Tag Archives: bahasa indonesia

ANALISIS PEMAKAIAN PRONOMINA INTERMINATIVA BAHASA INDONESIA DALAM HARIAN FAJAR

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa dipergunakan untuk mengutarakan dan menerima pikiran dan perasaan manusia. Sebagian besar kegiatan manusia melibatkan penggunaan bahasa, sehingga wajarlah apabila setiap manusia berusaha untuk mengerti dan memahami bahasa dengan baik dan benar.

Tjiptadi dan Negoro, (1983:1) mengemukakan bahwa” Bahasa ialah alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain. Dengan demikian, bahasa terjadi antara dua belah pihak yaitu pihak yang menyampaikan pikiran dan perasaan itu”.

Dengan demikian, bahasa dapat diartikan sebagai alat yang ampuh amok, menyatakan maksud, pikiran, dan perasaan kepada orang lain. Begitu akrabnya bahasa dengan manusia, sehingga manusia cendrung menganggap bahwa bahasa merupakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Oleh karena itu, banyak orang kurang memahami hakikat bahasa, bahkan tidak menyadari pentingnya bahasa dalam kehidupan sosial. Padahal fungsi bahasa adalah sebagai sarana komunikasi vital dalam manusia dan mahluk lainnya. Bahasa sebagai instrumental, regulasi, representasional, personal, heuristik, intraksional, dan imaginative.

Maju mundurnya suatu bahasa bergantung pada setiap pemakai bahasa pemakaian bahasa bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengolah bahasanya sehingga menjadi bahasa yang baku dan penyusunannya tetap gramatikal.

Harian Fajar adalah sebuah koran terbesar di bagian timur Indonesia

diharapkan menjadi contoh dan pelopor dalam penulisan kaidah-kaidah Indonesia yang baik dan benar, agar berita-berita yang disuguhkan kepada masyarakat, tidak semata-mata untuk menarik minat pembaca saja melainkan juga membina masyarakat dalam pengaturan tata tulis yang benar. Walaupun dalam bidang jurnalistik, kebakuan suatu bahasa mungkin. bukanlah merupakan suatu keharusan yang harus dipedomani.

Harian Fajar terbitan 9 Februari 2000 dalam kolom tajuk, diberitakan

mengenai “Anarkisme dan Idealisme berkebahasaan dalam dunia pers”. Dijelaskan bahwa dalam era reformasi membuka ruang gerak dan peluang amat luas bagi pers nasional untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan perjuangannya, namun para jurnalis tidak lepas dari ketentuan atau undang-undang pers.

Bila dikaitkan dengan fungsi bahasa yang imaginatif, maka para jurnalis tidak terlepas dari fungsi tersebut untuk menerbitkan sebuah berita yang sifatnya gramatikal atau tidak itu bergantung pada penulisnya. Hal ini pun dapat di lihat pada pemakaian pronomina interminativa kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang bahasa Indonesia yang sering pembaca jumpai dalam pemakaiannya. Para penutur atau pemakai bahasa terkadang tidak mengetahui penggunaan secara tepat.

Secara gramatik bentuk sesuatu dan seseorang dapat berdiri sendiri atau menduduki (mengisi) fungsi atau gatra kalimat (subjek atau objek), sedangkan kata suatu dan seorang tidak dapat berdiri sendiri. Kata suatu dan seorang dimasukkan kedalam kelompok kata penggolong benda yang belum tentu, sedangkan kata sesuatu dan seseorang, merupakan pengganti suatu benda yang belum di ketahui.

Ditemukan pemakaian kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang yang tidak lagi melihat adanya penggunaan secara tepat, akibatnya banyak pemakaian kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang yang tidak sesuai dengan sifat dan fungsi yang dimilikinya. Banyak kalimat yang seharusnya menggunakan kata ganti suatu, tetapi yang digunakan kata ganti sesuatu. Begitupula penggunaan kata seorang dan seseorang.

Dengan adanya kekeliruan seperti itu, maka penulis mencoba mengkaji perilaku kata-kata seperti suatu, sesuatu, seorang dan seseorang dalam Harian Fajar, agar para penutur atau pemakai bahasa Indonesia dapat mengetahui penggunaan pronomina interminativa dalam Harian Fajar secara tepat.

B.   Rumusan Masalah

Masalah pemakaian pronomina interminativa, kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang dalam bahasa Indonesia dalam bidang jurnalistik bukanlah masalah yang sederhana, melainkan sangat lugs dan kompleks. Oleh karena penulis akan mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana penggunaan pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam Harian Fajar ditinjau dari segi preskriptif.
  2. Bagaimana perilaku sintaksis pronatnina interminativa bahasa Indonesia dalam Harian Fajar?
  3. Untuk mengetahui penggunaan pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam surat kabar Harian Fajar ditinjau dari segi preskriptif.
  4. Untuk mengetahui perilaku sintaksis pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam surat kabar Harian Fajar.

C.   Tujuan Penelitian

D.   Manfaat Penelitian

  1. Untuk memudahkan pembaca agar dapat memahami pemakaian pronomina interminativa bahasa Indonesia khususnya dalam bidang jurnalistik;
  2. Sebagai masukan dan bahan perbandingan bagi peneliti-peneliti ilmiah lainnya serta merupakan tambahan karya ilmiah yang dapat dijadikan sebagai sumber acuan dalam penelitian.


PENGUASAAN PENGGUNAAN KATA SAPAAN DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA OLEH SISWA KELAS II SLTP NEGERI PAMBUSUANG

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Pengajaran bahasa Indonesia pada umumnya sama dengan pelajaran lain, yaitu merupakan suatu sistem dalam arti setiap unsur pembentukannya mempunyai fungsi dan peran masing-masing dalam rangka mencapai tujuan pelajaran yang telah digariskan. Unsur-unsur yang membentuk sistem itu adalah Kurikulum, metode, buku teks, alat pelajaran, guru, pelaksanaan pengajaran, dan siswa.

Masalah pembinaan bahasa Indonesia dalam hubungannya dengan pendidikan dan pengajaran merupakan hal yang sangat esensial. Hal ini perlu diperhatikan keberadaannya agar hasil yang dicapai dalam penjabaran pengajaran bahasa Indonesia dalam lingkungan formal sesuai target.

Diketahui bahwa masalah pengajaran bahasa Indonesia dalam pendidikan formal belumlah dapat menjamin penguasaan peserta didik terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal inilah yang perlu diketahui sekaligus dipahami, sekurang-kurangnya yang ada dalam pengelolaan pengajaran bahasa Indonesia dalam pendidikan formal.

Berbahasa merupakan kegiatan keterampilan yang memiliki aspek berbahasa. Aspek yang dimaksud adalah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Di antara aspek yang sate dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Secara umum keterampilan menyimak dan berbicara sudah dimulai pada saat anak masih usia prasekolah. Sedangkan keterampilan membaca dan menulis diperoleh setelah anak memasuki lembaga pendidikan formal. Pertanyaan yang perlu dijawab sekarang adalah pendidikan mana seseorang harus mampu dan telah memiliki keterampiIan menulis sebagai salah satu komponen keterampilan berbahasa ? Untuk lembaga pendidikan seperti di Indonesia, keterampilan tampaknya telah dimulai sejak anak duduk pada tingkat sekolah dasar.

Dalam kehidupan yang sudah modern ini, keterampilan menulis dibutuhkan. Kiranya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa keterampilan menulis merupakan ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Menulis juga merupakan suatu kegiatan produktif dan ekspresif. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktek yang seringkali dan secara teratur.

Dalam pengalaman akademis sehari-hari, masih ditemukan penggunaan bahasa Indonesia yang salah dalam penulisan. Di lingkungan sekolah misalnya, siswa sering membuat kalimat yang tidak sesuai dengan konteksnya dan kaidah bahasa Indonesia. Hal ini kemungkinan bersumber dari rendahnya tingkat kemampuan siswa tentang struktur kata.

Identifikasi tentang kesalahan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia sangat penting disebabkan oleh kenyataan bahwa kondisi di sekolah mulai dari SD sampai perguruan tinggi dewasa ini masih ditandai oleh terjadinya kesalahan. Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu.

Oleh karena itu, pengkajian melalui suatu penelitian tentang tipologi kesalahan dalam menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia perlu dilakukan. Jika dari hasil penelitian diketahui bahwa penguasaan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia cukup memadai, hal tersebut patut disyukuri dan terus ditingkatkan. Sebaliknya, jika hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan siswa dalam hal tersebut masih kurang, maka diperlukan pengkajian tentang berbagai faktor yang menjadi penghambat agar dimanfaatkan secara optimal dalam upaya peningkatan pengajaran bahasa Indonesia.

Menyadari hal tersebut, maka pada dasarnya penerapan Kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia mengharapkan siswa mampu dan terampil berbahasa Indonesia. Khususnya menerapkan kaidah penulisan ejaan. Dalam hal ini penulisan dan ejaan yang telah dibakukan. Berhubugan dengan pula standardisasi dan pembakuan bahasa Indonesia adalah penetapan atau aturan berbahasa. Berdasarkan bahasa yang dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa, ditetapkan pula mana yang berlaku pada bahasa itu.

Kemampuan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia adalah jenis kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa, khususnya pada jenjang SLTP. Kemampuan itu merupakan kunci yang dapat memudahkan siswa berkomunikasi dengan efektif. Secara tertulis, siswa SLTP sebagai hasil proses pendidikan formal perlu dibekali kemampuan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini merupakan modal untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi maupun sebagai bekal untuk hidup bermasyarakat.

Dalam pendidikan sekolah tingkat lanjutan pertama, hasil pengajaran bahasa Indonesia belum dapat dikatakan sebagai hasil yang memuaskan. Kenyataan ini dapat dilihat pada hasil EBTA – EBTANAS  bahasa  Indonesia khusus di SLTP Negeri Pambusuang, sebelum dan sesudah menggunakan kurikulum 1994 masih menunjukkan hasil  yang belum optimal. Khusus sekolah lanjutan pertama yang ada di pinggiran dan luar kota, baik negeri maupun swasta, hasil pengajaran bahasa Indonesia belum dapat memberikan hasil yang memadai. Keadaan semacam ini timbul karena kuatnya pengaruh bahasa daerah, kurangnya kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia (Kirana, 2000: 3).

Dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa di sekolah lanjutan, Kurikulum 1994 mengupayakan penyebaran Kurikulum yang dengan jelas mengarah kepada pembinaan kemampuan berbahasa anak didik. Pengetahuan dan penguasaan bahasa dalam arti internalisasi. Struktur bahasa dalam semua tataran kebahasaan senantiasa dikaitkan dengan pembinaan kemampuan berkomunikasi, baik secara Iisan maupun tulisan. Bentuk-bentuk komunikasi dan strukturnya harus sesuai dengan kaidah­-kaidah gramatikal dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dan setiap pemakaian bahasa harus menguasai hal tersebut.

Pengajaran kaidah gramatikal kepada siswa dimaksudkan untuk menanamkan pengetahuan dan penguasaan kaidah gramatikal yang bersifat fungsional. Pengetahuan dan penguasaan kaidah gramatikal yang bersifat fungsional bagi anak didik memungkinkan dapat menyusun kalimat-kalimat yang gramatikal.

Tujuan pengajaran bahasa ini akan tercapai apabila guru lebih banyak melibatkan siswa dalam berbagai situasi perbuatan bahasa. Artinya, bahwa guru harus memberikan latihan-latihan dan contoh-contoh penggunaan bahasa yang baik dan benar. Dengan memberikan berbagai contoh pola kalimat beserta variasinya dan diikuti pemberian latihan, maka siswa dengan mudah mengenal bentuk kalimat dan dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Untuk mencapai hasil pengajaran bahasa Indonesia yang maksimal, salah satu yang dapat ditempuh adalah mengajarkan secara intensif penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia. Pemahaman siswa terhadap kata sapaan dan penggunaannya dalam menyusun kalimat bahasa Indonesia sangat penting karena mempunyai fungsi dalam tatanan struktur tata bahasa Indonesia dan fungsi sosial bahasa Indonesia.

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai pengajaran dalam menyusun kalimat bahasa Indonesia, rata-rata menunjukkan hasil yang belum memuaskan. Misalnya penelitian tentang :

  1. Kemampuan Siswa Kelas II SLTP Negeri 2 Polewali menggunakan kosakata dalam kalimat bahasa Indonesia, Hardiah 1999.
  2. Penguasaan Pemenggalan Kata bagi Siswa Kelas II SLTP Negeri 4 Polewali Kabupaten Polmas, Candra Kirana, 2000.
  3. Kemampuan Siswa kelas 1 SLTP Negeri I Wonomulyo menggunakan kata bilangan dalam menyusun kalimat, Sri Seger Asriyanty, 2000.

Umumnya peneliti tersebut menemukan bahwa kemampuan siswa menggunakan kata dalam menyusun kalimat belum memadai.

Penelitian tentang penguasaan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia merupakan salah satu bagian pelajaran bahasa Indonesia di SLTP yang belum memperoleh hasil yang baik. Khusus di SLTP Negeri Pambusuang, masalah penguasaan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan memainkan peranan penting pada seluruh sekolah lanjutan tingkat pertama baik negeri maupun swasta dalam rangka meningkatkan pengetahuan bahasa Indonesia di kalangan siswa pada umumnya.

Mengingat pentingnya arti, nilai, dan fungsi kemampuan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia, maka sewajarnya jika pengajaran jenis-jenis, ciri-ciri, maupun pengertian kata sapaan perlu dibina dan ditingkatkan. Pembinaan sebaik-baiknya terhadap pengajaran kata sapaan di sekolah lanjutan tingkat pertama, bukan saja akan menciptakan siswa yang memiliki kemampuan dalam berbahasa Indonesia yang selama ini masih dianggap kurang efektif, tetapi juga menciptakan keterampilan dalam sikap dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itulah, penggunaan kata sapaan dalam pengajaran bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian, baik dari pihak guru bahasa Indonesia maupun dari pihak-pihak yang lain yang bermaksud mengembangkan pengajaran bahasa Indonesia.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian yang berkaitan dengan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia, yaitu “Penguasaan Penggunaan Kata Sapaan dalam Kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Negeri Pambusuang”.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang ada sekarang adalah bagaimana mengetahui dan memahami kesulitan belajar siswa pada umumnya dan mengetahui kemampuan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia. Dengan demikian, masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah :

“Bagaimanakah penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Negeri Pambusuang”.

C.   Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan yang dikemukakan di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah untuk siswa kelas II SLTP Negeri ­kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan ukuran tentang penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Pambusuang dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia.

KEMAMPUAN SISWA KELAS III SLTP NEGERI I WONOMULYO MENGGUNAKAN VERBA TRANSITIF DAN VERBA INTRANSITIF

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Seiring dengan hal tersebut, maka sistem pendidikan di Indonesia pun mengalami perkembangan dan pembaharuan sehingga memperlancar penerapan sistem pendidikan. Hal tersebut dimaksudkan agar bangsa Indonesia mampu mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.

Dalam memacu ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional berusaha untuk me­ningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Usaha tersebut mencakup hampir semua aspek dalam pendidikan, baik dari segi kurikulum, metode pengajaran, sistem penilaian, penyediaan sarana dan pra­sarana, maupun materi pelajaran secara terus menerus.

Beberapa mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang pendidikan formal, bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang mendapat perhatian serius. Hal ini terkait dengan ajaran bahasa Indonesia di sekolah sebagai bagian dari program pendidikan akademik yang memiliki fungsi dan peranan yang sangat strategi. Misi utama pengajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah untuk menanamkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Di samping itu, pengajaran bahasa Indonesia juga berperan menunjang tumbuhnya manusia yang cerdas, yaitu manusia yang kritis, rasio­ dan dapat berpikir serta mengenal berbagai alternatif pemecahan berbagai masalah apapun yang dihadapi. Oleh karena itu, pengajaran bahasa Indonesia sebagai bagian dari pendidikan akademis perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Salah satu bukti yang dapat dilihat adalah disajikannya mata pelajaran ini mulai dari jenjang pendidikan dasar (SD) sampai ke jenjang pendidikan tinggi (PT).

Bahasa sebagai alat komunikasi dapat dilihat sebagai saluran yang dipakai pembicara untuk menyampaikan suatu informasi atau pesan kepada orang lain. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi hendaknya tidak mengalami gangguan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kadang gangguan komunikasi tersebut tak dapat dihindari sehingga informasi atau pesan tidak dapat diterima oleh pendengar atau lawan bicara. Hal demikian dapat menyebabkan salah pengertian antara pembicara dan pendengar (Said, 1987: 37).

Setiap manusia mempunyai gagasan, pikiran, perasaan, dan pengalaman yang sewaktu-waktu ingin diungkapkan kepada orang lain. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka digunakan bahasa sebagai medianya, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahasa tersebut diekspresikan melalui kalimat yang tersusun dari beberapa kata sehingga membentuk suatu makna tertentu. Penyusunan kata­-kata untuk membentuk suatu kalimat tertentu harus mengikuti aturan yang berlaku dalam suatu bahasa. Dalam bahasa Indonesia misalnya, unsur yang mutlak ada dalam suatu kalimat adalah unsur predikat.

Salah satu aspek struktur dalam pengajaran bahasa Indonesia yang sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian dan pengkajian khusus adalah menentukan kalimat aktif transitif dan kalimat intransitif. Salah satu ciri yang menentukan apakah kalimat aktif transitif atau aktif intransitif adalah jenis verbanya. Olehnya itu, yang menjadi dasar pembentukan kalimat aktif adalah verba transitif dan verba intransitif.

Pentingnya verba transitif diteliti di sekolah, karena materi ini merupakan materi dasar dari keterampilan berbahasa yang lebih besar. Misalnya saja, apabila siswa ingin menuangkan gagasannya lewat kalimat dan karangannya akan tetapi siswa tidak memahami hal, maka secara tidak langsung hal itu akan menghambat penalaran ilmu yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan.

Beberapa penelitian rang relevan dengan penelitian penulis adalah yang dilakukan Elias (2002) yang menyimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas II SMU Negeri I Wonomulyo menentukan kalimat aktif transitif dan kalimat intransitif adalah belum memadai. Hal serupa yang dilakukan oleh Ratnasari (2002) dan menyimpulkan bahwa kemampuan sis«~a kelas II SLTP Negeri 3 Wonomulyo belum dapat membedakan antara kalimat aktif transitif dan kalimat aktif intransitif.

Berdasarkan hal itulah sehingga penulis ingin meneliti lebih jauh lagi tentang pemakaian verba transitif dan verba intransitif dalam kalimat bahasa Indonesia dengan memilih siswa kelas III SLTP Negeri l Wonomulyo sebagai objek penelitian.

B.   Rumusan Masalah

Untuk mengarahkan penulis agar dapat dengan mudah melakukan penelitian maka akan ditentukan rumusan masalahnya dahulu. Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini yaitu “bagaimanakah kemampuan siswa kelas III SLTP Negeri 1      Wonomulyo menggunakan verba transitif dan verba intransitif dalam kalimat bahasa Indonesia?”

C.   Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa  kelas III SLTP Negeri 1 Wonomulyo menggunakan verba transitif dan verba intrasitif dalam kalimat bahasa Indonesia.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian adalah :

  1. Sebagai bahan informasi tentang kemampuan siswa di sekolah, khususnya materi pengajaran verba transitif dan verba intransitif;
  2. Menjadi umpan balik bagi guru bahasa Indonesia untuk peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia; dan
  3. Sebagai bahan acuan tambahan bagi guru bahasa Indonesia di sekolah tentang pengajaran verba transitif dan verba itransitif.


KECENDERUNGAN TINDAK TUTUR GURU BAHASA INDONESIA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI KELAS II SMU NEGERI I TINAMBUNG

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk individu dan mahluk sosial. Dalam hubungannya manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu makna setiap manusia bahwa manusia juga tidak terlepas dari individu-individu lain. Secara kodrati, manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama manusia akan berlangsung dalam ber­bagai bentuk komunikasi dan situasi.

Austin (dalam Tarigan, 196: I46) menyatakan bahwa komunikasi adalah serangkaian tindak ujar yang dipakai Secara bersistem untuk menyelesaikan tujuan tertentu. Dengan adanya komunikasi akan terjadilah sesuatu yang dinamakan peristiwa tutur dan tindak tutur.

Tindak tutur adalah berlangsungnya interaksi linguistik dalam suatu ben­tuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan mitra tutur, misalnya interaksi antara pedagang dengan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, seperti halnya interaksi yang terjadi antara guru dengan murid dalam proses belajar mengajar yang juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya.

Adanya interaksi guru dan murid dalam proses belajar mengajar tidak ter­lepas dari peran guru dalam usahanya mendidik dan membimbing para siswa agar mereka dapat dengan sungguh-sungguh mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Untuk mendapatkan basil yang optimal, banyak pengaruh komponen belajar cukup banyak mengajar. Sebagai contoh, bagaimana cara mengorganisasikan ma­teri afar dapat dipahami oleh siswa, metode yang diterapkan serta media yang digunakan.

Guru sebagai seorang pendidik perlu menyadari bahwa belajar adalah ingin mengerti, belajar adalah mencari, menemukan dan melihat permasalahan. Belajar juga dikatakan sebagai usaha memecahkan permasalahan atau persoalan yang dihadapi. Hal ini membawa konsekuensi kegiatan belajar mengajar yang problematis. Seorang guru yang baik selayaknya tidak memperlihatkan ke­cenderungan atau kebiasaan yang tidak baik. Misalnya dalam menyampaikan ma­teri pelajaran selalu menggunakan metode yang berulang-ulang.

Guru sebagai pengajar yang baik harus dapat memunculkan gairah belajar siswa agar melakukan aktivitas belajar. Dalam hubungannya dengan aktivitas karena dorongan oleh adanya faktor-faktor kebutuhan biologis, insting, dan mungkin unsur kejiwaan yang lain, serta adanya pengaruh kebudayaan manusia. Agar dalam kegiatan belajar dapat terarah seorang guru memiliki peran yang san­gat penting guna menciptakan kondisi atau suatu proses yang baik. Guru melaku­kan usaha-usaha untuk dapat menumbuhkan motivasi agar siswanya melakukan aktivitas dengan baik. Untuk dapat belajar dengan baik diperlukan proses dan mo­tivasi yang baik pula. Memberikan motivasi kepada seseorang siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.

Sekolah-sekolah di Indonesia dewasa ini pada umumnya memang belum berhasil membantu secara optimal dalam upaya pengajaran. Pengajaran Bahasa Indonesia pada khususnya; karena: 1) terlalu menekankan teori dan kurang pada praktek. 2) terlalu banyak mengajar tentang bahasa dan kurang pada penguasaan bahasanya sendiri, 3) lebih banyak membicarakan bahasa seperti fonologi, mor­fologi, dan sintaksis, 4) lebih banyak membicarakan struktur bahasa secara ter­lepas-lepas dan kurang menekankan pada kebermaknaan, 5) kurang menekankan pada kemampuan penggunaan bahasa sesuai dengan konteks, 6) hanya memfo­kuskan pada pokok bahasan tertentu sehingga terlepas dari  tujuan pengajaran yang digariskan, dan 7) sistem penalaran cenderung bersifat kognitif, dan kurang me­nekankan pada penilaian tentang proses, (Siahaan, 1985).

Menyadari hal demikian, disinilah peran seorang guru dibutuhkan. Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebagai seorang pendidik, sebelum tampak di depan kelas, terlebih dahulu harus menguasai bahan agar dalam proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar.

Kecenderungan dalam mengajar perlu diteliti dan dikaji karena guru yang baik seharusnya tidak selalu menggunakan metode atau cara mengajar yang beru­lang-ulang. Alasan penulis meneliti kecenderungan guru dalam proses belajar mengajar karena masih kurangnya pengetahuan guru sebagai pengajar sekaligus pendidik, dalam mengajarkan suatu mata pelajaran khususnya pelajaran Bahasa Indonesia. Selain itu sepengetahuan penulis, menulis kecenderungan tindak tutur guru dalam proses belajar mengajar belum pernah diteliti oleh mahasiswa fakultas Bahasa dan Seni dalam bentuk skripsi.

Oleh karena itu, diharapkan agar penelitian ini dapat memberikan sum­bangan dalam mengembangkan kreatifitas cara mengajar guru.

B. Rumusan Masalah

Berdasar pada latar belakang yang dikemukakan di atas maka akan dirumuskan masalah yang akan diteliti, yaitu bagaimana kecenderungan tindak tutur guru bahasa Indonesia Kelas II SMU Negeri I Tinambung  dalam proses belajar mengajar ?

C. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas masalah yang dikemukakan di atas, yaitu mendeskripsikan kecenderungan tindak tutur guru bahasa Indonesia kelas II SMU Negeri I Tinambung dalam proses belajar mengajar.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut :

  1. Sebagai bahan masukan bagi guru bahasa Indonesia di sekolah menengah umum, khususnya mengenai tindak tutur guru dalam proses belajar mengajar.
  2. Menjadi sumbangan terhadap peningkatan dan pengembangan Bahasa Indonesia.



BENTUK MOTIVASI GURU MENCIPTAKAN SUASANA KOMUNIKATIF BELAJAR MENGAJAR BAHASA INDONESIA DI MTs. DDI PARIANGAN KECAMATAN LUYO KABUPATEN POLMAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagaimana makhluk sosial, terkandung suatu makna bahwa manusia itu tidak terlepas dari individu yang lain. Hidup bersama antara manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam ini terjadi interaksi satu sama lain.

Berbagai bentuk interaksi, khususnya mengenai interaksi yang disengaja, antara lain interaksi edukatif. Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Interaksi edukatif lebih spesifik pada bidang pengajaran yang dikenal dengan interaksi belajar-mengajar. Dalam interaksi antara pengajar dengan warga belajar terjadi proses pengembangan motivasi guru sebagai pengajar dan siswa sebagai warga belajar. Dalam rangka membina, membimbing dan memberikan motivasi ke arah yang dicita-citakan, maka hubungan guru dan siswa harus bersifat edukatif. Menurut Sardiman (1992:4), interaksi edukatif adalah sebagai suatu proses hubungan timbal balik yang memiliki tujuan tertentu, yakni untuk mendewasakan agar nantinya dapat berdiri sendiri.

Guru harus dapat mengembangkan motivasi dalam setiap kegiatan interaksi dengan siswanya. Guru perlu menyadari dirinya sebagai pemikul tanggung jawab untuk membawa siswa : ke tingkat keberhasilannya. Guru tidak cukup hanya mengetahui bahan ilmu pengetahuan yang akan dijabarkan dan diajarkan kepada siswa, tetapi juga perlu mengetahui dasar filosofis dan didaktisnya, sehingga mampu memberikan motivasi di dalam proses interaksi dengan siswa. Untuk itu, perlu adanya suasana komunikatif belajar-mengajar antara guru dengan siswa, agar dalam proses belajar-mengajar terjalin komunikasi yang efektif.

Sehubungan dengan uraian di atas. maka interaksi edukatif yang secara spesifik merupakan proses atau interaksi memiliki ciri-­ciri khusus yang membedakannya dengan bentuk interaksi yang lain.

Menurut Suhardi (dalam Sardiman, 1992;15), ciri-ciri interaksi belajar-mengajar yaitu :

  1. Interaksi belajar-mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu anak-anak dalam suatu perkembangan. Inilah yang dimaksud belajar-mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian.
  2. Ada suatu prosedur yang direncana didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Interaksi belajar-mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus.
  4. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa.
  5. Dalam interaksi belajar-mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.
  6. Dalam interaksi belajar-mengajar dibutuhkan disiplin.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa motivasi dalam proses mengajar khususnya pelajaran bahasa Indonesia, hendaknya diciptakan suasana yang bersifat komunikatif.

Salah satu dampak komunikatif adalah dapat membangkitkan motivasi siswa. Motivasi siswa itu sendiri merupakan faktor terpenting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, sangat diharapkan agar siswa memiliki motivasi belajar tersebut. Seorang guru memiliki andil besar dalam membangkitkan motivasi siswa. Untuk itu, diharapkan seorang guru mampu memperhatikan perilaku siswa dengan mengambil langkah­langkah yang dapat menimbulkan motivasi belajar bagi siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Hanya dengan motivasilah siswa dapat bergerak hatinya untuk belajar bersama temannya yang lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka alasan peneliti memilih judul ini, yaitu karena adanya sekelompok siswa yang belum termotivasi untuk belajar, ini terbukti pada saat proses belajar-mengajar berlangsung, kadang ada siswa yang tidak memperhatikan pelajaran, dan hanya membicarakan masalah yang tidak ada sangkutpautnya dengan pelajaran, bahkan mereka menggunakan waktunya untuk bermain di dalam ruangan.

Secara empiris dapat dilihat bahwa motivasi guru menciptakan suasana komunikatif pada saat interaksi belajar-mengajar, khususnya dalam pengajaran bahasa Indonesia, masih kurang. Selain pengalaman peneliti selama pengajaran bahasa Indonesia berlan ;sung, juga ditemukan satu penelitian yang berhubungan motivasi guru menciptakan suasana komunikatif, yakni penelitian yang dilakukan oleh Islah (2001), tentang sikap guru terhadap motivasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas I SMU Negeri 2 Polewali yang belum komunikatif.

Berdasarkan kenyataan di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang bentuk motivasi guru menciptakan suasana komunikatif belajar-mengajar bahasa Indonesia pada siswa (Madrasah Tsanawiyah Swasta) MTs DDI Pariangan.

B.   Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah bentuk-bentuk motivasi guru menciptakan suasana komunikatif belajar-mengajar bahasa Kabupaten Polman.

C.   Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan menciptakan suasana komunikatif belajar­ guru menciptakan suasana komunikatif belajar mengajar bahasa Indonesia di MTs DDI Pariangan Kabupaten Polman.

D.   Manfaat Penelitian

  1. Memberikan sumbangan pemikiran kepada guru-guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa guna penyempurnaan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia;
  2. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh, diharapkan bagi para guru, agar hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam penataan perilaku pendidik;
  3. Merupakan wadah untuk mendapatkan pengalaman tentang cara pelaksanaan penelitian dan merupakan bahan perbandingan bagi pihak yang ingin melakukan penelitian sejenis.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.