PENGATURAN PERIZINAN BECAK MOTOR DI KOTA SENGKANG

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kebutuhan akan transportasi merupakan hal yang semakin penting dan mendesak untuk dipenuhi. Apalagi untuk masyarakat perkotaan dengan tingkat aktivitas yang sangat tinggi yang hampir 90% pergerakannya harus ditunjang oleh moda transportasi. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang cenderung meningkat dan urbanisasi merupakan fenomena yang paling mempengaruhi terhadap permintaan akan transportasi di daerah perkotaan, di samping aspek lainnya seperti tata guna lahan perkotaan.

Dalam perencanaan suatu sistem transportasi hendaknya dipertimbangkan faktor yang sangat mempengaruhi antara lain karateristik permintaan, tata guna lahan, kondisi yang ada di suatu daerah dan regulasi yang mengatur.

Transportasi dan tata guna lahan merupakan dua komponen perkotaan yang mempunyai hubungan yang sangat erat. Agar tata guna lahan dapat terwujud dengan baik tentunya kebutuhan akan penyediaan transportasi harus dipenuhi dengan baik pula. Artinya sistem transportasi yang bermasalah tentunya akan menghalangi aktivitas tata guna lahannya. Sebaliknya, transportasi yang tidak melayani suatu tata guna lahan akan menjadi hal yang sia-sia saja  dan fungsi utama transportasi yaitu melayani kebutuhan akan transportasi serta merangsang perkembangan suatu daerah/wilayah tidak akan terpenuhi.

Masalah transportasi atau perhubungan merupakan masalah yang selalu dan akan selalu dihadapi oleh negara-negara yang telah maju dan negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia baik di bidang transportasi perkotaan maupun transportasi antar kota (regional). Terciptanya suatu sistem transportasi yang menjamin pergerakan manusia dan/atau barang secara lancar, aman, cepat, murah dan nyaman merupakan tujuan utama dari pembangunan di sektor transportasi.

Intensitas pergerakan yang disebabkan oleh peningkatan sosial ekonomi dan urbanisasi yang dari waktu ke waktu semakin meningkat di daerah perkotaan yang memadai, namun kenyataan bahwa hal itu sangat sulit untuk dilaksanakan. Peningkatan akan kebutuhan transportasi tidak dapat diimbangi oleh penyediaan sarana dan prasarana transportasi. Hal ini terkait dengan faktor dana, waktu dan tempat serta perkembangan teknologi yang begitu pesat.

Dengan melihat beberapa aspek di atas, dapat dilihat bahwa aktivitas masyarakat perkotaan cenderung didominasi oleh pergerakan dengan menggunakan moda dengan berbagai alternatif jenis moda yang dipergunakan.

Pesatnya pertambahan jumlah penduduk kota telah mempengaruhi luas Kawasan Terbangun Kota (KTK) sehingga jarak waktu tempuh dari rumah ke tempat kerja atau tempat aktivitas lainnya menjadi semakin jauh. Akibatnya kebutuhan penduduk akan sarana pengangkutan menjadi semakin meningkat. Persoalan yang timbul kemudian adalah besarnya aktivitas pergerakan manusia di daerah perkotaan tidak sebanding dengan penyediaan wadah (prasarana) dan sarana dalam menunjang pergerakan tersebut sehingga menimbulkan berbagai permasalahan lalu lintas yang tidak ringan (Warpani, 1993).

Seperti halnya beberapa daerah dan kota di Indonesia, Kota Sengkang Ibukota Kabupaten Wajo Propinsi Sulawesi Selatan juga merupakan kota yang mempunyai tingkat perkembangan yang cukup tinggi baik dari aspek sosial ekonominya maupun pertambahan jumlah penduduknya. Masyarakat Kota Sengkang yang pada umumnya bergerak dalam bidang perdagangan dan pertanian sangat bergantung pada moda angkutan umum penumpang dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari di samping kendaraan pribadi, baik untuk kawasan perkotaan (mikrolet) maupun antar kota (bis atau kijang)

Di samping Angkutan Umum Penumpang (AUP) berupa kendaraan beroda empat, masyarakat Kota Sengkang juga menggunakan moda alternatif lainnya berupa ojek, becak yang pada perkembangan terakhir muncul kendaraan becak motor, selanjutnya penulis menyebutnya bemor.

Bemor tumbuh dan berkembang antara bulan Pebruari – Maret 2003 dengan cukup pesat dan menjadi salah satu primadona angkutan alternatif. Selain kemampuan bemor dalam menjangkau seluruh wilayah Kota Sengkang, juga waktu tempuh untuk sampai ke tempat tujuan yang cepat membuat bemor memiliki daya saing yang cukup tinggi dalam memberikan pelayanan jasa transportasi kepada masyarakat. Apalagi jaringan jalan di Kota Sengkang yang membentuk pola grid dan gang sempit serta berbukit dengan ketinggian rata-rata 5 – 10 meter dimana tidak semua jaringan jalan tersebut menjadi jalur trayek pete-pete dan angkutan penumpang umum lainnya. hanya beroperasi umumnya dari pukul 05.00 sampai pukul 18.00, bemor dapat beroperasi sampai pukul 22.00 atau lebih. Hal ini tentunya yang mendasari masyarakat untuk mempergunakan moda bemor dengan asumsi efisiensi waktu dan aksessibilitas yang cukup tinggi.

Persaingan dalam memberikan pelayanan transportasi kepada masyarakat antara berbagai moda angkutan umum penumpang tersebut akan menjadi hal kompetitif yang positif apabila ditunjang oleh sistem pergerakan yang baik serta rekayasa lalulintas yang terencana dengan baik pula, serta pengelolaan usaha transportasi itu sendiri secara profesional.

Akan tetapi kenyataannya terjadi tumpang tindih trayek antara berbagai jenis moda angkutan umum penumpang tersebut sehingga ini dapat menjadi potensi konflik antar sesama operator angkutan umum penumpang dalam hal memperebutkan calon penumpang. Dampak lainnya adalah meningkatnya kemacetan diakibatkan oleh semakin banyaknya bemor yang saat ini mencapai 323 unit yang terdaftar, sedangkan yang tidak terdaftar mencapai dua kali dari yang terdaftar. Hal ini menyebabkan penyempitan pada beberapa ruas jalan utamanya di daerah pusat kota dan sumber-sumber pembangkit pergerakan seperti sekolah, perkantoran pasar dan pusat perbelanjaan pada jam-jam sibuk. Dari aspek fisik, kendaraan bemor belum memiliki standarisasi bentuk yang diatur dalam perundang-undangan sehingga tingkat keamanan dalam mempergunakan kendaraan ini belum dapat dipertanggungjawabkan.

Dari kondisi di atas, maka Pemerintah Kabupaten Wajo bermaksud menertibkan penggunaan transportasi lalu lintas dan angkutan jalan termasuk di dalamnya pengoperasian becak motor sebagai alat angkutan umum, salah satunya adalah dengan adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur lalu lintas, namun pada saat ini peraturan perundang-undangan yang mengatur lalu lintas dan angkutan jalan pada saat ini belum menjangkau kendaraan roda tiga becak prototipe motor, sementara kendaraan roda tiga becak prototipe motor merupakan modernisasi kendaraan becak, yang merupakan tuntutan zaman sehingga perlu diberikan legalitas pengoperasiannya.

Dari kondisi di atas, guna memberikan landasan hukum bagi perwujudan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat, aman, cepat, tertib dan teratur, nyaman dan efisien sehingga oleh pemerintah Kabupaten Wajo merasa perlu untuk menerbitkan Surat Keputusan.

Berkaitan dengan tumbuh dan berkembangnya bemor di Kota Sengkang, penulis tertarik untuk menuangkan dalam tulisan dan melakukan penelitian tentang “PENGATURAN PERIZINAN BECAK MOTOR DI KOTA SENGKANG”

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis mengurai kemudian membatasi beberapa pokok permasalahan yang berhubungan dengan keberadaan bemor di Kota Sengkang, kemudian dituangkan dalam rumusan masalah yang meliputi :

  1. Bagaimanakah pelaksanaan Surat Keputusan Bupati tentang Becak Motor di Sengkang?

  2. Apakah faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan Surat Keputusan Bupati tentang Becak Motor di Sengkang?

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui :

  1. Pelaksanaan Surat Keputusan Bupati tentang Becak Motor di Sengkang.
  2. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan Surat Keputusan Bupati tentang Becak Motor di Sengkang.

Setelah penelitian dan penulisan ini berakhir, manfaat yang diharapkan oleh penulis adalah

a.    Manfaat Teoritis

Diharapkan skripsi ini dapat menjadi bahan pengembangan ilmu hukum khususnya hukum administrasi negara.

b.    Manfaat Praktis

Sebagai bahan pertimbangan/masukan bagi masyarakat Kabupaten Wajo pada umumnya dan Pemerintah Kabupaten Wajo pada khususnya dalam rangka merumuskan kebijakan di bidang transportasi khususnya untuk peningkatan pelayanan angkutan umum agar lebih efektif dan efisien.

Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: