ANALISIS PERMINTAAN KAYU BULAT

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sumberdaya hutan yang luasnya diperkirakan 143 juta ha yang berpotensi sangat besar, perlu dikelola dengan baik agar dapat memberikan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia di masa kini dan di masa akan datang. Potensi sumberdaya hutan ini sebagian besar merupakan hutan alam yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Salah satu hasil hutan alam yang sangat besar dihasilkan adalah kayu.

Kayu merupakan salah satu komoditi non migas yang memberi pemasukan devisa yang tidak sedikit bagi negara. Melalui kebijakan pembatasan ekspor kayu bulat yang berlaku sejak tahun 1980, usaha pemerintah untuk mengembangkan industri pengolahan kayu menampakkan hasil yang sangat nyata. Pesatnya perkembangan industri pengolahan kayu bulat pada tahun 1985, yang dimaksudkan untuk mencapai tiga sasaran pokok di bidang pengolahan kayu, yakni peningkatan ekspor olahan.

Sulawesi Selatan merupakan suatu daerah yang memiliki potensi kayu masih perlu penanganan dan pemanfaatan secara maksimal. Produksi kayu bulat di Sulawesi Selatan dari tahun ke tahun berfluktuasi. Pada tahun 1994, produksi kayu bulat di Sulawesi Selatan sebanyak 498.381,00 m3 dan pada tahun 1996 produksi kayu bulat mengalami peningkatan hingga 591.663,74 m3, serta pada tahun 1998 terjadi penurunan produksi hingga 400% dari total produksi tahun 1996, yaitu sebesar 111.680,54 m3 (Kanwil Dephutbun, 1998). Hal ini disebabkan oleh (1) semakin kurangnya produksi kayu bulat pada masing-masing HPH, HTI, IPK, dan IPKTM di Sulawesi Selatan, dan (2) banyaknya kayu bulat yang dipasarkan ke luar Sulawesi Selatan.

Industri PT. Sulwood Makassar memproduksi beberapa jenis produk yang bahan bakunya berasal dari HPH sendiri dan HPH lain diantaranya PT. Rimba Kayu Artan Bintani (Sulawesi Tenggara), PT. Diadyani Timber (Irian Jaya) serta Balantak Rimba Rejeki (Sulawesi Tengah). Pada tahun 1999 dan 2001 suplai bahan baku dalam bentuk log terhenti pihak industri memilih membeli barang setengah jadi untuk keperluan industri karena lesunya konsumen/buyer.

Dengan demikian ketersediaan bahan baku pada suatu industri dalam pemenuhan kebutuhan sangat penting dan keterkaitan terutama untuk mengetahui tingkat kepekaan permintaan kayu bulat terhadap perubahan harga kayu dan perubahan jumlah bahan baku industri, maka penulis mengangkat masalah yang menyangkut “Analisis Permintaan Kayu Bulat pada PT. Sulwood Makassar”

B.     Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini :

  1. Mengetahui permintaan kayu bulat pada PT. Sulwood Makassar.
  2. Mengetahui elastisitas permintaan kayu bulat pada PT. Sulwood Makassar.

C.    Kegunaan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan referensi bagi perusahaan, khususnya bagi PT. Sulwood Makassar untuk dapat menentukan kebijakan selanjutnya.

Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: