FILSAFAT SEMIOTIKA

FILSAFAT SEMIOTIKA

Oleh : Syekhuddin

BAB I   PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa memiliki urgensi yang tinggi pada saat sekarang ini, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai aliran filsafat, seperti fenomologi, eksistensialisme, analitika, neopositivisme, hermeneutika, dan semiotika. Orang menyebut filsafat abad ke-20 hingga saat ini adalah filsafat bahasa (Logosentrisme). Banyak diantara para filosof yang memandang “Bahasa” sebagai objek pemikiran mereka sehingga bahasa telah menjadi tema sentral filsafat Eropa dan amerika.

Sebagai disiplin ilmu, pendekatan, metodologi, atau bidang kajian-kajian, semiotika nampaknya kini mulai banyak didekati, tidak saja oleh para akademisi, tetapi juga oleh para mahasiswa, khususnya pada program studi komunikasi. Semiotika telah menjadi bidang kajian yang sangat penting dalam disiplin komunikasi, karena semiotika merupakan bagian dari bahasa. Secara umum semiotika telah dimulai sejak filosof Yunani kuno, seperti Plato dan Aristoteles, dan juga pada ahli-ahli skolastik abad pertengahan. Semiotika merupakan cabang ilmu yang berkaitan dengan system tanda dan yang berlaku bagi penggunaan tanda.[1]

B. Rumusan Dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas. Penulis akan mengulas secara ringkas FILSAFAT SEMIOTIKA dengan membatasi beberapa hal, yaitu:

  1. Pengertian Semiotika
  2. Pokok dan Tokoh Semiotika
  3. Aplikasi Semiotika Komunikasi
  4. Berkomunikasi Dengan Simbol-Simbol
  5. Dasar-Dasar Semiotika Islam

BAB II  PEMBAHASAN SEMIOTIKA DAN SEMIOLOGI

Kata Semiotika berasal dari bahasa Yunani, semeion, yang berarti “tanda” atau seme, yang berarti “penafsir tanda”. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan poetika. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai adanya api.

Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri[2]

Kata semiotika dan semiologi adalah istilah yang ada dalam sejarah linguistic, selain kedua istilah ini ada pula digunakan istilah lain seperti semasiologi, sememik, dan semik untuk merujuk kepada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang.[3]

Sesungguhnya kedua istilah ini,  semiotika dan semiologi, mengandung pengertian yang persis sama, walaupun penggunaan salah satu dari kedua istilah tersebut biasanya menunjukkan pemikiran pemakainya: mereka yang bergabung dengan Pierce atau mengacu pada tradisi Amerika menggunakan kata   semiotika, dan mereka yang bergabung Saussure atau mengacu pada tradisi Eropa menggunakan kata semiologi. Namun yang terakhir, jika dibandingkan dengan yang pertama, kian jarang dipakai, ada kecendrungan istilah semiotika lebih populer dari istilah semiologi sehingga para penganut Saussure pun sering menggunakannya.[4]

Baik semiotika maupun semiologi, keduanya kurang lebih dapat saling menggantikan karena sama-sama digunakan untuk mengacu kepada ilmu tentang tanda.

Pada dasarnya, semiosis dapat dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat diberikan dalam istilah semiotika sebagai suatu hubungan antara lima istilah:

S ( s, i, e, r, c )

S adalah untuk  semiotic relation (hubungan semiotic), s untuk sign ( tanda); I untuk interpreter (penafsir); e untuk effect atau pengaruh, r untuk reference (rujukan); dan c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi)

Begitulah, semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda; secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.[5]

Secara singkat dapat dikatakan bahwa studi semiotika disusun dalam tiga poros. Poros horizontal menyajikan tiga jenis penyelidikan semiotika (murni, deskriptif, dan terapan); poros vertical menyajikan tiga tataran hubungan semiotic (sintaktik, semantic, dan pragmatic); dan poros yang menyajikan tiga kategori sarana informasi (signals, signs, dan symbols).[6]

BAB III  POKOK DAN TOKOH SEMIOTIKA

PRAGMATISME CHARLES SANDERS PIERCE

Ia adalah salah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensional, seorang pemikir yang argumentative. Namun ironisnya, di tengah-tengah kehidupan masyarakat, teman-temannya membiarkan dia hidup dalam kesusahan sampai meninggalnya, tahun 1914. Ia diperbolehkan menjadi lector di suatu Universitas hanya lima tahun. Setelah itu Pierce diberhentikan. Barangkali karena Pierce, seperti dituturkan Cobley dan Jansz, tidak dapat menjadi contoh dari gaya hidup akademik yang santun, lingkungan tempat dia secara bertahap mengonstruksi ‘Semiotika”-nya. “Sifat pemarah dan sulit diatur itu diduga karena penyakit sarafnya yang sering kambuh dan kerusakan kulir di sekitar wajah yang agak parah,”[7]

Pierce lahir dalam keluarga intelektual pada tahun 1839 (ayahnya, Benjamin adalah seorang professor matematika di Harvard). Padsa tahun 1859, 1862, dan 1863 secara berturut-turut ia menerima gelar B.A., M.A., dan B.Sc. dari Universitas Harvard. Selama lebih dari tiga puluh tahun (1859-1860, 1861-1891) Pierce banyak melaksanakan tugas astronomi dan geodesi untuk Survei Pantai Amerika Serikat. Dari tahun 1879-1884, ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidang logika di Universitas Johns Hopkins.

Pierce terkenal karena teori tandanya. Di dalam lingkup semiotika, seringkali mengulang-ulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. Berdasarkan objeknya, Pierce membagi tanda atas icon, index, dan symbol. Dan dia juga membaginya menjadi sepuluh jenis: Qualisign, Iconic Sinsign, Rhematic Indexical Sinsign, Dicent Sinsign, Iconic Legisign, Rhematic Indexical Legisign, Dicent Indexical Legisign, Rhematic Symbol, Dicent Simbol, dan Argument.[8]

TEORI TANDA FERDINAND DE SAUSSURE

Dilahirkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. Ia hidup sezaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkheim. Selain sebagai seorang ahli linguistic, ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa Indo-Eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu social dan kemanusiaan.[9]

Ia sebetulnya tidak pernah mencetak pemikirannya menjadi buku. Catatan-catatannya dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi sebuah outline.

Bahasa di mata Saussure tak ubahnya sebuah karya musik. Untuk memahami sebuah simponi, kita harus memperhatikan keutuhan karya musik secara keseluruhan dan bukan kepada permainan individual dari setiap pemain musik. Untuk memahami bahasa, kita harus melihatnya secara “sinkronis”, sebagai sebuah jaringan hubungan antara bunyi dan makna. Kita tidak boleh melihatnya secara atomistic, secara individual.[10]

Sedikitnya, ada lima pandangan dari Saussure yang di kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yaitu pandangan tentang (1) signifier (penanda) dan signified (petanda); (2) form (bentuk) dan content (isi); (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan, ujaran); (4) synchronic (sikronik) dan diachronic (diakronik); serta (5) syntagmatik (sintagmatik) associative (paradigmatic)

LINGUISTIK STRUKTURAL ROMAN JAKOBSON

Beliau adalah murid ahli fonologi Rusia Nikolai Trouberzkoy. Dilahirkan di Moskow pada tahun 1896. Ia dianggap sebagai salah seorang ahli linguistic abad ke-20 yang menonjol, yang pertama kali meneliti secara serius baik pembelajaran bahasa maupun bagaimana fungsi bahasa bisa hilang pada afasia. Pemikiran awalnya yang penting adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metaphor retoris (kesamaan), dan metonimia (kesinambungan), Ia pelopor utama upaya pendekatan strukturalis pada bahasa, khususnya karena ia sangat menekankan bahwa pola suara bahasa pada hakikatnya bersifat relasional. Hubungan antara suara dalam konteks tertentu menghasilkan makna dan signifikansi. Ia adalah seorang dari teoretikus yang pertama-tama berusaha menjelaskan proses komunikasi  teks sastra.

Analisis  Jakobson atas bahasa mengambil ide dari Saussure yang menyatakan bahwa bahasa atau struktur bahasa bersifat diferensial. Jakobson memandang bahwa bahasa memiliki enam macam fungsi, yaitu: (1) fungsi referensial, pengacu pesan; (2) fungsi emotif, pengungkap keadaan pembicara; (3) fungsi konatif, pengungkap keinginan pembicara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak; (4) fungsi metalingual, penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan; (5) fungsi fatis, pembuka, pembentuk, pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak; dan (6) fungsi fuitis, penyandi pesan. Dan ia yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantic, unit-unit yang bermakna, dan dilakukan dengan mengetahui cirri-ciri pembeda dari suatu suara yang memisahkannya dengan cirri-ciri suara yang lain.[11]

METASEMIOTIKA LOUIS HJELMSLEV

Lahir di Denmark pada tahun 1889, dan meninggal pada1966. Dikenal sebagai salah satu tokoh linguistic yang berperan dalam pengembangan semiologi pasca Saussure. Ia mengembangkan sistem dwipihak yang merupakan ciri sistem Saussure, dan membagi tanda ke dalam expression dan content, dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure.[12]

Sumbangan Hjelmslev terhadap semiologi Saussure adalah dalam menegaskan perlunya sebuah “sains yang mempelajari bagaimana tanda hidup dan berfungsi dalam masyarakat”

Dalam pandangan Hjelmslev, sebuah tanda tidak hanya mengandung sebuah hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya.

Hjelmslev mengatakan bahwa “sebuah semiotika denotative adalah sebuah semiotika dimana bidangnya bukanlah semiotic”, sedangkan semiotika konotatif adalah ” sebuah semiotika di mana bidangnya bersifat semiotik’. Meskipun begitu, sebenarnya tidak hanya demikian yang berlangsung. Bidang kandungan bisa menjadi semiotika, dan menurut Hjelmslev ini disebut sebagai suatu “metasemiotika”. Menurut Hjelmslev, linguistic adalah sebuah contoh metasemiotika: telaah tentang bahasa yang juga adalah bahasa itu sendiri.[13]

SEMIOLOGI DAN MITOLOGI ROLAND BARTHESP.

Barthes lahir tahun 1915 dari keluarga kelas menengah Protestan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis. Ayahnya, seorang perwira angkatan laut, meninggal dalam sebuah pertempuran di laut utara sebelun usia Barthes genap mencapai satu tahun. Sepeninggal ayahnya, ia kemudian diasuh oleh ibu, kakek, dan neneknya.

Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktekkan model linguistic dan semiologi Saussurean. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama; eksponen penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra. Ia berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.[14]

Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca ( the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tartan kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya.[15]

BAB IV  APLIKASI SEMIOTIKA KOMUNIKASI

MEDIA

Pada dasarnya, studi media massa mencakup pencarianan pesan dan makna-makna dalam materinya, karena sesungguhnya semiotika komunikasi, seperti halnya basis studi komunikasi, adalah proses komunikasi, dan intinya adalah makna. Dengan kata lain mempelajari media adalah mempalajari makna dari mana asalnya, seperti apa, seberapa jauh tujuannya, bagaimanakah ia memasuki materi media, dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita sendiri.[16]

Teknik-teknik analisis yang diterapkan, secara garis besar, terdiri atas teknik-teknik kuantitatif dan kualitatif. Teknik analisis kuantitatif adalah yang paling dapat mengatasi kekurangan dalam objektivitas, namun hasilnya kurang mantap. Titik tolaknya ialah bahwa ciri-ciri yang dapat diukur dinyatakan sebagai tanda. Dalam surat kabar, perhatian terhadap masalah dinyatakan dalam jumlah kolom, besarnya judul, jumlah ilustrasi dan letak. Pada analisis kualitatif, tanda-tanda yang diteliti tidak atau hampir tidak dapat diukur secara matematis.[17]

Dalam studi media terdapat tiga pendekatan untuk menjelaskan media. Pertama, pendekatan politik-ekonomi (the political-economy approach); kedua pendekatan organisasi (organizational approach); dan ketiga, pendekatan kulturalis (culturalist approach)111

Pendekatan politik-ekonomi berpendapat bahwa isi media lebih ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik di luar pengelolaan media. Factor seperti pemilik media, modal, dan pendapatan media dianggap lebih menentukan bagaimana wujud isi media. Faktor-faktor inilah yang menentukan peristiwa apa saja yang bisa atau tidak bisa ditampilkan dalam pemberitaaan, serta kearah mana kecenderungan pemberitaan sebuah media hendak diarahkan.[18]

Pendekatan organisasi bertolak belakang dengan pendekatan politik-ekonomi. Pendekatan organisasi melihat pengelola media sebagai pihak yang aktif dalam proses pembentukan dan produksi berita. Dalam pendekatan ini, berita dilihat sebagai hasil dari mekanisme yang ada di dalam ruang redaksi. Praktik kerja, profesionalisme, dan tata urutan yang ada dalam ruang organisasi adalah unsur-unsur dinamik yang mempengaruhi pemberitaan.[19]

Pendekatan kulturalis merupakan gabungan antara pendekatan politik-ekonomi dan pendekatan organisasi. Proses produksi berita di sini dilihat sebagai mekanisme yang rumit yang melibatkan factor internal media. Mekanisme yang rumit ini ditunjukkan dengan bagaimana perdebatan yang terjadi dalam ruang pemberitaan. Media pada dasarnya memang mempunyai mekanisme  untuk menentukan pola dan aturan organisasi, tetapi berabagai pola yang dipakai untuk memaknai peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekuatan-kekuatan politik-ekonomi di luar media.[20]

KOMUNIKASI PERIKLANAN

Dalam komunikasi periklanan, ia tidak hanya mennggunakan bahasa sebagai alatnya, tetapi juka komunikasi lainnya seperti gambar, warna, dan bunyi. Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, kita bisa mengkajinya lewat sistem tanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baik yang verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks, terutama dalam iklan radio, televise, dan film.[21]

Pada dasarnya, lambang yang digunakan dalam iklan terdiri atas dua jenis, yaitu yang verbal dan yang nonverbal. Lambang verbal adalah bahasa yang kita kenal; lambang nonverbal adalah bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan, yang tidak secara khusus meniru rupa atas bentuk realitas. Ikon adalah bentuk dan warna yang serupa atau mirip dengan keadaan sebenarnya seperti gambar benda, orang, atau binatang. Ikon di sini digunakan sebagai lambing.[22]

TANDA NONVERBAL

Tanda nonverbal dapat diartikan semua tanda yang bukan kata-kata. Ada beberapa cara untuk menggolongkan tanda-tanda;

  1. Tanda yang ditimbulkan oleh alam yang kemudian diketahui oleh manusia melalui pengalamannya; misalnya, kalau langit sudah mendung menandakan akan turun hujan, dan kalau hujan sudah turun terus-menerus ada alasan untuk mengatakan banjir, dan kalau banjir ada alasan untuk menyatakan timbulnya penyakit.
  2. Tanda yang ditimbulkan oleh binatang; misalnya kalau anjing menyalak kemungkinan ada tamu yang memasuki halaman rumah, atau tanda bahwa ada pencuri
  3. Tanda yang ditimbulkan oleh manusia. Tanda ini dapat dibedakan atas yang bersifat verbal dan yang bersifat nonverbal. Yang bersifat verbal adalah tanda- tanda yang digunakan sebagai alat komunikasi yang dihasilkan oleh alat bicara, sedangkan yang bersifat nonverbal dapat berupa:
    1. Tanda yang menggunakan anggota badan, lalu diikuti dengan lambang, misalnya “Mari!”
    2. Suara, misalnya bersiul, atau membunyikan ssst… yang bermakna memanggil seseorang.
    3. Tanda yang diciptakan oleh manusia untuk menghemat waktu, tenaga, dan menjaga kerahasiaan, misalnya, rambu-rambu lalu lintas, bendera, tiupan terompet.
    4. Benda- benada yang bermakna cultural dan ritual, misalnya buah pinang muda yang menandakan daging, gambir menandakan darah, bibit pohon kelapa menandakan bahwa kedua pengantin harus banyak mendatangkan manfaat bagi sesama manusia dan alam sekitar.[23]

FILM

Hubungan antara film dan masyarakat memiliki sejarah yang panjang dalam kajian para ahli komunikasi. Dari permulaan sejarahnaya film dengan lebih mudah dapat menjadi alat komunikasi yang sejati, karena ia tidak mengalami unsur-unsur teknik, politik, ekonomi, social dan demokrafi yang merintangi kemajuan surat kabar pada masa pertumbuhannya dalam abad ke-18 dan permulaan abad ke-19. Film mencapai puncaknya di antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II, namun kemudian merosot tajam setelah tahun 1945, seiring dengan munculnya medium televisi.[24]

Film merupakan bidang kajian yang amat relevan bagi analisis structural atau semiotika. Film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Berbeda dengan fotografi statis, rangkaian gambar dalam film menciptakan imajinasi dan sistem penandaaan. Ciri gambar-gambar film adalah persamaannya dengan realitas yang ditunjuknya. Gambar yang dinamis dalam film merupakan ikonis bagi realitas yang dinotasikannya.[25]

Film umumnya dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara; kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik film. Sistem semiotika yang lebih penting lagi dalam film adalah digunakannya tanda-tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu.[26]

Namun, seiring dengan kebangkitan film, muncul pula film-film yang mengumbar seks, criminal, dan kekerasan. Inilah yang kemudian melahirkan berbagai studi  komunikasi massa. Kekuatan dan kemampuan film menjangkau banyak segmen social, lantas membuat para ahli mengatakan bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Sejak itu maka merebaklah berbagai penelitian yang hendak melihat dampak film terhadap masyarakat.[27]

KOMIK-KARTUN-KARIKATUR

Pengertian ‘komik” secara umum adalah cerita bergambar dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku, yang pada umumnya mudah dicerana dan lucu, dan ada juga yang menampilkan cerita-cerita serius. Komik bertujuan utama menghibur pembaca dengan bacaan ringan, cerita rekaan yang dilukiskan relative panjang dan tidak selamanya mengangkat masalah hangat meskipun menyampaikan moral tertentu. Bentuk penyampaian komik lebih atraktif dan menjangkau sasaran yang lebih luas. Bahasa komik terutama sekali adalah bahasa gambar karena komik hadir sebagai bahasa gambar dan bahasa teks.[28]

Kartun adalah sebuah gambar lelucon yang muncul di media massa, yang hanya berisikan humor semata, tanpa membawa beban kritik social apapun. Namun ada juga yang mengungkapkan masalah sesaat secara ringkas namun tajam dan humoristis sehingga tidak jarang membuat pembaca tersenyum sendiri.[29]

Karikatur adalah gambar lelucon yang membawa pesan kritik social sebagaimana kita lihat di setiap ruang opini surat kabar. Menurut Sudarta, kartun adalah semua gambar humor, termasuk karikatur itu sendiri. Sedangkan karikatur adalah deformasi berlebihan atas wajah seseorang, biasanya orang terkenal, dengan mempercantiknya dengan penggambaran ciri khas lahiriyahnya untuk tujuan mengejek.[30]

Sebagai kartun opini, setidaknya empat hal teknis harus diingat

  1. Harus informative dan komunikatif
  2. Harus situasional dengan pengungkapan yang hangat
  3. Cukup memuat kandungan humor
  4. Harus mempunyai gambar yang baik.

Fungsi kartun dan juga karikatur yaitu bertujuan utama menyindir atau memperingatkan. Karena itu, dapat dijumpai kartun editorial, kartun politis, kartun social, kartun moral yang kisahnya selalu membidik sasaran tertentu, lazimnya masalah penting di dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, tokohnya yang umumnya berupa manusia menjadi semacam representasi dari rakyat. Dengan bahasa parodinya, kartun yang bagus berhasil menyampaikan amanat rakyat secara humoristis sehingga masalah penting semakin menarik perhatian atau bahkan beruba menjadi tanda bahaya dan pihak yang disindir tidak marah, paling-paling tersenyum kecut.[31]

SASTRA

Dalam lapangan sastra, karya sastra dengan keutuhannya secara semiotic dapat dipandang sebagai sebuah tanda. Dimensi ruang dan waktu dalam sebuah cerita rekaan mengandung tabiat tanda-menanda yang menyiratkan makna semiotika. Dari dua level antara mimetic dan semiotic (atau tataran kebehasaan dan mistis) sebuah karya sastra menemukan keutuhannya untuk difahami dan dihayati.[32]

Dalam penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan semiotika, tanda yang berupa indekslah yang paling banyak dicari, yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam pengertian luasnya. Dalam pengokohan seorang dokter, misalnya, dicari tanda-tanda yang memberikan indeks bahwa sang tokoh itu adalah dokter, karena ia selalu mempergunakan istilah-istilah kedokteran, alat-alat kedokteran.[33]

Wawasan semiotika dalam studi sastra memiliki tiga asumsi:

Pertama, karya sastra merupakan gejala komunikasi yang berakaitan dengan pengarang, wujud sastra sebagai sistem tanda, dan pembaca.

Kedua, karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda yang memiliki struktur dalam tata tingkat tertentu.

Ketiga, karya sastra merupakan fakta yang harus direkonstruksikan pembaca sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.[34]

MUSIK

Sistem tanda musik adalah oditif. Namun, untuk mencapai pendengarnya, penggubah musik mempersembahkan kreasinya dengan perantara pemain musik dalam bentuk sistem tanda perantara tertulis, jadi visual. Bagi semiotikus musik, adanya tanda-tanda perantara, yakni musik yang dicatat dalam partitur orkestra merupakan jalan keluar. Hal ini sangat memudahkan dalam menganalisis karya musik sebagai teks. Itulah sebabnya pengapa penelitian musik semula terutama terarah pada sintaksis, tidak ada semiotika tanpa semantic. Jadi, juga tidak ada semiotika musik tanpa semantic musik.[35]

BAB V BERKOMUNIKASI DENGAN SIMBOL-SIMBOL

Hidup agaknya memang digerakkan oleh symbol-simbol, dibentuk oleh simbol-simbol, dan dirayakan dengan simbol-simbol.. Ketika aksi terorisme 11 September meluluhlantakkan Gedung Kembar WTC di kawasan Manhattan, New York, Amerika Serikat. Dan ketika orang-orang di negeri kita sendiri hiruk–pikuk menghancurkan, memporakporandakan, dan membakari bedung pemerintahan, kendaraan, mall, atau tempat-tempat ibadah, sasaran ssungguhnya tentu bukanlah benda-benda itu sendiri. Sasaran mereka sesungguhnya adalah simbol. Gedung-gedung pencakar langit, kendarasan, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya itu bisa saja dilihat sebagai simbol “kecongkakan,” “kekuasaan,” “kesewenangan,” “keserakahan,” “kepura-puraan,” atau apapun. Dan itulah rupanya yang hendak mereka hantam dan hancurkan.[36]154

Dalam ibadah haji, pakaian ihram yang berwarna putih dan tidak berjahit, menyimbolkan kesucian dan pemisahan dengan kehidupan sehari-hari. Mengelilingi ka’bah menyimbolkan kesatuan antara Tuhan dan manusia, manusia dan manusia, langit dan bumi. Ritual sa’I menyimbolkan upaya Siti Hajar mencari air untuk dirinya sendiri dan anaknya, begitu pula ibadah qurban adalah symbol solidaritas.[37]

APA ITU SIMBOL ?

Simbol adalah bentuk yang menandai sesuatu yang lain di luar perwujudan bentuk simbolik itu sendiri. Simbol juga dapat semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya, yang menyatakan sesuatu hal, atau mengandung maksud tertentu. Misalnya, warna putih merupakan lambang kesucian, lambang padi lambang kemakmuran, dan kopiah merupakan salah satutanda pengenal bagi warga Negara Republik Indonesia.

Dalam konsep Pierce simbol diartikan sebagai tanda yang mengacu pada objek tertentu di luar tanda itu sendiri

Menurut James P. Spradley Simbol adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjuk kepada sesuatu.

Menurut Wellek dan Warren Simbol adalah suatu istilah dalam logika, matematika, semantic, semiotic, dan epistemology.[38]

Pada dasarnya simbol dapat dibedakan menjadi:

  1. symbol-simbol universal, berkaitan dengan arketipos, misalnya tidur sebagai lambang kematian
  2. simbol cultural yang dilatarbelakangi oleh suatu kebudayaan tertentu misalnya keris dalam kebudayyaaan Jawa.
  3. simbol individual yang biasanya dapat ditafsirkan dalam konteks keseluruhan karya seorang pengarang.

Simbol atau lambang merupakan salah satu kategori tanda (sign). Dalam wawasan Pierce, tanda (sign)  terdiri atas ikon (icon), indeks (index), dan simbol (symbol). Hubungan butir-butir tersebut oleh Pierce digambarkan sebagai berikut:

Icons

Signs                           Index ( Indices)

Symbols

Pada dasarnya ikon merupakan tanda yang bisa menggambarkan ciri utama sesuatu, meskipun sesuatu yang lazim disebut sebagai objek acuan tersebut tidak hadir. Misalnya, gambar Amin Rais adalah ikon Amin Rais.

Indeks adalah tanda yang hadir secara asosiatif akibat terdapatnya hubungan ciri acuan yang sifatnya tetap. Kata rokok, misalnya, memiliki indeks asap.[39]

Banyak orang yang selalu mengartikan simbol sama dengan tanda. Sebetulnya tanda berkaitan langsung dengan objek, sedangkan simbol memerlukan proses pemaknaan yang lebih intensif setelah menghubungkan dia dengan objek. Dengan kata lain, simbol lebih substantive daripada tanda. Oleh karena itu, salib yang di pasang di depan gereja, umpamanya, hanya merupakan tanda bahwa rumah tersebut rumah ibadah orang Kristen. Namun, salib yang terbuat dari kayu merupakan simbol yang dihormati oleh semua orang Kristen.[40]

Isyarat adalah suatu hal atau keadaan yang diberitahukan oleh subjek kepada objek. Artinya, subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberi tahu kepada objek yang diberi isyarat agar objek mengetahuinya pada saat itu juga. Isyarat tidak dapat ditangguhkan pemakaiannya. Ia hanya berlaku pada saat dikeluarkan oleh subjek. Isyarat yang ditangguhkan penggunaannya akan beruba menjadi tanda. Tanda itu sendiri berarti suatu hal atau keadaan yang menerangkan objek kepada subjek. Sementara, simbol atau lambang ialah suatu hal atau keadaaan yang memimpin pemahaman subjek kepada objek. Contoh-contoh yang berkenaan dengan isyarat, tanda, dan lambang atau symbol.

Pertama, isyarat dapat berupa gerak tubuh atau anggota badan, suara-suara atau bunyi-bunyian, sinar atau asap. Sementara itu, isyarat-isyarat morse bisa berupa kibaran bendera yang dipakai pramuka atau angkatan Laut.

Kedua, tanda-tanda dapat berupa benda-benda seperti tugu-tugu jarak jalan, tanda-tanda lalu lintas, tanda pangkat atau jabatan, tanda-tanda baca atau tanda tangan.

Ketiga, lambang atau simbol dapat berupa lambang partai, simbol matematika dan logika, departemen, sekolah, institute, dan lain-lain.[41]

SIMBOLISASI KEBUTUHAN POKOK MANUSIA

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Dan salah satu sifat dasar manusia, adalah kemampuan menggunakan simbol. Kemampuan manusia menciptakan simbol membuktikan bahwa manusia sudah memiliki kebudayaan yang tinggi dalam berkomunikasi, mulai dari simbol yang sederhana seperti bunyi dan isyarat, sampai kepada simbol yang dimodifikasi dalam betuk signal-signal melalui gelombang udara dan cahaya, seperti radio, televise, telegram, telex, dan satelit.[42]

Sebagai pengguna dan penafsir simbol, manusia terkadang irasional dengan menganggap seolah-olah ada kemestian atau ada hubungan alamiah antara satu simbol dengan apa yang disimbolkan. Buktinya, masih ada orang yang menanam kepala kerbau sebelum sebuah gedung dibangun, konon demi keselamatan gedung itu. Sebagian orang masih mempercayai hari baik atau hari buruk untuk membuat sebuah keputusan penting atau melakukan suatu perjalanan.[43]

SIMBOL STATUS DAN GAYA HIDUP

Status adalah simbol dari kesuksesan hidup, status pada dasarnya mengarah pada posisi yang dimiliki seseorang di dalam sejumlah kelompok ataiu organisasi dan prestise melekat pada posisi tersebut. Di dalam kehidupan masyarakat secara umum, seseorang yang memiliki suatu pekerjaan, memiliki status yang baik (bankir, dokter, pengacara, pengusaha), dan yang lainnya memiliki status yang lebih kecil (pedagang kaki lima, buruh harian, pemulung sampah). Status merupakan kekuatan yang besar di dalam masyarakat yang digunakan untuk mengendalikan orang dengan cara yang halus.[44]

Orang yang punya status tertentu kerap kali dihubung-hubungkan dengan gaya hidup. Gaya hidup adalah istilah menyeluruh yang meliputi cita rasa seseorang di dalam fashion, mobil, hiburan dan rekreasi, bacaan dan hal-hal yang lain. Pakaian merupakan bahasa diam yang berkomunikasi melalui pemakaian simbol-simbol verbal. Mobil bukanlah alat transportasi semata. Mobil memancarkan pula identitas pemakainya. Mobil adalah sebuah symbol.[45]

Gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas social ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Tampaknya manusia modern kini tak lagi sekedar membeli barang, tetapi membeli merek. Dan merek bukanlah sekedar nama. Di dalamnya terkandung sifat, makna, arti, dan isi dari produk bersangkutan. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, merek akan menandai simbol dan status dari produk tersebut.[46]

SIMBOL-SIMBOL BUDAYA DAN RELIGI

James P. Spradley mengatakan “Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Makna hanya dapat disimpan di dalam simbol, ujar Clifford Geerts. Pengetahuan kebudayaan lebih dari suatu kumpulan simbol, baik istilah-istilah rakyat maupun jenis-jenis simbol lain. Semua simbol, baik kata-kata yang terucapkan, sebuah objek seperti sebuah bendera, suatu gerak tubuh seperti melambaikan tangan, sebuah tempat seperti masjid atau gereja, atau suatu peristiwa seperti perkawinan, merupakan bagian-bagian suatu sistem simbol. Simbol itu meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau kita alami.[47]

Menurut Geerts; Bahkan kekuatan sebuah agama dalam menyangga nilai-nilai social terletak pada kemampuan simbol-simbolnya untuk merumuskan sebuah dunia tempat nilai-nilai itu, dan juga, kekuatan-kekuatan yang melawan perwujudan nilai-nilai itu, menjadi bahan-bahan dasarnya. Agama melukiskan kekuatan imajinasi manusia untuk membangun sebuah gambaran kenyataan.

Nama diri pun adalah simbol pertama dan utama bagi seseorang. Nama dapat melambangkan status, cita rasa budaya, untuk memperoleh citra tertentu, sebagai nama hoki atau apapun alasannya. Nama pribadi adalah unsur penting identitas seseorang dalam masyarakat, karena interaksi dimulai dengan nama dan hanya kemudian diikuti dengan atribut-atribut lainnya.[48]

Tak cuma nama orang, nama-nama tempat atau nama-nama sungai pun menyimpan banyak nama simbolik, jenis tumbuhan juga kerap dijadikan simbol atau lambang dalam berbagai budaya, bahkan sampai menyebar ke wilayah makanan. Ternyata, makanan rakyat ada juga yang diberi kandungan makna simbolis, yakni berupa ajaran filsafat, atau mistis.

KATA-KATA DAN MAKNA

PADA MULANYA ADALAH KATA

Kata dalam komunikasi pergaulan social ditentukan oleh hasil dari tawar-menawar yang tanpa henti. Dalam situasi tawar-menawar inilah berbagai peristiwa lucu atau, kadang-kadang tragis dalam komunikasi bisa terjadi. Kata pada dasarnya adalah satuan bentuk kebahasaan yang telah mengandung satuan makna tertentu. Lepas dari itu, terkadang suatu kata mengalami erosi makna dari maknanya yang asli, hal ini dapat dilihat pada reksi semantic seseorang terhadap suatu kata.

Setiap orang mempunyai hubungan mesra tersendiri dengan kata-kata tertentu, yang bagi dirinya memiliki makna khusus. Contoh kata cinta. Bagi seorang wanita yang hidup berbahagia dengan suaminya, kata cinta penuh dengan makna ‘bahagia’, ‘beruntung’, gairah hidup’, ‘senag hati’, dsb. Akan tetapi seorang wanita yang patah hati korban hawa nafsu lelaki yang memakai kata cinta untuk mengelabuinya saja, kata cinta pasti mempunyai makna lain sekali.[49]

Makna kata muda dimanipulasi. Maka itu, dalam berbagai kampanye pemilu era Orde Baru, di beberapa tempat, terutama yang dekat di lokasi pesantren, para jurkam dari suatu partai politik menyerang kontestan lain dengan mengutip Firman Allah dalam QS Al-Baqarah (2) : 35

Ÿwur $t/tø)s? Ínɋ»yd notyf¤±9$# $tRqä3tFsù z`ÏB tûüÏHÍ>»©à9$# ÇÌÎÈ

Dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Sedangkan para jurkam dari partai yang diserang membelas manipulasi ayat itu dengan manipulasi ayat lainnya yakni Firman Allah dalam QS Al-Fath (48) : 18

* ô‰s)©9 š_ÅÌu‘ ª!$# Ç`t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# øŒÎ) štRqãè΃$t7ム|MøtrB Íotyf¤±9$# zÇÊÑÈ

Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon[50]

MEMAHAMI MAKNA

Upaya memahami makna, sesungguhnya merupakan salah satu masalah filsafat yang tertua dalam umur manusia. Konsep makna telah menarik perhatian disiplin komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan linguistic. Itulah sebabnya, beberapa pakar komunikasi sering menyebut kata makna ketika mereka merumuskan definisi komunikasi. Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, misalnya, mengatakan, “Komunikasi adalah proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih.[51]

Tampaknya, kita perlu terlebih dahulu membedakan pemaknaan secara lebih tajam tentang istilah-istilah yang nyaris berimpit antara apa yang disebut (1) terjemah atau translation, (2) tafsir atau interpretasi, (3) ekstrapolasi, dan (4) makna atau meaning.

Membuat terjemah adalah upaya mengemukakan materi atau substansi yang sama dengan media yang berbeda; media tersebut mungkin berupa bahasa satu ke bahasa lain, dari verbal ke gambar, dan sebagainya. Pada penafsiran kita tetap berpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya, konteksnya agar dapat dikemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas. Ekstrapolasi lebih menekankan kepada kemampuan daya pikir manusia untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan. Materi yang tersajikan dilihat tidak lebih dari tanda-tanda atau indicator pada sesuatu yang lebih jauh lagi. Memberiakn makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran, dan mempunyai kesejajaran dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih menuntut kemampuan integrative manusia: indrawi, daya pikirnya, dan akal budinya.[52]

MAKNA DENOTATIVE DAN KONOTATIF

Salah satu cara yang digunakan para ahli untuk membahas lingkup makna yang besar ini adalah dengan membedakan antara makna denotatif dengan makna konotatif. Makna denotatif pada dasarnya meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata (yang disebut sebagai makan referensial).

Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan dalam kamus. Sebagai contoh, di dalam kamus, kata mawar berarti ‘sejenis bunga‘. Makna konotatif ialah makna denotatif ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan perasaan yang ditimbulkan olehfkata mawar itu. Kata konotasi itu sendiri berasal dari bahasa latin connotare, “menjadi tanda” dan mengarah kepada makna-makna cultural yang terpisah/berbeda dengan kata (dalam bentuk-bentuk lain dalam komunikasi).[53]

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di adalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda. Sedangkan konotasi diartikan sebagai aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca).Jadi, sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negative. [54]

MEMAHAMI BAHASA

Bahasa adalah alat untuk melukiskan sesuatu pikiran, perasaan atau pengalaman; alat ini terdiri dari kata-kata.

Dalam wacana linguistic bahasa diartikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekolompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.[55]

DASAR-DASAR SEMIOTIKA ISLAM

Dasar-dasar semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce tersebut dalam Islam ada pada konsep dilalah, yaitu suatu hal yang dapat membangkitkan adanya petunjuk. Apa yang diacunya atau apa yang ditunjuknya disebut madlul.[56]

Kedua konsep ini dibahas secara rinci dalam ilmu mantiq atau logika, ilmu ma’ani, ilmu bayan atau semantika Islam, dan ilmu tafsir. Jadi belum menjadi ilmu tersendiri. Ia hanya bersifat filosofis yang dititipkan pembahasannya pada ilmu mantiq. Ilmu mantiq adalah ilmu yang mempelajari bagaimana orang bernalar, atau bagaimana caranya orang bisa berpikir benar.[57]

Kata dilalah dalam ilmu mantiq merujuk pada dua pengertian:

Pertama, kata dilalah didefinisikan sebagai sesuatu yang memberikan pengertian tentang sesuatu yang lain, apakah bisa dimengerti atau tidak bisa dimengerti. Sesuatu yang memberikan pengertian disebut دال, (yang menunjukkan), sedangkan sesuatu yang lain disebut مدلول  (yang ditunjukkan)[58]. Contohnya, Lafal Ali atau Muhammad, keduanya bisa dimengerti sebagai zat (diri) seseorang yang diberi nama Ali atau Muhammad.

Kedua, kata dilalah didefinisikan sebagai, فهم أمر من أمر , artinya adalah, mengerti terhadap sesuatu karena didasarkan pada pemahaman sesuatu yang lainnya.[59]. Contohnya, mengartikan حيوان مفترس, (binatang buas) kepada kata أسد, (singa atau macan), Ungkapan حيوان مفترس, disebut مدلول, atau أمر مفهوم,yaitu sesuatu yangdimengerti, sedangkan kata أسد (singa) disebut دال atauمنه أمر مفهوم, artinya sesuatu yang membeikan pengertian.[60]

Menurut para ahli filsafat Islam terdapat dua dilalah (petunjuk) atau jejak dalam term Derrida, yaitu dilalah lafdziyyah, dan dilalah ghair lafdziyyah. Dilalah lafdziyyah adalah petunjuk berupa lafadz, ungkapan atau suara. Dilalah ghair lafdziyyah adalah petunjuk yang bukan merupakan lafadz atau suara tetapi merupakan isyarat, tanda, atau symbol, bekas-bekas, jejak, penomena alam dan lainnya.

BAB VI

KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

? Semiotika (kadang juga disebut semiologi) adalah disiplin ilmu yang mempelajari tanda (sign). Dalam kehidupan sehari-hari tanda hadir dalam bentuk yang beraneka ragam; bisa berwujud simbol, lambang, kode, ikon, isyarat, sinyal, dsb. Bahkan segala aspek kehidupan ini penuh dengan tanda. Dan dengan sarana tandalah manusia bisa berfikir, tanpa tanda kita tidak dapat berkomunikasi.

? Dalam perbincangan mengenai semiotika sebagai sebuah ilmu, ada semacam ruang kontradiksi yang secara histories dibangun diantara dua kubu semiotika, yaitu semiotika continental Ferdinand de Saussure dan semiotika amerika Charles Sander Pierce.

? Mempelajari semiotika sama dengan kita mempelajari tentang berbagai tanda. Cara kita berpakaian, apa yang kita makan, dan cara kita bersosialisasi sebetulnya juga mengomunikasikan hal-hal mengenai diri kita, dan dengan begitu, dapat kita pelajari sebagai tanda.

? Tanda itu sebenarnya bertebaran di mana-mana; di sekujur tubuh kita: ketika kita berkata, ketika kita tersenyum, ketika kita menangis, ketika kita cemberut, dst.

? Dasar-dasar semiotika dalam Islam dapat dilihat pada konsep dilalah dengan beragam pembagiannya.

? Konsep semiotika dalam Islam dibahas dalam ilmu mantiq, ilmu balagah, dan ilmu tafsir, namun belum menjadi ilmu tersndiri.

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M.

Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap hakikat bahasa, makna, tanda, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M

Muhammad Mahdy Wahdan, Al-Mantiq al-Muyassar, Juz I (Cairo: Maktabah al-Azhar li al-Turats, 1993, h. 5

Muhammad Nur al-Ibrahimy, Ilmu Mantiq, Cet. II; Surabaya: Maktabah Sa’ad bin Nashir Nabhan, 1980)

Umar, Ahmad Muhtar, Ilmu al-Dilalah, Cet. III; Cairo: Alam al-Kutub, 1992

Winfried NoTH, Semiotik, Cet I; Surabaya: Airlangga University Press, 2006

Zoest, Aart Van, Semiotika, Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa Yang Kita Lakukan Dengannya, diterjemahkan oleh Ani Soekawati dari Semiotiek, Overteken. Hoe ze werken en way we ermee doen, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung 1993)


[1]Aart Van Zoest, Semiotika, Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa Yang Kita Lakukan Dengannya, diterjemahkan oleh Ani Soekawati dari Semiotiek, Overteken. Hoe ze werken en way we ermee doen, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung 1993)

[2]Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M. h. 16

[3]Ibid, h. 11

[4]Ibid, h. 12, Ahmad Muhtar Umar, Ilmu al-Dilalah, (Cet. III; Cairo: Alam al-Kutub, 1992), h. 14

[5]Ibid, h. 17

[6]Ibid, h. 19

[7]Ibid, h. 39

[8]Ibid, h. 41, lihat: Winfried NÖTH, Semiotik, Cet I; Surabaya: Airlangga University Press, 2006, h. 39, Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap hakikat bahasa, makna, tanda, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M). h. 130

[9]Ibid, h. 45

[10]Ibid, h. 44, Winfried NÖTH, op. cit., h. 56

[11]Ibid, h. 56, Winfried NÖTH, op. cit., h. 74

[12]Ibid, h. 60, Winfried NÖTH, op. cit., h. 64

[13]Ibid, h. 63

[14]Ibid

[15]Ibid, h. 68, Winfried NÖTH, op. cit., h. 314

[16]Ibid, h. 110

[17]Ibid, h. 111

[18]Ibid

[19]Ibid, h. 112

[20]Ibid,

[21]Ibid, h. 116, Winfried NÖTH, op. cit., h. 484

[22]Ibid

[23]Ibid, h. 122, Winfried NÖTH, op. cit., h. 395

[24]Ibid, h. 126

[25]Ibid, h. 128

[26]Ibid

[27]Ibid, h. 127, Winfried NÖTH, op. cit., h. 471

[28]Ibid, h. 132

[29]Ibid, h. 140

[30]Ibid, h. 138

[31]Ibid, h. 141, Winfried NÖTH, op. cit., h. 480

[32]Ibid,

[33]Ibid, h. 143

[34]Ibid, h. 142, Winfried NÖTH, op. cit., h. 352

[35]Ibid, h. 144, Winfried NÖTH, op. cit., h. 437

[36]Ibid, h. 154

[37]Ibid, h. 155

[38]Ibid, h. 156

[39]Ibid, h. 159

[40]Ibid, h. 160

[41]Ibid, h. 161, Winfried NÖTH, op. cit., h 107 dan 115

[42]Ibid, h. 164

[43]Ibid, h. 165

[44]Ibid, h. 167

[45]Ibid, h. 171

[46]Ibid, h. 169

[47]Ibid, h. 177

[48]Ibid, h. 189

[49]Ibid, h. 249

[50]Ibid, h. 253

[51]Ibid, h. 255

[52]Ibid, h. 256

[53]Ibid, h. 263

[54]Ibid, h. 264

[55]Winfried NÖTH, op. cit., h. 229

[56]Asep Ahmad Hidayat, op. cit., h. 193

[57]Muhammad Nur al-Ibrahimy, Ilmu Mantiq, Cet. II; Surabaya: Maktabah Sa’ad bin Nashir Nabhan, 1980), h. 6, Lihat juga: Muhammad Mahdy Wahdan, Al-Mantiq al-Muyassar, Juz I (Cairo: Maktabah al-Azhar li al-Turats, 1993, h. 5

[58]Muhammad Nur al-Ibrahimy,  op. cit., h.11

[59]Muhammad Nur al-Ibrahimy, loc. cit

[60]Ibid

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: