TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN ASURANSI JIWA TERHADAP PERKEMBANGAN NILAI INVESTASI NASABAH DENGAN SISTEM MULTI LINK

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kehidupan dan kegiatan manusia, pada hakikatnya mengandung berbagai hal yang menunjukkan sifat hakiki dari kehidupan itu sendiri. Sifat-sifat hakiki yang dimaksud di sini adalah suatu sifat “tidak kekal” yang selalu menyertai kehidupan dan kegiatan manusia pada umumnya. Sifat tidak kekal termaksud selalu meliputi dan menyertai manusia, baik ia sebagai pribadi, maupun ia dalam kelompok atau dalam bagian kelompok masyarakat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya.

Problem yang dihadapi manusia adalah kemungkinan kematian yang terjadi terlalu dini. Kematian ini merupakan hal yang pasti, namun masalah waktu atau kapan kematian itu datang adalah suatu hal yang tidak dapat ditentukan oleh manusia. Salah satu cara untuk mengurangi risiko tersebut di atas yaitu dengan mengalihkan atau melimpahkan kepada risiko tersebut pihak atau badan usaha lain. Yang dimaksud pihak atau badan usaha lain itu ialah suatu lembaga yang menjamin sekiranya timbul suatu peristiwa yang tidak diinginkan, lembaga ini dikenal dengan apa yang disebut asuransi.

Salah satu jenis asuransi yang dikenal sekarang ini adalah asuransi jiwa. Pada asuransi jiwa yang dipertanggungkan ialah yang disebabkan oleh kematian (death). Kematian tersebut mengakibatkan hilangnya pendapatan seseorang atau suatu keluarga tertentu.

Risiko yang mungkin timbul pada asuransi jiwa terutama terletak pada “unsur waktu (time), oleh karena sulit untuk mengetahui kapan seseorang meninggal dunia. Untuk memperkecil risiko tersebut, maka sebaiknya diadakan pertanggungan jiwa.

Lembaga perasuransian, sama halnya dengan lembaga perbankan, akan dipercaya apabila dapat memberikan jaminan kepercayaan kepada masyarakat. Perusahaan asuransi harus benar-benar dapat memberikan jaminan bahwa dana yang dikumpulkan akan dikembalikan di kemudian hari sesuai dengan hak nasabah. Masyarakat harus dapat diyakinkan bahwa perusahaan asuransi akan dapat memenuhi kewajibannya untuk membayar ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh masyarakat tertanggung.

Asuransi adalah perjanjian ganti rugi antara tertanggung dan penanggung yang aktanya disebut polis asuransi. Kontrak asuransi sangat spesifik karena hanya ditandatangani oleh penanggung (perusahaan asuransi), tetapi mengikat pihak tertanggung. Isi perjanjian umumnya disusun oleh perusahaan asuransi menjadi sesuatu yang baku atau standar. Isi kontrak asuransi di samping memuat bahasa-bahasa hukum, juga sangat teknis dan spesifik, di mana pada umumnya sangat sulit untuk memahami isi polis asuransi. Jangankan pihak tertanggung, banyak pelaku dalam perusahaan perasuransian juga kurang memahami isi kontrak.

Dalam bisnis asuransi, ada beberapa prinsip asuransi yang harus diterapkan baik oleh perusahaan asuransi maupun oleh masyarakat tertanggung. Setidaknya prinsip dimaksud antara lain adalah prinsip insurable interest, prinsip utmost good faith, prinsip indemnity, prinsip proximate cause, dan prinsip kontribusi dan subrogasi.

Definisi dari prinsip utmost good faith (UGF) menyebutkan bahwa si tertanggung harus memberitahukan semua fakta material dengan benar, lengkap, serta sukarela atas obyek pertanggungan, baik diminta maupun tidak diminta. Sebaliknya, perusahaan asuransi pun dituntut harus menunjukkan itikad baiknya kepada si tertanggung. Sangat sering terjadi kesalahpahaman atas penerapan prinsip ini dalam bisnis asuransi. UGF seolah-olah hanya menjadi kewajiban si tertanggung, di mana si penanggung tidak perlu menunjukkan itikad baiknya kepada penanggung. (www.kompas.com)

Banyak penanggung mengklaim bahwa tertanggung tidak melaksanakan itikad baik (breach of utmost good faith) sehingga klaim asuransi yang diajukan ditolak oleh perusahaan asuransi. Dalam banyak kasus, sering sekali niat baik tertanggung untuk melakukan sesuatu berkaitan dengan klaim asuransi menjadi bumerang karena ternyata tindakan itu melanggar ketentuan kontrak. Di sisi lain si tertanggung tidak mengetahui bahwa niat baik itu ternyata menjadi tidak baik, yang pada akhirnya menjadi gray area timbulnya konflik dari tuntutan ganti rugi.

Adalah menjadi kewajiban si penanggung untuk menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan kontrak asuransi, termasuk sebelum dimulai kontrak. Apabila si penanggung tidak menjelaskan hak dan kewajiban si tertanggung, maka penanggung telah melanggar prinsip utmost good faith. Karena itu, ia dapat dituntut dan harus bertanggung jawab atas ganti rugi yang diderita tertanggung.

Dewasa ini perjanjian atau kontrak antara penanggung dan tertanggung hampir selalu menggunakan perjanjian atau kontrak yang berbentuk baku (polis). Penggunaan perjanjian baku ini dilakukan agar transaksi-transaksi jasa dapat dilakukan secara efisien dan praktis tanpa adanya hambatan sebagai akibat terjadinya “tawar menawar” sebelum menutup suatu perjanjian. Dalam perjanjian baku, klausula-klausula dalam perjanjian telah ditetapkan secara sepihak oleh penanggung sehingga klausula-klausula tersebut cenderung lebih mengutamakan hak-hak penanggung dibandingkan hak-hak tertanggung dan kewajiban-kewajiban penanggung.

Popularitas produk-produk unit link mulai diperkenalkan di Inggris pada tahun 1960-an, sedangkan di Amerika Serikat mulai dipasarkan pada tahun 1970-an. Produk ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk asuransi tradisional atau produk konvensional. Produksi dalam menyediakan dan memasarkan produk-produk unit link ini. (Sendra, 2004:9)

Produk ini memberikan keleluasaan bagi pemegang polis untuk memilih investasi yang memungkinkan optimalisasi tingkat return investasinya. Karena itu, risiko investasinya juga ditanggung pihak pemegang polis. Misalnya, jika harga-harga instrumen investasi yang menjadi target penempatan dana pemegang polis turun maka nilai investasinya juga turun. Sebaliknya, jika nilai instrumen itu meningkat, maka otomatis nilai penyertaan pemegang polis juga meningkat. Meski demikian perusahaan asuransi tetap bertanggung jawab atas risiko kematian pemegang polis, sebagaimana yang diperjanjikannya.

Pada awalnya perusahaan-perusahaan asuransi jiwa mengaitkan produk asuransi jiwanya secara tidak langsung dengan produk unit trust, tapi lambat laun produk-produk tersebut menjadi satu kesatuan dalam kontrak polis. Produk ini kemudian dikenal dengan produk unit linked dan berkembang sangat pesat. Instrumen-instrumen investasi yang diperkenalkan saat itu seperti government fixed interest lebih menekankan tingkat keamanan dan pengembangan investasi yang sifatnya lebih spekulatif seperti saham dan properti, dimana risikonya tinggi namun tingkat pengembalian investasinya pun lebih tinggi. Selain itu dikenal juga jenis investasi managed fund, dimana manajer investasi menempatkan investasinya pada berbagai jenis (mix) instrumen investasi dan pemegang polis memberikan kepercayaan pada manajer investasi guna memperoleh hasil investasi yang optimum.

Walaupun terjadi pro dan kontra terhadap produk asuransi unit linked, dimana dianggap bahwa produk unit linked ini telah melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, prospek asuransi unit linked di Indonesia menunjukkan trend yang cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan makin maraknya perusahaan asuransi di Indonesia meluncurkan produk-produk unit link. (Sendra, 2004:12)

Prospek produk asuransi unit link di Indonesia cukup cerah, namun ada hal yang cukup krusial dalam pemasaran produk ini, yaitu kemampuan tenaga kerja (agen, finansial consultant) perusahaan asuransi dapat menjelaskan manfaat dan risiko investasi dengan baik dan jelas. Sebab tidak mustahil bisa terjadi salah komunikasi dan kesalahpahaman antar tenaga penjual dengan calon pemegang polis. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Usaha Perasuransian telah diatur bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh agen asuransi akan menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi.

Atas dasar tersebut, perusahaan asuransi diwajibkan mengikat kontrak dengan agen penjualnya. Untuk menghadapi kendala tersebut salah satunya jalan yang harus ditempuh perusahaan asuransi jiwa adalah meningkatkan profesionalisme agen penjualnya. Di lain pihak calon pemegang polis sendiri harus tetap cermat dalam memilih produk asuransi jiwa. Meskipun asuransi jiwa unit link menjanjikan tingkat return investasi dan pilihan pertanggungan yang menarik, namun calon pemegang polis harus mengetahui persis seberapa besar tingkat risiko yang dapat ditanggungnya. Bahkan ada beberapa kondisi tertentu yang kemungkinan besar tidak akan pernah diketahui oleh klien dan dalam hal ini masalah investasi pada tahun pertama, dimana pada saat pembayaran pertama klien sudah diharuskan membayar investasi bersamaan dengan premi namun klien tidak diberitahu oleh agen tentang alokasi dana dan perkembangan dari dana investasi klien tersebut.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis bermaksud mengkaji lebih lanjut tentang “TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN ASURANSI JIWA TERHADAP PERKEMBANGAN NILAI INVESTASI NASABAH DENGAN SISTEM MULTI LINK”.

Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah yang akan diuraikan dan dikembangkan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana tanggung jawab perusahaan Asuransi Jiwa terhadap perkembangan nilai investasi nasabah asuransi dengan sistem Multi Link?
  2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap nasabah asuransi jiwa dengan sistem Multi Link?

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:

  1. Untuk mengetahui sampai sejauh mana tanggung jawab perusahaan asuransi jiwa terhadap perkembangan nilai investasi nasabah asuransi yang menggunakan sistem Multi Link.
  2. Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum terhadap nasabah Asuransi Jiwa dengan sistem Multi Link

Kegunaan penulisan ini adalah:

  1. Sebagai sumbangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pengetahuan mengenai hukum perasuransian pada khususnya.
  2. Sebagai bahan referensi bagi peneliti lainnya dan diharapkan dapat berguna dan bermanfaat sebagai sumber kepustakaan dalam pengembangan Ilmu Hukum di masa yang akan datang.
Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: