idealisme-dalam-filsafat-pendidikan/

http://www.wikimu.com/news/idealisme dan positifisme/DisplayNews.aspx.htm

http://www.marxist.com/indonesia/feuer4.html

http://syariat-tharikat-hakikat.blogspot.com/2008/03/Filsafat Idealisme dan Realisme « Pokja Pengawas_files/a_003.htm

http://kangmasjuqi.wordpress.com/2008/11/10/idealisme-visi-misi-dan-orientasi/Filsafat Idealismedan.docx

Lois O. kattsoff. Pengantar filsafat.

Russell Bertrand sejarah filsafat barat, pustaka pelajar,cetakan ke II ,

Tafsir Ahmad. filsafat ilmu, akal sejak thales sampai james , Pt Remaja Rosdakarya Bandung.


[1] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/idealisme-dalam-filsafat-pendidikan/ (accesed 24-08-2009)

[2] Ibid., http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/idealisme-dalam-filsafat-pendidikan/ (accesed 24-08-2009)

[3] http://kangmasjuqi.wordpress.com/2008/11/10/idealisme-visi-misi-dan-orientasi/Filsafat Idealismedan.docx(acessed 25-01-2009)

[4] Ibid., http://kangmasjuqi.wordpress.com/2008/11/10/idealisme-visi-misi-dan-orientasi/ Filsafat Idealisme dan.docx(acessed 25-01-2009)

[5] http://www.wikimu.com/news/idealisme dan positifisme/DisplayNews.aspx.htm (accesed 02-07-2009)

[6] Ibid., http://www.wikimu.com/news/idealisme dan positifisme/DisplayNews.aspx.htm (accesed 01-08-2009)

[7] Lois O. kattsoff. Pengantar filsafat. Hal 216

[8] Fuad Rumi MS, filsafat ilmu, (universitar muslim Indonesia 1999) h, 36

[9] Ibid., Fuad Rumi MS. h. 37

[10] Ahmad Tafsir. filsafat ilmu, akal sejak thales sampai james (Pt Remaja Rosdakarya Bandung.) h. 127

[11] Ibid.,129-130

[12] Ibid., 130

[13] Ibid., 132

[14] Op. Cit  Ahmad tafsir. filsafat ilmu, akal sejak thales sampai james, h 134

[15] Bertrand Russell sejarah filsafat barat (pustaka pelajar,cetakan ke II) ,h 951-952

[16] Jostein gaarder dunia sophie (mizan pustaka) h 395

[17] Ibid., 952

[18] http://syariat-tharikat-hakikat.blogspot.com/2008/03/Filsafat Idealisme dan Realisme « Pokja Pengawas_files/a_003.htm

[19] http://www.marxist.com/indonesia/feuer4.html(acessed 25-01-2009)

[20] http://wikipedia.org/wiki/positivisme (accesed 14-05-2009)

[21] Fuad Rumi h 39,  Loc. Cit.

[22] Fuad Rumi h 39, Loc. Cit.

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: