Gambaran Fenomena Sosial Dalam Novel Berita Dari Pinggiran (Suatu Pendekatan Sosiologi)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah suatu cara mengungkapkan gagasan, ide, dan pemikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Karya sastra merupakan hasil kegiatan kreatif, imajinatif, dan artistik Sebagai hasil kegiatan yang imajinatif sastra menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialami pengarang kepada penikmat karya yang dibuatnya.

Sastra “menyajikan kehidupan” dan “kehidupan” sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial, walaupun karya sastra “meniru” alam dan dunia subjektif manusia (Wellek, 1990: 109).

Karya sastra lahir sebagai perpaduan antara hasil renungan, pemikiran, dan perasaan seorang pengarang. Keber­adaan karya sastra yang dihasilkan seorang pengarang di tengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan karena merupakan cermin kehidupan yang memantulkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal tersebut yang membedakan karya sastra dengan tulisan biasa.

Berdasarkan karya sastra yang demikian itu, kiranya tidak berlebihan apabila sastra dipakai sebagai alat pen­didikan. Karya sastra sendiri sebenarnya ditulis dengan maksud menunjukkan nilai-nilai kehidupan atau setidaknya mempersoalkan nilai-nilai yang dipandangnya kurang sesuai dengan kebutuhan zaman atau kebutuhan manusia pada umumnya (Sumarjo dalam Reksohadiprojo, 1989: 148).

Sebuah karya sastra berusaha menggugah kesadaran dan memberikan pengalaman yang imajinatif kepada pembaca. Penginderaan dan daya fantasi pembaca diajak memasuki pengalaman orang lain berdasarkan gambaran yang disajikan pengarangnya secara jernih, jelas, dan menawan.

Karya sastra apabila dikaji lebih mendalam sesungguh­nya banyak mengandung nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pendidikan.

Novel merupakan salah satu karya sastra yang dapat diteliti secara ilmiah yang di dalamnya melukiskan berbagai peristiwa yang dialami oleh pelaku-pelakunya. Pelaku yang ada dalam sebuah novel merupakan suatu proses kreatif dari pengarangnya. Jadi, hasil karya seorang pengarang pada dasarnya bersumber dari hasil imajinatif dan proses krea­tifnya.

Iwan Simatupang termasuk salah seorang sastrawan yang produktif semasa hidupnya. pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh membuat karya-karyanya banyak dikagumi para kritikus dan penikmat sastra, Novelnya yang pertama, “Merahnya Merah”, diterbitkan pada tahun 1968, disusul dengan “Ziarah” (1969), “Kering” (1972), dan “Koong” 1975) .          Semuanya    mendapat      sambutan antusias dari para sastrawan dan peminat sastra Indonesia pada khususnya.

Penelitian mengenai novel-novel Iwan Simatupang pernah dilakukan oleh Dami N. Toda dalam tesisnya yang berjudul “Novel Baru Iwan Simatupang” yang selesai ditulis pada tahun 1974, kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul yang sama pada tahun 1980.

Khusus mengenai novel “Ziarah” pernah dilakukan pene­litian oleh J. Prapta Dihardja dalam skripsinya yang berju­dul “Gaya Iwan Simatupang dalam Ziarah” (J. Prapta Dihar­dja. 1985), demikian pula Okke KS. Zaimat mengkaji “Ziarah” dalam desertasinya yang berjudul “Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan Simatupang” (Zaimat, 1990).

Beberapa peneliti lain seperti Elia Tjasa (1972), Umar Yunus (1986), Kurnia Jaya Raya. (1989), dan beberapa peneli­ti asing dari Australia, Francis, dan Malaysia, pernah membicarakan “Ziarah” dalam kaitannya dengan, novel-novel Iwan yang lain. Dari semua pembicaraan tersebut umumnya menempatkan “Ziarah” sebagai karya puncak: Iwan Simatupang yang pada tahun 1475 “Ziarah” diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dengan judul “The Pilgrim” dan mendapat hadiah sastra ASEAN terbaik. pada tahun 1977.

Novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang membawa proble­matik yang tak habis-habisnya dan ada yang menganggap plotnya tidak jelas. Hal ini menyebabkan novel tersebut dicap sebagai novel bercorak kegelisahan batin dan bersifat absurd sehingga nilai-nilai yang dikandungnya sulit untuk dikaji.

Munculnya anggapan bahwa novel yang mengandung absurd­itas sulit dipahami dan nilai-nilai pendidikan yang mungkin terdapat di dalamnya tidak dapat ditemukan mendorong penu­lis mengangkatnya sebagai bahan analisis.

B.   Rumusan Masalah

Berpegang pada dasar pemikiran di atas dan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, peneliti mengangkat masalah sebagai berikut:

  1. Apakah novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang mengandung nilai-nilai pendidikan?
  2. Bentuk nilai-nilai pendidikan yang bagaimanakah yang dapat ditarik dari novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  3. Bagaimana relevansinya dengan kehidupan dewasa ini?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai pada hakikatnya menjawab masalah yang dikemukakan di atas dan dapat dirumuskan sebagai berikut;

  1. Mengungkapkan ada tidaknya nilai-nilai pendidikan dalam berbagai aspek yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwang Simatupang.
  2. Menggali bentuk-bentuk nilai pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  3. Merelevansikan nilai-nilai dan bentuk-bentuk pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang dengan kehidupan dewasa ini.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain;

  1. Membantu pembaca/penikmat sastra dalam memahami ada tidaknya nilai-nilai dan bentuk-bentuk pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  2. Ikut memberi kontribusi kepada khasanah ilmu pengetahuan sastra Indonesia pada khususnya dan khasanah ilmu penge­tahuan sastra dunia pada umumnya.


Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: