SUMBER KEBENARAN

Epistemologi Filsafat dan epistemologi Islam

Oleh : Syekhuddin

I. PENDAHULUAN

Sepanjang sejarah manusia senantiasa dihantui oleh berbagai pertanyaan mendasar tentang diri dan kehidupannya. Berbagai jawaban yang bersifat spekulatif coba diajukan oleh para pemikir sepanjang sejarah dan terkadang jawaban-jawaban yang diajukan saling kontradiksi satu dengan yang lainnya. Perbedaan jawaban yang diajukan menjadikan perbedaan mendasar pada pandangan dan pola hidup (pandangan dunia dan ideology) manusia sepanjang sejarah. Salah satu perdebatan mendasar dalam sejarah kehidupan manusia adalah perdebatan seputar sumber dan asal usul pengetahuan.[1] Perbedaan pandangan seputar sumber dan asal-usul pengetahuan (atau lebih dikenal dengan epistemologi) inilah yang kemudian menjadi dasar pemicu perbedaan pandangan dunia dan ideology manusia.[2]

Filsafat dan agama sebagai dua kekuatan yang mewarnai dunia telah menawarkan konstruk epistemologi  yang berbeda dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya. Dibelahan dunia Barat sejak zaman Yunani Kuno filsafat telah berkembang sebagi suatu bentuk kreatifitas berpikir manusia dalam memecahkan persoalan kehidupan dengan menggunakan kekuatan daya nalarnya. Sepanjang sejarah perkembangan filsafat telah banyak jawaban yang diajukan oleh para filosof mengenai permasalahan-permasalahan mendasar manusia, khusunya persoalan seputar epistemologi. Berbagai aliran filsafat kemudian bermunculan mewarnai kancah intelektual manusia. Masing-masing aliran tersebut memberikan formulasi jawaban yang berbeda sebagai produk pemikiran filsafatnya yang dijadikan acuan bagi  penganutnya.

Sementara itu agama juga memberikan formulasi jawaban sendiri, yang tentunya berbeda dengan jawaban yang telah diajukan oleh filsafat. Terjadinya perbedaan antar filsafat dan agama dalam hal ini adalah dikarenakan perbedaan pendekatan yang dilakukan oleh keduanya. Filsafat dalam pengembaraanya mencari hakekat keberadaan manusia menggunakan kekuatan akal sedangkan agama bersumber pada kitab suci yang diyakini sebagai wahyu dari Tuhan oleh para penganutnya.

Islam sebagai agama yang diturunkan untuk menjawab seluruh pertanyaan dan menyelesaikan seluruh permasalahan hidup manusia. Tentunya juga memberikan formulasi jawaban mengenai permasalahan epistemologi yang dimana jawaban atas permasalahan tersebut bersumber pada wahyu Allah yang termaktub dalam Alquran. Ayat-ayat suci Alquran yang memberikan jawaban yang universal terhadap persoalan kemanusiaan, termasuk diantaranya persoalan epistemologi kemudian dinterpretasikan dengan pendekatan logis oleh para pemikir muslim yang akhirnya merumuskan sekumpulan teori filsafat Islam.

Berdasarkan asumsi diatas, pada makalah ini singkat ini, penulis mencoba untuk memaparkan beberapa permasalahan yaitu:

  1. Apa ruang lingkup epistemologi?
  2. Bagaimana konsep epistemologi filsafat?
  3. Bagaimana konsep epistemologi Islam?

II. PEMBAHASAN

  1. A. Ruang Lingkup Epistemologi

Secara etimologi epistemologi berasal bahasa Yunani, yaitu episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti teori atau ilmu.[3] Sedangkan secara terminologi epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakekat ilmu pengetahuan manusia, khususnya pada empat masalah, yaitu,

  1. Sumber-sumber ilmu pengetahuan
  2. Alat pencapaian pengetahuan
  3. Metode pencapaian pengetahuan
  4. Batasan pengetahuan atau klasifikasi pengetahuan.[4]

Epistemologi selain dianggap sebagai cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan manusia. Juga sering diidentikkan dengan asumsi-asumsi teoritik yang mendasari suatu pendapat ataupun bangunan pengetahuan manusia.[5] Terjadinya perbedaan pada tataran bangunan pengetahuan sangat ditentukan oleh perbedaan epistemologi. Secara umum pengetahuan manusia dibagi atas tiga kategori, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat dan mistik.[6] Terjadinya perbedaan jenis pengetahuan manusia ini disebabkan oleh konstruksi epistemologi yang berbeda diantara ketiganya. Bahkan menurut Murtadha Muthahhari, terjadinya perbedaan ideology dan pandangan dunia disebabkan oleh perbedaan dalam tataran epistemologi.[7]

Sepanjang sejarah pemikiran manusia telah terjadi perdebatan panjang para filosof mengenai point-point pembahasan epistemologi. Perdebatan tersebut telah menghasilkan berbagai aliran filsafat dan ideology yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap permasalahan mengenai pengetahuan dan kehidupan manusia.

  1. B. Epistemologi filsafat

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang teori pengetahuan manusia. Dalam perkembangan filsafat, dalam hal ini filsafat barat persoalan epistemologi telah menghasilkan empat aliran utama dalam sejarah filsafat Barat yaitu:

  1. Rasionalisme

Rasionalisme dapat didefinisikan sebagai paham yang sangat menekankan akal sebagai sumber utama pengetahuan manusia dan pemegang otoritas terakhir dalam penentuan kebenaran pengetahuan manusia.[8] Aliran ini biasa dinisbatkan kepada beberapa tokoh pemikir barat, diantaranya Rene Descartes, Spionoza, Leibniz dan Christian Wolf. Meski sebenarnya akar-akar pemikirannya sudah ditemukan dalam pemikiran para filosof klasik, yaitu Plato dan Aristoteles.[9]

Bagi kelompok rasionalisme sumber pengetahuan manusia didasarkan pada innate idea (ide bawaan) yang dibawa oleh manusia sejak ia lahir. Ide bawaan tersebut menurut Descartes terbagi atas tiga kategori, yaitu;

  • Cogitans atau pemikiran, bahwa secara fitr manusia membawa ide bawaan yang sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang berpikir, dari sinilah keluar statement Descartes yang sangat terkenal, yaitu cogito ergo sum yaitu aku berpikir maka aku ada.
  • Allah Atau deus, manusia secara fitr memiliki ide tentang suatu wujud yang sempurna, dan wujud yang sempurna itu tak lain adalah Tuhan.
  • Extensia atau keluasan , yaitu ide bawaan manusia, materi yang memiliki keluasan dalam ruang.[10]

Ketiga ide bawaan diatas dijadikan aksioma pengetahuan dalam filsafat rasionalisme yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Dalam metode pencapaian pengetahuan Descartes memperkenalkan metode yang dikenal dengan metode keraguan  (dibium methodicum) yaitu meragukan segala sesuatu termasuk segala hal yang telah dianggap pasti dalam kerangka pengetahuan manusia.[11] Proses keraguan inilah yan kemudian akan mengantarkan manusia sampai pada pengetahuan yang valid dan diterima kebenarannya secara pasti.

Sekalipun rasionalisme sangat menekankan fungsi rasio dalam mencapai pengetahuan, bukan berarti rasionalisme mengingkari peranan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang kerja akal dan memberikan bahan –bahan agar akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia pada kebenaran adalah semata-mata dengan akal.[12] Bagi rasionalisme data-data yang dibawa oleh indera masih belum jelas dan kacau bahkan terkadang menipu. Akallah yang kemudian mengatur laporan indera tersebut sehingga dapat terbentuk pengetahuan yang benar.

Selain akal bekerja mengolah data-data inderawi akal manusia juga dapat menghasilkan pengetahuan tentang realitas yang tak terinderai atau realitas yang abstrak. Oleh karena itu Rasionalisme membagi dua jenis pengetahuan tentang hak-hak yang kongkret yang kemudian lebih dikenal dengan sains dan pengetahuan tentang hal-hal yang abstrak yang kemudian lebih dikenal dengan filsafat.[13]

  1. Empirisme

Empirisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu empiria yang artinya pengalaman. Berbeda dengan rasionalisme yang menjadikan akal manusia sebagai sumber dan penjamin kepastian suatu kebenaran pengetahuan manusia. Empirisme memandang hanya pengalaman inderawilah sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia.[14]

Aliran Empirisme dinisbatkan kepada beberapa tokoh pemikir Barat diantaranya Francis Bacon, Thomas Hobbes, David Hume, dan John locke.[15] John Locke memperkenalkan teori tabula rasa sebagai pijakan aksiomatik dalam teori filsafatnya . menurut teori tersebut pada mulanya manusia lahir dalam keadaan kosong dari pengetahuan, kemudian pengalamanlah yang kemudian mengisi jiwa manusia sehingga memiliki pengetahuan.[16]

Oleh karena itu, empirisme sangat menekankan pengalaman inderawi sebagai satu-satunya jalan dalam pencapaian pengetahuan bagi manusia. Maka, empirisme sangat menekankan metode eksperimen dalam proses pencapaian pengetahuan manusia. Seseorang yang tak memiliki satu jenis indera tertentu maka ia ia tidak dapat memiliki konsepsi tentang pengetahuan yang berhubungan indera tersebut.[17]

Metode verifikatif-induktif merupakan metode yang ditawarkan oleh empirisme dalam menguji keabsahan suatu pengetahuan manusia.[18] Yaitu dengan melakukan pengujian terhadap pengetahuan manusia berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang empiris dan menggunakan metode induktif yaitu mengambil kesimpulan umum dari hal-hal atau fenomena-fenomena yang bersifat khusus.

Karena empirisme hanya membatasi pengetahuan manusia pada aspek inderawi semata maka pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia hanyalah pengetahuan sains, karena pengetahuan sainslah yang dapat dibuktikan kebenarannya secara empirik. Aliran empirisme inilah yang kemudian berkembang pada abad 18 di Eropa menjadi aliran Positivisme yang sangat menggaungkan kebenaran ilmiah.

  1. Kritisisme

Ketika terjadi pertarungan filsafat antara aliran rasionalisme dan empirisme mengenai dasar pengetahuan manusia. Immanuel Kant seorang filosof Jerman kemudian mencoba melakukan upaya menyelesaikan perbedaan tajam antara kedua aliran tersebut.[19] Pada mulanya Kant mengikuti aliran rasionalisme, kemudian menurut pengakuannya sendiri ia kemudian terjaga dari mimpi rasionalismenya setelah membaca buku David Hume. Tetapi kemudian ia tetap berpendapat bahwa empirisme tidak bisa ia terima begitu saja karena akan membawa keraguan pada akal. Kant tetap mengakui bahwa akal dapat mencapai kebenaran, untuk itu ia kemudian menetapkan syarat-syarat dalam pencapaian kebenaran akal, itulah sebabnya aliran filsafatnya sering disebut dengan filsafat kritisisme.[20]

Dalam filsafat kritisisme, Kant menganggap bahwa pengalaman dan akal manusia sama-sama dapat digunakan dalam mencapai pengetahuan manusia. Selanjutnya Kant membagi tahapan pencapaian pengetahuan manusia menjadi tingkatan, yaitu;

  • Tahap pencapaian inderawi

Tahapan pertama dalam proses pencapaian pengetahuan bagi Kant adalah pencapaian inderawi terhadap realitas eksternal. Namun yang dapat dicapai oleh manusia hanyalah fenomenanya atau gejala yang tampak saja yang tak lain adalah sintesis dari unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk a priori ruang dan waktu dalam struktur pemikiran manusia.[21]

  • Tahap akal budi

Bersamaan dengan pencapaian inderawi secara spontan bekerjalah akal budi manusia. Tugas akal budi manusia adalah menyusun dan menghubungkan data-data inderawi. Dalam hal ini akal budi manusia bekerja dengan bantuan daya fantasinya. Pengetahuan akal budi baru bisa diperoleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi dengan bentuk-bentuk a priori yang dinamai oleh Kant dengan “kategori” yakni ide bawaan yang mempunyai fungsi epistemologi dalam diri manusia untuk menyusun pengetahuan.[22]

  • Tahap rasio/intelek

Menurut Kant, yang dimaksud dengan rasio/intelek adalah kemampuan asasi yang menciptakan pengertian-pengertian umum dan mutlak.[23] Pada tahapan ini, proses pengetahuan manusia telah sampai pada kaidah-kaidah asasi yang tidak bisa lagi diruntut dan bersifat mutlak Kant menyebutnya dengan idea transendental. Tugas idea transendental ini ialah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkatan dibawahnya.[24]

Menurut Kant idea transendental ini merupakan idea bawaan yang merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologi yang berada diluar jangkauan pembuktian empiris teoritis.[25] Idea transendental ini terbagi tiga, yaitu;

  • idea psikis yaitu merupakan gagasan-gagasan mutlak yang mendasari segala gejala yang bersifat batiniah.
  • idea Kosmologis, yaitu idea yang menyatukan seluruh gagasan-gagasan yang bersifat lahiriah.
  • idea teologis yaitu gagasan yang mendasari seluruh gejala baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah, yaitu yang terdapat dalam suatu pribadi yang mutlak, yakni Tuhan.[26]
  1. Intuisionalisme

Dalam perkembangan selanjutnya epistemologi filsafat Barat kemudian dilengkapi dengan munculnya aliran intuisionalisme yang dipelopori oleh Henry Bergson.  Bagi Bergson indera dan akal manusia sama-sama terbatas dalam memahami realitas secara keseluruhan. Berdasarkan kelemahan akal dan indera tersebut kemudian Henry Bergson kemudian mengembangkan kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh manusia, yaitu intuisi.[27]

Secara epistemologi, pengetahuan intuitif berasal dari intuisi yang memperoleh melalui pengamatan langsung, tidak mengenai keberadaan lahiriah suatu objek melainkan hakekat keberadaan dari suatu objek tersebut.[28] Bagi Bergson ada dua cara dalam proses pencapaian pengetahuan, yaitu analisis dan intuisi. Analisis ialah aktifitas intelektual dalam mengenali objek dengan observasi bergerak mengairi objek atau dengan melakukan pemisahan terhadap bagian-bagian konstituen objek. Analisis bekerja menuju sebuah gerneralisasi abstrak yang kemudian melenyapkan keunikan suatu objek.

Sedangkan intuisi menurut Bergson adalah semacam rasio yang mana peneliti menempatkan dirinya dalam objeknya untuk menemukan apa yang unik dalam objek tersebut. Berpikir secara intuitif berarti berpikir dalam durasi. Durasi dalam hal ini dipahami sebagi waktu dalam gerak yang berkelanjutan dan bukan waktu yang kemudian terspesialisasi oleh rasio menjadi momen-momen atau titik-titik dalam garis. Bagi Bergson hanya intuisilah yang mampu menangkap fenomena dalam durasi dan realitas sesungguhnya adalah durasi, yaitu realitas yang tidak statis melainkan senantiasa dalam proses evolusi kemenjadian.[29]

Henry Berson membagi pengetahuan menjadi dua, yaitu pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan “tentang” (knowledge of) pengetahuan pertama disebut dengan pengetahuan diskursif atau pengetahuan simbolis yang didapat dari metode analisis dan pengetahuan kedua disebut dengan pengetahuan intuitif karena diperoleh secara langsung melalui intuisi.[30]

C. Epistemologi Islam

Berbicara mengenai epistemologi Islam, kita dapat mendekatinya dengan melakukan pengkajian terhadap pendapat para pemikir islam mengenai konsep-konsep epistemologi yang digali dari nash-nash islam berdasarkan konsepsi pemikiran mereka berdasarkan ruang lingkup epistemologi yang telah dijelaskan sebelumnya.

Mengenai sumber-sumber pengetahuan yang merupakan bahasan pertama dalam epistemologi, para filosof Islam menganggap bahwa realitas tidak hanya terbatas pada realitas yang bersifat fisik melainkan juga mengakui  realitas yang bersifat non fisik. Oleh karena itu dalam epistemologi Islam kita mengenal realitas non fisik baik berupa realitas imajinal (mental) maupun realitas metafisika murni yang dibahas oleh para pemikir.[31]

Menurut Jalaluddin Rakhmat, secara epistemologi Alquran memperkenalkan empat sumber pengetahuan manusia yaitu;

  1. Alquran dan sunnah
  2. Alam semesta
  3. Diri manusia
  4. Sejarah.[32]

Mengenai alat pencapaian pengetahuan secara umum para pemikir Islam sepakat bahwa ada tiga alat epistemologi yang dimiliki oleh manusia dalam mencapai pengetahuan. Yaitu Indera, Akal dan Hati. Ketiga alat epistemologi ini kemudian menghasilkan tiga metode dalam pencapaian pengetahuan yaitu:

  1. Metode observasi sebagaimana yang dikenal dalam epistemologi Barat atau disebut juga metode bayani yang menggunakan indera sebagai  pirantinya.
  2. Metode deduksi logis atau demonstrative (burhani) dengan menggunkan akal.
  3. Metode intuitif atau irfani dengan menggunakan hati.[33]

Metode observasi ditujukan untuk melakukan pengkajian terhadap objek-objek yang bersifat inderawi dan menghasilkan pengetahuan sains, dalam istilah Muhammad Baqir Shadr metode ini juga disebut dengan teori disposesi.[34] Sedangkan metode demonstrative ditujukan untuk memahami realitas-realitas imajinal manusia dan melahirkan ilmu-ilmu murni berupa logika, filsafat dan matematika. Selanjutnya metode intuitif digunakan untuk memahami secara langsung realitas metafisis yang bersifat hudhuri dalam jiwa manusia. Dan menghasilkan pengetahuan mistik.[35]

Berbicara mengenai titik tekan penggunaan metode demonstrative dan intuitif dalam proses pencapaian pengetahuan manusia para filosof Muslim kemudian berbeda pendapat. Dalam sejarah filsafat Islam secara umum filsafat Islam terbagi ketiga aliran besar yaitu:

  1. Aliran paripatetik atau masysya’iyah

Secara harfiah paripatetik atau masysya’iyah berarti jalan modar-mandir. Penggunaan istilah ini disebutkan merujuk pada Plato yang mengajarkan filsafat kepada murid-muridnya dengan berjalan-jalan. Penamaan aliran ini sangat jelas terpengaruh oleh pemikiran Yunani yang dibangun oleh Aristoteles dan Plato. Meskipun banyak melakukan revisi terhadap pemikiran Yunani aliran ini dibangun atas dasar Aristotellanisme dan  Neo Platonis.[36]

Aliran paripatetik dinisbatkan kepada tokoh-tokoh filosof Islam generasi awal diantaranya al-Farabi dan Ibnu Sinaa. Aliran ini sangat menekankan metode diskursif-demonstratif dengan menekankan pada aspek rasionalitas manusia.[37]

  1. Aliran iluminasi atau hikmah isyraqiyah

Aliran iluminasi menurut berbagai sumber didasarkan pada ajaran Plato. Aliran ini dinisbatkan kepada seorang filosof – sufi Islam yaitu Syiihabuddin Suhrawardi al-Maqtul. Secara epistemologi aliran ini sangat menekankan perolehan kebenaran lewat pengalaman intuitif dan kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis.[38]

Mengenai proses mendapatkan pengetahuan, yang dalam bahasa iluminasi disebut juga dengan pencerahan (isyraq) menurut Syuhrawardi ada empat tahapan yang dilalui yaitu:

  • Tahap pertama adalah pembebasan  diri dari kecenderungan-kecendrungan duniawi untuk menerima pengalaman Ilahi
  • Tahap iluminasi, yaitu tahapan dimana manusia mendapatkan penglihatan akan sinar ketuhanan serta mendapatkan apa yang disebutkan dengan cahaya ilham.
  • Tahap diskursif, dimana pengetahuan yang didapatkan dengan pencerahan kemudian dikonstuksi lewat premis-premis yang didasarkan pada logika diskursif.
  • Tahap keempat ialah tahapan pembahasan dan penulisan.[39]
  1. Teosofi Transendental atau hikmah muta’alliyan

Teosofi Transendental merupakan aliran filsafat Islam yang didirikan oleh Mulla Shadra dalam merumuskan alirannya berusaha memadukan konsep-konsep pemikiran Islam yang telah dibangun sebelumnya, yaitu pemikiran kalam, paripatetik, ilmunisasi dan sufisme.[40]

Secara epistemologi teosofi transendental menekankan tiga prinsip utama dalam perolehan ilmu pengetahuan  yaitu, intuisi intelektual atau isyraq, pembuktian rasional secara Deduktif-silogistik, dan syariat.[41] Dalam hal ini nash Alquran, dan hadis. Sehingga filsafat hikmah atau xteosofi transcendental adalah kebijaksanaan yang diperoleh lewat pencerahan spritual atau intuisi intelektual dan disajikan dalam bentuk argumentasi yang rasional dan didasarkan pada nash-nash Islam.[42]

Klasifikasi pengetahuan dalam pandangan pemikir muslim, khususnya pemikir ilmunisasi dan teosofi transendental secara umum terbagi dua yaitu:

  • Ilmu hushuli (knowledge by represence) yaitu pengetahuan manusia yang masih menggunakan perantara dimana antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui mengalami keterpisahan.
  • Ilmu hudhuri (knowledge by presence) yaitu pengetahuan manusia yang tidak menggunakan perantara dimana objek pengetahuan hadir dalam jiwa manusia sebagai subjek yang mengetahui.[43]

  1. III. PENUTUP

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam makalah ini penulis berkesimpulan:

  1. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang teori pengetahuan, yang             ruang lingkupnya terdiri dari sumber-sumber pengetahuan, alat pencapaian pengetahuan, metode pencapaian pengetahuan dan klasifikasi pengetahuan.
  2. Epistemologi filsafat dalam hal ini barat terbagi kedalam empat aliran utama yaitu:
  • rasionalisme yang sangat menekankan fungsi rasio dalam proses pencapaian         pengetahuan manusia
  • empirisme yang mengutamakan pengalaman manusia sebagai sumber   pengetahuan
  • kritisisme yang menggabungkan epistemologi rasionalisme dan empirisme   dalam proses pencapaian pengetahuan.
  • intuisionalisme yang sangat menekankan peranan intuisi manusia dalam mencapai          kebenaran pengetahuan.

3.   Epistemologi Islam meyakini realitas fisik dan non fisik sebagai sumber pengetahuan. Serta penggunaan indera, akal dan hati sebagai alat dengan menggunakan metode            observasi, demonstrative dan intuitif dalam proses pencapaian pengetahuan.

4.    Dalam persoalan metode pencapaian pengetahuan epistemologi Islam terbagi kedalam tiga aliran filsafat, yaitu paripatetik, iluminasi dan teosofi transendental.

5.    Secara  umum klasifikasi pengetahuan dalam Islam terbagi dua yaitu: ilmu hushuli dan ilmu hudhuri.

DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahrial, Menyoal Obyektivisme Ilmu Pengetahuan. Bandung: teraju 2002

——————Muhammad Iqbal. Bandung :  Teraju.  2003

Ammar, Hasan Abu, Ringkasan Logika Muslim Jakarta: Yayasan al-Muntazhar 1992

Bagir, Haedar, Buku Saku Filsafat Islam. Bandung : Arasy 2005

Bakhtiar, Amsal,  Filsafat Agama. Jakarta: Logos Wacana Ilmu 1997

Kartanegara, Mulyadi, Panorama Filsafat Islam. Bandung : Mizan 2002

Kosmic, Manual Training Pencerahan . Jakarta : Kosmic 2002

Muslih. Muhammad, Filsafat Ilmu. Yogyakarta Belukar

Muthahhari, Murtada, Masysla-ye Syenikh diterjemahkan oleh Muhammad Jawad Bafaqih dengan judul mengenal epistemologi, Jakarta : Lentera Basritama 2001

————————- Man and Universe diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Manusia Dan Alam Semesta. 2002

Poedjawijatna, IR.  Pembimbing Kearah Alam Filsafat. Jakarta : Rineka Cipta. 1997

Rakhmat, Jalaluddin,  Islam Alternatif. Bandung : Mizan. 2004

Shadr, Muhammad Baqir, Falsafatuna Diterjemahkan oleh Muhammad Nur Mufid Bandung : Mizan. 1994

Tafsir, Ahmad,  Filsafat Umum. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2001


[1]Muhammad Baqir Shadr, Falsafatuna, Diterjemahkan oleh M. Nur Mufid Ali, (Cet. IV; Bandung: Mizan, 1994) h. 25

[2] Lihat Murtadha Muthahhari, Mas’ala-ye Syenokh, Diterjemahkan oleh Muhammad Jawad Bafaqih dengan Judul Mengenal Epistemologi, (Cet. I; lentera, 2001) h. 17-22

[3] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu (Cet. II; Yogyakarta: Belukar. 2005) h. 20

[4] Kosmic. Manual Training Filsafat, (Jakarta: Kosmic. 2002) H. 76

[5] Ibid

[6] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum. (Cet. IX ; Bandung : remaja Rosdakarya. 2001), h. 23

[7] Murtadha Muthahhari, op.cit., h. 19

[8] Donny Gahrial Adian, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan. (Cet. I ; Bandung : Teraju.2002). h. 43

[9] Muhammad Muslih., op.cit., h. 49-50

[10] Kosmic., op.cit., h. 124

[11] Donny Gahrial Adian., op.cit., h. 45

[12] Ahmad Tafsir., op.cit., h. 25

[13]Kosmic., op.cit., h. 125

[14] Donny Gahrial Adian., op.cit., h. 48

[15] Lihat Ir. Poedjawijatna, PembimbingKearah Alam Filsafat. (Cet. X ; Jakarta: Roneka Cipta. 1997). h. 103-106

[16] Ahmad Tafsir., op.cit., h. 24

[17] Muhammad Baqir Shadr, op.cit., h. 33

[18] Donny Gahrial Adian., loc.cit

[19] Ir. Poedjawijatna., op.cit., h. 107

[20] Ibid

[21] Muhammad Muslih., op.cit., h. 63

[22] Ibid., h. 64

[23] Ibid

[24] Kosmic., op.cit., h. 134

[25] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama. (Jakarta ; Logos Wacana  ilmu. 1997), h. 170

[26] Muhammad  Muslih., op.cit., h. 65

[27] Ahmad Tafsir., op.cit., h. 27

[28] Muhammad  Muslih., op.cit., h. 70

[29] Donny Gahrial Adian, Muhammad Iqbal (Cet. I ; Bandung : Teraju, 2003) h. 46-47

[30] Muhammad Muslih, loc.cit

[31] Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam,. (Cet. I ; Bandung : Mizan. 2002). h. 58

[32] Lihat.  Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif. (Cet. XII ; Bandung : Mizan. 2004) h. 203-205. Lihat juga Murtadha Muthahhari, Man and Universe diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul manusiadan Alam semesta. (Cet. II; Jakarta : Lentera Basritama. 2002) h. 47-48

[33] Mulyadi Kartanegara., op.cit., h. 63

[34] Lihat Muhammad Baqir Shadr., op.cit., h. 36-37

[35] Kosmic., op.cit., h. 203

[36] Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam. (Cet. I ; Bandung : Arasy. 2005) h. 85

[37] Ibid., h. 103

[38] Ibid., h. 138

[39] Lihat Ibid., h. 13-1398

[40] Kosmic. Op.cit. h. 233

[41] Haidar Baqir. Op.cit. h. 171

[42] Kosmic. Op.cit. h. 234

[43] Hasan Abu Ammar, Ringkasan Logika Muslim. (Cet. I ; Jakarta : yayasan al- Muntazhar, 1992), 14

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: