TARTIB AL-QUR`AN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur`an sebagai pedoman hidup yang pertama bagi ummat Islam yang bagi kaum Muslimin adalah kalamu-Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Kitab suci ini memiliki kekuatan luar biasa yang berada di luar kemampuan apapun.[1] dimana Ayat-ayatnya telah berintraksi dengan budaya dan perkembangan masyarakat yang dijumpainya. Kendati demikian, nilai-nilai yang diamanahkannya dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi.[2]

Dan kandungan pesan Ilahi yang disampaikan Nabi pada permulaan abad ke-7 itu, telah meletakkan baik untuk kehidupan individual dan sosial kaum mulimin dalam segala aspeknya. Bahkan, masyarakat muslim mangawali eksistensinya dan memperoleh kekuatan hidup dengan merespon dakwah Al-Qur`an, itulah sebabnya, Al-Qur`an berada tepat di jantung kepercayaan muslim.[3]

Lanjut dari pada itu setidaknya Al-Qur`an dapat difungsikan oleh Manusia di bumi ini, sebagai sumber ajaran dan bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw. dimana Al-Qur`an memberikan berbagai norma keagamaan sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang merupakan akhir dari perjalanan hidup meraka.[4]

Sebagai kitab suci al-Qur`an, sejak pewahyuannya hingga kini, telah mengarungi sejarah panjang selama empat belas abad lebih. Diawali dengan penerimaan pesan ketuhanan Al-Qur`an oleh Muhammad, kemudian penyampaiannya kepada generasi pertama Islam yang telah menghafalnya dan merekamnya secara tertulis, hingga stabilitas teks dan bacaannya yang mencapai kemajuan berarti pada abad ke-3 H dan abad ke- 4 H serta berkulminasi dengan penerbitan edisi standar al-Qur`an di Mesir pada 1342 H/1923,[5] kitab suci kaum muslimin ini tetap menyimpan sejumlah hikmah dalam berbagai tahapan perjalan sejarahannya.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengertian dan definisi tartib al-Qur`an ?
  2. Bagaimana sifat tartib al-Qur`an hingga menjadi mushaf seperti yang kita baca sehari-hari ?
    1. Apa hikmah dibalik tartib al-Qur`an ?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengetian dan Definisi

I. Pengertian Tartib al-Qur`an

Sebelum lebih jauh kita membahas tentang “Tartib Al-Qur`an”, dan mengemukakan beberapa pendapat para ahli dibidangnya, penulis lebih dahulu memaparkan pengertian “Tartib Al-Qur`an” itu sendiri, untuk membantu kita dalam memahami isi kandungan al-Qur`an atau orang lain yang membaca tulisan ini, maka lebih baik jika kita uraikan arti daripada tartib Al-Qur`an.

“Tartib Al-Qur`an” adalah merupakan istilah dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu, kata “Tartib” dan kata “Qur`an”. Kata Tartib dalam kamus Al-Kautsar, merupakan isim masdar dari kata ra-ta-ba yang artinya urut-urutan atau peraturan.[6]

Sedangkan kata “Qur`an” mempunyai definisi-definisi yang banyak sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ulama dari berbagai keahlian dalam bidang Bahasa, Ilmu Kalam, Usul Fiqh dan sebagainya. Namun definisi-definisi tersebut tentu berbeda antara satu dengan yang lain, karena Stressing (penekanan-Nya) berbeda-beda disebabkan perbedaan keahlian mereka.[7]

Secara etimologi (bahasa) kata “al-Qur`an”, ada beberapa pendapat ulama tentang itu yang diantaranya:[8]

- Menurut as-Syafi`I;[9]

Kata al-Qur`an itu ditulis dan dibaca tanpa hamzah (al-Quran, bukan al-Qur`an) dan tidak diambil dari kata lain. Ia adalah nama yang khusus digunakan untuk kitab suci yang diberikan kepada Nabi Muhammad, sebagaimana nama Injil dan Taurat yang digunakan khusus untuk kitab-kitab Allah yang diberikan masing-masing kepada Nabi Isa dan Nabi Musa.

- Menurut al-Farra`;[10]

Al-Qur`an tidak menggunakan hamzah dan diambil dari kata qarain jamak qarinah, yang artinya indikator (petunjuk). Hal ini disebabkan sebagian ayat-ayat al-Qur`an itu serupa satu dengan yang lain, maka seolah-olah sebagian ayat-ayatnya itu merupakan indikator dari yang dimaksud oleh ayat lain yang serupa itu.

- Menurut al-Asy`ari;[11]

Lafal al-Qur`an tidak menggunakan hamzah dan diambil dari kata Qarana, yang artinya menggabungkan. Hal ini disebabkan surat-surat dan ayat-ayat al-Qur`an itu dihimpun dan digabungkan dalam satu mushaf.[12]

- Menurut al-Zajjaj;[13]

Lafal al-Qur`an itu berhamzah, berwazan Fu`lan, dan diambil dari al-Qaru`, yang artinya penghimpunan, hal ini disebabkan al-Qur`an merupakan kitab suci yang menghimpun intisari ajaran-ajaran dari kitab-kitab suci sebelumnya (Perhatikan S. al-bayyinah: 2 – 3)

×Aqߙu‘ z`ÏiB «!$# (#qè=÷Gtƒ $ZÿçtྠZot£gsܕB ÇËÈ   $pkŽÏù Ò=çGä. ×pyJÍh‹s% ÇÌÈ

Artinya:

(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran),

di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus.

(Yang dimaksud dengan isi Kitab-Kitab yang Lurus ialah isi Kitab-Kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi seperti Taurat, Zabur, dan Injil yang murni)

- Menurut al-Lihyani;[14]

Lafal al-Qur`an itu berhamzah, bentuknya masdar dan diambil dari kata –Qa–ro-a (قَرَأَ), yang artinya membaca hanya saja lafal al-Qur`an ini menurut beliau adalah masdar bi ma`na ismil maf`ul, jadi Qur`an artinya maqru` (dibaca)

- Menurut Dr. Subhi al-Salih;[15]

Bahwa pendapat yang paling kuat adalah lafal al-Qur`an itu masdar dan sinonim (muradif) dengan lafal qira`ah sebagaimana tersebut dalam al-Qiyamah ayat 17 – 18.

¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ   #sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ

Artinya:

Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.

Dan ada beberapa Orientalis, antara lain G.Bergstaesser, beranggapan bahwa bahasa Armia, Abessynia dan Persia tidak sedikit pengaruhnya terhadap perbendaharaan bahasa Arab, karena bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa-bahasa dari bangsa-bangsa yang bertetangga dengan bangsa Arab dan mereka adalah bangsa-bangsa yang telah maju kebudayaannya beberapa abad sebelum Islam lahir. Demikian pula Orientalis Krenkow dan Blachere berpendapat bahwa bangsa Arab telah menggunakan beberapa kata yang berasal dari bahasa Armia, Suryani dan Hebrow. yang demikian pula didalam al-Qur`an, terdapat kata-kata yang berasal dari bahasa asing tersebut. Dan diantara kata-kata asing tersebut menurut Blachere adalahكِتَابٌ : فُرْقَانٌ : قَيُّوْمٌ : dan juga lafal  قَرَاءَ berasal dari bahasa Armia yang mempunyai arti membaca. Sedang lafal قَرَأَ     semula digunakan oleh bangsa Arab untuk arti binatang yang mandul (tidak bisa bunting dan tidak bisa beranak).[16]

Adapun definisi menurut penulis yang selama ini difahami dan diyakini sebagaimana Dr. Subhi al-Salih mendefinisikanya dan dipandang sebagai definisi yang dapat diterima para ulama, terutama ahli bahasa, ahli Fiqh dan ahli Ushul Fiqh yaitu:[17]

القُرْآنُ هُوَ الكِتَابُ المُعْجِزُ المُنَزَّلُ عَلَى النَّبِي صلى الله عليه وسلم، المَكْتُوْبُ فىِ المَصَاحِفِ المَنْقُوْلُ عَلَيْهِ بِالتَّوَاتُرِ المَتَعَبَّدُ بِتِلاَوَتِهِ

“al-Qur`an adalah firman Allah yang bersifat (berfungsi) mukjizat (sebagai bukti kebenaran atas kenabian Muhammad) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang tertulis di dalam mushaf-mushaf. Yang dinukil (diriwayatkan) dengan jalan mutawatir dan yang membaca dipandang beribadah”.

Dari berbagai definisi tentang al-Qur`an yang telah banyak didefinisikan menurut para ahli dibidangnya, maka paling tidak para pembaca mempunyai definisi yang diyakini lebih tepat untuk dibenarkan.

Adapun yang penulis maksud dari “Tartib al-Qur`an” adalah tata letak surah-persurat dan ayat-perayat dalam al-Qur`an.

II. Definisi Ayat dan Surat al-Qur`an

Ada dua istilah dalam al-Qur`an yang sangat erat hubungannya dengan pembahasan ini yakni: surah dan ayat. Kedua kata tersebut telah menjadi istilah-istilah teknis yang digunakan untuk merujuk bagian-bagian tertentu di dalam tubuh al-Qur`an. Namun istilah tersebut tetap saja mengundang beberapa pengertian.

a) Definisi Ayat

Maka Pengertian ayat secara etimologi (bahasa) ada beberapa pengertian diantaranya yaitu:[18]

  1. Mukjizat, sebagaimana terdapat dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 211:

ö@y™ ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) öNx. Oßg»oY÷s?#uä ô`ÏiB ¥ptƒ#uä 7puZÉit/ 3 ……..  ÇËÊÊÈ

“Tanyakan kepada Bani Israil: Berapa banyaknya mukjizat yang nyata, yang telah kami berikan kepada Mereka”

  1. Tanda (alamat), sebagaimana terdapat dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 248 :

…. ¨bÎ) sptƒ#uä ÿ¾ÏmÅ6ù=ãB br& ãNà6u‹Ï?ù’tƒ ßNqç/$­G9$# Ïm‹Ïù ×puZŠÅ6y™ `ÏiB öNà6În/§‘ ….ÇËÍÑÈ

“…Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut[19] kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu…”

  1. Pelajaran (peringatan), sebagaimana terdapat dalam al-Qur`an surat Ali Imran ayat 13:

žcÎ) ’Îû šÏ9ºsŒ ZouŽö9Ïès9 _Í<‘rT[{ ̍»|Áö/F{$# ÇÊÌÈ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu ada pelajaran bagi orang-orag yang mempunyai penglihatan mata hati”.

  1. Suatu hal yang sangat menakjubkan (mengherankan), sebagaimana terdapat dalam al-Qur`an surat al-Mu`minun ayat 50:

$uZù=yèy_ur tûøó$# zNtƒótB ÿ¼çm¨Bé&ur Zptƒ#uä …… ÇÎÉÈ

“Dan telah kami jadikan Isa Putra Maryam beserta Ibunya suatu kejadian yang menakjubkan (yang membuktikan kekuasaan Allah)…”

  1. Kelompok (kumpulan), sebagaimana dalam ucapan orang Arab:

خرج القوم بآيآتهم

“Kaum itu keluar dengan seluruh kelompoknya, tidak ada seorang pun yang tertinggal”.

  1. Bukti (Dalil), Sebagaimana terdapat dalam al-Qur`an surat al-rum ayat 22:

ô`ÏBur ¾ÏmÏG»tƒ#uä ß,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur ß#»n=ÏG÷z$#ur öNà6ÏGoYÅ¡ø9r& ö/ä3ÏRºuqø9r&ur …. ÇËËÈ

“Dan diantara bukti-bukti adanya Allah dan kekuasaannya ialah dia menciptakan langit dan bumi berlain-lainnan bahasamu dan warnamu…”

Sedangkan pengertian “ayat[20] secara Terminologi adalah:[21]

“Suatu kumpulan kata yang mempunyai awal dan akhir, yang termasuk didalam suatu surat dari al-Qur`an”

Dan menurut Manna al-Qattan dalam bukunya “Mabahits fi Ulumil Qur`an” pengertian ”ayat”[22] adalah: Sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam sebuah surat dari Qur`an.[23]

Dan lebih luas lagi pengertian yang dikemukakan oleh Taufik Adnan Amal “ayah” (jamaknya: ayaat), didalam al-Qur`an dapat dikelompokkan ke dalam empat konteks (siyaq).[24]

Konteks pertama, kata “ayah” merujuk kepada fenomena kealaman. Termasuk manusia yang disebut sebagai “tanda-tanda” (ayat) kemahakuasaan dan karunia tuhan.

Dan konteks kedua, kata “ayah” diterapkan kepada peristiwa-peristiwa atau obyek-obyek luar biasa yang dikaitkan dengan tugas seorang utusan tuhan dan cenderung mengkonfirmasikan pesan ketuhanan yang dibawanya.[25]

Dalam konteks ketiga, kata “ayah” merujuk kepada “tanda-tanda” yang dibacakan oleh rasul-rasul yang diutus tuhan atau dalam kebanyakan kasus dibacakan oleh Muhammad sendiri. Pembacaan “tanda-tanda” ini menambahkan keyakinan kaum beriman, tetapi para penentang nabi mengeritiknya sebagai “dongeng-dongeng masa silam”. Sebagaimana didalam al-Qur`an, term atau kata “asathir al-awwalin” merujuk kepada kisah pengazaban umat-umat terdahulu dan kebangkitan kembali pada hari Pengadilan.

Dalam konteks terakhir, yakni konteks keempat kata “ayah” disebut sebagai bagian al-qur`an atau kitab atau surah, yang diturunkan Tuhan dalam konteks ini memiliki makna unit dasar wahyu terkecil, selaras dengan pemahaman kita dewasa ini. Tetapi, sebagaimana dengan surah, al-Qur`an juga tidak memberi indikasi tentang panjang pendeknya unit-unit wahyu tersebut.[26] Dan tiap-tiap ayat diakhiri dengan Fashilah[27].

b) Definisi Surat

Dan begitu pula pengertian “Surat” mempunyai pendifinisian-pendifinisian dari berbagai ahli diantaranya:

Pengertian “surat[28] Menurut Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi dalam bukunya Pengantar Uluml Qur`an adalah:

“Sekelompok (sekumpulan) ayat-ayat al-Qur`an yang berdiri sendiri, yang mempunyai permulaan dan penghabisan”.

Sedangkan menurut Manna al-Qattan, pengertian “surat”[29] adalah: sejumlah ayat Qur`an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.[30]

Sedangkan istilah “surah” menurut Taufik merupakan nama yang digunakan untuk merujuk “bab” al-Qur`an yang seluruhnya berjumlah 114 (menurut perhitungan mushaf Ustmani yang disepakati).       Sebagaimana kata surah muncul sembilan kali didalam al-Qur`an dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk jamak (suwar).[31]

Secara kontekstual, penggunaan kata surah sebagai suatu unit wahyu memiliki kemiripan dengan beberapa penggunaan kata ayah, qur`an dan kitab didalam al-Qur`an. Seperti tantangan terhadap musuh-musuh Nabi untuk mendatangkan “suatu surah yang semisalnya” namun tidak ada satupun dari mereka yang dapat memenuhi tantangan tersebut.

Jadi dari sini terlihat bahwa makna umum kata “surah” yang bisa disimpulkan di sini adalah unit wahyu terpisah yang diturunkan kepada nabi dari waktu ke waktu. Tetapi, al-Qur`an tidak memberi indikasi apa pun tentang panjang pendeknya unit wahyu tersebut.[32]

  1. B. Sifat Tartib al-Qur`an

Naskah al-Qur`an yang sering kita lihat dan baca yang kita kenal dengan Mushaf Utsmani tidak disusun berdasarkan kronologi turunnya. Hal ini menimbulkan pembahasan tersendiri didalam `ulum al-Qur`an. Apakah susunan tersebut berdasarkan petunjuk Nabi (tauqifi) atau hanya kreasi para penulis wahyu (ijtihadi)?[33]

Dan sifat dari pada tartib al-Qur`an perlu diketahui untuk memudahkan kita mengambil hikmah yang terkandung didalamnya, yang bagi penulis selama ini yang saya fahami hal ini merupakan as-Sam`iyyat yang kita dapatkan dari pendahulu kita, namun sifat dari pada tartib al-Qur`an tersebut para ulama berbeda pendapat, yang segolongan diantaranya berpendapat bersifat tauqifi[34] (Ketetapan Rasul atas petunjuk wahyu).[35] sebagaimana Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan ketiga orang pemilik kitab as-Sunnah dari riwayat Ibnu Abbas, dari Utsman bin Affan, dijelaskan bahwa apabila turun ayat kepadanya, Nabi memanggil sebagian sekretarisnya dan bersabda;

“Letakkanlah ayat ini pada surat yang didalamnya terdapat ini….ini…”

Dan golongan kedua berpendapat bahwa hal itu didasarkan atas ijtihad para sahabat setelah bersepakat dan memastikan bahwa susunan ayat-ayat adalah tauqifi.[36] Sedangkan golongan ketiga berpendapat serupa dengan golongan pertama, kecuali surat al-Anfal (8) dan Bara`ah (9) yang dipandang bersifat ijtihadi.[37]

Salah satu penyebab perbedaan pendapat ini adalah adanya mushaf-mushaf ulama salaf yang bervariasi dalam urutan suratnya. Ada yang menyusunnya berdasarkan kronologis turunnya, seperti Mushaf Ali yang dimulai dengan ayat Iqra`. Kemudian sisanya disusun berdasarkan tempat turunnya (Makki kemudian Madani). Adapun mushaf Ibnu Mas`ud dimulai dengan surat al-Baqarah (2) kemudian An-Nisa` (4) lalu surat Ali `Imran (3).[38]

Jika pemahaman ulama al-Qur`an menyimpulkan bahwa urutan ayat dalam surat bersifat fauqifi, sudah ditentukan, maka mereka selanjutnya berselisih pandangan mengenai urutan-urutan surat dalam mushaf, apakah ia bersifat tauqifi juga atau taufiqi.[39]

Sebagaimana diketahui bahwa susunannya dalam mushaf Utsmani tidak mengikuti kronologi turunnya. Surat al-Alaq yang pertama kali turun, umpamanya diletakkan pada urutan ke-96, sedangkan urutan pertama ditempati oleh surat al-Fatihah. Dalam hal ini para ulama terbagi lagi dalam tiga kelompok.[40]

Kelompok pertama, yang dimotori oleh; Abu Ja`far bin an-Nuhas, al-Kirmani, Ibnu al-Hashar dan Abu Bakar al-Anbari,  berpendapat bahwa susunan surat al-Qur`an ditetapkan atas perintah Nabi (tauqifi). Sebuah surat tidak semata-mata diletakkan pada tempatnya, kecuali atas dasar perintah, pengajaran dan isyarat Nabi.[41]

Kelompok kedua, bependapat bahwa susunan surat al-Qur`an ditetapkan atas dasar ijtihad para sahabat. As-Suyuthi menyebutkan bahwa pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama. Diantara ulama yang masuk dalam kelompok ini adalah Imam Malik dan Abu Bakar Ath-Thayyib.[42]

Namun Pendapat diatas dapat dibantah sebagai berikut: Perbedaan yang terjadi dikalangan para sahabat dalam menyusun surat dalam mushaf-nya tidak dapat dijadikan argumentasi bahwa sususnan surat tidak bersifat tauqifi. Alasananya, mushaf mereka tidak dipersiapkan sebagai pegangan umum, tetapi sebagai mushaf pribadi yang didalamnya disertakan pula problem-problem keimanan, takwil dan sebagian besar atsar. Ia lebih pantas dinamai kitab ilmu dan takwil dari pada mushaf. Atas alasan itu, kitab-kitab itu tidak dijadikan standar rujukan ketika Utsman melakukan kodifikasi al-Qur`an. Atau, boleh jadi perbedaan itu terjadi sebelum mereka tahu bahwa susunan surat bersifat tauqifi. Setelah tahu, mereka mengubahnya sesuai dengan susunan yang terdapat pada mushaf Utsmani.

Kelompok ketiga, berpendapat bahwa sebagian besar susunan surat al-Qur`an besifat tauqifi, sedangkan sebagiannya ditetapkan atas dasar ijtihad para sahabat. Diantara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini adalah al-Qadhi Abu Muhammad bin Athiyyah. Ia berkata, “Banyak atsar menyebutkan bahwa as-sab`a ath-thiwal (tujuh surat yang panjang), hawamim (surat-surat yang dimulai dengan Ha Mim), dan al-Mufashshal (surat-surat yang pendek) sudah disusun sejak zaman nabi, lalu susunannya ditetapkan pada waktu al-Qur`an dikodifikasikan”.[43]

Demikian pula para Ulama Kontemporer cenderung menjadikan urutan surat dalam mushhaf sebagai tauqifi karena pemahaman seperti itu sejalan dengan konsep tentang eksistensi teks azali yang ada di “Lauch al-Mahfudz”.[44]

Maka demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa urutan ayat dan surat dalam al-Qur`an bersifat tauqifi, namun hal ini tidaklah mengharuskan adanya ikatan antara setiap surat itu dan tidaklah selalu ada ikatan antara surat terdahulu dengan yang kemudian. Demikian pula penertiban ayat dengan ayat yang memang ditetapkan sendiri oleh Rasul, tidak pula mengharuskan ada hubungnan antara suatu ayat dengan ayat yang lain, apabila masing-masing ayat itu mempunyai sebab-sebab yang berbeda-beda.[45]

Sedangkan mengenai penetapan nama-nama surat, demikian halnya persoalan susunanya, yang mengundang berbagai pendapat diantaranya ada ulama yang mengatakan bersifat tauqifi, ada pula yang mengatakan ijtihadi, tetapi pendapat pertama lebih banyak dianut mayoritias ulama.

Sebagaimana, as-Suyuthi berkata, “Semua nama surat ditetapkan atas dasar hadis dan atsar” dalam hal ini, az-Zarkasyi memiliki pandangan yang sangat baik, ia berkata, “seyogyanya kita memperbincangkan nama-nama surat dalam al-Qur`an, apakah bersifat tauqifi atau ditetapkan dengan melihat keserasian dengan isinya (yang karena bersifat ijtihadiyah)? Seandainya jawabannya yang kedua, tentunya setiap surat akan memiliki banyak nama seiring dengan banyaknya kandungan makna yang dimuatnya. namun, hal ini ternyata tidak terjadi. Oleh Karena itu yang perlu kita kaji adalah alasan pemberian nama surat dengan nama-nama tertentu.

Namun disisi lain penulis, merasa kurang puas dengan argumentasi tersebut disebabkan penulis sendiri mendapatkan beberapa surat al-Qur`an yang mempunyai dua nama atau lebih, misalnya surat al-Fatihah disebut juga dengan Ummul Kitab, as-Sab`ul Matsani, al-Hamdu, al-Waqiyah, asy-Syafiyah, atapun surat Ash-Shaf disebut juga engan al-Hawariyyin dan surat-surat lainnya.[46]

Tapi disisi lain sebagaimana yang kita ketahui orang-orang Arab dalam banyak kasus memberi nama sesuatu dengan karakter atau sifat khususnya yang aneh atau dinilai asing atau dengan sesuatu yang paling representative atau banyak disinggung didalamnya atau dengan sesuatu yang dapat cepat diingat oleh orang yang melihatnya. Mereka menamai sebuah “ungkapan” dan “narasi-narasi yang panjang” dengan kandungannya yang paling masyhur.

Demikian pula penamaan surat-surat al-Qur`an ditetapkan. penamaan surat al-Baqarah (sapi ditetapkan dengan pertimbangan dimuatnya kisah sapi dan hikmah yang mengagumkan di balik kisah itu. Begitu pula dalam surat an-Nisa (wanita) ditetapkan dengan pertimbangan bahwa didalamya diulang-ulang sesuatu yang berkaitan dengan wanita penamaan surat al-An`am (binatang ternak) ditetapkan dengan pertimbangan bahwa didalamnya banyak disinggung karakter binatang ternak. Walaupun kata “al-An`am” terdapat pula pada surat-surat lainnya, perincian yang terdapat pada Q.S al-An`am (6) : 141 – 142 tidak terdapat pada surat lain. Sebagaimana halnya kata an-Nisa yang terdapat pula pada selain surat an-Nisa, tetapi rincian yang jelas dan diulang-ulang tentang wanita tidak terdapat pada surat lainnya. Sedangkan penamaan surat al-Maidah (hidangan) ditetapkan dengan pertimbangan bahwa kata itu hanya terdapat pada surat ini.[47]

Dari beberapa pendapat diatas, kita dapat memahami bahwa setiap kali ayat turun, Nabi SAW selalu memerintahkan sahabat untuk menulisnya sambil memberi tahu juga tempat/letak ayat-ayat tersebut secara sistematis dengan ayat-ayat atau surah-surah yang lain. Sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwa para ulama sepakat bahwa sistematika urutan ayat-ayat al-Qur`an adalah tauqifi dalam arti berdasarkan petunjuk Allah yang disampaikan malaikat jibril kepda nabi Muhammad SAW.

Sementara orientalis mengkritik tajam sistematika urutan ayat dan surah-surah al-Qur`an, dengan menyalahkan para penulis wahyu. Walaupun memang betul bahwa ada beberapa surah atau ayat yang dijadikan alasan bagi sebagian orang (orientalis) untuk meyakinkan bahwa adanya revisi dan perubahan dalam pengumpulan atau peletakan bersama satu-satuan kecil bentuk asli wahyu yang disampaikan.[48] Contoh yang dikemukakan dalam surah al-Mu`minun (23:12- 16)

Namun disisi lain, pendapat ini tidak dapat diterima, karena seperti dikemukaakn diatas, riwayat-riwayat membuktikan bahwa bukan sahabat nabi SAW, bahkan bukan pula nabi Muhammad saw atau malaikat Jibril as yang menyusun sistematika perurutan ayat dan surah, tetapi yang menyusunanya adalah Allah SWT sendiri.[49]

Demikan sedikit pemaparan sifat tartib al-Qur`an baik dari segi tartib ayat maupun tartib surat kemudian penamaan masing-masing surat, walaupun hal ini belum cukup untuk memperoleh kepuasan ilmiah,  namun demikian perbedaan antara urutan “turun” dan urutan “bacaan” terletak pada susunan dan penataan saja, dan melalui perbedaan susunan dan penataan ini, “persesuaian” antar ayat dalam satu surat dan antar berbagai surat, merupakan sisi lain dari aspek-aspek i`jaz dari berbagai i`jaz al-Qur`an yang dapat disingkapkan.[50]

  1. C. Hikmah Daripada Tartib Al-Qur`an

Dengan lahirnya berbagai kritik dan pertanyaan-pertanyaan tentang urutan ayat dan surah-surah al-Qur`an kita bisa mengambil hikmahnya bahwa dengannya telah menggugah para ulama untuk melahirkan karya-karya untuk menjawab kritikan-kritikan dan pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang diantaranya;[51]

al-Khaththabi (319-388) dalam bukunya “Bayan I`jaz al-Qur`an” dengan jawaban bahwa tujuan digabungkannya berbagai persoalan yang dibahas dalam satu surat agar  setiap pembaca al-Qur`an dapat memperoleh sekian banyak petunjuk dalam waktu yang singkat tanpa membaca seluruh ayat-ayat al-Qur`an. Dan ada juga yang menjawabnya dengan alasan bahwa keanekaragaman persoalan yang dibahas dalam satu surah, sesuai dengan fitrah manusia agar tidak timbul kejenuhan dalam hatinya jika ia membaca satu persoalan saja,[52] dan lahir juga buku Nazhm ad-Durar Fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar karya Ibrahim Ibn `Umar al-Biqa`i, yang konon penyusunannya demikian lama sampai 14 tahun penuh, dan juga ulama yang membicarakan hal tersebut adalah Jalaluddin as-Sayuthi dengan bukunya Asrar Tartib al-Qur`an atau dalam bukunya al-Itqan,[53] dan bahkan selama 14 abad ini, khazanah intelektual Islam telah diperkaya dengan berbagai macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan al-Qur`an. Walapun demikian terdapat kecenderungan yang umum untuk memahami al-Qur`an secara ayat perayat, bahkan kata perkata. Selain itu, pemahaman akan al-Qur`an terutama didasarkan pada pendekatan filologis-grametikal, pendekatan ayat perayat atau kata perkata ini tentunya akan menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong) tentang pesan al-Qur`an. Bahkan sering terjadi penafsiran semacam ini secara tidak semena-mena menanggalkan ayat dari konteks dan kesejarahannya untuk membela sudut pandang tertentu.[54]

Memang Seringkali ada persoalan baru dalam al-Qur`an yang sepintas terdengar tidak berhubungan sama sekali dengan masalah yang baru saja dibicarakan, atau bahkan bertolak belakang dengannya. Itu bukan berarti yang baru tidak berhubungan dengan yang lalu. Ia berhubungan jika kita menyadari bahwa ada tali-temali dalam benak setiap orang yang menghubungkan aneka pembicaraan, dan hal inipun merupakan keistimewaan dan sekaligus mu`jizatal-Qur`an itu sendiri yang sangat serasi susunannya, terpadu kalimat-kalimatnya, fasih dan mengadung balagah yang (tinggi) diluar kebiasaan (kemampuan) bangsa Arab. Semua sifat itu merupakan kekhususan yang tidak dapat ditiru oleh umat mana saja, karena diciptakan Allah sebagai sifat dasar dan daya lebih al-Qur`an.       [55]

Ada lagi yang menjelaskan, bahwa keanekaragaman persoalan yang dibahas al-Qur`an adalah untuk menggaris bawahi bahwa ajaran al-Qur`an merupakan satu kesatuan yang terpadu dan tak boleh dipilah-pilah.          Seperti tidaklah babi yang diharamkan dalam surah al-Baqarah, lebih diwajibkan untuk dihindari dibandingkan menyembunyikan pengetahun. Tidak juga kewajiban atau anjuran bersedekah lebih penting daripada kewajiban memelihara hubungan suami isteri, demikian seterusnya.[56]

Maka jika kita meyakini dengan haqqul yaqin bahwa Ayat-ayat al-Qur`an merupakan serat yang membentuk tenunan hidup seorang muslim, karena itu seringkali pada saat al-Qur`an berbicara tentang aspek tertentu, tiba-tiba ayat yang lain muncul bebicara tentang aspek dan dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Bagi yang mempelajarinya dan meyakininya akan menemukan keserasian yang amat mengagumkan, serupa dengan keserasian hubungan yang memadukan bisikan-bisikan hati manusia yang saling berbeda, sehingga pada akhirnya dimensi dan aspek yang tadinya terkesan kacau menjadi terangkai dan terpadu indah, yang oleh Quraish Shihab keserasian tersebut bagai vas bunga yang dihiasi oleh aneka kembang berbeda-beda dan berwarna-warna tetapi pada akhirnya menghasilkan pemandangan yang sangat indah.[57]

BAB III

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Dari pembahasan makalah tersebut diatas penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan berikut ini:

  1. Tartib al-Qur`an adalah tata letak surah-persurat dan ayat-perayat yang ada dalam al-Qur`an
  2. Sifat daripada tartib al-Qur`an ayat-perayat maupun urutan surat-persurat hingga penamaan masing-masing surat merupakan tauqifi dari Allah swt, dan secara umum perselisihan pendapat para Ulama tentang tartib al-Qur`an lebih banyak pada tartib surat-persurat.
  3. Adapun hikmah daripada tartib al-Qur`an adalah diantaranya telah menggugah kita untuk lebih mengkaji lagi secara mendalam dan obyektif tentang isi dari kandungan al-Qur`an.

Dan dari sifat ketauqifiannya tartib al-Qur`an tersebut, bagi penulis masing-masing mempunyai kandungan yang sangat mendalam, yang jika kita kaji berulang-ulang, maka, hikmah yang dapat kita petik akan lebih luas daripada hikmah yang kita peroleh dari pengkajian kita yang pertama, wallahu `alam bisshawab.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan Amal, Taufik dan Syamsu Rizal Panggabean, Tafsir Konstektual al-Qur`an; Sebuah Kerangka Konseptual, (Cet. II, Bandung; Mizan: 1990)

________, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an (Cet. I; Yogyakarta: FkBA, 2001)

al-Abyari, Ibrahim, Sejarah al-Qur`an, (Semarang; PT. Toha Putra Group: 1993)

al-Habsyi, Husin, Kamus al-Kautsar Arab – Indonesia, (Surabaya: Darussagaf PP Alawy: 1977)

al-Qattan, Manna, Mabahits Fi `Ulum al-Qur`an, (Cet. II, Riyadh; Mansyurat al-`Ashri al-Hadist: t.h)

Anwar, Rosihan, Drs. M.Ag, Samudera al-Qur`an (Cet. I, Bandung; Pustaka Setia: 2001)

ash-Shiddieqy, M.Hasbi Ilmu-ilmu al-Qur`an; Media-media Pokok dalam Menafsirkan al-Qur`an (Jakarta; PT. Bulan Bintang: 1972)

Hamid Abu Zaid, Nasr, Tekstualitas al-Qur`an, Kritik terhadap Ulumul Qur`an, (Cet. II, Yogyakarta; LKiS: 2002)

Khalil al-Qattan, Manna, Studi Ilmu-ilmu al-Qur`an, Ali Bahasa; Drs. Mudzakir AS,

Muhammad Alwi al-Maliki, Sayyid, Keistimewaan-keistimewaan al-Qur`an, (Cet. I, Yogyaakarta; Mitra Pustaka: 2001)

Shihab, M.Quraish, Prof. Dr. dkk., Sejarah dan Ulumul Qur`an, (Jakarta; Pustaka Firdaus: 2001)

________, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan kKeserasian al-Qur`an, Bol. 2, (Cet. 5, Jakarta; Lentera hati: 2006)

Zuhdi, H. Masjfuk Zuhdi, Prof. Drs., Pengantar Ulumul Qur`an, (Cet. V; Surabaya; CV. Karya Abditama;1997)


[1] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an (Cet. I; Yogyakarta: FkBA, 2001), h. 1

[2] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur`an, Vol. 2, (Cet. 5, Jakarta; Lentera hati: 2006), h. viii

[3] Taufik. Loc. Cit.

[4] Prof. Dr. M. Quraish Shihab dkk., Sejarah dan Ulumul Qur`an, (Pustaka Firdaus; Jakarta:2001) h. 75

[5] Taufik. Loc. Cit.

[6] Husin al-Habsyi, Kamus al-Kautsar Arab – Indonesia, (Surabaya: Darussagaf PP Alawy: 1977), h. 122

[7] Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur`an, (Cet. V; Surabaya; CV. Karya Abditama;1997) h. 1

[8] Ibid.

[9] Salah seorang Imam Madzhab yang terkenal yang lahir tahun150 dan wafat tahun 204 H

[10] Seorang ahli bahasa yang terkenal, pengarang kitab Ma`anil Qur`an

[11] Seorang ahli Ilmu Kalam, pemuka aliran Sunni (wafat 324 H)

[12] Pandangan ini harus diberi catatan bahwa penghilangan hamzah merupakan suatu karakteristik dialek Makkah atau Hijazi, dan karesteristik tulisan al-Quran dalam aksara kufi yang awal. lihat Taufik dalam Rekonkstruksi sejarah al-Quran h.45

[13] Pengarang kitab Ma`anil Qur`an (wafat 311 H)

[14] Seorang ahli bahasa (wafat 215 H)

[15] Pengarang kitab Mabahits fi Ulumil Qur`an

[16] Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, Op. Cit., h. 3

[17] Ibid., h. 1

[18] Ibid., h. 134 – 135.

[19] Tabut adalah peti tempat Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka

طائفة ذات مطلع ومقطع مندرجة فى سورة من القرآن[20]

[21] Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, Op. Cit., h. 135

الأية هي: الجملة من كلام الله المندرجة في سورة من القرآن [22]

[23] Manna al-Qattan, Mabahits Fi `Ulum al-Qur`an, (Cet. II, Riyadh; Mansyurat al-`Ashri al-Hadist: t.h), h. 139 dan lihat Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Qur`an, Ali Bahasa; Drs. Mudzakir AS, h. 205

[24] Taufik, Op. Cit., h. 48 – 49

[25] Hal ini merupakan pengkhususan kepada Nabi Muhammad yang menunjukkan suatu “tanda” yang tertentu saja tidak merujuk kepada “ayat-ayat” al-Qur`an, tetapi kepada mukjizat. Sebagaimana disebutkan dalam Q. 40:78, penciptaan “tanda-tanda” merupakan hak Tuhan dan tidak seorang rasul pun yang diberi kekuasaan untuk menciptakannya atas kehendak pribadi. Lihat Taufik h. 47

[26] Ibid., h. 49

[27] Fashilah ialah tanda akhir daripada ayat.

طائفة مستقلة من آيات القرآن ذات مطلع ومقطع[28]

السورة هي: الجملة من آيات القرآن ذات المطلع والمنقطع[29]

[30] Manna al-Qattan, Op Cit., h. 205

[31] Penggunaan istilah surat didalam al-Qur`an merujuk kepada suatu unit wahyu yang “diturunkan” tuhan bukan dalam pengertian “surat” yang dipahami dewasa ini.

[32] Taufik, Op. Cit., h. 49

[33] Prof. Dr. M. Quraish Shihab dkk. Sejarah dan Ulumul Qur`an, (Jakarta; Pustaka Firdaus: 2001) h. 75

[34] Dalam hal ini, Jibril atas titah Allah, memerintahkan Nabi untuk meletakkan ayat pada tempatnya masing-masing. Lalu, Nabi pun memerintahkan sekretarisnya untuk melaksanakan titah itu.

[35] Pendapat pertama didukung anatara lain oleh AL-Qadi Abu bakar dalam satu pendapatnya, Abu Bakar Ibnu AL-Anbari, Al-Kirmani dan Ibnu AL-Hisar.

[36] Pendapat kedua didukung oleh Malik, Al-Qadi Abu Bakar dalam pendapatnya yang lain dan Ibnu Al-Faris.

[37] Pendapat ketiga dianut oleh Al-Baihaqi.

[38] Drs. Rosihan Anwar, M.Ag, Samudera al-Qur`an, (Cet. I, Bandung; Pustaka Setia: 2001), h. 134

[39] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qur`an, Kritik terhadap Ulumul Qur`an, (Cet. II, Yogyakarta; LKiS: 2002), h. 197

[40] Drs. Rosihan Anwar, M.Ag, Op. Cit., h. 135 – 137

[41] Dengan argumentasi bahwa :1). Para sahabat telah sepakat untuk menerima susunan mushaf al-Qur`an yang ditulis pada masa Utsman bin Affan. Tidak ada seorang sahabatpun yang menentangnya, bahkan para sahabat yang memiliki mushaf dengan susunan yang berbeda pun menyepakatinya. Seandainya susunan surat tidak bersifat tauqifi, tiap-tiap sahabat akan bersiteguh mempertahankan mushafnya masing-masing. Menyesuaikan dengan susunan mushaf Utsmani yang dilakukan oleh para sahabat yang memiliki mushaf, bahkan sampai membakarnya, merupakan indikasi kuat bahwa susunan surat pada mushaf utsmani dan tidak masuk dalam lapangan ijtihad. Ke-tauqifiannya tidak mesti diperlihatkan oleh nash sharih dari Nabi, tetapi cukup pekerjaan dan isyarat. 2). Surat-surat yang tergabung di dalam kelompok hawamim disusun secara berurut, sedangkan ayat-ayat yang masuk ke dalam kelompok musabbihat tidak disusun secara berurut, tetapi terpisah-pisah. Letak surat Tha Sin Mim as-Syu`ara, Tha Sin Mim al-Qashshash, Tha Sin Mim An-Naml terpisah, padahal surat Tha Sin Mim al-Qashshash lebih pendek daripada surat Tha Sin Mim al-Naml. Seandainya susunan surat ditetapkan berdasarkan ijtihad, surat-surat yang masuk ke dalam kelompok al-Musabbihat diletakkan secara ber-urut dan surat Tha Sin Mim al-Naml diletakkan lebih akhir daripada surat Tha Sin Mim al-Qashshash.

[42] Mereka berargumnetasi dengan kenyataan berbeda-bedanya susunan mushaf para sahabat pada masa Utsman bin Affan sebelum pengodifikasian al-Qur`an. Seandainya susunan surat al-Qur`an bersifat tauqifi, kata mereka, tentunya para sahabat tidak berbeda-beda menyusun surat dalam mushaf-nya masing-masing. Pada kenyataannya, mereka berbeda-beda. Sebagaian mereka, ada yang menyusunnya berdasarkan kronologi turun, seperti mushaf Ali r.a. Mushaf ini diawali dengan surat iqra`, lalu al-Mudatsir, Nun, al-Muzzamil, Taubat, al-Kautsar, Sabbaha, begitu terus sampai akhir surat makkiyyah, lalu disusul oleh surat-surat madaniyah. Adapun mushaf Ibnu Mas`ud diawali oleh surat al-Baqarah, an-Nisa, Ali Imran, al-`Araf,al-An`am, al-Maidah, Yunus dan seterusnya. Adapun mushaf Ubai bin Ka`ab diawali oleh surat al-Hamd, al-Baqarah, An-Nisa, Ali Imran,al-An`am, al-A`raf, al-Maidah dan seterusnya.

[43] Dalam hal ini, al-Baihaqi dalam al-Madkhal berkata, ”pada masa Nabi, surat dan ayat al-Qur`an telah disususn dan susunannya sama seperti yang ada pada mushaf Utsmani, kecuali surat al-Anfal dan bara`ah. Artinya kedua surat inilah yang susunanya ditetapkan berdasarkan ijtihad”

[44] Nasr Hamid Abu Zaid, Loc. Cit.

[45] M.Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur`an; Media-media Pokok dalam Menafsirkan al-Qur`an, (Jakarta; PT. Bulan Bintang: 1972), h. 40-41

[46] Ibrahim al-Abyari, Sejarah al-Qur`an, (Semarang; PT. Toha Putra Group: 1993), h. 53

[47] Drs. Rosihan Anwar, M.Ag, Op. Cit., h. 57-60

[48] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah… Op. Cit., h. x

[49] Ibid,

[50] Nasr Hamid Abu Zaid, Op. Cit., h. 197

[51] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah… Op. Cit., h. xi

[52] Ibid.

[53] Ibid., h. xv

[54] Taufik Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean, Tafsir Konstektual al-Qur`an; Sebuah Kerangka Konseptual, (Cet. II, Bandung; Mizan: 1990), h. 16

[55] Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Keistimewaan-keistimewaan al-Qur`an, (Cet. I, Yogyaakarta; Mitra Pustaka: 2001), h. 13

[56] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah… Loc. Cit.,

[57] Ibid,

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: