MAKNA PEMMALI DALAM MASYARAKAT BUGIS SOPPENG

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Bangsa Indonesia kaya akan keanekaragaman suku, agama, dan bahasa yang memungkinkan diadakannya penelitian ­bidang folklor. Pengetahuan dan penelitian folklor sangat untuk inventarisasi, dokumentasi, dan referensi. Dalam mencari identitas bangsa Indonesia, sangat perlu menelusuri ­keberadaan folklor sebagai bagian kebudayaan bangsa.

Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan serta kebiasaan yang dipunyai manusia sebagai anggota masyarakat, Taylor (dalam Mattulada 1997:1). Kebudayaan yang di hasilkan manusia sebagai wujud. Kebudayaan paling sedikit mempunyai 3 wujud, yakni (1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide, gagasan, nilai-nilai, norma, dan peraturan, (2) wujud kebudayaan sebagai aktivitas berpola masyarakat, dan (3) wujud kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia yang dikemuka­kan oleh Koentjaraningrat (dalam Mattulada, 1997: 1).

Sulawesi Selatan adalah daerah yang memiliki kebudayaan yang khasnya didiami oleh empat suku asli, yaitu suku Mandar, dan Toraja. Semua suku memiliki bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi pan bermasyarakat. Setiap suku bangsa akan memelihara tradisi dan sistem budayanya sebagai identitas mereka agar masyarakat suku yang bersangkutan tetap ­berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun bentuk bahasa, perilaku, norma senantiasa dijaga dan dipertahankan.

Tradisi adalah kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat bersangkutan. Tradisi anggota masyarakat berprilaku baik dalam pan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat gaib dan keagamaan (Esten, 1999: 21).

Suku Bugis sebagai salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan memiliki nilai kebudayaan tersendiri. Salah satu kekayaan budaya Bugis ialah folklor. Folklor dalam masyarakat Bugis biasanya ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya melalui penuturan lisan. Penuturan lisan demikian lazim disebut sastra lisan. Namun, penulis menggunakan istilah folklor karena memiliki lingkup kajian yang lebih luas dan mencakup sastra lisan.

Jumlah folklor dalam masyarakat Bugis cukup banyak. Bugis, salah satu jenisnya ialah salah satu jenisnya ialah pemmali. Jenis folkor tadi merupakan warisan budaya yang menggambarkan masyarakat Bugis di masa lalu. Warisan Budaya tersebut dijadikan sebagai pedoman, falsafah dan nilai-nilai yang mencerminkan watak dan peradaban masa lalu.

Pemmali merupakan satu bentuk  bahasa rakyat yang dimiliki suku Bugis. Pemmali adalah pantangan atau larangan untuk berbuat dan mengatakan sesuatu. Pemmali sebagai bahasa tradisional hingga kini masih ada dalam masyarakat Bugis. Isi Pammali mengandung ajaran moral, nasihat, dan petunjuk aturan atau hukum adat, Mattulada (dalam Sulo, 1996: 20).

Pemmali memiliki fungsi dan kedudukan di masyarakat sebagai seni bertutur yang bersifat suci dan sakral. Pemmali menjadi bagian adat-istiadat yang selalu berada dalam ingatan masyarakat. Secara umum Pemmali menggunakan untaian kata yang indah dan tinggi nilainya. Untaian kata-kata dalam Pammali mengandung arti dalam makna simbolik.

Pammali biasanya dituturkan oleh orang tua kepada anak, kakak kepada adiknya, suami kepada istrinya, dan sebagainya. Pemmali muncul atau dituturkan apabila seseorang melakukan yang tidak sesuai dengan adat, dianggap melanggar etika, dan perbuatan lainnya yang dianggap tidak pantas.

Masyarakat Bugis menggunakan pemmali sebagai pengendalian dari diri dalam bertindak. Pemmali diwariskan secara turun-temurun akibat adanya pengalaman masa lalu dan kebiasaan-kebiasaan yang dihubungkan dengan kejadian yang menimpanya. Meski­ pun kejadian yang dialami terjadi hanya karena kebetulan saja, tetap diyakini sebagai ganjaran atas pelanggaran terhadap Pemmali.

Pemmali sebagai folklor yang dituturkan dari mulut ke mulut hanya akan bertahan seiring eksistensi masyarakat Bugis. Saat ini muncul kekhawatiran akan eksistensi pemmali. Hal tersebut disebabkan kurangnya minat masyarakat, khususnya generasi muda Bugis untuk mendalami, menjaga, dan memahami nilai yang terkandung dalam pemmali. Permasalahan lain adalah tidak terdokumentasinya secara bagus pemmali yang ada dalam masya­rakat Bugis termasuk dalam masyarakat Bugis Soppeng. Jika hal tersebut harus berlangsung dikhawatirkan akan mengakibatkan salah satu nilai kebudayaan Bugis.

Beberapa hal di atas mendasari penulis berminat untuk makna yang terkandung dalam Pemmali. Penulis berharap nilai-nilai luhur yang dimiliki pemmali tetapi lestari dan dipahami oleh masyarakat Bugis. Dengan mema­hami nilai luhur yang terdapat dalam pemmali masyarakat Bugis dapat mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Penelitian tentang pemmali ini dilakukan pada masyarakat Bugis  Soppeng. Alasannya, penelitian terhadap pemmali dalam masyarakat Bugis Soppeng masih langkah. Sulo (1996) meneliti namun penelitian itu Pemmali, namun penelitian ini hanya dikhususkan dalam masyarakat­  petani. Penelitian ini menitikberatkan pada pemmali yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan lapisan masyarakat Bugis Soppeng.

B.   Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut. Makna apa yang terkandung pada pemmali dalam masyarakat Bugis Soppeng?

C.   Tujuan Hasil Penelitian

Bertolak dari permasalahan yang telah dikemukakan pada bagian rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna Pemmali dalam masyarakat Soppeng.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Membantu masyarakat untuk memahami makna pemmali;
  2. Membantu masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Pemmali;
  3. Memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengkaji nilai-nilai budaya dalam pemmali;
  4. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap penggunaan bahasa bugis dalam masyarakat bagi penelitian, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum;
  5. Sebagai bahan perbandingan bagi pihak yang ingin meneliti pemmali;

Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: