THOMAS KHUN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Masalah ilmu pengetahuan mungkin menjadi masalah terpenting bagi kehidupan manusia. Hal ini menjadi ciri manusia karena manusia senantiasa bereksistensi, tidak hanya berada seperti batu atau rumput yang berada di tengah lapangan, tetapi mengada. Oleh karena itu, manusia berbudaya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk kehidupan pribadi dan lingkungannya yang telah mereka antisipasikan.[1]

Pada zaman Yunani kuno, ilmu dengan filsafat sukar dipisahkan. Pembuktian empirik kurang mendapat perhatian dan metode ilmiah tampaknya belum berkembang. Sedikit demi sedikit, dengan makin berkembangnya penalaran dan metode ilmiah, dengan makin kuatnya dan makin dihargainya pembuktian empirik, dan seiring dengan itu, makin meluasnya penggunaan instrumen penelitian, satu persatu cabang-cabang ilmu mulai melepaskan diri dari filsafat, definisi ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut, sedangkan sewaktu posisi ilmu lebih bebas dan lebih mandiri, definisi ilmu umumnya didasarkan pada apa yang dikerjakan oleh ilmu itu dengan melihat metode yang digunakannya. Berkembanglah ilmu-ilmu alamiah (natural sciences) dan ilmu-ilmu social (social science). Astronomi, anggota ilmu-illmu alamiah, merupakan salah satu ilmu yang pertama-tama melepaskan diri dari filsafat, sedangkan psikologi, anggota ilmu-ilmu sosial, termasuk yang terakhir melepaskan diri dari filsafat.[2]

Tidak dapat juga dipungkiri ilmu yang terspesialisasi itu semakin menambah sekat-sekat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, sehingga muncul arogansi ilmu yang satu terhadap ilmu lain. Tugas filsafat diantaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan.[3]

Menurut Kuhn seorang ilmuan selalu bekerja dengan paradigma tertentu. Paradigma itu memungkinkan sang ilmuan untuk memecahkan kesulitan yang muncul dalam rangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tak dapat dimasukkan dalam kerangka ilmunya, dan menuntut revolusi paradigmatik.

Jasa Kuhn sebenarnya terletak pada pendobrakan citra filsafat ilmu sebagai logika ilmu, serta menggulingkan anggapan seakan ilmu sebagai kenyataan yang mempunyai kebenaran sui generis (objektif dan satu-satunya). Dengan itu Kuhn menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tak terlepas dari faktor ruang dan waktu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas penulis mencoba menguraikan  menjadi beberapa rumusan masalah

1. Bagaimana pengertian paradigma

2. Bagaimana gambaran ilmu normal

3. Paradigma ilmu pengetahuan menurut Kuhn

BAB II

PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN

A. Paradigma

Inggris: paradigm. Dari bahasa Yunani para deigma, dari para (di samping, di sebelah) dan dekynai (memperlihatkan: yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal).[4]

Beberapa pengertian:

1.   Cara memandang sesuatu

2.  Dalam ilmu pengetahuan: model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomena yang dipandang, dijelaskan.

3.  Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.[5]

Paradigma merupakan konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah: yang dalam konseptualisasi Kuhn: menjadi wacana untuk temuan ilmiah  baru.[6]

B. Ilmu Normal

Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).

Yang dimaksud Kuhn “ilmu normal” adalah kegiatan penelitian yang secara teguh berdasarkan satu atau lebih pencapaian ilmiah (scientific achievements) di masa lalu, yakni pencapaian-pencapaian yang oleh komunitas atau masyarakat ilmiah bidang tertentu pada suatu masa dinyatakan sebagai pemberi landasan untuk praktek selanjutnya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa ilmu normal memiliki dua ciri esensial:

1.   Pencapaian ilmiah itu cukup baru sehingga mampu menarik para pemraktek ilmu dari berbagai cara lain dalam menjalankan kegiatan ilmiah; maksudnya dihadapkan pada berbagai alternatif cara menjalankan kegiatan ilmiah, sebagian besar pemraktek ilmu cenderung memilih untuk mengacu pada pencapaian itu dalam menjalankan kegiatan ilmiah  mereka.

2.  Pencapaian itu cukup terbuka sehingga masih terdapat berbagai masalah yang memerlukan penyelesaian oleh pemraktek ilmu dengan mengacu pada pencapaian-pencapaian itu.

Ilmu normal bekerja berdasarkan paradigma yang dianut atau yang berlaku. Karena itu, pada dasarnya penelitian normal tidak dimaksudkan untuk pembaharuan besar, melainkan hanya untuk mengartikulasi paradigma itu. Kegiatan ilmiah ilmu normal hanya brtujuan untuk menambah lingkup dan presisi pada bidang-bidang yang terhadapnya paradigma dapat diaplikasikan. Jadi ilmu normal adalah jenis kegiatan ilmiah yang sangat restriktif. Keuntungannya adalah bahwa kegiatan ilmiah yang demikian itu dapat sangat mendalam dan cermat.

Dalam keangka ilmu normal, para ilmuan biasanya bekerja dalam kerangka  seperangkat aturan yang sudah dirumuskan secara jelas berdasarkan paradigma dalam bidang tertentu, sehingga pada dasarnya solusinya sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu.karena itu kegiatan ilmiah dalam kerangka ilmu normal adalah seperti  kegiatan “puzzle solving”. Implikasinya adalah bahwa kegagalan menghasilkan suatu solusi terhadap masalah tertentu lebih mencerminkan tingkat kemampuan ilmuan ketimbang sifat dari masalah yang bersangkutan atau metode yang digunakan.

Walaupun ilmu normal itu adalah kegiatan kumulatif (menambah pengetahuan) dalam bidang yang batas-batasnya ditentukan oleh paradigma tertentu, namun dalam perjalanan kegiatannya dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan. Maksudnya, dalam kegiatan ilmiah itu dapat timbul penyimpangan, yang oleh kuhn disebut anomali. Terbawa oleh sifatnya sendiri, yakni oleh batas-batas yang ditetapkan oleh paradigma, ilmu normal akan mendorong para ilmuan pemrakteknya menyadari adanya anomali, yakni hal baru atau pertanyaan yang tidak ter”cover” atau terliputi oleh kerangka paradigma yang bersangkutan, yang tidak terantisipasi berdasarkan paradigma yang menjadi acuan kegiatan ilmiah. Adanya anomali merupakan prasyarat bagi penemuan baru, yang akhirnya dapat mengakibatkan perubahan paradigma.[7]

C. Paradigma Ilmu Pengetahuan Menurut Thomas S. Kuhn

Thomas Samuel Kuhn mula-mula meniti karirnya sebagai ahli fisika, tetapi kemudian mendalami sejarah ilmu. Lewat tulisannya, The Structure of Scientific Revolutions (1962), ia menjadi seorang penganjur yang gigih yang berusaha meyakinkan bahwa titik pangkal segala penyelidikan adalah berguru pada sejarah ilmu. Sebagai penulis sejarah dan sosiolog ilmu kuhn mendekati ilmu secara eksternal. Kuhn dengan mendasarkan pada sejarah ilmu, justru berpendapat bahwa terjadinya perubahan-perubahan yang berarti tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah (falsifikasi) suatu teori atau system, melainkan berlangsung melalui revolusi-revolusi ilmiah. Dengan kata lain, Kuhn berdiri dalam posisi melawan keyakinan yang mengatakan bahwa kemajuan ilmu berlangsung secara kumulatif. Ia mengambl posisi alternatif bahwa kemajuan ilmiah pertam-tama bersifat revolusioner. Secara sederhana yang dimaksud revolusi ilmiah oleh Kuhn adalah segala perkembangan nonkumulatif di mana paradigma yang terlebih dahulu ada (=lama) diganti dengan tak terdamaikan lagi, keseluruhan ataupun sebagian, dengan yang baru.

Gagasannya yang sangat radikal dan progresif tersebut kiranya berasal dari pengalaman ilmiah yang pernah dihadapinya sendiri. Pada tahun 1947 Kuhn diminta untuk mengajar mekanika klasik abad ke 17, maka kemudian ia membaca mekanika Aristotelian yang melatar belakangi perkembangan mekanika Galilei dan Newton. Dia sangat heran dan sering tidak percaya bahwa mekanika Aristotelian inilah yang mendasari lahirnya mekanika Galilei dan Newton yang sangat termasyhur di abad ke-17, Karena ia melihat betapa mekanika Aristoteles itu mengandung begitu banyak kesalahan-kesalahan. Pengalaman inilah yang menjadi cikal bakal yang memunculkan gagasannya mengenai revolusi ilmiah. Revolusi ilmiah dimengerti oleh Kuhn sebagai episode-episode perkembangan nonkumulatif di mana paradigma yang lama digantikan seluruhnya atau sebagian oleh pradigma baru yang tidak dapat didamaikan dengan paradigma sebelumnya.[8]

Kuhn tidak memberikan definisi yang formal dan eksak tentang istilah “paradigma” itu, meskipun sesungguhnya istilah itu merupakan istilah kunci dalam pandangannya tentang ilmu. Paradigma menurut kuhn mencakup hal berikut ini:

  1. Model yang berdasarkanya muncul sejumlah tradisi penelitian ilmiah tertentu yang terpadu (koheren).
  2. Pencapaian (hasil-hasil) ilmiah yang diakui secara universal yang untuk suatu masa tertentu menawarkan model, masalah dan solusi kepada komunitas pemraktek.
  3. Hampir merupakan pandangan dunia, yakni cara memandang dunia melalui kacamata yang disediakan oleh cabang ilmu tertentu.
  4. Terdiri atas sejumlah teori dan teknik khusus yang sesuai bagi pemecahan masalah-masalah penelitian.
  5. Perpaduan teori dan metode yang bersama-sama mewujudkan sesuatu yang mendekati suatu pandangan dunia.
  6. Matriks disipliner, yakni keseluruhan konstelasi sejumalah keyakinan, generalisasi simbolik, model, nilai, komitmen, teknik, dan eksemplar yang dianut dan mempersatukan para anggota komunitas ilmiah tertentu.
  7. Eksemplar, yakni penyelesian (solusi) teka-teki atau masalah ilmiah yang dugunakan sebagai model atau contoh, dan yang dapat menggantikan aturan eksplisit sebagai landasan untuk solusi teka-teki lainnya dari ilmu normal; eksemplar ini dihasilkan oleh penelitian yang sukses yang kemudian digunakan oleh para pemraktek sebagai model.

Jadi, dengan penggunaan istilah paradigma itu, Kuhn hendak menunjuk pada sejumlah contoh praktek ilmiah aktual yang diterima atau diakui dalam lingkungan komunitas ilmiah, menyajikan model-model yang berdasarkannya lahir tradisi penelitian ilmiah yang terpadu (koheren). Contoh praktek ilmiah itu mencakup dalil,  teori, penerapan dan instrumentasi. Dengan demikian, para ilmuan yang penelitiannya didasarkan pada paradigma yang sama, pada dasarnya terikat pada aturan dan standar yang sama dalam mengemban ilmunya. Keterikatan pada aturan dan standar ini adalah prasyarat bagi adanya ilmu normal. Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa paradigma itu adalah cara pandang atau kerangka berpikir yang berdasarkan fakta atau gejala diinterpretasi dan dipahami.

Paradigma menetapkan kriteria untuk memilih masalah yang dapat diasumsikan mempunyai solusi. Hanya masalah yang memenuhi kriteria yang diderivasi dari paradigma saja yang dapat disebut masalah ilmiah, yang layak digarap oleh ilmuan. Dengan demikian, maka paradigma menjadi sumber keterpaduan bagi tradisi penelitian yang normal. Aturan penelitian diderivasi dari paradigma. Namun, menurut Kuhn, tanpa adanya aturan ini, paradigma saja sudah cukup untuk membimbing penelitian. Jadi, ilmu normal sebenarnya tidak terlalu memerlukan aturan atau metode yang standar (yang disepakati oleh komunitas ilmiah). Tanpa aturan dan metode yang baku, ilmu normal dapat berjalan. Ini berarti bahwa tiap ilmuan dapat menciptakan aturan dan metode penelitian dan pengkajian sendiri sesuai dengan keperluan, sepanjang aturan dan metode ini diderivasi dari paradigma yang berlaku. Tetapi, jika paradigmanya belum mapan, maka perangkat aturan akan diperlukan atau menjadi penting.[9]

Ilmu yang sudah mapan dianggap oleh Kuhn dikuasai oleh paradigma tunggal. Paradigma ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science), dimana ilmuan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma secara rinci dan mendalam. Dalam tahap ini seorang ilmuan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiah lainnya.

Tetapi suatu  ketika dapat terjadi, dalam menjalankan risetnya itu, sang ilmuan menjumpai berbagai fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan teorinya. Pada saat inilah terjadi suatu anomali, yang apabila makin menumpuk kuantitas maupun kualitasnyaakan menimbulkan krisis. Dalam situasi krisis ini, paradigma yang ada diperiksa dan dipertanyakan, ini menyebabkan keadaan ilmiah yang keluar dari ilmu normal. Krisis menjadi situasi yang bisa menyebabkan revolusi ilmiah. Pada masa krisis ini ada kegelisahan mendalam yang dihadapi komunitas ilmiah.

Dalam upaya mengatasi krisis itu, sang ilmuan bisa kembali pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu, atau dapat juga mengembangkan suatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Terobosan yang terakhir, yaitu proses peralihan  komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru, itulah yang disebut sebagai revolusi ilmiah. Dikatakan oleh Kuhn bahwa peralihan tadi tidak semata-mata karena alasan logis rasional, melainkan mirip dengan proses pertobatan dalam agama. Jadi perkembangan berlangsung lewat sebuah lompatan-lompatan yang radikal dan revolusioner.

Perubahan sebuah teori bukan hanya sekedar peningkatan dari teori yang lama, tetapi sudah menyentuh pada perubahan struktural. Jadi tidak ada lagi tampak sebuah inti yang terlindung dari sebuah teori ketika dikalahkan oleh sebuah teori tandingan. Demikianlah teori gravitasi Newton secara structural hancur ketika diserang oleh relativitas Einstein, sama halnya dengan kejatuhan geosentris Ptolemeus dari heliosentris Kopernikus. Sehingga teori yang dikalahkan tinggal sebagai pengetahuan sejarah.[10]

Struktur perkembangan ilmu pengetahuan menurut Kuhn dapat diugkapkan secara kronologis sebagai berikut:

Pra ilmu– Ilmu normal   -Anomali- Krisis – Isme     -Revolusi – Ilmu normal baru

Normal sains                              Jumud

“isme”

Krisis

BAB III

KESIMPULAN

  1. Paradigma berasal Dari bahasa Yunani para deigma, dari para (di samping, di sebelah) dan dekynai (memperlihatkan: yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal). Paradigma merupakan konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah.
  2. Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science).pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).
  3. Struktur perkembangan ilmu pengetahuan menurut Kuhn dapat diugkapkan secara kronologis sebagai berikut:

Pra ilmu– Ilmu normal   -Anomali- Krisis – Isme     -Revolusi – Ilmu normal baru

Normal sains                              Jumud

“isme”

Krisis baru

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002

Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004

Muhajir, Noeng. Filsafat Ilmu Edisi II. Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001

Semiawan, Conny. Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman. Cet. I; Bandung: Mizan, 2005

Sidharta, B Arif. Apakah Filsafat Dan Filsafat Ilmu Itu. Cet. I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008

Soetomo, Greg. Sains Dan Problem Ketuhanan. Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1995

Wiramihardja, Sutardjo A. Pengantar Filsafat. Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007


[1]Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Filsafat (Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h. 79

[2]Conny Semiawan dkk, Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman (Cet. I; Bandung: Mizan, 2005), h. 107

[3]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 3

[4]Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 779

[5]Ibid

[6]Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu Edisi II (Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), h. 177

[7]B Arif Sidharta, Apakah Filsafat Dan Filsafat Ilmu Itu (Cet. I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008), h. 93

[8]Greg Soetomo, Sains Dan Problem Ketuhanan (Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1995), h. 21

[9]B. Arif Sidharta,…Op. Cit., h.  94-95

[10]Greg Soetomo,….Op. Cit., h. 22-23


Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: