PENDIDIKAN PADA MASA PEMBARUAN DI MESIR

I.  PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Islam mengalami puncak kejayaan di berbagai bidang dan menjadi kiblat peradaban seantero dunia ketika Dinasti Abbasiyah berkuasa yang berpusat di Bagdad. Bersamaan dengan itu, di belahan dunia bagian Barat berdirilah dengan kokohnya sebuah pusat peradaban yang didirikan oleh keturunan Bani Umayyah di Spanyol, kemudian diikuti oleh Dinasti Fatimiyah di Masir. Ke tiga pusat kerajaan ini masing-masing menyumbangkan paradaban tiada tara yang bukan hanya mengharumkan nama Islam, tapi juga menjadi penyebab bangkitnya Eropa (Barat) dari keterbekangan khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Punahnya kejayaan Islam terjadi antara abad VI – XI M. Akhirnya abad XI M. Datanglah serangan Pasukan Salib yang mengumandangkan perang suci melawan umat Islam berlangsung kurang lebih dua abad. Belum sembuh luka yang diderita umat Islam dari peristiwa itu, muncul lagi serangan yang lebih dahsyat dari sebelumnya yakni serangan Jangis Khan dan cucunya Khulagu Khan serta Timur Lenk secara bertubi-tubi dan mebabi buta.

Akibat serangan tersebut, peradaban Islam porak-poranda, hancur berkeping-keping. Islam mengalami kemunduran, sementara Eropa (Barat) mengalami kemajuan yang ditandai dengan adanya Revolusi Industri dan Renaissance di Dunia Barat. Di saat Islam dalam keadaan lemah itulah sehingga mereka dijajah.

Napoleon Bonaparte menguasai Mesir sejak tahun 1798 M. Ini merupakan momentum baru bagi sejarah umat Islam, khususnya di Mesir yang menyebabkan bangkitnya kesadaran akan kelemahan dan keterbelakangan mereka. Kehadiran Napoleon Bonaparte di samping membawa pasukan yang kuat, juga membawa para ilmuwan dengan seperangkat peralatan ilmiah untuk mengadakan penelitian.[1]

Hal inilah yang membuka mata para pemikir-pemikir Islam untuk melakukan perubahan meninggalkan keterbelakangan menuju modernisasi di berbagai bidang khususnya bidang pendidikan. Upaya pembaharuan dipelopori oleh Muhammad Ali Pasya, kemudian diikuti oleh pemikir-pemikir lainnya.

B.  Permasalahan

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang usaha pembaharuan di Mesir khususnya dalam bidang pendidikan, maka dalam makalah ini penulis mengemukakan permasalahan sebagai berikut :

  1. Siapakah tokoh yang menjadi pembaharu di bidang pendidikan di Mesir ?
  2. Bagaimanakan ide pembaharuan para tohok tersebut dalam bidang pendidikan ?

II.  PEMBAHASAN

A.  Tokoh-tokoh Pembaharu Bidang Pendidikan di Mesir

  1. 1. Muhammad Ali Pasya[2]

Setelah ekspedisi Napoleon Bonaparte, muncul dua kekuatan besar di Mesir yakni kubu Khursyid Pasya dan kubu Mamluk. Muhammad Ali mengadu domba kedua kubu tersebut, dan akhirnya berhasil menguasai Mesir. Rakyat semakin simpati dan mengangkatnya sebagai wali di Mesir.[3]

Posisi inilah kemudian memungkinkan beliau melakukan perobahan yang berguna bagi masyarakat Mesir.

  1. 2. Al-Tahtawi[4]

Beliau sangat berjasa dalam meningkatkan ilmu pengetahuan di Mesir karena menguasai berbagai bahasa asing dan berhasil mendirikan sekolah penerjemahan dan menjadikan bahasa asing tertentu sebagai pelajaran wajib di sekolah.

  1. 3. Muhammad Abduh[5]

Abduh adalah salah seorang murid Afgani. Beliau sangat terkenal khususnya dalam bidang pemikiran rasional sehingga digelar New Muttazilah. Namun demikian, beliau tidak ketinggalan dalam bidang pendidikan, bahkan setelah menamatkan studinya di al-Azhar pada tahun 1877, beliau mengajar di berbagai tempat termasuk di almamaternya sendiri.

  1. 4. Rasyid Ridha[6]

Rasyid Ridha sangat terkenal bersama dengan Abduh (gurunya) menerbitkan majalah al-Manar[7] yang kemudian menjadi sebuah tafsir modern yang bernama Tafsir al-Manar.

  1. 5. Jamaluddin al-Afgany[8]

Afgany terkenal sebagai muballig kondang dan suka berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya untuk membangkitkan semangat umat Islam untuk bangkit melawan penjajah Barat secara bersatu. Salah satu idenya yang sangat terkenal adalah Pan Islamisme. Oleh karena itu, beliau lebih dikenal sebagai tokoh pembaharu di bidang politik dibandingkan pembaharu di bidang pendidikan.

  1. 6. Ali Mubarak[9]

Beliau dipandang sebagai pelopor pendidikan modern di Mesir, karena mampu memadukan antara pendidikan yang berazaskan Islam dengan pendidikan Barat yang diperolehnya ketika belajar di Prancis.

  1. 7. Thaha Husain[10]

Beliau sangat berhasil dalam bidang pendidikan. Terbukti setelah selesai di al-Azhar, kemudian ke Prancis untuk memperdalam ilmu pengetahuannya. Dan sekembalinya di Mesir, beliau diangkat menjadi pejabat penting dalam pemerintahan khususnya dalam urusan kementerian pendidikan.

B.  Ide-ide Pembaharuan Pendidikan Para Tokoh Intelektual Mesir

  1. 1. Muhammad Ali Pasya

Salah satu bidang yang menjadi sentral pembaruannya adalah bidang bidang militer dan bidang-bidang yang bersangkutan dengan bidang militer, termasuk pendidikan. Kemajuan di bidang ini tidak mungkin dicapai tanpa dukungan ilmu pengetahuan modern.[11] Atas dasar inilah sehingga perhatian di bidang pendidikan mendapat prioritas utama.

Sungguhpun Muhammad Ali Pasya tidak pandai baca tulis, tetapi ia memahami betapa pentingnya arti pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk kemajuan suatu negara. Ini terbukti dengan dibentuknya Kementerian Pendidikan untuk pertama kalinya di Mesir dibuka sekolah militer (1815), sekolah teknik (1816), sekolah ketabibab (1836), dan sekolah penerjemahan (1836).[12]

Selain mendirikan sekolah beliau juga mengirim pelajar-pelajar ke Eropa terutama ke Paris + 300 orang. Setelah mereka kembali ke Mesir diberi tugas menerjemahkan buku-buku Eropa ke dalam bahasa Arab, di samping mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Mesir.[13]

Philip K. Hitty mengemukakan bahwa Muhammad Ali Pasya tidak hanya menerapkan corak dan medel pendidikan Barat, tapi juga mempercayakan pendidikan kepada orang Barat, bahkan gurunya kebanyakan didatangkan dari Eropa.[14]

Keberhasilan di bidang militer telah merubah Mesir menjadi negara modern yang kekuatannya mampu menandingi kekuatan militer Kerajaan Usmani, serta bermunculanlah para tokoh intelektual di Mesir yang kelak melanjutkan gagasan-gagasan beliau khususnya dalam bidang pendidikan.

  1. 2. Al-Tahtawi

Di antara pendapat baru yang dikemukakannya adalah ide pendidikan yang universal. Sasaran pendidikannya terutama ditujukan kepada pemberian kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat. Menurutnya, perbaikan pendidikan hendaknya dimulai dengan memberikan kesempatan belajar yang sama antara pria dan wanita, sebab wanita itu memegang posisi yang menentukan dalam pendidikan. Wanita yang terdidik akan menjadi isteri dan ibu rumah tangga yang berhasil. Mereka yang diharapkan melahirkan putra=putri yang cerdas.[15]

Bagi al-Tahtawi, pendidikan itu sebaiknya dibagi dalam tiga tahapan. Tahap I adalah pendidikan dasar, diberikan secara umum kepada anak-anak dengan materi pelajaran dasar tulis baca, berhitung, al-Qur’an, agama, dan matematika. Tahap II, pendidikan menengah, materinya berkisar pada ilmu sastra, ilmu alam, biologi, bahasa asing, dan ilmu-ilmu keterampilan. Tahap III, adalah pendidikan tinggi yang tugas utamanya adalah menyiapkan tenaga ahli dalam berbagai disiplin ilmu.[16]

Dalam proses belajar mengajar, al-Tahtawi menganjurkan terjalinnya cinta dan kasih sayang antara guru dan murid, laksana ayah dan anaknya. Pendidik hendaknya memiliki kesabaran dan kasih sayang dalam proses belajar mengajar. Ia tidak menyetujui penggunaan kekerasan, pemukulan, dan semacamnya, sebab merusak perkembangan anak didik.[17]

Dengan demikian, dipahami bahwa al-Tahtawi sangat memperhatikan metode mengajar dengan pendekatan psikologi belajar.

  1. 3. Muhammad Abduh

Menurut Abduk, pendidikan merupakan lembaga yang paling strategis untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan sosial secara sistematis. Gagasannya yang paling mendasar dalam sistem pendidikan adalah bahwa ia sangat menentang sistem dualisme. Menurutnya, dalam lembaga-lembaga pendidikan umum harus diajarkan agama. Sebaliknya, dalam lembaga-lembaga pendidikan agama harus diajarkan ilmu pengetahuan modern.

Usaha yang dilakukan oleh Abduh dalam mewujudkan gagasan pembaharuannya adalah melalui Universitas al-Azhar. Menurutnya, seluruh kurikulum pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan saat itu. Ilmu-ilmu filsafat dan logika yang sebelumnya tidak diajarkan, dihidupkan kembali. Demikian juga dengan ilmu-ilmu umum perlu diajarkan di        al-Azhar.[18] Dengan memasukkan ilmu pengetahuan modern ke lembaga-lembaga pendidikan agama dan sebaliknya, dimaksudkan untuk memperkecil jurang pemisah antara golongan ulama dan ahli modern, dan diharapkan kedua golongan ini bersatu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul di zaman modern.

  1. 4. Rasyid Ridha

Dalam bidang pendidikan, Rasyid Ridha memandang bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, peradaban Barat modern harus dipelajari oleh umat Islam. Hal ini relevan dengan pendapat gurunya (Muhammad Abduh) bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat wajib dipelajari umat Islam untuk kemajuan mereka.[19] Beliau juga berpendapat bahwa mengambil ilmu pengetahuan Barat modern sebenarnya mengambil kembali ilmu pengetahuan yang pernah dimiliki umat Islam.[20]

Usaha yang dilakukan di bidang pendidikan adalah membangun sekolah misi Islam dengan tujuan utama untuk mencetak kader-kader Muballig yang tangguh, sebagai imbangan terhadap sekolah misionaris Kristen. Sekolah tersebut didirikan pada tahun 1912 di Kairo dengan nama Madrasah al-Dakwah wa al-Irsyad.[21]

Dalam lembaga tersebut Ridha memadukan antara kurikulum Barat dan kurikulum yang biasa diberikan madrasah tradisional.

  1. 5. Jamaluddin al-Afgany

Menurut Afgany, ilmu pengetahuan yang dapat menundukkan suatu bangsa, dan ilmu pula sebenarnya yang berkuasa di dunia ini yang kadangkala berpusat di Timur ataupun di Barat. Ilmu juga yang mengembangkan pertanian, industri, dan perdagangan, yang menyebabkan penumpukan kekayaan dan harta. Tetapi filsafat menurutnya merupakan ilmu yang laping teratas kedudukannya di antara ilmu-ilmu yang lain.[22]

Selain itu beliau juga dikenal sebagai pejuang prinsip egaliter yang universal. Salah satu gagasannya adalah persamaan manusia antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya keduanya mempunyai akal untuk berpikir, maka tidak ada tantangan bagi wanita bekerja di luar jika situasi menginginkan.[23]

Ini membuktikan bahwa pendidikan bagi beliau mendapat prioritas utama agar umat Islam bisa bangkit dari keterpurukan menuju kemajuan. Dalam hal menuntut ilmu tidak dibatasi kepada laki-laki saja melainkan perempuan pun harus ikut andil dalam bidang pendidikan tersebut.

  1. 6. Ali Mubarak

Ali Mubarak dipandang sebagai peletak dasar dari Laihah Rajab, semacam rencana pendidikan yang terpadu bagi bangsa Mesir yang berdasarkan kerakyatan dengan sasaran pengembangan lembaga pendidikan, penelitian lembaga pendidikan di daerah dan penerbitan administrasi pendidikan yang dipusatkan di kantor pemerintah daerah.[24]

Sebagai hasil dari Laihah Rajab itu, lembaga-lembaga pendidikan berkembang dengan pesat, baik kualitas maupun kuantitas, tetapi keasliannya tetap terpelihara. Pada perkembangan selanjutnya mendapat pengakuan yang wajar dari pemerintah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

  1. 7. Thaha Husain

Untuk meningkatkan intelektual umat Islam, beliau melihat bahwa perguruan tinggi adalah sarana terbaik mencetak ilmuwan dan tenaga ahli yang diharapkan melakukan perubahan-perubahan fundamental yang dapat memajukan Mesir yang saat itu masih berada pada kondisi yang memprihatinkan dan terkebelakang dalam berbagai bidang khususnya pendidikan, di banding dengan Dunia Barat.

