Sistem Pembinaan Narapidana Residivis pada Lembaga Pemasyarakatan kelas I Makassar (Studi Kasus Tahun 1998-2002)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di Bumi ini bertebaran kelompok-kelompok manusia dengan berbagai pola dan tingkah laku yang berbeda-beda. Namun demikian dari sekian ragam kelompok manusia yang mempunyai pola – pola kehidupan yang bervariasi tidak pernah terlepas dari problema yang merupakan akibat adanya kehidupan bersama dalam suatu masyarakat tertentu.

Dalam era pertumbuhan dan pembangunan dewasa ini, kejahatan merupakan masalah krusial yang sangat meresahkan masyarakat, baik itu dari segi kualitas maupun dari segi kuantitasnya.

Kejahatan akan selalu ada dan ditemukan di dalam masyarakat manapun juga, meskipun masyarakat itu sendiri tidak pernah mendambakan kehadirannya. Oleh karena itu  peran pemerintah  sangat penting dalam hal mengupayakan berbagai cara untuk menangkalnya, yang antara lain berupa penjatuhan hukuman atau pemidanaan bagi mereka yang telah terbukti melakukan tindak pidana.  Pelaksanaan hukuman atau pemidanaan  dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan dengan sistem Pemasyarakatan melalui suatu pembinaan dan bimbingan yang diberikan kepada mereka yang telah melanggar hukum. Kebijakan pembinaan dengan sistem pemasyarakatan ini mencerminkan bahwa negara Indonesia adalah Negara yang menghargai dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.

Dalam Pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa tujuan Negara adalah untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Tujuan ini antara lain diemban oleh Lembaga Pemasyarakatan dalam rangka menjalankan perannya sebagai suatu tempat mendidik, membina, dan membimbing para Narapidana agar menjadi manusia yang baik ( taat hukum dan berguna ).

Jadi pada hakikatnya Lembaga Pemasyarakatan berhasrat untuk mendidik, membina, dan membimbing para narapidana, yakni memperbaiki pola pikir dan perilaku serta mental setiap narapidana yang menjalani hukuman. Namun demikian masih saja sering dijumpai, didengar, dan dibaca tentang adanya pelaku-pelaku kejahatan kambuhan atau yang lebih dikenal dengan istilah residivis yang merupakan suatu masalah tersendiri yang memerlukan penanganan oleh  berbagai pihak, utamanya pemerintah.

Munculnya penjahat yang tergolong sebagai residivis dapat terjadi karena adanya berbagai faktor keterbatasan yang dimiliki oleh aparat atau pun petugas di jajaran Lembaga Pemasyarakatan. Di samping itu dapat dipengaruhi oleh masyarakat lingkungannya sendiri. Keterbatasan itu dapat terjadi karena kurangnya penguasaan teknik dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pembina di Lembaga Pemasyarakatan.

Sehubungan dengan itu, maka kehadiran Lembaga Pemasyarakatan perlu tetap dipertahankan eksistensinya, oleh karena tujuan utamanya adalah untuk mendidik, membina para narapidana agar kelak setelah mereka menjalani hukumannya, dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat dan menjadi warga yang baik dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. Disadari pula bahwa masih banyak lembaga pemasyarakatan yang belum efektif menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga hukuman yang telah dijalani oleh para narapidana yang dibinanya tidak merupakan suatu pembinaan, akan tetapi justru menjadikan mereka sebagai penjahat ulung dan residivis, sehingga  di mata masyarakat tetap menakutkan

Lembaga pemasyarakan yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik dan efektif dapat melahirkan penjahat yang berkualifikasi residivis. Juga sering didengar dan dibaca di media massa terjadinya penganiayaan dan penyiksaan terhadap tahanan, baik itu dilakukan oleh penghuni lama sesama narapidana maupun oleh petugas lembaga pemsyarakatan itu sendiri.

Perlu ditegaskan bahwa narapidana bukanlah hama atau sampah masyarakat yang harus dicampakkan dan dimusnahkan, melainkan narapidana itu juga adalah warga negara, warga masyarakat yang tetap mempunyai hak-hak, sehingga perlu diberikan pembinaan ataupun keterampilan yang dapat menjadikan mereka sebagai manusia-manusia yang memiliki potensi diri, memiliki sumber daya yang dapat mengisi pembangunan bangsa dan negara.

Dengan demikian Lembaga Pemasyarakatan dalam keberadaannya dewasa ini bukan saja sebagai tempat untuk melaksanakan pembinaan bagi narapidana, tetapi juga sebagai tempat untuk memproses narapidana menjadi manusia seutuhnya, bertaqwa, bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat serta dapat kembali hidup secara wajar sebagai warga yang baik di tengah-tengah masyarakat.

Berkaitan dengan uraian di atas, penulis membahasnya dalam sebuah skripsi dengan judul “Sistem Pembinaan Narapidana Residivis pada Lembaga Pemasyarakatan kelas I Makassar (Studi Kasus Tahun 1998-2002)”. Dengan alasan pokok sebagai berikut :

  1. Lapas adalah satu-satunya wadah untuk menampung dan membina para narapidana.
  2. Keberadaan Lapas sangat membantu para narapidana dalam menuntut ilmu dan menambah keterampilan serta memperbaiki akhlak (budi pekerti) mereka sebagai bekal hidup setelah menjalani masa pidananya dan kembali ke tengah-tengah masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis memberikan batasan dalam lingkup pembinaan residivis, oleh karena itu agar lebih terarah dalam memaparkan uraian pembahasan, akan dirumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah perkembangan data residivis pada Lembaga Pemasyarakatan Makassar dalam kurun waktu 1998-2002 ?
  2. Bagaimanakah proses pelaksanaan pembinaan residivis pada Lembaga Pemasyarakatan Makassar?
  3. Faktor apakah yang menjadi penghambat dan penunjang dalam pembinaan residivis pada Lembaga Pemasyarakatan Makassar?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian.

Ada pun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui perkembangan residivis di Lembaga Pemasyarakatan Makassar dalam kurun waktu 1998-2002.
  2. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembinaan Residivis di Lembaga Pemasyarakatan Makassar.
    1. Untuk  mengetahui faktor penghambat  pembinaan residivis   pada   Lembaga Pemasyarakatan Makassar.

Sedangkan Kegunaan Penelitian ini adalah :

Diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan bagi Lembaga Pemasyarakatan Makassar agar lebih meningkatkan perannya sebagai lembaga pembinaan bagi narapidana.

Sebagai bahan referensi bagi reka-rekan mahasiswa Fakultas Hukum serta pihak lain yang berkompoten dan ingin mengetahui pelaksanaan pembinaan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Makassar.

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: