MAKNA MANTRA PADA TRADISI MAMMANUSANG LOPI-LOPI DI KECAMATAN CAMPALAGIAN KABUPATEN POLMAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Setiap daerah di Indonesia, umumnya memiliki adat dan kebudayaan tersendiri. Hal ini terbukti dari masing-masing daerah memiliki bentuk tradisi yang berbeda-beda.

Mandar salah satu kelompok etnis dari empat suku utama yang mendiami propinsi Sulawesi-Selatan.

Suku ini mempunyai banyak tradisi yang masih banyak kita jumpai sekarang dan merupakan ciri khas daerah Mandar. Salah satunya adalah tradisi mammanusang lopi-lopi di Kecamatan Campalagian Kabupaten Polman.

Tradisi mammanusang lopi-lopi, merupakan tradisi warisan nenek moyang terdahulu yang diyakini sebagai penolak bala dari gangguan bencana alam, gangguan tanaman, gangguan di laut, dan wabah penyakit yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman nenek moyang yang pernah menimpa masyarakat di kecamatan tersebut, yaitu berupa kemarau yang panjang, angin yang kencang dan terjadinya wabah penyakit yang menimpah seluruh masyarakat. Dampaknya bukan hanya merupakan hasil pertanian, atau nelayan yang tidak menghasilkan ikan, tetapi juga membahayakan keselamatan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, tokoh dan pemangku adat setempat menganjurkan masyarakat untuk membuat Iopi-Iopi yang di dalamnya diisi berbagai macam makanan dan sesajian lainnya, kemudian Iopi-Iopi tersebut dihayutkan ke muara sungai sampai ke laut. Mereka beranggapan bahwa setelah masyarakat melakukan tradisi mammanusang Iopi-Iopi tersebut, pada saat itu pula segala bencana dan wabah penyakit di kecamatan ini berangsur-­angsur hilang, sehingga masyarakat di Campalagian terhindar dari bencana dan wabah penyakit serta rezekinya berlimpah baik sebagai petani, maupun sebagai nelayan.

Atas landasan atau sejarah tersebut di atas, maka masyarakat Kecamatan Campalagian tersebut sebahagian mereka masih melakukan tradisi ini. Acara ini biasanya dilakukan masyarakat ketika mereka menghatamkan Al-qur’an bagi anaknya, juga ketika mereka selesai mengadakan perkawinan.

Tradisi atau adat istiadat yang berbeda-beda tersebut merupakan warisan nenek moyang yang dipandang baik oleh hukum adat dan merupakan kebaikan bagi orang yang mengikutinya serta dipandang buruk bagi siapa yang melanggar hukum atau adat istiadat tersebut. Oleh karena itu, orang selalu berusaha mendidik turunannya agar mengikuti tradisi yang ada dan tidak boleh melanggarnya.

Berkaitan dengan tradisi dan adat-istiadat tersebut, maka suatu perbuatan dapat dikatakan baik bila ia sesuai dengan tradisi dan budaya dalam masyarakatnya dan dikatakan buruk jika seseorang menyalahinya. Mereka beranggapan bahwa dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak mungkin mendapatkan hasil yang begitu menggembirakan seperti berburu, berlayar, bercocok tanam, dan mengumpulkan hasil-hasil alam kalau hanya dengan keberanian dan keperkasaan alam semata. Mereka memiliki pengetahuan yang khusus, yakni mantra beserta kemampuannya menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya.

Keberadaan sastra daerah memerlukan usaha pengkajian, pengkajian, dan pengembangan. Upaya pengkajian, penggalian, dan pengembangan sastra merupakan sumbangan dalam mewujudkan terbinanya kebudayaan nasional sesuai dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang dituangkan dalam ketetapan MPR Nomor II /MPR/1983. Dalam ketetapan itu digariskan bahwa pembinaan sastra daerah khususnya bahasa daerah dilakukan dalam rangka pengembangan bahasa Indonesia, memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia dan khazanah kebudayaan nasional.

Pemeliharaan, pembinaan, dan pengembangan serta penggunaan sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya. Saling pengertian antar daerah sangat besar artinya dalam memelihara kerukunan hidup antar suku dan agama akan dapat tercipta pula bila sastra-sastra daerah yang termuat dalam karya sastra lama digali kembali, atau dengan melakukan penerjemahan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia.

Untuk mengantisipasi agar sastra daerah tidak ditinggalkan oleh masyarakatnya, maka pemerintah melalui pusat pembinaan dan pengembangan bahasa yang telah berganti nama menjadi pusat bahasa telah melakukan berbagai usaha seperti penyelenggaraan seminar bahasa dan sastra daerah, melakukan inventarisasi bahasa dan sastra daerah melalui penelitian, melaksanakan kegiatan yang sifatnya melibatkan masyarakat dan sebagainya semua itu ditempuh guna menjaga, memelihara, dan melestarikan bahasa dan sastra daerah.

Penggalian serta pengembangan budaya daerah mempunyai arti yang sangat penting bukan saja bagi budaya itu sendiri, melakukan bagi kebudayaan nasional.

Usaha penggalian sastra daerah tidak termasuk memajukan rasa kedaerahan tetapi hanya bertujuan mencari dasar yang dapat disumbangkan bagi pengembangan sastra nasional (Parawansa, 1984:1).

Keanekaragaman masyarakat membawa perubahan tersendiri sejalan dengan upaya dan kegiatan pembangunan yang telah berlangsung beberapa tahap pelita. Perkembangan masyarakat tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan.

Masyarakat yang berbeda-beda corak kehidupan, memiliki cara tersendiri dalam melaksanakan tradisi budaya serta adat istiadatnya, misalnya masyarakat di Kecamatan Campalagian, khususnya dalam penggunaan mantra pada tradisi mammanusang lopi-lopi, adatnya mempunyai cara tersendiri yang berbeda dengan suku bangsa lainnya.

Penggunaan mantra sebagai sastra lama mempunyai nilai kemasyarakatan tinggi serta sifat kebudayaan yang asli. Mantra sebagai kebudayaan dan sastra lama adalah pancaran atau gambaran cara berpikir serta bertindak masyarakat pula.

Proses tradisi mammanusang lopi-lopi tidak dapat dipisahkan dari unsur bahasa. Penggunaan bahasa menjadi media penghubung dalam menentukan dan mengarahkan jalannya tradisi mammanusang lopi-lopi. Pada tradisi mammanusang lopi-lopi di Kecamatan Campalagian menggunakan bahasa lisan Mandar.

Tradisi mammanusang lopi-lopi di Kecamatan Campalagian sarat dengan makna, sehingga tradisi ini menarik untuk diteliti.

Tradisi mammanusang lopi-lopi dilaksanakan satu kali dalam setahun oleh masyarakat Mandar di Kecamatan Campalagian, dipimpin oleh seorang sandro (Dukun).

Hal inilah yang mendasari penulis untuk memilih judul “Makna Mantra Pada Tradisi mammanusang lopi-lopi di Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman.”

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah, “Apakah makna mantra yang terkandung dalam tradisi mammanusang lopi-lopi di Kecamatan Campalagian Kabupaten Polman?”

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna mantra yang terdapat pada tradisi mammanusang lopi-lopi di Kecamatan Campalagian Kabupaten Polman.

D.   Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan gambaran dan pengetahuan kepada peneliti lain tentang makna mantra pada tradisi mammanusang lopi-lopi sebagai suatu bentuk tradisi tradisional.
  2. Memberi manfaat dalam pelestarian sastra daerah khususnya mantra sebagai bagian dari budaya bangsa.
  3. Membantu masyarakat (pembaca) khususnya pemakai bahasa Mandar dalam memahami makna mantra dalam masyarakat.

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: