PENDIDIKAN; NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM ROMAN “AZAB DAN SENGSARA” KARYA MERARI SIREGAR

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Karya sastra adalah suatu cara mengungkapkan gagasan, ide, dan pemikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Karya sastra merupakan hasil kegiatan kreatif, imajinatif, dan artistik. Sebagai kegiatan yang imajinatif, sastra menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialami pengarang kepada penikmat karya sastra.

Karya sastra lahir sebagai perpaduan antara hasil renungan, pemikiran, dan perasaan seorang pengarang. Keberadaan karya sastra yang dihasilkan seorang pengarang di tengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan karena merupakan cermin kehidupan yang memantulkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal tersebut yang membedakan karya sastra dengan tulisan biasa. Dalam karya sastra terkandung nilai yang perlu digali untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, sastra dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.

Karya sastra merupakan hasil renungan manusia tentang kehidupan yang keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan itu sendiri. Peristiwa-peristiwa yang ada dalam kehidupan ini menjadi dasar olahan pengarang. Objek yang menjadi dasar olahan tersebut dituangkan ke dalam karya sastra yang hasilnya memberi dampak sendiri bagi penikmatnya. Dampak tersebut memperkaya pengalaman. Dengan kata. lain, apa pun yang ditemukan penikmat dalam karya sastra yang dibacanya tentang masalah kehidupan, seperti maut, cinta, kebahagiaan, keadilan penderitaan, baik dan buruk, semua itu berkaitan dengan pengalaman batinnya.

Objek sastra adalah manusia dan kehidupannya Oleh karena itu, karya sastra merupakan suatu sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai yang dianggap lebih tinggi serta menafsirkan makna dan hakikat hidup. Jadi, karya sastra sebagai karya kemanusiaan selalu menceritakan pengalaman hidup manusia Telah diketahui bahwa kehidupan masyarakat sesuatu yang sangat kompleks. Kekomplesan tersebut diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam sekitarnya, dan manusia dengan Tuhannya. Hubungan-hubungan tersebut menimbulkan konflik yang menyebabkan kepincangan dan penyelewengan dalam kehidupan.

Perpaduan keindahan dan realitas kehidupan yang terkandung dalam  karya sastra dapat menggugah dan mempengaruhi jiwa seseorang. Seorang pengarang dikatakan berhasil menciptakan karya sastra yang baik apabila dapat mempengaruhi perasaan seseorang atau masyarakat yang mengkomsumsi karya sastra tersebut. Dengan demikian, keberhasilan karya sastra bukan terletak pada keberhasilan seorang pengarang untuk menciptakan karya sastra tersebut, tetapi keberhasilannya terlihat dan tergambar pada pengaruhnya terhadap orang atau masyarakat yang mengkomsumsinya. Secara tidak langsung, masyarakatlah yang menentukan mana karya sastra yang bermutu dan mana yang kurang bermutu.

Pada hakekatnya, seorang pengarang seharusnya memiliki kebebasan ekspresi dalam berkarya Dengan adanya kebebasan berekspresi, tanpa ikatan-ikatan seperti pada pengarang-pengarang lama, maka akan lahir dengan sendirinya keberanian untuk menyatakan kejujuran. Dengan demikian, seorang pengarang dapat mewakili perasaan dan keinginan dari masyarakatnya atau lingkungannya melalui ketajaman pena yang dimilikinya.

Djoko Pradopo (1994:59) mengatakan :

“Karya sastra adalah karya seni, yaitu suatu karya yang menghendaki kreativitas. Dalam definisi sastra telah disebutkan bahwa karya sastra itu karya yang bersifat imajinatif, yaitu karya sastra yang terjadi akibat pegangan dan hasil pegangan itu adalah penemuan-penemuan baru, kemudian penemuan­-penemuan baru itu disusun ke dalam suatu sistem dengan kekuatan imajinasi hingga terciptalah suatu dunia baru yang sebelumnya belum ada”.

Berdasarkan konsepsi di atas dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah hasil kegiatan kreatif; imajinatif, dan artistik yang dapat memberikan pengayaan batin yang sangat berharga bagi manusia.

Di dalam kehidupan yang nyata maupun kehidupan yang dijumpai dalam sebuah karya sastra, biasanya seseorang mendapatkan kebahagiaan, kelembutan, kedamaian, pengertian, cinta, dan kasih sayang dari pasangannya Akan tetapi, lain halnya yang dialami oleh pelaku utama Aminuddin dan Mariamin dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar. Mariamin menikah dengan pria yang tidak dicintainya yang ternyata tidak mendapatkan sesuatu yang didambakan dari suaminya dan hanyalah kekecewaan yang diperoleh. Demikian pula halnya dengan Aminuddin yang tidak memperoleh kebahagiaan dalam perkawinannya. Kedua insan yang tidak merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga itu disatukan dalam kehendak dan harapan dari kedua orang tuanya. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik sehingga penulis atau peneliti ingin mengembangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Sastra adalah alat untuk menyampaikan aturan, ajaran, nasihat, atau agama (Samna, 1984: 14). Karya sastra merupakan salah satu media untuk memberikan informasi, baik berupa pesan pendidikan moral maupun agama, sangatlah perlu ditumbuhkembangkan dan disebarluaskan dalam masyarakat. Hal ini sangat bermanfaat bagi masyarakat di dalam memahami kehidupan yang berisi tentang kekuatan dan kelemahan, kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kebahagiaan dan sebagainya.

Roman sebagai salah satu karya sera yang cukup populer dalam masyarakat merupakan karya fiksi yang tidak sekedar mengungkapkan dan menceritakan aspek-­aspek kemanusiaan saja, tetapi lebih dari itu, fiksi mengajak pembaca atau masyarakat memikirkan dan merenungi kehidupan yang penuh dengan keanekaragaman peristiwa.

Roman sebagai suatu karya sastra semakin besar peranannya, walaupun terdapat keterbatasan dalam penyebarannya di kalangan masyarakat. Roman sering diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang pelakunya diceritakan sejak kecil sampai meninggal dunia. Perbedaan dengan novel yaitu prosa fiksi yang menceritakan kehidupan pelakunya yang luar biasa dan dapat mengakibatkan perubahan nasib. Jadi, perbedaan roman dengan novel terletak pada cakupan hal atau masalah yang diceritakan. Pada Roman hal yang diceritakan meliputi semua kehidupan manusia dari kecil hingga meninggal dunia, sedang novel yang diceritakan adalah kehidupan pelakunya yang luar biasa.

Sejak terbitnya roman yang pertama di Indonesia, yaitu “Azab dan Sengsara”, hasil karya Merari Siregar, maka terus mengalirlah karya-karya sastra dari tangan para sastrawan Indonesia Di samping itu corak dan sifatnya pun terus berkembang, baik gaya maupun pikiran serta masalah-masalah yang dikemukakan oleh para sastrawan dalam karya-karyanya.

Menurut Semi (1988:20) :

“Sastra, seperti halnya karya seni lain, hampir setiap zaman memegang peranan penting karena sastra dapat mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan yang berfungsi sebagai alat untuk meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti positif; baik masa sekarang maupun masa yang akan datang”.

Menurut Harjana (1991:83) Keberadaan karya sastra bukan dikhususkan bagi segolongan orang-orang tertentu saja, melainkan untuk semua orang dan semua tingkatan. Sastra ditulis untuk dibaca siapa saja dan latar belakang pendidikan apa saja.

Karya sastra memberi kesenangan dan faedah bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat penikmatnya. Nilai-nilai yang terdapat di dalamnya sangat bermanfaat untuk diteladani. Besar kemungkinan di dalam roman “Azab dan Sengsara” juga terdapat nilai pendidikan yang sangat berfaedah bagi masyarakat. Dengan dasar pemikiran seperti inilah sehingga penulis merasa perlu menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam roman “Azab dan Sengsara”.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang yang diuraikan di atas, maka perlu dirumuskan masalah dalam penelitian ini. Rumusan masalah itu memberikan batasan masalah kepada penulis sehingga pembahasan tidak terlepas dari yang diharapkan.

Adapun masalah yang diangkat penulis dalam penelitian ini adalah nilai-nilai apakah yang terkandung dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar ?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini merupakan usaha untuk mendapat jawaban terhadap permasalahan yang telah dirumuskan, yakni untuk menemukan nilai-nilai yang terdapat dalam roman “Azab dan Sengsara”.

D.   Manfaat Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya memberikan pemahaman terhadap masalah yang diangkat, tetapi juga diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap masalah yang mempunyai hubungan dengan nilai-nilai tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh seseorang, termasuk penelitian karya sastra, seharusnyalah memberikan manfaat kepada siapa saja yang membacanya Demikian pula yang dilakukan penulis, diharapkan dapat memberikan manfaat, baik kepada penulis sendiri maupun kepada pembaca.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yaitu :

  1. Untuk meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra.
  2. Untuk membantu pembaca atau penikmat sastra dalam mecnahami nilai-nilai yang terdapat dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar.
About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: