PENYIMPANGAN AFIKSASI PADA JUDUL BERITA SURAT KABAR HARIAN PEDOMAN RAKYAT

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam UUD 1845, Pasal 36, ditetapkan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Oleh karena itu, wajarlah jika pemerintah menghimbau semua warga negara Indonesia agar membina diri masing-masing dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik sesuai dengan situasi pemakaiannya, yang benar dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Sebagai bahasa yang hidup, pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus semakin ditingkatkan. Hal itu dapat dilakukan pada semua bidang yang dianggap tepat dan dapat menunjang kesempurnaan bahasa Indonesia. Pada bidang morfologi misalnya, pembinaan dan pengembangan biasanya diarahkan pada proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dapat dilakukan dengan cara, antara lain : proses pembubuhan afiks atau afik­sasi, pemajemukan, dan pengulangan atau reduplikasi.

Khusus mengenai proses pembentukan kata melalui afiksasi atau pembubuhan afiks (imbuhan), pada umumnya sangat berpotensi mengubah makna dan bentuk kata. Sebagai contoh, dapat dilihat pada kata-kata tersebut seperti : temu, amen, lempar, dan sebagainya. Jika Kata-kata itu dibubuhi afiks menjadi penemu, temuan, penemuan, den sebagainya, demikian pula terhadap kata amen dan lempar, maka makna dan bentuk kata-kata tersebut akan berubah, misalnya : temu (muka berhadapan muka ; tatap muka), penemu (orang yang menemukan); temuan (hasil menemukan); penemuan (proses atau cara menemukan). Jadi, proses pembubuhan afiks atau afiksasi sangat penting dan memerlukan ketelitian karena jika salah, maka akan menjadi makna dan bentuknya tidak komunikatif.

Berdasarkan kenyataan itu, media massa, dalam hal ini surat sebagaimana diketahui, merupakan salah satu media yang dianggap resmi da­lam pemakaian bahasa. Oleh karena itu, tidak salah jika setiap surat kabar, sesuai dengan keberadaannya itu selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar, penuh ketelitian dalam penggunaan bahasa Indonesia, termasuk dalam hal pembentukan kata melalui afiksasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, ada delapan orang atau lembaga yang patut menjadi panutan berbahasa Indonesia yang baik dan benar yaitu Presiden dan Wakil Presiden, Menteri, pemimpin lembaga tertinggi negara, pemimpin TNI, guru dan dosen, wartawan dan penerbit, sekretaris dan pengonsep pidato, dan pemuka agama (Arifin, 1993 : 12). Penulis hanya menyoroti dua di antaranya, yaitu wartawan dan penerbit.

Selanjutnya, Arifin menjelaskan bahwa berita dalam televisi, radio, surat kabar, majalah, serta tulisan dalam buku-buku, yang merupakan produk warta­wan dan penerbit, sangat mewarnai pemakaian bahasa dalam masyarakat. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat masuk akal jika wartawan dan penerbit perlu meningkatkan kemahiran dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penyebaran informasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena di samping sebagai salah satu media resmi, juga media massa sangat berpotensi dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang balk dan benar. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah media massa, dalam hal ini surat kabar, sudah patut menja­di panutan berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah sudah mene­rapkan kaidah-kaidah morfologis dalam penulisan berita-beritanya? Ataukah lebih mengutamakan prinsip ekonomi bahasa sebagai salah satu cirinya.

Dalam pemakaian bahasa di surat kabar, terdapat istilah “ekonomi bahasa”. Artinya, kita dapat menggunakan kata atau kalimat dengan         sehemat-hematnya. Akan tetapi, penghematan itu jangan sampai merusak kaidah baha­sa, apalagi menimbulkan salah paham (Arifin, 1993 : 15).

Bertolak pada uraian di atas, penulis tertarik pada salah satu media cetak yang terbit di kawasan Indonesia Timur, yakni surat kabar harian Pedoman Rakyat sebagai objek penelitian. Surat kabar Pedoman Rakyat, di samping sebagai media tertua di kawasan Indonesia Timur, juga hingga sekarang masih tetap mempertahankan keberadaannya sebagai media informasi yang digemari oleh masyarakat.

Suatu hal yang menarik perhatian pembaca pada saat akan membaca sebuah surat kabar, yaitu judul-judul yang tercantum pada berita. Badudu      (1994 : 6), mengatakan bahwa menyusun bahasa untuk kepala berita memerlukan keahlian tersendiri karena ditulis dengan huruf yang benar ukurannya, hendak­lah kepala berita dibuat sesingkat-singkatnya dan dapat menarik perhatian pembaca. Namun, judul yang singkat bukan berarti bahwa harus menyalahi aturan atau kaidah bahasa secara sewenang-wenang. Berkaitan dengan hal itu, Iman Asyi’ri (1984 : 29) mengatakan bahwa judul sudah menggambarkan isi atau hal yang akan dibahas.

Berdasarkan yang tercantum dalam surat kabar harian Pedoman Rakyat, terutama dalam hal pembentukan kata melalui afiksasi atau pembubuhan afiks (imbuhan).

B.   Rumusan Masalah

Pada umunya, pembahasan afiksasi merupakan hal yang cukup rumit sering menemui kesulitan. Melihat kenyataan itu, penulisan skripsi ini akan dipusatkan pada masalah :

  1. Afiks apa sajakah yang harian Pedoman Rakyat ?
  2. Apakah afiks pada judul-judul berita harian Pedoman Rakyat sudah relevan keberadaannya sebagai pembentukan kata dalam kalimat ?

C.   Batasan Masalah

Afiksasi mempunyai jangkauan yang cukup luas. Agar pembahasan yang dilakukan lebih terarah dan terinci, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini. Aspek yang akan ditelaah dalam penelitian ini adalah pemakaian afiks pada judul-judul berita surat kabar harian Pedoman Rakyat sebanyak 10 terbitan, edisi Juni 2000. Afiks yang dimaksud adalah afiks asli bahasa Indonesia.

D.   Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan penyimpangan afiks pada judul berita surat kabar harian Pedoman Rakyat.

E.   Manfaat Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian yang dilakukan, penulis  mengharapkan agar dapat :

  1. Memberikan masukan bagi media massa pada umumnya dan lebih khusus bagi harian Pedoman Rakyat, sejalan dengan keberadaan media massa se­bagai salah satu panutan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  2. Menjadi sumbangan bagi siapa saja yang mempunyai minat dan perhatian terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia;


Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: