BENTUK MOTIVASI GURU MENCIPTAKAN SUASANA KOMUNIKATIF BELAJAR MENGAJAR BAHASA INDONESIA DI MTs. DDI PARIANGAN KECAMATAN LUYO KABUPATEN POLMAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagaimana makhluk sosial, terkandung suatu makna bahwa manusia itu tidak terlepas dari individu yang lain. Hidup bersama antara manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam ini terjadi interaksi satu sama lain.

Berbagai bentuk interaksi, khususnya mengenai interaksi yang disengaja, antara lain interaksi edukatif. Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Interaksi edukatif lebih spesifik pada bidang pengajaran yang dikenal dengan interaksi belajar-mengajar. Dalam interaksi antara pengajar dengan warga belajar terjadi proses pengembangan motivasi guru sebagai pengajar dan siswa sebagai warga belajar. Dalam rangka membina, membimbing dan memberikan motivasi ke arah yang dicita-citakan, maka hubungan guru dan siswa harus bersifat edukatif. Menurut Sardiman (1992:4), interaksi edukatif adalah sebagai suatu proses hubungan timbal balik yang memiliki tujuan tertentu, yakni untuk mendewasakan agar nantinya dapat berdiri sendiri.

Guru harus dapat mengembangkan motivasi dalam setiap kegiatan interaksi dengan siswanya. Guru perlu menyadari dirinya sebagai pemikul tanggung jawab untuk membawa siswa : ke tingkat keberhasilannya. Guru tidak cukup hanya mengetahui bahan ilmu pengetahuan yang akan dijabarkan dan diajarkan kepada siswa, tetapi juga perlu mengetahui dasar filosofis dan didaktisnya, sehingga mampu memberikan motivasi di dalam proses interaksi dengan siswa. Untuk itu, perlu adanya suasana komunikatif belajar-mengajar antara guru dengan siswa, agar dalam proses belajar-mengajar terjalin komunikasi yang efektif.

Sehubungan dengan uraian di atas. maka interaksi edukatif yang secara spesifik merupakan proses atau interaksi memiliki ciri-­ciri khusus yang membedakannya dengan bentuk interaksi yang lain.

Menurut Suhardi (dalam Sardiman, 1992;15), ciri-ciri interaksi belajar-mengajar yaitu :

  1. Interaksi belajar-mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu anak-anak dalam suatu perkembangan. Inilah yang dimaksud belajar-mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian.
  2. Ada suatu prosedur yang direncana didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Interaksi belajar-mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus.
  4. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa.
  5. Dalam interaksi belajar-mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.
  6. Dalam interaksi belajar-mengajar dibutuhkan disiplin.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa motivasi dalam proses mengajar khususnya pelajaran bahasa Indonesia, hendaknya diciptakan suasana yang bersifat komunikatif.

Salah satu dampak komunikatif adalah dapat membangkitkan motivasi siswa. Motivasi siswa itu sendiri merupakan faktor terpenting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, sangat diharapkan agar siswa memiliki motivasi belajar tersebut. Seorang guru memiliki andil besar dalam membangkitkan motivasi siswa. Untuk itu, diharapkan seorang guru mampu memperhatikan perilaku siswa dengan mengambil langkah­langkah yang dapat menimbulkan motivasi belajar bagi siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Hanya dengan motivasilah siswa dapat bergerak hatinya untuk belajar bersama temannya yang lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka alasan peneliti memilih judul ini, yaitu karena adanya sekelompok siswa yang belum termotivasi untuk belajar, ini terbukti pada saat proses belajar-mengajar berlangsung, kadang ada siswa yang tidak memperhatikan pelajaran, dan hanya membicarakan masalah yang tidak ada sangkutpautnya dengan pelajaran, bahkan mereka menggunakan waktunya untuk bermain di dalam ruangan.

Secara empiris dapat dilihat bahwa motivasi guru menciptakan suasana komunikatif pada saat interaksi belajar-mengajar, khususnya dalam pengajaran bahasa Indonesia, masih kurang. Selain pengalaman peneliti selama pengajaran bahasa Indonesia berlan ;sung, juga ditemukan satu penelitian yang berhubungan motivasi guru menciptakan suasana komunikatif, yakni penelitian yang dilakukan oleh Islah (2001), tentang sikap guru terhadap motivasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas I SMU Negeri 2 Polewali yang belum komunikatif.

Berdasarkan kenyataan di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang bentuk motivasi guru menciptakan suasana komunikatif belajar-mengajar bahasa Indonesia pada siswa (Madrasah Tsanawiyah Swasta) MTs DDI Pariangan.

B.   Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah bentuk-bentuk motivasi guru menciptakan suasana komunikatif belajar-mengajar bahasa Kabupaten Polman.

C.   Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan menciptakan suasana komunikatif belajar­ guru menciptakan suasana komunikatif belajar mengajar bahasa Indonesia di MTs DDI Pariangan Kabupaten Polman.

D.   Manfaat Penelitian

  1. Memberikan sumbangan pemikiran kepada guru-guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa guna penyempurnaan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia;
  2. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh, diharapkan bagi para guru, agar hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam penataan perilaku pendidik;
  3. Merupakan wadah untuk mendapatkan pengalaman tentang cara pelaksanaan penelitian dan merupakan bahan perbandingan bagi pihak yang ingin melakukan penelitian sejenis.

Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: