KEDUDUKAN ADAT MAPPERE DALAM HUKUM PERKAWINAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan bermasyarakat, keluarga merupakan suatu kesatuan struktural yang kecil dan ikut menentukan kondisi masyarakat secara umum. Jika keluarga tersebut terdapat dalam masyarakat pada keadaan baik, stabil maka masyarakat secara keseluruhan relatif dianggap baik. Begitu pula sebaliknya keluarga menjadi tolak ukur bagi kesejahteraan dan ketentraman bagi suatu masyarakat, karena itu masyarakat merupakan sumber kedamaian yang sangat urgen sifatnya yang patut diperhatikan dari setiap individu. Salah satu bentuk pembinaan yang dikenal masyarakat sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis menurut fitrahnya (kebutuhan lawan jenisnya) yaitu perkawinan.

Islam sebagai al-Din dianut oleh mayoritas masyarakat Indoensia, bersifat komprehensif dan universal, memberikan tuntunan yang lengkap terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk masalah perkawinan sehingga perkawinan dalam Islam dianggap sakral dan suci. Perkawinan dalam Islam disamping sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis manusia, lebih dari itu Islam menetapkan dalam posisi terhormat untuk mengembangkan keturunan manusia secara suci sekaligus menutup kemungkinan terjadi kemaksiatan atau merusak moral.

Manusia diciptakan di dunia ini oleh Allah SWT, sebagai makhluk yang mulia dibanding dengan makhluk lainnya, manusi dijadikan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surah at-Tiin : 4 yang berbunyi :

لقد خلقناالانسان فى احسن تقويم. (التين : 4)

Artinya :

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” [1]. (QS. At-Tin : 4)

Lalu dijadikanlah manusia itu berpasang-pasangan antara laki-laki dengan perempuan lewat perkawinan, dimana perkawinan itu didahului dengan suatu ikatan yang disebut dengan aqad nikah. Aqad nikah dipandang sebagai suatu hal yang suci, maka al-Qur’an dinilai sebagai salah satu dari sekian banyak nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, dan sebagai bukti kekuasaan serta kebesaran-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya dalam surah ar-Rum : 21 sebagai berikut :

ومن آيته ان خلق لكم من انفسكم ازوجالتسكنواإليهاوجعل بينكم مودة ورحمة ان فىذلك لايت لقوم يتقكرون. (الروم : 21)

Terjemahnya :

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [2] (QS. ar-Rum : 21)

Dari ayat tersebut di atas, dapat diketahui bahwa perkawinan itu dimaksudkan untuk mendapatkan ketentraman dan keterangan serta untuk menciptakan rasa kasih sayang antara suami isteri. Demikian juga dalam undang-undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menetapkan bahwa “Perkawinan adalah bertujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa”. Namun dalam suatu daerah atau suku sering kita jumpai hal-hal yang sensitif dalam hal perkawinan seperti halnya di Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep.

Adat “Mappere” dalam perkawinan di Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep adalah merupakan adat tradisi yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat. Bahkan sampai saat sekarang ini masih merupakan rangkaian adat dalam suatu perkawinan. Maksud dari pada “Mappere” (ayunan) merupakan suatu tanda kasih sayang sehidup semati antara suami isteri dengan berbagai angin cobaan di dalam keutuhan keluarga tersebut yang dilaksanakan setelah selesai adat perkawinan yang merupakan rangkaian acara.

Sehubungan dengan itu yang menarik perhatian adalah adat tradisi “Mappere” dalam perkawinan tersebut, apakah sesuai dengan syari’at Islam atau tidak. Oleh karena itu, penulis terdorong untuk mengadakan penelitian sehingga dapat mengetahui pandangan syari’at Islam tentang “Mappere” atau kedudukan adat itu sendiri dalam perkawinan di Desa Kanaungan Desa Labakkang Kabupaten Pangkep karena penulis menetapkan permasalahan pokok dalam pembahasan ini.

B.  Rumusan dan Batasan Masalah

Adapun permasalahan pokok dalam pembahasan ini adalah “Bagaimana pandangan syari’at Islam tentang adat “Mappere” dalam perkawinan di Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep” selanjutnya, masalah pokok tersebut akan dijabarkan dalam sub masalah sebagai berikut :

1.  Bagaimana bentuk adat “Mappere” di Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep ?

2.  Bagaimana kedudukan “Mappere” dalam perkawinan adat ?

C.  Hipotesis

Untuk memberikan gambaran atau jawaban sementara dari permasalah diatas, penulis mencoba memberikan jawaban dalam bentuk hipotesis sebagai berikut :

Berbicara masalah perkawinan, tentu tidak terlepas dari kehidupan keduniawian. Perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, perkawinan sebagaimana dimaklumi bersama bahwa bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis saja, akan tetapi suatu ikatan dimana manusia dituntut untuk membina keluarga atau rumah tangga yang sejahtera dan bahagia. Untuk itu, kaitannya dengan “Mappere” dalam perkawinan sangat erat sekali, bahkan syari’at Islam membatasi jangan sampai terlalu mencintai kehidupan duniawi dibandingkan dengan uhkrawi, sehingga kewajiban terhadap Allah SWT terlupakan. Akan tetapi syari’at Islam menganjurkan pula agar manusia dapat menuntut kehidupan dunia dan tidak melupakan kehidupan akhirat.

Untuk lebih jelasnya, maka penulis memberikan sub hipotesis sebagai berikut :

1.  Adat Mappere adalah suatu adat yang dilakukan secara turun temurun sebagai tandu kasih sayang setalah selesai melaksanakan perkawinan, yang bagi masyarakat kanaungan dianggap sebagai salah satu kesempurnaan perkawinan mereka, bahkan ada yang beranggapan jika hal tersebut tidak dilaksanakan, dikhawatirkan perkawinan tersebut tidak ada kerukunan antara suami dan isteri selama mereka berdua berkeluarga.

2.  Kedudukan “Mappere” dalam perkawinan adalah sebagai rangkaian adat suatu perkawinan yang lazim dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun atau dengan kata lain memberikan kesaksian kepada masyarakat di Desa Kanaungan atas terlaksananya perkawinan terhadap kedua mempelai dalam ikatan suatu perkawinan.

D.  Pengertian Judul

Sebelum melangkah lebih jauh kepada pembahasan selanjutnya maka terlebih dahulu diutarakan pengertian judul skripsi ini, baik kata demi kata maupun pengertian operasionalnya. Pengertian tersebut memudahkan untuk memenuhi apa yang terkandung didalamnya. Adapun pengertian sebagai berikut :

a.  Kedudukan

Kedudukan berasal dari kata “duduk” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, maka menjadi “kedudukan” yang berarti letak atau tempat tingkatan martabat keadaan yang sebenarnya.[3]

b.  Adat

Adat adalah aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala. [4]

c.  Mappere

Mappere adalah sebagai rangkaian adat suatu perkawinan yang lazim dilakukan oleh masyarakat setelah selesai aqad nikah, sebagai tanda kasih sayang dan mengharapkan kerukunan dalam berkeluarga sampai sehidup semati.

d.  Hukum

Hukum adalah menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakannya[5]. Sedangkan di dalam kamus besar bahasa Indonesia, hukum berarti peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang ditetapkan oleh penguasa (penguasa) atau otoriter. [6]

e.  Perkawinan

Perkawinan berasal dari kata “kawin” yang mendapat awalan “per” dan akhiran “an”, maka menjadi “perkawinan” yang berarti menikah, membentuk keluarga dengan lawan jenis. [7]

f.  Islam

Islam adalah agama yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dan untuk disampaikan kepada manusia. Dalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh muslim memberikan pengertian tentang Islam yaitu :

الإسلام ان تشهد ان لااله الالله وان محمدارسول الله وتقيم الصلاة وتؤتىالذكاة وتصوم رمضان وتحج البيت ان ستطعت اليه سبيلا. [8] (رواه مسلم)

Artinya :

“Islam adalah engaku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa ramadhan dan menunaikan haji di baitullah jika kamu sanggup melaksanakannya.” (HR. Muslim)

E.  Tinjauan Pustaka

Masalah tentang perkawinan yang berlaku khususnya di Indonesia, bukan hanya satu malam peraturan hukum perkawinan. Akan tetapi di Indonesia terdapat beberapa amalan peraturan hukum perkawinan yang berlaku dan tetap dilaksanakan oleh warga negara Indonesia pada umumnya, termasuk masyarakat Sulawesi Selatan. Begitu pula di dalam perkawinan khususnya Sulawesi Selatan terdapat beberapa adat didalamnya sebagai campuran serta kepercayaan (keyakinan) yang dianut dalam masyarakat sebagai ikutan dari nenek moyang mereka terdahulu.

Sama halnya dalam suatu daerah terdapat adat yang berbeda-beda dalam perkawinan begitu pula masyarakat Kanaungan khususnya ada adat “mappere” dalam acara perkawinan. Olehnya itu penulis merasa terpanggil untuk menelaah atau meneliti adat tersebut apakah sesuai dengan aturan yang berlaku tentang hukum perkawinan atau syari’at Islam. Dalam hal ini penulis menggabungkan dari hasil penelitian dengan buku-buku yang mengenai adat itu sendiri.

Jumlah pustaka atau buku-buku yang membicarakan tentang adat sampai saat ini sudah banyak jumlahnya. Misalnya dalam bukunya Mr. B. Teer Haar Bzn yang berjudul Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat yang menerangkan tentang bagaimana adat itu sendiri yang bisa dikatakan adat serta dalam hal perkawinan.

Kemudian dalam buku hukum adat Indonesia karya Soerjono Soekanto yang menjelaskan tentang sampai dimana kekuatan adat itu dalam perkawinan. Juga dalam buku meninjau hukum adat Indonesia karya Dr. Soerjono Soekanto, SH. MA., suatu pengantar untuk mempelajari hukum adat serta beberapa pendapat tentang adat diantaranya Van Valonhoven, Ter Haar dan Soepomo. Dan masih banyak lagi buku-buku yang membahas tentang adat dalam perkawinan seperti hukum perkawinan Indonesia menurut perundangan hukum adat dan agama, karya Prof. H. Hilman Adikusuma, SH. Hukum adat, karya Imam Sudiyaat dan beberapa buku-buku serta para pendapat tokoh-tokoh adat lainya.

Dan tak terlupakan pula dalam penelitian ini penulis mencoba mengkaji konsep adat dan kedudukannya sebagai aturan tak tertulis ke dalam perundang-undangan (tertulis) dan kedudukannya di dalam agama Islam dengan menganalisa ayat-ayat dan hadits yang terkait yang dijadikan dasar dalam mencapai perkawinan mawaddah warahmah.

F.  Metode Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode sebagai berikut :

1.  Metode Pendekatan

Untuk memperoleh data yang diperlukan maka penulis menggunakan beberapa metode antara lain :

a. Metode pendekatan historis yaitu penulis berusaha mendekati latar belakang timbulnya masalah yang akan dibahas menyangkut tentang “Mappere” dengan jalan mempelajari adat istiadat yang berlaku di Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep.

b. Metode pendekatan sosiologis, maksudnya penulis melihat pada realita yang terjadi dalam masyarakat

2.  Metode pengumpulan data

Dalam pengumpulan data, penulis menambah dua macam cara yaitu:

a.  Library Research yaitu penulis mengadakan penelitian dengan melalui sumber-sumber hukum islam dan berbagai buku bacaan, majalah, serta buku-buku lainnya yang ada hubungannya dengan masalah yang di bahas.

b.  Field Research yaitu penulis mengadakan penelitian lapangan yang dijadikan obyek. Dalm hal ini meliputi beberapa cara sebagai berikut:

1.  Interview, yitu mengadakan tanya jawab dengan toko-toko masyarakat, serta pemerintah setempat dengan sistem wawancara bebas, baik manusia individu maupun dalam kelompok masyarakat.

2.  Observasi, yaitu penulis mengadakan pengamatan langsung kepada obyek yang akan diselidiki, yaitu mengenai masalah “Mappere” dalam perkawinan.

3.  Metode Pengolahan Data dan Analisis Data

Setelah data tersebut rampung, maka penulis mengalah dan menganalisanya dengan sistematuik terhadap data yang berbentuk kualitati, guna memudahkan pemecahan masalah yang hendak dilaksanakan. Dalam hal metodenya adalah sebagai berikut:

a.  Induktif yakni dengan menelaah dan menganilisa faktor-faktor yang sifatnya khusus, kemudian mengambil suatu kesimpulan umum.

b.  Deduktif yakni menganalisis masalah yang sifatnya umum kemudian mengambil kesimpulan yang khusus.

c.  Komparatif yaitu menganalisa data dan masalah-masalah dengan jalan membandingkan antara satu dengan yang lainnya, kemudian menarik suatu kesimpulan terhadap masalah yang telah dikumpulkan tersebut.

G.  Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun tujuan dan kegunaan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1.  Untuk memberikan pengertian dan sumbangsih pemikiran masyarakat bahwa yang dimaksud “Mappere” itu adalah suatu rangkaian kultur (adat tradisi) yang dilakukan dalam suatu acara perkawinan, terutama adat “Mappere” yang terdapat di Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep.

2.  Kegunaannya adalah agar masyarakat lebih mengetahui dan lebih mengerti tentang hal “Mappere” yang didalamnya terdapat unsur adat yang tidak dipisahkan dengan pelaksanaan perkawinan.

3.  Untuk menambah pengetahuan, yang serta kaitannya dengan jurusan penulis pada Fakultas Syari’ah serta menambah khasanah ilmu pengetahuan, terutama pada Fakultas Syari’ah dan STAI DDI-AD Mangkoso pada umumnya.

H.  Garis-Garis Besar Isi Skripsi

Bab pertama adalah merupakan bab pendahuluan yang didalamnya meliputi; latar belakang masalah, hipotesis, pengertian judul, ruang lingkup pembahasan dan defenisi operasionalnya, selanjutnya alasan memilih judul, tujuan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian dan garis-garis besar isi skripsi.

Bab kedua dijelaskan secara sederhana menyangkut gambaran umum Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep. Didalamnya meliputi keadaan geografis dan demografis, adat istiadatnya dan agama serta kepercayaan.

Bab ketiga akan dibahas masalah “Mappere” dalam perkawinan di Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep. Pada bab ini intinya meliputi pengertian “Mappere” dan latar belakang munculnya, tata cara dan proses pelaksanaannya berikut status “Mappere” dalam adat perkawinan.

Bab keempat akan dikemukakan berbagai versi atau kedudukan adat “Mappere” dalam hukum perkawinan Islam di Desa Kanaungan Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep. Inti pembahasa meliputi keberadaan adat “Mappere” dalam hukum perkawinan Islam, aspek yang sesuai dan aspek yang tidak sesuai dengan syari’at Islam dan terakhir dasar hukum keberadaan adat “Mappere” serta kedudukan dalam hukum perkawinan Islam.

Bab kelima adalah penutup yang didalamnya dikemukakan kesimpulan dan beberapa saran-saran yang dianggap perlu.


[1] Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : TB Lubuk Agung, 1989), h. 1076.

[2] Ibid, h. 644.

[3] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. II; (t. t : Balai Pustaka, t. th), h. 245.

[4] Ibid., h. 6.

[5] Prof. Dr. H. Nasruan Haroen, MA., Ushul Fiqhi, (Cet. III; Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 207.

[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., op. cit., h. 359.

[7] Ibid., h. 456.

[8] Al-Imam Abi al Husain bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Juz. I; (Indonesia: Maktabah Dahlan, t. th), h. 37.

Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: