Arsip Tag: islam

LOGIKA INFERENSIAL

LOGIKA INFERENSIAL

Oleh: Syekhuddin

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Filsafat merupakan akar dari seluruh ilmu yang ada, dari hasil pemikiran-pemikiran filsafat itulah muncul teori-teori yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kelimuan dan teknologi di jagat raya ini.

Kita sudah begitu sering berfikir, rasa-rasanya berfikir begitu mudah. semenjak kita sudah biasa melakukannya. Setiap hari kita sudah berdialog dengan diri kita sendiri, berdialog dengan orang lain, bicara, menulis, membaca suatu uraian, mengkaji suatu tulisan, mendengarkan penjelasan-penjelasan dan mencoba menarik kesimpulan-kesimpulan dari hal-hal yang kita lihat dan kita dengar. Terus menerus seringkali hampir tidak kita sadari.

Namun bila kita selidiki lebih lanjut, dan terutama bila harus dipraktekkan sungguh-sungguh ternyata bahwa berfikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Manakala kita berfikir seksama dan sistematis berbagai penalaran, segera akan dapat kita ketahui bahwa banyak penalaran tidak menyambung. Kegiatan berfikir-fikir benar-benar dituntut kesanggupan pengamatan yang kuat dan cermat; dituntut untuk melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan, kesalahan-kesalahan yang terselubung; waspada terhadap pembenaran diri (rasionalisasi) yang dicari-cari, terhadap segalanya yang tidak berkaitan (tidak relevan), terhadap prasangka-prasangka, terhadap pembuatan oleh rasa perasaan pribadi atau kelompok/ golongan.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan “Logika Inferensi” dapat dirumuskan, sebagai berikut:

1. Bagaimana pengertian logika inferensi?

2. Bagaimana sejarah logika?

II. LOGIKA

A. Pengertian

Logic (logika) berasal dari kata logos (Bhs. Yunani) yang artinya kata (word) atau apa yang diucapkan,[1] kemudian berubah menjadi studi sistem preskriptif dari argumen dan penalaran (reasoning), yaitu sistem yang menjadi acuan bagaimana manusia harus berfikir. Logika dapat dikatakan sebagai bentuk penarikan kesimpulan, apakah sesuatu atau argumen itu absah (valid) atau sebagai pendapat yang keliru (fallacious).[2]

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, logika berarti; [1] pengetahuan tentang kaidah berfikir, [2] jalan fikiran yang masuk akal.[3] Inferensi berarti simpulan; yang disimpulkan.[4] Oleh karena demikian, logika inferensial dapat didefinisikan sebagai “berfikir dengan akal yang sehat untuk memperoleh kesimpulan”. Contohnya, ketika seseorang menghadapi sebuah persoalan yang memerlukan jalan keluar (pemecahan), lalu persoalan tersebut ia fikirkan dengan menggunakan akal yang sehat, kemudian dari hasil berfikir itu ia mendapatkan sebuah simpulan pemecahan dari persoalan tersebut.

M. Taib Thahir Abd. Muin mengemukakan bahwa ilmu manthiq (logika) menurut bahasa ialah bertutur benar. Adapun definisinya bermacam-macam, namun kesimpulannya sama, antara lain; [1] ilmu tentang undang-undang berfikir, [2] ilmu untuk mencari dalil, [3] ilmu untuk menggerakkan fikiran kepada jalan yang lurus dalam memperoleh suatu kebenaran, [4] ilmu yang membahas tentang undang-undang yang umum untuk fikiran, [5] alat yang merupakan undang-undang berfikir dan bila undang ini dipelihara dan diperhatikan, maka hati nurani manusia pasti dapat terhindar dari fikiran-fikiran yang salah.[5]

B. Sejarah Ringkas Logika

W. Poespoprodjo dalam bukunya yang berjudul Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu, membagi sejarah logika,[6] sebagai berikut:

1. Dunia Yunani Tua

Menurut sebagian kisah sejarah Zeno dari Citium (±340-265) disebutkan bahwa tokoh Stoa adalah yang pertama kali menggunakan istilah logika. Namun demikian, akar logika sudah terdapat dalam pikiran dialektis para filsuf mazhab Elea. Mereka telah melihat masalah identitas dan perlawanan asas dalam realitas. Tetapi kaum sofis-lah yang membuat fikiran manusia sebagai titik api pemikiran secara eksplisit. Gorgias (±483-375) dari Lionti (Sicilia), mempersoalkan masalah pikiran dan bahasa, masalah penggunaan bahasa dalam kegiatan pemikiran. Dapatkah ungkapan mengatakan secara tepat apa yang ditangkap pikiran?

Sokrates (470-399) dengan metodenya, mengembangkan metode induktif. Dalam metode ini dikumpulkan contoh dan peristiwa konkrit untuk kemudian dicari  ciri umumnya. Plato, yang nama aslinya Aristokles, (428-347) mengumumkan metode Sokrates tersebut sehingga menjadi teori ide, yakni teori dinge an sich versi Plato. Sedangkan oleh Aristoteles, dikembangkan menjadi teori tentang ilmu. Menurut Plato, ide adalah bentuk “mulajadi” atau model yang bersifat umum dan sempurna yang disebut prototypa, sedangkan benda individual duniawi hanya merupakan bentuk tiruan yang tidak sempurna yang disebut ectypa. Gagasan Plato ini banyak memberikan dasar terhadap perkembangan logika, lebih-lebih yang bertalian dengan ideogenesis dan penggunaan bahasa dalam pemikiran. Namun demikian, logikè epistèmè (logika ilmiyah) sesungguhnya baru dapat dikatan terwujud berkat karya Aristoteles.

Sesudah Aristoteles, Theoprastus mengembangkan teori logika Aristoteles, dan kaum Stoa mengembangkan teori logika dengan menggarap masalah bentuk argument disjungtif dan hipotesis serta beberapa segi masalah bahasa. Chrysippus yang Stoa mengembangkan  logika proposisi dan mengajukan bentuk-bentuk berfikir yang sistematis.

Galenus, Alexander Aphrodisiens, dan Sextus Empiricus mengadakan sistematisasi logika dengan mengikuti cara geometri, yakni metode ilmu ukur. Galenus sangat berpengaruh karena tuntutannya yang sangat ketat aksiomatisasi logika. Karya utama Galenus berjudul Logika Ordini Geometrico Demonstrata. Tapi impian Galenus hanya terlaksana jauh kemudian. Yakni di akhir abad XVII melalui karya saceheri yang berjudul Logica Demonstrativa.

Kemudian muncullah zaman dekadensi logika. Salama ini logika mmengembang karena menyertai perkembangan pengetahuan dan ilmu yang menyadari betapa berseluk beluknya kegiatan berpikir yang langkahnya mesti dipertanggungjawabkan. Kini ilmu menjadi dangkal sifatnya dan sangat sederhana, maka logika juga merosot. Tetapi beberapa karya pantas mendapat perhatian kita, yakni Eisagogen dari Porphyrios, kemudian komentar-komentar dari Boethius dan Fons Scientiae (Sumber Ilmu) karya Johannes Damascenus.[7]

2. Logika Abad Pertengahan

Pada mulanya hingga tahun 1141, penggarapan logika hanya berkisar pada karya Aristoteles yang berjudul Kategoriai dan Peri Hermenias. Karya tersebut ditambah dengan karya Phorphyrios yang bernama Eisagogen dan traktat Boethius yang mencakup masalah pembagian, masalah metode debat, silogisme kategoris hipotesis, yang biasa disebut logika lama. Sesudah tahun 1141, keempat karya Aristoteles lainnya dikenal lebih luas dan disebut sebagai logika baru.[8] Logika lama dan logika baru kemudian disebut logika antik untuk membedakan diri dari logika terministis atau logika modern, disebut juga logika suposisi yang tumbuh berkat pengaruh para filosof Arab.[9] Di dalam logika ini di ditunjuk pentingnya pendalaman tentang suposisi untuk menerangkan kesesatan logis, dan tekanan terletak pada ciri-ciri term sebagai symbol tata bahasa dari konsep-konsep seperti yang terdapat di dalam karya Petrus Hispanus, William dari Ockham.

Thomas Aquinas dkk., mengusahakan sistimatisasi dan mengajukan komentar-komentar dalam usaha mengembangkan logika yang telah ada. Pada abad XIII-XV berkembanglah logika seperti yang sudah disebutkan di atas, disebut logika modern. Tokohnya adalah Petrus Hispanus, Roger Bacon, W. Okcham, dan Raimon Lullus yang menemukan metode logika baru yang disebut Ars Magna, yakni semacam Al-jabar pengertian dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi.

Abad pertengahan mencatat berbagai pemikiran yang sangat penting bagi perkembangan logika. Karya Boethius yang orisinal dibidang silogisme hipotesis, berpengaruh bagi perkembangan teori konsekwensi yang merupakan salah satu hasil terpenting bagi perkembangan logika di abad pertengahan. Kemudian dapat dicatat juga teori tentang cirri-ciri term, teori suposisi yang jika diperdalam ternyata lebih kaya dari semiotika matematika di zaman ini. Selanjutnya diskusi tentang universalia, munculnya logika hubungan, penyempurnaan teori silogisme,  penggarapan logika modal, dan lain-lain penyempurnaan terknis.[10]

3. Logika Dunia Modern

Logika Aristoteles, selain mengalami perkembangan yang murni, juga dilanjutkan oleh sebagian pemikir, tetapi dengan tekanan-tekanan yang berbeda. Thomas Hobbes, (1632-1704) dalam karyanya Leviatham (1651) dan John Locke (1632-1704) dalam karyanya yang bernama Essay Concerning Human Understanding (1690). Meskipun mengikuti tradisi aristoteles, tetapi dokrin-dokrinya sangat dikuasai paham nominalisme. Pemikiran dipandang sebagai suatu proses manipulasi tanda-tanda verbal dan mirip operasi-operasi dalam matematika. Kedua tokoh ini memberikan suatu interpretasi tentang kedudukan di dalam pengalaman.

Logika Aristoteles yang rancangan utamanya bersifat deduktif silogistik dan menunjukkan tanda-tanda induktif berhadapan dengan dua bentuk metode pemikiran lainnya, yakni logika fisika induktif murni sebagaimana terpapar dalam karya Francis Bacon, Novum Organum (London, 1620) serta matematika deduktif murni sebagaimana terurai di dalam karya Rene Descartes, Discors The La Methode (1637).

Metode induktif untuk menemukan kebenaran, yang direncanakan Francis Bacon, didasarkan pada pengamatan empiris, analisis data yang diamati, penyimpulan yang terwujud dalam hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut.[11]

4. Logika di India

Di Asia hanya India yang sudah mengembangkan logika secara formal sejak masa lalunya. Logika lahir dari Sri Gautama yang harus sering berdebat melawan golongan Hindu fanatic yang menyerang aliran kesusilaan yang diajarkannya. Dengan sistematis logika dipaparkannya dalam Nyaya-Sutra sehingga mencapai taraf perkembangan ilmu. Nyaya-Sutra mendapat komentar dari Prasastapada, yang kemudian disempurnakan oleh pengikut-pengikut Buddha lainnya.

Logika terus sebagai metode berdebat, dan mengundang banyak komentar dari orang-orang seperti Uddyotakara, Vacaspati Misra, Mazdab Nyaya, Kumarila Bhatta, Mazdab Mimamza Dharmakirti, seorang Buddhis Udayana, Bhagavata, dan lain-lain.[12]

C. Logika Formal dan Logika Material

Setelah pengetahuan logika makin ramai dibicarakan orang maka logika artificialis dibedakan orang menjadi dua macam, yaitu logika formal dan logika material.[13]

Logika formal mempelajari asas-asas, aturan-aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus ditaati, agar orang dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Logika material mempelajari langsung pekerjaan akal, serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan-kenyataan praktis yang sesungguhnya. Apakah hasil-hasil logika formal itu sungguh sesuai dengan isi (materi) kenyataan yang sebenarnya.[14]

Logika material mempelajari sumber-sumber dan asal-usul pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, dan akhirnya merumuskan metode ilmu pengetahuan. Logika material inilah yang menjadi sumber yakni yang menimbulkan filsafat mengenal (kennisleer) dan filsafat ilmu pengetahuan (wetenschapsleer).[15]

Logika formal dinamakan orang juga logika minor, sedang logika material dinamakan sebagai logika mayor. Dan apa yang disebut dengan logika formal sekarang ini ialah ilmu yang mengandung kumpulan kaidah-kaidah cara berfikir untuk mencapai kebenaran.[16]

D. Positivistic Logic

Positivisme Logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.

Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.

Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.

Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lain teori tentang “makna yang dapat dibuktikan”, yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam bidang metafisika.

Para pengkritik Positivisme Logis berpendapat bahwa landasan dasar yang digunakan oleh Positivisme Logis sendiri tidak dinyatakan dalam bentuk yang konsisten. Misalnya, prinsip tentang teori tentang “makna yang dapat dibuktikan” seperti yang dinyatakan di atas itu sendiri tidak dapat dibuktikan secara empiris. Masalah lain yang muncul adalah dalam hal pembuktian teori. Masalah yang dinyatakan dalam bentuk eksistensi positif (misalnya: ada burung berwarna hitam) atau dalam bentuk universal negatif (misalnya: tidak semua burung berwarna hitam) mungkin akan mudah dibuktikan kebenarannya, namun masalah yang dinyatakan sebaliknya, yaitu dalam bentuk eksistensi negatif (misalnya: tidak ada burung yang berwarna hitam) atau universal positif (misalnya: semua burung berwarna hitam) akan sulit atau bahkan tidak mungkin dibuktikan.

Karl Popper, salah satu kritikus Positivisme Logis yang terkenal, menulis buku berjudul Logik der Forschung (Logika Penemuan Ilmiah) pada tahun 1934. Di buku ini dia menyajikan alternatif dari teori syarat pembuktian makna, yaitu dengan membuat pernyataan ilmiah dalam bentuk yang dapat dipersangkalkan (falsifiability). Pertama, topik yang dibahas Popper bukanlah tentang membedakan antara pernyataan yang bermakna dan yang tidak, namun untuk membedakan antara pernyataan yang ilmiah dari pernyataan yang bersifat metafisik. Menurutnya, pernyataan metafisik tidaklah harus tidak bermakna apa-apa, dan sebuah pernyataan yang bersifat metafisik pada satu masa, karena pada saat tersebut belum ditemukan metode penyangkalannya, belum tentu akan selamanya bersifat metafisik. Sebagai contoh, psikoanalisis pada jaman itu tidak memiliki metode penyangkalannya, sehingga tidak dapat digolongkan sebagai ilmiah, namun jika suatu saat nanti berkembang menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penyangkalan, maka akan dapat digolongkan sebagai ilmiah.[17]

E. Mathematical Logic

Logika matematika adalah cabang ilmu pengetahuan logika dan matematika. Logika matematika mempelajari tentang matematis ilmu logika dan aplikasinya ke dalam ruang lingkup matematika. Logika matematika juga memiliki kaitan erat dengan ilmu komputer dan logika filsafat. Lebih dari itu, logika matematika kadang dianggap sebagai ilmu yang bisa memetakan logika manusia.

Logika matematika sebenarnya mengacu kepada dua ruang lingkup penelitian yang berbeda. Yang pertama adalah aplikasi teknik-teknik logika formal ke dalam matematika dan penalaran matematika. Sedangkan yang kedua, sebaliknya, adalah aplikasi dari teknik-teknik matematika ke dalam representasi dan analisis logika formal. Bisa dikatakan bahwa logika matematika menyatukan kekuatan ekspresi dari logika formal dan kekuatan deduksi dari sistem pembuktian formal (formal proof system). Penggunaan matematika dalam hubungannya dengan logika dan filsafat dimulai pada zaman Yunani kuno.

Beberapa hasil teori logika yang telah berhasil dan terkenal di kalangan para matematikawan barat di antaranya adalah Teori silogisme dari Aristoteles dan aksioma Euclid untuk geometri planar. Sekitar tahun 1700, percobaan-percobaan untuk melakukan operasi-operasi logika formal dengan memakai simbol-simbol dan aljabar juga dilakukan oleh banyak matematikawan lain, termasuk Leibniz dan Lambert. Akan tetapi, informasi mengenai hasil pekerjaan mereka sangat sedikit dan jarang sekali ditemukan, yang karena itu tidak terlalu diketahui oleh publik.[18]

F. Postmodern Logic

Istilah postmodern, pertama kali dilontarkan oleh Arnold Toynbee pada tahun 1939. Kendati sampai saat ini belum ada kesepakatan dalam pendefinisiannya, tetapi istilah tersebut berhasil menarik perhatian banyak orang di Barat. Pada tahun 1960, untuk pertama kalinya istilah itu berhasil diekspor ke benua Eropa sehingga banyak pemikir Eropa mulai tertarik pada pemikiran tersebut. J Francois Lyotard, salah satu contoh pribadi yang telah terpikat dengan konsep tersebut. Ia berhasil menggarap karyanya yang berjudul The Post-Modern Condition sebagai kritikan atas karya The Grand Narrative yang dianggap sebagai dongeng khayalan hasil karya masa Modernitas.

Ketidakjelasan definisi sebagai mana yang telah disinggung menjadi penyebab munculnya kekacauan dalam memahami konsep tersebut. Tentu, kesalahan berkonsep akan berdampak besar dalam menentukan kebenaran berfikir dan menjadi ambigu. Sedang kekacauan akibat konsep berfikir yang tidak jelas akan membingungkan pelaku dalam pengaplikasian konsep tersebut.

Banyak versi dalam mengartikan istilah postmodernisme ini. Foster menjelaskan, sebagian orang seperti Lyotard beranggapan, postmodernisme adalah lawan dari modernisme yang dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern. Sedang sebagian lagi seperti Jameson beranggapan, postmodernisme adalah pengembangan dari modernitas seperti yang diungkap Bryan S. Turner dalam Theories of Modernity and Post-Modernity-nya. Dapat dilihat, betapa jauh perbedaan pendapat antara dua kelompok tadi tentang memahami Post-modernis. Satu mengatakan, konsep modernisme sangat berseberangan dengan postmodernisme bahkan terjadi paradok, sedang yang lain menganggap bahwa postmodernisme adalah bentuk sempurna dari modernisme, yang mana tidak mungkin kita dapat masuk jenjang postmodernisme tanpa melalui tahapan modernitas. Dari pendapat terakhir inilah akhirnya postmodernisme dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain: Post-Modernis Ressistace, Post-Modernism Reaction, Opposition Post-Modernisme dan Affirmative Post-Modernism. Akibat dari perdebatan antara dua pendapat di atas, muncullah pendapat ketiga yang ingin menengahi antara dua pendapat yang kontradiktif tadi.

Zygmunt Bauman dalam karyanya yang berjudul Post-Modern Ethics berpendapat, kata “post” dalam istilah tadi bukan berartikan “setelah” (masa berikutnya) sehingga muncullah kesimpulan-kesimpulan seperti di atas tadi. Menurut Bauman, postmodernisme adalah usaha keras sebagai reaksi dari kesia-siaan zaman modernis yang sirna begitu saja bagai ditiup angin. Adapun penyebab dari kesia-siaan zaman modernis adalah akibat dari tekanan yang bersumber dari prasangka (insting, wahm) belaka. Asas pemikiran postmdernisme sebagaimana berbagai isme dan aliran pemikiran lain di Barat, selalu bertumpu dan berakhir pada empat pola pemikiran; epistemologi materialisme, humanisme, liberalisme dan sekularisme. Tidak terkecuali dengan postmodernisme.[19]

G. Pragmatic Logic

Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani “pragma” yang berarti perbuatan atau tindakan. “isme” di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya yaitu aliran, ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme adalah ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori adalah benar if it works (apabila teori dapat diaplikasikan).

Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

H. Transendental Logic

Emanuel Kant menemukan Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki bentuk-bentuk pemikiran yang mengatasi batas pengalaman.[20]

III. KESIMPULAN

Dari uraian pembahasan di atas, penulis memberikan kesimpulan bahwa dalam menghasilkan kesimpulan dari hasil pemikiran diperlukan metode, strategi dan pendekatan-pendakatan yang terkonstruk agar inferensinya lebih baik.

Berfikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Manakala kita berfikir seksama dan sistematis berbagai penalaran, segera akan dapat kita ketahui bahwa banyak penalaran tidak menyambung tidak menyekrup. Kegiatan berfikir-fikir benar-benar dituntut kesanggupan pengamatan yang kuat dan cermat; dituntut untuk melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan, kesalahan-kesalahan yang terselubung; waspada terhadap pembenaran diri (rasionalisasi) yang dicari-cari, terhadap segalanya yang tidak berkaitan (tidak relevan), terhadap prasangka-prasangka, terhadap pembuatan oleh rasa perasaan pribadi atau kelompok / golongan.

Jadi jelasnya berfilsafat tidak hanya sekedar berfikir mendalam namun ada aturan-aturan atau prosedur yang harus dijadikan sebagai syarat agar dapat dikatakan berfilsafat.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, et al.. Kamus Besar Bahasa Indonesia Ed. III; Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 2005 M.

Bakry, Hasbullah. Sistematik Filsafat. Cet. IX; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1992 M.

Muin, M. Taib Thahir Abd. Ilmu Manthiq (Logika). Cet. IV; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1993 M.

Poespoprodjo, W.. Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu. Cet. I; Bandung: Pustaka Grafika, 1999 M.

WP, Santika. Logika Digital. Bandung: Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, 2007 M.

Faby, Larsa Pranenza Rahila http://www.informatika.org/~rinaldi/Matdis/2007-2008/Makalah/MakalahIF2153-0708-001.pdf

Luthfi, Muchtar. http://jurnalislam.net/id

http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme_Logis


[1]Dr. Mohd Shabry AR., dalam seminar mata kuliah Filsafat Ilmu pada hari Rabu, 05 Oktober 2008 yang lalu menjelaskan bahwa sebenarnya arti asal kata logos adalah Tuhan pencipta word.

[2]Santika WP, Logika Digital, (Bandung: Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, 2007 M.), h. 2.

[3]Hasan Alwi, et al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Ed. III; Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 2005 M.),  h. 680.

[4]Ibid., h. 432

[5]M. Taib Thahir Abd. Muin, Ilmu Manthiq (Logika), (Cet. IV; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1993 M.), h. 16-17.

[6]W. Poespoprodjo, Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu, (Cet. I; Bandung: Pustaka Grafika, 1999 M.), h. 41.

[7]Ibid., h. 42-43.

[8]Menurut buku Richard B. Angel yang berjudul “Reasoning and Logic”, Aristoteles sendiri meninggalkan enam buah buku khusus yang membicarakan ilmu logika ini yang oleh murid-muridnya diberi nama “Organon”. Keenam buku tersebut adalah Categoriae (mengenai pengertian-pengertian), De Interpretatiae (Mengenai keputusan-keputusan) Analitica Priora (mengenai silogisme) Analitica Posteriora (Mengenai pembuktian) Topika (mengenai berdebat) dan De Sophisticis Elenchis (mengenai kesalahan-kesalahan berfikir). http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

[9]Di dunia Islam, ilmu logika ini tidak diterima begitu saja dengan mulus, tapi direspon dengan berbagai macam pendapat oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka. Al-H{a>fiz} Ibnu S{ala>h} dan Ima>m Nawawi misalnya, mereka sangat menentang penggunaan ilmu logika. Penentangan mereka itu bukan hanya sebatas menentang tidak setuju atau tidak sepakat tapi jauh lebih keras dari itu. Penentangan mereka sampai kepada mengharamkan ilmu logika untuk digunakan di dalam dunia Islam. Namun demikian, sebagian besar dari mereka (Jumhu>r Ulama) membolehkan mempelajari ilmu logika dengan syarat orang-orang yang akan mempelajarinya sudah kokoh iman dan cukup akalnya. Selain penolakan yang tegas serupa di atas, di antara mereka ada juga yang malah menganjurkannya, seperti Al-Gaza>liy, Al-Fara>biy, Al-Kindiy dan lain-lain. Al-Kindiy bukan hanya menganjurkan tapi malah mempelajari dan sekaligus menyelidiki logika yunani secara khusus, bahkan Al-Fara>biy melakukannya lebih mendalam lagi dari apa yang sudah dilakukan oleh Al-Kindiy. http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

[10]W. Poespoprodjo, op. cit., h. 43.

[11]Ibid., h. 44.

[12]Ibid., h. 56.

[13]Hasbullah Bakry, Sistematik Filsafat, (Cet. IX; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1992 M.), h. 20-21.

[14]Ibid.

[15]Ibid.

[16]Ibid.

[17]http://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme_Logis

[18]Larsa Pranenza Rahila Faby, http://www.informatika.org/~rinaldi/Matdis/2007-2008/Makalah/MakalahIF2153-0708-001.pdf

[19]Muchtar Luthfi, Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran. Lihat, http://jurnalislam.net/id

[20]http://www.ebonk.org/blog/archives/2005/06/27/logika/


ISLAM SEBAGAI ADIKUASA; FAKTOR-FAKTOR PENYOKONG

ISLAM SEBAGAI ADIKUASA; FAKTOR-FAKTOR PENYOKONG

Oleh : Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

I.  Latar Belakang

Ilmu merupakan salah satu dari sekian pengetahuan, dan kadang-kadang disebut juga dengan nama pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) karena metode untuk memperolehnya dilakukan melalui metode ilmiah.

Perkembangan ilmu telah mengalami dekade yang ditandai oleh ketidak pastian. Penemuan-penemuan yang telah terjadi bukan saja menghasilkan kepuasan dan keasyikan, melainkan membawa juga konsekwensi dasyat dalam kehidupan manusia. Penemuan yang dihasilkan bertumpu pada kreativitas manusia, suatu kemampuan yang unik bagi makhluk manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Untuk mengetahui apa sesungguhnya ilmu itu harus melalui filsafat ilmu. Dengan demikian setiap ilmuan merasa sangat penting untuk mendalami filsafat ilmu untuk mengenal hakekat ilmu yang dimilikinya.

Ketika Immanuel Kant menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat, maka semenjak itu refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian. Lahirlah cabang filsafat yang disebut sebagai Filsafat Pengetahuan. Melalui cabang filsafat ini diterangkan sumber dan sarana serta tata-cara untuk menggunakan sarana-sarana itu guna mencapai pengetahuan ilmiah.

Karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan a higher level of know ledge maka lahirlah Filsafat Ilmu sebagai penerusan pengembangan Filsafat Pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: ilmu (pengetahuan).

Ajaran Islam melalui Al-Qur’an telah memberikan landasan untuk membentuk konsep Filsafat Ilmu. Sehingga ketika Filsafat Ilmu yang berlandaskan ajaran Islam (Al-Qur’an) berhasil diwujudkan, tidaklah salah jika diberi predikat islami atau Qur’ani sehingga menjadi Filsafat Islami atau Filsafat Qur’ani.

Adapun Filsafat Ilmu tanpa melandaskan diri pada konsep Agama atau bahkan dipisahkan dari dimensi keimanan menurut ajaran Islam, dalam bahasa lain Filsafat Ilmu ini disebut Filsafat Ilmu sekuler yang berpijak pada pandangan sekularisme.

B. Rumusan Masalah

Setelah penulis mengemukakan beberapa persolan latar belakang diatas maka dapat kami tulis beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu :

  1. Pengertian Filsafat Ilmu
  2. Objek Telaah Filsafat Ilmu

BAB II

PEMBAHASAN

1.  Pengertian Filsafat Ilmu

Sebelum penulis mengemukakan Filsafat Ilmu terlebih dahulu dikemukakan pengertian Filsafat. Adapun pengertian Filsafat sebagai berikut:

Istilah “Filsafat” dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Philoshophy (Inggris), Philoshophia (Latin), Philoshophie (Jerman, Belanda, Prancis). Semua istilah itu bersumber dari Yunani Philoshophia. Istilah Yunani Philein berarti “mencintai”, sedang philos berarti “Teman”. Selanjutnya istilah sophos berarti “bijaksana”, sedangkan sophia berarti “kebijaksanaan”.[1]

Adapun pengertian Filsafat menurut para Filosof antara lain : Konsep Rene Descartes.

Menurut Rene Descartes, filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.[2]

Konsep Francis Bacon

Menurut Francis Bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat mengenai semua pengetahuan sebagai bidangnya.[3]

Adapun pengertian filsafat ilmu terdapat berbagai pendapat sehingga sulit untuk memberikan suatu batasan yang positif. Misalnya perbedaan pendapat antara Ernest Nagel dengan Stephen Toulmin tentang apakah filsafat ilmu merupakan suatu studi scientific achievement in vivo atau studi tentang masalah-masalah mengenai penjelasan (problems of explanaton).

Ada beberapa titik pandang (view points) untuk menetapkan dasar pemahaman terhadap filsafat ilmu sebagai berikut :

Pertama menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah perumusan world-views yang konsisten dengan, dan pada beberapa pengertian didasarkan atas, teori-teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan ini, merupakan tugas dari filusuf ilmu (philosopher of science) untuk mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu.

Pandangan kedua menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah suatu eksposisi dari presuppositions dan predispositions dari para ilmuan. Filusuf ilmu mungkin mengemukakan bahwa para ilmuan menduga (presuppose) alam tidak berubah-ubah, dan terdapat suatu keteraturan di alam sehingga gejala-gejala alam yang tidak begitu kompleks cukup didapat oleh  peneliti. Sebagai tambahan, peneliti mungkin tidak menutup keinginan-keinginan deterministik para ilmuan lebih daripada hukum-hukum statistik, atau pandangan mekanistik lebih daripada penjelasan teologis. Pandangan ini cenderung mengasimilasikan filsafat ilmu dengan sosiologi.

Pandangan ketiga mengemukakan bahwa filsafat ilmu itu adalah suatu disiplin yang di dalamnya konsep-konsep dan teori-teori tentang ilmu dianalisis dan diklasifikasikan. Hal ini berarti memberikan kejelasan tentang makna dari berbagai konsep seperti partikel, gelombang, potensial dan komplek di dalam pemanfaatan ilmiahnya. Akan tetapi, Gilbert Ryle telah menunjukkan terdapat sesuatu yang pretensius (pretentious) tentang pandangan ini mengenai filsafat ilmu sehingga para ilmuan memerlukan filsafat ilmu untuk menjelaskan kepada mereka makna dari konsep-konsep ilmiah.

Filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi, dan dalam hal ini kadang-kadang filsafat ilmu ditumbuhkan pengertiannya dengan metodologi. Jadi filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelidikan lainjutan. Akan tetapi, yang perlu untuk dipahami adalah bahwa filsafat ilmu itu pada dasarnya science of science.[4]

B. Objek Telaah Filsafat Ilmu

Ilmu pengetahuan selalu memperbarui diri seiring dengan perkembangan zaman, dan itu berlangsung menurut hukum kemajuan.[5] Sampai saat ini, ilmu dianggap masih dalam keadaan antara kurang dan lengkap, antara keliru dan benar, antara terpencar dan padu dan lain sebagainya. Sehingga tidaklah aneh dalam kaedah ilmu pengetahuan bila ia mengalami goyah setelah pasti atau roboh setelah diyakini.

Pada mulanya ilmu bersifat perkiraan kemudian meningkat menjadi menyakinkan. Para peneliti masih terus melakukan eksperimen-eksperimennya terhadap pelbagai kaidah ilmu pengetahuan, yang selama berabad-abad dianggap sebagai kebenaran yang tak perlu dipersoalkan lagi.[6] Para peneliti akan memulai usaha penelitian baru untuk menemukan kaedah-kaedah ilmu yang baru yang diharapkan akan menjadi hukum-hukum atau teori-teori yang akan berlaku di zaman yang akan datang.[7]

Pada masa yang lalu ilmu pengetahuan identik dengan filsafat, sehingga pembatasannya bergantung pada sistem filsafat yang dianutnya. Perkembangan filsafat dapat mengantarkan suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan itu tumbuh dengan subur serta bercabang dengan mekar. Selanjutnya masing-masing cabang melepaskan diri dari batas filsafatnya dan berkembang mandiri yang masing-masing mengikuti metodologinya sendiri.

Setelah dilakukan gerakan demitologisasi yang di pelopori para filusuf pra-socrates, filsafat dengan kemampuan rasionalitasnya setapak demi setapak telah mencapai puncak perkembangannya sebagaimana ditunjukkan melalui Socrates, Plato dan Aristoteles. Semenjak itu filsafat yang semula bercorak metologik berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai macam bidang. Hal tersebut terbukti dengan pernyataan Aristoteles bahwa filsafat sebagai semua kegiatan yang dapat dipertanggung jawabkan secara akaliah, dan membaginya menjadi ilmu pengetahuan Poietis (terapan), ilmu pengetahuan praktis (dalam arti normatif seperti etika, politik) dan ilmu pengetahuan teoritik. Ilmu pengetahuan inilah yang dianggap sebagai yang terpenting dan membaginya menjadi ilmu alam, ilmu pasti dan filsafat pertama yang selanjutnyanya dikenal sebagai metafisika.

Setelah refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian maka lahirlah cabang filsafat yang disebut sebagai filsafat pengetahuan, dimana komponen-komponen pendukungnya yakni logika, filsafat bahasa, matematika, dan metodologi. Dari cabang filsafat ini dijelaskan sumber dan sarana serta tata cara untuk menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Dalam konteks pengetahuan ilmiah ini, maka lahirlah cabang filsafat yang disebut filsafat ilmu sebagai penerusan atau pengembangan filsafat pengetahuan.

Objek Telaah filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu: pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua menelaah “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”.[8] Pokok bahasan yang pertama erat hubungannya dengan filsafat pengetahuan (epistemologi), yang secara umum menyelidiki syarat-syarat dan bentuk-bentuk pengetahuan manusia. Pada pokok bahasan kedua, terkait dengan cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah, filsafat ilmu berhubungan erat dengan logika serta metodologi, dan kadang-kadang pengertian filsafat ilmu ditumbuhkan dengan metodologi.

Filsafat ilmu dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1.  Filsafat ilmu umum, yang mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan antara ilmu dengan kenyataan, kesatuan, perjenjangan, susunan kenyataan, dan sebagainya.

2. Filsafat ilmu khusus, yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu, seperti dalam kelompok ilmu alam, kelompok ilmu masyarakat, kelompok ilmu tehnik dan sebagainya[9].

Filsafat ilmu dapat pula dikelompokkan berdasarkan model pendekatan, yaitu :

1.  Filsafat ilmu terapan, yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pikiran kefilsafatan yang melatarbelakangi pengetahuan normatif dunia ilmu. Pada kajian ini dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat. Jadi filsafat ilmu terapan tidak bertitik tolak dari dunia filsafat melainkan dari dunia ilmu. Dengan kata lain filsafat ilmu terapan merupakan deskripsi pengetahuan normatif. Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup :

a. Pengetahuan yang berupa pola pikir hakekat keilmuan.

b. Pengetahuan mengenai model praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir.

c. Pengetahuan mengenai berbagai sarana ilmiah.

d. Serangkaian nilai yang bersifat etis yang terkait dengan pola pikir dengan model praktek yang khusus, misalnya: etika profesi.

2. Filsafat ilmu murni, yaitu bentuk kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap materi kefilsafatan, membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatif yang baru. Bila filsafat ilmu terapan berangkat dari kajian filosof terhadap asumsi-asumsi dasar yang ada dalam ilmu, misalnya terkait dengan anggapan dasar tentang “realitas” dalam ilmu-ilmu khusus dan konsekuensinya pada pemahaman terhadap “realitas” secara keseluruhan.

Adapun mengenai bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Paling sedikit ada tiga aspek dari suatu filsafat ilmu: ontologis, epistemologis, dan akiologis.[10]

Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu. paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhirnya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang ada sebagaimana menifestasi kebenaran yang kita cari.

Berlainan dengan agama, atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berdasarkan obyek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, dimana obyek-obyek yang berbeda di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi kepada empiris.

Epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya.[11]

Epistemologi berusaha untuk memaparkan dan menjawab problem-problem yang muncul dalam area tertentu, misalnya: positivisme logis. Semua epistemologi meletakkan beberapa oposisi sebagai penyusun teori pengetahuan, tujuannya yaitu meletakkan yang memungkinkan bagi suatu pengetahuan.

Axiologi ilmu meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik-material.

Filsafat ilmu dalam perkembangannya juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap bukan saja kemanfaatan, tetapi juga arti maknanya terhadap kehidupan umat manusia.

Salah satu pertanyaan Einstein; mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?. Kalau kita mengkaji pertanyaan ini, maka masalahnya terletak dalam hakekat ilmu itu sendiri. Seperti dicanangkan oleh Francis Bacon berabad abad yang silam: Pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkah atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada orang yang menggunakan kekuasaan tersebut. Ilmu itu sendiri bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap.[12]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dari itu kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

-      Yang dimaksud filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelidikan lanjutan.

-      Objek Telaah filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu: pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua menelaah “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”.

Pengertian dan objek telaah filsafat yang ada di atas memberikan kita wawasan yang cukup luas sehingga membuat kita akan selalu berpikir untuk melanjutkan para filosof-filosof yang telah lalu.

DAFTAR PUSTAKA

Beerling dkk, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islam World, vol. 3 (New York: Oxford University Press, 1995), h. 328

Suriasumantri, S. Jujun, Ilmu dalam Perspektif. Cet. XIII, (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia 1997).

Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, Cet. V (Bandung: Mizan 1993).

Al-Aqqad, Mahmud, Abbas, Filsafat Al-Qur’an. Cet. II, (Jakarta: Pustaka Firdaus Tahun 1996).

Musa, Yusuf, Al-Qur’an dan Filsafat, Cet. I, (Jakarta: Bulan Bintang 1998).

I Setiawan, I Made Putrawan, Conny R, Semiawan, Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Cet. IV. (Bandung: Remaja Rosda Karya Tahun 1999).

Asmoro, Achmadi, Filsafat Umum, Cet. II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada tahun 1997).

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Cet. I (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta 2001)


[1]Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Cet.,I, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2001), h. 18.

[2]Acmadi Asmoro, Filsafat Umum, (Cet. II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 3.

[3]Ibid.

[4]Semiawan R. Conny, Putrawan Made, I dan Setiawan, I, TH., Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, (Cet. IV, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1999), h. 55.

[5]Abbas Mahmud Al-Aqqad, Filsafat Qur’an, (Cet. II, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1996), h. 11.

[6]Ibid.

[7]Yusuf Musa, Al-Qur’an dan Filsafat, (Cet. I, Jakarta : Bulan Bintang, 1988), h. 66.

[8] Yusuf Musa, Ibid, h.78

[9] Beerling dkk, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islam World, vol. 3 (New York: Oxford University Press, 1995), h. 328

[10]Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, (Cet. V, Bandung : Mizan, 1993), h. 32.

[11]Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Cet. XIII, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia 1997), h. 9.

[12]Jujun S. Suriasumantri, Ibid. h. 35.


ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

(Matarantai Peradaban yang Nyaris Terabaikan)

Oleh: SYEKHUDDIN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada, ilmu. Sebagaimana sudah diketahui, bahwa Nabi Muhammad saw. ketika diutus oleh Allah sebagai rasul, hidup dalam masyarakat yang terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang melekat pada, masyarakat Arab masa itu. Kemudian Islam datang menawarkan cahaya penerang, yang mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat yang berilmu dan beradab.

Kalau dilacak akar sejarahnya, pandangan Islam tentang pentingnya ilmu,tumbuh bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasulullah saw.menerima, wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkan kepadanya adalah “membaca”.[1]

Jibril memerintahkan Muhammad:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan” QS. al-’Alaq (96): 1[2]

Perintah ini tidak hanya sekali diucapkan Jibril tetapi berulang-ulang sampai Nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata iqra inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak.[3] Wahyu pertama, itu menghendaki umat Islam untuk senantiasa membaca dengan dilandasi bismi Rabbik, dalam arti hasil bacaan itu nantinya dapat bermanfaat untuk kemanusiaan.

Selanjutnya, ada juga. ayat lain yang menyatakan:

“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya (hanya) orang-orang yang berakallah yang dapat menerima. pelaiaran” QS. (al-Zumar (39): 9[4]

Selain ayat-ayat tersebut di atas, ada juga hadis Rasulullah yang menekankan wajibnya mencari ilmu, antara lain: “Menuntut Ilmu wajib atas tiap-tiap muslim”(11R. Ibnu ‘Abdil Bar.Dari Anas)[5]

Dengan demikian, Alquran dan Hadis kemudian dijadikan sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh urnat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua  sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu-ilmu. Peran itu adalah:

Pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum Muslimin terdapat dalam Alquran. Dan sejauh pemahaman terhadap Alquran, terdapat pula penafsiran.,yang bersifat esoteris terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara lebih mendalarn, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu.

Kedua, Alquran dan Hadis menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan menuntut ihnu; pencarian ilmu dalam segi apa pun pada akhirnya akan bermuara pada penegasan Tauhid. Karena itu, seluruh metafisika dan kosmologi yang lahir dari kandungan Alquran dan Sunnah merupakan dasar pernbangunan dan pengembangan ilmu Islam. Singkatnya, Alqur’an dan Sunnah menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktivifas intelektual dalarn konformitas.[6]

Dengan semangat Islam yang besar menuntut ilmu, menjadikan kaum muslim memburu ilmu-ilmu pengetahuan dan berbagai negara dan peradaban dunia diantaranya ilmu pengetahuan Yunani dan India, namun bukan berarti ilmu pengetahuan Islam belum bekembang sebelum pengadopsian ilmu dari dunia luar. Setelah berinteraksi ilmu islam dengan ilmu pengetahuan yang lain maka munculah ilmuwan-ilmuwan baru dari kalangan kaum muslim. seperd Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan yang lainnya. Seiring dengan perkembangan ilmu penetahuan dan munculnya ilmuwan menjadikan peradaban Islam menjadi pusat peradaban terutama, di masa pemerintahan Daulah Umaiyah, Abbasiyah, dan Fatimiyah. Peradaban inilah yang menjadi cikal bakal perkembangan renaisans di dunia barat.

B. Rumusan Masalah

Untuk memudahkan pemahaman kita, maka, penulis merumuskan beberapa, permasalahan sebagai berikut ini:

1. Bagaimana sejarah sainpainya ilmu dan filsafat Yunani ke dunia Islam?

2. Bagaimana perkembangan ihnu pada masa Islam klasik?

3. Bagaimana perkembangan iltnu pada masa kejayaan Islam?

4. Bagaimana masa keruntuhan tradisi keilmuan dalarn Islam?

5. Bagaimana peralihan ilmu ke dunia Barat?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Penyampaian Ilmu dan Filsafat Yunani ke Dunia Islam

Pengalihan pengetahuan ilmiah dan Filsafat Yunani ke dunia Islam, dan penyempian serta pengintegrasian. pengetahuan itu oleh umat Islam, merupakan sebuah catatan sejarah yang unik. Dalam sejarah peradaban manusia, amat jarang ditemukan suatu kebudayaan asing dapat diterima sedemikian rupa oleh kebudayaan lain, yang kemudian menjadikannya landasan bagi perkembangan intelektual dan pemahaman filosofisnya.[7]

Dalam perjalanan ilmu dan juga filsafat di dunia, Islam, pada dasamya. terdapat upaya rekonsiliasi dalam arti mendekatkan dan mempertemukan dua pandangan yang berbeda, bahkan seringkali ekstrim antara pandangan filsafat Yunani, seperti filsafat Plato dan Aristoteles, dengan pandangan keagamaan dalam Islam yang seringkah menimbulkan benturan-benturan. Sebagai contoh kongkret dapat disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar pada mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab eklektisisme. Al-Farabi, alam hal ini, memiliki sikap yang jeias karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokoh-tokoh filsafat harus bersepakat di antara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran. Bahkan bisa dikatakan para filosof Muslim mulai dari Al-Kindi sarnpai Ibn Rusyd terlibat dalam upaya rekonsiliasi tersebut, dengan cara mengemukakan pandangan-pandangan yang relatif baru dan menarik. Usaha-usaha mereka pada gilirannya menjadi alat dalam penyebaran filsafat dan penetrasinya ke dalam studi-studi keislaman lainnya, dan tak diragukan,lagi upaya rekonsiliasi oleh para filosof Muslim ini menghasilkan aktivitas dan ikatan yang kuat antara. filsafat Arab dan filsafat Yunani.[8]

Selanjutnya, ketika berbicara tentang proses penyampaian ilmu. dan filsafat Yunani ke dunia Islam, kita harus melihat sisi lain yang juga. menunjang keberhasilan Islam dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sisi lain itu adalah aktivitas pentejermahan. Menurut C. A. Qadir, proses penterjemahan penafsiran buku buku Yunani di negeri-negeri Arab dimulai jauh sebelum lahirnya agama. Islam atau penaklukan Timur Dekat oleh bangsa Arab pada tahun 641 M.[9] Jauh sebelurn umat Islam dapat menaklukkan daerah-daerah di Timur Dekat, pada saat itu Suriah merupakan tempat bertemunya dua kekuasaan dunia, Romawi dan Persia. Atas dasar itu, bangsa Suriah disebut-sebut memainkan peran penting dalam penyebaran kebudayaan Yunani ke Timur dan Barat. Di kalahgan umat Kristen Suriah, terutama kaum Nestorian, ihnu pengetahuan Yunani dipelajari dan disebarluaskan melalui sekolah-sekolah mereka. Walaupun tujuan utama sekolah-sekolah tersebut menyebarluaskan pengetahuan Injil, namun pengetahuan ilmiah, seperti kedokteran, banyak diminati oleh para pelajar. Sayangnya, pihak gereja memandang ilmu kedokteran itu sebagai ihnu sekular dan dengan demikian posisinya lebih rendah dari pada ilmu pengobatan spiritual yang merupakan hak istimewa para pendeta.[10]

Selain itu, pada masa. ini juga didapati pusat-pusat ilmu pengetahuan seperti Ariokh, Ephesus, clan Iskandariah, di mana. buku-buku Yunani Purba masih dibaca dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, terutama Siriani, bahkan setelah pusat-pusat itu ditaklukkan oleh umat Islam, pengaruh pemikiran Yunani tetap mendalam dan meluas. Pada masa ini juga didapati seorang tokoh Kristen bernama Nestorius, yang melakukan dekontruksi atas pemaharnan teologi kalangan Kristen konservatif ortodoks, setelah ia terpengaruh oleh alam pikiran Yunani tersebut. Ia bersama pengikutnya kemudian hijrah ke Suriah dan melanjutkan kegiatan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Kegiatan ini pada gilirannya menghasilkan terjemahan karya filosof Yunam seperh Phorphyrius, di antaranya adalah Isagoge, Categories, Hermeneutica, dan Analytica Priori. Pusat-pusat ilmu pengetahuan yang dipimpin oleh umat Kristen ini, terus berkembang dengan bebasnya sampai mereka berada di bawah kekuasaan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual, tetapi juga membuktikan. kecintaan umat Islam terhadap ihnu pengetahuan dan sikap hormat mereka kepada ilmuwan, tanpa memandang agama mereka.[11]

B. Perkembangan Ilmu pada Masa Islam Klasik

Sebagaimaha telah disinggung di atas bahwa pentingnya ilmu pengetahuan sangat ditekankan oleh Islam sejak awal, mulai masa Nabi sampai dengan Khulafa al-Rasyidun, pertumbuhan dan perkembangan ilmu berkembang dengan pesat seiring dengan tantangan zaman.

Di masa Rasululah dan khulafaurrasiyidin ilmu pengetahuan peradaban berkembang, di berbagai bidang seperti pemerintahan, perindusrtian, ekonomi (transaksi/ Muarnalah), pendidikan, kesehatan dan lain-lain Raulullah di masa pernerintahan beliaulah kepala negara dari Daulah Islam yang berpusat di madinah. Dan setelah Beliau yaitu di masa sahabat berlaku system ke khilafahan. Sistem. pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan alam semesta adalah sistem. Khilafah. Di dalam sistem Khilafah inilah Khalifah diangkat metalui bailat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Raulullah untuk memerintah sesuai dangan wahyu Allah yang turunkan. [12]

Karena itu, putuskanlah perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan … QS. al-Maidah(5): 48

Sesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakanpya dan berlindunga kepadanya.(H.R. Muslim).

System Khilafah ini berbeda, dari system pernerintahan lainnya, system ini bukanlah system kemjaan, system kekaisaran, federasi, ataupun republick. Sesungguhnya struktur negara Khilafah berbeda dengan struktur semua sistern yang dikenal di dunia saat ini, meski ada kerniripan dalam sebagian penwnpakannya. Sumktur negara Khilafah diambil (ditetapkan) dari struktur negara yang ditegakkan oleh Rasulultah saw. di Madinah setelah Beliau hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam di sana. Sftuktur negara Khilafah adalah sbuktur yang telah dijalankan oleh Yhulafaur Rasyidin setelah Fmulullah saw. wafat.[13]

Dengan penelitian dan pendalarnan terhadap nash-nash yang berkaitan dengan suuktur negara itu, jelaslah bahwa sftuktur negara Khilafah dalmn bidang pernerintahan clan administrasinya adalah sebagai berikut: I . Khalifah, 2. Para Mu’6win at-Tafwfdh (Wuzard’ at-Tafwfdh), 3. Wuzard’at-Tanfidz, 4. Para Wali, 5. Amir al-Jihdd, 6.Keamanan Dalarn Negeri, 7. Urusan Luar Negeri, 8. Industri, 9. Peradilan, 10. Mashdlih an-Nds (Kernaslahatan Urnum) 11. Baitul Mal, 12. Lembaga. Informasi, 13. Majelis Umat (SyUra dan MuhaSabah).[14]

Rasulullah saw. pernah memerintahakan pendirian industri manjaniq(senjata pelontar) dan dababah (semacam tank dati kayu). Al-Baihaqi telah menyebutkan riwayat dalarn Sunan al-Baihaqi dari Abu Ubaidah ra. Yana berkata: ” Kernudian Rasulullah saw. Mengepung penduduk Thaif dan menggempurnya. dengan manjaniq selarna, 15 hari…”[15] hal ini menenclakan perkembangan ilmu. di bidang industri terutarna, masalah persenjataan. Hal ini berdasar pada firman Allah SWT.:

Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi… Qs. al-Anfal(8): 60

Dalam masalah pendidikan , Rasulullah saw. menetapkan tebusan orang-orang kafir yang menjadi tawanan perang Badar dengan mengajari 10 orang anak-anak kaum Muslim(membaca dan menulis). Hal ini menggantikan harta tebusan yang termasuk ghanimah dan menjadi milik kaum Muslim.[16] Dan sebagimana, diketahui bersama bahwa Al-Qur’an dan Sunnalah sebagai sumber ilmu, dan tidak hanya itu pun Al-Qur’an dapat juga menjadi obat bagi penyakit fisik atau psikis. Dalam al-Qur’an di jelaskan bahwa madu juga merupakan obat yang paling bagus. Dalam hadits-hadits Rasulullah saw. Menjelaskan tentang habba saudah yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit kecuali maut, larangan mencapur makanan yang manis dan asin yang menjadi sumber penyakit, anjuran makan makanan yang halal lagi baik, makan bila lapar dan berhenti sebelum kenyang, anjuran menutup wadah air di malam hari karena Allah menurunkan penyakit pada malam haridan masih banyak yang lainya.

Dalam riwayat menurut Wadiyah Ibn Atha: “di madinah terdapatiga oang guru yang mengajar anak-anak, khalifah Umar memberikan nafkah kepada tiaptiap mereka lima belas dinar setiap bulan (63,75 g emas).” Dana ini diambil dari Baitul Mal (kas Negara. Demilianlag bukti atas perhatian para sahabat erhadap ilmu pengetahuan.[17]

Demikianlah sekelumit ilmu. pengetahuan di masa Rasulullah dan sahabat yang nyaris atau bahkan ingin dihapus, dari sejarah oleh sebagian para sejarawan yang tidak senang kepada Islam. Menjadikan kaum intelektual Muslim kekinian lebih mengenal peradaban duma barat karena adanya kebohongan dalam penulisan seJarah, di sampmg sebagian kaurn Muslim tidak tahu akan sejarah peraclabannya sendiri juga ada yang lebih bangga mempelajari i1mu dan peradaban barat dan merasa malu ketika mempelajari ilmu dan peradaban Islam, yang sebenarnya dijadikan inspirasi bagi ilmuwan Barat meraih kegemilangan ilmu penetahuannya yang diawali dengan masa Renaissan.

Selanjutnya, satu hal yang patut dicatat dalam kaitannya dengan., perkembangan ilmu dalam Islam adalah peristiwa Fitnah al-Kubra, yang ternyata tidak hanya membawa konsekuensi logis dari segi politis seperti yang dipahami selarna ini tapi ternyata juga membawa perubahan besar bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu di dunia. Islam. Pasca tedadinya Fitnah al-Kubra, muncul berbagai golongan yang memiliki aliran teologis tersendiri yang pada dasarnya berkembang karena alasan-alasan politis. Pada saat itu muncul aliran Syi’ah Yang membela, Ali, aliran Khawarij, dan kelompok Muawiyah. Namun, di luar konflik yang muncul pada saat itu, seJarah mencatat dua orang tokoh besar yang tidak ikut terlibat dalam. perdebatan teologis yang cenderung mengkafirkan satu sama lain, tetapi justru mencurahkan perhatiannya pada bidang ilmu agama. Kedua tokoh itu. adalah Abdullah Ibn Umar dan Abdullah Ibn Abbas. Yang disebut pertama Mencurahkan perhatiannya dalam bidang ilmu hadis, sementira yang disebut belakangan lebih berorientasi pada ilmu tafsir. Keduatokoh ini sering disebut sebagai pelopor turnbuhnya institusi keulamaan dalam Islam, sekaligus, berarti pelopor kaj ian mendalam dan sistematis tentang agama Islam. Mereka juga sering disebut seb11moyang” golongan Sunni atau Ahl-al-Sunnah wa ab Jama’ah.[18]

Seperti sudah disinggung di atas, pasca Fitnah al-Kubra bermunculan berbagai aliran politik dan teologi,. Dari sini kemudian dapat dikatakan bahwa sejak awal Islam kajian kajian dalam bidang teologi sudah berkembang meskipun masih berbentuk embrio. Embrio inilah Yang pada masa kemudian menemukan bentuknya yang lebih sisternatis dalam. Kajian-kajian teologis dalam Islam.[19] Sebagai contoh, persoalan tentang hukurn orang Yang berdosa besar; apakah mu!min atau kafir, msalah kebebasan atau ketidakbebasan manusia dalam menentukan perbuatannya, sudah diwakili sejak dini Perdebatan antara kalangan Mu!tazilah dan Khawarij. Dari sini tampaknya, seperd ditulis Nasution,[20] peranan akal dalam pergulatan pemikiran clan keilmuan dalarn tradisi Islam dimulai.

Tahap penting berikutnya dalam proses perkernbangan dan tradisi keilmuan Islam ialah masuknya unsur-unsur dari luar ke dalam Islam, khususnya unsur-unsur budaya Perso-Semitik (Zoroastrianisme- khususnya Mazdaisme, serta Yahudi dan Kristen) dan budaya Hellenisme. Yang disebut belakangan mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Islam ibarat pisau bermata. dua. Satu sisi ia mendukung Jabariyah (antara lain oleh Jahm Ibn’ Safwan), sedang di sisi lain ia mendukung Qadariyah (antara lain Washil Ibn Atha’ tokoh dan pendiri Mu’tazilah). Dari adanya pandangan yang dikotomis antara keduanya kemudian muncul. usaha menengahi dengan menggunakan argurnen-argumen Hellenisme, terutama filsafat Aristoteles. Sikap menengahi itu terutarna dilakukan oleh Abu At-Hasan AI-Asy’ari, dan Al-Maturidi yang juga menggunakan unsur Hellenisme.[21]

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik sebuah hipotesis sementara bahwa pada awal Islam pengaruh Hellenisme dan juga filsafat Yunani Terhadap tradisi keilmuan Islam sudah semakin kental, sehingga pada saat selanjutnya pengaruh itu pun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa berikutnya.

C. Perkembangan Ilmu pada Masa Kejayaan Islam

Pada masa kejayaan kekuasaan Islam, khususnya pada masa pernerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, Ilmu berkembang sangat maju dan pesat. Kemajuan ini membawa, Islam pada masa keemasannya, di mana pada saat yang sama wilayah-wilayah yang jauh di luar kekuasaan Islam masih berada pada masa kegelapan peradaban (Dark Age).

Dalam. sejarah Islam, kita mengenal nama-nama seperti Al-Mansur, Al-Ma!mun, dan Harun Ar-Rasyid, yang memberikan perhatian teramat besar bagi perkembangan ilmu. di dunia Islam. Pada masa pernerintahan Al-Mansur, misaInya, proses penerjemahan karya-karya filosof Yunani ke dalam bahasa Arab bez*an dengah pesat. Dikabarkan bahwa Al-Mansur telah memerintahkan pene~emahan naskah-naskah Yunani mengenai filsafat dan ilmu, dengan memberikan imbalan yang besar kepada para ahli bahasa (penedemah). Pada masa Harun AI-Rasyid (786-809) proses pene~emahan itu juga masih terus berlangsung. Harun memerintahkan,.Yuhanna. (Yahya) Ibn Masawayh (w. 857), seorang dokter Istana, untuk mene~emahkan buku-buku kuno mengenai kedokteran. Di masa, itu juga dite~emahkan karya-karya dalam bidang astronomi, seperti Siddhanta; sebuah risalah India yang dite~ernahkan oleh Muhammad Ibn Ibrahim al-Fazari (w.. 806).  [22] Pada masa selanjutnya oleh al Khawarizmi. Siddhanta ini dibuat versi baru te~emahannya dan diberikan komentar-komentar.[23] Selain itu juga ada Quadripartitus karya Purdemy, dan karya-karya bidang astrologi yang dite~emahkan oleh satu tim sarjana.[24]

Perkembangan ilmu selanjutnya berada pada masa pemerintahan AI-Ma!mun (813-833). la adalah seorang pengikut Mu!tazilah dan seorang rasionalis yang berusaha memaksakan pandangannya kepada rakyat melalui mekanisme negara. Walaupun begitu, ia telah berjasa besar dalam. mengembangkan ilmu di dunia Islam dengan membangun Bait al-Hikmah, yang terdiri dari sebuah perpustakaan, sebuah observatorium, dan sebuah departemen pene~emahan. Orang terpenting di Bait al-Hikmah adalah Hunain, seorang murid, Masawayh, yang telah berjasa menerjemahkan buku-buku Plato, Aristoteles, Galenus, Appolonuis, dan Archimedes. Selanjutnya pada pertengahan abad ke-10 muncul dua penerjemah terkemuka yaitu Yahya Ibn A’di,(w. 974), dan Abu Ali Isa Ibn Ishaq Ibn Zera (w. 1008). Yahya banyak mernperbaiki terjemahan dan menulis komentar mengenai karya-karya Aristoteles, seperti Categories, Sophist, Poetics, Metaphysics, dan karya Plato seperti Timaesus dan Laws. Yahya juga dikenal sebagai ahli logika dan menedemahkan The Prolegorpena of Ammonius dan sebuah kata  pengantar untuk Isagoge-nya Pophyrius.[25]

Selanjutnya, pada masa kejayaan ini, terdapat, juga tokoh- tokoh filsafat yang bergelut secara serius dalam. kajian-kajian di luar filsafat. Hal im bisa dipahami karena adanya kenyataan bahwa mereka menganggap ilmu-ilmu rasional sebagai bagian filsafat. Atas dasar inilah mereka memperlakukan persoalan persoalan fisika sebagaimana mereka memperlakukan masalah masalah yang bersifat metafisik. Salah satul bukti nyata dan mi adalah kitab al-Syifa, sebuah ensiklopedi filsafat Arab yang terbesar, yang berisi empat bagian. Bagian I mengenai logika, bagian II tentang fisika, bagian III tentang matematika, dan bagian IV membahas metafisika. Dalam bagian fisika, Ibn Sina ihnu-ihnu psikologi, zoologi, geologi, dan botani, dan pada bagian  maternatika ia membahas geometri, ilmu hitung, astronomi, dan musik.[26]

Selain tokoh di atas, kita juga mengenal Al-Kindi, seorang ilmuan yang lebih sering disebut saintis ketimbang filosof, yang berminat besar dalam bidang matematika dan fisika. la bahkan pemah berpendapat bahwa seseorang mungkin dapat menjadi filosof sebelum mempelajari filsafat. Tokoh lainnya adalah Al-Farabi yang mengadakan penelitian dalam bidang geometri dan mekanika, dan ia juga adalah seorang musikus muslim yang terbesar. Salah satu karyanya dalam bidang musik adalah Kitab al-Musiqi al-Kabir. Kemudian kita mengenal Ibn Bajah, Ibn Tufail, dan Ibn Ruslid, yang hidup di Andalusia dan bergelut secara intensif dalam bidang kedokteran. Ibn Rusyd, misalnya, mengarang al-Kulliyat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada pertengahan abad ke-13 M. Selanjutnya ada Muhammad Ibnu Zakaria AI-Razi, dokter terbesar dalam Islam, bahkan di seluruh masa Abad Pertengahan. la terkenal karena orisinalitasnya dan pandangannya yang jernih dan kemampuannya menemukan jenis-jenis penyakit yang belum dikenal sebelumnya. Kitabnya yang berjudul al-Hawi adalah kitab yang paling terkemuka di antara karya-karya kedokteran Arab yang diambill manfaatnya oleh orang-orang Latin.[27]

Sederetan nama yang penulis sebutkan di atas, hanya sebagian kecil saja dari para saintis dan juga filosof Muslim yang memberikan sumbangan tak ternilai. bagi kemajuan ilmu. Selain mereka tentu masih banyak tokoh-tokoh lain yang karena alasan pembatasan pembabasan, tiak dapat penulis sebutkan satu persatu. Selain adanya perkembangan ilmu yang dapat dikategorikan ke dalam bidang eksakta, matematika, fisika, kimia, geometri, dan lain sebagainya, sejarah juga mencatat kemajuan ilmu-ihnu keislaman, baik dalam bidang tafsir, hadis, fiqih, ushul fiqih, dan disiplin ihnu keislarnan yang lain. Perkembangan ilmu taffir dan’ulum Alquran belum menemukan bentuknya yang konkret sampai dengan abad ke-3 H.[28]

Dalam bidang hadis, perkembangan Ilmu hadis dimulai sejak Imam Syafi’i menyusun kitabnya. yang bernama ar-Risalah. Kitab ini mernuat problematika sanad dan rn-atan hadis, walaupun fidak demikian terperinci seperti y-ang dikemukakan oleh para ulama sesudahnya. Pada perkembangan selanjutnya ilmu hadis semakin dipertuas pembabasannya deengan mengambil dua bentuk., Pertama, ilmu. riwayah yattu suatu ilmu untuk mengetahu sabda, perbuatan, pengakuan dan Isifat Nabi Saw. dari segi ketepatan, pengutipan, peinbukuan, dan penieliharan penwayatan. Kedua, ilmu dirayah, yaitu ilmu yang membahas sanad dan matan dan segi diterima atau ditolaknya.suatu hadis, sehingga melahirkan kaidah yang berkaitan dengannya. Kitab yang berkaitan secara khusus dengan ilmu hadis muncul pada akhir abad ke-3, di antaranya kitab al-Muhaddis al-Fasil bain arRawi wa al-Way karya ArRa-mahurmuzi. Kemudian pada abad, ke-4 menyusul. Al-Hakim An-Naisabun dengan karyanya Ma’rifah al-Num al-Hadis. Menyusul kemudian Al-Baghdadi derigan kitabnya al-Kifayahfi fim ar-Riwayah, pada, abad ke-5. iftnu hadis terus berkembang hingga mencapai puncaknya pada abad ke-7dengan munculnya kitab Muqaddimah ibn Salahfi Num al-Hadis, karya Ibn Shalah.[29]

Selain dalam bidang Alquran dan Hadis, ilmu fiqih dan ushul fiqih telah mengalami perjalanan panjang hingga tabentuk seperti sekarang ini.. Fiqih menjadi sebuah disiplin ilmu dengan mengalami beberapa tahapan. Pertama, tahap pembentukan pada masa, Rasulullah, Khulafa al-Rasyidun, hmgga paruh . pertarna abad ke- I H. Kedua, tahap pernbentukan fiqih yang dimulai pada paruh perUma abad ke-1 H hingga decade awal abad ke-2 H. Pada tahap ini fiqih telah berbentuk mazhab.

Ketiga, tahap pematangan bentuk yang dimulai sejak decade awal abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-4 H. Pada masa ini ijtihad fiqih dikodifikasi dan. dilengkapi dengan ilmu ushul fiqih. Hal ini dapat terjadi atas perhatian  yang diberikan Khalifa dalam pengembangan Ilmu pengetahuan. Sejak abad IV H. para Khalifah membangun berbagai perguruan tinggi yang dilengkapi dengan “iwan” (auditorium), asram mahasiswa, juga perumahan dosen dan ulama. Sealin itu pergurua tunggi tersebut juga dilengkapi taman-taman rekreasi, kamar mandi. Dapur, dan ruang makan.[30]

Dalam sejarahnya yang sangat panjang Khilafah Islam tidak pernah mengadakan suatu ujian dalam lembaga-lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Yang ada hanyalah ide pemberian “ijazah” sebagai pengganti dari ujian-ujian. apabila ada seorang siswa yang telah bertahun-tahun menekuni suatu ilmu, dan telah nampak penguasaannya atas ilmu tersebut, maka disebarkan pemberitahuan kepada siswa-siswa dan dewan guru. kcmudian diselenggarakan suatu sidang yang dihadiri oleh para ulama dan ilmuwan. Dalam sidang itu siswa yang telah Menyelesaikan suatu mata pelajaran tertentu atau suatu kitab tertentu ditanyai mengenai ilmu yang ia tekuni. Apabila terlihat tanda kecakapan dan keistimewaan pada dirinya, ia diberikan hakhak yang membolehkannya melakukan perbuatan-perbuatan: (1) Mengajarkan ilmunya; (2) Meriwayatkan hadits Rasulullah SAW yang berasal dari guru-gurunya; (3) Rerfatwa; (4) Mengobati penyakit, bila ia sudah menguasai ilmu kedokteran; (5) Meracik obat-obatan; dan lain-lainnya sesuai dengan kepandaiannya.[31]

Teknik munadborob (diskusi) atau ujian lisan mengenai suatu ilmu, seperti misalnya ilmu falak, syari’at, bahasa, dan lain-lain  merupakan teknik yang paling sesuai untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami pengetahuan yang ia pe-lajari. Sedangkan sistem ujian tulis akan mematikan daya cita dan kreatifitas siswa, dan pengadaan ujian tulis akan mendorong masyarakat hanya mengarahkan cita-citanya untuk mendapatkan predikat atau titel saja tanpa dilihat kemampuannya dalam mengajar, beijtihad, berfatwa, dan berkreasi.[32]

Keempat, adalah tahap kemunduran fiqih yang ditandai oleh jatuhnya Baghdad ke bangsa Tartar dan tertutupnya pintu ijtihad oleh para ulama.seingga tidak ada yang mampu menggali hukum terhadap fenomena yang berkembang di kemudian hari. Sehinga setiap yang baru yang datangnya dari barat dianggap tidak layak diambil oleh ummat Islam.

D. Masa Keruntuhan Tradisi Keilmuan dalam Islam

Abad, ke-18 dalam sejarah Islam adalah abad yang paling menyedihkan bagi umat Islam dan memperoleh catatan buruk bagi peradaban Islam secara, universal. Sepertl yang diungkapkan oleh Lothrop Stoddard, bahwa menjelang abad ke-18, dunia Islam teiah merosot ke.tingkat yang terendah. Islam tampaknya sudah mati, dan yang tertinggal hanyalah cangkangnya yang kering kerontang berupa ritual tanpa j iwa dan takhayul yang merendahkan martabat umatnya. Ia, menyatakan seandainya Muhammad bisa kembali hidup, dia pasti akan mengutuk para pengikutnya: sebagai kaum murtad dan, musyrik.[33]

Pemyataan Stoddard di atas menggambarkan begitu dahsyatnya proses kejatuhan peradaban dan tradisi keilmuan Islam yang kenfudian menjadikan umat Islam sebagai bangsa yang dijajah oleh bangsa-bangsa Barat. Runtuhnya bangunan tradisi keilmuan Islam secara garis besar dapat diterangkan karena adanya sebab-sebab berikut.[34]alarn bukunya, The Reconstruction of . Religious Thought. in Islam lqbal meny atakan bahwa, salah satu penyebab utama kematian semangat ilmiah di kalangan umat Islam adalah diterimanya paham Yunani mengenai realitas yang pada pokoknya bersifat statis, sementara jiwa Islam adalah difiamis dan berkembang. Ia. Selanjutnya mengungkapkan bahwa semua aliran pemikiran Muslim bertemu dalarn suatu teori Ibn Miskawaih mengenai kehidupan sebagai suatu gerakan evolusi dan pandangan Ibn Khaldun mengenai sejarah.[35]

Jika asumsi lqbal di atas bisa diterima, tepat apa yang dilukiskan oleh Amin Abdullah tentang sifat kedinamisan ilmu. ketika ia menyatakan menurut telaah filsafat ilmu, hampir semua jenis kegiatan ilmu, baik natural sciences maupun social sciences, bahkan religious sciences, selalu mengalami apa yang disebut.dengan shifting paradigm (pergeseran gugusan pernikiran keilmuan). Kegiatan ilmu selamanya bersifat historis, lantaran dibangun, dirancang, dan dirumuskan oleh akal budi manusia yang juga bersifat historis. Yang dimaksud bersifat historis adalah terikat ruang dan waktu, terpengaruh oleh perkembangan pemikiran dan perkembangan kehidupan social Yang mengitari penggal waktu ternentu. Dengan begitu, sangat dimungkinkan terjadinya perubahan, pergeseran, perbaikan, perumusan kembali, nasikh dan mansukh, serta rancang bangun epistemologi keilmuan.

Jika tidak demikian, maka. kegiatan keilmuan akan mandeg dengan sendirinya alias statis.[36] Sebab lain Yang menyebabkan kehancuran tradisi keilmuan Islam adalah persepsi yang keliru dalam memahami pemikiran Al-Ghazali. Orang umumnya mengecam AI-Ghazali karena ia menolak filsafat seperti yang ia tulis dalarn Tahafu t al- Falasifahnya. Padahal ia sebenamya menawarkan sebuah metode yang ilmiah dan rasional, dan juga menekankan pentingnya pengamatan dan analisis, serta sifat skeptis.Hal ini misalnya ia tuangkan dalarn karyanya berjudul al-Munqidz min sl-Dalal. Selain itu umat Islam.juga tidak memperhatikan karya Ibn Rusyhd (Tahafut al-Tahafut), , yang membela Aristotehanisme dan mengecam kritik.Al-Ghazali kepada filsafat. Seandainya orang mau meluangkan waktunya untuk mengkaji karya Ibn Rushd itu, barangkali kemerosotan rasional di kalangan umat Islam tidak akan separah sekarang ini.

Fiqih merupakan ilmu pertama yang dikembangkan oleh ummat  Islam. Keempat sumbernya yang utarna yaitu Alquran, Sunnah, ljma’ dan Qiyas, merupakan sumber hukum yang tetap. Namun karena sifatnya yan tetap itulah kaum Muslim harus menggunakan metode deduktif untuk sampai kepada keputusan mengenai masalah-masalah khusus, dan pada saat yang sama metode induktif kehilangah semangatnya. Di masa dekadensi, kegiatan intelektual sedang mencapai titiknya yang terendah, tidaklah mengherankan jika orang kemudian. menjadi bersikap dogmatis dan taklid secara membuta.[37]

Para penguasa seringkali merasa takut dengan tersebar luasnya peodidikan, dan pengetahuan di kalangan massa yang dapat menggerogoti kekuasaan mereka yang mutlak. Munculnya orang-.orang yang pandai dan terampil,menyebabkan Ionggamya pengaruh golongan elit feodal dan keagamaan. Dengan membuka kesempatan, baru bagi masyarakat dan menawarkan cara yang baru sama sekali untuk memperoleh pengaruh melalul pengetahuan dan bukan melalui pewarisan, maka penyebarluasan ilmu dan teknologi menadikan dasar kekuasaan golongan yang mempunyai hak-hak istimewa. Selain sebab-sebab di atas, -kesulitan-kdsulitan ijtihad dan mistisisme asketik Juga merupakan faktor Yang menyebabkan kemunduran tradisi. intelektual dan keilmuan di dunia Islam. [38]

Menurut Abdul Qadim Zallum sebab sebab kemerosotan Ummat Islam beberapa hal diantaranya yang paling menonjol:

(1) Transfer filsafat-filsafat India, Persia dan Yunani, serta adanya upaya sebagian kaurn muslimin untuk mengkompromikannya dengan Islam, walaupun terdapat perbedaan mendasar diantara keduanya.

(2) Adanya manipulasi ajaran Islam oleh orang-orang yang membenci Islam. Baik berupa ide-ide atau hukum hukum yang sebenarnya tidak bersumber dari Islam, dengan tujuan merusak citra Islam dan menjauhkan kaum muslimin dari Islam.

(3) Diabaikannya bahasa Arab dalarn memahami dan melaksanakan ajaran Islam, disusul kemudian dengan dipisahkannya dari Islam pada abad ketujuh Hijriyah..Padahal agama Islam tidak mungkin dapat dipahami tanpa bahasa Arab. Seperti misalnya dalam pengambilan hukum-hukum baru pada berbagai peristiwa yang berkembang, yang dilakukan dengan jalan ijtihad; ini tidak akan dapat dilakukan, tanpa menggunakan bahasa Arab.

(4) Serangan gelombang missionaris, dan serangan (orientalis) dalam bidang kebudayaan, menyusul serangan secara politis (yang mendominasi dunia Islam) dari negara negara kafir Barat, sejak abad ke-17 Masehi, dengan tujuan mengalihkan pandangan dan menjauhkan kaum muslimin dari Islam, yang pada akhimya untuk menghancurkan Islam.[39]

E. Beralihnya Ilmu Pengetahuan ke Dunia Barat

Masih berkaitan dengan era kejayaan keilmuan Islam, perlu juga disinggung secara sepintas tentang transformasi. ilmu dan duma Islam ke Barat. Terjadinya transformasi kebudayaan dan khususnya ilmu dari dunia Islam ke Barat disebabkan paling tidak oleh dua alasan. Pertama, kontak pribadi.. Setelah penalukan Arab atas Persia, Syam dan Mesir, orang orang Kristen di Timur mengadakan kontak dengan orang-orang Islam. Mereka hidup bersama dan menikmati toleransi agama yang besar. Mereka juga mengikuti kegiatan intelektual dan kebudayaan kaum Muslim yang mempunyai dokter-dokter, kimiawan, matematikus, dan para ahli astronom yang memberikan sumbangan khusus dalam  penerjemahan warisan Yunani ke dalarn bahasa Arab.[40]

Terjadinya  peralihan ilmu pengetahuan dari Islam ke dunia Barat  dapa dilahat dari beberapa factor berikut ini :

adanya pelajar-pelajar barat yang belajar di duinia Islam,seperti  yang dilakukan oleh Raja Inggeris mengirim keluarganya untuk belajar di Negara Khilafah, seperti yang tampak dalam surat dari George II, Raja Inggeris, Swedia, Norwegia, kepada Khilafah Hisyam III diAdalusia Spanyol, kutipan surat tersebut antara lain:

“ Kami mengharap anak-anak kami bisa menimba kagungan yangideal ini agar kelak menjadi cikal bakal kebaikan untuk mewaisi peninggalan yang Mulia  guna memberi cahaya ilmu di negeri kami, yang masih diliputi kebodohan dari brbagai penjuru dunia.”[41]

Terjadinya kontak pribadi ini juga disebabkan karena.Byzantium secara geografis berdekatan dengan Dunia Islam. Dari sinilah kemudian gagasan-gagasan Barat masuk ke Dunia Islam dan uniknya gagasan-gagasan dari Dunia Islam masuk ke Barat, khususnya sesudah Perang Salib. Alasan yang lain, adanya kegiatan penerjemahan. Tidak dapat dipungkiri kebudayaan Islamlah yang mendorong orang-orang Latin melakukan penerjemahan. Setelah mengenal sebagian khazanah kebudayaan Islam mereka lalu. memperkaya pengetahuan mereka tentangnya. Mereka pernah mencoba menterjemahkan Alquran pada abad ke-10 Masehi. Namun, gerakan penterjemahan, yang sesungguhnya baru bermula pada abad ke-12. Toledo dan Palermo adalah dua pusat penerjemahan tersebar saat itu yang banyak mengoleksi sumber-sumber Arab berkat perantaraan orang Yahudi dan hubungan mereka dengan orangorang Kristen dan Islam.[42]

KESIMPULAN

  1. Proses penyampaian ilmu dan filsafat Yunani ke dunia Islam melalui proses penterjemahan penafsiran buku buku Yunani di negeri-negeri Arab dimulai jauh sebelum lahirnya agama. Islam.
  2. Perkembangan ilmu pada masa klasik sangat maju karena prinsip-prinsip semua ilmu terdapat dalam Alquran dan Hadis; pencarian ilmu dalam segi apa pun pada akhirnya akan bermuara pada penegasan Tauhid. Tapi pada masa pemerintahan Ali Fitnah Besar menimpa kaum muslim memunculkan paham teologis, namun ada yang tidak melibatkan diri.dan merea adalah moyang Ahlussunnah Waljamaa’ah, kemudian  masuklah unsur-unsur dari luar ke dalam Islam, seperti unsur-unsur budaya Perso-Semitik (Zoroastrianisme- khususnya Mazdaisme, serta Yahudi dan Kristen) dan budaya Hellenisme.
  3. Pada masa kejayaan 3 dinasti besar Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, Fatimiyah Ilmu berkembang sangat maju dan pesat. Kemajuan ini membawa, Islam pada masa keemasannya, dengan kelahiran tokoh ilmuwan muslim di segala bidang.
  4. Masa keruntuhan tradisi keilmuan dalam islam terjadi karena: a. Transfer filsafat-filsafat India, Persia dan Yunani, b. Adanya manipulasi ajaran Islam oleh orang-orang yang membenci Islam, c. Diabaikannya bahasa Arab menebakan sulit berijtihad,  d. Serangan gelombang missionaris, dan serangan (orientalis) Serangan gelombang missionaris, dan serangan (orientalis).
  5. Ilmu pengetahuan beralih ke dunia barat: a. adanya pelajar-pelajar barat yang belajar di duinia Islam, b. penterjemahan besar-besaran buku ke berbagai bahasa, c. perampasan ilmu-ilmu Islam dengan jalan perang salib.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik (et. Al)., Ensiklopedi Temads dWa Islam. Jilid IV; Jakarta: Ictiar Baru

Van Hove, 2002

“ Al-Wa’ie”, No. 86 Tahun VIII, 1-31 Oktober 2007.

Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru.

Cet. 3; Jakarta: Kahinah, 2001

al-Baghdadi, Abdurrahman, Sistem Pendidikan di Masa Khilafa Islam ; editor Nur Eva.

Surabaya: Al-Izzah, 1996.

Bahtiar, Amsal, Filsafat Ilmu (Edisi. 3; Jakaita: PT. Raja Grafindo Persada, 2006

Departernen Agama R1, Al- Hikmah Al-Quran dan Terjemahannya. Cet. 10;  Bandung:

Diponegoro

al-Hasyimi, Ahmad, Mukhtar al- Hadits an-Nabawiyah. Cet. 12; Kairo: Syirkah Nur

Asiya, t.t., h. 93.

Hizbut tahrir, Ajhizah al-Daulah Al-Khilaifah (Stuktur Negara Khilafah), penterjemah

Yahya A.R.Cet.1; Jakarta: Hizbut Taluir Indonesia, 2006.

Shiddiq al-Jawi, Pembiayaan Pendidikan dalam Islam, ( Abdurrahman Muhammad

Khalid, Soal Jawab Seputar Gerakan Islam), “ AlWa’ie” No. 81 Tahun VII,(1-31

Mei 2007.

Madjid, Nur Cholis, Kaki Langit Peradaban Islam,(Cet. 1; Jakarta: Paramadina, 1997.

Qatrun Nadaa, “Politik Pendidikan Islam ,“ El-Wa’ie, No. 59 Tahun V, 1-31 Juli 2005.

Nasution, Harun, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Cet.1; Jakarta: U1 Press, 1982.

Qadim Zallum, Abdul, Hizbut Tahrir, penerjemah Abu Afif Nurkhalis, Mengenal Sebuah Gerakan Islam di Timur Tengah Hizbut Tahrir. Jakarta: Al Khilafa, t.t.

Qadir CA, , Filsafat dan I1mu Pengetahuan dalam Islam, alih bahasa: Hasan Basari,(Edisi 1; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989

Shihab, M.Quraish, Wawasan AI-Quran: Tairsir MauduI atas Berbagai Persoalan Umat, Cet. 12; Bandung: Mizan, 2001


[1]Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu (Edisi. 3; Jakaita: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 32.

[2]Departernen Agama R1, Al- Hikmah Al-Quran dan Terjemahannya (Cet. 10; Bandung: Diponegoro), h. 597.

[3]M.Quraish Shihab, Wawasan AI-Quran: Tairsir MauduI atas Berbagai Persoalan Umat, (Cet. 12; Bandung: Mizan, 200 1), h. 433.

[4]Departemen Agama R1,op. cit., h. 459.

[5]Ahmad al-Hasyimi, Mukhtar al- Haditsi an-Nabawiyah (Cet. 12; Kairo: Syirkah Nur Asiya, t.t.), h. 93.

[6]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Cet. 3; Jakarta: Kahinah, 2001), h. 13.

[7]Amsal Bahtiar, op. cit., h. 35

[8] Ibid., h. 118-119. (Ibrahim Madkoer, Filsafat Islam dan Renesans Eropa (Kumpulan Tulisan Komisi Nasional Mesir untuk UNESCO dengan judul Sumbangan Islam kepada Ihnu dan Kebudayaan), alih bahasa: Ahmad Tafsir, (Cet. 1; Bandung: Pustaka, 1986).

[9]CA, Qadir, Filsafat dan I1mu Pengetahuan dalam Islam, alih bahasa: Hasan Basari,(Edisi 1; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989), h. 34.

[10]Ibid, h. 35.

[11]Ibid, h. 35-36.

[12]Hizbut tahrir, Ajhizah al-Daulah Al-Khilaifah (Stuktur Negara Khilafah), peneijemah Yahya A.R.(Cet.1; Jakarta: Hizbut Taluir Indonesia, 2006), h. 14.

[13]Hizbut Tahrir, op. cit., h. 20-29.

[14] Ibid, h. 29.

[15]Ibid, h. 133-134.

[16]Ibid., h. 213.

[17]Qarun Nadaa, “Politik Pendidikan Islam ,“ El-Wa’ie, No. 59 Tahun V, !-31 Juli 2005.), h. 13-14.

[18]Nur Cholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam,(Cet. 1; Jakarta: Paramadina, 1997), h. 1-2.

[19]Ibid, h. 3.

[20] Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Cet.1; Jakarta: U1 Press, 1982), h. 52-53. 20.

[21] Ibid, h 3.

[22]Ibid., h.41.( Majid Fakhry, A History offsImnic Philosophy,(New York: Colombia University Press, 1970), h.45.)

`             [23]Ibid., h.4 I( Syeed Ameer Ali, The Spirit of Islam)

[24]C.A, Qadir, op.cit., h. 37-38.

[25] Ibid.,h. 39-40.

[26] Amsal Bahtiar, op. cit., h. 42,( Ibrahim Madkoer, h. 120.)

[27]Ibid., h. 42-43 (lbrahim Madkoer, h.20-121).

[28]Taufik Abdullah(et. Al)., Ensiklopedi Temads dWa Islam,(Jilid IV; Jakarta: Ictiar Baru Van Hove, 2002), H. 25.

[29] Ibid., h 69.

[30]Shiddiq al-Jawi, Pembiayaan Pendidikan dalam Islam, ( Abdurrahman Muhammad Khalid, Soal Jawab Seputar Gerakan Islam), “ AlWa’ie” No. 81 Tahun VII,(1-31 Mei 2007), h. 52.

[31]Abdurrahman al-Baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khilafa Islam ; editor Nur Eva ( Surabaya: Al-Izzah, 1996 ), h. 87.

[32]Ibid, h.87-88

[33] C.A. Qadir. op.cit.. h. 130

[34]Ibid., h. 130-143.

[35]Amsal Bahtiar, op.cit.. h. 47.(Allama Muhammad lqbal, Lectures on the Recontruction of

Religius Thought. in lsiam.( Lahore. 11465). h. 138.)

[37]Amsal Bahitiar. op. cit.. h. 49.

[38]Ibid.

[39] Abdul Qaim Zallum, Hizbut Tahrir, penerjemah Abu Afif Nurkhalis, Mengenal Sebuah Gerakan Islam di Timur Tengah Hizbut Tahrir(Jakarta: Al Khilafa, t.t.), h. 14

[40]Amsal Bahtiar, op. cit., h. 45.

[41]“ Al-Wa’ie”, No. 86 Tahun VIII,( 1-31 Oktober 2007), h. 13.

[42] Lihat Amin Abdullah. Studi Islam, h. 102.


FILSAFAT SEMIOTIKA

FILSAFAT SEMIOTIKA

Oleh : Syekhuddin

BAB I   PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa memiliki urgensi yang tinggi pada saat sekarang ini, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai aliran filsafat, seperti fenomologi, eksistensialisme, analitika, neopositivisme, hermeneutika, dan semiotika. Orang menyebut filsafat abad ke-20 hingga saat ini adalah filsafat bahasa (Logosentrisme). Banyak diantara para filosof yang memandang “Bahasa” sebagai objek pemikiran mereka sehingga bahasa telah menjadi tema sentral filsafat Eropa dan amerika.

Sebagai disiplin ilmu, pendekatan, metodologi, atau bidang kajian-kajian, semiotika nampaknya kini mulai banyak didekati, tidak saja oleh para akademisi, tetapi juga oleh para mahasiswa, khususnya pada program studi komunikasi. Semiotika telah menjadi bidang kajian yang sangat penting dalam disiplin komunikasi, karena semiotika merupakan bagian dari bahasa. Secara umum semiotika telah dimulai sejak filosof Yunani kuno, seperti Plato dan Aristoteles, dan juga pada ahli-ahli skolastik abad pertengahan. Semiotika merupakan cabang ilmu yang berkaitan dengan system tanda dan yang berlaku bagi penggunaan tanda.[1]

B. Rumusan Dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas. Penulis akan mengulas secara ringkas FILSAFAT SEMIOTIKA dengan membatasi beberapa hal, yaitu:

  1. Pengertian Semiotika
  2. Pokok dan Tokoh Semiotika
  3. Aplikasi Semiotika Komunikasi
  4. Berkomunikasi Dengan Simbol-Simbol
  5. Dasar-Dasar Semiotika Islam

BAB II  PEMBAHASAN SEMIOTIKA DAN SEMIOLOGI

Kata Semiotika berasal dari bahasa Yunani, semeion, yang berarti “tanda” atau seme, yang berarti “penafsir tanda”. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan poetika. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai adanya api.

Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri[2]

Kata semiotika dan semiologi adalah istilah yang ada dalam sejarah linguistic, selain kedua istilah ini ada pula digunakan istilah lain seperti semasiologi, sememik, dan semik untuk merujuk kepada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang.[3]

Sesungguhnya kedua istilah ini,  semiotika dan semiologi, mengandung pengertian yang persis sama, walaupun penggunaan salah satu dari kedua istilah tersebut biasanya menunjukkan pemikiran pemakainya: mereka yang bergabung dengan Pierce atau mengacu pada tradisi Amerika menggunakan kata   semiotika, dan mereka yang bergabung Saussure atau mengacu pada tradisi Eropa menggunakan kata semiologi. Namun yang terakhir, jika dibandingkan dengan yang pertama, kian jarang dipakai, ada kecendrungan istilah semiotika lebih populer dari istilah semiologi sehingga para penganut Saussure pun sering menggunakannya.[4]

Baik semiotika maupun semiologi, keduanya kurang lebih dapat saling menggantikan karena sama-sama digunakan untuk mengacu kepada ilmu tentang tanda.

Pada dasarnya, semiosis dapat dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat diberikan dalam istilah semiotika sebagai suatu hubungan antara lima istilah:

S ( s, i, e, r, c )

S adalah untuk  semiotic relation (hubungan semiotic), s untuk sign ( tanda); I untuk interpreter (penafsir); e untuk effect atau pengaruh, r untuk reference (rujukan); dan c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi)

Begitulah, semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda; secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.[5]

Secara singkat dapat dikatakan bahwa studi semiotika disusun dalam tiga poros. Poros horizontal menyajikan tiga jenis penyelidikan semiotika (murni, deskriptif, dan terapan); poros vertical menyajikan tiga tataran hubungan semiotic (sintaktik, semantic, dan pragmatic); dan poros yang menyajikan tiga kategori sarana informasi (signals, signs, dan symbols).[6]

BAB III  POKOK DAN TOKOH SEMIOTIKA

PRAGMATISME CHARLES SANDERS PIERCE

Ia adalah salah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensional, seorang pemikir yang argumentative. Namun ironisnya, di tengah-tengah kehidupan masyarakat, teman-temannya membiarkan dia hidup dalam kesusahan sampai meninggalnya, tahun 1914. Ia diperbolehkan menjadi lector di suatu Universitas hanya lima tahun. Setelah itu Pierce diberhentikan. Barangkali karena Pierce, seperti dituturkan Cobley dan Jansz, tidak dapat menjadi contoh dari gaya hidup akademik yang santun, lingkungan tempat dia secara bertahap mengonstruksi ‘Semiotika”-nya. “Sifat pemarah dan sulit diatur itu diduga karena penyakit sarafnya yang sering kambuh dan kerusakan kulir di sekitar wajah yang agak parah,”[7]

Pierce lahir dalam keluarga intelektual pada tahun 1839 (ayahnya, Benjamin adalah seorang professor matematika di Harvard). Padsa tahun 1859, 1862, dan 1863 secara berturut-turut ia menerima gelar B.A., M.A., dan B.Sc. dari Universitas Harvard. Selama lebih dari tiga puluh tahun (1859-1860, 1861-1891) Pierce banyak melaksanakan tugas astronomi dan geodesi untuk Survei Pantai Amerika Serikat. Dari tahun 1879-1884, ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidang logika di Universitas Johns Hopkins.

Pierce terkenal karena teori tandanya. Di dalam lingkup semiotika, seringkali mengulang-ulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. Berdasarkan objeknya, Pierce membagi tanda atas icon, index, dan symbol. Dan dia juga membaginya menjadi sepuluh jenis: Qualisign, Iconic Sinsign, Rhematic Indexical Sinsign, Dicent Sinsign, Iconic Legisign, Rhematic Indexical Legisign, Dicent Indexical Legisign, Rhematic Symbol, Dicent Simbol, dan Argument.[8]

TEORI TANDA FERDINAND DE SAUSSURE

Dilahirkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. Ia hidup sezaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkheim. Selain sebagai seorang ahli linguistic, ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa Indo-Eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu social dan kemanusiaan.[9]

Ia sebetulnya tidak pernah mencetak pemikirannya menjadi buku. Catatan-catatannya dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi sebuah outline.

Bahasa di mata Saussure tak ubahnya sebuah karya musik. Untuk memahami sebuah simponi, kita harus memperhatikan keutuhan karya musik secara keseluruhan dan bukan kepada permainan individual dari setiap pemain musik. Untuk memahami bahasa, kita harus melihatnya secara “sinkronis”, sebagai sebuah jaringan hubungan antara bunyi dan makna. Kita tidak boleh melihatnya secara atomistic, secara individual.[10]

Sedikitnya, ada lima pandangan dari Saussure yang di kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yaitu pandangan tentang (1) signifier (penanda) dan signified (petanda); (2) form (bentuk) dan content (isi); (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan, ujaran); (4) synchronic (sikronik) dan diachronic (diakronik); serta (5) syntagmatik (sintagmatik) associative (paradigmatic)

LINGUISTIK STRUKTURAL ROMAN JAKOBSON

Beliau adalah murid ahli fonologi Rusia Nikolai Trouberzkoy. Dilahirkan di Moskow pada tahun 1896. Ia dianggap sebagai salah seorang ahli linguistic abad ke-20 yang menonjol, yang pertama kali meneliti secara serius baik pembelajaran bahasa maupun bagaimana fungsi bahasa bisa hilang pada afasia. Pemikiran awalnya yang penting adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metaphor retoris (kesamaan), dan metonimia (kesinambungan), Ia pelopor utama upaya pendekatan strukturalis pada bahasa, khususnya karena ia sangat menekankan bahwa pola suara bahasa pada hakikatnya bersifat relasional. Hubungan antara suara dalam konteks tertentu menghasilkan makna dan signifikansi. Ia adalah seorang dari teoretikus yang pertama-tama berusaha menjelaskan proses komunikasi  teks sastra.

Analisis  Jakobson atas bahasa mengambil ide dari Saussure yang menyatakan bahwa bahasa atau struktur bahasa bersifat diferensial. Jakobson memandang bahwa bahasa memiliki enam macam fungsi, yaitu: (1) fungsi referensial, pengacu pesan; (2) fungsi emotif, pengungkap keadaan pembicara; (3) fungsi konatif, pengungkap keinginan pembicara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak; (4) fungsi metalingual, penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan; (5) fungsi fatis, pembuka, pembentuk, pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak; dan (6) fungsi fuitis, penyandi pesan. Dan ia yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantic, unit-unit yang bermakna, dan dilakukan dengan mengetahui cirri-ciri pembeda dari suatu suara yang memisahkannya dengan cirri-ciri suara yang lain.[11]

METASEMIOTIKA LOUIS HJELMSLEV

Lahir di Denmark pada tahun 1889, dan meninggal pada1966. Dikenal sebagai salah satu tokoh linguistic yang berperan dalam pengembangan semiologi pasca Saussure. Ia mengembangkan sistem dwipihak yang merupakan ciri sistem Saussure, dan membagi tanda ke dalam expression dan content, dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure.[12]

Sumbangan Hjelmslev terhadap semiologi Saussure adalah dalam menegaskan perlunya sebuah “sains yang mempelajari bagaimana tanda hidup dan berfungsi dalam masyarakat”

Dalam pandangan Hjelmslev, sebuah tanda tidak hanya mengandung sebuah hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya.

Hjelmslev mengatakan bahwa “sebuah semiotika denotative adalah sebuah semiotika dimana bidangnya bukanlah semiotic”, sedangkan semiotika konotatif adalah ” sebuah semiotika di mana bidangnya bersifat semiotik’. Meskipun begitu, sebenarnya tidak hanya demikian yang berlangsung. Bidang kandungan bisa menjadi semiotika, dan menurut Hjelmslev ini disebut sebagai suatu “metasemiotika”. Menurut Hjelmslev, linguistic adalah sebuah contoh metasemiotika: telaah tentang bahasa yang juga adalah bahasa itu sendiri.[13]

SEMIOLOGI DAN MITOLOGI ROLAND BARTHESP.

Barthes lahir tahun 1915 dari keluarga kelas menengah Protestan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis. Ayahnya, seorang perwira angkatan laut, meninggal dalam sebuah pertempuran di laut utara sebelun usia Barthes genap mencapai satu tahun. Sepeninggal ayahnya, ia kemudian diasuh oleh ibu, kakek, dan neneknya.

Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktekkan model linguistic dan semiologi Saussurean. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama; eksponen penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra. Ia berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.[14]

Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca ( the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tartan kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya.[15]

BAB IV  APLIKASI SEMIOTIKA KOMUNIKASI

MEDIA

Pada dasarnya, studi media massa mencakup pencarianan pesan dan makna-makna dalam materinya, karena sesungguhnya semiotika komunikasi, seperti halnya basis studi komunikasi, adalah proses komunikasi, dan intinya adalah makna. Dengan kata lain mempelajari media adalah mempalajari makna dari mana asalnya, seperti apa, seberapa jauh tujuannya, bagaimanakah ia memasuki materi media, dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita sendiri.[16]

Teknik-teknik analisis yang diterapkan, secara garis besar, terdiri atas teknik-teknik kuantitatif dan kualitatif. Teknik analisis kuantitatif adalah yang paling dapat mengatasi kekurangan dalam objektivitas, namun hasilnya kurang mantap. Titik tolaknya ialah bahwa ciri-ciri yang dapat diukur dinyatakan sebagai tanda. Dalam surat kabar, perhatian terhadap masalah dinyatakan dalam jumlah kolom, besarnya judul, jumlah ilustrasi dan letak. Pada analisis kualitatif, tanda-tanda yang diteliti tidak atau hampir tidak dapat diukur secara matematis.[17]

Dalam studi media terdapat tiga pendekatan untuk menjelaskan media. Pertama, pendekatan politik-ekonomi (the political-economy approach); kedua pendekatan organisasi (organizational approach); dan ketiga, pendekatan kulturalis (culturalist approach)111

Pendekatan politik-ekonomi berpendapat bahwa isi media lebih ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik di luar pengelolaan media. Factor seperti pemilik media, modal, dan pendapatan media dianggap lebih menentukan bagaimana wujud isi media. Faktor-faktor inilah yang menentukan peristiwa apa saja yang bisa atau tidak bisa ditampilkan dalam pemberitaaan, serta kearah mana kecenderungan pemberitaan sebuah media hendak diarahkan.[18]

Pendekatan organisasi bertolak belakang dengan pendekatan politik-ekonomi. Pendekatan organisasi melihat pengelola media sebagai pihak yang aktif dalam proses pembentukan dan produksi berita. Dalam pendekatan ini, berita dilihat sebagai hasil dari mekanisme yang ada di dalam ruang redaksi. Praktik kerja, profesionalisme, dan tata urutan yang ada dalam ruang organisasi adalah unsur-unsur dinamik yang mempengaruhi pemberitaan.[19]

Pendekatan kulturalis merupakan gabungan antara pendekatan politik-ekonomi dan pendekatan organisasi. Proses produksi berita di sini dilihat sebagai mekanisme yang rumit yang melibatkan factor internal media. Mekanisme yang rumit ini ditunjukkan dengan bagaimana perdebatan yang terjadi dalam ruang pemberitaan. Media pada dasarnya memang mempunyai mekanisme  untuk menentukan pola dan aturan organisasi, tetapi berabagai pola yang dipakai untuk memaknai peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekuatan-kekuatan politik-ekonomi di luar media.[20]

KOMUNIKASI PERIKLANAN

Dalam komunikasi periklanan, ia tidak hanya mennggunakan bahasa sebagai alatnya, tetapi juka komunikasi lainnya seperti gambar, warna, dan bunyi. Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, kita bisa mengkajinya lewat sistem tanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baik yang verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks, terutama dalam iklan radio, televise, dan film.[21]

Pada dasarnya, lambang yang digunakan dalam iklan terdiri atas dua jenis, yaitu yang verbal dan yang nonverbal. Lambang verbal adalah bahasa yang kita kenal; lambang nonverbal adalah bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan, yang tidak secara khusus meniru rupa atas bentuk realitas. Ikon adalah bentuk dan warna yang serupa atau mirip dengan keadaan sebenarnya seperti gambar benda, orang, atau binatang. Ikon di sini digunakan sebagai lambing.[22]

TANDA NONVERBAL

Tanda nonverbal dapat diartikan semua tanda yang bukan kata-kata. Ada beberapa cara untuk menggolongkan tanda-tanda;

  1. Tanda yang ditimbulkan oleh alam yang kemudian diketahui oleh manusia melalui pengalamannya; misalnya, kalau langit sudah mendung menandakan akan turun hujan, dan kalau hujan sudah turun terus-menerus ada alasan untuk mengatakan banjir, dan kalau banjir ada alasan untuk menyatakan timbulnya penyakit.
  2. Tanda yang ditimbulkan oleh binatang; misalnya kalau anjing menyalak kemungkinan ada tamu yang memasuki halaman rumah, atau tanda bahwa ada pencuri
  3. Tanda yang ditimbulkan oleh manusia. Tanda ini dapat dibedakan atas yang bersifat verbal dan yang bersifat nonverbal. Yang bersifat verbal adalah tanda- tanda yang digunakan sebagai alat komunikasi yang dihasilkan oleh alat bicara, sedangkan yang bersifat nonverbal dapat berupa:
    1. Tanda yang menggunakan anggota badan, lalu diikuti dengan lambang, misalnya “Mari!”
    2. Suara, misalnya bersiul, atau membunyikan ssst… yang bermakna memanggil seseorang.
    3. Tanda yang diciptakan oleh manusia untuk menghemat waktu, tenaga, dan menjaga kerahasiaan, misalnya, rambu-rambu lalu lintas, bendera, tiupan terompet.
    4. Benda- benada yang bermakna cultural dan ritual, misalnya buah pinang muda yang menandakan daging, gambir menandakan darah, bibit pohon kelapa menandakan bahwa kedua pengantin harus banyak mendatangkan manfaat bagi sesama manusia dan alam sekitar.[23]

FILM

Hubungan antara film dan masyarakat memiliki sejarah yang panjang dalam kajian para ahli komunikasi. Dari permulaan sejarahnaya film dengan lebih mudah dapat menjadi alat komunikasi yang sejati, karena ia tidak mengalami unsur-unsur teknik, politik, ekonomi, social dan demokrafi yang merintangi kemajuan surat kabar pada masa pertumbuhannya dalam abad ke-18 dan permulaan abad ke-19. Film mencapai puncaknya di antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II, namun kemudian merosot tajam setelah tahun 1945, seiring dengan munculnya medium televisi.[24]

Film merupakan bidang kajian yang amat relevan bagi analisis structural atau semiotika. Film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Berbeda dengan fotografi statis, rangkaian gambar dalam film menciptakan imajinasi dan sistem penandaaan. Ciri gambar-gambar film adalah persamaannya dengan realitas yang ditunjuknya. Gambar yang dinamis dalam film merupakan ikonis bagi realitas yang dinotasikannya.[25]

Film umumnya dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara; kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik film. Sistem semiotika yang lebih penting lagi dalam film adalah digunakannya tanda-tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu.[26]

Namun, seiring dengan kebangkitan film, muncul pula film-film yang mengumbar seks, criminal, dan kekerasan. Inilah yang kemudian melahirkan berbagai studi  komunikasi massa. Kekuatan dan kemampuan film menjangkau banyak segmen social, lantas membuat para ahli mengatakan bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Sejak itu maka merebaklah berbagai penelitian yang hendak melihat dampak film terhadap masyarakat.[27]

KOMIK-KARTUN-KARIKATUR

Pengertian ‘komik” secara umum adalah cerita bergambar dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku, yang pada umumnya mudah dicerana dan lucu, dan ada juga yang menampilkan cerita-cerita serius. Komik bertujuan utama menghibur pembaca dengan bacaan ringan, cerita rekaan yang dilukiskan relative panjang dan tidak selamanya mengangkat masalah hangat meskipun menyampaikan moral tertentu. Bentuk penyampaian komik lebih atraktif dan menjangkau sasaran yang lebih luas. Bahasa komik terutama sekali adalah bahasa gambar karena komik hadir sebagai bahasa gambar dan bahasa teks.[28]

Kartun adalah sebuah gambar lelucon yang muncul di media massa, yang hanya berisikan humor semata, tanpa membawa beban kritik social apapun. Namun ada juga yang mengungkapkan masalah sesaat secara ringkas namun tajam dan humoristis sehingga tidak jarang membuat pembaca tersenyum sendiri.[29]

Karikatur adalah gambar lelucon yang membawa pesan kritik social sebagaimana kita lihat di setiap ruang opini surat kabar. Menurut Sudarta, kartun adalah semua gambar humor, termasuk karikatur itu sendiri. Sedangkan karikatur adalah deformasi berlebihan atas wajah seseorang, biasanya orang terkenal, dengan mempercantiknya dengan penggambaran ciri khas lahiriyahnya untuk tujuan mengejek.[30]

Sebagai kartun opini, setidaknya empat hal teknis harus diingat

  1. Harus informative dan komunikatif
  2. Harus situasional dengan pengungkapan yang hangat
  3. Cukup memuat kandungan humor
  4. Harus mempunyai gambar yang baik.

Fungsi kartun dan juga karikatur yaitu bertujuan utama menyindir atau memperingatkan. Karena itu, dapat dijumpai kartun editorial, kartun politis, kartun social, kartun moral yang kisahnya selalu membidik sasaran tertentu, lazimnya masalah penting di dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, tokohnya yang umumnya berupa manusia menjadi semacam representasi dari rakyat. Dengan bahasa parodinya, kartun yang bagus berhasil menyampaikan amanat rakyat secara humoristis sehingga masalah penting semakin menarik perhatian atau bahkan beruba menjadi tanda bahaya dan pihak yang disindir tidak marah, paling-paling tersenyum kecut.[31]

SASTRA

Dalam lapangan sastra, karya sastra dengan keutuhannya secara semiotic dapat dipandang sebagai sebuah tanda. Dimensi ruang dan waktu dalam sebuah cerita rekaan mengandung tabiat tanda-menanda yang menyiratkan makna semiotika. Dari dua level antara mimetic dan semiotic (atau tataran kebehasaan dan mistis) sebuah karya sastra menemukan keutuhannya untuk difahami dan dihayati.[32]

Dalam penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan semiotika, tanda yang berupa indekslah yang paling banyak dicari, yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam pengertian luasnya. Dalam pengokohan seorang dokter, misalnya, dicari tanda-tanda yang memberikan indeks bahwa sang tokoh itu adalah dokter, karena ia selalu mempergunakan istilah-istilah kedokteran, alat-alat kedokteran.[33]

Wawasan semiotika dalam studi sastra memiliki tiga asumsi:

Pertama, karya sastra merupakan gejala komunikasi yang berakaitan dengan pengarang, wujud sastra sebagai sistem tanda, dan pembaca.

Kedua, karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda yang memiliki struktur dalam tata tingkat tertentu.

Ketiga, karya sastra merupakan fakta yang harus direkonstruksikan pembaca sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.[34]

MUSIK

Sistem tanda musik adalah oditif. Namun, untuk mencapai pendengarnya, penggubah musik mempersembahkan kreasinya dengan perantara pemain musik dalam bentuk sistem tanda perantara tertulis, jadi visual. Bagi semiotikus musik, adanya tanda-tanda perantara, yakni musik yang dicatat dalam partitur orkestra merupakan jalan keluar. Hal ini sangat memudahkan dalam menganalisis karya musik sebagai teks. Itulah sebabnya pengapa penelitian musik semula terutama terarah pada sintaksis, tidak ada semiotika tanpa semantic. Jadi, juga tidak ada semiotika musik tanpa semantic musik.[35]

BAB V BERKOMUNIKASI DENGAN SIMBOL-SIMBOL

Hidup agaknya memang digerakkan oleh symbol-simbol, dibentuk oleh simbol-simbol, dan dirayakan dengan simbol-simbol.. Ketika aksi terorisme 11 September meluluhlantakkan Gedung Kembar WTC di kawasan Manhattan, New York, Amerika Serikat. Dan ketika orang-orang di negeri kita sendiri hiruk–pikuk menghancurkan, memporakporandakan, dan membakari bedung pemerintahan, kendaraan, mall, atau tempat-tempat ibadah, sasaran ssungguhnya tentu bukanlah benda-benda itu sendiri. Sasaran mereka sesungguhnya adalah simbol. Gedung-gedung pencakar langit, kendarasan, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya itu bisa saja dilihat sebagai simbol “kecongkakan,” “kekuasaan,” “kesewenangan,” “keserakahan,” “kepura-puraan,” atau apapun. Dan itulah rupanya yang hendak mereka hantam dan hancurkan.[36]154

Dalam ibadah haji, pakaian ihram yang berwarna putih dan tidak berjahit, menyimbolkan kesucian dan pemisahan dengan kehidupan sehari-hari. Mengelilingi ka’bah menyimbolkan kesatuan antara Tuhan dan manusia, manusia dan manusia, langit dan bumi. Ritual sa’I menyimbolkan upaya Siti Hajar mencari air untuk dirinya sendiri dan anaknya, begitu pula ibadah qurban adalah symbol solidaritas.[37]

APA ITU SIMBOL ?

Simbol adalah bentuk yang menandai sesuatu yang lain di luar perwujudan bentuk simbolik itu sendiri. Simbol juga dapat semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya, yang menyatakan sesuatu hal, atau mengandung maksud tertentu. Misalnya, warna putih merupakan lambang kesucian, lambang padi lambang kemakmuran, dan kopiah merupakan salah satutanda pengenal bagi warga Negara Republik Indonesia.

Dalam konsep Pierce simbol diartikan sebagai tanda yang mengacu pada objek tertentu di luar tanda itu sendiri

Menurut James P. Spradley Simbol adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjuk kepada sesuatu.

Menurut Wellek dan Warren Simbol adalah suatu istilah dalam logika, matematika, semantic, semiotic, dan epistemology.[38]

Pada dasarnya simbol dapat dibedakan menjadi:

  1. symbol-simbol universal, berkaitan dengan arketipos, misalnya tidur sebagai lambang kematian
  2. simbol cultural yang dilatarbelakangi oleh suatu kebudayaan tertentu misalnya keris dalam kebudayyaaan Jawa.
  3. simbol individual yang biasanya dapat ditafsirkan dalam konteks keseluruhan karya seorang pengarang.

Simbol atau lambang merupakan salah satu kategori tanda (sign). Dalam wawasan Pierce, tanda (sign)  terdiri atas ikon (icon), indeks (index), dan simbol (symbol). Hubungan butir-butir tersebut oleh Pierce digambarkan sebagai berikut:

Icons

Signs                           Index ( Indices)

Symbols

Pada dasarnya ikon merupakan tanda yang bisa menggambarkan ciri utama sesuatu, meskipun sesuatu yang lazim disebut sebagai objek acuan tersebut tidak hadir. Misalnya, gambar Amin Rais adalah ikon Amin Rais.

Indeks adalah tanda yang hadir secara asosiatif akibat terdapatnya hubungan ciri acuan yang sifatnya tetap. Kata rokok, misalnya, memiliki indeks asap.[39]

Banyak orang yang selalu mengartikan simbol sama dengan tanda. Sebetulnya tanda berkaitan langsung dengan objek, sedangkan simbol memerlukan proses pemaknaan yang lebih intensif setelah menghubungkan dia dengan objek. Dengan kata lain, simbol lebih substantive daripada tanda. Oleh karena itu, salib yang di pasang di depan gereja, umpamanya, hanya merupakan tanda bahwa rumah tersebut rumah ibadah orang Kristen. Namun, salib yang terbuat dari kayu merupakan simbol yang dihormati oleh semua orang Kristen.[40]

Isyarat adalah suatu hal atau keadaan yang diberitahukan oleh subjek kepada objek. Artinya, subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberi tahu kepada objek yang diberi isyarat agar objek mengetahuinya pada saat itu juga. Isyarat tidak dapat ditangguhkan pemakaiannya. Ia hanya berlaku pada saat dikeluarkan oleh subjek. Isyarat yang ditangguhkan penggunaannya akan beruba menjadi tanda. Tanda itu sendiri berarti suatu hal atau keadaan yang menerangkan objek kepada subjek. Sementara, simbol atau lambang ialah suatu hal atau keadaaan yang memimpin pemahaman subjek kepada objek. Contoh-contoh yang berkenaan dengan isyarat, tanda, dan lambang atau symbol.

Pertama, isyarat dapat berupa gerak tubuh atau anggota badan, suara-suara atau bunyi-bunyian, sinar atau asap. Sementara itu, isyarat-isyarat morse bisa berupa kibaran bendera yang dipakai pramuka atau angkatan Laut.

Kedua, tanda-tanda dapat berupa benda-benda seperti tugu-tugu jarak jalan, tanda-tanda lalu lintas, tanda pangkat atau jabatan, tanda-tanda baca atau tanda tangan.

Ketiga, lambang atau simbol dapat berupa lambang partai, simbol matematika dan logika, departemen, sekolah, institute, dan lain-lain.[41]

SIMBOLISASI KEBUTUHAN POKOK MANUSIA

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Dan salah satu sifat dasar manusia, adalah kemampuan menggunakan simbol. Kemampuan manusia menciptakan simbol membuktikan bahwa manusia sudah memiliki kebudayaan yang tinggi dalam berkomunikasi, mulai dari simbol yang sederhana seperti bunyi dan isyarat, sampai kepada simbol yang dimodifikasi dalam betuk signal-signal melalui gelombang udara dan cahaya, seperti radio, televise, telegram, telex, dan satelit.[42]

Sebagai pengguna dan penafsir simbol, manusia terkadang irasional dengan menganggap seolah-olah ada kemestian atau ada hubungan alamiah antara satu simbol dengan apa yang disimbolkan. Buktinya, masih ada orang yang menanam kepala kerbau sebelum sebuah gedung dibangun, konon demi keselamatan gedung itu. Sebagian orang masih mempercayai hari baik atau hari buruk untuk membuat sebuah keputusan penting atau melakukan suatu perjalanan.[43]

SIMBOL STATUS DAN GAYA HIDUP

Status adalah simbol dari kesuksesan hidup, status pada dasarnya mengarah pada posisi yang dimiliki seseorang di dalam sejumlah kelompok ataiu organisasi dan prestise melekat pada posisi tersebut. Di dalam kehidupan masyarakat secara umum, seseorang yang memiliki suatu pekerjaan, memiliki status yang baik (bankir, dokter, pengacara, pengusaha), dan yang lainnya memiliki status yang lebih kecil (pedagang kaki lima, buruh harian, pemulung sampah). Status merupakan kekuatan yang besar di dalam masyarakat yang digunakan untuk mengendalikan orang dengan cara yang halus.[44]

Orang yang punya status tertentu kerap kali dihubung-hubungkan dengan gaya hidup. Gaya hidup adalah istilah menyeluruh yang meliputi cita rasa seseorang di dalam fashion, mobil, hiburan dan rekreasi, bacaan dan hal-hal yang lain. Pakaian merupakan bahasa diam yang berkomunikasi melalui pemakaian simbol-simbol verbal. Mobil bukanlah alat transportasi semata. Mobil memancarkan pula identitas pemakainya. Mobil adalah sebuah symbol.[45]

Gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas social ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Tampaknya manusia modern kini tak lagi sekedar membeli barang, tetapi membeli merek. Dan merek bukanlah sekedar nama. Di dalamnya terkandung sifat, makna, arti, dan isi dari produk bersangkutan. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, merek akan menandai simbol dan status dari produk tersebut.[46]

SIMBOL-SIMBOL BUDAYA DAN RELIGI

James P. Spradley mengatakan “Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Makna hanya dapat disimpan di dalam simbol, ujar Clifford Geerts. Pengetahuan kebudayaan lebih dari suatu kumpulan simbol, baik istilah-istilah rakyat maupun jenis-jenis simbol lain. Semua simbol, baik kata-kata yang terucapkan, sebuah objek seperti sebuah bendera, suatu gerak tubuh seperti melambaikan tangan, sebuah tempat seperti masjid atau gereja, atau suatu peristiwa seperti perkawinan, merupakan bagian-bagian suatu sistem simbol. Simbol itu meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau kita alami.[47]

Menurut Geerts; Bahkan kekuatan sebuah agama dalam menyangga nilai-nilai social terletak pada kemampuan simbol-simbolnya untuk merumuskan sebuah dunia tempat nilai-nilai itu, dan juga, kekuatan-kekuatan yang melawan perwujudan nilai-nilai itu, menjadi bahan-bahan dasarnya. Agama melukiskan kekuatan imajinasi manusia untuk membangun sebuah gambaran kenyataan.

Nama diri pun adalah simbol pertama dan utama bagi seseorang. Nama dapat melambangkan status, cita rasa budaya, untuk memperoleh citra tertentu, sebagai nama hoki atau apapun alasannya. Nama pribadi adalah unsur penting identitas seseorang dalam masyarakat, karena interaksi dimulai dengan nama dan hanya kemudian diikuti dengan atribut-atribut lainnya.[48]

Tak cuma nama orang, nama-nama tempat atau nama-nama sungai pun menyimpan banyak nama simbolik, jenis tumbuhan juga kerap dijadikan simbol atau lambang dalam berbagai budaya, bahkan sampai menyebar ke wilayah makanan. Ternyata, makanan rakyat ada juga yang diberi kandungan makna simbolis, yakni berupa ajaran filsafat, atau mistis.

KATA-KATA DAN MAKNA

PADA MULANYA ADALAH KATA

Kata dalam komunikasi pergaulan social ditentukan oleh hasil dari tawar-menawar yang tanpa henti. Dalam situasi tawar-menawar inilah berbagai peristiwa lucu atau, kadang-kadang tragis dalam komunikasi bisa terjadi. Kata pada dasarnya adalah satuan bentuk kebahasaan yang telah mengandung satuan makna tertentu. Lepas dari itu, terkadang suatu kata mengalami erosi makna dari maknanya yang asli, hal ini dapat dilihat pada reksi semantic seseorang terhadap suatu kata.

Setiap orang mempunyai hubungan mesra tersendiri dengan kata-kata tertentu, yang bagi dirinya memiliki makna khusus. Contoh kata cinta. Bagi seorang wanita yang hidup berbahagia dengan suaminya, kata cinta penuh dengan makna ‘bahagia’, ‘beruntung’, gairah hidup’, ‘senag hati’, dsb. Akan tetapi seorang wanita yang patah hati korban hawa nafsu lelaki yang memakai kata cinta untuk mengelabuinya saja, kata cinta pasti mempunyai makna lain sekali.[49]

Makna kata muda dimanipulasi. Maka itu, dalam berbagai kampanye pemilu era Orde Baru, di beberapa tempat, terutama yang dekat di lokasi pesantren, para jurkam dari suatu partai politik menyerang kontestan lain dengan mengutip Firman Allah dalam QS Al-Baqarah (2) : 35

Ÿwur $t/tø)s? Ínɋ»yd notyf¤±9$# $tRqä3tFsù z`ÏB tûüÏHÍ>»©à9$# ÇÌÎÈ

Dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Sedangkan para jurkam dari partai yang diserang membelas manipulasi ayat itu dengan manipulasi ayat lainnya yakni Firman Allah dalam QS Al-Fath (48) : 18

* ô‰s)©9 š_ÅÌu‘ ª!$# Ç`t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# øŒÎ) štRqãè΃$t7ム|MøtrB Íotyf¤±9$# zÇÊÑÈ

Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon[50]

MEMAHAMI MAKNA

Upaya memahami makna, sesungguhnya merupakan salah satu masalah filsafat yang tertua dalam umur manusia. Konsep makna telah menarik perhatian disiplin komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan linguistic. Itulah sebabnya, beberapa pakar komunikasi sering menyebut kata makna ketika mereka merumuskan definisi komunikasi. Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, misalnya, mengatakan, “Komunikasi adalah proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih.[51]

Tampaknya, kita perlu terlebih dahulu membedakan pemaknaan secara lebih tajam tentang istilah-istilah yang nyaris berimpit antara apa yang disebut (1) terjemah atau translation, (2) tafsir atau interpretasi, (3) ekstrapolasi, dan (4) makna atau meaning.

Membuat terjemah adalah upaya mengemukakan materi atau substansi yang sama dengan media yang berbeda; media tersebut mungkin berupa bahasa satu ke bahasa lain, dari verbal ke gambar, dan sebagainya. Pada penafsiran kita tetap berpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya, konteksnya agar dapat dikemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas. Ekstrapolasi lebih menekankan kepada kemampuan daya pikir manusia untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan. Materi yang tersajikan dilihat tidak lebih dari tanda-tanda atau indicator pada sesuatu yang lebih jauh lagi. Memberiakn makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran, dan mempunyai kesejajaran dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih menuntut kemampuan integrative manusia: indrawi, daya pikirnya, dan akal budinya.[52]

MAKNA DENOTATIVE DAN KONOTATIF

Salah satu cara yang digunakan para ahli untuk membahas lingkup makna yang besar ini adalah dengan membedakan antara makna denotatif dengan makna konotatif. Makna denotatif pada dasarnya meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata (yang disebut sebagai makan referensial).

Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan dalam kamus. Sebagai contoh, di dalam kamus, kata mawar berarti ‘sejenis bunga‘. Makna konotatif ialah makna denotatif ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan perasaan yang ditimbulkan olehfkata mawar itu. Kata konotasi itu sendiri berasal dari bahasa latin connotare, “menjadi tanda” dan mengarah kepada makna-makna cultural yang terpisah/berbeda dengan kata (dalam bentuk-bentuk lain dalam komunikasi).[53]

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di adalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda. Sedangkan konotasi diartikan sebagai aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca).Jadi, sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negative. [54]

MEMAHAMI BAHASA

Bahasa adalah alat untuk melukiskan sesuatu pikiran, perasaan atau pengalaman; alat ini terdiri dari kata-kata.

Dalam wacana linguistic bahasa diartikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekolompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.[55]

DASAR-DASAR SEMIOTIKA ISLAM

Dasar-dasar semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce tersebut dalam Islam ada pada konsep dilalah, yaitu suatu hal yang dapat membangkitkan adanya petunjuk. Apa yang diacunya atau apa yang ditunjuknya disebut madlul.[56]

Kedua konsep ini dibahas secara rinci dalam ilmu mantiq atau logika, ilmu ma’ani, ilmu bayan atau semantika Islam, dan ilmu tafsir. Jadi belum menjadi ilmu tersendiri. Ia hanya bersifat filosofis yang dititipkan pembahasannya pada ilmu mantiq. Ilmu mantiq adalah ilmu yang mempelajari bagaimana orang bernalar, atau bagaimana caranya orang bisa berpikir benar.[57]

Kata dilalah dalam ilmu mantiq merujuk pada dua pengertian:

Pertama, kata dilalah didefinisikan sebagai sesuatu yang memberikan pengertian tentang sesuatu yang lain, apakah bisa dimengerti atau tidak bisa dimengerti. Sesuatu yang memberikan pengertian disebut دال, (yang menunjukkan), sedangkan sesuatu yang lain disebut مدلول  (yang ditunjukkan)[58]. Contohnya, Lafal Ali atau Muhammad, keduanya bisa dimengerti sebagai zat (diri) seseorang yang diberi nama Ali atau Muhammad.

Kedua, kata dilalah didefinisikan sebagai, فهم أمر من أمر , artinya adalah, mengerti terhadap sesuatu karena didasarkan pada pemahaman sesuatu yang lainnya.[59]. Contohnya, mengartikan حيوان مفترس, (binatang buas) kepada kata أسد, (singa atau macan), Ungkapan حيوان مفترس, disebut مدلول, atau أمر مفهوم,yaitu sesuatu yangdimengerti, sedangkan kata أسد (singa) disebut دال atauمنه أمر مفهوم, artinya sesuatu yang membeikan pengertian.[60]

Menurut para ahli filsafat Islam terdapat dua dilalah (petunjuk) atau jejak dalam term Derrida, yaitu dilalah lafdziyyah, dan dilalah ghair lafdziyyah. Dilalah lafdziyyah adalah petunjuk berupa lafadz, ungkapan atau suara. Dilalah ghair lafdziyyah adalah petunjuk yang bukan merupakan lafadz atau suara tetapi merupakan isyarat, tanda, atau symbol, bekas-bekas, jejak, penomena alam dan lainnya.

BAB VI

KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

? Semiotika (kadang juga disebut semiologi) adalah disiplin ilmu yang mempelajari tanda (sign). Dalam kehidupan sehari-hari tanda hadir dalam bentuk yang beraneka ragam; bisa berwujud simbol, lambang, kode, ikon, isyarat, sinyal, dsb. Bahkan segala aspek kehidupan ini penuh dengan tanda. Dan dengan sarana tandalah manusia bisa berfikir, tanpa tanda kita tidak dapat berkomunikasi.

? Dalam perbincangan mengenai semiotika sebagai sebuah ilmu, ada semacam ruang kontradiksi yang secara histories dibangun diantara dua kubu semiotika, yaitu semiotika continental Ferdinand de Saussure dan semiotika amerika Charles Sander Pierce.

? Mempelajari semiotika sama dengan kita mempelajari tentang berbagai tanda. Cara kita berpakaian, apa yang kita makan, dan cara kita bersosialisasi sebetulnya juga mengomunikasikan hal-hal mengenai diri kita, dan dengan begitu, dapat kita pelajari sebagai tanda.

? Tanda itu sebenarnya bertebaran di mana-mana; di sekujur tubuh kita: ketika kita berkata, ketika kita tersenyum, ketika kita menangis, ketika kita cemberut, dst.

? Dasar-dasar semiotika dalam Islam dapat dilihat pada konsep dilalah dengan beragam pembagiannya.

? Konsep semiotika dalam Islam dibahas dalam ilmu mantiq, ilmu balagah, dan ilmu tafsir, namun belum menjadi ilmu tersndiri.

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M.

Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap hakikat bahasa, makna, tanda, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M

Muhammad Mahdy Wahdan, Al-Mantiq al-Muyassar, Juz I (Cairo: Maktabah al-Azhar li al-Turats, 1993, h. 5

Muhammad Nur al-Ibrahimy, Ilmu Mantiq, Cet. II; Surabaya: Maktabah Sa’ad bin Nashir Nabhan, 1980)

Umar, Ahmad Muhtar, Ilmu al-Dilalah, Cet. III; Cairo: Alam al-Kutub, 1992

Winfried NoTH, Semiotik, Cet I; Surabaya: Airlangga University Press, 2006

Zoest, Aart Van, Semiotika, Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa Yang Kita Lakukan Dengannya, diterjemahkan oleh Ani Soekawati dari Semiotiek, Overteken. Hoe ze werken en way we ermee doen, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung 1993)


[1]Aart Van Zoest, Semiotika, Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa Yang Kita Lakukan Dengannya, diterjemahkan oleh Ani Soekawati dari Semiotiek, Overteken. Hoe ze werken en way we ermee doen, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung 1993)

[2]Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M. h. 16

[3]Ibid, h. 11

[4]Ibid, h. 12, Ahmad Muhtar Umar, Ilmu al-Dilalah, (Cet. III; Cairo: Alam al-Kutub, 1992), h. 14

[5]Ibid, h. 17

[6]Ibid, h. 19

[7]Ibid, h. 39

[8]Ibid, h. 41, lihat: Winfried NÖTH, Semiotik, Cet I; Surabaya: Airlangga University Press, 2006, h. 39, Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap hakikat bahasa, makna, tanda, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M). h. 130

[9]Ibid, h. 45

[10]Ibid, h. 44, Winfried NÖTH, op. cit., h. 56

[11]Ibid, h. 56, Winfried NÖTH, op. cit., h. 74

[12]Ibid, h. 60, Winfried NÖTH, op. cit., h. 64

[13]Ibid, h. 63

[14]Ibid

[15]Ibid, h. 68, Winfried NÖTH, op. cit., h. 314

[16]Ibid, h. 110

[17]Ibid, h. 111

[18]Ibid

[19]Ibid, h. 112

[20]Ibid,

[21]Ibid, h. 116, Winfried NÖTH, op. cit., h. 484

[22]Ibid

[23]Ibid, h. 122, Winfried NÖTH, op. cit., h. 395

[24]Ibid, h. 126

[25]Ibid, h. 128

[26]Ibid

[27]Ibid, h. 127, Winfried NÖTH, op. cit., h. 471

[28]Ibid, h. 132

[29]Ibid, h. 140

[30]Ibid, h. 138

[31]Ibid, h. 141, Winfried NÖTH, op. cit., h. 480

[32]Ibid,

[33]Ibid, h. 143

[34]Ibid, h. 142, Winfried NÖTH, op. cit., h. 352

[35]Ibid, h. 144, Winfried NÖTH, op. cit., h. 437

[36]Ibid, h. 154

[37]Ibid, h. 155

[38]Ibid, h. 156

[39]Ibid, h. 159

[40]Ibid, h. 160

[41]Ibid, h. 161, Winfried NÖTH, op. cit., h 107 dan 115

[42]Ibid, h. 164

[43]Ibid, h. 165

[44]Ibid, h. 167

[45]Ibid, h. 171

[46]Ibid, h. 169

[47]Ibid, h. 177

[48]Ibid, h. 189

[49]Ibid, h. 249

[50]Ibid, h. 253

[51]Ibid, h. 255

[52]Ibid, h. 256

[53]Ibid, h. 263

[54]Ibid, h. 264

[55]Winfried NÖTH, op. cit., h. 229

[56]Asep Ahmad Hidayat, op. cit., h. 193

[57]Muhammad Nur al-Ibrahimy, Ilmu Mantiq, Cet. II; Surabaya: Maktabah Sa’ad bin Nashir Nabhan, 1980), h. 6, Lihat juga: Muhammad Mahdy Wahdan, Al-Mantiq al-Muyassar, Juz I (Cairo: Maktabah al-Azhar li al-Turats, 1993, h. 5

[58]Muhammad Nur al-Ibrahimy,  op. cit., h.11

[59]Muhammad Nur al-Ibrahimy, loc. cit

[60]Ibid


ONTOLOGI

ONTOLOGI

Oleh: Syekhuddin

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Filsafat merupan induk semua ilmu pengetahuan, sedangkan ontology merupakan bagian dari filsafat ilmu yang berasal dari kata Yunani yang tersusun dari kata philein dalam arti cinta dan sopbos dalam arti hikmat (wisdom).
Dalam makalah ini akan dikemukakan beberapa hal tentang ontology oleh karena itu ontology merupakan bagian dari metafisika yang mempersoalkan hal-hal yang berkenaan dengan segalah sesuatu yang ada atau the existence khususnya esistensinya. Menurut Aristoteles, katanya, ontology merupakan The Firs philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Karena ontology mempersoalkan hanya tentang benda, tidak Tuhan yang mempersoalkan tentang Tuhan adalah teologi demikian menurut salah satu pendapat.

Jawaban tentang persoalan ontology meneurut Hasbullah Bakry ada empat sehingga menimbulkan empat aliran di dalamnya yaitu aliran Dualisme kalau berpendapat bahwa subtansi realitas itu ada dua. Aliran Monoisme berpendapat bahwa subtansi dasar realitas itu hanya satu, dan yang satu itu meteri, aliran yang berpendapat demikian bernama materialisme, kalau satu justru idea maka aliran yang berpendapat demiakan adalah aliran idialisme (kenyataan yang bersifat rohani) . Kalau yang satu alam maka yang mengatakannya bernama Naturalisme. Aliran ini akan di bahas pada bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang pemikiran diatas maka timbul pokok bahasan “Apa itu ontology” dan sub masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan ontologi?
2. Bagaimana Obyek formal ontologi dan Metode dalam ontologi?
3. Bagaimana ontology ditinjau dari segi ilmu pengetahuan?
4. Bagaimana Argumen ontology ditinjau dari presfektif agama?

BAB II
PEMBAHASAN
ONTOLOGI
A. Pengertian Ontologi
Menurut bahasa ontologi ialah merupakan dari bahasa Yunani yaitu, On/Ontos = ada, dan Logos ¬= ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. adapun dalam Kamus Filsafat Ontologi merupakan suatu studi tentang cici esensial dari Yang Ada dalam dirinya sendiri berbeda dari studi-studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam mempelajari yang ada dalam bentuknya yang sangat abstrak studi trsebut melontarkan pertanyaan seperti: ”Apa itu ada dalam dirinya sendiri?” ”Apa hakekat ada sebagai ada?” dan cabang filsafat tata cara struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunkan kategori-kategori seperti: ada/menjadi, aktualitas/potensialitas, nyata/tampak, perubahan, waktu, eksistensi/noneksistensi, esensi, keniscayaan, yang-ada sebagai yang-ada, hal-hal terakhir, dasar.
Sedangkan dalam kamus istilah karya tulis ilmia ontologi berasal dari bahasa Yunani, ontos, yang sedang berada, logos. Kata yang benar dalam bahasa inggris disebut ontology 1). suatu asumsi tentang eksistensi (kehadiran, keberadaan) yang mendasari setiap pola konseptual atau setiap tiori atau sistem idea 2). suatu cabang penelitian metefisika yang berhubungan dengan kajian eksistensi itu sendiri ontologi mengkaji segala sesuatu yang ada sepanjang sesuatu itu ada dan ontologi menjadi dasar metafisika.
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang a kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Menurut Ibnu Khaldun ontologi merupakan tiori tentang yang wujud (suatu yang wujud) dan kadang-kadang juga ontologi disamakan dengan metefisika. metafisika juga disebut sebagai prote-filisofia atau filsafat yang pertama.
Secara istilah ontologi adalah ilmu yang memperlajari tenatng hakikat yang ada (ultimate reality) baik jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Didalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan seperti monoisme yang menyatakan bahwa hakikat yang asal itu hanya satu. Cabang dari monoisme ini adalah materialisme yang berpandangan bahwa hakikat yang asal adalah satu yaitu dari materi, sementara cabang lainnya yaitu idealisme yang berpandangan bahwa segala yang asal itu berasal dari ruh (yang bersifat ruhani). Pandangan lainnya adalah dualisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari dua unsur yaitu materi dan ruh, jasmani dan rohani.
Pandangan lainnya adalah pluralisme yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas yaitu unsur tanah, air, api dan udara. Ada juga faham nihilisme yang nampaknya frustrasi menghadapi relaistas. Realistas harus dinyatakan tunggal dan banyak, terbatas dan takterbatas, dicipta dan takdicipta, semuanya serna kontradiksi, sehingga lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realistas. Pandangan terakhir yang dikemukan oleh penulis adalah agnosticisme yang merupakan pemahaman yang menolak realitas mutlak yang bersifat trancendental.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni Naturalisme (kenyataan yang bersifat kealaman), Meterialisme (kenyataan yang bersifat benda mati), Idialisme (Kenyataan yan bersifat rohani), Hylomorfisme (yang sungguh ada keculai berupa Tuhan dan Malaikat berupa bahan bentuk) Empirisisme logis (segenap pernyataan mengenai “kenyataan” yang tidak mengandung makna) . itulah istilah-istilah penting yang terkait dengan ontologi.
Ontologi tentang yang ada (being), yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
B. Objek Formal Ontologi dan Metode dalam Ontologi
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Sedangkan menurut Al-Farabi dan Ibnu Zina objek pemikiran menjadi objek sesuatu yang mungkin ada karena yang lain, dan ada karena dirinya sendiri. Referensi tentang kesemuanya itu cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya lebih di jelaskan. Yang natural ontologi akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.
Adapun metode dalam ontology menurut Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu :abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.
Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.

Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:
Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.
C. Ilmu Pengetahuan Ditinjau dari Ontologi
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Dimana awal mula alam pikiran orang Yunani telah menunjukkan perenungan dibidang ontology seperti yang kita kenal “Thales” atas perenungan terhadap air yang merupakan subtansi terhadap asal mula dari segala sesuatu.
Asalnya air dapat di amati dari beberapa bentuknya. Air dapat menjadi benda halus berbentuk uap, ia juga dapat menjadi cair bahkan dapat menjadi benda keras berupa es, Secara totalitas air dapat dijadikan sumber kehidupan seluruh makhluk hidup, hewan, tumbuh-tumbuhan maupun manusia. Para filosof selalu mencari apa yang pertama yang ada dibelakang yang ada dan bersifat hakikih atau dasar yang dibelakang segala yang ada.
Berpijak dari alasan Thales, ontology merupakan cabang filsafat yang mendeskripsikan hakekat wujud. Di mana ilmu pengetahuan dari segi ontology selalu mengkaji yang telah diketahui atau yang ingin diketahui. Dari fenomena yang terjadi disekitarnya manusia melakukan berbagai aktifitas untuk mengetahui apa sebenarnya di balik apa yang diraba oleh pancaindranya, sebab ilmu hanya mengkaji ada bagian yang bersifat empiris yang dapat diuji oleh pancaindra manusia.
Ontologi merupakan kawasan ilmu yang tidak bersifat otonom, ontology merupan sarana ilmiah yang menemukan jalan untuk menagani masalah secara ilmiah. Oleh karena itu ontologis dari ilmu pengetahuan adalah tentang obyek materi dari ilmu pengetahuan itu adalah hal-hal atau benda-benda yang empiris.
Adapun dalam pemahaman ontology dapat dikemukakan dengan Pandangan Pokok Pikiran sebagai berikut:
1) Menoisme, Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu adalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa meteri atupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkmbangan yang lainnya. Istilah monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe. Paham ini kemudian terbagi kedalam dua aliran.
a. Meterialisme, aliran ini menggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani, aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.
b. Idealisme, Sebagai lawan materialisme adalah aliran idialisme yang dinamakan dengan spritualisme. Idialisme berarti serba cita, sedang spritulisme berarti ruh.
2). Dualisme, setelah kita memahami bahwa hakikat itu satu (monisme) baik materi ataupun ruhani, ada juga pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualisme. Aliran ini berpendapat bahwa terdiri dari dua macam hakikat sebgai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani. Pendapat ini mula-mula dipakai oleh Thomas Hyde (1770).
3). Pluralisme, paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui semua macam bentuk itu adalah semua nyata. pluralisme dalm Dictionory of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang mnyatakan bahwa keyataan ala mini tersusun dari banyak unsure, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxa goros dan Empedocles yang menyatakan bahwa subtansi yang ada itu berbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara.
4). Nihilisme, bersal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui viliditas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Tuegeniev dalam novelnya Fathers and Childern yang ditulisnya pada tahun 1862 di Rusia. Dalam novelnya itu Bazarov sebagai tokoh sentral mngatakan lemahnya kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.. Tokoh aliran ini adalah Friedrich Nietzsche (1844. 1900 M) dilahirkan di Rocken di Prusia, dari kelurga pendeta dalam pandangannya bahwa “ Allah sudah mati” Allah kristiani dengan segalah petrintah dan larangannya sudah tidak mrupakan rintangan lagi.
5). Agnosticisme, paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata Agnosticisme berasal dari bahsa Grik Agnostos yang berarti unknown. artinya not artinya know. Timbulnya aliran ini karena belum dapatnya orang menegnal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdidri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini menyagkal adanya kenyataan mutlak yang bersifat transcendent. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti, Soren Kierkegaan, Hiedegger, Setre dan Jaspers. yang dikenal sebagai julukan bapak filsafat.

D. Argumen Ontology Ditinjau dari Presfektif Agama
Filsafat agama mengajukan beberapa argument atau dalil tentang adanya Tuhan. Salah satu di antara argument-argumen tradisonal yang diberikan filsafat agama ialah argument ontologism tiori tentang wujud dan hakekat yang ada.
Argumen ontology dimajukan pertama kali oleh Plato (428-348 SM) dengan tiori ideanya. Yang dimaksud dengan idea adalah definisi dan konsep universal dari setiap sesuatu. Kuda mempunyai idea atau konsep universal. Idea atau konsep universal yang berlaku untuk tiap-tipa kuda yang nyata dalam alam nyata, baik kuda itu kecil atau besar, jantan atau betina, warna hitam, putih atau berbelang, baik pincang atau tidak, baik hidup ataupun sudah mati. Idea kuda itu adalah paham, gambaran atau konsep universal yang berlaku untuk seluruh kuda, baik kuda itu berada di Ameika, Eropa, atau Afrika, Asia maupun Australia.
Manusia juga mempunyai idea. Idea manusia adalah badan hidup yang kita kenal dan yang bisa berfikit ini. Dengan kata lain idea manusia ialah hayawan natiq (حيوان نا طق) atau binatang yang berfikir.
Konsep Hayawan natiq ini bersifat universal, berlaku untuk seluruh manusia besar kecil, tua-muda, lelaki-perempuan, manusia eropa, Afrika, Asia, India, China dan sebagainya.
Demikian setiap sesuatu di alam mempunyai idea, dan idea inilah yang merupakan hakekat sesuatu itu. idie inilah yang menjadi dasar wujud sesuatu. Idea berada dalam alam tersendiri yaitu alam idea. Alam idea berada diluar alam nyata ini, dan senantiasa beruba ini, bukanlah hakekat tapi hanyalah banyangan, kopi atau gambaran dari idea-ideanya yang ada dalam alam idea. Denagn kata lain benda-benda yang dapat ditangkap dengan pancaindar dan berubah ini bukanlah benda-benda yang asli, bukanlah akekat tapi hanya banyangan. yang hakekat dan asli adalah idea-idea yang kekal lagi tetap dan terdapat di alam idea, yang sebenarnya mempunyai wujud ialah idea-idea itu bekanlah benda yang dapat ditangkap dengan pancaindra ini. Benda-benda nyata adalah khayal atau illusi belaka, benda-benda berwujud karena idea-idea. Idea-idea adalah tujuan dan sebab dari wujud benda.
Idea-idea bukan bercerai berai dengan taka ada hbungan satu sama lain, tetapis emuanya bersatu dalam idea tertinggi yang dibri anama idea kebaikan, atau The Absolute Good yaitu yang mutlak baik. Yang mutlak baik adalah sumber, ujaun dan sebeb segalah sesuatu yang ada. Yang mutlak baik yaitu disebut Tuhan.
Dengan tiori idea Plato mencoba membuktikan bahwa alam berseumber pada sesuatu kekuatan gaib yang bernama The Absolute, atau yang Mutlak Baik.
Menutu St. Agustine (354-430 M). manusia mengetahui dari pengalamannya adalam hidup bahwa dalam itu ada kebenaran. dalam pada itu akal manusia terkadang merasa bahwa dia mengetahui tapi terkadang mereka ragu-ragu bahwa pa yang diketahuinya itu adalah kebenaran. Dengan kata lain akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada sesuatu kebenaran yang tetap, kebenaran yang tak berubah-ubah. Kebenaran yang tetap itulah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dan usaha mengetahui yang benar. Kebenaran tetap dan kekal itu merupakan Kebenaran Mutlak dan Kebenaran Mutlak itu disebut Tuhan.
Argumen lain Immanuel Kant (1729-1804) seorang filosof Jerman menurutnya ditambahkan wujud tentang konsep sesuatu tidak membawa hal baru tentang konsep itu, dengan kata lain konsep tentang kursi yang mempunyai wujud tidak ada perbedaanya. Konset tentang Zat Maha Besar dengan demikain tidak mengharuskan adanya Zat Maha Besar itu. Konsep sesuatu yang terbesar sebagai konsep sudah sempurna sungguhpun konsep itu tak mempunyai wujud pada hakekatnya.
Oleh karena itu argumen ontologis ini tidaklah dapat menyakinkan eties atau agnostic untuk percaya pada adanya Tuhan. Argumen ini belum dapat mendorong mereka untuk mengakui bahwa Tuhan mesti ada.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan :
1. Ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?.
2. Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme.
3. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu :abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik.
4. Ilmu Pengetahuan Ditinjau dari Ontologi merupakn salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. dimana awal mula alam pikran orang Yunani telah menunjukkan perenungan dibidang ontology seperti yang kita kenal “Thales” atas perenungan terhadap air yang merupakan subtansi terhadap asal mula dari segala sesuatu.
5. Yang sebenarnya mempunyai wujud ialah idea-idea itu bekanlah benda yang dapat ditangkap dengan pancaindra ini. Benda-benda nyata adalah khayal atau illusi belaka, benda-benda berwujud karena idea-idea. Idea-idea adalah tujuan dan sebab dari wujud benda.
Demikian pembahasan ini semoga dapat memberikan gambaran secara global tantang “Ontologi dalam Filsafat Ilmu” dan Saya hanya bisa berharap muda-mudahan saya telah di beri taufiq oleh Allah SWT dalam penulisan makalah ini dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang saya miliki.
“Tidak ada taufiq bagiku kecuali dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali.”
الله ا علم بالصواب

DAFTAR PUSTAKA
Bagus Loren, Kamus Filsafat (Cet. III; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002.
Bakhtiar Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2006
Issawi Charles, Filsafat Islam tentang Sejarah Cet. II; Jakarta: Tintamas, 1976
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996.

Kamaruddin, Kamus Istilah Karya Ilmiah Cet. II; Jakarta: Bani Aksara, 2002

Kattsoff Louis O, Pengantar Filsafat Cet. IX; Yogyakarta: Tiara wacana Yogya, 2004.

Madkour Ibrahim, Fi-Alsafah al-Islamiyah diterjemahkan oleh Drs. Yudian Wahyudi Asmin dengan judul Aliran dan Tiori Filsafat Islam Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Muhadjir Noeng, Filsafat Ilmu, Penerbit Rake Sarasin, Yogjakarta, 2001.

Nihayah M. Filsafat Ilmu dari Yunani Kuno sampai Modrn Makassar: Berkah Utami, 2002

Nur Ibrãhim Muhammad, Ilmu Mantiq Cet. V; Surabaya: Maktabah Sa’ad Ibnu Nãsyir Nabhãn, t.th

Sri Suprapto, ”Landasan Penelaah Ilmia” dalam Tim Penyusun Fakultas Filsafat UGM, filsafat Ilmu Sebagai dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan Cet. I; Yogyakarta,: Intan Priwara, 1997.

Syam, Mohammad Noor, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila Cet. IV; Surabaya: Usaha Nasional, 1988.

Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar Cet. I; Jakarta; PT. Bumi Aksara, 2005.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.