PERAN AUTOPSI SEBAGAI UPAYA PEMBUKTIAN DALAM PENYIDIKAN DELIK PEMBUNUHAN DI KABUPATEN MAROS (STUDI KASUS TAHUN 1998 – 2001)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Di berbagai negara utamanya yang menganut sistem hukum Anglo Saxon seperti Inggris dan Amerika Serikat, autopsi merupakan alat yang dipakai untuk mendakwa dalam perkara pidana khususnya kasus pembunuhan. Berbeda halnya dengan negara yang menganut sistem hukum kontinen seperti Indonesia autopsi bukan merupakan alat bukti sah, tetapi merupakan upaya pembuktian.

Autopsi sebagai upaya pembuktian dalam kasus delik pembunuhan, memang banyak berkaitan dengan bidang kedokteran kehakiman yang dilaksanakan erat dengan sumpah dokter. Penerapan ilmu kedokteran kehakiman dalam proses penyidikan, khususnya delik pembunuhan, juga merupakan sumbangan ilmu kedokteran kehakiman yang membantu mengungkapkan penyelidikan perkara pidana dalam delik yang menyangkut jiwa manusia.

Disadari bahwa betapa penting arti dari pada tindakan autopsi untuk dapat mengungkap delik pembunuhan, maka ilmu kedokteran kehakiman memberi nama dan bentuk surat yang disebut Visum Et Repertum (VER).

Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum. Oleh karena itu salah satu tujuan pembangunan sebagaimana yang diamanahkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1998 adalah pembangunan di bidang hukum, sebagai upaya untuk menegakkan keadilan, kepastian untuk menciptakan ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat. Namun disadari bahwa upaya untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya penerapan hukum yang sebaik-baiknya. Di samping itu juga harus ditunjang dengan proses pemutusan perkara khususnya perkara pidana yang dapat mencerminkan rasa keadilan masyarakat.

Autopsi sebagai upaya pembuktian dalam delik pembunuhan, adalah untuk membuktikan bahwa di dalam praktek peradilan dan upaya pembuktian perkara pidana, khususnya delik pembunuhan adalah mencari jejak dari pelaku yang dapat mengungkapkan alibi dan sebab terjadinya delik. Walaupun autopsi bukan merupakan alat bukti sah menurut KUHAP, akan tetapi peranannya dalam mengungkapkan alibi dan sebab terjadinya delik dalam praktek, merupakan hal yang sangat penting dan berguna. Kasus-kasus suatu perkara yang terselubung sebab terjadinya serta kebiasaan-kebiasaan seorang residivis pada peristiwa delik pembunuhan, terkadang tidak dapat diungkapkan tanpa dilakukannya autopsi pada korban.

Ditinjau dari segi aturan pidana yang berlaku, maka secara lahiriah autopsi dapat disamakan dengan bentuk penganiayaan, dimana kesengajaan merusak mayat termasuk membongkar kembali kuburan si korban untuk diautopsi adalah tidak manusiawi dan melanggar hukum. Di sini terjadi pertentangan antara dua kepentingan yang berbeda yaitu kepentingan hukum di satu pihak dan kepentingan keluarga si korban dan keluarganya dengan alasan kemanusiaan di lain pihak.

Dalam upaya pembuktian, ternyata autopsi masih tetap dilakukan meskipun dikatakan tidak manusiawi. Autopsi yang dilakukan dalam suatu delik pembunuhan merupakan upaya pembuktian terhadap terjadinya suatu delik pembunuhan. Pengungkapan berdasarkan VER dari ilmu kedokteran kehakiman merupakan praktek kebiasaan yang berlaku dalam bidang kedokteran kehakiman.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah prosedur pelaksanaan autopsi dalam upaya pembuktian delik pembunuhan di Kabupaten Maros ?
  2. Bagaimanakah  fungsi autopsi dalam upaya pembuktian delik pembunuhan di Kabupaten Maros ?

1.3  Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1        Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui pelaksanaan autopsi dalam upaya pembuktian delik pembunuhan di Kabupaten Maros.
  2. Untuk mengetahui fungsi autopsi sebagai upaya pembuktian delik pembunuhan di Kabupaten Maros.

1.3.2        Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan yang ingin dicapai dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai bahan masukan bagi pihak yang terkait dalam upaya mengadakan autopsi sebagai upaya pembuktian terhadap delik pembunuhan.
  2. Sebagai referensi tambahan bagi mahasiswa Fakultas Hukum yang berminat mengkaji masalah kedokteran forensik.
Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: