HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DAN HIGIENE PERORANGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI KECACINGAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI KELURAHAN MANGGA DUA KECAMATAN KENDARI KOTA KENDARI

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Cacingan merupakan penyakit endemik dan kronik dengan pravalensi tinggi. Penyakit itu memang tidak mematikan, namun dapat menggeroti kesehatan dan menurunkan mutu sumber daya manusia. Ada 3 jenis cacing yang hidup dan berkembang biak sebagai parasit didalam tubuh manusia seperti cacing gelang hidup, dengan mengisap sari makanan, cacing cambuk selain mengisap makanan juga mengisap darah, sedangkan cacing tambang hidup dengan mengisap darah saja, sehingga penderita cacingan akan kurus, dan kurang gizi, pada gilirannya menjadi mudah lelah, malas belajar, daya tangkap menurun bahkan mengalami gangguan pencernaan (diare) yang berujung pada rendahnya mutu sumber daya manusia dan merosotnya praduktivitas (www. Kompas. Com.kompas/0303/ 02/iptek)

Melihat dampak penyakit kecacingan tersebut, maka pemerintah telah melakukan berbagai pendekatan pemberantasan kecacingan. Dalam pemberantasan kecacingan, perlu dilihat dulu seberapa besar masalah kecacingan diwilayah tertentu. Kemudian seluruh unsur terkait bersama-sama menyusun kebijakan yang strategis dan intergratif sesuai dengan kebutuhannya daerah itu. Ada juga komponen penting yang perlu diperhatikan, yakni pemberian obat, penyuluhan yang lokal spesifik dan pemberantasan penyakit yang berbasis, lingkungan (http://groups. Yahoo. Com/group/pelita/massage/171).   Senapas dengan semangat desentralisasi, pembangunan kesehatan memang akan diarahkan dengan berbasis wilayah, dan diharapkan dapat ber implementasi dengan baik mulai 2001. Problem horizontal harus menjadi perhatian para manajer kota/wilayah (pemda) dalam menyusun kebijakan. (http://groups.Yahoo.Com/ group/pelita/massage/171)

Morbiditas infeksi cacing tambang pada daerah endemis berlangsung terutama pada anak-anak pada 1 penelitian separuh dari anak-anak terinfeksi sebelum umur 5 tahun, 90 % terinfeksi pada umur 9 tahun. Intensitas infeksi meningkat hingga umur 6-7 tahun dan mengalami stabilitas selama beberapa tahun. Anak-anak yang baru terinfeksi rata-rata mendapat 2 cacing betina terdapat penambahan neto sebesar 2,7 parasit/tahun (Richard E Behrman, 2001).

Berdasarkan Tap. MPR No. IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999 – 2002 tentang arah kebijakan pembangunan di bidang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi sejak pembuahan dalam kandungan sampai usia lanjut.

Di Indonesia, setiap tahun lebih dari 3.500.000 anak-anak dibahwah umur tiga tahun diserang oleh berbagai jenis penyakit perut dengan jumlah kematian sekitar 105.000 orang. Jumlah tersebut akan meningkat lebih banyak pada daerah/tempat yang keadaan sanitasi lingkungannya berada pada tingkat yang rendah ini misalnya kita dapati pada daerah perkampungan padat dengan selokan, perkarangan, dan tempat-tempat MCK nya tidak teratur dan tidak terpelihara sebagaimana mestinya (Unus Suriawiria, 2000).

Penyakit infeksi kecacingan atau bisa pula disebut dengan penyakit cacingan sangat berkait erat dengan masalah hygiene dan sanitasi lingkungan. Di Indonesia masih banyak bertumbuh subur penyakit cacing penyebabnya adalah hygiene perorangan sebagian masyarakat masih kurang. Kebanyakan penyakit cacing ditularkan melalui tangan yang kotor. Kuku jemari tangan yang kotor dan panjang sering terselipi telur cacing anak sering bermain tanah. Orang dewasa bekerja di kebun, disawah atau paya (Hendrawan Nadesul, 2000).

Untuk propinsi Sulawesi Tenggara Prevalensi kecacingan hasil survey tahun 2000 adalah 40,01%, untuk Kabupaten Kendari yaitu sebesar 31,12%, Kecamatan Landono 32,01% .berbagai upaya telah dilakukan di propinsi Sulawesi Tenggara dalam menanggulangi infeksi kecacingan antara lain melalui penyuluhan, namun hasilnya belum menggembirakan.

Pada tahun 2001, Pemerintah Kota Kendari melalui Dinas Kesehatan Kota telah menetapkan targer group (sasaran) program pembangunan dibidang kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Strategi (Renstra) pembagunan kesehatan Kota Kendari tahun 2001-2005 yaitu upaya pemberantasan penyakit cacing dan menurunkan prevalensi dan intensitas penyakit cacing 30% tahun 2001 menjadi 27 % tahun 2002 (Renstra pembangunan kesehatan Kota Kendari tahun 2001-2002).

Sementara berdasarkan data profil kesehatan Kota Kendari jumlah penderita cacing tahun 2001 sebanyak 432  orang dan tahun 2002 menjadi 467, dari data tersebut dapatlah diketahui bahwa terjadi pertambahan jumlah penderita sebanyak 35 orang atau 7% (Profil Kes. Kota Kendari tahun 2001 dan 2002). Menurut data profil Puskemas Mata Tahun 2002 penderita penyakit kecacingan berjumlah 205 orang anak dari jumlah tersebut terdapat 85 orang anak atau 34 % yang berdomisili di Kelurahan Mangga Dua .

B.     Rumusan  Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah pada penelitian ini sebagai berikut “Apakah ada hubungan antara Sanitasi Lingkungan dan Hygiene Perorangan dengan Kejadian Infeksi Kecacingan pada Anak Usia Sekolah Dasar di Kelurahan Mangga Dua Kecamatan Kendari.

C.    Tujuan  Penelitian
  1. 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan dengan infeksi kecacingan pada anak usia sekolah dasar di Keluarahan Mangga Dua   Kecamatan Kendari Kota Kendari.

  1. 2. Tujuan Khusus
    1. Untuk mengetahui hubungan antara penyediaan air bersih dengan infeksi kecacingan.
    2. Untuk mengetahui hubungan antara pembuangan tinja dengan infeksi kecacingan.
    3. Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dengan infeksi kecacingan.
    4. Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan memakai alas kaki dengan infeksi kecacingan.

D.    Manfaat  Penelitian
  1. Manfaat Ilmiah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmiah, terkhusus. Pada pengetahuan tentang teori dan konsep penyakit kecacingan,yang dapat dikembangkan bagi peneliti selanjutnya.

  1. Manfaat bagi institusi pemerintah

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka perencanaan, perbaikan dan pengembangan kualitas sanitasi lingkungan. Sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi kecacingan

  1. Manfaat Praktis

Hasil penelitian yang dapat membuahkan pokok – pokok pikiran yang kemudian dapat dikembangkan dan disumbangkan untuk menurunkan angka infeksi kecacingan.

  1. Manfaat bagi peneliti

Penelitian ini merupakan pengalaman berharga dalam upaya menambah wawasan ilmu dan pengetahuan tentang hal – hal yang berhubungan dengan kejadian infeksi kecacingan disamping sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana kesehatan masyarakat (SKM) pada FKM-UNHAS.

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: