Arsip Tag: islam

KONSTRUK TEORI (THEORITICAL CONSTRUCTION ) DAN PARADIGMA (PARADIGM)

KONSTRUK TEORI (THEORITICAL CONSTRUCTION ) DAN

PARADIGMA (PARADIGM)

Oleh: Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pada dasarnya suatu teori dirumuskan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena yang ada. Bangunan suatu teori yang merupakan abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam definisi-definisi  akan mengalami perkembangan, dan perkembangan itu terjadi apabila teori sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah. Jika suatu teori ingin diakui sebagai ilmiah, teori ini haruslah cocok (compatible) dengan teori-teori lain yang telah diakui sebelumnya. Dan jika suatu teori memiliki kesimpulan prediktif yang berbeda dengan teori lainnya, salah satu di antara kedua teori tersebut salah.

Penerimaan suatu teori di dalam komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori tersebut memiliki kebenaran mutlak. Setiap teori selalu sudah dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian dan metode dari ilmuwan yang merumuskannya. Kemampuan suatu teori untuk memprediksi apa yang akan terjadi  merupakan kriteria  bagi validitas teori tersebut. Semakin prediksi dari teori tersebut dapat dibuktikan, semakin besar pula teori tersebut akan diterima di dalam komunitas ilmiah.[1] Ketika suatu bentuk teori telah dianggap mapan di dalam komunitas ilmiah, maka hampir semua ilmuwan dalam komunitas ilmiah tersebut menggunakan teori yang mapan itu didalam penelitian mereka. Teori yang mapan dan dominan itu disebut oleh Kuhn sebagai paradigma.[2]

Paradigma adalah cara pandang atau kerangka berfikir yang berdasarkannya fakta atau gejala diinterpretasi dan dipahami. Para ilmuwan bekerja dalam kerangka seperangkat aturan yang sudah dirumuskan secara jelas berdasarkan paradigma dalam bidang tertentu, sehingga pada dasarnya solusinya sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu. Jika dalam perjalanan kegiatannya timbul hasil yang tidak diharapkan, atau penyimpangan dari paradigmanya yang oleh Kuhn disebut sebagai anomali[3] akan menyebabkan perubahan paradigma karena adanya anomaly itu kemudian menyebabkan sikap ilmuawan terhadap paradigma yang berlaku berubah, oleh karena itu sifat penelitian mereka juga berubah.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas pemakalah mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengertian teori dan paradigma?
  2. Bagaimana konstruk  teori?
  3. Bagaimana Konstruk paradigma?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian  Teori dan Paradigma
    1. Kata ‘teori” secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theorea, yang berarti melihat, theoros yang berarti pengamatan. [4]

Adapaun pengertian teori menurut terminologi memiliki beberapa pengertian seperti yang dikemukakan oleh ilmuwan sebagai berikut:

Kerlinger mengemukakan bahwa teori adalah suatu kumpulan variabel yang saling berhubungan, definisi-definisi, proposisi-proposisi yang memberikan pandangan yang sistematis tentang fenomena dengan mempesifikasikan relasi-relasi yang ada di antara beragam variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena yang ada”.[5]

Cooper and Schindler (2003), mengemukakan bahwa, A theory is a set systematically interrelated concepts, definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena (fact). Teori adalah seperangkat konsep, defininisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.

Dalam bidang Administrasi Hoy & Miskel (2001) mengemukakan defenisi bahwa teori adalah seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.

Teori menurut Sugiyono adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, defenisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala.[6]

Berdasarkan pengertian teori tersebut dapat kita mengemukakan bahwa teori memiliki komponen-komponen yang terdiri atas: Konsep, fakta, fenomena, defenisi, proposisi dan variabel.

  1. Kata “paradigma”  berasal dari bahasa Yunani yaitu paradeigma yang berarti contoh, tasrif, model.[7] Paradigma ini dapat pula berarti: 1. Cara memandang sesuatu, 2. Dalam ilmu pengetahuan berarti model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomena yang dipandang, diperjelas, 3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefenisikan suatu studi ilmiah konkret.4 Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.[8]

Menurut Nasim Butt (1996) suatu paradigma merupakan teori-teori yang berhasil secara empiris yang pada mulanya diterima dan dikembangkan dalam sebuah tradisi penelitian sampai kemudian ditumbangkan oleh paradigma yang lebih progresif secara empiris.[9]

Di dalam penelitian diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan.[10]

Menurut Husain Heriyanto paradigma adalah seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah[11]

Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution (1972) menggunakan istilah paradigma dalam dimensi yang berbeda yaitu: 1. Paradigma berarti keseluruhan perangkat  – ‘kontelasi’ – keyakinan, nilai-nilai, teknik-teknik, dan selanjutnya yang dimiliki oleh para anggota suatu masyarakat. 2. Paradigma berarti unsur-unsur tertentu dalam perangkat tersebut, yakni cara-cara pemecahan atas suatu teka-teki, yang digunakan sebagai model atau contoh, yang dapat menggantikan model atau cara yang lain sebagai landasan bagi pemecahan atau teka-teki dalam ilmu pengetahuan normal.

Menurut AF. Saifuddin setiap paradigma mengandung teori-teori yang memiliki logika, prosedur metodologi dan implikasi teoritis sehingga tidak relevan bila suatu paradigma diperbandingkan apalagi dipertentangkan dengan paradigma yang lain (lihat Kuhn, 1978). Kritik terhadap suatu paradigma harus berlangsung dalam paradigma itu sendiri, tidak dari pandangan paradigma yang lain. Dalam bahasa awam, seekor ular tidak akan sama dengan seekor harimau, maka tidak beralasan untuk memperbandingkan keduanya apalagi mempertentangkan atau memperdebatkannya. [12]

  1. B. Konstruk Teori

Bangunan teori adalah abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam definisi-definisi. Konsep sebagai abstraksi dari banyak empiri yang telah ditemukan kesamaan umumnya dan kepilahannya dari yang lain atau abstraksi dengan cara menemukan sejumlah esensi pada suatu kasus, dan dilakukan berkelanjutan pada kasus-kasus lainnya, dapat dikonstruksikan lebih jauh menjadi proposisi atau pernyataan, dengan membuat kombinasi dari dua konsep atau lebih. Bangunan-bangunan teori tersebut antara lain:

  1. 1. Teori Ilmu

Teori ilmu memiliki dua kutub arti teori. Kutub pertama adalah teori sebagai hukum eksprimen muncul beragam, mulai dari hasil eksprimen tersebut meluas ke hasil observasi phisik seperti teori tentang panas bumi. Kutub kedua adalah hukum sebagai kalkulus formal dapat muncul beragam pula, mulai dari yang dekat dengan kutub pertama seperti teori sebagai eksplanasi phisik misalnya teori Galileo tentang peredaran planet pada porosnya, teori sinar memancar melengkung bila lewat medan gravitasi. Selanjutnya teori sebagai interpretasi terarah atas observasi seperti teori sosial statis dan sosial dinamis dari August Comte dan pada ujung kutub kedua adalah teori sebagai prediksi logik; dengan sifatnya berlaku umum dan diprediksikan berlaku kapan pun dahulu dan yang akan datang, seperti teori evolusi dari Darwin,  teori relativitas dari Einstein[13] yang memnberikan penjelasan alternatif tentang sumber energi yang memungkinkan matahari menghasilkan energi begitu besar dalam waktu begitu lama. [14].

  1. 2. Temuan Substantif Mendasar

Temuan-temuan atas bukti empirik dapat dijadikan tesis substantif, dan diramu dengan konsep lain dapat dikonstruk menjadi teori substantif. Asumsi keberlakuan tesis substantif tersebut ada pada banyak kasus yang sama di tempat dan waktu berbeda.[15]

Temuan huruf baca hirogliph Mesir, huruf baca kanji Jepang dan Cina adalah symbol-simbol untuk benda-benda Huruf baca lebih maju tampil sebagai simbol-simbol ucapan. Angka-angka Rumawi dan Latin adalah simbol-simbol, seperti X adalah simbol dari 10, L =50, M = 100,  dan seterusnya. Huruf tulis yang kita gunakan adalah huruf Latin. Jika angka ilmu pengetahuan yang kita gunakan  adalah angka latin, bagaimana matematika dan ilmu eksakta lain akan dapat dikembangkan dengan huruf-huruf simbol X,L,M, dan lainnya. Angka arab yang kita gunakan dalam  berilmu pengetahuan sekarang ini bukan representasi simbol, melainkan representasi placed value. Sama-sama angka 5 dengan letak berbeda, berbeda nilainya. Contoh: 5.555.55. Itu merupakan temuan  teori substantif mendasar.

Demikian pula persepsi ilmuwan tentang atom, berkembang. Dari partikel terkecil, ke ditemukannya unsur radioaktif pada atom, dan diketemukannya unsur-unsur electron yang berputar mengorbit pada proton yang mempunyai kekuatan magnetik. Kemudian pada tahun 1937 diketemukan neutron, semacam proton, tetapi tidak mempunyai kekuatan magnetik. Berat neutron beragam dan inilah yang menyebabkan atom satu beda beratnya dengan atom yang lain. Temuan teori atom ini merupakan temuan ilmiah substantif  mendasar.[16]

  1. 3. Hukum-hukum Keteraturan

a. Hukum Keteraturan Alam

Alam semesta ini memiliki keteraturan yang determinate. Ilmu pengetahuan alam biasa disebut hard science, karena segala proses alam yang berupa benda anorganik sampai organik dan hubungan satu dengan lainnya dapat dieksplanasikan dan diprediksikan relatif tepat. Kata relatif  tepat momot dua makna: pertama, bila teori yang kita gunakan untuk membuat eksplanasi atau prediksi sudah sangat lebih baik, dan kedua, bila variabel yang ikut berperan lebih terpantau.[17] Menurut al-Kindi ketertiban alam ini, baik susunan, interaksi, relasi bagian dengan bagiannya, ketundukan suatu bagian pada bagian lainnya, dan kekukuhan strukturnya di atas landasan prinsip yang terbaik bagi proses penyatuan, perpisahan, dan muncul serta lenyapnya sesuatu dalam alam, mengindikasikan adanya pengaturan yang mantap dan kebijakan yang kukuh. Tentu ada Pengatur Yang Maha Bijaksana dibalik semua ini, yaitu Allah.[18]

b. Hukum Keteraturan Hidup Manusia

Hidup manusia itu memiliki keragaman sangat luas. Ada yang lebih suka kerja keras dan yang lain menyukai hidup santai, ada yang tampil ulet meski selalu gagal, yang lain mudah putus asa, ada yang berteguh pada prinsip dan sukses dalam hidup, yang lain berteguh pada prinsip, dan tergilas habis. Kehidupan manusia mengikuti sunnatullah, mengikuti hukum yang sifatnya indeterminate. Mampu membaca kapan harus teguh pada prinsip, kapan diam dan kapan berbicara dalam nada bagaimana, dia akan sukses beramar ma’ruf nahi mungkar. Manusia mempunyai kemampuan untuk memilih yang baik, dan menghindari yang tidak baik. Dataran baik tersebut dapat berada pada dataran kehidupan pragmatik sampai pada dataran moral human ataupun moral religious. Memilih kerja yang mempunyai prospek untuk menghidupi keluarga, merupakan kebebasan memilih manusia dengan konsekuensi ditempuhnya keteraturan sunnatullah; harus tekun bekerja dan berupaya berprestasi di dunia kerjanya. Untuk diterima kepemimpinannya, seorang pemimpin perlu berupaya menjadi shiddiq, amanah, dan maksum. Kedaan demikian berkenan dengan pemikiran Ibnu Bajjah yang membagi perbuatan manusia kepada perbuatan manusiawi, yaitu perbuatan yang didorong oleh kehendak/kemauan yang dihasilkan oleh pertimbangan pemikiran, dan perbuatan hewani yaitu perbuatan instingtif sebagaimana terdapat pada hewan, muncul karena dorongan insting dan bukan dorongan pemikiran.[19]

c. Hukum Keteraturan Rekayasa Teknologi

Keteraturan alam yang determinate, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keteraturan substantif dan ketraturan esensial. Seperti Pohon mangga golek akan berbuah mangga golek. Ketika ilmuwan berupaya menemukan esensi rasa enak pada mangga, menemukan esensi buah banyak pada mangga, dan menemukan esensi pohon mangga yang tahan penyakit, ilmuwan berupaya membuat rekayasa agar dapat diciptakan pohon mangga baru manalagi yang enak buahnya, banyak buahnya, dan pohonnya tahan penyakit, di sini nampak bahwa ilmuwan mencoba menemukan keteraturan esensial pada benda organik. Produk teknologi merupakan produk kombinasi antara pemahaman ilmuwan tentang keteraturan esensial yang determinate dengan upaya rekayasa kreatif manusia mengikuti hukum keteraturan sunnatullah.[20]

  1. 4. Konstruk Teori Model Korespondensi

Konstruk berfikir korespondensi adalah bahwa kebenaran sesuatu dibuktikan dengan cara menemukan relasi relevan dengan sesuatu yang lain. Tampilan korespondensi tersebut beragam mulai dari korelasi, kausal, kontributif, sampai mutual. Konstruk berfikir statistik kuantitatif dan juga pendekatan positifistik menggunakan cara ini.[21] (Menurut Bertand Russel suatu pernyataan benar jika materi pengetahuan yang dikandung oleh pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan/cocok) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan itu. Misalnya, jika ada seseorang yang mengatakan “ Ibu kota republik Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu benar sebab pernyataan itu sesuai dengan fakta objektif.[22]

Pada akhir abad XIX dan permulaan abad XX, terobosan-terobosan dramatik telah dilakukan dalam logika formal. Secara khusus jelas dihargai bahwa hal dapat ditarik kesimpulan, dapat dikonstruksi sebagai sebuah relasi formal yang sepenuhnya indefenden dari maknanya. Misalnya, orang dapat menyimpulkan kalimat r dari kalimat-kalimat s dan “jika s maka r” tanpa mengetahui apapun tentang apa yang diklaim (dinyatakan) kalimat-kalimat s dan r. Para penstudi dan ahli logika menyelidiki kemungkinan pengkonstruksian (pembentukan) bahasa-bahasa formal yang di dalamnya relasi-relasi logikal akan menjadi persis (terumus secara cermat). Dari aksioma-aksioma teori itu semua teorema secara murni formal akan mengikuti ( seperti r mengikuti dari s dan “jika s maka r”) sebab teori itu mengatakan kepada kita tentang dunia, ia memerlukan sebuah ‘interpretasi”: Kita harus diberi tahu apa yang menjadi makna dari term-termnya dan pernyatan-pernyataan pendiriannya. “Correspondence rule” (aturan kores pondensi) adalah pernyataan-pernyataan yang sekaligus dimaksudkan untuk menyediakan interpretasi itu dan untuk memungkinkan klaim-klaim dari teori-teori yang sekarang sudah diinterpretasi dapat diuji.[23]

  1. 5. Konstruk Teori Model Koherensi

Konstruk teori model koherensi merentang dari koheren dalam makna rasional sampai dalam makna moral. Konstruk koheren dalam makna rasional adalah kesesuaian sesuatu dengan skema rasional tertentu, termasuk juga kesesuaian sesuatu dengan kebenaran obyektif rasional.

Aristoteles dalam teori koherensi memberikan standar kebenaran dengan cara deduktif, yaitu kebenaran yang didasarkan pada kriteria koherensi yang dapat diungkap bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap benar bahwa “semua manusia pasti mati” adalah pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si fulan adalah seorang manusia dan si Fulan pasti mati” adalah benar pula. Sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.[24]

Konstruk berfikir koherensi kedua adalah yang dilandaskan kepada kebenaran moral dan nilai. Sesuatu dipandang sebagai benar bila sesuai dengan moral tertentu. Moral dalam maknanya yang luas menyangkut masalah: right or wrong, truth or false, justice or unfair, human or inhuman dan lainnya. Hal ini terkait dengan kehidupan budi yang terjelma dalam proses penilaian itu merupakan ciri manusia yang terpenting dalam kehidupan individu, masyarakat dan kebudayaan, sebagai makhluk yang berkelakuan.

  1. 6. Konstruk Teori Model Pragmatis

Konstruk teori model Prgmatis berupaya mengkonstruk teorinya dari kosep-konsep, pernyataan-pernyataan yang bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak; Artinya suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau implikasinya mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kaum pragmatis berpaling pada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari pengetahuan tentang alam ini yang dianggap fungsional dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alamiah. Agama bisa dianggap benar karena memberikan ketenangan pada jiwa dan ketertiban dalam masyarakat. Para ilmuan yang menganut azas ini tetap menggunakan suatu teori tertentu selama teori itu mendatangkan manfaat.[25]

  1. 7. Konstruk Teori Iluminasi

Teori Iluminasi menurut Mehdi Ha’iri Yazdi adalah pengetahuan yang semua hubungannya berada dalam kerangka dirinya sendiri, sehingga seluruh anatomi gagasan tersebut bisa dipandang benar tanpa membutuhkan hubungan eksterior. Artinya hubungan mengetahui, dalam bentuk pengetahuan tersebut adalah hubungan swaobjek tanpa campur tangan koneksi dengan objek eksternal.[26]

Selanjutnya Iluminasi oleh Yazdi disebut sebagai ilmu hudhuri yaitu pengetahuan dengan kehadiran karena ia ditandai oleh keadaan neotic dan memiliki objek imanen yang menjadikannya pengetahuan swaobjek. Ilmu hudhuri tidak memiliki objek diluar dirinya, tetapi objek itu sendiri ada adalah objek subjektif yang ada pada dirinya. Oleh sebagian sufi, iluminasi itu adalah pengetahuan diri tentang diri yang berasal dari penyinaran dan anugerah Tuhan yang digambarkan dengan berbagai ungkapan dan keadaan. Ada yang menyebutkannya dengan terbukanya hijab antara dirinya dengan Tuhan, sehingga pengatahuan dan rahasianya dapat diketahui. Ada yang mengungkapkan dengan rasa cinta yang sangat dalam sehingga antara dia dan Tuhan tidak ada rahasia lagi. Pengetahuan Tuhan adalah pengetahuannya. Dan ada yang menyatakan dengan kesatuan kesadaran (ittihᾶd/hulûl).[27]

  1. C. Konstruk Paradigma

Para ilmuwan dalam kegiatan ilmiahnya membangun paradigma atas berbagai konsep, asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum dalam tatanan tertentu, menyederhanakan yang kompleks yang dapat diterima umum. Di bawah ini dikemukakan beberapa paradigma antara lain:

  1. 1. Paradigma Cartesian- Newtonian

Paradigma ini dicanangkan oleh Rene Descartes (1596-1650) dan Isaak Newton (1642-1727). Penggunaan istilah paradigma dalam frase “paradigma Cartesian-Newtonian” mengacu kepada pengertian generik yang diturunkan oleh Thomas Kuhn, yang dalam masterpiece-nya The structure of Scientific Revolutinons (1970) Kuhn menggunakan istilah paradigma untuk banyak arti, seperti matriks disipliner, model, atau pola berpikir, dan pandangan-dunia kaum ilmuwan. Namun pengertian umum yang lebih banyak dipakai paradigma berarti seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah.[28]

Istilah paradigma dalam frase paradigma Cartesian-Newtonian digunakan dalam makna yang lebih luas yang tidak hanya berlaku pada komunitas ilmiah melainkan bekerja pada masyarakat modern umumnya. Paradigma dalam hal berarti  suatu pandangan-dunia (world vieu) atau cara pandang yang dianut secara pervasif dan terkandung di dalamnya asumsi-asumsi ontologis dan epistemologis tertentu, visi realitas, dan sistem nilai.

Selanjutnya Paradigma Cartesian-Newtonian mengandung dua komponen utama, yaitu prinsip-prinsip dasar dan kesadaran intersubjektif. Prinsip-prinsip dasar itu adalah asumsi-asumsi teoritis yang mengacu kepada sistem metafisis, ontologis, dan epistemologis tertentu. Sedang kesadaran intersubjektif adalah kesadaran kolektif terhadap prinsip-prinsip dasar itu yang dianut secara bersama sedemikian sehingga dapat melangsungkan komunikasi yang memiliki frame of reference yang sama. Misalnya, konsep ‘maju’ (progress) yang sesuai dengan paradigma Cartesian-Newtonian adalah bertambahnya kepemilikan dan pengusaan manusia terhadap alam. Pengertian konsep ‘maju’ seperti itu telah menjadi kesadaran kolektif yang memungkinkannya komunikasi berlangsung antar manusia modern sedemikian, sehingga bangsa yang mampu mengeksploitasi alam melalui industri disepakati untuk digolongkan sebagai bangsa maju atau Dunia Pertama.[29]

Adapun asumsi-asumsi paradigma Cartesian-Newtonian antara lain:

  1. a. Subjektivisme-antroposentristik

Pada asumsi ini mempresentasikan modus khas kesadaran modernisme bahwa manusia merupakan pusat dunia. Kesadaran subjektivisme ini dicanangkan oleh bapak filsafat modern, Rene Descartes. Prinsip pertamanya yaitu Cogito ergo sum ( Aku berpikir, maka aku ada) merupakan bentuk kesadaran subjek yang terarah kepada dirinya sendiri, dan hal itu merupakan basis ontologis terhadap eksistensi realitas eksternal di luar diri sang subjek. Descartes berpendirian bahwa kita pertama kali harus memutuskan apa yang dapat kita ketahui tentang yang riil, dan harus tetap skeptis terhadap realitas sampai kita telah menemukan apa yang dapat kita ketahui. Pendekatan ini disebut Keith Lehrer sebagai epistemologi skeptis. Menurut Gallagher, sejak itu filsafat beralih dari kekaguman terhadap kenyataan kepada kekaguman terhadap pengetahuan kekaguman itu sendiri. Pertanyaan manusia kembali  kepada dirinya sendiri. Descartes menjadikan usahanya untuk mengetahui diri sendiri sebagai objek penyelidikan: Bagaimana saya tahu bahwa saya dapat tahu?. Kesadaran cogito merupakan kesadaran subjek yang terarah kepada diri sendiri.[30]

  1. b. Dualisme

Penganut paradigma Cartesian-Newtonian membagi realitas menjadi subjek dan objek, manusia dan alam, dengan menempatkan superioritas subjek atas objek. Keterpilahan yang dikotomis ini adalah konsekuensi alamiah dari prinsip Descartes untuk menemukan kebenaran objektif dan universal, yaitu prinsip clearly (jelas) dan  distinctly (terpilah). Paradigma ini menganggap bahwa manusia (subjek) dapat memahami dan mengupas realitas yang terbebas dari konstruksi mental manusia; bahwa subjek dapat mengukur objek tanpa mempengaruhinya, dan sebaliknya tanpa dipengaruhi oleh objek.

Selain itu dualisme meliputi pemisahan yang nyata dan mendasar antara kesadaran dan materi, antara pikiran dan tubuh, antara jiwa cogitans dan benda extensa; serta antara nilai dan fakta. Descartes berkata:” Tidak ada yang tercakup di dalam konsep tubuh menjadi milik akal; dan tidak ada yang tercakup di dalam konsep akal menjadi milik tubuh”. Pemisahan antara akal dan tubuh atau antara kesadaran subjek  dan realitas eksternal telah menimbulkan pengaruh yang luar biasa pada pemikiran Barat yang pada gilirannya juga terhadap pemikiran dunia modern.[31]

  1. c. Mekanistik- Deterministik

Paradigma Cartesian-Newtonian ditegakkan atas dasar asumsi kosmologis bahwa alam raya merupakan sebuah mesin raksasa yang mati, tidak bernyawa dan statis. Bahkan bukan alam saja, segala sesuatu yang di luar kesadaran subjek dianggap sebagai mesin yang bekerja menurut hukum-hukum matematika yang kuantitatif, termasuk tubuh manusia. Ini merupakan konsekuensi alamiah dari paham dualisme yang seolah-olah menghidupkan subjek dan mematikan objek. Karena subjek hidup dan sadar, sedangkan objek berbeda secara diametral dengan subjek, maka objek haruslah mati dan tidak berkesadaran. Dengan demikian paradigma Cartesian-Newtonian menganggap bahwa  realitas dapat dipahami dengan menganalisis dan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu dijelaskan dengan pengukuran kuantitatif. Hasil penyelidikan dari bagian-bagian kecil itu lalu digeneralisir untuk keseluruhan. Alam semesta,  manusia, dipandang sebagai mesin besar yang dapat dipahami dengan menganalisis bagian-bagiannya. Jadi, dalam pandangan mekanistik, keseluruhan adalah identik dengan bagian-bagiannya, persis sama dengan perhitungan kuantitatif dalam matematika; bahwa empat (4) itu identik dengan jumlah bagian-bagiannya (2+2 atau 1+3). Tidak ada sesuatu yang lebih dalam keseluruhan kecuali dalam jumlah dari bagian-bagiannya yang digabungkan menurut tatanan atau urutan tertentu. Sejalan dengan itu paradigma ini bersifat deterministik yang memandang alam sepenuhnya yang dapat dijelaskan, diramal dan dikontrol berdasarkan hukum-hukum yang deterministik (pasti, niscaya) sedemikian rupa sehingga memperoleh kepastian yang setara dengan kepastian matematis.[32]

  1. d. Materialime-Saintisme

Paradigma Cartesian-Newtonian menganut paham Materialisme-saintisme (materialsme ilmiah). Pandangan epistemologi dan kosmologinya berwatak materialistik. Tuhan bagi Descartes, lebih bersifat instrumental untuk penjamin kesahihan pengetahuan subjek terhadap realitas eksternal. Newton mempunyai pandangan bahwa Tuhan pertama-tama menciptakan partikel-partikel benda, kekuatan-kekuatan antar partikel, dan  hukum gerak dasar. Setelah tercipta alam semesta terus bergerak seperti sebuah mesin yang diatur oleh hukum-hukum deterministik, dan Tuhan tidak diperlukan lagi kehadiran-Nya dalam kosmos ini.[33]

  1. 2. Paradigma Holistik-Dialogis

Paradigma holistik-dialogis adalah merupakan paradigma alternatif karena tuntutan pandangan dunia baru  dalam upaya memahami fenomena-fenamena global secara lebih baik, tepat dan sesuai. Pandangan dunia baru itu merupakan paradigma alternatif terhadap paradigma Cartesian-Newtonian yang dualisme yang lebih menguasai kesadaran manusia modern dalam kurun waktu tiga ratus tahun terakhir.

Dengan munculnya gagasan orisinal dari Shadr al-Din al-Shirazi yang lebih popular dengan nama Mulla Shadra (1572-1641), filsuf Persia yang hidup sezaman dengan Descartes yaitu gerak trans-substansial (trans-substansial motion, harakat al-jawhariyyah). Gagasan ini dicetuskan setelah melalui analisis ontologis-metafisis yang  mendalam terhadap eksistensial dan realitas. Ontologis Mulla Shadra memiliki banyak kesamaan dengan Filsafat proses atau filsafat organisme Alfred North Whitehead (1815-1974), dapat dianggap sebagai upaya transformasi gerak trans-substansial kedalam sistim kosmologi yang dinamis. Whitehead telah mengintroduksi data-data perkembangan sains modern sebagai bagian yang integral dalam sistem filsafatnya, khususnya pandanagan kosmologisnya, sehingga lebih memperkaya pemahaman terhadap dinamika realitas.[34]

Adapun sistem ontologis Shadra didasarkan atas tiga prinsip yaitu:

  1. a. Prinsip Primasi Eksistensi (ahslat al-wujud) .

Prinsip primasi eksistensi merupakan landasan utama filsafat Shadra. Shadra memprioritaskan eksistensi atas semua konsep dan esensi, serta memandang eksistensi sebagai satu-satunya realitas substantif. Ia menolak dualisme eksistensi-esensi dalam realitas, karena esensi muncul sebagai penyangkalan atau batasan terhadap eksistensi. Menurutnya, Penyebab semua akibat dan akibat-akibat dari suatu sebab merupakan eksistensi yang sebenarnya (real existence). Eksistensi sebagai konsep dan atau esesnsi tidak memiliki realitas. Eksistensi bukanlah sesuatu (something) yang memiliki realitas; eksistensi adalah realitas itu sendiri. Oleh karena itu  eksistensi bukanlah atribut suatu entitas seperti yang terdapat dalam kalimat:”Manusia ada”, dan lebih tepat dikatakan dengan kalimat “ini manusia”. Karena esensi adalah tidak ada (nothing) dalam dirinya sendiri. Apapun yang dimiliki oleh suatu maujud (being) diperoleh dari “hubungan” maujud itu dengan eksistensi, sedangkan eksistensi adalah self real (nyata pada dirinya), berkat manifestasi dan hubungannya dengan wujud mutlak atau wujud murni.[35]

  1. b. Gradasi eksistensi ( tasykik al-wujud)

Gradasi eksistensi disebut juga sebagai systematic ambiguity of existence (ambiguitas sistematis eksistensi). Dikatakan bahwa eksistensi adalah satu realitas yang mengambil bagian dalam gradasi intensitas dan kesempurnaan. Semakin banyak esensi yang dikandung satu maujud, semakin rendah tingkat intensitas dan kesempurnaannya. Sebaliknya semakin sedikit esesnsi yang dikandung, semakin tinggi tingkat gradasi suatu maujud. Hubungan kesatuan wujud dengan multiplisitas eksistensi seperti hubungan matahari dengan cahaya matahari. Cahaya matahari bukanlah matahari dan pada waktu yang sama bukanlah apa-apa kecuali matahari. Jadi multiplisitas muncul dari gradasi eksistensi tersebut, dan menurutnya pluralitas itu lahir dari unitas. Prinsip gradasi  eksistensi Shadra berarti sebagai keragaman dalam kesatuan, bukan kesatuan dalam keragaman.

Selanjutnya prinsip ambiguitas sistematis eksistensi selain bersifat ambigu juga sistematik; dengan kata lain ambiguitas itu bersifat sistematis. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa eksistensi itu tidak statis tetapi bergerak terus-menerus . Gerak itu dari yang kurang sempurna ke yang lebih sempurna, dan bersifat satu arah dan tidak dapat dibalik karena eksistensi tidak perna bergerak ke belakang.

  1. c. Gerak trans-substansial (al-harakat al-jauhariyyah)

Prinsip gerak trans-substansial ini adalah sebuah temuan filosofis shadra yang sangat orisinal dan cemerlang serta memberikan kontribusi besar bagi penyelasaian persoalan-persoalan abadi filosofis, termasuk persoalan dualisme jiwa-tubuh yang menjadi fokus diskusi dunia modern. Shadra menyatakan bahwa karena gerak (motion) itu berarti perpindahan (moving) sebagai kata kerja, yakni suatu “kebaruan dan kemenjadian yang kontinu”, dari bagian-bagian gerak maka adalah tidak mungkin bahwa sebabnya yang langsung harus sesuatu yang tetap atau wujud yang abadi. Karena, suatu entitas yang tetap atau abadi mengandung dalam dirinya fase-fase gerak yang dilalui sebagai kenyataan saat ini (as a present fact), dan kebersamaan melewati fase-fase itu sama dengan stabilitas, bukan gerak. Oleh karena itu, gerak tidak dapat dibangun atas dasar entitas yang tetap. Entitas seperti itu dapat memiliki esensi yang tetap, tetapi bukan  eksistensi yang tetap yang sama sekali terdiri dari perubahan dan mutasi. Jadi di bawah perubahan aksiden–aksiden, terdapat suatu perubahan yang lebih fundamental, yaitu perubahan dalam substansi (change in substance), yang melalui perubahan pada forma-forma material, maka semua perubahan dalam aksiden pada akhirnya dapat dilacak. Semua badan, baik langit (celestial) ataupun material (dunia sublunar), merupakan subjek perubahan substansial ini dalam wujud mereka. Hal ini membuktikan bahwa seluruh dunia ruang-waktu secara temporal berawal sejauh eksistensinya terus diperbarui setiap saat.[36]

Selanjutnya  dalam kosmologi, Whitehead berpendapat bahwa materialisme ilmiah berakar kuat pada kosmologi modern yang dibangun Descartes Newtonian. Oleh karena itu sebagai alternatif terhadap kosmologi tersebut Whitehead mengajukan kosmologi baru dengan basis pemikiran filosofis dan ilmiah yang sesuai.

Pandangan organisme dalam kosmologi Whitehead didasarkan pada beberapa konsep dasar, yaitu:

  1. a. Satuan-satuan aktual (actual entities,actual occasions). Satuan ini merupakan kategori eksistensi primer yang membentuk segala sesuatu yang ada. Menurut Whitehead tidak ada sesuatu pun yang lebih nyata dan primer daripada satuan-satuan aktual; ia juga menyebutnya sebagai final realties. Upaya pemahaman terhadap realitas didasarkan atas satuan-satuan aktual. Whitehead menyebutnya sebagai prinsip ontologis, bahwa segala sesuatu  merupakan satuan-satuan aktual atau derivasi dari satuan-satuan aktual; bahwa satuan-satuan aktual adalah satu-satunya alasan, sebab, penjelasan sehingga setiap mencari sebuah penjelasan adalah mencari satu atau lebih satuan aktual. Satuan aktual disebut juga sebagai peristiwa aktual, karena setiap satuan aktual merupakan suatu peristiwa pengalaman, suatu proses perwujudan diri menjadi satu individu. Menurut Whitehead, istilah peristiwa aktual atau actual occasions ini digunakan untuk menunjukkan karakter ekstensifnya satuan aktual. Dia mengatakan bahwa dunia aktual adalah suatu proses, dan proses tersebut adalah proses menjadinya satuan-satuan aktual. Oleh karena itu satuan-satuan aktual adalah pengada-pengada kreasi; meraka juga disebut sebagai peristiwa-peristiwa aktual.[37]
  2. b. Proses organis. Prinsip “proses” ini ditekankan oleh Whitehead dalam menggambarkan realitas yang dinamis. Prinsip ini mengatakan bahwa setiap pengada ditentukan oleh bagaimana ia menciptakan diri dalam proses menjadi dirinya. Dalam hal ini Whitehead mengatakan bahwa, bagaimana sebuah satuan aktual yang menjadi (becoming) mengkonstitusi satuan aktual apa yang ada (being); sehingga dua deskripsi sebuah satuan aktual tidak terpisah. Ke-pengada-annya dikonstitusi oleh ke-menjadi-annya.[38]
  3. c. Prinsip “relativitas” Whitehead dalam menggambarkan kondisi umum yang mengaitkan segala sesuatu dalam kontinum ruang-waktu, mengacu kepada gagasan sentral yang dicetuskan oleh Teori Relativitas dan mekanika kuantum ia mengemukakan “prinsip relativitas” (principle of relativity). Dengan semangat yang sama dengan fisika modern itu, bahwa “Prinsip relativitas universal secara langsung bersebrangan dengan diktum Aristoteles: Sebuah substansi tidak hadir dalam sebuah subjek, sebaliknya menurut prinsip relativitas, setiap satuan aktual hadir dalam satuan-satuan actual yang lain. Pada dasarnya jika kita memperhitungkan tingkat-tingkat relevansi, dan relevansi itu dapat diabaikan, kita dapat mengatakan bahwa setiap entitas aktual hadir dalam setiap satuan aktual yang lain. Adalah tugas utama filsafat organisme untuk mencurahkan perhatiannya kepada penjelasan tentang gagasan bahwa ‘pengada hadir dalam entitas lain’.
  4. d. “Kreativitas” adalah prinsip kebaruan, suatu daya dinamis alam semesta yang memungkinkan terjadinya proses perubahan terus-menerus yang memunculkan satuan-satuan aktual baru. Whitehead menjelaskan bahwa, “kreativitas” adalah prinsip kebaruan. Peristiwa aktual adalah sebuah satuan baru yang diturunkan dari pelbagai satuan tempat ‘yang banyak’ menyatu. Karena itu kreativitas mengintroduksi kebaruan ke dalam kandungan ‘yang banyak’, yang adalah alam semesta secara disjungtif. “Kemajuan kreatif” adalah aplikasi dari prinsip dasar kreativitas ini terhadap setiap situasi baru yang darinya ia berasal. Konsep kreativitas tidak mempunyai karakter tersendiri lepas dari satuan aktual oleh karena itu kreativitas hanya bisa dikenal dan dipahami dalam proses terjadinya suatu satuan aktual.
  5. e. Pansubjektivisme. Dalam sistim kosmologi Whitehead terdapat sebuah prinsip yang diintroduksinya yang disebut pansubjektivitas (pansubjektivity). Menurut Whitehead, prinsip subjektivitas berlaku untuk semua satuan aktual, mulai dari Tuhan, manusia, hewan, tumbuhan, mineral, sampai benda-benda mati. Maksudnya adalah segenap pengada di alam raya ini harus dipahami dan diperlakukan sebagai subjek. Dengan demikian prinsip pansubjektivitas ini dapat dianggap sebagai implikasi alamiah dari prinsip-prinsip primer seperti prinsip kemenjadian yang mengkonstitusi pengada, prinsip proses sebagai realitas primer, prinsip relativitas prinsip jaringan yang mengkaitkan segala sesuatu dalam suatu hubungan organis dan prinsip kreativitas. Dengan prinsip ini ia meneguhkan pemikirannya yang memandang seluruh alam semesta sebagai suatu ekosistem yang dinamis dan berevolusi. Dan menempatkan manusia sebagai bagian dari alam semesta tidak mengkontraskan manusia dengan alam.[39]

  1. 3. Positivisme dalam Paradigma IPA

Istilah Positivisme digunakan pertama kali oleh Saint Simon (1825). Positivisme berakar pada empirisme. Prinsip Filosofik tentang positifisme dikembangkan pertama kali oleh empirist Inggris Francis Bacon (sekitar 1600). Tesis positivisme adalah bahwa ilmu satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Mengembangkan pemikiran tentang ilmu universal bagi kehidupan manusia, sehingga berkembang ethika, politik dan agama sebagai disiplin ilmu yang positivistik.[40]

Pelopor filsafat positivisme ialah August Comte (1798-1857). Dikatakan Positivisme, karena mereka beranggapan bahwa yang dapat kita selidiki, dapat kita pelajari hanyalah yang berdasarkan fakta-fakta, yang berdasarkan data-data yang nyata, yaitu yang mereka namakan positif. Positivisme membatasi penyelidikan studinya hanya kepada bidang gejala-gejala saja. Apa yang kita ketahui secara positif adalah segala yang tampak, dan semua gejala.[41]

Pandangan tersebut didasarkan atas hukum evolusi sejarah manusia yang menurut Comte mengalami tiga tingkatan, yaitu: Tingkatan teologis yang dikuasai oleh tahayul dan prasangka, meningkat ke tingkatan metafisik, yang sebetulnya masih abstrak; dan yang terakhir adalah tingkatan positif, yaitu tingkatan ilmu pengetahuan (science), di mana pandangan dogmatis diganti oleh pengetahuan faktual. Pada priode terakhir ini manusia membatasi dan mendasarkan pengetahuannya kepada apa yang dapat dilihat, yang dapat diukur, dan dapat dibuktikan. Comte sependapat dengan Descartes dan Newton, di mana ilmu pasti dijadikan dasar segala filsafat, karena ilmu pasti memiliki dalil-dalil yang bersifat umum.[42]

Pada abad XIX ilmu sosial dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam (IPA)  yang berkembang marak sejak abad XVIII. Problem sosial dan problema kehidupan manusia dianalisis dengan menggunakan logika induktif, sebagaimana digunakan oleh IPA berupaya mencari kesamaan, keteraturan dan konformitas agar dapat dibuat hukum dan prediksi yang berlaku umum, kapanpun dan di manapun. Perilaku manusia dan proses perubahan individual dicari pula kesamaan, keteraturan, dan konformitas antar individu sebagaimana gejala alam, agar dapat dibuat hukum dan prediksi yang berlaku umum bagi siapapun, kapanpun, dan di manapun. Ada upaya untuk menyatukan semua ilmu dalam paradigm IPA.

Problem sosial dan problem moral manusia dicoba dijelaskan dengan cara yang sama. Model pembuktian untuk ilmu sosial juga menggunakan model pembuktian matematik sebagaimana digunakan oleh IPA. Sejak abad XIX sampai medio abad XX terjadi unifikasi ilmu dalam positivisme dengan paradigma IPA matematik.[43]

  1. 4. Phenomenologi.

Istilah phenomenologi telah digunakan sejak Lambert yang sezaman dengan Kant, Hegel, sampai ke Peirce dengan arti yang berbeda-beda. Pada era Lambert diartikan sebagai ilusi atas pengalaman.. Pada medio abad Sembilan belas arti phenomenologi menjadi sinonim dengan fakta. Sejak Edmund Husserl (1859-1938) arti phenomenology telah menjadi filsafat dan metodologi berfikir. Phenomenon bukan sekedar pengalaman lansung melainkan pengalaman yang telah menginplisitkan penafsiran dan klasifikasi. Mulai tahun 1970-an phenomenologi mulai banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu sebagai pendekatan metodologik, dan mengundang kegiatan menterjemahkan karya –karya utamanya maupun artikel-artikel yang ditulisnya, dan pendekatan phenomenologi menjadi acuan utamanya.

Core pandangan Husserl yang paling mendasar yaitu Intensionalitas atau keterarahan dan logika transendentalnya. Menurut Husserl kesadaran berilmu pengetahuan yang pertama-tama adalah kesadaran manusia tentang obyek-obyek intensional. Intensional memiliki arti semantik dan ontologik. Arti semantik adalah sesuatu bahasa dan logikanya, sesuatu dikatakan ekstensional bila dapat ditampilkan rumusan equivalennya. Dikatakan intensional bila tidak dapat ditampilkan rumusan equivalennya. Bahasa atau logika intensional menampilkan bahasa modalitas atau probabilitas, dengan penjelasan. Ontologik berarti sesuatu dikatakan ekstensional bila kesamaan identitas antara dua sesuatu dapat dinyatakan sebagai dua yang equivalen, dua yang identik. Sedangkan sesuatu dikatakan intensional, bila kesamaan identitas tidak menjamin untuk dikatakan equivalen atau identik.

Husserl menjadikan intensionalitas sebagai pusat telaah tentang kesadaran manusia. Dalam bukunya Logische Untersuchungen Huseerl mengatakan bahwa pengalaman dalam bentuk intuisi orang mungkin menemukan obyek aktual yang berkorespondensi dengan noema ( sebagai nama dari obyek intended), tetapi mungkin juga tidak menemukan. Namun bagaimanapun perlu ada keparalelan antara noesis (pemberian deskripsi subyektif atas sesuatu obyek) dengan noema. Karena itu analisis tentang struktur esensial noetik dari kesadaran manusia dapat pula mengungkap struktur noematik ataupun struktur ontologiknya. Kesadaran intensional manusia lebih bersifat aktif, memiliki telos, memiliki rasionalitas, dan mencari evidensi lebih mendasar.[44]

Sentral pandangan Husserl yang kedua adalah logika transendentalnya. Dalam bukunya Formal and Transendental logic mengetengahkan tentang hubungan antara penelitian kita dengan keputusan kita. Bagaimanapun keputusan kita momot fungsi normatif. Dalam logika transendental peran aktif pengambilan keputusan penting. Bukan keputusan dalam bentuk keabadian, melainkan didasarkan pengalaman intersubyektif. Husserl mengakui bahwa, setiap orang itu merupakan subyek dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. Tetapi orang juga menyadari tentang adanya perilaku dan pernyataan eksternal. Pengalaman orang lain menjadi landasan dan pengalaman sendiri akan membangun landasan intersubyektif, dan menjadi basis untuk saling mengurun (sharing) dalam membangun dunia nilai dan budaya.[45]

  1. 5. Paradigma Islam tentang Transformasi Sosial

Salah satu kepentingan terbesar Islam sebagai sebuah ideologi sosial adalah bagaimana mengubah masyarakat sesuai dengan cita-cita dan visinya mengenai transformasi sosial. Semua ideologi atau filsafat sosial menghadapi suatu pertanyaan pokok, yakni bagaimana mengubah masyarakat dari kondisinya yang sekarang menuju kepada keadaan yang lebih dekat dengan tatanan idealnya. Elaborasi terhadap pertanyaan pokok semacam itu menghasilkan teori-teori sosial yang berfungsi untuk menjelaskan kondisi masyarakat yang empiris pada masa kini dan sekaligus memberikan insight mengenai perubahan dan transformasinya. Karena teori-teori yang diderivasi dari ideologi-ideologi sosial sangat berkepentingan terhadap terjadinya transformasi sosial, maka dapat dikatakan bahwa hampir semua teori sosial tersebut bersifat transformatif.

Sebagai sebuah ideologi sosial, Islam juga menderivasi teori-teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita-citanya. Oleh karena itu jelas bahwa Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tapi diubah dan dikendalikan. Tidaklah islami misalnya, jika kaum muslim bersikap tak acuh terhadap kondisi struktural masyarakatnya, sementara tahu bahwa kondisi tersebut bersifat munkar. Sikap etis seperti ini mungkin akan menghasilkan bias dalam paradigma teori sosial Islam, sebagaimana teori-teori sosial lain juga mengidap bias normatif, ideologis dan filosofisnya sendiri.[46]

Bahwa Islam memiliki dinamika-dalam untuk timbulnya desakan pada adanya transformasi sosial secara terus menerus, ternyata berakar pada misi ideologisnya yakni cita-cita untuk menegakkan amr ma’ruf dan nahiy munkar dalam masyarakat di dalam rangka keimanan kepada Tuhan. Sementara amr ma’ruf berarti humanisasi dan emansipasi, nahiy munkar merupakan upaya untuk liberasi. Dan karena kedua tugas itu berada dalam kerangka keimanan, maka humanisasai dan liberasi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dari transendensi. Disetiap masyarakat, dengan struktur dan sistem apapun, dan dalam tahap historis yang mana pun, cita-cita untuk humanisasi, emansipasi, liberasi dan transendensi akan selalu memotivasikan gerakan transformasi Islam. Cita-cita ini pulalah yang akan menjadi tema transformasi Islam, suatu tema yang dipenuhi dengan pandangan profetik tertentu mengenai perubahan.[47] Bahwa cita-cita ini akan mengkarakterisasikan paradigma Islam mengenai transformasi sosial, itu sudah menjadi jelas dengan sendirinya.

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka pemakalah mengemukakan  kesimpulan –kesimpulan sebagai berikut:

Teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang disusun secara sistematis untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Suatu teori akan mengalami perkembangan apabila teori tersebut sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah.

Penerimaan suatu teori dalam komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori tersebut memiliki kebenaran mutlak.Teori yang telah mapan dan digunakan oleh mayoritas ilmuwan dalam komunitas ilmiah dalam penelitian selanjutnya disebut sebagai paradigma.

Paradigma dibangun oleh para ilmuwan dalam kegiatan ilmiahnya atas berbagai konsep, asumsi-asumsi teoritis umum dalam tatanan tertentu, menyederhanakan yang kompleks yang dapat diterima umum.

Paradigma adalah cara pandang atau kerangka berfikir yang mempu menjadi wacana temuan ilmiah dan dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah dan atau masyarakat. Sikap para ilmuwan terhadap  paradigma yang berlaku dapat saja berubah jika dalam perjalanan kegiatan ilmiahnya atau penelitiannya terdapat anomali. Dengan demikian dapat menyebabkan perubahan paradigma karena adanya anomali itu, selanjutnya menyebabkan sikap para  ilmuwan terhadap paradigma yang berlaku berubah, oleh karena itu sifat penelitian mereka juga berubah. Hal itu membuat para ilmuwan berusaha untuk menciptakan paradigma baru, dalam rangka memberikan penyelesaian terhadap anomali yang ditemukan. Jika paradigma baru itu diterima  oleh komunitas ilmiah maka paradigma terdahulu ditolak dan ditinggalkan. Paradigma yang baru  akan diterima sebagai pengganti paradigma yang lama.

DAFTAR  PUSTAKA

Bagus, Lorens , Kamus Filsafat, Ed. I. ( Cet.III; Jakarta: Gramedia, 2002)

Bakhtiar, Amsal,  Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997)

Drajat,  Amroeni, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta: Erlangga, 2006)

Heriyanto,  Husain, ,  Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju, 2003)

Http//SahluluFuad. 6te. Net/?pilih=news & aksi=lihat &

Komaruddin,  Yooke Tjuparmah S. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Ed. I, (Cet.II; Jakarta: Bumi Aksara , 2002)

Kuntowijoyo,   Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Cet. VIII; Bandung: Mizan, 1998)

Muhadjir,  H. Noeng,  Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)

Patrick, G.T.W, C.A. van Peursen, Ayn Rand, et al., Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu itu?, (Cet.I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008)

Soetrisno dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan metodologi Penelitian, Ed.I.(Yogyakarta: Cv. Andi offset, 2007)

Sugiyono, Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Cet.III; Bandung: Alfabeta, 2007)

Wattimena, Reza  A.A , Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, ( Jakarta: PT. Grasindo, 2008)


[1] Reza A.A Wattimena,  Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 95

[2] Ibid. h. 187.

[3] G.T.W Patrick, C.A. van Peursen, Ayn Rand, et al., Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu itu?, (Cet.I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008), h. 95

[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Ed. I. ( Cet.III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 1097

[5] Reza A.A Wattimena, Op. Cit. h. 257

[6] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Cet.III; Bandung: Alfabeta, 2007), h. 52-54

[7]Komaruddin, Yooke Tjuparmah S. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Ed. I, (Cet.II; Jakarta: Bumi Aksara , 2002), 173

[8] Lorens Bagus, Op. Cit. h. 779

[9] Soetrisno dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan metodologi Penelitian, Ed.I.9Yogyakarta: Cv. Andi offset, 2007). h. 32

[10] Sugiyono, Op. Cit., h. 42

[11]Husain Heriyanto, M. Hum,  Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju, 2003), h. 28.

[12] Http//SahluluFuad. 6te. Net/?pilih=news & aksi=lihat &

[13]H. Noeng Muhadjir,  Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001). h. 39-40

[14] Reza A.A Wattimena, Op. Cit. h. 193

[15]Noeng Muhadjir,  Op. Cit. h. 8-9

[16] Ibid. h. 41.

[17] Ibid.

[18]Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta: Erlangga, 2006), h. 16-17

[19] Ibid. h. 64-65

[20] H. Noeng Muhadjir,  Op. Cit.. h. 43.

[21] Ibid. h. 52

[22]Amsal Bakhtiar,  Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997), h. 33

[23] G.T.W Patrick, C.A. van Peursen, Ayn Rand, et al.,Op. Cit. h. 51-52

[24]Amsal Bakhtiar, Op. Cit. h. 32.

[25] Ibid. h. 34.

[26] Ibid. h. 35-36

[27] Ibid. h. 37

[28]Husain Heriyanto, M. Hum,  Op. Cit. h. 28

[29] Ibid., h. 29

[30] Ibid. h. 43-44

[31] Ibid. h. 46

[32] Ibid. h. 47-48

[33] Ibid. h. 52

[34] Ibid. h. 154-155

[35] Ibid. h. 157

[36] Ibid. h. 165-166

[37] Ibid. h. 180-181

[38] Ibid.

[39] Ibid. h. 186-189

[40]H. Noeng Muhadjir..Op. Cit., h. 69

[41]H. Burhanuddin Salam, Logika Material, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 193-194

[42] Ibid. h. 195

[43]H. Noeng Muhadjir..Op. Cit., h. 74-75

[44] Ibid. h. 93

[45] Ibid. h. 94

[46]Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Cet. VIII; Bandung: Mizan, 1998), h. 337

[47] Ibid. h. 338


FILSAFAT HERMENEUTIKA

FILSAFAT HERMENEUTIKA (HERMENEUTICA PHILOSOPHY)

Oleh : Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Salah satu ciri khas filsafat dewasa ini adalah perhatiannya kepada bahasa. Tentu saja, bahasa bukan merupakan tema baru dalam filsafat. Minat untuk masalah-masalah yang menyangkut bahasa telihat sepanjang sejarah filsafat, sudah sejak permulaannya di Yunani. Namun demikian, perhatian filosofis untuk bahasa itu belum pernah begitu umum, begitu luas dan begitu mendalam seperti dalam abad ke-20. Dikatakan pula bahwa pada zaman ini bahasa memainkan peranan yang dapat dibandingkan dengan being (ada) dalam filsafat klasik dulu. Karena terdapat kemiripan tertentu, yaitu keduanya bersifat universal. Hanya saja being adalah universal dari sudut objektif: “ada” meliputi segala sesuatu; apa saja merupakan being. Sedangkan bahasa adalah universal dari sudut subjektif: bahasa meliputi segala sesuatu yang dikatakan dan diungkapkan.; makna atau arti hanya timbul dalam hubungan dengan bahasa.  Bahasa adalah tema yang dominan dalam filsafat Eropa kontinental maupun filsafat Inggris dan Amerika. Di mana-mana dapat kita saksikan the linguistic turn; di mana-mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. Dan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif, seperti misalnya hermeneutika, strukturalisme, semiotika, dan filsafat analitis.[1]

Teori tentang asal-usul bahasa telah lama menjadi obyek kajian para ahli, sejak dari kalangan psikolog, antropolog, filsuf maupun teolog, sehingga lahirlah sub-sub ilmu dan filsafat bahasa, di antaranya yaitu hermeneutika. Sifat ilmu pengetahuan adalah selalu berkembang dan berkaitan antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain. Hermeneutika sering dikelompokkan dalam wilayah filsafat bahasa, meskipun ia bisa juga mengklaim sebagai disiplin ilmu tersendiri. Khususnya hermeneutika yang semula sangat dekat kerjanya dengan Biblical Studies, dengan munculnya buku Truth and Method (1960) oleh Hans-Geor Gadamer, maka hermeneutika mengembangkan mitra kerjanya pada semua cabang ilmu. Gadamer mendasarkan klaimnya pada argumen bahwa semua disiplin ilmu, termasuk ilmu alam, mesti terlibat dengan persoalan understanding yang muncul antara hubungan subyek dan obyek.[2]

Hermeneutika adalah kata yang sering didengar dalam bidang teologi, filsafat, bahkan sastra. Hermeneutik Baru muncul sebagai sebuah gerakan dominan dalam teologi Protestan Eropa, yang menyatakan bahwa hermeneutika merupakan “titik fokus” dari isu-isu teologis sekarang. Martin Heidegger tak henti-hentinya mendiskusikan karakter hermeneutis dari pemikirannya. Filsafat itu sendiri, kata Heidegger, bersifat (atau harus bersifat) “hermeneutis”.[3]

Sesungguhnya istilah hermeneutika ini bukanlah sebuah kata baku, baik dalam filsafat maupun penelitian sastra; dan bahkan dalam bidang teologi penggunaan term ini sering muncul dalam makna yang sempit yang berbeda dengan penggunaan secara luas dalam “Hermeneutika Baru” teologis kontemporer.[4]

Hermeneutika selalu berpusat pada fungsi penafsiran teks.[5] Meski terjadi perubahan dan modifikasi radikal terhadap teori-teori hermeneutika, tetap saja berintikan seni memahami teks. Pada kenyataannya, hermeneutika pra-Heidegger (sebelum abad 20) tidak membentuk suatu tantangan pemikiran yang berarti bagi pemikiran agama, sekalipun telah terjadi evaluasi radikal dalam aliran-aliran filsafat hermeneutika. Sementara itu, hermeneutika filosofis dan turunannya dalam teori-teori kritik sastra dan semantik telah merintis jalan bagi tantangan serius yang membentur metode klasik dan pengetahuan agama.[6]

Metode hermeneutika lahir dalam ruang lingkup yang khas dalam tradisi Yahudi-Kristen. Perkembangan khusus dan luasnya opini tentang sifat dasar Perjanjian Baru, dinilai memberi sumbangan besar dalam mengentalkan problem hermeneutis dan usaha berkelanjutan dalam menanganinya.

Para filosof hermeneutika adalah mereka yang sejatinya tidak membatasi petunjuk pada ambang batas tertentu dari segala fenomena wujud. Mereka selalu melihat segala sesuatu yang ada di alam ini sebagai petunjuk atas yang lain. Jika kita mampu membedakan dua kondisi ini satu dan yang lainnya, maka kita dapat membedakan dua macam fenomena: ilmu dan pemahaman. Masalah ilmu dikaji dalam lapangan epistemologi, sedangkan masalah pemahaman dikaji dalam lapangan hermeneutika. Sehingga dengan demikian, baik epistemologi dan hermeneutika adalah ilmu yang berdampingan.[7]

B. Rumusan Masalah

    1. Bagaimana asal-usul dan pengertian hermeneutika?
    2. Bagaimana latar belakang munculnya filsafat hermeneutika?
    3. Bagaimana perkembangan filsafat hermeneutika beserta para tokohnya?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Asal-usul dan Defenisi Hermeneutika

Sebelum kita mendefinisikan filsafat hermeneutika, kita akan mengetahui terlebih dahulu asal-mula kata hermeneutika. Sudah umum diketahui bahwa dalam masyarakat Yunani tidak terdapat suatu agama tertentu, tapi mereka percaya pada Tuhan dalam bentuk mitologi. Sebenarnya dalam mitologi Yunani terdapat dewa-dewi yang dikepalai oleh Dewa Zeus dan Maia yang mempunyai anak bernama Hermes. Hermes dipercayai sebagai utusan para dewa untuk menjelaskan pesan-pesan para dewa di langit. Dari nama Hermes inilah konsep hermeneutic kemudian digunakan.[8] Kata hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah sebuah ilmu dan seni menginterpretasikan sebuah teks.

Hermes diyakini oleh Manichaeisme sebagai Nabi. Dalam mitologi Yunani, Hermes yang diyakini sebagai anak dewa Zeus dan Maia bertugas menyampaikan dan menginterpretasikan pesan-pesan dewa di gunung Olympus ke dalam bahasa yang dipahami manusia. Hermes mempunyai kaki bersayap dan dikenal dengan Mercurius dalam bahasa Latin. Menurut Abed al-Jabiri dalam bukunya Takwīn al-‘Aql al-‘Ârabi, dalam mitologi Mesir kuno, Hermes/Thoth adalah sekretaris Tuhan atau orisin Tuhan yang telah menulis disiplin kedokteran, sihir, astrologi dan geometri.[9] Hermes yang dikenal oleh orang Arab sebagai Idris as, disebut Enoch oleh orang Yahudi.[10] Baik Idris as, Hermes, Thoth, dan Enoch adalah merupakan orang yang sama.

Sosok Hermes ini oleh Sayyed Hossein Nasr kerap diasosiasikan sebagai Nabi Idris as. Menurut legenda yang beredar bahwa pekerjaan Nabi Idris adalah sebagai tukang tenun. Jika profesi tukang tenun dikaitkan dengan mitos Yunani tentang peran dewa Hermes, ternyata terdapat korelasi positif. Kata kerja “memintal” dalam bahasa latin adalah tegree, sedang produknya disebut textus atau text, memang merupakan isu sentral dalam kajian hermeneutika. Bagi Nabi Idris as atau Dewa Hermes, persoalan yang pertama dihadapi adalah bagaimana menafsirkan pesan Tuhan yang memakai “bahasa langit” agar bisa dipahami oleh manusia yang menggunakan bahasa “bumi”. Di sini barangkali terkandung makna metaforis tukang pintal, yakni memintal atau merangkai kata dan makna yang berasal dari Tuhan agar nantinya pas dan mudah dipahami (dipakai) oleh manusia [11]

Hermeneutika (Indonesia), hermeneutics (Inggris), dan hermeneutikos (Greek) secara bahasa punya makna menafsirkan. Seperti yang dikemukakan Zygmunt Bauman, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneutikos berkaitan dengan upaya “menjelaskan dan memelusuri” pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, dan kontradiksi, sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi pendengar atau pembaca.[12]

Akar kata hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermēneuein (menafsirkan) atau kata benda hermēneia (interpretasi).[13] Al-Farabi mengartikannya dengan lafal Arab al-ibāroh (ungkapan).[14] Kata Yunani hermeios mengacu kepada seorang pendeta bijak Delphic. Kata hermeios dan kata kerja hermēneuien dan kata benda hermēneia biasanya dihubung-hubungkan dengan Dewa Hermes, dari situlah kata itu berasal. Hermes diasosiasikan dengan fungsi transmisi apa yang ada di balik pemahaman manusia ke dalam bentuk apa yang dapat ditangkap oleh intelegensia manusia.[15] Kurang lebih sama dengan Hermes, seperti itu pulalah karakter dari metode hermeneutika.

Dengan menelusuri akar kata paling awal dalam Yunani, orisinalitas kata modern dari “hermeneutika” dan “hermeneutis” mengasumsikan proses “membawa sesuatu untuk dipahami”, terutama seperti proses ini melibatkan bahasa, karena bahasa merupakan mediasi paling sempurna dalam proses.[16]

Mediasi dan proses membawa pesan “agar dipahami” yang diasosiasikan dengan Hermes ini terkandung di dalam tiga bentuk makna dasar dari hermēneuien dan hermēneia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari hermēneuein, yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata, misalnya “to say”; (2) menjelaskan; (3)menerjemahkan. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dalam bentuk kata kerja bahasa Inggris, to interpret.” Tetapi masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi. [17]

Sebagai turunan dari simbol dewa, hermeneutika berarti suatu ilmu yang mencoba menggambarkan bagaimana sebuah kata atau suatu kejadian pada waktu dan budaya yang lalu dapat dimengerti dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi sekarang. Dengan kata lain, hermeneutika merupakan teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap sebuah Teks.[18]

Dalam Webster’s Third New International Dictionary dijelaskan definisinya, yaitu “studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi Bibel.”  Setidaknya ada tiga bidang yang sering akrab dengan term hermeneutika: teologi, filsafat, dan sastra.[19]

Persoalan utama hermeneutika terletak pada pencarian makna teks, apakah makna obyektif atau makna subyektif. Perbedaan penekanan pencarian makna pada ketiga unsur hermeneutika: penggagas, teks dan pembaca, menjadi titik beda masing-masing hermeneutika. Titik beda itu dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori hermeneutika: hermeneutika teoritis, hermeneutika filosofis, dan hermeneutika kritis. Pertama, hermeneutika teoritis. Bentuk hermeneutika seperti ini menitikberatkan kajiannya pada problem “pemahaman”, yakni bagaimana memahami dengan benar. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. Kedua, hermeneutika filosofis. Problem utama hermeneutika ini bukanlah bagaimana memahami teks dengan benar dan obyektif sebagaimana hermeneutika teoritis. Problem utamannya adalah bagaimana “tindakan memahami” itu sendiri. Ketiga, hermeneutika kritis. Hermeneutika ini bertujuan untuk mengungkap kepentingan di balik teks. hermeneutika kritis menempatkan sesuatu yang berada di luar teks sebagai problem hermeneutiknya.[20]

  1. B. Latar Belakang Munculnya Filsafat Hermeneutika

Werner G. Jeanrond menyebutkan tiga milieu penting yang berpengaruh terhadap timbulnya hermeneutika sebagai suatu ilmu atau teori interpretasi:

Pertama milieu masyarakat yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani.

Kedua milieu masyarakat Yahudi dan Kristen yang menghadapi masalah teks kitab “suci” agama mereka dan berupaya mencari model yang cocok untuk intepretasi untuk itu.

Ketiga milieu masyarakat Eropa di zaman Pencerahan (Enlightenment) berusaha lepas dari tradisi dan otoritas keagamaan dan membawa hermeneutika keluar konteks keagamaan.[21]

Dari mitologi Yunani ke teologi Kristen

Konsep hermeneutika yang digunakan dari nama Hermes ini resminya digunakan untuk kebutuhan kultural bagi menentukan makna, peran dan fungsi teks-teks kesusasteraan yang berasal dari masyarakat Yunani kuno, khususnya epik-epik karya Homer.[22]

Meskipun interpretasi hermeneutis telah dipraktekkan dalam tradisi Yunani, namun istilah hermeneutike baru pertama kali ditemui dalam karya Plato (429-347 SM) Politikos, Epinomis, Definitione dan Timeus. Dalam Definitione Plato dengan jelas menyatakan hermeneutika artinya “menunjukkan sesuatu” yang tidak terbatas pada pernyataan, tapi meliputi bahasa secara umum, penterjemahan, interpretasi, dan juga gaya bahasa dan retorika. Sedangkan dalam Timaeus Plato menghubungkan hermeneutika dengan pemegang otoritas kebenaran, yaitu bahwa kebenaran hanya dapat dipahami oleh “nabi”. Nabi disini maksudnya adalah mediator antara para dewa dengan manusia.[23]

Dalam menghadapi problema terjadinya krisis otoritas di kalangan penyair dalam memahami mitologi atau sesuatu yang bersifat divine, misalnya masyarakat Yunani menyelesaikan dengan konsep rational logos.[24]

Stoicisme (300 SM) kemudian mengembangkan hermeneutika sebagai ilmu intepretasi alegoris, yaitu metode memahami teks dengan cara mencari makna yang lebih dalam dari sekedar pengertian literal. Sejalan dengan itu maka untuk intepretasi alegoris terhadap mitologi, Stoic menerapkan doktrin inner logos dan outer logos (inner word and outer word). Metode alegoris kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Philo of Alexandria (20 SM-50 M), seorang Yahudi yang kemudian dianggap sebagai Bapak metode alegoris. Metode yang juga disebut typology itu intinya mengajarkan bahwa pemahaman makna spiritual suatu teks tidak berasal dari teks atau dari informasi teks, tapi melalui pemahaman simbolik yang merujuk sesuatu di luar teks. Metode hermeneutika alegoris ini kemudian ditransmisikan ke dalam pemikiran teologi Kristen. Tokohnya, Origen (sekitar 185-254 M) telah berhasil menulis penjelasan Kitab Perjanjian Lama dengan metode ini.[25]

Namun, metode alegoris yang berpusat di Alexandria ini ditentang oleh kelompok yang membela metode literal (grammatical) yang berpusat di Antioch. Pertentangan antara kelompok Alexandria dan Antioch mereprentasikan pertentangan metode interpretasi simbolik dan literal. Yang pertama berada dibawah pengaruh hermeneutika Plato sedangkan yang kedua berada dibawah bayang-bayang hermeneutika Aristotle.

Dari pertentangan antara dua konsep hermeneutika Alexandria dan Antioch ini seorang teolog dan filosof Kristen St.Augustine of Hippo (354-430 M) mengambil jalan tengah. Ia lalu memberi makna baru kepada hermeneutika dengan memperkenalkan teori semiotik (teori tentang simbol). Teori ini dimaksudkan untuk dapat mengontrol terjadinya distorsi bacaan alegoris teks Bible yang cenderung arbitrer, dan juga dari literalisme yang terlalu simplistik.

Perkembangan pemikiran hermeneutika dalam teologi Kristen terjadi pada abad pertengahan yang dibawa oleh Thomas Aquinas (1225-1274). Kemunculannya yang didahului oleh transmisi karya-karya Aristotle ke dalam milieu pemikiran Islam mengindikasikan kuatnya pengaruh pemikiran Aristotle dan Aristotelian Muslim khususnya al-Farabi (870-950),  Ibn Sina (980-1037) dan Ibn Rushd (1126-1198). Dalam karyanya Summa Theologia ia menunjukkan kecenderungan filsafat naturalistic Aristotle yang juga bertentangan dengan kecenderungan Neo-Platonis St.Augustine. Ia mengatakan bahwa “pengarang kitab suci adalah Tuhan” dan sesuatu yang perlu dilakukan oleh para teolog adalah pemahaman literal. Pemahaman literal lebih banyak merujuk kepada hermeneutika Aristotle dalam Peri Hermenias nya. Tujuannya adalah untuk menyusun teologi Kristen agar memenuhi standar formulasi ilmiah dan sekaligus merupakan penolakannya terhadap interpretasi alegoris.[26]

Di awal abad pertengahan, hermeneutika masih berada dalam sangkar teologi Kristen tapi masih berada dibawah pengaruh pemikiran filsafat dan mitologi Yunani. Ketika teks Bible sendiri mulai digugat dan dan otoritas gereja mulai goyah pengaruh pandangan hidup ilmiah dan rasional Barat (scientific and rational worldview) mulai muncul membawa hermeneutika kepada makna baru yaitu filosofis.

Dari teologi dogmatis kepada spirit rasionalisme

Bagaimanapun resistensi para teolog Kristen terhadap perkembangan sains yang dipengaruhi oleh pandangan hidup ilmiah Barat, hermeneutika terus menjadi diskursus yang menarik kalangan teolog Kristen masa itu. Pertanyaan hermeneutika yang diangkat pun bergeser menjadi bagaimana menangkap realitas yang terkandung dalam teks kuno seperti Bible dan bagaimana menterjemahkan realitas tersebut ke dalam bahasa yang dipahami oleh manusia modern. Yang selalu dimuculkan adalah masalah adanya gap antara bahasa modern dan bahasa teks Bible, dan cara penulis-penulis Bible berfikir tentang diri mereka dan cara berfikir masyarakat Kristen modern.

Dunia teks akhirnya dianggap sebagai representasi dari dunia mitos dan masyarakat modern dianggap mewakili dunia ilmiah. Hermeneutika kini membahas bagaimana kejadian dan kata-kata masa lampau menjadi berarti dan relevan bagi eksistensi manusia tanpa menghilangkan esensi pesannya.

Bel pertama untuk pemakaian hermeneutika sebagai the art of interpretation dapat ditemui dalam karya J.C.Dannheucer yang berjudul Hermeneutica Sacra Sive Methodus exponendarum Sacrarum litterarum, (Sacred Method or the Method of Explanation of Sacred Literature), terbit pada tahun 1654. Di situ hermeneutika sudah mulai dibedakan dari exegesis sebagai metodologi interpretasi. Meskipun pengertiannya tetap sama tapi obyeknya diperluas kepada non-Biblical literature.[27]

Benedictus de Spinoza (1632-1677)  dalam karyanya tahun 1670 berjudul Tractatus theologico-politicus (Risalah tentang politik teologi) menyatakan bahwa “standar eksegesis untuk Bible hanyalah akal yang dapat diterima oleh semua”.[28] Perlahan-lahan hermeneutika dalam pengertian baru ini diterima sebagai alat penafsiran (exgesis) Kitab Suci, dan juga menjadi pengantar disiliplin ilmu interpretasi.

Tanda-tanda beralihnya diskursus hermeneutika dari teologi yang dogmatis kepada semangat rasionalisme sudah mulai nampak sejak terjadinya gerakan Reformasi Protestan pada abad ke-16. Mulai abad ini hermeneutika mengalami perkembangan dan memeperoleh perhatian yang lebih akademis dan serius ketika kalangan ilmuwan gereja di Eropa terlibat diskusi dan debat mengenai otentisitas Bibel dan mereka ingin memperoleh kejelasan serta pemahaman yang benar mengenai kandungan Bibel yang dalam berbagai hal dianggap bertentangan.[29]

Tanda ini bertambah jelas pada periode Pencerahan (Enlightenment) pada abad berikutnya. Memasuki abad ke 18, hermeneutika mulai dirasakan sabagai teman sekaligus tantangan bagi ilmu sosial, utamanya sejarah dan sosiologi, karena hermeneutika mulai berbicara dan menggugat metode dan konsep ilmu sosial. Pada pertengahan abad ini di Eropa bangkit sebuah apresiasi tentang karya-karya seni klasik, hermeneutika sebagai metode penafsiran menjadi sangat penting peranannya. Karena sebuah karya seni merupakan contoh perwujudan paling riil dari sebuah jalinan yang unik antara sang pencipta, proses pensiptaan dan karya cipta.[30]

Perkembangan makna hermeneutika dari sekedar pengantar ilmu interpretasi menuju kepada metodologi pemahaman, dilontarkan oleh seorang pakar filololgi Friedriech Ast (1778-1841). Dalam bukunya Grundlinien der Grammatik Hermenutik und Kritik (Elements of Grammar, Hermeneutic and Criticism) Ast membagi pemahaman terhadap teks menjadi 3 tingkatan: 1) pemahaman historis, yakni pemahaman berdasarkan pada perbandingan teks dengan teks yang lain. 2) pemahaman ketata-bahasaan, yaitu merujuk kepada pemahaman makna kata pada teks, dan 3) pemahaman spiritual, yakni pemahaman yang merujuk kepada semangat, wawasan, mentalitas dan pandangan hidup pengarang, tapi terlepas dari konotasi teologis ataupun psikologis.[31]

Pada tingkat ini pergeseran diskursus hermeneutika dari teologi ke filsafat masih berkutat pada perubahan fungsi hermeneutika dari teori interpretasi teks Bibel secara rasional menjadi pemahaman segala teks selain Bibel. Disini hermeneutika berkembang dalam milieu yang didominasi oleh para teolog yang telah bersentuhan dengan pemikiran filsafat Barat.

Dari teologi protestan kepada filsafat

Abad ke 18 dianggap sebagai awal periode berlakunya proyek modernitas, yaitu pemikiran rasional yang menjanjikan pembebasan (liberasi) dari irrasionalitas mitologi, agama dan khurafat. Ketika gerakan desakralisasi atau dalam bahasa Weber ‘disenchantment’ terjadi di Barat, ilmu diletakkan dalam posisi berlawanan dengan agama yang dianggap penyebab kemunduran.

Pada abad ke-17 dan 18 pendekatan kritis terhadap Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) yang merupakan bagian dari hermeneutika teologis telah berkembang. Studi kritis perjanjian lama telah menekankan kepada struktur atau bahasa teks sebagai cara untuk memahami isi. Studi in juga menyandarkan pada bukti internal teks sebagai dasar diskusi mengenai integritas dan pengarang teks, kemudian mencari situasi sosiologis dan historis sebagai konteks untuk memahami asal-mula dan penggunaan materi. Studi kritis Perjanjian Baru melahirkan banyak teks-teks tandingan terhadap textus receptus edisi Erasmus. Studi tersebut menyatakan bahwa Kalam Tuhan (Word of God) dan Kitab Suci (Holy Scripture) tidak identik, bagian-bagian dari Bibel bukanlah inspirasi dan tidak dapat diterima secara otoritatif. [32] Di dalam milieu pemikiran inilah makna hermeneutika berubah menjadi metodologi filsafat.

  1. C. Perkembangan Filsafat Hermeneutika beserta para Tokohnya

Terdapat sejumlah tokoh yang memberi sumbangan dalam perkembangan filsafat hermeneutika, di antaranya adalah:

  1. 1. Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834).

Schleiermacher, seorang Protestan dan pernah menjadi Rektor di Universitas Berlin pada tahun 1815-1816, digelar sebagai “the founder of General Hermeneutics.” Gelar tersebut diberikan karena  pemikirannya dianggap telah memberi nuansa baru dalam teori penafsiran.[33] Materi kuliahnya “universal hermeneutic” menjadi rujukan Gadamer dan berpangaruh terhadap pemikiran Weber dan Dilthey. Ia dianggap sebagai filosof Jerman pertama yang terus menerus memikirkan persoalan-persoalan hermeneutika. Karena itu ia dianggap sebagai Bapak Hermeneutika modern dan juga pendiri Protestan Liberal.[34] Schleiemecher menandai lahirnya hermeneutika yang bukan lagi terbatas kepada idiom filologi maupun eksegesis Bibel, melainkan prinsip-prinsipnya bisa digunakan sebagai fondasi bagi semua ragam interpretasi teks.

Schleiermacher mengadakan reorientasi paradigma dari “makna” teks kepada “pemahaman” teks. Rasionalitas modern seperti dianut oleh mazhab protestantisme telah mengubah makna literal Bible yang selama ini dianggap oleh mazhab resmi gereja sebagai “makna historis” menjadi “pemahaman historis” yang segala sesuatunya merujuk kepada masa silam. Afiliasi suatu teks kepada masa silam itu menyebabkan kehadirannya di masa kini menjadi sebentuk kecurigaan; mengapa teks yang merespon kejadian masa lalu harus menjadi jawaban problem kekinian?! Tidak kah lebih baik jika teks masa silam itu dienyahkan karena realitas yang terus berubah dari waktu ke waktu?[35]

Schleiermacher menjadikan persoalan hermeneutis sebagai persoalan universal dan mengajukan teori pemahaman yang filosofis untuk mengatasinya. Ia merubah makan hermeneutika dari sekedar kajian teks Bibel menjadi metode memahami dalam pengertian filsafat. Dalam pandangan Schleiermacher, tradisi hermeneutika filologis[36] dan hermeneutika teologis[37] bisa berinteraksi, yang membuka kemungkinan untuk mengembangkan teori umum mengenai pemahaman dan penafsiran. Paul Ricoeur berpendapat hermeneutika lahir dengan usaha untuk menaikkan penafsiran Bibel dan filologis ke tingkat ilmiah, yang tidak terbatas kepada metode yang khusus. Dengan mensubordinasikan kaidah-kaidah dalam tafsir Bibel dan filologis kepada problem penafsiran yang umum, maka teori penafsiran Schleiermacher disebut juga dengan hermeneutika universal (universal hermeneutics).[38]

Schleirmacher telah menumbuhkan asas seni pemahaman teks; pemahaman yang selalu terkait mengikuti perkembangan dari setiap orang dan dari satu zaman ke zaman yang lain. Jarak pemisah antara zaman produksi teks dengan zaman pemahaman kekinian sedemikian meluas dan membentang, sehingga diperlukan ilmu yang mencegah kekeliruan pemahaman. Atas dasar itu, Schleirmacher meletakkan kaidah pemahaman teks yang terbatas pada dua aspek utama yaitu: aspek kebahasaan (penafsiran tata bahasa) dan aspek kemampuan menembus karakter psikis pengarang (penafsiran psikologi). Kedua aspek itu saling melengkapi satu dengan lainnya.[39] Tugas kaedah hermeneutik Schleirmacher-ian itu adalah untuk sejauh mungkin memahami teks seperti yang dipahami pengarangnya dan bahkan lebih baik dari apa yang dipahami oleh si pengarang (merekonstruksi pikiran pengarang). Tugas itulah yang kemudian dikenal dengan “Hermeneutical Circle”.[40]

Jadi, bukan saja setiap unit, tata bahasa harus dipahami dalam konteks keseluruhan ucapan, tetapi ucapan juga harus dipahami dari konteks keseluruhan mental pengarang (the part whole principle). Jika tugas tersebut dilakukan oleh seorang interpreter maka Schleirmacher menyimpulkan sesorang penafsir akan bisa memahami teks sebaik atau bahkan lebih baik daripada pengarangnya sendiri, dan memahami pengarang teks tersebut lebih baik daripada pengarang sendiri.[41]

  1. 2. Wilhelm Dilthey (1833-1911)

Wilhelm adalah penulis biografi Scleiermacher dan salah satu pemikir filsafat besar pada akhir abad  ke-19. Dia melihat hermeneutika adalah inti disiplin yang dapat digunakan sebagai fondasi bagi geisteswissenschaften (yaitu, semua disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia).[42] Wilhelm Dilthey adalah seorang filosof, kritikus sastra, dan sejarawan asal Jerman.

Bagi filosof yang pakar metodologi ilmu-ilmu sosial ini, hermeneutika adalah “tehnik memahami ekspresi tentang kehidupan yang tersusun dalam bentuk tulisan”. Oleh karena itu ia menekankan pada peristiwa dan karya-karya sejarah yang merupakan ekspresi dari pengalaman hidup di masa lalu. Untuk memahami pengalaman tersebut intepreter harus memiliki kesamaan yang intens dengan pengarang. Bentuk kesamaan dimaksud merujuk kepada sisi psikologis Schleiermacher.

Pada bagian awal pemikirannya, Dilthey berusaha membumikan kritiknya ke dalam sebuah transformasi psikologis. Namun karena psikologi bukan merupakan disiplin historis, usaha-usahanya ia hentikan.[43] Ia menolak asumsi Schleiermacher bahwa setiap kerja pengarang bersumber dari prinsip-prinsip yang implisit dalam pikiran pengarang. Ia anggap asumsi ini anti-historis sebab ia tidak mempertimbangkan pengaruh eksternal dalam perkembangan pikiran pengarang. Selain itu Dilthey juga mencoba mengangkat hermeneutika menjadi suatu disiplin ilmu yang memisahkan ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dan mengembangkannya menjadi metode-metode dan aturan-aturan yang menentukan obyektifitas dan validitas setiap ilmu. Bagi Dilthey hermeneutika universal memerlukan prinsip-prinsip epistemologi yang mendukung pengembangan ilmu-ilmu sosial.[44]

Menurutnya, dalam tindakan pemahaman historis, yang harus berperan adalah pengetahuan pribadi mengenai apa yang dimaksudkan manusia. Jika Kant menulis Crituque of Pure Reason, ia mencurahkan pemikiran untuk gagasan Crtique of Historical Reason.[45]

Wilhelm Dilthey mengawalinya dengan memilah-milah ilmu menjadi dua disiplin: ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora. Yang pertama menjadikan alam sebagai obyek penelitiannya, yang kedua manusia. Oleh karena obyek dari ilmu alam berada di luar subyek, ia diposisikan sebagai sesuatu yang datang kepada subyek, sebaliknya karena obyek ilmu sosial-humaniora berada di dalam subyek itu sendiri, keduanya seolah tak terpisah. Yang membedakan kedua disiplin ilmu ini menurut Dilthey bukan obyeknya semata, tapi juga orientasi dari subyek pengetahuan, yakni “sikapnya” terhadap obyek. Dengan demikian, perbedaan kedua disiplin ilmu tersebut bersifat epistemologis, bukan ontologis. Secara epistemologis, Dilthey menganggap disiplin ilmu alam menggunakan penjelasan (Erklaren), yakni menjelaskan hukum alam menurut penyebabnya dengan menggunakan teori. Sebab, pengalaman dengan teori terpisah. Sedang disiplin ilmu sosial-humaniora mengunakan pemahaman (Verstehen), dengan tujuan untuk menemukan makna obyek, karena di dalam pemahaman, terjadi pencampuran antara pengalaman dan pemahaman teoritis. Dilthey menganggap makna obyektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah makna teks dalam konteks kesejarahaannya. Sehingga, hermeneutika menurut Dilthey bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah, bukan ekspresi mental penggagas. Karena itu, yang perlu direkonstruksi dari teks menurut Dilthey, adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks.[46]

Dilthey menjadihan hermeneutika sebagai komponen utama bagi fondasi ilmu humaniora (Geistesswissenchaften). Ambisi ini menyebabkan Dilthey telah meluaskan penggunaan hermeneutika ke dalam segala disiplin ilmu humaniora. Jadi, dalam pandangan Dilthey, teori hermeneutika telah berada jauh di atas persoalan bahasa.[47]

  1. 3. Martin Heidegger (1889-1976)

Latar belakang intelektualitas Heidegger berada dibawah pengaruh fisika, metafisika dan etika Aristotle yang di interpretasikan oleh Husserl dengan metode fenomenologinya. Pendiri fenomenologi, Edmund Husserl, adalah guru dan sekaligus kawan yang paling dihormati dan disegani oleh Heidegger. Pemikiran Heidegger sangat kental dengan nuansa fenomenologis, meskipun akhirnya Heidegger mengambil jalan menikung dari prinsip fenomenologi yang dibangun Husserl. Fenomenologi Husserl lebih bersifat epistemologis karena menyangkut pengetahuan tentang dunia, sementara fenomenologi Heidegger lebih sebagai ontologi karena menyangkut kenyataan itu sendiri. Heidegger menekankan, bahwa fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih fundamental ketimbang kesadaran dan pengetahuan manusia, sementara Husserl cenderung memandang fakta keberadaan sebagai sebuah datum keberadaan. Heidegger tidak memenjara realitas dalam kesadaran subjektif, melainkan pada akhirnya realitas sendiri yang menelanjangi dirinya di hadapan subjek. Bagi Heidegger, realitas tidak mungkin dipaksa untuk menyingkapkan diri. Realitas, mau tidak mau, harus ditunggu agar ia menyingkapkan diri.[48]

Heidegger mengembangkan hermeneutika sebagai interpretasi yang berdimensi ontologis. Dalam pandangan Heidegger, pemahaman (verstehen) bukanlah sebuah metode. Menurutnya pemahaman lebih dari sekedar metode. Sebabnya pemahaman telah wujud terlebih dahulu (pre-reflective understanding) sebelum merefleksikan sesuatu. Heidegger menamakan pra-pemahaman tersebut sebagai Dasein, yang secara harfiah berarti disana-wujud.[49]

Apa yang ditulis Heidegger sebagai hermeneutika tidak bisa dipahami dalam pengertian pemahaman yang subjektif. Hermeneutika juga bukan hanya sebuah metode pengungkapan realitas. Hermeneutika adalah hakikat keberadaan manusia yang menyingkap selubung Ada (Sein). Ia tidak berada dalam pengertian subjek-objek, di mana pemahaman tentang objek berangkat dari persepsi kategoris dalam diri subjek. Subjek tidak memahami sejauh objek tidak mengungkapkan diri. Subjek tergantung kepada pengungkapan objek. Dan sebetulnya term subjek dan objek di sini tidak tepat, sebab Dasein adalah seinde yang memiliki kemampuan yang lain. Dikatakan Dasein karena cara beradanya berbeda dengan benda-benda lain (seinde) yang ada begitu saja. Dasein berarti mengada di sana. Terdapat nuansa aktifitas dari Dasein. Dasein adalah satu-satunya seinde yang secara ontologis mampu keluar dari dirinya sendiri (Existenz) guna menguakkan adanya sendiri dan adanya seinde lainnya.[50]

Sekalipun Heidegger masih tidak mengidentikkan antara manusia yang menginterpretasi atau berpikir dan yang diintrepretasi atau yang dipikirkan, tetapi ia tidak bisa dipisahkan sama sekali. Intensionalitas Husserl tidak dibuang sama sekali, tapi digunakan dalam pengertian yang lain, yaitu bahwa faktisitaslah yang menjadi anutan kesadaran. Bukan kita yang menunjuk benda, tapi benda itu sendiri yang menunjukkan dirinya. Interpretasi manusia dibaca dalam pengertian ontologis karena ia merupakan hakekat manusia itu sendiri. Berpikir (menginterpretasi) adalah Dasein itu sendiri.  Berpikir, dalam pengertian Heidegger, bukan menggambarkan, bukan memvisualisasikan sesuatu di depan mata, bukan merefleksi, melainkan bertanya dan meminta keterangan, mendengarkan dengan penuh rasa hormat suara Ada, menunggu dengan bertanya dan mendengarkan Ada.[51]

Heidegger menghubungkan kajian tentang makna kesejarahan dengan makna kehidupan. Teks tidak cukup dikaji dengan kamus dan grammar, ia memerlukan pemahaman terhadap kehidupan, situasi pengarang dan audiennya. Hermeneutikanya tercermin dalam karyanya Being and Time. Dasein (suatu keberadaan atau eksistensi yang berhubungan dengan orang dan obyek) itu sendiri sudah merupakan pemahaman, dan interpretasi yang essensial dan terus menerus.[52]

Martin Heidegger mencoba memahami teks dengan metode eksistensialis. Ia menganggap teks sebagai suatu “ketegangan” dan “tarik-menarik” antara kejelasan dan ketertutupan, antara ada dan tidak ada. Eksistensi, menurut Heidegger, bukanlah eksistensi yang terbagi antara wujud transendent dan horisontal. Semakin dalam kesadaran manusia terhadap eksistensinya, maka sedalam itu pula lah pemahamannya atas teks; karena itu, teks tidak lagi mengungkapkan pengalaman historis yang terkait dengan suatu peristiwa. Dengan pengalaman eksistensialnya itulah manusia bisa meresapi wujudnya dan cara dia bereksistensi sebagai unsur penegas dalam proses memahami suatu teks.[53]

Heidegger mencoba memberikan pengertian lain kepada bahasa dan tidak hanya berkutat pada pengertian bahasa sebagai alat komunikasi saja. Bahasa merupakan artikulasi eksistensial pemahaman. Bahasa kemudian juga bermakna ontologis. Antara keberadaan, kemunculan, dan bahasa, saling mengandalkan. Bersama pikiran, bahasa adalah juga ciri keberadaan manusia. Dalam bahasa, Ada mengejawantah. Oleh karenanya, interpretasi merupakan kegiatan membantu terlaksananya peristiwa bahasa, karena teks mempunyai fungsi hermeneutik sebagai tempat pengejawantahan Ada itu sendiri.[54]

Hermeneutika Heidegger telah mengubah konteks dan konsepsi lama tentang hermeneutika yang berpusat pada analisa filologi interpretasi teks. Heidegger tidak berbicara pada skema subjek-objek, klaim objektivitas, melainkan melampaui itu semua dengan mengangkat hermeneutika pada tataran ontologis.

  1. 4. Hans-Georg Gadamer (1900-1998)

Gadamer menegaskan bahwa pemahaman adalah persoalan ontologis. Ia tidak menganggap hermeneutika sebagai metode, sebab baginya pemahaman yang benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis bukan metodologis. Artinya kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode tapi melalui dialektika, dimana lebih banyak pertanyaan dapat diajukan. Dan ini disebut filsafat praktis.[55] Gadamer melontarkan konsep “pengalaman” historis dan dialektis, di mana pengetahuan bukan merupakan bias persepsi semata tetapi merupakan kejadian, peristiwa, perjumpaan.[56] Gadamer menegaskan makna bukanlah dihasilkan oleh interioritas individu tetapi dari wawasan-wawasan sejarah yang saling terkait yang mengkondisikan pengalaman individu. Gadamer mempertahankan dimensi sejarah hidup pembaca.[57]

Filsafat hermeneutika Gadamer meniscayakan wujud kita berpijak pada asas hermeneutis, dan hermeneutika berpijak pada asas eksistensial manusia. Ia menolak segala bentuk kepastian dan meneruskan eksistensialisme Heidegger dengan titik tekan logika dialektik antara aku (pembaca) dan teks/karya. Dialektika itu mesti difahami secara eksistensialis, karena hakikatnya memahami teks itu sama dengan pemahaman kita atas diri dan wujud kita sendiri. Pada saat kita membaca suatu karya agung, ketika itu kita lantas menghadirkan pengalaman-pengalaman hidup kita di masa silam, sehingga melahirkan keseimbangan pemahaman atas diri kita sendiri. Proses dialektika memahami karya seni berdiri atas asas pertanyaan yang diajukan karya itu kepada kita; pertanyaan yang menjadi sebab karya itu ada.[58]

Dia umpamakan pemahaman manusia sebagai interpretasi-teks. Dalam proses memahami teks selalu didahului oleh pra-pemahaman sang pembaca dan kepentingannya untuk berpatisipasi dalam makna teks. Kita mendekati teks selalu dengan seperangkat pertanyaan atau dengan potensi kandungan makna dalam teks. Melalui horizon ekspektasi inilah kita memasuki proses pemahaman yang terkondisikan oleh realitas sejarah. Hermeneutika dalam pengertian Gadamer adalah interpretasi teks sesuai dengan konteks ruang dan waktu interpreter. Inilah yang ia sebut dengan effective historical consciousness yang struktur utamanya adalah bahasa.[59]

Menurut Gadamer, pemahaman bukanlah salah satu daya psikologis yang dimiliki manusia, namun pemahaman adalah kita. Oleh sebab itu, ilmu tanpa pra-duga adalah tidak terjadi. Kita gagal memahami hermeneutic circle, jika kita berusaha keluar dari lingkaran tersebut. Menurut Gadamer, ketika kita berusaha memahami sebuah teks kita akan berhadapan dengan koherensi relatif dari ruang lingkup makna. Jadi, sebenarnya ada dua metode yang perlu dihindari ketika memahami sesuatu. Pertama, sikap reduktif ketika dengan seenaknya  memasukkan konsep kita sendiri dengan berlebih-lebihan ke dalam ruang lingkup budaya, sehingga menafikan kekhususan maknanya; kedua, sikap self-effacement ketika kita menafikan kepentingan kita sendiri dengan berusaha masuk ke dalam kacamata orang lain. Kedua metode tersebut tidak menyelesaikan persoalan ilmu yang objektif karena masih terjerat dengan dikotomisasi antara subjek atau objek, padahal kondisi primordial kita melampaui hubungan antara subjek dan objek.[60]

Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci heremeneutis: Pertama, kesadaran terhadap “situasi hermeneutik”. Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks. Kedua, situasi hermeneutika ini kemudian membentuk “pra-pemahaman” pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkan teks dengan konteks. Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks, menurut Gadamer, pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. Ketiga, setelah itu pembaca harus menggabungkan antara dua horizon, horizon pembaca dan horizon teks. Keduanya harus dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca. Sebab, teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut “lingkaran hermeneutik”. Keempat, langkah selanjutnya adalah menerapkan “makna yang berarti” dari teks, bukan makna obyektif teks. Bertolak pada asumsi bahwa manusia tidak bisa lepas dari tradisi dimana dia hidup, maka setiap pembaca menurutnya tentu tidak bisa menghilangkan tradisinya begitu saja ketika hendak membaca sebuah teks.[61]

  1. 5. Jurgen Habermas (1929-  )

Habermas sebagai penggagas hermeneutika kritis menempatkan sesuatu yang berada di luar teks sebagai problem hermeneutiknya. Sesuatu yang dimaksud adalah dimensi ideologis penafsir dan teks, sehingga dia mengandaikan teks bukan sebagai medium pemahaman, melainkan sebagai medium dominasi dan kekuasaan. Di dalam teks tersimpan kepentingan pengguna teks. Karena itu, selain horizon penafsir, teks harus ditempatkan dalam ranah yang harus dicurigai.[62] Menurut Habermas, teks bukanlah media netral, melainkan media dominasi. Karena itu, ia harus selalu dicurigai.

Bagi Habermas pemahaman didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horizon pemahaman adalah kepentingan sosial (social interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest) sang interpereter.[63]

  1. 6. Paul Richour (1913-2005)

Paul Richour mendefinisikan hermeneutika yang mengacu balik pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distingtif dan sentral dalam hermeneutika. Hermeneutika adalah proses penguraian yang beranjak dari isi dan makna yang nampak ke arah makna terpendam dan tersembunyi. Objek interpretasi, yaitu teks dalam pengertian yang luas, bisa berupa simbol dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari simbol dalam masyarakat atau sastra. Hermeneutika harus terkait dengan teks simbolik yang memiliki multi makna (multiple meaning); ia dapat membentuk kesatuan semantik yang memiliki makna permukaan yang betul-betul koheren dan sekaligus mempunyai signifikansi lebih dalam. Hermeneutika adalah sistem di mana signifikansi mendalam diketahui di bawah kandungan yang nampak.[64]

Konsep yang utama dalam pandangan Ricoeur adalah bahwa begitu makna obyektif diekspresikan dari niat subyektif sang pengarang, maka berbagai interpretasi yang dapat diterima menjadi mungkin. Makna tidak diambil hanya menurut pandangan hidup (worldview) pengarang, tapi juga menurut pengertian pandangan hidup pembacanya.[65] Sederhananya, hermeneutika adalah ilmu penafsiran teks atau teori tafsir.

  1. 7. Muhammed Arkoun

Setelah membahas pemikiran tokoh-tokoh di atas, ada baiknya untuk membahas pemikiran Muhammed Arkoun yang telah mengadopsi teori-teori hermeneutika ketika menafsirkan Alquran.

Adalah Muhammed Arkoun, pemikir reformatif-dekonstruktif sekaligus intelektual wilayah ‘tak terpikirkan’ (al-la mufakkar fih/L’impensê/unthikable) yang lahir pada 1 Februari 1928 di Tourirt-Mimoun, Kabilia, Aljazair. Sejak tahun 1961 Arkoun diangkat menjadi dosen di Universitas Sorbone Paris. Corak konstruksi pemikiran epistemik Arkoun sangat terlihat dipengaruhi oleh post-strukturalis Perancis. Metode historisisme yang dijadikan pisau bedah analisis Arkoun adalah formulasi ilmu-ilmu sosial Barat modern hasil ciptaan para pemikir post-strukturalis Perancis.[66]

Kritik epistemik nalar Islam dan analisis dekonstruktif merupakan harga mati bagi Akoun guna mencapai kebangkitan kembali peradaban Islam yang sampai kini masih terkapar dalam hegemoni ortodoksi dan dogmatisme. Kerja ilmiah ini digarap oleh Arkoun dengan cara mengkritik secara dekonstruktif terhadap mekanisme-mekanisme berpikir konvensional yang telah memproduk sistem-sistem teologis dan keyakinan-keyakinan yang amat varian dan, sebagai langkah kedua, kemudian merekonstruksi pondasi-pondasi epistemiknya.[67]

Muhammed Arkoun berpendapat bahwa Mushaf Utsmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang dijadikan “tak terfikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Ia mengusulkan supaya membudayakan pemikiran liberal (free thinking). Ia mencapai pemikiran liberal dengan dekonstruksi. Baginya, dekonstruksi adalah sebuah ijtihad yang akan memperkaya sejarah pemikiran dan memberikan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang Alquran. Jika masalah-masalah yang selama ini ditabukan dan dilarang dan semua itu diklaim sebagai sebuah kebenaran, jika didekonstruksi, maka semua diskursus tadi akan menjadi diskursus terbuka.[68]

Menurutnya pendekatan historitas, meskipun berasal dari Barat, tidak hanya sesuai untuk warisan budaya Barat saja.Tetapi pendekatan tersebut dapat diterapkan pada semua sejarah umat manusia dan bahkan tidak ada jalan lain dalam menafsirkan wahyu kecuali menghubungkannya dengan konteks historis, yang akan menantang segala bentuk pensaklaran dan penafsiran transenden yang dibuat teolog tradisional.[69] Arkoun dalam mengkaji studi ke-Islaman menaruh perhatian yang sangat tinggi pada teori Hermeneutika.

BAB III

KESIMPULAN

  1. Mediasi dan proses membawa pesan “agar dipahami” yang diasosikan dengan Dewa Hermes terkandung di dalam tiga bentuk makna dasar dari hermēneuien dan hermēneia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari hermēneuein, yaitu: to say, to explain, dan to translate atau to interpret.
  2. Setidaknya ada enam definisi tentang hermeneuitika modern yang juga menandai sejarah perkembangan hermeneutika itu sendiri.
    1. Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel.
    2. Hermeneutika sebagai metode filologis.
    3. Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik. Schleiemecher menandai lahirnya hermeneutika yang bukan lagi terbatas kepada idiom filologi maupun eksegesis Bibel, melainkan prinsip-prinsipnya bisa digunakan sebagai fundasi bagi semua ragam interpretasi teks (Hermeneutika Umum).
    4. Hermeneutika sebagai fundasi metodologi geisteswissenschaften. Wilhelm Dilthey menjadi figur utama pada perkembangan herneutika tahap ini. Ia melihat bahwa hermeneutika adalah inti disiplin yang dapat berlaku bagi geisteswissenschaften, yakni semua pemahaman yang mefokuskan pada seni, aksi, dan tulisan manusia.
    5. Hermeneutika sebagai fenomenologi Dasein dan pemahaman eksistensial. Pada titik inilah hermeneutika memasuki wilayah ontologis. Hermeneutika menjadi instrumen pengejawantahan Sang Ada (Being). Melalui Dasein yang menginterpretasi, segala Yang Ada mewujudkan diri. Konsepsi Heidegger ini pada akhirnya dilanjutkan oleh Gadamer yang menitik beratkan pada linguistik.
    6. Hermeneutika sebagai sistem interpretasi: menemukan makna versus ikonaklasme. Titik balik kreatif dilakukan oleh Paul Ricour yang mendefinisikan hermeneutika dengan mengacu kembali pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distinktif dan sentral dalam hermeneutika.
    7. Muhammed Arkoun mengadopsi teori hermeneutika dalam tafsir Alquran, dengan melakukan kritik secara dekonstruktif lalu melakukan rekonstruksi.

DAFTAR PUSTAKA

Armas, Adnin.  Dampak Hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey terhadap Studi Al-Qurán. Jurnal Islamia, Vol. III, No. 3, 2008.

__________,Filsafat Hermeneutika Menggugat Metode Tafsir al-Qurán, dalam Kumpulan Makalah Workshop Pemikiran, IKPM cabang Kairo.

Audifax,HermeneutikadanSemiotika,www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif.

Bertens, K. Panorama Filsafat Modern. Cet. I; Jakarta: Penerbit Teraju, 2005.

E. Palmer, Richard. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer diterjemahkan oleh Masnuri Hery dan Damanhuri dengan judul Hermeneutika; Teori Baru Mengenai Interpretasi. Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Hermeneutik. Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1996.

Http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika/Studi Hermeneutika dan Penerapannya.

Http://idhimakalah.wordpress.com/2007/11/22/hermeneutika-ontologi-eksistensial-heidegger.

Http://irwanmasduqi83.blogspot.com/2007/10/peta-kritik-nalar-islam-arkoun-dari.html.

Http://irwanmasduqi83.blogspot.com/2008/09/kritik-proyek-kritik-nalar-arab-abed-al.html.

Http://khidr.org/gunawardhana.htm.

Http://peperonity.com/go/sites/mview/assunnah.karya.indo1/15293598/Hermeneutika dan Bahayanya.

Salahuddin, Henry. Studi Analitis Kritis Terhadap Filsafat Hermeneutik Alquran, dalam Blog pada WordPress.com.

Zarkasyi, Hamid Fahmy. Hermeneutika Sebagai Produk Pandangan Hidup. Dalam Kumpulan Makalah Workshop Pemikiran Islam Kontemporer, IKPM cabang Kairo, 2006.


[1]K. Bertens, Panorama Filsafat Modern (Cet. I; Jakarta: Penerbit Teraju, 2005), h. 167-168.

[2]Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Hermeneutik (Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1996), h, 28.

[3]Richard E. Palmer, Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer diterjemahkan oleh Masnuri Hery dan Damanhuri dengan judul Hermeneutika; Teori Baru Mengenai Interpretasi (Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 3.

[4]Ibid, h. 4.

[5]Konsep “teks” di sini tak terbatas pada sesuatu yang tertulis, tapi meliputi pula ujaran, penampilan, karya seni, dan bahkan peristiwa. Di sini sebenarnya bisa pula dikatakan interpretasi “teks sosial”. Bahkan simbol-simbol pun, sebenarnya merupakan teks. Termasuk simbol-simbol dalam mimpi seseorang. Lihat Audifax, Hermeneutika dan Semiotika, http://www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif.

[6]Henry Salahuddin, Studi Analitis Kritis Terhadap Filsafat Hermeneutik Alquran, dalam Blog pada WordPress.com.

[7]Ibid.

[8]Hamid Fahmy Zarkasyi, Hermeneutika Sebagai Produk Pandangan Hidup, dalam Kumpulan Makalah Workshop Pemikiran Islam Kontemporer, IKPM cabang Kairo, 2006), h. 1.

[9]Http://irwanmasduqi83.blogspot.com/2008/09/kritik-proyek-kritik-nalar-arab-abed-al.html.

[10]Http://khidr.org/gunawardhana.htm.

[11]Llihat Komaruddin Hidayat, op. cit., h. 125-126.

[12]Keraguan ini adakalanya juga muncul ketika dihadapkan pada berbagai dokumen yang saling berbeda penjelasannya mengenai hal yang sama sehingga pembaca harus bekerja melakukan kajian untuk menemukan sumber-sumber yang otentik serta pesan yang jelas. Lihat Ibid., h. 126-127.

[13]Richard E. Palmer, op.cit., h. 14.

[14]Http://peperonity.com/go/sites/mview/assunnah.karya.indo1/15293598/Hermeneutika dan Bahayanya.

[15]Richard E. Palmer, op.cit., h. 15.

[16]Ibid.

[17]Lihat ibid., h. 15-16.

[18]Http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika/Studi Hermeneutika dan Penerapannya.

[19]Http://idhimakalah.wordpress.com/2007/11/22/hermeneutika-ontologi-eksistensial-heidegger.

[20]Http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika, loc. cit.

[21]Dikutip oleh Hamid Fahmy Zarkasyi, op. cit., h. 2.

[22]Ibid.

[23]Ibid., h. 3.

[24]Logos asal dari bahasa Yunani berarti “kata”. Para filosof Yunani memakai kata tersebut untuk menunjukkan prinsip rasional yang mengatur dan mengembangkan alam semesta. Hamid Fahmy Zarkasyi, op. cit., h. 2.

[25]Ibid.

[26]Ibid.

[27]Richard E. Palmer, op.cit., h. 39.

[28]Ibid., h. 43.

[29]Komaruddin Hidayat, op. cit., 127.

[30]Ibid.

[31]Hamid Fahmy Zarkasyi, op. cit., h. 6.

[32]Adnin Armas, Dampak Hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey terhadap Studi Al-Qurán, Jurnal Islamia, Vol. III, No. 3, 2008, h. 72.

[33]Adnin Armas, Filsafat Hermeneutika Menggugat Metode Tafsir al-Qurán, dalam Kumpulan Makalah Workshop Pemikiran, IKPM cabang Kairo, 2006, hal. 1.

[34]Hamid Fahmy Zarkasyi, op. cit., h. 7.

[35]Henry Salahuddin, loc. cit.

[36]Hermeneutika yang berkutat dengan teks-teks dari Yunani-Romawi.

[37]Hermeneutika yang terfokus pada teks-teks kitab suci.

[38]Adnin Armas, Filsafat Hermeneutika., loc. cit.

[39]Penafsiran tata-bahasa berfungsi untuk mengidentifikasi secara jelas makna istilah bahasa yang digunakan dalam teks, selain itu, makna dari setiap kata harus ditentukan dengan konteks keberadaan kata tersebut. Sedangkan penafsiran psikologis berfungsi untuk mengidentifikasi motif pengarang dalam suatu waktu dari kehidupannya ketika menulis teks, ucapan juga harus dipahami dari konteks keseluruhan mental pengarang.

[40]Lingkar hermeneutik itu akan mengubah yang konstan menjadi dinamis dan terus bergerak, dikarenakan teori “makna” dalam teori penafsiran klasik diubah menjadi “pemahaman” yang terkait dengan akal manusia yang terus berkembang dan berubah. Henry Salahuddin, loc. cit.

[41]Adnin Armas, Dampak Hermeneutik, op. cit., h. 74.

[42]Richard E. Palmer, op.cit., h. 45.

[43]Ibid., h. 45-46.

[44]Hamid Fahmy Zarkasyi, op. cit ,h. 8.

[45]Richard E. Palmer, op.cit., h. 45.

[46]Http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika/Studi, loc. cit.

[47]Adnin Armas, Filsafat Hermeneutika, op. cit., h. 4.

[48]Http://idhimakalah.wordpress.com, loc. cit.

[49]Richard E. Palmer, op.cit., h. 46.

[50]Http://idhimakalah.wordpress.com, loc. cit.

[51]Ibid.

[52]Hamid Fahmy Zarkasyi, loc. cit.

[53]Henry Salahuddin, loc. cit.

[54]Http://idhimakalah.wordpress.com, loc. cit.

[55]Hamid Fahmy Zarkasyi, loc. cit.

[56]Richard E. Palmer, op.cit., h. 231-232.

[57]Adnin Armas, Filsafat Hermeneutika, loc. cit.

[58]Henry Salahuddin, loc. cit.

[59]Hamid Fahmy Zarkasyi, op. cit., h. 8-9.

[60]Dikutip oleh Adnin Armas dari Alan How, The Habermas-Gadamer, lihat Adnin Armas, Filsafat Hermeneutika, op. cit., h.  5.

[61]Http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika, loc. cit.

[62]Ibid.

[63]Hamid Fahmy Zarkasyi, op. cit., h. 9.

[64]Richard E. Palmer, op.cit., h. 47-48.

[65]Hamid Fahmy Zarkasyi, loc. cit.

[66]Http://irwanmasduqi83.blogspot.com/2007/10/peta-kritik-nalar-islam-arkoun-dari.html.

[67]Ibid.

[68]Adnin Armas, Filsafat Hermeneutika, op. cit., h.  5-6.

[69]Adnin Armas, Dampak Hermeneutik, op. cit., h. 76.


FILSAFAT ANALITIK

FILSAFAT ANALITIK

Oleh : Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar filsafat, sepertinya memasuki suatu medan yang luas tiada bertepi, tiada rambu-rambu petunjuk jelas yang dapat menuntun ke jalan keluar yang paling tepat, sehingga semuanya menjadi serba misteri dan penuh problema. Perkembangan terakhir dari filsafat ilmu tersebut adalah sampainya filosof pada penelitian tentang bahasa, dan akan berkelanjutan tanpa berujung.

Munculnya filsafat menurut B. Russel berawal dari konsep tentang hidup dan dunia.[1] Para filosof dunia kebanyakan beranggapan bahwa yang satu haruslah sebagai substansi material. Bermula dari anggapan tentang asal segala sesuatu, Thales (585 SM) yang diberi julukan sebagai “Bapak Filsafat” beranggapan bahwa segala sesuatu berasal dari air.[2] Anaximinisme beranggapan bahwa substansi itu adalah udara, sedang heraklitos menganggapnya api, yang akan melahirkan intelegensia, dan jika ditinjau dari segi spritualnya api tidak lain adalah logos. Pytagoras (535-515 SM) dengan argumentasi deduktif matematikanya yang bercorak mistis percaya bahwa bilanganlah yang berperan sebagai pemersatu aneka ragam dalam suasana kosmos.[3] Parmedines (450 SM), doktrinnya telah berpengaruh terhadap plato. Sampai pada lahirnya teori atomis oleh Leucippus dan Demokraritus.[4] sampai pada Socrates, plato, dan Aristoteles. Pada abad ke XVIII dan awal abad ke XX terdapat dua aliran besar yang mendominasi pemikiran filsafat yaitu filsafat idealisme dan filsafat empirisme. Idealisme berkembang pesat dalam tradisi filsafat jerman sedangkan empirisme berkembang di inggris. Aliran filsafat tersebut berkembang terus menerus sampai pada abad ke XX ditandai dengan kemunculan filsafat bahasa yang dipelopori oleh filosof-filosof kontemporer yang menggunakan analisis bahasa melalui gejala-gejala yang nampak.

Untuk itu bahasa adalah alat yang paling penting dari seorang filosof serta perantara untuk menemukan ekspresi. oleh karena itu ia sensitif terhadap kekaburan serta cacat-cacatnya dan merasa simpati untuk menjelaskan dan memperbaikinya. Kebanyakan orang menganggap bahasa itu satu hal yang wajar, seperti udara yang kita isap, tetapi pada waktu sekarang, banyak ahli termasuk didalamnya filosof-filosof yang memakai “metode logical analitik” melihat bahwa penyelidikan tentang arti serta prinsip-prinsip dan aturan-aturan bahasa merupakan problema yang pokok dalam filsafat.[5]

Hubungan bahasa dengan masalah filsafat telah lama menjadi perhatian para filosof bahkan sejak zaman yunani. Para filosof mengetahui bahwa berbagai macam problema filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. Sebagai contoh: problema filsafat yang menyangkut pertanyaan, keadilan, kebaikan, kebenaran, kewajiban, hakekat ada (Metafisika) dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya dapat dijelaskan dengan menggunakan metode analisis bahasa. Tradisi inilah oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai “Filsafat Analitik” yang berkembang di eropa terutama di Inggris abad XX.[6]

Oleh karena itu kesimpulan akan lebih bermakna jikalau disampaikan, penyampaian lebih berarti jikalau kesimpulan tersebut sudah dianalisis terlebih dahulu. dan di dalam penyampaian pastinya terdapat bahasa, bahasa tak pernah lepas dari menerangkan dan diterangkan. di dalam filsafat bahasa ini kita membahas tentang Filsafat Analitik.

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan dan uraian di atas maka penulis merumuskan beberapa permasalahan dalam pembahasan filsafat analitik ini sebagai berikut:

  1. Pengertian filsafat Analitik dan perkembangannya?
  2. Siapa Tokoh-tokoh filsafat Analitik dan pemikirannya?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian filsafat bahasa (Analitik) dan perkembangannya

Perhatian filosof terhadap bahasa semakin besar. Mereka sadar bahwa dalam kenyataannya banyak persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi jelas dengan menggunakan analisis bahasa. Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan kekaburan, kekacauan yang selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis.

Secara etimologi kata analitik berarti investigative, logis, mendalam, sistematis, tajam dan tersusun.[7]

Beberapa pengertian tentang filsafat analitik secara terminologi yaitu:

Menurut Rudolph Carnap, filsafat analitik adalah pengungkapan secara sistematik tentang syntax logis (struktur gramatikal dan aturan-aturannya) dari konsep-konsep dan bahasa khususnya bahasa ilmu yang semata-mata formal.[8]

Roger jones menjelaskan arti filsafat analitik bahwa baginya tindak menganalisis berarti tindak memecah sesuatu ke dalam bagian-bagiannya. Tepat bahwa itulah yang dilakukan oleh para filosof analitik.[9]

Didalam kamus populer filsafat, filsafat analitik adalah aliran dalam filsafat yang berpangkal pada lingkaran Wina. filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang berbau metafisik. Juga ingin menyerupai ilmu-ilmu alam yang empirik, sehingga kriteria yang berlaku dalam ilmu elsakta juga harus dapat diterapkan pada filsafat (misalnya harus dapat dibuktikan dengan nyata, istilah-istilah yang dipakai harus berarti tunggal, jadi menolak kemungkinan adanya analogi). [10]

Filsafat analitik adalah suatu gerakan filosof Abad ke 20, khususnya di Inggris dan Amerika Serikat yang memusatkan perhatiannya pada bahasa dan mencoba menganalisa pernyataan-pernyataan (konsep-konsep, ungkapan-ungkapan kebahasaan, atau bentuk-bentuk yang logis) supaya menemukan bentuk-bentuk yang paling logis dan singkat yang cocok dengan fakta-fakta atau makna-makna yang disajikan. Yang pokok bagi filsafat analitik adalah pembentukan definisi baik yang linguistik atau nonlinguistik nyata atau yang konstektual.[11]

Filsafat analitik sendiri, secara umum, hendak mengklarifikasi makna dari penyataan dan konsep dengan menggunakan analisis bahasa.

Bilamana dikaji perkembangan filsafat setidaknya terdapat empat fase perkembangan pemikiran filsafat, sejak munculnya pemikiran yang pertama sampai dewasa ini, yang menghiasi panggung sejarah umat manusia. Pertama, kosmosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan alam sebagai objek pemikiran dan wacana filsafat, yaitu yang terjadi pada zaman kuno. Ikedua, teosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan Tuhan sebagai pusat pembahasan filsafat, yang berkembang pada zaman abad pertengahan. Ketiga, antroposentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan manusia sebagai objek wacana filsafat, hal ini terjadi dan berkembang pada zaman modern. Keempat, logosentris yaitu fase perkembangan pemikiran filsafat yang meletakkan bahasa sebagai pusat perhatian pemikiran filsafat dan hal ini berkembang setelah abad modern sampai sekarang. Fase perkembangan terakhir ini ditandai dengan aksentuasi filosof pada bahasa yang disadarinya bahwa bahasa merupakan wahana pengungkapan peradaban manusia yang sangat kompleks itu.[12]

Perhatian filsafat terhadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sejak zaman Pra Sokrates, yaitu ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. Seluruh minat herakleitos terpusatkan pada dunia fenomenal. Ia tidak setuju bahwa di atas dunia fenomenal ini, terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang lebih tinggi, dunia idea, dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni. Meskipun begitu ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja, ia mencari prinsip perubahan. Menurut Herakleitos, prinsip perubahan ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawi, dan dalam dunia manusiawi ini kemampuan bicara menduduki tempat yang sentral. Dalam pengertian inilah maka medium Herakleitos bahwa “kata” (logos) bukan semata-mata gejala antropologi. Kata tidak hanya mengandung kebenaran universal. Bahkan Herakleitos mengatakan “jangan dengar aku”, “dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa semua benda itu satu”. Demikian sehingga pemikiran yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa yang meletakkan sebagai objek kajian filsafat.[13]

Filsafat bahasa mulai berkembang pada abad ke XX dengan telaah analitik filosofik Wittgenstein tentang bahasa. Noam Chomskylah yang pertama-tama mengangkat bahasa sebagai disiplin linguistic. Grice dan Quinelah yang mengangkat meaning sebagai intensionalitas si pembicara dan meaning dalam konteks kejadiannya. Davidson lebih lanjut mengetengahkan tentang struktur semantik, untuk memahami bahasa, termasuk unsur-unsurnya dan mengembangkan tentang interpretasi yang dapat berbeda antara si pembicara dan yang dibicarakan. Frege lebih lanjut mengembangkan konsep tentang referensi. Ekspresi bahasa bukan hanya representasi of mine, tetapi juga mengandung referensi, yaitu hal-hal yang relevan dengan pernyataan yang ditampilkan. [14]

Filsafat abad modern memberikan dasar-dasar yang kokoh terhadap timbulnya filsafat analitika bahasa. Peranan rasio, indra, dan intuisi manusia sangat menentukan dalam pengenalan pengetahuan manusia. Oleh karena itu aliran rasionalisme yang menekankan otoritas akal, aliran empirisme yang menekankan peranan pengalaman indera dalam pengenalan pengetahuan manusia serta aliran imaterialisme dan kritisme Immanuel kant menjadi sangat penting sekali pengaruhnya terhadap tumbuhnya filsafat analitika bahasa terutama dalam pengungkapan realistas segala sesuatu melalui ungkapan bahasa.[15]

  1. Tokoh-tokoh filsafat Analitik dan pemikirannya

Pada dasarnya perkembangan filsafat analitika bahasa itu meliputi tiga aliran yang pokok yaitu ‘atomisme logis’ (logical atomism), ‘Positivisme logis’ (logical empirism), dan ‘filsafat bahasa biasa’ (ordinary language philosophy).[16]

Pada pembahasan tokoh ini penulis hanya menguraikan tiga tokoh utama dalam perkembangan filsafat analitik tersebut, sebagai berikut:

  1. Gottlob Frege

Para filosof analitik berpendapat bahwa filsuf Jerman, Gottlob Frege (1848-1925), adalah filosof terpenting setelah Immanuel Kant. Frege hendak merumuskan logika yang rigorus sebagai metode berfilsafatnya. Dengan kata lain, filsafat itu sendiri pada intinya adalah logika.

Dalam hal ini, ia dipengaruhi filsafat analitik, filsafat-logika, dan filsafat bahasa. Frege berpendapat bahwa dasar yang kokoh bagi matematika dapat ‘diamankan’ melalui logika dan analisis yang ketat terhadap logika dasar kalimat-kalimat. Cara itu juga bisa menentukan tingkat kebenaran suatu pernyataan.[17]

Akar-akar analisis linguistik ditanam di lahan yang disiangi oleh seorang matematikawan bernama G. Frege, ia memulai sebuah revolusi logika (analitik), yang implikasinya masih dalam proses penanganan oleh filosof-filosof kontemporer. Ia menganggap bahwa logika sebetulnya bisa direduksi ke dalam matematika, dan yakin bahwa bukti-bukti harus selalu dikemukakan dalam bentuk langkah-langkah deduktif yang diungkapkan dengan gamblang.  Salah satu idenya yang paling berpengaruh adalah membuat perbedaan antara “arti” (sense) proposisi dan “acuan” (reference)-nya, dengan mengetengahkan bahwa proposisi memiliki makna hanya apabila mempunyai arti dan acuan.[18]

Frege juga menyusun notasi baru yang memunkinkan terekpresikannya “penentu kuantitas” (kata-kata seperti “semua”, “beberapa” dan sebagainya) dalam bentuk simbol-simbol. Ia berharap para filosof bisa menggunakan notasi ini untuk menyempurnakan bentuk logis argumen mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk jauh lebih dekat, daripada waktu-waktu sebelumnya, dengan ide pembuatan filsafat menjadi ilmu yang ketat.[19]

2. Bertrand Russell

Bertrand Russel (1872-1970)  lahir dari keluarga bangsawan. Pada umur 2 dan 4 tahun berturut-turut ia kehilangan ibu dan ayahnya. Ia dibesarkan di rumah orang tua ayahnya. Di Cambrige, ia belajar ilmu pasti dan filsafat, antara lain pada A. Whitehead. Kita sudah mendengar bahwa George Moore termasuk sahabatnya. Selama hidupnya yang amat panjang, ia menulis banyak sekali, 71 buku dan brosur) tentang berbagai pokok, antara lain filsafat, masalah-masalah moral, pendidikan, sejarah, agama, dan politik. Pada tahun 1950 ia memperoleh hadiah Nobel bidang sastra. Namanya menjadi masyhur di seluruh dunia terutama karena pendapat-pendapatnya yang nonkonformistis tentang moral dan politik. Dari sudut ilmiah jasanya yang terbesar terdapat di bidang logaika Matematis.[20]

Pemikiran filosofis Bertrand Russell  yaitu ia mencoba menggabungkan logika Frege tersebut dengan empirisme yang sebelumnya telah dirumskan oleh David Hume. Bagi Russell, dunia terdiri dari fakta-fakta atomis (atomic facts). Dalam konteks ini, kalimat-kalimat barulah bisa disebut sebagai kalimat bermakna, jika kalimat tersebut berkorespondensi langsung dengan fakta-fakta atomik. Ludwig Wittgenstein (1889-1951) juga nantinya banyak dipengaruhi oleh Russell. Dia sendiri mempengaruhi Lingkaran Wina dan membantu membentuk aliran positivisme logis pada dekade 1920-30 an.

Jalan pemikiran Russell ini menawarkan jalan keluar untuk aliran atomisme logik. Atomisme logik berpendapat bahwa bahasa keseharian itu banyak menampilkan kekaburan arti. Russerl menawarkan dasar-dasar logico-epistemologik untuk bahasa. Russell mengetengahkan tentang fakta, bentuk logika, dan bahasa ideal. Dia mengetengahkan prinsip dasarnya, yaitu: ada isomorphisme (kesepadanan) antara fakta dengan bahasa, dan dunia ini merupakan totalitas fakta-fakta, bukan benda. Fakta dalam pemikiran Russerl merupakan ciri-ciri atau relasi-relasi yang dimiliki oleh benda-benda.[21]

Ia berpendapat bahwa grammar dari bahasa yang biasa kita gunakan sebenarnya tidak tepat. Baginya, dunia terdiri dari fakta-fakta atomis, dan hanya bahasa-bahasa yang mengacu pada fakta atomis inilah yang dapat disebut sebagai bahasa yang sahih. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa salah satu tugas terpenting filsafat adalah menganalisis proposisi-proposisi bahasa untuk menguji kesahihan ‘forma logis’ dari proposisi tersebut.[22] untuk itu tugas filsafat adalah analisis logis yang disertai dengan sintesis logis.

Berdasarkan prinsip-prinsip pemikiran itulah maka Russerl menekankan bahwa konsep atomismenya tidak didasarkan pada mefisikanya melainkan lebih didasarkan pada logikanya karena menurutnya logika adalah yang paling dasar dalam filsafat, oleh karena itu pemikiran Russell dinamakan ‘atomisme logis’.[23]

3. Ludwig Wittgenstein

Ludwig Wittgenstein dilahirkan di wina (Austria) pada tanggal 26 April 1889 sebagai anak bungsu dari delapan anak. Ayahnya berasal dari famili yahudi yang telah memeluk agama Kristen Protestan dan ibunya beragama katolik. Ayahnya seorang insinyur yang dalam jangka waktu sepuluh tahun berhasil menjadi pemimpin suatu industri baja yang besar.[24]

Pada Tahun 1906 Wittgenstein mulai belajar di suatu Sekolah Tinggi Teknik di Berlin. Setelah itu Ia pindah ke inggris dan melakukan penyelidikan tentang aeronautical selama tiga tahun. Karena tertarik kepada buku Principles of Mathematics tulisan Bertrand Russell, ia pergi ke Cambridge untuk belajar kepada Russell, ia mendapat kemajuan pesat dalam studi tentang logika. Setelah perang dunia I meletus, ia bergabung dengan tentara Austria sebagai sukarelawan dan ditawan oleh tentara Italia pada tahun 1918. setelah dibebaskan ia mengajar di sekolah, tetapi pada tahun 1929, ia kembali ke Cambridge untuk berkecimpung dalam filsafat. Pada tahun 1939 ia mengganti G.E. Moore sebagai guru besar fislafat di Cambridge University, Inggris. Karyanya merupakan factor penting dalam timbulnya aliran-aliran Logical Positivism, Linguistic Analysis dan semantics.[25]

Adapun pemikiran filosofis Ludwig Wittgenstein yaitu:

a. Periode pertama: Tractatus logico-philosophicus[26]

Konsep pemikiran Wittgenstein dalam buku Tractatus terdiri atas pernyataan-pernyataan yang secara logis memiliki hubungan. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut:

Pertama: Dunia itu tidak terbagi atas benda-benda melainkan terdiri atas fakta-fakta, dan akhirnya terbagi menjadi suatu kumpulan fakta-fakta atomis yang tertentu secara unik (khas).

Kedua:  Setiap proposisi itu pada akhirnya melarut diri, melalui analisis, menjadi suatu fungsi kebenaran yang tertentu secara unik (khas) dari sebuah proposisi elementer, yaitu setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir.

Pernyataan-pernyataan tersebut secara rinci diperjelas lagi secara logis dalam pernyataan-pernyataan sebagai berikut:

Pernyataan pertama:

  1. Dunia itu adalah semua hal yang adalah demikian.

(The worlds is all that is the case)

Dunia itu adalah keseluruhan dari fakta-fakta, bukan dari benda-benda.

(The World is the totality of fact not of thing)

Dunia itu terbagi menjadi fakta-fakta (kenyataan-kenyataan).

(The World devides into facts)

  1. Apa yang merupakan kenyataan yang sedemikian itu, sebuah fakta adalah kebenaran suatu peristiwa.

(What is the case, a fact is the existence of states of affairs).[27]

Menurut Wittgeinsten yang dimaksud dengan fakta, adalah suatu peristiwa (state of affairs) atau keadaan dan suatu peristiwa itu adalah kombinasi dari benda-benda atau objek-objek bagaimana hal itu berada di dunia. Dunia itu bukanlah terdiri atas benda-benda, atau benda-benda itu bukanlah bahagian dunia. Namun, objek-objek itu merupakan substansi dunia. Jadi, yang dimaksud Wittgeinstein adalah bahwa sebuah fakta itu adalah suatu keberadaan peristiwa (state of affairs), yaitu bagaimana objek-objek itu memiliki interrelasi dan keadaan, hubungan kausalitas, kualitas, kuantitas, ruang, waktu, dan keadaan. Misalnya suatu keberadaan peristiwa yaitu bagaimana kedudukan pintu di antara dinding-dinding. Letak jendela di depan pintu pertama, enam jendela terletak di sebelah kiri ruang dan empat jendela terletak di sebelah kanan ruang, dan lain sebagainya.

Russell dalam pengantar buku ini mengatakan bahwa pemikiran Wittgeinsten dalam bukunya itu telah menggunakan suatu logika bahasa yang sempurna. Penggunaan logika bahasa yang sempurna tersebut menunjukkan bahwa pemakaian unsure-unsur bahasa seperti kata dan kalimat dilakukan secara tepat, sehingga setiap kata hanya mewakili suatu keadaan faktual (fakta) tertentu saja. Suatu logika bahasa yang sempurna mengandung aturan sintaksis tertentu sehingga dapat menghindari ungkapan yang tidak bermakna, dan memiliki symbol tunggal yang selalu memiliki makna tertentu dan terbatas(Unifornity).

Teori gambar (picture Theory)

Wittgenstein dalam mengungkapkan realitas dunia terumuskan dalam suatu proposisi-proposisi sehingga dengan demikian terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan struktur realitas dunia. Oleh karena itu proposisi-proposisi itu terungkapkan melalui bahasa, maka bahasa pada hakikatnya merupakan suatu gambaran dunia.[28]

Dalam pengertian ini Wittgeinsten berupaya untuk benar-benar menempatkan struktur logika dalam mengungkapkan suatu realitas dunia dan hal ini juga pernah diungkapkan melalui konsep Aristoteles. Kerangka logis bahasa dalam mengungkapkan suatu benda itu menjadi semacam gambar timbul atau relief.

“proposisi saya” misalnya dalam bentuk perrnyataan Wittgeinsten, seperti dikutip oleh Jones, “ berfungsi sebagai penjelasan dengan beberapa cara berikut: setiap orang yang mengerti saya pada akhirnya akan mengenali semua ini (etika, moral, agama, seni) sebagai ‘yang bukan-bukan, ketika ia menggunakan  semua itu sebagai langkah untuk memanjat  melampaui mereka. Dengan begitu, ia harus membuang tangga setelah selesai memanjatnya.”[29]

Selain proposisi yang menggambarkan keberadaan suatu peristiwa, terdapat pula proposisi, terdapat pula proposisi-proposisi logika yaitu kebenaran-kebenaran yang berdasar pada prinsip-prinsip logis. Hal ini termasuk tautology-tautologi, atau kontradiksi-kontradiksi. Misalnya proposisi “Amin berada di rumah atau di luar rumah” yang merupakan kebenaran tautologies, dan “Amin berada di rumah atau tidak berada di rumah” yang merupakan suatu kontradiksi. Menurut Wittgeinsten proposisi logika sebenarnya tidak termasuk proposisi sejati, sebab tidak menggambarkan sesuatu. Proposisi-proposisi tersebut tidak mengungkapkan suatu pikiran, namun merupakan suatu kebenaran tautologies belaka dan tidak menggambarkan suatu bentuk peristiwa atau tidak merupakan suatu ‘picture’ dari sesuatu. Namun demikian menurut Wittgeinsten proposisi logika tersebut bukan berarti tidak bermakna, melainkan kebenarannya bersifat tautologies.

b. Periode Kedua: Philosophical Investigations

Dari buku-buku yang diterbitkan sesudah meninggalnya, Philosophical Investigations adalah satu-satunya karya yang dimaksudkan Wittgenstein sendiri untuk diterbitkan. Philosophical Investigations terdiri dari banyak pasal pendek (sering kali tidak melebihi beberapa kalimat saja; seluruh bagian pertama dibagi atas 693 nomor), yang yang hubungannya satu sama lain umunya tidak begitu erat. Untuk kita yang paling penting ialah pendapat baru tentang bahasa yang di kemukakan disini, dengan itu ia mengeritik pendapatnya dalam Tractus.

Supaya makna bahasa kita, dapat dimengerti, kita harus menerima adanya proposisi-proposisi elementer yang menunjuk kepada states of affairs dalam realitas. Di kemudian hari Wittgenstein menginsafi bahwa dalam teori pertama itu sebetulnya ia tidak memperlihatkan struktur tersembunyi dari segala macam bahasa, melainkan hanya melukiskan jenis bahasa tertentu. Dalam Philosophical Investigations ia menolak beberapa hal yang dulu diandaikan begitu saja dalam teori pertama, yaitu (1) Bahwa bahasa dipakai hanya untuk satu tujuan saja, yakni menetapkan states of affairs (keadaan-keadaan faktual), (2) Bahwa kalimat-kalimat mendapat maknanya dengan satu cara saja, yakni menggambarkan suatu keadaan factual, dan (3) Bahwa setiap jenis bahasa dapat dirumuskan dalam bahasa logika yang sempurna , biarpun pada pandangan pertama barangkali sukar untuk dilihat.

Dalam philosophical Investigations ia menolak pendapatnya yang pertama. Menurutnya bahasa itu digunakan tidak hanya untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan dalam banyak cara (form of lifes) yang berbeda untuk mengungkapkan pembenaran, pertanyaan-pertanyaan, perintah, pengumuman  dan banyak lagi gejala-gejala yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Terdapat banyak sekali jenis-jenis yang berbeda dalam penggunaan bahasa.

Kemudian untuk menjelaskan bahwa bahasa dipakai dengan rupa-rupa cara, dalam Philosophical Investigations Wittgenstein mengintrodusir istilah language games (permainan-permainan bahasa), suatu permainan dapat dilukiskan sebagai aktivitas yang dilakukan menurut aturan.[30]

Permainan bahasa ini menggambarkan aktivitas manusia. Jika ilmu pengetahuan memiliki permainan bahasanya sendiri, maka kita juga bisa berpartisipasi di dalam permainan bahasa agama-agama, permainan bahasa estetika, dan banyak permainan bahasa lainnya. Pada titik ini, kata-kata memiliki maknanya dari penggunaannya di dalam suatu permainan bahasa tertentu.

Kalau pada periode pertama Wittgeinsten mengkritik bahasa filsafat yang dikatakannya bahwa penggunaan bahasa filsafat tidak memiliki struktur logis, sehingga ia mengungkapkan persoalan timbul karena para filosof yang menggunakan bahasa kurang tepat dalam mengungkapkan realitas melalui logika bahasa. Banyak ungkapan-ungkapan filsafat terutama ungkapan metafisis tidak melukiskan suatu realitas fakta dunia secara empiris, sehingga bahasa filsafat terutama metafisika, filsafat nilai, estetika, etika, dan cabang-cabang lainnya sebenarnya tidak mengungkapkan apa-apa. [31]

Namun demikian melalui konsep “tata permainan bahasa” ia berupaya menunjukan berbagai macam kelemahan bahasa dalam filsafat. Wittgeinsten menyatakan bahwa persoalan-persoalan filsafat timbul karena terdapat kekacauan dalam penerapan “tata permainan bahasa”.

Apakah tugas filsafat dalam pandangan ini? Filsafat harus menyelidiki permainan-permainan bahasa yang berbeda-beda, menunjukkan aturan-aturan yang berlaku di dalamnya, menetapkan logikanya, dan sebagainya. Filsafat tidak campur tangan dalam pembentukan suatu permainan bahasa. Filsafat hanya melukiskan fungsinya, dengan menerangkan cara bahasa dipakai sering kali masalah-masalah filosofis dapat dipecahkan.[32]

Dalam dua karya yang dibicarakan oleh Wittgenstein terdapat dua pandangan yang berbeda. Oleh karena itu sudah menjadi kebiasaan untuk membedakan Witgeinsten I dan Witgeinsten II. Dengan dua pandangan ini ia menjadi sumber inspirasi bagi dua aliran filosofis yang cukup penting, biarpun kedua-duanya tidak disetujui oleh Wittgeinsten  itu sendiri. Disatu pihak lingkungan Wina yang memegang peranan penting kira-kira satu dasawarsa sebelum prang dunia II. Di lain pihak gerakan filosofis yang di tunjukkan dengan pelbagai nama, antara lain, “filsafat analisis”. Gerakan ini mulai berkembang di Cambridge, tetapi sesudah perang dunia II terutama berpusat di Oxford. Terpengaruh oleh Wittgeinsten II, mereka berpendapat bahwa filsafat harus berpegang pada prinsip Don’t ask for the meaning, ask for the use (jangan tanyakan makna, tanyakanlah pemakaian bahasa).

BAB III

PENUTUP

Dari uraian tentang filsafat Analitik diatas, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Filsafat analitik adalah suatu gerakan filosof Abad ke 20, khususnya di Inggris dan Amerika Serikat yang memusatkan perhatiannya pada bahasa dan mencoba menganalisa pernyataan-pernyataan (konsep-konsep, ungkapan-ungkapan kebahasaan atau bentuk-bentuk yang logis) supaya menemukan bentuk-bentuk yang paling logis dan singkat yang cocok dengan fakta-fakta atau makna-makna yang disajikan.
  2. Perhatian filsafat terhadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sejak zaman Pra Sokrates, akan tetapi filsafat bahasa tersebut menjadi populer pada abad ke XX dengan telaah analitik filosofik Wittgenstein tentang bahasa.
  3. Adapun tokoh-tokoh yang melahirkan filsafat analitik  dan pemikirannya sebagai berikut:
  4. a. Gottlob Frege dengan pemikiran filosofis metode logika yang rigorus sebagai metode filsafatnya.

b.Beltrand Russel dengan pemikiran Atomisme Logic.

  1. c. Ludwig Wittgeinsten dengan dua pemikiran dalam karyanya yaitu, pada periode pertama, Tractatus logico-philosophicus. dan pada periode kedua, Philosophical Investigations

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. Semantika; Pengantar Studi Tentang Makna, Cet. V; Jakarta: Raja Grafindo persada, 2004

Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani, Jakarta: Kanisius, 1975

————-. Filsafat Barat Kontempoter  Inggris-Jerman, Cet. IV; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002

Endarmoko, Eko. Tesaurus Bahasa Indonesia, Cet. I; Jakarta: PT Gramedia, 2006

Hartoko, Dick. Kamus Populer Filsafat, Cet. III; PT. Raja Grafindo Persada, 2002

Hidayat, Asep Ahmad. Filsafat Bahasa, Cet. I; Jakarta: PT. Rosdakarya, 2006

http://rezaantonius.wordpress.com/2008/02/24/filsafat-analitik/

Kaelan M.S. Perkembangan Filsafat Analitika Bahasa dan Pengaruhnya Terhadap Ilmu Pengetahuan, Cet. I; Yogyakarta: Paradigma, 2006

Mudhofir, Ali. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi, Cet I; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996

Nolan, Richard T., Harold H. Titus, dan Marilyn S. Smith. Living Issues In Philosophy, dialih bahasakan oleh H. M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat, Cet. I; Jakarta: P. T. Bulan Bintang, 1984

Palmquis, Stephen. The Tree of Phylosophy, diterjemahkan oleh Muhammad Shadiq dengan judul, Pohon Filsafat, Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Russel, Bertrand. History of Western philosophy, Oxford: Alden Press, 1974

Salliyanti. Peranan Filsafat Bahasa dalam Perkembangan Ilmu Bahasa, Medan: USU, 2006

Umar, Mustofa. Tesis “Konsep Penciptaan Alam Menurut Hadis Qudsi” (Sebuah Kajian Filosofis dan Sufistik), Makasar: PPs Alauddin Makasar, 1998


[1]Bertrand Russel, History of Western philosophy (Oxford: Alden Press, 1974), h. 13

[2]Lihat K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Jakarta: Kanisius, 1975), h. 26

[3]Mustofa Umar, Tesis “Konsep penciptaan Alam Menurut Hadis Qudsi” (Sebuah Kajian Filosofis dan Sufistik), (Makasar: PPs Alauddin Makasar, 1998), h. 2

[4]K. Bertens. Op. Cit., h. 82

[5]Harold H. Titus, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan, Living Issues In Philosophy, dialih bahasakan oleh H. M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat (Cet. I; Jakarta: P. T. Bulan Bintang, 1984), h. 358

[6]Salliyanti, Peranan Filsafat Bahasa dalam Perkembangan Ilmu Bahasa (Medan: USU, 2006), h. 1

[7]Eko Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia (Cet. I; Jakarta: PT Gramedia, 2006), h. 24

[8]Ibid., h. 9

[9]Zainal Abidin, Semantika; Pengantar Studi Tentang Makna (Cet. V; Jakarta: Raja Grafindo persada, 2004), h. 76

[10]Lihat Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat (Cet. III; PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 4

[11]Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat dan Teologi (Cet I; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), h. 8

[12]Lihat Kaelan M.S, Perkembangan filsafat Analitika bahasa dan pengaruhnya Terhadap ilmu Pengetahuan (Cet. I; Yogyakarta: Paradigma, 2006)  h. 7

[13]Ibid.,

[14]Lihat Noeng Muhadj, Filsafat Ilmu Positivisme, PostPositivisme, dan PostModernisme (Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), h. 98

[15]Kaelan M.S, Op. Cit.,  h. 8

[16]Ibid., h. 15

[17]http://rezaantonius.wordpress.com/2008/02/24/filsafat-analitik/

[18]Stephen Palmquis, The Tree of Phylosophy, diterjemahkan oleh Muhammad Shadiq dengan judul, Pohon Filsafat (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 200

[19] Ibid.

[20]K. Bertens, Filsafat Barat Kontempoter  Inggris-Jerman (Cet. IV; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 26

[21]Noeng Muhadj, Op. Cit., h. 99

[22]http://rezaantonius.wordpress.com/2008/02/24/filsafat-analitik/

[23]Kaelan M.S, Op. Cit., h. 25

[24]K. Bertens, Filsafat Barat Kontempoter……  Op. Cit., h.  41

[25]Harold H. Titus, Marilyn S. Smith dan Richard T. Nolan., Op. Cit., h. 370

[26]Pemikiran Wittgeinsten tertuang dalam Buku ini sebagai karya besar pertama ketika ia memperkuat visi dasar atomisme logis. Buku ini tidak lebih dari 75 halaman saja yang terdiri dari pernyataan-pernyataan agak pendek. Yang susunannya diatur sedemikian rupa sehingga terdapat tujuh dalil pokok yang dibagi-bagi menurut sistem desimal. Kaelan M.S, Op. Cit,.  h. 39

[27]Ibid., h. 40

[28]Ibid., h. 43-44

[29]Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa (Cet. I; Jakarta: PT. Rosdakarya, 2006), h. 46

[30]K. Bertens, Filsafat Barat Kontempoter……  Op. Cit., h.  52

[31] Kaelan M.S, Op. Cit,.  h. 70


FILSAFAT ABAD KE-19

FILSAFAT ABAD KE-19

Oleh : Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

filsafat dan filosof berasal dari kata Yunani “philosophia” dan “philosophos”. Menurut bentuk kata, seorang philosphos adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup iku menentukan arah dan tujuan proses pendidikan.

Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.

Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya.

Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.[1]

Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat pebedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh factor-faktor lain seperti latar belakangpribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat.

Ajaran filsafat yang berbada-beda tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran (sistem) suatu filsafat. Tetapi karena cara dan dasar yang dijadikan criteria dalam menetapkan klasifikasi tersebut berbeda-beda, maka klasifikasi tersebut berbeda-beda pula.[2]

Aliran dalam filsafat sangatlah banyak dia antaranaya empirisme . rasionalisme, matearialisme dan lain-lain namun dalam makalah ini hanya membahas dua aliran dalam filsafat yang timbul pada abad ke 19 yaitu aliran idelaisme dan positivisme.

  1. Rumusan Masalah

berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka pokok bahasan pada rumusan masalah ini dapat di rumuskan sebagai berikut:

  1. apa yang di maksud dengan aliran idealisme dan siapa saja tokoh tokoh aliran ini?
  2. apa yang di maksud dengan aliran positivisme dan siapa saja tokoh tokoh aliran ini ?

BAB II

PEMBAHASAN

    1. Pengertian Idealisme

Idealisme dari bahasa Inggris yaitu Idealism dan kadang juga dipakai istilahnya mentalisme atau imaterialisme. Istilah ini pertama kali digunakan secara filosofis oleh Leibniz pada mula awal abad ke- 18. Leibniz memakai dan menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato,Idealisme ini merupakan kunci masuk ke hakikat realitas.

Aliran Idealisme/Spritualisme, yang mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia. Idealisme: adalah aliran filsafat yg menekankan „idea” (dunia roh) sebagai objek pengertian dan sumber pengetahuan. Idealisme berpandangan bahwa segala sesuatu yg dilakukan oleh manusia tidaklah selalu harus berkaitan dgn hal-hal yg bersifat lahiriah, tetapi harus berdasarkan prinsip kehorhanian (idea). Oleh sebab itu, Idealiseme sangat mementingkan perasaan dan fantasi manusia sebagai sumber pengetahuan.[3]

Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea. Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea. Plato yang memiliki filsafat beraliran idealisme yang realistis mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut kapasitas masin-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan. Mereka yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak. Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan sifat superioritasnya dalam melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran tertinggi.[4]

Beberapa pengertian Idealisme :

  1. Adanya suatu teori bahwa alam semesta beserta isinya adalah suatu penjelmaan pikiran.
  2. Untuk menyatakan eksistensi realitas, tergantung pada suatu pikiran dan aktivitas-aktivitas pikiran.
  3. Realitas dijelaskan berkenaan dengan gejala-gejala psikis seperti pikiran-pikiran, diri, roh, ide-ide, pikiran mutlak, dan lain sebagainya dan bukan berkenaan dengan materi.
  4. Seluruh realitas sangat bersifat mental (spiritual, psikis). Materi dalam bentuk fisik tidak ada.
  5. Hanya ada aktivitas berjenis pikiran dan isi pikiran yang ada. dunia eksternal tidak bersifat fisik.[5]

Pandangan beberapa filsuf mengenai Idealisme.

  1. Schelling memberikan nama Idealisme subyektif pada filsafat Fichte, dengan alasan bahwa dalam Fichte dunia merupakan postulat subyek yang memutuskan.
  2. Idealisme obyektif adalah nama yang diberikan oleh Schelling pada pemikiran filsafatnya. Menurutnya, alam adalah inteligensi yang kelihatan. Hal tersebut menunjukkan semua filsafat yang mengindentikkan realitas dengan ide, akal atau roh.
  3. Hegel menerima klasifikasi Schelling, dan mengubahnya menjadi idealisme absolut sebagai sintesis dari pandangan idealisme subyektif (tesis) dan obyektif (antitesis).
  4. Idealismetransendental adalah pandangan dan penyebutan dari Immanuel Kant. Sering disebut juga disebut sebagai idealisme kritis. Pandangan ini mempunyai alternatif yaitu isi dari pengalaman langsung tidak dianggap sebagai benda dalam dirinya sendiri, sedangkan ruang dan waktu merupakan forma intuisi kita sendiri
  5. Idealisme epistemologis merupakan suatu keputusan bahwa kita membuat kontak hanya dengan ide-ide atau pada peristiwa manapun denga entitas-entitas psikis.
  6. Idealisme personal adalah sisitim filsafat Howison dan Bowne.
  7. Idealisme voluntarisme dikembangkan oleh Fouilee dalam suatu sistim yang melibatkan tenaga pemikiran.
  8. Idealisme teistik pandangan dan sistim filsafat dari Ward.
  9. Idealisme monistik adalah penyebutan dan sistim filsafat dari Paulsen.
  10. Idealisme etis adalah pandangan filsafat yang dianut oleh Sorley dan Messer.
  11. Idealisme Jerman, pemicunya adalah Immanuel Kant dan dikembangkan oleh penerus-penerusnya. Idealisme merupakan pembaharuan dari Platonis, karena para pemikir melakukan terobosan-terobosan filosofis yang sangat penting dalam sejarah manusia, hanya dalam tempo yang sangat singkat, yaitu 40 tahun (1790- 1830) dan gerakan intelektual ini mempunyai kedalaman dan kekayaan berpikir yang tiada bandingnya.[6]

Idealisme sangatlah bertolak belakang dengan materialisme dan naturalisme, idealisme merupakan satu corak kefilsafatan yang berpandangan bahwa hakikat terdalam dari kenyataan tidaklah bersifat materi, melainkan bersifat rohani atau spiritual (kejiwaan)[7] Karena itu istilah idealisme terkadang dikenal juga dengan istilah immaterialisme atau mentalisme. Penganut idealisme berpandangan bahwa pada hakikatnya kenyataan terdalam yang dikenal oleh naturalisme sebagai bersifat alam, atau oleh materialisme sebagai bersifat materi, sebenamya bersifat rohani. Jika benar apa yang dikatakan oleh naturalisme dan materialisme, tentu segala hal dan gejala pasti dapat diterangkan

dengan penjelasan yang bersifat alam atau materi dan tidak ada misted. Akan tetapi demikian banyak terdapat hal atau gejala yang tidak dapat diterangkan dengan cara itu, seperti nilai, makna, pengalaman spiritual dan lain-lain sejenisnya. Bahkan adanya nilai, pada hakikanya mengandung makna adanya jiwa atau roh yang dapat menangkap maknanya. Istilah roh dalam hal ini dimaknai sebagai sesuatu dalam diri yang bukan berupa alat-alat inderawi, yang menangkap dan memberi penghargaan kepada nilai¬nilai. Kareaa itu, idealisme menempatkan pahamnya pada nisi ekstrim sebaliknya, yang sebagaimana pendapat G. Watts Cunningham (dalam Titus et al, 1987) bahwa agar materi atau tatanan kejadian yang terjadi dalam ruang dan waktu dapat dipahami hakikatnya yang terdalam maka, hams adajiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tertentu bersifat mendasari hal-hal tersebut. Dengan pandangan seperti ini, idealisme menyatakan bahwa seluruh realitas (ontologis) bersifat spiritual dan materi (yang fisik) pada hakikatnya tidak ada. lmplikasinya pada pengetahuan (epistemologis) ialah bahwa pengetahuan mengenai realitas hanya mungkin melalui proses-proses mental.[8]

Seperti halnya materialisme, sejarah idealismejuga menunjukkan perkembangan ke dalam berbagai varian, namun tetap bertitik-tolak dari padangan dasar yang sama. Idealisme subyektif berpandangan bahwa dunia merupakan postulat subyek yang memutuskan. Idealisme obyektif berpandangan bahwa alam tidak lain adalah inteligensi yang kelihatan. Idealisme transendental atau idealisme kritis diperkenalkan oleh Immanuel Kant dengan pandangan bahwa pengalaman langsung bukan “benda” dalam dirinya sendiri serta ruang dan waktu adalah forma intuisi manusia sendiri. Terdapat istilah lain, yaitu idealisme epistemologis, yang pada dasamya adalah penamaan lebih lanjut dari pandangan yang menyatakan bahwa kontak manusia dengan alam adalah kontak ide.

Salah satu perkembangan yang diakui dalam perkembangan filsafat Barat modern ialah idealisme Jerman yang muncul sebagai gerakan intelektual yang meletakkan eksistensi dan ide identik. Walaupun antara satu dengan yang lain diantara filsuf faham idealisme Jerman ini terdapat perbedaan, namun mereka sepakat pada dua ide dasar, yaitu : (1) keunggulan fikiran, dan (2) gerakan dialektis. Secara singkat hal itu dapat dijelaskan bahwa rasio sebagai ide dari segala ide dan basis primordial mutlak mengendalikan dirinya sendiri, dan sesudah itu segala sesuatu dalam dirinya sendiri merupakan momen-momen atau tampakan yang yang berkembang sendiri.[9]

idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan a priori atau acctif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan rasionalisme dalam epistemologi ialah empirisisme yang mengatakan bahwa pengetahuan bukan di proleh lewat rasio (akal), melainkan melalui pengalaman empiris. Orang empirisisme amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung pada jiwa atau roh karena pandangan itu melibatkan dogma metafisik.[10]

    1. Tokoh-Tokoh Idealisme
  1. Fichte (1762-1814)

johann Gottlieb Fichte adalah filosof Jarman. la belajar teologi di Jena pada tahun 1780-1788. Berkenalan dengan filsafat Kant di Leipzig 1790. Berkelana ke Konigsberg untuk rnenemui Kant dan menulis Critique of Revelation pada zaman Kant. Buku itu dipersembahkaunya kepada Kant. Tahun 1810-1812 ia menjadi rektor Universitas Berlin.

Menurut Fichte, dasar realitas adalah kemauan. kemauan inilah thing in itself-nya manusia. Penampakan, menurut pendapatnya, adalah sesuatu yang ditanam oleh Roh Absolut sebagai penampakan kemauannya. Roh Absolut adalah sesuatu yang berada di belakang kita. itu adalah Tuhan pada Spinoza.

Filsafat menurut Fichte haruslah dideduksi dari satu prinsip. Ini sudah mencukupi untuk memenuhi tuntutan pemikiran, moral, bahkan seluruh kebutuhan manusia. Prinsip yang dimaksud ada di dalam etika: Bukan teori, melainkan prakteklah yang menjadi pusat yang di sekitarnya kehidupan diatur. Unsur esensial dalam pengalaman adalah tindakan, bukan fakta.[11]

Menurut Fichte, dasar kepribadian adalah kemauan. bukan kemauan irasional seperti pada Schopenhauer, melainkan kemauan yang dikontrol oleh kesadaran bahwa kebebasan diperoleh hanya dengan melalui kepatuhan kepada peraturan. Kehidupan moral adalah kehidupan usaha. Manusia dihadapkan kepada rintangan-rintangan, dan manusia digerakkan oleh rasa wajib bahwa ia berutang pada aturan moral umum yang memungkinkannya mampu memilik. yang baik. Idealisme etis Fichte diringkaskan dalam pernyataan bahwa dunia aktual hanya dapat dipahami sebagai bahan bagi tugas-tugas kita. Oleh karena itu, filsafat bagi Fichte adalah filsafat hidup yang terletak pada pemilihan antara moral idealisme dan moral materialisme. Substansi materialisme menurut Fichte ialah naluri, kenikmatan tak bertanggung jawab, bergantung pada keadaan, sedangkan idealisme ialah kehidupan yang bergantung pada diri sendiri.

Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus berupa langkah menuju kesempurnaan spiritual. itu hanya dapat dicapai dalam masyarakat yang anggota-anggotanya adalah pribadi yang babas merealisasi diri mereka dalam kerja untuk masyarakat. Pada tingkat yang lebih tinggi, keimanaa dan harapan manusia muncul dalam kasih Tuhan.[12]

  1. Schelling (1775-1854)

Friedrich Wilhelm Joseph Schelling sudah mencapai kematangan sebagai     filosof pada waktu ia masih amat muda. Pada tahun 1798, kctika usianya 23 tahun, ia telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Sampai akhir hidupnya. pemikirannya selalu berkembang. Namun, kontinuitasnya tetap ada da periode terkahir dalam hidupnya ia mencurahkan perhatiannya pada agama dan mistik. Dia adalah filosof idealis Jerman yang telah mcletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel. Ia pernah menjadi kawan Fichte. Bersama Fichte dan Hegel, Schelling adalah idealis Jerman yang terbesar. Pemikirannya pun merupakan mata rantai antara Fichte dan Hagel, Seperti Fichte, Schelling mula-mula berusaha menggambarkan jalan yang dilalui intelek dalam proses mengetahui, semacam epistemologi. Fichte memandang alam semesta sebagai lapangan tugas manusia dan sebagai basis kenenasan moral, Schelling membahas realitas lebih obyektif dan menyiapkan jalan bagi idalisme absolut Hegel. [13]

  1. Hegel (1775-1854)

Hegel (1770-1831) Hegel lahir pada tahun 1770 di Stuttgart. Ini adalah tahun-tahun Revolus_ Prancis yang terkenal itu (1789), juga merupakan tahun-tahun berbunganya kesusastraan Jerman. Lessing, Goa-the, dan Schiller hidup pada periode ini jug:, Friedrich Holderlin, sastrawan puisi Jerman terbesar, adalah kawan dekat He-gel, juga lahir pada tahun 1770, sama dengan pengarang lagu yang kondang. Beethoven. Di Universitas Tubingen ia belajar teologi, tahun 1791 ia mempe¬roleh gelar doktor dalam teologi. Oleh karena itu, karya Hegel yang mula-mula adalah mengenai agama Kristen, seperti The Life of Jesus dan The Spirit of Christianity.[14]

Hegel ialah puncak gerakan filsafat Jerman yang berawal dari Kant; walaupun is sering mengkritik Kant, sistem filsafatnya tidak akan pernah muncul kalau tidak ada Kant. Pengaruhnva, kendati kini surut, sangat besar, tidak hanva atau terutama di Jerman. Pada akhir abad kesembilanbelas, para filsuf akademik terkemuka, haik di Amerika maupun Britania Raya, sangat bercarak Hegelian. Di luar filsafat mural, banyak teolog Protestan mengadopsl doktrin-doktrinnya, dan filsafatnya tentang sejarah mempengaruhi teori politik secara mendaiaun. Marx, seperti yang kita ketahui, ialah murid Hegel semasa mudanya, dan dalam sistem filsafatnya yang terakhir is masih mempertahankan heberapa corak Hegelian. Bahkan jika (sebagaimana yang saya yakini) hampir semua doktrin Hegel itu salah, is masih tetap penting, tidak hanya secara historis, sebagai contoh-terbaik jenis filsafat tertentu yang, di sisi lain, kurang runtut dan kurang komprehensif. Dalam hidupnya terdapat beberapa peristiwa penting. Semasa mudanya is tertarik terhadap mistisisme, dan pandangannya yang belakangan bisa dianggap, sedikit-banyak, sebagai intelektualisasi terhadap apa yang mulanya tampak padanya sebagai wawasan mistik. [15]

Hegel menyatakan bahwa ‘ruh dunia’ merkembang menuju pengetahuan itu sendiri yang juga harus berkembang . sama halnya dengan sungai-sungai makin lama sungai menjadi lebar ketika merndekati laut . menurut hegel, sejarah adalah kisah tentang ‘ruh dunia’ yang lambat laun mendekati kesadaraan itu sendiri. Meskipun dunia itu selalu ada, kebudayaan manusia dan perkembangan manusia telah membuat roh dunia semakin sadar akan nilainya yang hakiki.[16]

Hegel menegaskan bahwa yang nyata adalah rasional, dan yang rasional adalah nyata. Namun ketika is mengatakan hal ini is tidak me¬maksudkan “yang nyata” itu sebagai apa yang menurut para empirisis dipandang nyata. Ia mengakui, bahkan meyakinkan, bahwa apa yang bagi empirisis terlihat sebagai fakta adalah, dan pasti, tidak rasional; ini hanya setelah karakter yang terlihat pada fakta itu dijelmakan dengan memandang karakter-karakter itu sebagai aspek-aspek dari keseluruhan sehingga terlihat rasional. Sekalipun begitu, identifikasi terhadap yang nyata dan yang rasional itu tentu menimbulkan beberapa kepuasan yang tak bisa dipisahkan dari keyakinan bahwa “apa Baja yang berada (is), adalah benar”. Keseluruhan itu, dengan segala kerumitannya, oleh Hegel disebut “Yang Mutlak”. Yang Mutlak itu bersifat spiritual; pandangan Spinoza, bahwa ini mempunyai atribut perluasan sebagaimana pada pikiran, di tolak.[17]

  1. B. POSITIVISME

Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.

Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).

Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:

    1. Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer
    2. Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
    3. Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.[18]

a. Positivisme Logis

Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis yang tentunya di pelopori oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Lingkaran Wina.

Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah. Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.

Tujuan akhir dari penelitian yang dilakukan pada positivisme logis ini adalah untuk mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan ilmu” yang juga akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan matematika dianggap sebagai ilmu-ilmu formal.

Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.[19]

Dalam bidang ilmu sosiologi, antropologi, dan bidang ilmu sosial lainnya, istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.[20]

Positivisme adalah aliran filsafat yang secara radikal beranjak dari ketidakpercayaan terhadap pandangan-pandangan dan pembicaraan-pembicraan metafisis yang dilakukan oleh aliran-filsafat sebelumnya. Karena itu, para penganutnya menyatakan bahwa positivisme adalah suatu filsafat non-metafisik.

Dalam pandangan positivisme, pertanyaan-pertanyaan metafisis sama sekali tidak mengandung makna, tidak dapat dipertanggung jawabkan dan tidak ada gunanya”. Pada dasamya, satu-satunya tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui kenyataan adalah apa yang disebut sebagai keadaan dapat diverifikasi (creterion of verifiability), demikian ancangan dasar positivisme. Misalnya, peryataan metafisis yang mengatakan bahwa “ada substansi terdalam dari segenap hal yang menampak”, jelas adalah pemyataan yang tidak ada gunanya karena tidak bermakna, karena tak satupun pengamatan inderawi yang bisa dilakukan untuk mengambil keputusan terhadap kebenaran pemyataan tersebut, dan karenanya is tak bisa dipertanggungjawabkan. Demikian halnya untuk pemyataan-pemyataan metafisik lain.

Positivisme sebagai sebuah aliran filsafat dipopulerkan oleh Auguste Comte (1798-1857) yang juga menamai positivisme sebagai Filsafat Positif Dalam mensistimatisir pandangan positivisme, Comte bertitik-tolak dari pandangan bahwa perkembangan masyarakat sebenarnya ditunjukkan oleh perkembangan cara berfikir (cara berpengetahuan) dalam tiga tahap, yaitu dari tahap teologis, tahap metafisis dan tahap positif. Dalam tahap teologis, perkembangan masyarakat ditandai lagi oleh tiga tahap perkembangan cara berfikir. Pertama adalah cara berfikir animis, dimana masyarakat mempercayai bahwa benda-benda fisis memiliki jiwa. Dalam cara pandang ini realitas dipahami sebagai perwujudan dari kehendak roh atau jiwa yang dimiliki oleh benda-benda. Kedua adalah cara berfikir politeis, dimana masyarakat percaya pada dewa-dewa yang masing-masing menguasai lapangan tertentu. Ketiga adalah cara berfikir monoteis, dimana masyarakat mempercayai adanya hanya satu dewa atau Tuhan sebagai penguasa segala sesuatu. [21]

Dalam tahap metafisis, perkembangan masyarakat ditunjukkan oleh perkembangan pemikiran yang menunjukkan kemampuan untuk melakukan konseptualisasi metafisis melalui konsep-konsep dan prinsip-prinsip abstrak, seperti misalnya, substansi terdalam, esensi, causa, dan sebagainya. Dalam tahap positif, masyarakat telah mencapai tahap tertinggi dalam perkembangannya, dimana masyarakat dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai realitas berdasarkan fakta dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan melalui kemampuan verifikasi empirik. Pada tahap ini, satu-satunya bahasa mengenai realitas adalah bahasa ilmu-ilmu positif yang dicapai melalui metode ilmiah. Sebenamya positivisme sendiri, sebelum sampai pada puncaknya yang dikenal sebagai positivisme logic dewasa ini, paling tidak, menunjukkan tiga tahap perkembangan. Pada tahap pertama, positivisme mengarahkan pengetahuan hanya pada hal-hal yang bersifat positivistik obyektif. Pada tahap kedua, pengetahuan juga sudah menggunakan sudut pandang psikologis yang subyektif Barulah kemudian, pada tahap puncak, melalui kegiatan yang dilakukan oleh apa yang dinamakan sebagai lingkaran Wina, penganut neo-positivisme menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis dan semantika dalam positivisme logis. Pada tahap ini, positivisme secara lebih sistematis dan cermat melakukan pembicaraan mengenai masalah-masalah bahasa, logika simbolis dan struktur penyelidikan ilmiah, yang terutama dengan penggunaan matematika dan logika ilmiah memasuki masalah-masalah epistemologis. Pada tahap terakhir ini, positivisme dikenal sebagai Positivisme Logis. Pembicaraan lebih jauh mengenai positivisme logis pada dasarnya lebih mengarah pada pembahasan epistemologis. Namun demikian, dari padanya dapat ditarik pengertian bahwa secara ontologis is memandang realitas obyektif sebagai hakikat kenyataan yang segala hal mengenainya terlepas dari pandangan-pandangan metafisik, melainkan pengetahuan obyektif yang dapat diverifikasi. Bahkan terhadap hal-hal yang berkenaan dengan realitas kehidupan manusia, positivisme memandangnya sebagai realitas obyektif dalam kebudayaan dan perkembangannya menurut tempat dan waktu. Argumen-argumen lebih jauh mengena positivisme, lebih condong dilakukan dalam pembahasan epistemologis.[22]

BAB V

KESIMPULAN

    1. Idealisme dari bahasa Inggris yaitu Idealism dan kadang juga dipakai istilahnya mentalisme atau imaterialisme. Istilah ini pertama kali digunakan secara filosofis oleh Leibniz pada mula awal abad ke- 18. Leibniz memakai dan menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato,Idealisme ini merupakan kunci masuk ke hakikat realitas.
    2. Idealisme sangatlah bertolak belakang dengan materialisme dan naturalisme, idealisme merupakan satu corak kefilsafatan yang berpandangan bahwa hakikat terdalam dari kenyataan tidaklah bersifat materi, melainkan bersifat rohani atau spiritual (kejiwaan)  Karena itu istilah idealisme terkadang dikenal juga dengan istilah immaterialisme atau mentalisme. Penganut idealisme berpandangan bahwa pada hakikatnya kenyataan terdalam yang dikenal oleh naturalisme sebagai bersifat alam, atau oleh materialisme sebagai bersifat materi, sebenamya bersifat rohani. Jika benar apa yang dikatakan oleh naturalisme dan materialisme, tentu segala hal dan gejala pasti dapat diterangkan
    3. Tokoh tokoh dalam idealisme adalah :  Fichte (1762-1814) , Schelling (1775-1854) , Hegel (1775-1854)
    4. Dalam bidang ilmu sosiologi, antropologi, dan bidang ilmu sosial lainnya, istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.
    5. tokoh positisme adalah Auguste Comte

DAFTAR PUSTAKA

Fuad Rumi MS, filsafat ilmu, universitar muslim Indonesia 1999

Jostein gaarder dunia sophie, mizan pustaka

http://wikipedia.org/wiki/positivisme

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/idealisme-dalam-filsafat-pendidikan/

http://www.wikimu.com/news/idealisme dan positifisme/DisplayNews.aspx.htm

http://www.marxist.com/indonesia/feuer4.html

http://syariat-tharikat-hakikat.blogspot.com/2008/03/Filsafat Idealisme dan Realisme « Pokja Pengawas_files/a_003.htm

http://kangmasjuqi.wordpress.com/2008/11/10/idealisme-visi-misi-dan-orientasi/Filsafat Idealismedan.docx

Lois O. kattsoff. Pengantar filsafat.

Russell Bertrand sejarah filsafat barat, pustaka pelajar,cetakan ke II ,

Tafsir Ahmad. filsafat ilmu, akal sejak thales sampai james , Pt Remaja Rosdakarya Bandung.


[1] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/idealisme-dalam-filsafat-pendidikan/ (accesed 24-08-2009)

[2] Ibid., http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/idealisme-dalam-filsafat-pendidikan/ (accesed 24-08-2009)

[3] http://kangmasjuqi.wordpress.com/2008/11/10/idealisme-visi-misi-dan-orientasi/Filsafat Idealismedan.docx(acessed 25-01-2009)

[4] Ibid., http://kangmasjuqi.wordpress.com/2008/11/10/idealisme-visi-misi-dan-orientasi/ Filsafat Idealisme dan.docx(acessed 25-01-2009)

[5] http://www.wikimu.com/news/idealisme dan positifisme/DisplayNews.aspx.htm (accesed 02-07-2009)

[6] Ibid., http://www.wikimu.com/news/idealisme dan positifisme/DisplayNews.aspx.htm (accesed 01-08-2009)

[7] Lois O. kattsoff. Pengantar filsafat. Hal 216

[8] Fuad Rumi MS, filsafat ilmu, (universitar muslim Indonesia 1999) h, 36

[9] Ibid., Fuad Rumi MS. h. 37

[10] Ahmad Tafsir. filsafat ilmu, akal sejak thales sampai james (Pt Remaja Rosdakarya Bandung.) h. 127

[11] Ibid.,129-130

[12] Ibid., 130

[13] Ibid., 132

[14] Op. Cit  Ahmad tafsir. filsafat ilmu, akal sejak thales sampai james, h 134

[15] Bertrand Russell sejarah filsafat barat (pustaka pelajar,cetakan ke II) ,h 951-952

[16] Jostein gaarder dunia sophie (mizan pustaka) h 395

[17] Ibid., 952

[18] http://syariat-tharikat-hakikat.blogspot.com/2008/03/Filsafat Idealisme dan Realisme « Pokja Pengawas_files/a_003.htm

[19] http://www.marxist.com/indonesia/feuer4.html(acessed 25-01-2009)

[20] http://wikipedia.org/wiki/positivisme (accesed 14-05-2009)

[21] Fuad Rumi h 39,  Loc. Cit.

[22] Fuad Rumi h 39, Loc. Cit.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.