Menurut beliau, universitas tersebut mencerminkan intelektual, keilmiahan, dan memiliki metode analisis modern. Kemerdekaan intelektual dan kemerdekaan jiwa menurutnya hanya bisa diperoleh melalui kemerdekaan ilmu dan intelektual.[25]

Untuk mendapatkan kemerdekaan ilmu dan intelektual, maka beliau menegaskan agar sistem pendidikan Mesir harus didasarkan pada sistem dan metode Barat sejak tingkat menengah sampai ke Perguruan Tinggi, demikian juga metode penelitiannya.[26]

Gagasan Thaha Husain ini memiliki arti penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Mesir karena mampu melahirkan inovasi-inovasi baru dalam bidang pendidikan dan di sinilah muncul kemampuan belajar efektif dalam belajar yang sesungguhnya.

III.  P E N U T U P

A.  Kesimpulan

Abad XIX, Mesir memasuki babak baru dalam lembaran sejarah Islam. Era tersebut dikenal dengan masa pembaharuan. Hal ini dilatarbelakangi oleh pendudukan Napoleon Bonaparte atas Mesir. Dari situlah diperkenalkan peradaban dan teknologi Barat kepada rakyat Mesir.

Akibat diperkenalkannya berbagai bentuk peradaban baru yang modern, melahirkan tokoh-tokoh intelektual pembaharuan di berbagai bidang khususnya bidang pendidikan.

Tokoh-tokoh tersebut adalah Muhammad Ali Pasya, al-Tahtawi, Abduh, Ridha, Jamaluddin, Ali Mubarak, dan Thaha Husain.

B.  Saran

Penulis menyadari bahwa makalan ini jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu, masukan dari teman peserta seminar terutama kepada Dosen Pemandu, sangat diharapkan demi perbaikan selanjutnya.

DAFTAR  PUSTAKA

Ahmad, Jamil. Hundred Great Muslims. Diterjemahkan Pustaka Firdaus dengan judul Seratus Tokoh Muslim Terkemuka. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996.

Amin, Qasim. Takhrir al-Mar’ah. Kairo: Sadar al-Ma’arif, 1970

Asmuni, M. Yusran. Pengantar Studi Pemikiran Islam dan Gerakan Pembaharuan dalam Islam. Cet. II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam. Cet. III; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.

Hanafi, A. Pengantar Teologi Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna, t.th.

Harahap, Syahrin. Al-Qur’an dan Sekularisasi. Cet. I; Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1994.

Hitty, Philip K. History of the Arabs. London: Mc. Millan & Co. Ltd., 1974.

Lewis, Bernard. The Arabs in History. Diterjemahkan oleh Said Jamhuri dengan judul Bangsa Arab dalam Lintas Sejarah. Cet. II; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994.

Mufradi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Cet. II; Jakarta: Logos, 1999

Munir, A. dan Sudarsono. Aliran Modern dalam Islam. Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994.

Nasution, Harun. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran. Cet. II; Bandung: Mizan, 1995.

_______. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Cet. X; Jakarta: Bulan Bintang, 1994.

Sani, Abdul. Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam. Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998.

Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah. Ensiklopedi Islam Indonesia Jakarta: Djambatan, 1992.

Tim Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN Alauddin. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1993.


[1]Lihat Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan 9+ (Cet. X; Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 28-33.

[2]Beliau adalah seorang keturunan Turki, lahir di Kawalla Yunani pada tahun 1765 M., meninggal di Mesir pada tahun 1849 M. Sejak kecil ia membantu orang tuanya mencari nafkah sehingga tidak sempat masuk sekolah. Karena kecakapannya, beliau dipercaya oleh Gubernur Usmani dan kemudian masuk Dinas Militer dan berhasil menjadi perwira. Lihat ibid., h. 34.

[3]M. Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran Islam dan Gerakan Pembaharuan dalam Islam (Cet. II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 69-70.

[4]Nama lengkapnya adalah Rifa’ah Badwi Rafi’, lahir pada tahun 1801 M. di Thahtha, dan meniggal di Kairo pada tahun 1873 M. Ketika berumur 16 tahun, ia pergi ke Kairo dan belajar di         al-Azhar. Karena kepintarannya, ia diutus oleh Muhammad Ali ke Paris guna mendalami bahasa asing dan mempertajam wawasan keagamaan dengan mengkaji teks-teks modern. Lihat Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), h. 34-35.

[5]Muhammad Abduh lahir di Mesir pada tahun 1849. ayahnya berasal dari Turki, sedangkan ibunya keturunan Arab. Lihat Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Cet. I; Jakarta: Logos, 1997), h. 159. Lihat  pula Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia (Jakarta: Djambatan, 1992), h. 6.

[6]Rasyid Ridha adalah murid Muhammad Abduh yang terdekat. Ia lahir pada tahun 1865 di al-Qalamun (Libanon). Menurut keterangan, ia berasal dari keturunan al-Husain, cucu Nabi saw. Oleh karena itu, ia bergelar “al-Sayyid” di depan namanya. Lihat Harun Nasution, op.cit., h. 69. dan meninggal pada tahun 1935 dengan aman sambil memegang Alquran di tangannya. Lihat M. Yusran Asmuni, op.cit., h. 88.

[7]Lihat A. Munir dan Sudarsono, Aliran Modern dalam Islam (Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), h. 163.

[8]Beliau lahir di As’adabad, dekat kota Kan’an di Kabul Afganistan pada tahun 1813 M. dan meninggal di Istanbul pada tahun 1887 M. Lihat Tim Penulis IAIN Syahid Hidayatullah, op. cit., h. 62. Nama lengkapnya adalah Sayyid Jamaluddin al-Afgani ibn Safar. Ia adalah keturunan Sayyid Ali al-Turmudzi. Jika ditelusuri keturunannya, maka berasal dari Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Hal ini tercermin dari gelar Sayyid yang disandangnya. Lihat Jamil Ahmad, Hundred Great Muslims, diterjemahkan oleh Pustaka Firdaus dengan judul Seratus Tokoh Muslim Terkemuka (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), h. 269. dan meninggal di Kairo pada tahun 1905.

[9]Beliau lahir di Bamabal, sebuah desa di Delta Sungai Nil pada tahun 1823 M. dan meninggal di Kairo pada tahun 1893 M. Lihat Tim Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN Alauddin, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1993), h. 222.

[10]Ia lahir di Magagah Masir pada tahun 1889 M. dan wafat pada tahun 1973 M. Sejak umur 6 tahun beliau menderita penyakit Opthalmiah, yang menyebabkan kebutaan sepanjang hidupnya. Namun demikian, tidak terhalang menuntut ilmu pengetahuan. Lihat Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam (Cet. III; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 137.

[11]Lihat Harun Nasution, op.cit., h. 36.

[12]Ibid., h. 36-38. Bandingkan dengan Bernard Lewis, The Arabs in History, diterjemahkan oleh Said Jamhuri dengan judul Bangsa Arab dalam Lintas Sejarah (Cet. II; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994), h. 180.

[13]Lihat Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran (Cet. II; Bandung: Mizan, 1995), h. 148-149.

[14]Baca Philip K. Hitty, History of the Arabs (London: Mc. Millan & Co. Ltd., 1974),          h. 724.

[15]Lihat Tim Penyusun Text Book, op. cit., h. 220. Salah seorang pembaharu Mesir yang mengemukakan pendapat senada dengan pendapat ini adalah Qasim Amin, yang terkenal sebagai pelopor gerakan emansipasi Islam khususnya di Mesir. Lihat Qasim Amin, Takhrir al-Mar’ah (Kairo: Sadar al-Ma’arif, 1970), h. 42.

[16]Lihat Tim Penyusun Text Book, op. cit., h. 221.

[17]Ibid., h. 221-222.

[18]Lihat A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna, t.th.), h. 181.

[19]Harun Nasution, op. cit., h. 151.

[20]Lihat Harun Nasution, Pembaharuan, h. 75.

[21]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, op. cit., h. 163.

[22]Lihat Ali Mufradi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Cet. II; Jakarta: Logos, 1999), h. 158.

[23]Tim Penyusun Ensiklopedi Islam, op. cit., h. 300.

[24]Tim Penyusun Text Book, op. cit., h. 223.

[25]Syahrin Harahap, Al-Qur’an dan Sekularisasi (Cet. I; Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1994), h. 99.

[26]Ibid.

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: