KECENDERUNGAN TINDAK TUTUR GURU BAHASA INDONESIA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI KELAS II SMU NEGERI I TINAMBUNG

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk individu dan mahluk sosial. Dalam hubungannya manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu makna setiap manusia bahwa manusia juga tidak terlepas dari individu-individu lain. Secara kodrati, manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama manusia akan berlangsung dalam ber­bagai bentuk komunikasi dan situasi.

Austin (dalam Tarigan, 196: I46) menyatakan bahwa komunikasi adalah serangkaian tindak ujar yang dipakai Secara bersistem untuk menyelesaikan tujuan tertentu. Dengan adanya komunikasi akan terjadilah sesuatu yang dinamakan peristiwa tutur dan tindak tutur.

Tindak tutur adalah berlangsungnya interaksi linguistik dalam suatu ben­tuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan mitra tutur, misalnya interaksi antara pedagang dengan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, seperti halnya interaksi yang terjadi antara guru dengan murid dalam proses belajar mengajar yang juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya.

Adanya interaksi guru dan murid dalam proses belajar mengajar tidak ter­lepas dari peran guru dalam usahanya mendidik dan membimbing para siswa agar mereka dapat dengan sungguh-sungguh mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Untuk mendapatkan basil yang optimal, banyak pengaruh komponen belajar cukup banyak mengajar. Sebagai contoh, bagaimana cara mengorganisasikan ma­teri afar dapat dipahami oleh siswa, metode yang diterapkan serta media yang digunakan.

Guru sebagai seorang pendidik perlu menyadari bahwa belajar adalah ingin mengerti, belajar adalah mencari, menemukan dan melihat permasalahan. Belajar juga dikatakan sebagai usaha memecahkan permasalahan atau persoalan yang dihadapi. Hal ini membawa konsekuensi kegiatan belajar mengajar yang problematis. Seorang guru yang baik selayaknya tidak memperlihatkan ke­cenderungan atau kebiasaan yang tidak baik. Misalnya dalam menyampaikan ma­teri pelajaran selalu menggunakan metode yang berulang-ulang.

Guru sebagai pengajar yang baik harus dapat memunculkan gairah belajar siswa agar melakukan aktivitas belajar. Dalam hubungannya dengan aktivitas karena dorongan oleh adanya faktor-faktor kebutuhan biologis, insting, dan mungkin unsur kejiwaan yang lain, serta adanya pengaruh kebudayaan manusia. Agar dalam kegiatan belajar dapat terarah seorang guru memiliki peran yang san­gat penting guna menciptakan kondisi atau suatu proses yang baik. Guru melaku­kan usaha-usaha untuk dapat menumbuhkan motivasi agar siswanya melakukan aktivitas dengan baik. Untuk dapat belajar dengan baik diperlukan proses dan mo­tivasi yang baik pula. Memberikan motivasi kepada seseorang siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.

Sekolah-sekolah di Indonesia dewasa ini pada umumnya memang belum berhasil membantu secara optimal dalam upaya pengajaran. Pengajaran Bahasa Indonesia pada khususnya; karena: 1) terlalu menekankan teori dan kurang pada praktek. 2) terlalu banyak mengajar tentang bahasa dan kurang pada penguasaan bahasanya sendiri, 3) lebih banyak membicarakan bahasa seperti fonologi, mor­fologi, dan sintaksis, 4) lebih banyak membicarakan struktur bahasa secara ter­lepas-lepas dan kurang menekankan pada kebermaknaan, 5) kurang menekankan pada kemampuan penggunaan bahasa sesuai dengan konteks, 6) hanya memfo­kuskan pada pokok bahasan tertentu sehingga terlepas dari  tujuan pengajaran yang digariskan, dan 7) sistem penalaran cenderung bersifat kognitif, dan kurang me­nekankan pada penilaian tentang proses, (Siahaan, 1985).

Menyadari hal demikian, disinilah peran seorang guru dibutuhkan. Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebagai seorang pendidik, sebelum tampak di depan kelas, terlebih dahulu harus menguasai bahan agar dalam proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar.

Kecenderungan dalam mengajar perlu diteliti dan dikaji karena guru yang baik seharusnya tidak selalu menggunakan metode atau cara mengajar yang beru­lang-ulang. Alasan penulis meneliti kecenderungan guru dalam proses belajar mengajar karena masih kurangnya pengetahuan guru sebagai pengajar sekaligus pendidik, dalam mengajarkan suatu mata pelajaran khususnya pelajaran Bahasa Indonesia. Selain itu sepengetahuan penulis, menulis kecenderungan tindak tutur guru dalam proses belajar mengajar belum pernah diteliti oleh mahasiswa fakultas Bahasa dan Seni dalam bentuk skripsi.

Oleh karena itu, diharapkan agar penelitian ini dapat memberikan sum­bangan dalam mengembangkan kreatifitas cara mengajar guru.

B. Rumusan Masalah

Berdasar pada latar belakang yang dikemukakan di atas maka akan dirumuskan masalah yang akan diteliti, yaitu bagaimana kecenderungan tindak tutur guru bahasa Indonesia Kelas II SMU Negeri I Tinambung  dalam proses belajar mengajar ?

C. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas masalah yang dikemukakan di atas, yaitu mendeskripsikan kecenderungan tindak tutur guru bahasa Indonesia kelas II SMU Negeri I Tinambung dalam proses belajar mengajar.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut :

  1. Sebagai bahan masukan bagi guru bahasa Indonesia di sekolah menengah umum, khususnya mengenai tindak tutur guru dalam proses belajar mengajar.
  2. Menjadi sumbangan terhadap peningkatan dan pengembangan Bahasa Indonesia.



Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: