Meminang dalam Perkawinan di Kecamatan Barru Kabupaten Barru Menurut Syariat Islam

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Agama Islam yang diturunkan oleh Allah swt kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad saw dengan tujuan mengatur lalu lintas kehidupan manusia. Dengan adanya syariat Islam, maka diaturlah hubungan manusia dengan Allah swt hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Dalam kaitannya dengan masalah hubungan manusia dengan manusia, maka diaturlah masalah perkawinan.

Perkawinan adalah suatu masalah pokok kehidupan manusia terutama dalam pergaulan masyarakat yang demikian kompleks, guna membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah. Salah satu langkah awal dalam memenuhi jenjang perkawinan adalah meminang atau al-khitbah. Al-khitbah merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan untuk mengungkapkan hasratnya untuk berumah tangga. Karena itu, dianjurkan kepada laki-laki yang ingin meminang, sebelum mengajukan pinangan terlebih dahulu agar membulatkan niatnya supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari yang dapat merugikan pihak perempuan.

Jadi untuk mencegah timbulnya permasalahan seperti di atas, maka agama Islam membolehkan seorang laki-laki untuk melihat-lihat calon pasangannya dengan dihadiri oleh muhrimnya. Kemudian dalam masa pertunangan tersebut kedua belah pihak dapat saling kenal mengenal atau saling menjajaki dengan maksud supaya masing-masing pihak setelah peminangan dapat mengambil keputusan yang tepat.

Masyarakat Barru yang rata-rata beretnis bugis mayoritas memeluk agama Islam, dalam kehidupan sehari-hari masih mencerminkan pengaruh adat istiadat bugis dan syariat Islam yang dianutnya. Perlu disadari bahwa dalam adat istiadat masyarakat Barru, terlebur sistem adat dari empat bekas swapraja (kerajaan) yang pada mulanya masing-masing berdiri sendiri, yaitu : kerajaan Beru (Barru), kerajaan Tanete, kerajaan Balusu (Soppeng Riaja) serta kerajaan Nepo (Mallusetasi). Sejalan dengan perkembangan masyarakat dewasa ini, berbicara tentang adat istiadat perkawinan, nampaknya masyarakat Barru masih mempertahankan sebahagian prosesi perkawinan yang sesuai dengan syariat Islam antara lain :

  1. Mappese-pese, yaitu merupakan langkah penjajakan yang dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki terhadap keluarga perempuan.
  2. Menre Duta, yaitu pihak keluarga laki-laki menyampaikan pinangan atau lamaran secara resmi kepada keluarga perempuan.

Seperti menre duta itu menunjukkan bahwa perempuan boleh dipinang bilamana memenuhi persyaratan dalam arti bahwa perempuan yang akan dipinang tidak ada halangan-halangan secara hukum yang melarang dilangsungkannya perkawinan, dan belum dipinang oleh pria lain  secara sah. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw :

عن ابن عمر رضىالله  عنها قال. قال رسول الله صلىالله عليه وسلم : لايخطب احدكم على خطبة اخيه حتى يترك الخاطب قبله اويأذن له.

Artinya :

“Dari Ibn Umar ra. dia berkata. Rasulullah  saw  telah bersabda : Janganlah meminang salah satu diantara kamu atas pinangan saudaranya, hingga pinangan yang terdahulu meninggalkannya (melepaskanya) atau peminang pertama mengizinkan padanya”.

Berdasarkan penjelasan hadis di atas, maka penulis berkesimpulan bahwa dalam syariat Islam ada ketentuan-ketentuan tersendiri mengenai peminangan untuk dijadikan acuan dalam proses pelaksanaan meminang di Kecamatan Barru. Pengkajian lebih menarik jika dilihat bahwa pelaksanaan peminangan atau al-khitbah merupakan suatu proses yang memuat di dalamnya tahap perencanaan maupun pelaksanaan meminang itu sendiri, juga mencakup efek hukum yang ditimbulkan oleh pelaksanaan peminangan itu sendiri.

Hal yang terakhir yang dianggap penting adalah bagaimanapun juga meminang mempunyai kaitan erat dengan peristiwa atau perbuatan yang berkaitan dengan hukum. Sebab ia akan melahirkan suatu tatanan bagi kelangsungan hidup antara dua orang atau keluarga yang telah menyatakan kesediaannya untuk dilamar.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Bertolak dari latar belakang pemikiran di atas, maka dapat diuraikan inti pembahasan yang akan diangkat dalam skripsi ini :

1.  Bagaimana proses peminangan di Kecamatan Barru Kabupaten Barru ?

2.  Apakah dalam proses peminangan tidak ada yang bertentangan dengan syariat Islam ?

C. Hipotesis

Adapun sebagai jawaban sementara (hipotesis) dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan peminangan dalam perkawinan di Kecamatan Barru adalah suatu proses awal dalam perkawinan dengan memiliki tiga komponen atau fase yakni fase perencanaan (mappese-pese), pelaksanaan (menre duta) dan akibat hukum yang ditimbulkan oleh peminangan itu.
  2. Hal yang sesuai dengan syariat Islam adalah pada fase persiapan yang diawali kegiatan penjajakan (mappese-pese). Sedangkan yang tidak sesuai syariat Islam adalah yang tidak konsisten terhadap apa yang menjadi keputusan peminangan itu sendiri dengan mendatangkan kerugian pada pihak perempuan.

D. Pengertian Judul dan Defenisi Operasional

1. Pengertian Judul

Skripsi ini berjudul “Meminang dalam Perkawinan di Kecamatan Barru Kabupaten Barru Menurut Syariat Islam”. Berkaitan dengan judul ini, penulis akan menguraikan beberapa kata kunci atau istilah yang dianggap penting sebagai berikut :

Meminang adalah pernyataan isi hati seorang laki-laki kepada seorang perempuan tertentu untuk menikah baik melalui walinya atau perantara keluarga laki-laki maupun langsung kepada wanita tersebut.

Perkawinan adalah perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami isteri dengan resmi.

Syariat Islam adalah segala ketentuan yang ditetapkan Allah swt melalui para Rasul-Nya.

2. Defenisi Operasional

Skripsi ini membahas tentang proses meminang dalam perkawinan di Kecamatan Barru Kabupaten Barru. Meminang adalah pernyataan isi hati seorang laki-laki kepada seorang perempuan tertentu untuk menikah baik melalui walinya atau perantara keluarga laki-laki maupun langsung kepada wanita tersebut.

Berdasarkan dari pengertian judul tersebut di atas, maka secara operasional judul tersebut membahas sejauhmana proses pelaksanaan meminang di Kecamatan Barru Kabupaten Barru yang sesuai dengan syariat Islam.

E. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka adalah menyangkut pemaparan sejumlah literatur yang membahas mengenai judul yang dibahas sehingga dapat menggambarkan bahwa judul tersebut mempunyai landasan teoritis.

Adapun judul yang dikemukakan dalam skripsi ini telah dibahas dalam berbagai buku atau kitab seperti “al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu” dalam bab Akhwal al-Syakhsyiah, kemudian kitab “Nailul Authar” dalam bab an-Nikah, kemudian kitab “Fiqh Sunnah” dalam bab an-Nikah juga.

Bahkan dalam al-Qur’an dan Hadis banyak ditemukan penjelasan-penjelasan yang berkenaan dengan judul yang dibahas. Namun demikian, tidaklah berarti bahwa judul tersebut telah dibahas secara tuntas. Karena itu literatur-literatur yang sudah ada hanyalah menjadi rujukan dan bahan konstribusi pemikiran bagi pengembangan peminangan di Kecamatan Barru ke depan.

E. Metode Penelitian

Dalam pembahasan skripsi ini, akan dipergunakan beberapa metode sebagai berikut :

  1. Metode pendekatan, yaitu untuk memperoleh bahan penulisan, maka diperlukan terlebih dahulu metode pendekatan. Dalam hal ini penulis memandang bahwa sesuai dengan obyek yang dibicarakan ialah pendekatan historis tentang metode pemahaman ilmiah dari perspektif history suatu masalah.
  2. Metode Pengumpulan Data, yaitu untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, dilakukan serangkaian tekhnik pengumpulan data, sebagai berikut :

1. Studi pustaka (library research)

Penelititan terhadap sumber-sumber tertulis berupa literatur yang berhubungan dengan obyek pembahasan. Studi pustaka ini menggunakan tekhnik pengutipan langsung maupun tidak langsung. Kutipan langsung diambil melalui sumber kutipan dan dituangkan dalam penulisan ini dengan redaksi yang tidak mengalami perubahan. Sedangkan kutipan tidak langsung adalah kutipan yang telah mengalami sharing dari penulis dengan mengubah makna dan maksud dari penulis

Studi lapangan (field research)

1.  Wawancara

Wawancara dilakukan terhadap obyek penelitian, yaitu pimpinan dan staf kantor KUA Kecamatan Barru. Obyek yang diwawancarai adalah yang dianggap repsentatif dan kapabel untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

2.  Observasi

Observasi yang akan dilakukan adalah pengamatan langsung terhadap obyek penelitian mengetahui kegiatan sehari-hari dan arus interaksi pada saat pelayanan.

3.  Dokumentasi

Penelitian dilakukan dengan mencatat beberapa dokumen penting tentang obyek pada lembaga tersebut.

3. Metode Analisa Data

1.  Induktif, yaitu penganalisaan data yang berasal dari data yang bersifat umum kepada pembahasan atau data yang bersifat khusus.

2.  deduktif, yaitu suatu metode yang dipergunakan untuk membahas atau data yang berawal dari data yang bersifat umum guna dibahas untuk mendapatkan data yang lebih khusus lagi.

3.  Komparatif, yaitu cara membandingkan antara satu data dengan data lainnya guna mendapatkan data yang akurat.

F. Garis-Garis Besar Isi Skripsi

Bab pertama adalah merupakan bab pendahuluan yang memuat di dalamnya latar belakang masalah, rumusan dan batasan masalah, hipotesis, pengertian judul, metode penelitian, serta garis-garis besar isi skripsi.

Bab kedua membahas tentang kajian umum tentang meminang yang mencakup di dalamnya pengertian meminang, dasar hukum meminang,  syarat-syarat meminang serta tujuan meminang.

Bab ketiga membahas tentang meminang dan pelaksanaannya di Kecamatan Barru yang memuat di dalamnya proses peminangan dalam perkawinan di Kecamatan Barru, respon pemerintah dan masyarakat terhadap peminangan, serta adat dalam meminang di Kecamatan Barru.

Bab keempat, adalah membahas tentang tinjauan syariat Islam tentang pelaksanaan meminang dalam perkawinan di Kecamatan Barru yang memuat di dalamnya tinjauan pada fase persiapan dan pelaksanaannya, urgensi meminang dalam syariat Islam dan pandangan ulama terhadap pelaksanaan meminang dalam perkawinan.

Bab kelima, adalah bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran-saran (implikasi penelitian).


Drs. Baharuddin, dkk., Barru dalam Visualisasi (Makassar: Media Citra, Nusantara Makassar, 2000), h. 26.

Ibid., h. 27

Muhammad bin Ismail al-Kahlany., Subulus Salam, Juz III, (Bairut : Dar al-Fikr, 1985), h. 113

Dr. Ibrahim Refa’at Gamal dan Dr. al-Mugawary Muhammad al-Faqiy.,  (Tanta: al-Markaz al-Yabani, 1998), h. 17

Prof. Dr. M. Quraish Shihab., Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2001), h. 191

Prof. Dr. Abdul Fattah al-Husaeni as-Syaikh., Tarikh Tasyiri ‘al Islamy, (Cairo: Dar al-Jil at Thiba’ah, 1979), h. 4

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: