HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA DALAM PEMBINAAN HUKUM ISLAM

HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA DALAM PEMBINAAN HUKUM ISLAM

Oleh : Syekhuddin

I. Pendahuluan

Dalam suatu komunitas masyarakat, adanya seorang pemimpin merupakan suatu hal yang sangat penting, mengingat keberadaan pemimpin tersebut baik dalam kapasitasnya sebagai pemimpin agama ataupun sebagai pemimpin negara sangat menunjang tercapainya kedamaian dan ketentraman di muka bumi ini.

Urgennya keberadaan kepemimpinan ini dapat kita lihat pada waktu Nabi kita Muhammad saw. meninggal, hal yang pertama kali dilakukan oleh kaum muslimin adalah berupaya untuk menemukan dan mengangkat seorang pemimpin baru lebih dahulu dari pada pengurusan jenazah beliau. Hal ini menggambarkan kepada kita betapa dalam suatu masyarakat, keberadaan seorang pemimpin adalah merupakan suatu hal yang sangat urgen, karena dalam suatu masyarakat adanya kekosongan kepemimpinan akan membawa kepada keadaan yang kacau balau karena tidak ada yang dapat mengarahkan komunitas masyarakat tersebut.

Dalam Islam keberadaan kepemimpinan umat pada awalnya yaitu pada masa Rasul saw., dalam pemerintahannya pemimpin agama dan pemimpin negara berada dalam satu tampuk kepemimpinan yaitu di tangan Nabi saw. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ketika akhir masa Khulafa’ al-Rasyidin, atau tepatnya ketika memasuki masa Dinasti Umayyah, keadaan kepemimpinan umat Islam sudah mulai terpecah, di mana seorang Khalifah pada umumnya tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup, maka persoalan keagamaan diserahkan sepenuhnya kepada ulama. Di mana pada masa pemerintahan Bani Umayyah ini mereka menyelenggarakan administrasinya di Damaskus, sementara ulama yang ahli hukum terpusat di Madinah.[1]



Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: