AKTIVITAS HUMAN RELATIONS DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI KANTOR

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Seperti diketahui bahwa kegiatan human relations telah terjadi sejak manusia terdiri dari lebih dari satu orang. Hal ini juga berarti bahwa human relations merupakan suatu gejala sosial yang hampir setua dengan hidup bermasyarakat. Sasaran material dari human relations adalah manusia dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan sasaran formilnya mencakup ruang lingkup hubungan antar manusia. Di dalam konsep ilmu pengetahuan disiplin ilmiah human relations termasuk dalam lingkungan ilmu-ilmu sosial dan mengalami perkembangan di bidang sosiologi, ilmu jiwa sosial, ilmu politik, dan manajemen. Perkembangannya maju dengan pesat setelah perang dunia kedua berakhir sejalan dengan perkembangan organisasi lembaga, perusahaan dan industri-industri raksasa maupun dalam lembaga pemerintahan yang menggunakan teknik manajemen yang akurat serta tepat guna. Sesuai dengan latar belakang inilah maka tidaklah mengherankan apabila kegiatan human relations banyak dikembangkan dalam dunia lembaga, perusahaan, industri, pemerintah maupun bisnis dan public administration. Begitupula yang akan kami teliti pada Pemerintah Daerah Tana Toraja.

Sebagai suatu disiplin ilmu maka human relations adalah suatu studi tentang hubungan antar manusia yang mencakup semua bentuk interaksi manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Davis dalam Effendy (1993:51), mengemukakan bahwa human relations adalah kegiatan dalam upaya memotivasi manusia untuk menumbuhkan kerja sama yang efektif, dan memberikan pemenuhan kebutuhan dan juga tujuan organisasi. Potensi aktualitas dan proses kreativitas manusia perlu digali, diarahkan dan dikembangkan di dalam wadah masyarakat dan juga organisasi.

Dalam hubungannya dengan manajemen sumber daya manusia, komunikasi yang dalam hal ini human relations bukan hanya sekedar berarti pengiriman dan penerimaan pesan, tetapi lebih jauh dari itu, human relations juga bertujuan mengembangkan potensi sumber daya manusia. Sesuai dengan tujuan tersebut, pengembangan potensi pegawai dalam suatu pemerintahan tidak akan terlepas dari upaya peningkatan motivasi dan prestasi kerja seorang pegawai.

Seorang pegawai yang termotivasi baik, akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap keefektifan organisasinya. Jika seorang pegawai termotivasi dengan baik, maka akan menunjukkan suatu pemerintahan yang berjalan efektif dan hal ini merupakan kunci sukses bagi seorang atasan dalam membina perusahaan/lembaga/pemerintahan yang dipimpinnya.

Ada lima hal penting yang perlu diperhatikan dalam kaitan human relations terhadap peningkatan motivasi kerja karyawan untuk mencapai tujuan organisasi, kelima hal tersebut antara lain :

  1. Tersedianya umpan balik dan proses mendengarkan yang efektif.
  2. Adanya kesungguhan hati dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
  3. Dapat memahami kebutuhan-kebutuhan pegawai bawahan.
  4. Penggunaan waktu secara tepat dan efektif.
  5. Mempergunakan saluran komunikasi yang tepat.

Seorang atasan yang mendapat umpan balik dari bawahannya, hendaknya menerima secara seksama. Sehingga komunikasi berikutnya tidak menimbulkan isyarat-isyarat non-verbal, karena jika tidak mendapat respon, maka persepsi kedua belah pihak akan kabur. Komunikasi yang baik hendaknya direncanakan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan, sehingga tidak terkesan hambar, terutama komunikasi vertikal yang dilakukan antara atasan dengan bawahan. Dalam situasi yang demikian, maka pegawai dalam posisinya sebagai bawahan mempunyai kebutuhan dan senantiasa perlu diperhadapkan sebagai kendala yang perlu mendapat perhatian, minimal secara moral, sehingga bawahan merasa aman menerima, menyimpan dan sekaligus melaksanakan pesan dari atasan atau setidak-tidaknya bawahan merasa tidak dirugikan.

Secara sekilas human relations terlihat sebagai suatu hal yang biasa dan mudah dilakukan, tetapi sebenarnya tidaklah demikian adanya. Human relations adalah suatu hal yang dinamis dan tidak terlepas dari faktor manusia. Hubungan kerja antara atasan dengan bawahan misalnya. Komunikasi, tugas, dan tanggung jawab atau pendelegasian wewenang akan sangat sulit dilakukan jika tidak dibarengi dengan proses human relations yang baik.

Disadari atau tidak, human relations dapat memberi pengaruh-pengaruh positif terhadap motivasi kerja seseorang. Teknik-teknik yang kurang tepat yang digunakan oleh seorang atasan dalam berkomunikasi dengan bawahannya (komunikasi vertikal) akan berakibat menurunnya motivasi kerja bawahannya. Hal ini dapat terjadi karena motivasi berhubungan erat dengan implikasi-implikasi yang diterima sebagai hasil suatu komunikasi. Adapun komunikasi horizontal dalam berkomunikasi yaitu berupa koordinasi tugas, penyelesaian masalah, pembagian informasi, dan resolusi konflik.

Peran  human relation sangat menentukan aktifitas organisasi dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu, human relations  harus memiliki evaluasi prestasi kerja bagi seluruh orang-orang yang ada di dalam organisasi, sehingga organisasi tersebut dapat mengetahui sejauh mana tingkat pencapaian prestasinya dan hal ini dapat dijadikan tolak ukur untuk pemberian kompensasi, pengembangan potensi diri serta perbaikan lingkungan kerja dalam melakukan inovasi yang akhirnya akan meningkatkan motivasi dan juga meningkatkan prestasi kerjanya, maka organisasi harus memberikan insentif atau membuat kebijakan tertentu dalam rangka memotivasi pegawainya, agar dapat memberikan kontribusi balikan kepada organisasi, yaitu berupa prestasi kerja yang tinggi.

Kantor Bupati Tana Toraja adalah salah satu instansi pemerintah yang mempunyai organisasi yang cukup baik, dimana kegiatan-kegiatan kerja dilimpahkan kepada seluruh pegawai, baik pegawai tetap (PNS) maupun pegawai honorer. Menarik untuk diteliti aktifitas human relations dalam hal ini pimpinan (atasan) dalam memotivasi karyawannya.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah :

  1. Sejauhmana aktifitas human relations di Pemerintah Daerah Tana Toraja dalam peningkatan motivasi kerja pegawai kantor Bupati Tana Toraja?
  2. Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh pada proses human relationspada pegawai kantor Bupati Tana Toraja?
  3. 1. Tujuan Penelitian
    1. Untuk mengetahui aktifitas human relations dalam meningkatkan motivasi kerja pegawai kantor Bupati Tana Toraja.
    2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berpengaruh pada human relations pada pegawai kantor Bupati Tana Toraja.
  4. 2. Kegunaan Penelitian

C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Ada dua kegunaan penelitian ini dilakukan, yaitu :

  1. Secara teoritis, yaitu penelitian ini nantinya dapat berguna sebagai kerangka acuan bagi mahasiswa atau cendekiawan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
  2. Secara praktis, yaitu menjadi bahan masukan bagi Pemerintah Daerah Tana Toraja dalam rangka mengembangkan human relations kemudian pengaruhnya terhadap motivasi kerja pegawainya.
  3. D. Kerangka Konseptual

Masalah utama yang sering nampak dijagad ini khususnya yang sering dihadapi oleh kalangan pimpinan perusahaan, lembaga, pemerintahan, maupun organisasi-organisasi lainnya, yaitu menyangkut prinsip utama dasar-dasar yang memungkinkan orang/manusia untuk tergerak melaksanakan pekerjaannya dengan senang hati.

Berbicara mengenai masalah kemauan dan kesediaan untuk melaksanakan tugas pekerjaan merupakan hal yang cukup kompleks seperti juga kompleksnya melakukan pendekatan pada manusia itu sendiri. Untuk mengenali masalah tersebut dan mendalaminya, maka mutlak diperlukan pengetahuan tentang apa yang disebut human relations terutama dalam tujuan komunikasi.

Mengingat begitu luasnya ruang lingkup human relations maka dalam penelitian ini akan dicoba fokuskan pada apa yang disebut Organizational Human Relations. Untuk mencari pengertian human relations nampaknya tidaklah mudah dapat menemukan kata-kata yang tepat sebagai terjemahan dari human relations, ada yang menterjemahkan sebagai hubungan antar manusia. Secara harfiah terjemahan tersebut tidaklah salah, akan tetapi tidak mengandung makna human relations yang sebenarnya. Pada istilah hubungan antar manusia tidak terdapat titik berat yang meyakinkan, sedangkan titik berat pada human relations adalah humannya (manusianya). Jadi di sini faktor manusianya berupa sifatnya, wataknya, tingkah lakunya, pribadinya dan bukan hanya wujudnya saja. Human relations adalah masalah rohaniah, yaitu proses rohaniah yang menyangkut watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap dan tingkah laku menuju suatu kebahagiaan atau kepuasan hati. Proses ini berlangsung pada dua atau tiga orang yang terlibat dalam hubungan komunikatif, yaitu komunikasi antar persona. Mengenai human relations, Effendy (1993:50) memberi pengertian human relations dalam arti sempit yaitu :

“Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi kerja (work situation) dan dalam organisasi kekaryaan (work organization) dengan tujuan untuk menggugah kegairahan dan kegiatan bekerja dengan semangat kerjasama yang produktif dengan perasaan bahagia dan puas hati”.

Dengan kegiatan human relations para pemimpin organisasi kekaryaan berusaha memecahkan masalah yang menimpa para karyawan secara individual, sehingga dengan demikian mereka dapat digairahkan dan digerakkan ke arah yang lebih produktif. Norman dalam Effendy (1993:50) mengatakan bahwa :

“Human relations dapat diusahakan untuk menghilangkan rintangan-rintangan komunikasi, mencegah salah pengertian dan mengembangkan segi konstruktif sifat tabiat manusia. Dalam melaksanakan human relations itu pemimpin organisasi atau lembaga melakukan komunikasi dengan para karyawannya secara manusiawi untuk menggiatkan mereka bekerja bersama-sama, sehingga hasilnya memuaskan di samping itu mereka bekerja dengan hati puas”.

Adapun konsep dasar human relations adalah hakekat manusia itu sendiri. Sehubungan dengan  manusia, maka terdapat empat asumsi (anggapan dasar) yaitu :

  1. Perbedaan-perbedaan individual.
  2. Manusia seutuhnya.
  3. Motivasi.
  4. Martabat manusia (human dignity)

Di samping itu, motivasi merupakan bagian dari human relations untuk bagaimana meningkatkan sumber daya manusia yang ada dalam diri seseorang, sehingga seseorang yang diberi motivasi dapat bekerja lebih keras, berusaha mencari tingkat tanggung jawab, bekerja tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan, dan melakukan pekerjaannya dengan profesional.

Dalam motivasi kerja dapat diukur sebagai berikut :

  1. Tinggi, motivasi kerja tinggi apabila bawahan memiliki disiplin kerja yang tinggi, mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan serta menghasilkan kualitas hasil pekerjaan yang sangat memuaskan bagi atasan.
  2. Sedang, motivasi kerja sedang apabila bawahan kurang memiliki disiplin kerja, kurang mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan serta kualitas hasil pekerjaan yang kurang memuaskan bagi atasan.
  3. Rendah, motivasi kerja rendah apabila bawahan tidak memiliki disiplin kerja, tidak memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan serta kualitas hasil pekerjaan yang tidak memuaskan bagi atasan.

Dalam sebuah organisasi, kepemimpinan adalah merupakan ujung tombak keberhasilan suatu organisasi, karena organisasi yang dipimpin oleh pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang mengetahui kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya baik itu kebutuhan manusia secara fisiologis atau secara psikologis, karena kepemimpinan merupakan salah satu alat (tool) dalam human relations bagaimana mempengaruhi orang lain dalam suatu organisasi, dan bagaimana orang bertingkah laku sehingga dengan kepemimpinan yang baik diharapkan akan meningkatkan motivasi kerja orang-orang yang dipimpinnya.

Pendidikan adalah merupakan faktor yang sangat mempengaruhi seorang pemimpin dalam human relations karena dengan pendidikan yang tinggi, akan memberikan pemikiran-pemikiran yang lebih baik dan profesional. Begitupun bagi karyawan atau bawahan dengan memiliki pendidikan, maka seseorang akan lebih mudah diajak berkomunikasi, dalam sebuah organisasi dan dapat lebih mudah untuk memahami dan mengerjakan tugas-tugas dalam sebuah organisasi.

Di samping itu, ada dua faktor yang menentukan sifat tabiat manusia yakni pembawaan sejak lahir (heredity) dan lingkungan hidupnya (environment). Yang menjadi dasar dari sifat, watak tabiat manusia ialah sifat-sifat yang dimilikinya begitu ia dilahirkan, sifat mana adalah warisan dari orang tuanya dan nenek moyangnya. Sifat-sifat tersebut dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia hidup. Lingkungannya akan menentukan apakah sifat-sifat yang dibawanya sejak lahir itu akan berkembang atau tertahan. Interaksi dengan orang-orang dalam lingkungannya akan berpengaruh kepada sifat-sifat yang sudah ada padanya. Yang diartikan pengaruh di sini ialah bahwa sifat-sifat yang sudah ada itu berkembang atau tertahan, tetapi tidak mematikan.

Dalam perjalanan hidupnya, dalam berinteraksi dengan lingkungannya, seseorang menangkap kesan-kesan dari luar dirinya melalui panca inderanya. Yang ia lihat, dengar dan sebagainya masuk di alam sadarnya dan berhimpun di alam bawah sadarnya, berpadu dengan kesan-kesan pengalaman warisan nenek moyangnya yang sudah ada sejak lahir. Hal itulah yang menimbulkan perbedaan sifat tabeat manusia. Juga yang tidak bisa diabaikan adalah faktor gender (jenis kelamin) dimana kedua jenis mahluk (manusia) tersebut mempunyai banyak perbedaan sifat yang dapat mempengaruhi perilakunya.

Bagan berikut ini, akan membantu memahami kerangka konseptual yang dimaksud di atas :

  1. E. Definisi Operasional

Definisi operasional, sangat membantu dalam menemukan fakta dan memahami peristilahan yang digunakan.

  1. Aktifitas, kegiatan yang dilakukan secara nyata dan direncanakan oleh human relations yang ditujukan pada orang-orang dalam suatu badan organisasi tentang sesuatu hal yang mempunyai tujuan tertentu.
  2. Motivasi kerja, yaitu daya gerak, gairah atau semangat kerja yang diperlihatkan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya, yang diperoleh melalui imbalan-imbalan (economic, social, dan psicological rewards) atau melalui persesuaian pimpinan/atasan suatu lembaga.
  3. Pegawai, aparatur negara yang biasa kita kenal dengan nama pegawai negeri sipil (PNS) aparatur yang berasal dari kata aparat yang berarti badan, alat, instansi pegawai negeri sipil.
  4. Human relation, komunikasi persuasif yang dilakukan seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam segala situasi dan semua bidang kehidupan sehingga menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan hati pada kedua belah pihak yang dilakukan dimana saja.
  5. Tipe dan Waktu Penelitian

F.     Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kantor Bupati Tana Toraja, waktu penelitian   Mei 2006 – Juni 2006

  1. Tipe Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan mempergunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dimana data yang digambarkan secara obyektif berdasarkan data atau fakta yang ditemukan.

  1. Populasi dan Informasi Penelitian
    1. Populasi, populasi yang akan diteliti adalah pegawai kantor Bupati Tana Toraja Bagian Kepegawaian dimana jumlah pegawai negeri sipil sebanyak (20) dan pegawai honor sebanyak (3 orang)
    2. Informan, teknik penentuan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan purposive sampling yaitu memilih beberapa orang pegawai atau karyawan yang didasari atas pertimbangan tertentu yang dianggap dapat memberikan informasi sesuai permasalahan yang akan diteliti.
  2. Jenis dan Sumber Data

1)      Data primer, yaitu data yang diperoleh melalui pengamatan langsung pada Pemerintah Daerah Tana Toraja sehingga data yang diperoleh adalah :

–        Data tentang pelaksanaan human relations atasan/pimpinan kantor Bupati Tana Toraja terhadap pegawai dalam kegiatan pekerjaan sehari-hari dan kemungkinan untuk mendapatkan metode-metode yang digunakan dalam peningkatan motivasi kerja pegawainya.

–        Data tentang sejarah perkembangan Pemerintah Daerah Tana Toraja sejak didirikan hingga saat ini.

2)      Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari bahan tertulis dengan melakukan pencatatan data pembangunan

–        Buku-buku petunjuk dan job description

–        Dokumen-dokumen dan laporan-laporan Pemerintah Daerah yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti.

  1. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode :

1)      Library research (kepustakaan) yaitu suatu metode penelitian yang digunakan dengan mengunjungi perpustakaan, terutama mendapatkan literatur yang sesuai dengan topik pembahasan, mencari teori-teori yang kemungkinan dapat menjadi landasan teoritis (data sekunder).

2)      Field research (penelitian lapangan), yaitu metode penelitian yang bertujuan mengumpulkan data (data primer) dengan cara :

  1. Melakukan observasi, yaitu pengamatan pada obyek penelitian untuk mendapatkan bukti data yang berhubungan dengan permasalahan.
  2. Melakukan wawancara, dengan menggunakan pedoman wawancara sebagai instrumen penelitian yang diatur dengan sistematis berdasarkan masalah yang ditetapkan sebelumnya. Penulis melakukan wawancara langsung dengan beberapa informan yang dianggap dapat memberikan informasi sesuai dengan permasalahan yang diteliti dengan perincian yaitu :

-        Pimpinan                                                  1 orang

-        Staf/pegawai tetap PNS                          8 orang

-        Pegawai honor                                         2 orang

  1. Mengadakan kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan mengedarkan daftar pertanyaan (kuesioner) yang berkaitan erat dengan masalah yang akan diteliti.
  2. Teknik Analisis Data

Guna mendapatkan data yang kualified, maka data yang telah dikategorikan (data primer dan data sekunder), dianalisis secara deskriptif kualitatif guna memberikan gambaran tentang hasil penelitian dengan asumsi bahwa teori-teori mengenai komunikasi atasan dengan bawahan tetap berlaku dan terkait dalam melakukan analisis data.

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: