GAMBARAN SOSIAL MASYARAKAT DESA TANGGIR DALAM NOVEL “DI KAKI BUKIT CIBALAK” KARYA AHMAD TOHARI

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Sastra adalah kreativitas manusia dalam wujud bahasa yang selalu mempersoalkan kehidupan manusia. Menurut Semi (1989:8), “Sastra merupakan basil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupan dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya”. Oleh karena objeknya adalah manusia dan kehidupannya, maka dapatlah dikatakan bahwa Sastra adalah gambaran kehidupan manusia.

Penggambaran kehidupan manusia dalam Sastra didasarkan pada upaya serta daya imajinasi pengarang sehingga kehidupan tersebut bersifat imajinatif. Namun, tidak jarang dijumpai bahwa kehidupan manusia yang digambarkan dalam sastra merupakan kehidupan faktual, baik kehidupan individu (pengarang) maupun kehidupan sosial (masyarakat) yang diolah berdasarkan imajinasi pengarang. Berkaitan dengan hal ini Hardjana (1981:14) mengatakan bahwa proses penghayatan seorang pengarang dalam melahirkan karyanya berpangkal pada persepsi hayali yang semata-mata menggerakkan angan-angan. Dengan demikian, kehidupan manusia dalam sastra merupakan pembauran antara kehidupan imajinasi dan faktual.

Menurut Barnet (dalam Semi, 1989:20), sastra, sebagaimana karya seni lainnya, hampir setiap zaman memegang peranan penting karena sastra dapat mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan yang berfungsi sebagai wadah untuk meneruskan norma suatu masyarakat dalam arti positif, baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Sastra lahir sebagai proses kreativitas manusia yang bersumber dari kehidupan masyarakat (manusia) tempat ia itu dilahirkan. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan semata-mata sebuah imitasi. Sastra merupakan suatu luapan emosi yang spontan dari hal yang dilihat dan dirasakan oleh sastrawan dalam lingkungan kehidupan yang kemudian dituangkannya dalam karya sastra.

Karya sastra merupakan pancaran kehidupan sosial dan gejolak kehidupan pengarang. Pancaran kehidupan tersebut muncul karena adanya interaksi secara langsung atau tidak langsung, secara sadar maupun tidak sadar, kemudian diwujudkan dalam tulisan yang ditata sedemikian rupa dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra lahir dari masyarakat untuk masyarakat dan berguna untuk mengarahkan pola hidup yang lebih baik. Oleh karena sastra lahir dari masyarakat, maka dengan sendirinya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Hal itulah yang menyebabkan sastra sering dikaji untuk mengungkap misteri kehidupan. Sejalan dengan itu Wellek (1990 : 109) mengatakan bahwa sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa yang bersifat sosial karena merupakan konvensi dari norma masyarakat. Sastra menyajikan kehidupan dan penghidupan yang sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru slam dan dunia subjektivitas manusia.

Karya sastra itu lahir melalui peramuan imajinasi pengarang dengan gambaran atau realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Pengarang merupakan anggota masyarakat sehingga dia ikut merasakan dan mengalami akibat dari kejadian-kejadian yang timbul di dalam masyarakat. Oleh karena itu, ide-ide yang diekspresikan dalam karyanya tidak dapat dipisahkan dari situasi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, hal-hal yang dilihat, dialami, dan dirasakan oleh pengarang dalam lingkungannya termasuk lingkungan sosialnya, diramu sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah karya sastra.

Totalitas ekspresi pengarang yang dituangkan dalam karyanya menjadi lebih hidup karena merupakan basil persentuhan dengan lingkungan masyarakat yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang dialami oleh suatu masyarakat, baik berupa kemelut hidup, kemiskinan, kelaparan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, maupun kepincangan sosial dan berbagai masalah sosial lainnya dalam kehidupan masyarakat.

Hardjana (1992:72) mengemukakan bahwa daya khayal pengarang dipengaruhi oleh dunia lingkungan dan terutama karena adanya minat pengarang yang mendalam terhadap manusia yang ada dalam masyarakat lingkungan hidup, persoalan-persoalan yang dialami, keadaan dan watak masyarakat oleh seorang pengarang merupakan pencerminan lingkungan masyarakat tertentu.

Karya sastra yang diramu sedemikian rupa dari basil persentuhan dengan lingkungan masyarakat menunjukkan bahwa karya sastra, khususnya novel, memuat realitas sosial di dalamnya. Novel digambarkan oleh Jhonson (dalam Faruk, 1994 : 46) sebagai genre sastra yang cenderung realitas. Novel merepresentasikan suatu gambaran yang jauh lebih realistik mengenai gambaran sosial. Taine (dalam Faruk, 1994 : 46) mengemukakan bahwa salah satu tujuan novel adalah menggambarkan kehidupan nyata, mendeskripsikan karakter-karakter, mensugestikan rancangan tindakan, dan memberikan penilaian terhadap motif-motif tindakan.

Novel sebagai salah satu genre karya sastra, di samping mempunyai sifat yang imajinatif juga berangkat dari realitas sosial. Dapat dikatakan bahwa novel merupakan cerminan dari masyarakat tertentu. Asumsi ini diperkuat oleh pendapat yang dikemukakan oleh Scholes (dalam Yunus, 1985:139) yang mengatakan bahwa sastra tidak dapat melepaskan dirinya dari realitas meskipun sifatnya imajinatif.

Salah satu novel yang bercerita tentang kehidupan sosial masyarakat tertentu dapat dilihat dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak (DKBC) karya Ahmad Tohari. Novel ini menggambarkan keadaan sosial masyarakat Jawa Tengah, pada salah satu desa kecil bernama Desa Tanggir tahun 70-an. Novel ini menggambarkan tentang masyarakat desa yang hidup dalam kemiskinan, kehidupan desa yang tidak lagi memberikan kedamaian, perlakuan tidak adil yang dilakukan oleh aparat desa, adanya kesenjangan antara masyarakat bawah yang diwakili oleh tokoh Pambudi, Mbok Ralem, Sanis, Pak Badi dan tokoh-tokoh cerita lainnya dengan masyarakat atas yang diwakili oleh tokoh Pak Dirga sebagai kepala desa.

Novel DKBC menceritakan tentang masyarakat Desa Tanggir yang sebagian bestir masyarakatnya adalah petani. Ada yang mengolah sawahnya sendiri dan sebagian lagi mengolah sawah tetangga dengan imbalan yang relatif rendah. Jangankan untuk membeli pakaian, untuk makan sehari-hari saja sulit untuk mereka penuhi. Seperti yang dialami oleh tokoh Mbok Ralem yang ditinggal mati suaminya dan memiliki dua orang anak teak mempunyai biaya untuk mengobati penyakitnya, maka ia meminta bantuan kepada Pambudi agar diberi pinjaman dari koperasi yang dikelola Pambudi. Akan tetapi hal itu tidak disetujui oleh kepala desa karena Mbok Ralem masih mempunyai utang pada koperasi desa. Sikap kepala desa tersebut menjadi pemicu perselisihan antara Pambudi dengan kepala desa karena Pambudi menganggap bahwa Mbok Ralem sepatutnya diberi pertolongan mengingat kondisi ekonominya yang sangat menyedihkan, padahal ada uang dana darurat milik koperasi. Ternyata uang dana darurat itu digunakan untuk pelebaran jalan yang memiliki keuntungan yang sangat besar. Sikap kepala desa tersebut mencerminkan segelintir manusia yang tidak perduli dengan hal-hal yang dialami orang lain dan hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri.

Oleh karena Pambudi tidak mau diajak bekerja lama dan takut rencana liciknya disebarkan, maka Pak Dirga berusaha menyingkirkan Pambudi dari desanya dengan cara menfitnah Pambudi. Karena fitnah tersebut, Pambudi akhirnya tersingkir dari Desa Tanggir. Tersingkirnya Pambudi membuat Pak Dirga selaku kepala desa merasa lega dan bebas melakukan semua rencana liciknya yang dapat merugikan rakyat banyak, misalnya melakukan korupsi atau menyalahgunakan uang koperasi. Koperasi desa yang diharapkan dapat membantu masyarakat desa yang sedang menderita justru sebaliknya, kas koperasi digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi Pak Dirga.

Adanya berbagai masalah sosial yang dialami oleh masyarakat desa seperti yang terjadi pada masyarakat Desa Tanggir merupakan masalah-masalah manusia yang asasi sehingga memerlukan bantuan kita semua guna mencari alternatif pemecahannya agar dapat mengembalikan kehidupan masyarakat desa sebagaimana mestinya.

Realitas sosial yang diungkapkan Tohari dalam novel DKBC sama dengan realitas yang terjadi pada masyarakat kita di beberapa desa pada saat ini. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Luxemburg dkk. (1986:230) bahwa “Sastra yang ditulis pada kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu”.

Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan wituk menentukan aspek-aspek sosial dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, karya Ahmad Tohari, adalah pendekatan sosiologi. Ini bertolak dari pandangan bahwa sastra merupakan pancaran kehidupan masyarakat dan mencerminkan suka duka kehidupan bermasyarakat.

Latar belakang masalah itulah yang membuat penulis memilih judul “Gambaran Sosial Masyarakat Desa Tanggir dalam Novel Di Kaki Bukit Cibalak Karya Ahmad Tohari” dengan menggunakan pendekatan sosiologi.

B.   Rumusan Masalah

Berpegang pada dasar pemikiran di atas dan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, peneliti mengangkat masalah penelitian ini sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah gambaran kehidupan sosial masyarakat Desa Tanggir dalam novel DKBC?
  2. Bagaimanakah sikap masyarakat Desa Tanggir terhadap masalah-masalah sosial yang dialami dalam novel DKBC karya Ahmad Tohari tersebut ?

C.   Tujuan Penelitian

Penelitian ini disusun dengan maksud untuk menjawab dan mengungkap pokok permasalahan yang berkaitan dengan gambaran sosial masyarakat Desa Tanggir yang terdapat dalam novel DKBC karya Ahmad Tohari. Tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

  1. Menggambarkan kehidupan sosial masyarakat Desa Tanggir.
  2. Menjelaskan sikap masyarakat Desa Tanggir terhadap masalah-masalah sosial.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Menambah wawasan peneliti sesuai dengan bidang ilmu yang digelutinya.
  2. Meningkatkan apresiasi pembaca terhadap karya sastra dalam bentuk novel.
  3. Membantu pembaca atau penikmat sastra dalam pemahaman ada tidaknya gambaran sosial yang terdapat dalam novel “Di Kaki Bukit Cibalak” karya Ahmad Tohari dan
  4. Sebagai bahan acuan bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian ini dengan pendekatan yang lain.
Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: