Arsip Tag: VERBA INTRANSITIF

KEMAMPUAN SISWA KELAS III SLTP NEGERI I WONOMULYO MENGGUNAKAN VERBA TRANSITIF DAN VERBA INTRANSITIF

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Seiring dengan hal tersebut, maka sistem pendidikan di Indonesia pun mengalami perkembangan dan pembaharuan sehingga memperlancar penerapan sistem pendidikan. Hal tersebut dimaksudkan agar bangsa Indonesia mampu mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.

Dalam memacu ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional berusaha untuk me­ningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Usaha tersebut mencakup hampir semua aspek dalam pendidikan, baik dari segi kurikulum, metode pengajaran, sistem penilaian, penyediaan sarana dan pra­sarana, maupun materi pelajaran secara terus menerus.

Beberapa mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang pendidikan formal, bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang mendapat perhatian serius. Hal ini terkait dengan ajaran bahasa Indonesia di sekolah sebagai bagian dari program pendidikan akademik yang memiliki fungsi dan peranan yang sangat strategi. Misi utama pengajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah untuk menanamkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Di samping itu, pengajaran bahasa Indonesia juga berperan menunjang tumbuhnya manusia yang cerdas, yaitu manusia yang kritis, rasio­ dan dapat berpikir serta mengenal berbagai alternatif pemecahan berbagai masalah apapun yang dihadapi. Oleh karena itu, pengajaran bahasa Indonesia sebagai bagian dari pendidikan akademis perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Salah satu bukti yang dapat dilihat adalah disajikannya mata pelajaran ini mulai dari jenjang pendidikan dasar (SD) sampai ke jenjang pendidikan tinggi (PT).

Bahasa sebagai alat komunikasi dapat dilihat sebagai saluran yang dipakai pembicara untuk menyampaikan suatu informasi atau pesan kepada orang lain. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi hendaknya tidak mengalami gangguan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kadang gangguan komunikasi tersebut tak dapat dihindari sehingga informasi atau pesan tidak dapat diterima oleh pendengar atau lawan bicara. Hal demikian dapat menyebabkan salah pengertian antara pembicara dan pendengar (Said, 1987: 37).

Setiap manusia mempunyai gagasan, pikiran, perasaan, dan pengalaman yang sewaktu-waktu ingin diungkapkan kepada orang lain. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka digunakan bahasa sebagai medianya, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahasa tersebut diekspresikan melalui kalimat yang tersusun dari beberapa kata sehingga membentuk suatu makna tertentu. Penyusunan kata­-kata untuk membentuk suatu kalimat tertentu harus mengikuti aturan yang berlaku dalam suatu bahasa. Dalam bahasa Indonesia misalnya, unsur yang mutlak ada dalam suatu kalimat adalah unsur predikat.

Salah satu aspek struktur dalam pengajaran bahasa Indonesia yang sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian dan pengkajian khusus adalah menentukan kalimat aktif transitif dan kalimat intransitif. Salah satu ciri yang menentukan apakah kalimat aktif transitif atau aktif intransitif adalah jenis verbanya. Olehnya itu, yang menjadi dasar pembentukan kalimat aktif adalah verba transitif dan verba intransitif.

Pentingnya verba transitif diteliti di sekolah, karena materi ini merupakan materi dasar dari keterampilan berbahasa yang lebih besar. Misalnya saja, apabila siswa ingin menuangkan gagasannya lewat kalimat dan karangannya akan tetapi siswa tidak memahami hal, maka secara tidak langsung hal itu akan menghambat penalaran ilmu yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan.

Beberapa penelitian rang relevan dengan penelitian penulis adalah yang dilakukan Elias (2002) yang menyimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas II SMU Negeri I Wonomulyo menentukan kalimat aktif transitif dan kalimat intransitif adalah belum memadai. Hal serupa yang dilakukan oleh Ratnasari (2002) dan menyimpulkan bahwa kemampuan sis«~a kelas II SLTP Negeri 3 Wonomulyo belum dapat membedakan antara kalimat aktif transitif dan kalimat aktif intransitif.

Berdasarkan hal itulah sehingga penulis ingin meneliti lebih jauh lagi tentang pemakaian verba transitif dan verba intransitif dalam kalimat bahasa Indonesia dengan memilih siswa kelas III SLTP Negeri l Wonomulyo sebagai objek penelitian.

B.   Rumusan Masalah

Untuk mengarahkan penulis agar dapat dengan mudah melakukan penelitian maka akan ditentukan rumusan masalahnya dahulu. Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini yaitu “bagaimanakah kemampuan siswa kelas III SLTP Negeri 1      Wonomulyo menggunakan verba transitif dan verba intransitif dalam kalimat bahasa Indonesia?”

C.   Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa  kelas III SLTP Negeri 1 Wonomulyo menggunakan verba transitif dan verba intrasitif dalam kalimat bahasa Indonesia.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian adalah :

  1. Sebagai bahan informasi tentang kemampuan siswa di sekolah, khususnya materi pengajaran verba transitif dan verba intransitif;
  2. Menjadi umpan balik bagi guru bahasa Indonesia untuk peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia; dan
  3. Sebagai bahan acuan tambahan bagi guru bahasa Indonesia di sekolah tentang pengajaran verba transitif dan verba itransitif.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.