HUKUM; TINJAUAN KRIMINOLOGIS TENTANG DELIK PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA DI KABUPATEN BARRU

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Pembangunan nasional yang dituangkan dalam GBHN, merupakan implementasi kehendak rakyat, yang berorientasi pada upaya peningkatan kesejahteraan rakyat, secara terencana dan terarah, sehingga pada gilirannya pembangunan dalam berbagai dimensi tidak berdiri sendiri tetapi memiliki korelasi antara berbagai upaya pembangunan yang memiliki keterkaitan, dalam menjalankan amanah Undang-Undang Dasar Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, dapat dilaksanakan menuju masyarakat yang adil dan makmur.

Pembangunan hukum merupakan suatu kewajiban pemerintah, yang mendapat berbagai hambatan, sehingga upaya penyadaran hukum kepada masyarakat perlu makin ditingkatkan. Tanpa ada upaya yang baik akan berakhir dengan sebuah kenistaan dimana terdapat sebuah kondisi masyarakat yang amburadul. Untuk itu hukum dijadikan sebagai Panglima dalam mengatur berbagai gerak dinamika masyarakat.

Obyektivitas penegakan hukum terasa masih jauh dari harapan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari peradilan yang tidak jujur, hakim-hakim yang terkontaminasi oleh kondisi perilaku pemerintahan yang tidak konsisten, pengacara yang mengerjai rakyat, adalah akumulasi ketidakpercayaan lembaga yudikatif, di dalam menjalankan perannya sebagai pelindung, pengayom rakyat, yang berdampak pada tatanan kehidupan masyarakat yang tidak menganggap hukum sebagai jaminan keselamatan di dalam interaksi sesama warga masyarakat.

Berbagai kasus merebak sejalan dengan tuntutan akan perubahan, yang dikenal dengan reformasi, tampak di berbagai lapisan masyarakat dari tingkat atas sampai bawah terjadi penyimpangan hukum. Pembangunan masyarakat hukum madani (civil society) merupakan tatanan hidup masyarakat yang memiliki kepatuhan terhadap nilai-nilai hukum. Akan tetapi dalam perjalanan (transisi) perubahan terdapat sejumlah ketimpangan hukum yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Pencurian, misalnya dibentuk dari tingkat dan klasifikasi pencurian yang bermula dari tingkat atas sampai bawah, sehingga dalam setiap peristiwa, sorotan keras terhadap pencurian terus dilancarkan, dalam rangka mengurangi tindak kriminal. Dalam sejarah peradaban manusia pencurian ada sejak terjadi ketimpangan antara kepemilikan benda-benda kebutuhan manusia, kekurangan akan kebutuhan, dan ketidakpemilikan cenderung membuat orang berbuat menyimpang (pencurian). Pencurian dilakukan dengan berbagai cara, dari cara-cara tradisional sampai pada cara-cara modern dengan menggunakan alat-alat modern dengan pola yang lebih lihai. Hal seperti ini dapat terlihat dimana-mana, dan cenderung luput dari jeratan hukum.

Kecenderungan melakukan pencurian dengan delik apapun sering dilakukan, namun dalam beberapa kasus pencurian dilakukan dalam waktu tertentu, yaitu melibatkan kondisi dimana setiap orang akan mencari waktu yang tepat dalam melakukan aksi operandinya. Dari beberapa pengamatan terhadap kasus-kasus tampak bahwa kejadian pencurian yang sangat rawan (rentan) terhadap perilaku pencurian adalah di waktu malam hari, sehingga hampir setiap saat di waktu malam seluruh komponen masyarakat cenderung menyiapkan berbagai cara untuk mengatasi atau meminimalkan peluang pencurian, untuk itu dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam ronda-ronda malam (jaga malam) ini memberikan indikasi bahwa peluang pencurian dan sasaran waktu yang dipilih oleh komplotan atau individu di dalam melakukan aksi pencurian dilakukan pada malam hari, sehingga dapatlah diindikasikan waktu malam memiliki potensi pencurian yang sangat tinggi dibandingkan dengan waktu-waktu lain, sementara aktivitas pencurian yang dilakukan memiliki kecenderungan berkelompok yang dibentuk untuk menyusun aktivitas pencuriannya.

Pencurian merupakan tindakan kriminalitas, yang sangat menganggu kenyamanan rakyat. Untuk itu perlu sebuah tindakan konsisten yang dapat menegakkan hukum, sehingga terjalin kerukunan. Kemiskinan yang banyak mempengaruhi perilaku pencurian adalah kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat, ini dapat dibuktikan dari rasio pencurian yang makin meningkat di tengah kondisi obyektif pelaku di dalam melakukan aktivitasnya, kondisi ini dapat berdampak pada beberapa aspek, yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan kehidupan pelaku tersebut, namun sejauh mana aktivitas itu dapat memberikan nilai positif dalam membangun masyarakat yang taat hukum.

Salah satu bentuk kejahatan yang akhir-akhir ini sering terjadi dan sangat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat di Kabupaten Barru adalah pencurian kendaraan bermotor. Dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP, buku ke-2 titel XXII mulai dari Pasal 362 sampai Pasal 367 KUHP. Bentuk pokok delik pencurian diatur dalam Pasal 362 KUHP, adalah pencurian kendaraan bermotor khususnya kendaraan bermotor roda dua merupakan salah satu jenis kejahatan terhadap harta benda yang banyak menimbulkan kerugian.

Dari pemberitaan di berbagai media massa, baik itu media elektronik maupun media cetak, dapat diketahui bahwa berita mengenai pencurian kendaraan bermotor roda dua bukan saja menarik perhatian, tetapi juga mengusik rasa aman sekaligus mengundang sejumlah pertanyaan tentang kenyataan apa yang berlangsung di masyarakat. Demikian pula halnya di Kabupaten Barru yang mana di daerah tersebut penulis mengambil tempat atau lokasi penelitian sebab dari hasil pantauan penulis masih sering terjadi pencurian kendaraan bermotor roda dua.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk meneliti mengenai pengaruh atau faktor yang menyebabkan terjadinya pencurian kendaraan bermotor roda dua serta upaya-upaya penanggulangannya.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah berikut :

  1. Faktor apakah yang menyebabkan terjadinya delik pencurian kendaraan bermotor roda dua di Kabupaten Barru
  2. Upaya apa yang dilakukan oleh para pihak penegak hukum serta masyarakat untuk menanggulangi kejahatan pencurian kendaraan bermotor roda dua di Kabupaten Barru

1.3  Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Sehubungan dengan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kejahatan pencurian kendaraan bermotor roda dua di Kabupaten Barru.
  2. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh para penegak hukum dan masyarakat dalam menanggulangi kejahatan pencurian kendaraan bermotor roda dua di Kabupaten Barru.

Kegunaan penelitian ini adalah :

  1. Memberikan masukan atau kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi pencurian kendaraan bermotor roda dua.
  2. Sebagai bahan masukan kepada mahasiswa Fakultas Hukum dalam penelitian selanjutnya.

1.4  Metode Penelitian

1.4.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam wilayah Kabupaten Barru dengan alasan bahwa akhir-akhir ini sering terjadi pencurian kendaraan bermotor roda dua, sehingga penulis tertarik untuk mengangkatnya dalam penulisan skripsi ini agar dapat menjadi masukan bagi para penegak hukum dan masyarakat.

1.4.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari responden dalam hal ini pelaku, masyarakat dan pejabat yang menangani pencurian kendaraan bermotor roda dua.
  2. Data sekunder adalah data yang diperoleh oleh dokumen-dokumen atau arsip-arsip serta buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini.

1.4.3 Teknik Pengumpulan Data

Adapun  teknik pengumpulan datanya adalah sebagai berikut :

  1. Data primer teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan pelaku pencurian kendaraan bermotor roda dua dan pejabat yang menangani pencurian kendaraan bermotor roda dua.
  2. Data sekunder teknik pengumpulan datanya adalah penelusuran terhadap dokumen-dokumen, arsip-arsip serta buku-buku literatur yang berkaitan dengan penelitian ini.

1.4.4 Analisis Data

Data yang berhasil dikumpulkan akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif adalah mendeskripsikan data yang diperoleh itu dengan menjelaskan apa adanya sesuai dengan permasalahan. Sedangkan analisis kuantitatif adalah menggunakan distribusi frekuensi atau persentase dengan rumus :            (soerjono soekanto 1986-286)

Analisis :

P            =  Persentase

f             =  Frekuensi

n            =  Jumlah Frekuensi

1.5  Sistematika Pembahasan

Skripsi  ini akan dibagi dalam beberapa bab dan sub bab antara lain :

Bab satu adalah Pendahuluan yang berisikan Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Metode Penelitian serta Sistematika Pembahasan.

Bab dua adalah Tinjauan Pustaka berisikan, Pengertian Kriminologi, Pengertian Pencurian, dan Unsur-unsurnya, Jenis Pencurian, Pengertian Kendaraan Bermotor, Faktor-Faktor Penyebab terjadinya Kejahatan dan Upaya Penanggulangannya

Bab tiga adalah Pembahasan Hasil Penelitian yang berisikan Perkembangan Data Pencurian Kendaraan Bermotor Roda Dua, Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pencurian Kendaraan Bermotor Roda Dua dan Upaya Penanggulangannya.

Bab empat Penutup yang berisikan Kesimpulan dan Saran.

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: