BERBAGAI SARANA METODE DAN PROSES BEPIKIR ILMIAH

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Akal adalah potensi rohaniah yang memiliki berbagai kesanggupan seperti kemampuan berfikir, menyadari, menghayati, mengerti dan memahami. Jadi pemikiran kesadaran, penghayatan, pengertian dan pemahaman semuanya merupakan istilah yang berarti bahwa kegiatan akal itu berpusat atau bersumber dari kesanggupan jiwa yang disebut dengan intelegensi (sifat kecerdasan jiwa), intelegensi sendiri mempunyai kemampuan menghasilkan pemikiran-pemikiran atau penemuan dan menciptakan pemikiran dengan cepat. Juga mempunyai kesanggupan memecahkan problem, intelgensi itu adalah kemampuan dan kesanggupan yang dibawah manusia sejak lahir kemudian mengalami proses dan pengembangan karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Berpikir di maksudkan untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui dengan kata lain bahwa  kebenaranlah yang menjadi tujuan utamanya, dari proses berpikirnya yang mengatakan pengorganisasian dan pembudian pengalaman-pengalamannya secara empiris dan eksperimen di maksudkan dapat mencapai pengetahuan, tetapi apakah pengetahuan yang diperoleh adalah benar dan apa yang dimaksud kebenaran dalam ilmu pengetahuan?

Kebenaran adalah adanya korespondensi, koherensi dan konsistensi antara subjek dan objek secara pragmatis, jadi ada dua kebenaran yang ingin di capai yaitu mutlak dan relative. Dikatakan relative karena kebenaran ini merupakan hasil pemikiran manusia dalam teori pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri bukanlah sesuatu yang sudah selesai terpikirkan, tetapi sesuatu hal yang tidak pernah mutlak sebab ia masih selalu membuka diri untuk pemikiran kembali atau peninjauan ulang.

Sedangkan kebenaran mutlak adalah kebenaran yang berasal dari Allah (agama, wahyu) wahyu mengakui kebenaran relative selama tidak bertentangan dengan kemutlakannya.

  1. B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian berpikir ilmiah ?
  2. Sarana-sarana apa yang dipakai untuk berpikir ilmiah ?
  3. Bagaimana proses berfikir ilmiah ?
  4. Bagaimana sikap ilmiah dapat dibentuk ?
  5. Apa langkah-langkah atau metode berpikir ilmiah ?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Berpikir Ilmiah

Berpikir adalah hasil kerja pikiran. Pikiran manusia dan proses-proses berpikirnya selalu nampak sama misterius dan menakjubkannya seperti alam semsesta. Namun meskipun demikian, pendekatan ilmiah telah semakin memberi andil yang besar bagi pengetahuan.

Selama abad terakhir ini telah banyak kejelasan baru yang didapatkan, mengenai hakekat proses berpikir itu dan sementara pengetahuan baru semakin bertambah, pandangan lama yang sederhana telah digantikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kompleks.

Namun demikian manusia semakin bertanya apa itu berpikir? Apakah semua misteri akan hilang kalau kita sudah memahami dan berfungsinya struktur anatomi kompleks yang kita sebut sistem saraf ini atau apakah berpikir itu memiliki misterinya sendiri?

Plato berpendapat bahwa “Pikir itu adalah organ yang hanya berkaitan denga ide-ide murni, artinya tidak ada hubungannya dengan pengindraan karena pengindraan adalah fungsi badan rendah”[1].

Sementara Edward De Bono berakata bahwa Pikiran itu adalah seuatu sistem pembuat pola, sistem informasi dari pikiran pekerja untuk menciptakan dan mengenal pola-pola tersebut, prilaku ini tergantung pada susunan fungsional dari sel-sel urat saraf dalam otak.[2]

Sedangkan ilmiah artinya berdasarkan ilmu pengetahuan, ilmiah adalah bentuk kata sifat dari ilmu, ilmu berasal dari bahasa arab yang artinya tahu, jadi ilmu secara etimologis berarti ilmu pengetahuan sedangkan secara terminologi ilmu adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri khas dan pensyaratan tertentu, berbeda dengan pengetahuan biasa.[3]

Mungkin untuk sementara kita bisa memakai definisi berpikir itu adalah gejala-gejala nafsiah yang terjadinya karena ada kesadaran didalam diri manusia yang memiliki kemampuan rohaniah untuk membentuk pengetahuan-pengetahuan, data-data ataupun berpikir biasa.

Berpikir adalah serangkaian aktivitas akal budi (rasio) manusia untuk dapat membedakan hal-hal yang memang sama (obyektif) serta mencari nisbat antara kedua hal tersebut untuk mencapai suatu kebenaran (berpikir ilmiah)[4].

Jadi berpikir ilmiah merupakan tahapan ketiga setelah kita berpikir biasa dan berpikir logis. Namun perlu dipahami bahwa pengetahuan ilmiah bukanlah sejenis barang yang sudah siap yang muncul dari dunia fantasi akan tetapi pengetahuan ilmiah merupakan hasil proses belajar dan proses berpikir secara radikal terhadap sekumpulan pengetahuan-pengetahuan tertentu yang relevan dan sejenis yang universal dan kumulatif karena begitu rumitnya suatu ilmu dan karena persoalannya yang kompleks menuntut untuk dipecahkan guna memperolah kebenaran.

Maka cara yang paling efektif dan efesien adalah melalui metode-metode ilmiah, sebelum kita melangkah kepada metode ilmiah maka terlebih dahulu kita memperhatikan apa yang menjadi persyaratan yang diperlukan bagi seseorang yang ingin bepikir ilmiah seperti halnya sarana ilmiah yang meliputi bahasa, matematika, statistika dan logika.

  1. B. Sarana-sarana Berpikir Ilmiah

Adapun sarana berpikir ilmiah adalah sebagai berikut:

  1. 1. Bahasa

Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia, kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan mengganggapnya sebagai suatu hal yang biasa seperti bernafas dan berjalan.[5] Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia tanpa bahasa maka tak ada komunikasi, tanpa komunikasi apakah manusia layak disebut dengan mahluk social?

Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa seperti berpikir sistemastis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan dengan kata lain tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berpikir secara sitematis dan teratur.

  1. a. Pengertian Bahasa dan Fungsinya

Banyak Ahli Bahasa yang telah memberi uraian tentang pengertian bahasa, sudah barang tentu setiap ahli berbeda-beda cara menyampaikannnya. Bloch and Trager menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok social sebagai alat untuk berkomunikasi, sementara Joseph Broam mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbitirer yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok social sebagai alat bergaul satu sama lain[6].

Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, Pengertian Bahasa ada tiga yaitu:

a)    Sistem lambang bunyi berartikulasi (yang dihasilkan alat-alat ucap) yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran

b)   Perkataan-perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa

c)    Percakapan (perkataan yang baik, sopan santun, tingkah laku yang baik).[7]

Jadi bahasa dapat kita cirikan sebagai serangkaian bunyi yang mempunyai makna tertentu dalam suatu kelompok social tertentu.

Para pakar juga berselisih paham dalam hal fungsi bahasa. Aliran filsafat bahasa dan psikolingustik melihat fungsi bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan emosi sedangkan aliran sosiolingustik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk perubahan masyarakat.

Walupun tampak perbedaan, pendapat ini saling melengkapi, yang secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah:

  1. Koordinator kegiatan masyarakat
  2. Penetapan pikiran dan pengungkapan
  3. Penyampaian pikiran dan perasaan
  4. Penyenangan jiwa
  5. Pengurangan kegoncangan jiwa[8]

  1. b. Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah

Untuk dapat berpikir ilmiah, seseorang selayaknya menguasai kriteria maupun langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah, dengan menguasai hal tersebut tujuan yang akan dicapai akan terwujud.

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif, dengan kata lain kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa, menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan benar.

Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungisnya untuk komunikasi disifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah, komunikasi ilmiah ini merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan.[9]

  1. 2. Statistika

Disadari atau tidak, statistika telah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan-pertanyaan seperti; Tiap bulan habis ± Rp. 50.000,- untuk keperluan rumah tangga, ada 60% penduduk yang memerlukan perumahan permanen, 10% anak-anak SD mengalami putus sekolah tiap tahun dan sebagainya. Dunia penelitian atau riset, dimanapun dilakukan bukan saja telah mendapat manfaat yang baik dari statistika tetapi sering harus menggunakannya, untuk mengetahui apakah cara yang baru ditemukan lebih baik dari pada cara yang lama, melalui riset yang dilakukan di laboratorium atau penelitian yang dilakukan di lapangan.[10]

Dalam kamus ilmiah populer, kata statistika berarti table, grafik, daftar informasi, angka-angka. Sedangkan statistika berarti ilmu pengumpulan, analisis-analisis dan klasifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi.[11]

Banyak persoalan Apakah itu hasil penelitian riset atapun pengamatan, baik yang dilakukan khusus ataupun berbentuk laporan dinyatakan atau dicatat dalam bentuk bilangan atau angka-angka kumpulan angka-angka itu sering disusun diatur disajikan dalam bentuk table atau daftar sering pula disertai dengan gambar-gambar yang biasa disebut diagram atau grafik supaya lebih dapat menjelaskan lagi tentang persoalan yang sedang dipelajari.

Jadi ringkasnya bisa kita katakan bahwa statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan data, pengelolaan dan penarikan kesimpulannya berdasarkan kumpulan data dan analisa yang dilakukan.

Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah, sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karasteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.[12]

  1. 3. Matematika

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan, lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya, tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.[13]

Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa verbal, kita berpaling pada matematika. Dalam hal ini kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat mejemuk dan emosional dari bahasa verbal, matematika mengembangkan bahasa numeric yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif sementara dalam bahasa verbal kita hanya bisa membandingkan objek yang berlainan. Umpamanya gajah dan semut maka kita hanya bisa mengatakan bahwa gajah itu lebih besar dari semut.[14] berbeda halnya dengan matematika kita bisa menelusuri lebih jauh seberapa besar gajah dengan mengadakan pengukuran.

Matematika merupakan pengetahuan dan sarana berpikir deduktif. Bahasa yang digunakan adalah bahasa artificial yakni bahasa buatan, keistimewaan bahasa ini adalah terbebas asfek emotif dan efektif serta jelas kelihatan bentuk hubungannya. Matematika lebih mementingkan bentuk logisnya. Pertanyaan-pertanyaan mempunyai sifat yang jelas. Pola berpikir deduktif banyak digunakan baik dalam bidang ilmiah maupun bidang lain yang merupakan proses pengambilan kesimpulan yang di dasarkan pada premis-premis yang kebenarnnya telah ditentukan, misalnya jika diketahui A termasuk dalam lingkaran B sedangkan B tidak ada hubungan dengan C maka A tidak ada hubungan dengan C.[15]

  1. 4. Logika

Logika adalah sarana berpikir sistematis, valit dan dapat dipertanggung jawabkan, karena itu berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar dari pada satu.[16]

Kata Logika dapat diartikan sebagai penalaran karena penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara tertentu.

Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dan dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara benar.[17]

Terdapat dua cara penarikan kesimpulan yakni; Logika Induktif dan Logika Deduktif logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus).

Logika jika dilihat dari segi kualitasnya maka logika dapat dibagi menjadi dua yaitu logika naturalis (al-Mantiq al-Fitri) yaitu kecakapan berlogika berdasarkan akal bawaan manusia, bagaimana pun rendahnya intelegensi seseorang ia dapat membedakan bahwa sesuatu itu berbeda denga sesuatu yang lain. Kemudian logika ilmiah (al-Mantiq as-Suri) yang bertugas membantu logika naturalis, mantiq ini memperluas, mempertajam serta memajukan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti dan efisien.[18]

Logika membantu manusia berpikir lurus, efisien tepat dan teratur mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan.

  1. C. Langkah-Langkah dan Sikap Serta Metode Berpikir Ilmiah

Adapun langkah-langkah untuk berpikir ilmiah adalah:

  1. 1. Objektif:
    1. Metode inter subjektif (untuk semua orang yang berminat)
    2. Bebas dari sifat prasangka
    3. Pembuktian
    4. Kebenaran di dukung oleh bukti-bukti yang nyata
    5. Bebas dari penilaian yang bersifat subjektif
    6. 2. Rasional:
      1. Diarahkan oleh peraturan-peraturan penalaran yang telah dianut dan diterima
      2. Susunan yang sistematis dari fakta-fakta
      3. Kritik pribadi, menganalisa diri sendiri
      4. Skeptis terhadap ide-ide yang ada maupun yang baru dan selalu meneliti kembali fakta-fakta yang telah diterima
      5. 3. Sistematis
        1. Berlangsung dalam cara yang teratur
        2. Kesimpulannya disusun secara rapi dan teratur
          1. c. Tidak bertentangan tetapi konsistensi internal beragam teori harus saling menunjang
          2. d. Generalisasi

Yaitu, Proses berpikir melalui penyelidikan atas fenomena-fenomena yang khusus dalam jumlah yang cukup, kesimpulan umum mengenai semua hal yang terlibat, generalisasi akan mempunyai makna yang penting kalau kesimpulan yang diturunkan dari sejumlah fenomena itu, tetapi juga harus berlaku pada fenomena lain yang sejenis yang belum diselidiki.[19]

Sebelum melangkah kepada berpikir ilmiah ini, terlebih dahulu kita harus bersikap ilmiah dan mengikuti metode ilmiah. Karena sikap ilmiah ini merupakan suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah, sikap adalah manifestasi operasionalisasi jiwa. Berpikir tingkat kejiwaan manusia yang biasa disebut kognisi, terjadinya berpikir karena adanya kesadaran dalam dirinya yang memeliki kekuatan rohaniah oleh karena berpikir itu selalu mengarah dan diarahkan kepada suatu objek pemikiran, maka sikap ini merupakan penampakan dari seseorang yang memiliki jiwa ilmiah. Jiwa ilmiah dapat diketahui dari sikap ilmiah.

D. Sikap Ilmiah

Sikap ilmiah antara lain nampak pada sikap:

  1. 1. Objektif

Sikap objektif dapat diartikan sebagai sikap menyisihkan prasangka-prasangka pribadi atau kecenderungan yang tidak berlangsung. dengan kata lain dapat melihat secara riil apa adanya mengenai kenyataan objek.[20]

Karena dalam suatu penyelidikan yang dipentingkan adalah objeknya, maka pengaruh subjek dalam membuat diskrifpsi, analisa dan hipotesa seharusnya dilepaskan jauh-jauh walaupun kita tidak mungkin menemukan objektivitas yang absolute sebab ilmu itu sendiri merupkan produk budaya manusia sebagai subjek yang sedikit banyaknya akan ikut mewarnainya. Tetapi sikap objektif ini sekurang-kurangnya minimal dapat memperkecil pengaruh peranannya sendiri dan mempersempit prasangka pribadinya. sikap objektif bisa dikatakan sikap tanpa pamrih sebab sekecil apapun pamrih yang tersertakan dalam suatu peninjauan, tentu akan tepat memutar balikan keadaan yang sebenarnya.

  1. 2. Skeptis

Yang dimaksud disini adalah sikap selalu ragu terhadap pertanyaan-pertanyaan yang belum cukup kuat dasar dan buktinya, fakta-fakta maupun persaksian-persaksian autoritas dengan diikuti sikap untuk dapat menyusun pemikiran-pemikiran baru atau sikap ini dapat diartikan sebagai sikap tidak cepat puas dengan jawaban tunggal, kemudian ditelitinya lagi guna membandingkan fenomena-fenomena yang serupa tentang hukum alam, hipotesa, teori dengan dan atau pendapat-pendapat yang lebih actual lagi.[21]

  1. 3. Kesabaran Intelektual

Sikap ini diartikan dengan sikap sanggup menahan diri dan kuat untuk tidak menyerah kepada tekanan-tekanan maupun intimidasi, agar kita menyatakan suatu penelitian ilmiah, karena memang belum tuntas dan belum cukup lengkap hasil penelitian kita tentang sesuatu objek kajian ilmiah, adalah sikap utama ahli ilmu.

Sikap ini dapat juga diartikan sebagai sikap berani memperjuangkan kebenaran dan bahkan mempertanyakannya disertai rasa percaya diri yang wajar (tanpa paksaan atau pesan dari sponsor) baik terhadap kebenaran yang berupa fakta, maupun kebenaran hasil penelitiannya sendiri atau kebenaran hasil karya orang lain.

  1. 4. Kesederhanaan

Sebagai sikap ilmiah adalah sikap kesederhaan dalam cara berpikir, cara mengemukakan pendapat dan cara pembuktian, sikap sederhana adalah sikap di tengah-tengah antara kesombongan intelektual dan stagnasi atau antara superrioritas dan minder atau terlalu optimis dan pesimis, termasuk juga sikap terbuka bagi semua kritikan, berjiwa besar dan lapang dada, rendah hati dan tidak fanatic buta, tetapi penuh toleransi terhadap hal-hal yang diketahuinya maupun yang belum diketahui.

  1. 5. Menjangkau masa depan

Orang yang bersikap ilmiah itu mempunyai wawasan yang luas dan pandangan jauh kedepan serta berorientasi kepada tugasnya. Perkembangan teknologi dan pesatnya kebudayaan pada umumnya menarik perhatian para ilmuan dan karenanya ia berpandangan jauh kemasa depan, sikap ini mendorong dirinya untuk selalu bersikap penasaran dalam mencari kebenaran dan tidak puas dengan apa yang ada faktanya juga tidak lekas putus asa tapi dia senantiasa membuat hipotesa-hipotesa, analisa-analisa atau ramalan-rmalan ilmiah, tentang kemungkinan-kemungkinan dan bukan tentang kemutlakan-kemutlakan.[22]

Seluruh proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang merupakan pengetahuan yang di peroleh melalui berpikir ilmiah dapat disebut sebagai metode ilmiah

  1. E. Metode ilmiah

Secara umum dapat dikatakan bahwa metode ilmiah adalah suatu istilah kolektif yang menunjukkan kepada bermacam-macam proses dan langkah yang dilalui oleh bermacam-macam ilmu dalam perkembangannya, secara lebih khusus metode ilmu pengetahuan yang biasanya terdiri dari enam langkah[23] yaitu:

  1. 1. Menyadari problemnya

Berpikir biasanya bermula jika ada suatu penghalang atau kesulitan atau jika ingin mengetahui tentang sesuatu hal, adalah sangat penting untuk melukiskan problema secara jelas dan benar, tanpa definisi yang jelas tentang suatu problema, kita tak akan tahu fakta mana yang harus dikumpulkan.

  1. 2. Mengumpulkan data/Informasi

Data yang relevan atau yang tersedia, dikumpulkan bagi suatu problem yang sederhana, bahan-bahannya mungkin mudah diperoleh dan mungkin telah ada, tetapi untuk permasalahan yang lebih sukar, mungkin memerlukan penyelidikan dan pengumpulan data dalam waktu yang lama, yang sangat penting disini adalah penyelidikan yang seksama

  1. 3. Menyusun fakta-fakta

Data yang ada ditetapkan dengan cara dianalisa dikategorikan, di klasifikasikan kemudian diperbandingkan dan selanjutnya diatur menurut urutannya

  1. 4. Hipotesa

Bermacam-macam pemecahan dapat dilakukan (membentuk formulasi) dalam proses analisa dan klasifikasi, pemikiran-pemikiran, sangkaan-sangkaan atau dugaan-dugaan sementara yang bersikap ilmiah itu dapat timbul pada waktu penyelidik memeriksa suatu problem atau objek yang menjadi tugasnya, mungkin sekali ia akan memilih hipotesa yang dianggap sangat mungkin atas dasar bukti-bukti yang telah ia kumpulkan tak ada batas tentang hipotesa yang dapat ia lakukan berapa jumlah dan banyaknya, tetapi walaupun tidak ada peraturan yang ketat dalam membentuk hipotesa yang masuk akal, rasional dan logis

  1. 5. Menarik kesimpulan

Dari hipotesa-hipotesa yang terbentuk itu dapatlah ditarik kesimpulan, disini logika formal, bahasa, matematika dan statistika merupakan sarana ilmiah yang banyak membantu dalam (inferensi kesimpulan) itu dan akan memberi dorongan kepada langkah selanjutnya secara tepat dan benar.

  1. 6. Verifikasi

Tahap terakhir dari metode ilmiah adalah menguji kebenaran kesimpulan yang kita tetapkan melalui pengamatan, eksperiment atau mencek konsistensi hipotesa dengan fakta-fakta dan persaksian

Apabila ternyata kesimpulan kita salah, maka kita harus memilih hipotesa-hipotesa lain dan melakukan langkah-langkah metodologis seperti pada hipotesa pertama, sehingga kebenaran sebagai tujuan ilmu itu tercapai.

Dari keenam langkah tersebut diatas dapat diambil dibidang dimana pemikiran reflektif dilakukan, jika metode ilmiah dipahami menurut istilah-istilah umum ini, ia dapat dipakai untuk bidang apa saja yang mengenai pengamalan manusia, baik pada saat mencipta (penemuan-penemuan ilmiah) maupun dalam pemecahan problem ilmiah.

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian pembahasan makalah diatas, penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berpikir ilmiah adalah serangkaian aktivitas akal budi (rasio) menusia, untuk dapat membedakan hal-hal yang memang berbeda dan menyamakan hal-hal yang memang sama (objektif), serta mencari nisbat antara kedua hal tersebut untuk mencapai suatu kebenaran.
  2. Sarana-sarana yang dipakai untuk berpikir ilmiah adalah bahasa, matematika, statistika dan logika
  3. Proses berfikir ilmiah adalah merupakan sekumpulan Langkah-langkah berpikir yang bersifat objektif, rasional, sistematis dan generalisasi
  4. Sikap ilmiah dapat dibentuk dari sikap objektif, skeptis, kesabaran intelektual, kesederhanaan dan menjangkau masa depan
  5. Sedangkan langkah-langkah atau Metode berpikir ilmiah terdiri dari menyadari problem, mengumpulkan data atau informasi, menyusun fakta-fakta, hipotesa serta verifikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bahtiar, Amsal, Prof. Dr, Filsafat Ilmu, (Cet. I; PT. Grafindo Persada; Jakarta; 2004)

De Bono, Edwar, Literal Thingking, Alih Bahasa Sutoyo Judul: Berpikir Literal, (Cet. III, PT. Gelora Aksara Pratama; Jakarta: 1991)

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Gie, The Liang, Pengantar Filsafat Ilmu, (Cet. V; Liberty: Yogyakarta: 2000)

Kafie, Jamaluddin, Berpikir Apa dan Bagaimana, (Indah; Surabaya: 1989)

Muhaimin, Abdul Mujid, Pemikiran Pendidikan Islam, (Trigenda Karya; Bandung: 1993)

Mundiri, Drs, Logika, (Rajawali Press; Jakarta; t.th)

S. Suria Sumantri, Jujun, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Cet. 13: Pustaka Senar Harapan: Jakarta, 2001)

Surjana, Prof. Dr, Metode Statistika, (Edisi VI,Tartito; Bandung: 1996)


[1] Edwar De Bono, Literal thingking, Alih bahasa, Sutoy, Berpikir Literal (Cet. III; PT. Gelaora Aksara Pratama; Jakarta: 1991) h. 29

[2] Jamaluddin Kafie, Berpikir Apa dan Bagaimana, (indah; Surabaya: 1989), h. 12

[3] Jamaluddin Kafie…Op. Cit., h. 85

[4] Ibid., h. 14

[5] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Cet. I, Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2004), h. 175

[6] Ibid., h. 176 – 177

[7] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II (Cet. IV, Jakarta, Balai Pustaka: 1995), h. 77

[8] Amsal Bakhtiar, Op. Cit., h. 180

[9] Ibid., h. 184

[10] Prof. Dr. Surjana, Metode Statistika (Edisi VI, Tartito, bandung: 1996), h. 1

[11] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa IndonesiaOp. Cit., h. 962

[12] Prof. Dr. Surjana, Op. Cit., h. 3 dan lihat juga Amsal Bakhtiar, Op. Cit., h. 206

[13] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Cet. 13, Pustaka Sinar harapan; Jakarta: 2001), h. 190

[14] Amsal Bakhtiar, Op. Cit., h. 189

[15] Ibid., h. 192

[16] Ibid., h. 212

[17] Drs. Mundiri, Logika, (Rajawali Press, Jakarta: t.th), h. 8

[18] Ibid., h. 13 – 14

[19] Jamaluddin kafie, Berpikir Apa dan Bagaimana…Op. Cit. h. 92

[20] Ibid., h. 93

[21] Ibid., h. 94

[22] Ibid., h. 95

[23] Ibid., h. 96 – 98. Lihat juga, Abdul Mujid Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam, (Trigenda Karya, Bandung: 1993), h. 91 – 92 dan bandingkan The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Cet. V, Liberty, Yogyakarta: 2000), h. 118

About these ads

Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: