PENGGUNAAN BAHASA FIGURATIF DALAM NASKAH PIDATO SISWA KELAS II SMU NEGERI CAMPALAGIAN KABUPATEN POLMAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Bangsa Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 yang isinya antara lain : mengaku berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia, selanjutnya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. IVIMPR/1999 menggariskan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dilaksanakan dengan mewujudkan penggunaannya secara baik dan benar.

Peranan penelitian dalam pengajaran bahasa sangat penting karena banyak masalah dalam bidang ini yang perlu dipecahkan. Di samping itu, penelitian semacam ini bermanfaat untuk bidang pendidikan dan pengajaran karena bidang ini memerlukan landasan ilmiah. Perencanaan pendidikan bahasa tidaklah mungkin dapat diharapkan hasilnya yang memuaskan jika tidak disertai penelitian bahasa terlebih dahulu.

Dalam pengajaran bahasa ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni yang bersifat integratif (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dan yang bersifat teori-teori bahasa yakni (semantik, sintaksis).

Bahasa Indonesia dalam kaitannya dan peranannya sebagai media komunikasi dapat dilakukan dalam berbagai model. Salah satu bentuk yang konkret adalah pidato.

Di sekolah-sekolah sering kita jumpai siswa yang sangat sulit untuk mengungkapkan dan mengutarakan ide-idenya, meskipun ide-ide itu sudah tercermin dalam benaknya. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurang kaya dan kurang memahami kosakata dan gaya bahasa.

Ahli pidato yang baik sering memanfaatkan bahasa kias atau majas untuk menjelaskan gagasan-gagasan mereka. Seorang retorik klasik yang telah dimanfaatkan oleh novelis Romawi, Cicero dan Suetonicus, dengan memakai figura dalam pengertian bayangan, gambaran, sindiran, dan kiasan­kiasan.

Majas, kiasan atau figura of speech adalah bahasa kias, bahasa yang indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal lain yang lebih umum. Dengan kata lain, penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu (Dale dalam Tarigan 1986:112)

Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi para penyimak dan pembaca. Kata retorika berasal dari bahasa Yunani rhetor yang berarti orator atau ahli pidato. Pada masa Yunani kuno retorika memang merupakan bagian penting dari suatu pendidikan. Oleh karena itu, gaya bahasa sangat penting serta harus dikuasai benar-benar oleh orang-orang Yunani dan Romawi pada saat hingga berkembang sampai sekarang dan memerlukan tindak lanjut yang sesuai.

Implikasi lebih lanjut menyangkut pendidikan bahasa Indonesia tidak diragukan lagi bahwa bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah umumnya adalah variasi baku. Kemahiran dan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan diharapkan dapat dilakukan oleh siswa khususnya dalam bentuk pidato.

Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah bertujuan menanamkan dasar-dasar pengetahuan sikap, nilai, serta keterampilan berbahasa Indonesia dan salah satu model pendidikan yang diharapkan yakni berpidato. Pengajaran bahasa Indonesia dapat menumbuhkan sikap positif terhadap bangsa Indonesia Hasil Pengajaran bahasa Indonesia mencerminkan sikap seorang siswa untuk mencintai bahasa Indonesia, merasa memiliki bahasa Indonesia, bangsa akan bahasa Indonesia dan mereka menyadari bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa dan ia menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu ciri identitas bangsa.

Sering ditemukan betapa banyak siswa yang sangat sulit untuk berbicara di depan umum untuk mengutarakan pendapat mereka ini disebabkan oleh kurangnya perhatian seorang guru untuk memberikan pelatihan dan praktik, baik dalam bentuk pidato lisan, maupun dalam bentuk naskah pidato.

Pidato pada dasarnya mendidik dan mengembangkan kreativitas seorang siswa karena keterampilan berbahasa semua ada dalam pelatihan dan praktik pidato dari empat keterampilan berbahasa yakni keterampilan menulis, menyimak, membaca dan berbicara. Dalam pidato juga sering ditemukan gaya bahasa yang dipergunakan oleh seorang orator.

Majas atau gaya bahasa memberikan nilai tersendiri bagi seorang orator atau ahli pidato untuk menarik simpati para pendengar, jika mereka bisa menggunakan gaya bahasa dan kosakata yang tepat.

Peningkatan pemakaian gaya bahasa, jelas memperkaya kosakata pemakaiannya. Seseorang dikatakan mempunyai kosakata yang kaya kalau dia memahami makna kosakata tersebut. Oleh karena itu, pengajaran gaya bahasa merupakan suatu teknik penting dalam pengajaran kosakata, seterusnya pengajaran kosakata turut pula menunjang pengajaran semantik, sehingga ketiga pengajaran di atas antara satu dengan yang lain sating menunjang dan sating mengisi dan melengkapi. Majas dan kosakata mempunyai hubungan erat, hubungan timbal balik. Majas dan semantik mempunyai hubungan erat sebab tanpa pengetahuan mengenai makna kata, terlebih-lebih makna konotatif, sukar untuk memahami gaya bahasa yang beraneka ragam itu.

Semakin kaya kosa kata seseorang maka semakin mantap pula memahami makna kosakata itu, maka semakin beragam pula majas yang dapat dimanfaatkannya. Selain itu, semakin mudah pula dia memahami serta menghayati majas yang dipakai ofeh orang lain.

Peningkatan pemakaian gaya bahasa atau majas, jelas akan memperkaya kosakata yang kaya kalau dia memahami makna kosakata tersebut. Oleh karena itu pengajaran gaya bahasa merupakan suatu teknik penting dalam pengajaran kosakata.

Gaya bahasa merupakan bagian ilmu bahasa, penyelidikan gaya bahasa mencakup masalah perulangan bunyi, inversi atau pembalikan susunan kata dan susunan kalimat yang mempunyai fungsi estetis. Dengan demikian, gaya bahasa mempelajari segala cars untuk mencapai suatu efek tertentu dalam pernyataan. Misalnya metafora susunan kalimat dan sebagainya.

Gaya bahasa, baik yang mengandung makna perbandingan dan pertanyaan maupun perulangan dan pertautan sebagaimana pembagian yang dikemukakan oleh Tarigan (1986), pada umumnya cenderung lebih berpengaruh pada daya emosi ketimbang pada daya nalar. Karena itu, gaya bahasa dapat disebut sebagai salah satu aspek penting dari bahasa emotif. Keterpengaruhan daya emosi itu sering membuat daya nalar jadi melemah, dalam bahasa pidato politik berkembang suatu gaya bahasa yang saya sebut gaya topeng (Tampubolon, 1998:3). Biasa kita dengar atau baca di media massa, misalnya pemerintah terns mengusahakan anggaran berimbang dan sudah diamankan. Kedua kalimat itu terasa indah karena penggunaan kata

berimbang dan diamankan tetapi makna kata di atas adalah pinjaman lust negeri (utang). Gaya topeng tersebut begitu berpengaruh pada daya emosi. Menurut pendapat pats ahli retorika, yaitu Aristoteles dan Cicero (Effendy, dalam Faizah 2003: 18} menyarankan sebuah pidato harus memiliki teori kuda yaitu;

- Exordium    = Kepala

- Protetis        = Punggung – Arguments = Perut

- Conclusio   = Ekor

Exordium adalah bagian pendahuluan sebuah pidato berfungsi sebagai pengantar ke arah pokok persoalan yang akan dibahas dan sebagai upaya menyiapkan mental hadirin. Beberapa cars dapat ditampilkan untuk menarik perhatian antara lain

-       Mengemukakan pertanyaan

-       Menjadikan ilustrasi yang spesifik

-       Memberi fakta yang mengejutkan.

Protetis diibaratkan Punggung pada tubuh kuda bagian ini merupakan pokok pembahasan yang mengemukakan latar belakang masalah uraian yang harus menggunakan bahasa yang sarat dengan makna pesan dan menghindari istilah-istilah yang sulit dipahami.

Arguments diibaratkan dengan bagian perut kuda bagian ini merupakan tubuh naskah pidato yang merupakan kesatuan argumentasi

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah : Bagaimana penggunaan bahasa figuratif dalam naskah pidato siswa Kelas II SMU Negeri Campalagian Kabupaten Polman.

C.   Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas masalah yang telah dikemukakan di atas. Jadi penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan bahasa figuratif dalam naskah pidato siswa kelas II SMU Negeri Campalagian Kabupaten Polman.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dapat dicapai dari penelitian ini, adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan data informasi tentang penggunaan bahasa figuratif dalam naskah pidato siswa kelas II SMU Negeri Campalagian Kabupaten Polman;
  2. Memberikan masukan dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan;
  3. Memberikan sumbangan pikiran dalam usaha pengkajian yang menggambarkan sejumlah penggunaan bahasa figuratif dalam naskah pidato siswa kelas II SMU Negeri Campalagian Kabupaten Polman;
  4. meningkatkan apresiasi pembaca terhadap karya generasi muda dalam bentuk naskah pidato;
  5. Membantu pemerhati kebahasaan dalam memahami pidato dan penggunaan bahasa figuratif; dan
  6. Menjadi bahan pertimbangan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan penelitian

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: