KEMAMPUAN SISWA KELAS II SLTP NEGERI 3 WONOMULYO KABUPATEN POLMAN BERPIDATO

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut kodratnya, manusia memiliki kecenderungan untuk berpikir dan menyatakan pendapat, keinginan, perasaan, serta pengalaman-pengalamannya. Di samping itu, manusia juga punya kecenderungan mempengaruhi, bahkan memaksakan pikiran dan pendapatnya kepada orang lain atau kelompok. Pada umumnya, kecenderungan tersebut dilakukan secara langsung melalui pembicaraan atau komunikasi, baik antarpribadi maupun kelompok.

Dalam kenyataannya, seseorang yang ingin menyampaikan pendapat atau hasil pikiran kepada orang lain, sering menghadapi masalah, terutama bila pendapatnya itu tidak didengar atau diterima oleh orang lain; apakah antara anak dengan orang tuanya, guru dengan siswa, maupun antara pimpinan organisasi dengan anggotanya. Cara berbicara (retorika) memang memberikan pengaruh atau dampak yang sangat besar atas diri dan keberadaan seseorang. Oleh karena itu, setiap orang mesti memiliki pengetahuan atau kemampuan retorika yang meyakinkan, terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai penatar, instruktur, pendidik, juru penerang, politikus, dan profesi pembicara lainnya.

Di dalam Kurikulum SLTP 1994, dicantumkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan komunikatif. Hal ini disebabkan oleh hakikat belajar bahasa yang mengacu pada belajar berkomunikasi. Setiap orang yang terlibat dan ingin mempertahankan diri dalam kehidupan sosial harus memiliki keterampilan berbahasa. Dewasa ini cukup banyak kegiatan dan bidang pekerjaan yang membutuhkan keberadaan pengetahuan dan kemampuan retorika yang efektif dan efisien. Pekerjaan atau kegiatan ini akan tercapai bergantung pada kesanggupan seseorang berbicara kepada orang lain atau kelompok. Menguasai kesanggupan berbahasa atau keterampilan berbicara menjadi alasan utama orang-orang terkenal seperti : Demosfhenes, Socrates, J. Caesar, St. Agustinus, St. Abrasius, Martin Luther King, J.F. Kennedy, Soekarno (Hendrikus, 1990:48).

Berkomunikasi lisan atau tertulis kepada sekelompok orang atau kepada sekelompok siswa adalah hal yang biasa-biasa raja. Namun, berkomunikasi untuk menyampaikan gayasan atau maksud tertentu kepada orang lain yang disampaikan dalam bentuk pidato merupakan hal yang tidak semua orang dapat melakukannya. Banyak orang yang beranggapan bahwa tidak ada yang lebih menakutkan daripada keharusan berdiri di hadapan orang banyak untuk menyampaikan pidato. Rasa menggelitik terasa di dalam perut setiap orang atau orator-orator terkenal pada saat mulai berdiri di hadapan orang banyak. Semua orang berjuang keras untuk melangkah ke atas panggung atau mimbar. Kebanyakan orang, ketika diminta mengadakan presentasi formal atau pidato menjadi panik. Akibatnya mereka tidak berhasil dalam membawakan presentasinya. Mereka tidak menyadari bahwa di dalam diri setiap pembicara yang berhasil terdapat pribadi yang gugup, baginya pidato sedikit lebih daripada berbicara kepada orang lain.

Pada hakikatnya pidato dapat dibawakan oleh siapa saja. Namun, dalam praktik tidak semua orang dapat melakukannya dengan baik. Kemahiran menyatakan gayasan atau kepandaian mempengaruhi orang lain pada dasarnya merupakan kemahiran atau seni yang di dalamnya terdapat suatu bakat. Namun, dapat pula dipelajari seperti ilmu pengetahuan lainnya, asalkan disertai dengan latihan-latihan teknik keterampilan dan pengalaman praktik. Walaupun demikian, keharusan ini belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Artinya, masih sedikit orang yang memiliki dan menerapkan pengetahuan retorika secara tepat dan akurat. Memang ada ditemukan orang-orang yang cukup terampil berpidato atau bercerita di depan umum. Akan tetapi, bila diamati dengan cermat keterampilan itu umumnya muncul dari bakat seseorang secara alamiah. Bakat saja belum menjamin tercapainya tujuan komunikasi, tanpa didukung dengan pengetahuan yang menjelaskan bagaimana teknik dan seni berkomunikasi yang baik dan benar.

Berdasarkan kenyataan di atas dipandang perlu untuk membiasakan setiap siswa untuk berbicara atau berpidato. Pemberian materi berbicara harus selalu diupayakan agar para siswa dapat mengembangkan bakat yang dimilikinya. Hal ini pulalah yang mendasari sehingga penulis tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap kemampuan berpidato siswa kelas II SLTP Negeri 3 Wonomulyo Kabupaten Polman. Menurut pengetahuan penulis, penelitian tentang kemampuan berpidato siswa  ini belum pernah ada yang meneliti.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapatlah dirumuskan masalah, yaitu : Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II di SLTP Negeri Wonomulyo  Kabupaten Polman dalam berpidato?

C.   Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan siswa kelas II SLTP Negeri 3 Wonomulyo Kabupaten Polman dalam berpidato.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat  yang  diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan berbicara siswa pada umumnya dan keterampilan berpidato pada khususnya.
  2. Dapat menjadi bahan masukan bagi guru dalam proses belajar mengajar.
  3. Sebagai bahan acuan bagi pihak yang akan melakukan penelitian sejenis.

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: