Mereka Bicara JK: Kesaksian Para Pengawal

ORANG bijak berkata, “Kalau ingin mengetahui rahasia ataupun baik buruknya seseorang, bicaralah dengan orang dekatnya. Kadang keburukan seseorang justru lebih terurai lewat orang yang paling dekat ketimbang orangnya langsung.”

Pengawal adalah orang dekat kedua dengan seorang pejabat negara setelah istri. Para pengawal dipastikan lebih sering pasang badan di sisi sang pejabat ketimbang para anak dan kerabat lain.
Tak sedikit pejabat penting yang rontok akibat “nyanyian” para pengawal. Pun banyak kebaikan dan kearifan sang pejabat yang mengapung dari ungkapan para pengawal.
Para pengawal rata-rata jauh dari sikap “berkomentar untuk mendongkrak karier”, makanya ungkapan mereka tentang figur kawalan bisa disebut lebih murni dan orisinil.
Sangat sulit seorang pejabat menampilkan kepura-puraan di depan pengawal. Apalagi terhadap pengawal yang menapaktilasi langkah sang pejabat selama lima tahun.
Berikut kesaksian pengawal Kalla dikutip dari buku Mereka Bicara JK.

Letkol Kav Moh Hatta Usmar Rukka (Dandem Pampri RI2):
“Dengan segera saya panggil supir menanyakan bagaimana kejadiannya, kenapa tangan Pak JK bisa kejepit? Ternyata Pak JK tadi membuka dan menutup jendeal sendiri untuk melambaikan tangannya kepada masyarakat yang ada di sepanjang perjalanan tadi. Coba bayangkan sakitnya, jendela mobil dinas Bapak sangat tebal dan beratnya 100 kilogran lebih! Tapi Bapak tidak mengeluh atau berteriak kesakitan. Beliau diam saja, sampai pengemudi dan ajudan tak tahu kalau tangan Bapak terjepit sampai bengkak.”

“Waktu ke KTT Liga Arab Maret 2007, pengamanan hanya seperlunya, kami mengawal hanya bertiga. Saya bertugas menjaga di kamar Bapak karena Bapak tidak sama ibu. Saya berjaga di ruang tamu, Bapak tidur di kamar. Makin malam, saya mulai merebahkan badan, tiba-tiba saya tersadar Bapak membangunkan saya, “Hatta, Subuh jam berapa?” Saya gelagapan. Ternyata saya tertidur.”

Brigjen Pol Syafrudin (Ajudan Wapres RI):
“Ada kejadian lucu dalam dua minggu pertama itu, yaitu saya ketinggalan. Beliau langsung masuk mobil tanpa berpikir ada ajudan atau tidak. Jadi beliau yang menunggu saya. Pernah juga, suatu ketika saua sudah lapor bahwa kita berangkat setengah sepuluh, tapi beliau turun setngah 10 kurang 10 dan langsung ke mobil, semantara saya, yang memperhitungkan masih ada waktu 10 menit lagi, sedang di kamar mandi. Jadilah beliau menunggu saya.”

Kolonel Penerbang Asnam (Ajudan Wapres):
“Saya juga terkesan terhadap sisi keagamaan beliau. Pak JK sering mengingatkan, kematian akan tiba kapan saja dan di mana saja, karena itu tidak boleh sombong atau merasa besar di dunia ini. Sungguh beliau merupakan sosok yang nothing to loose.”

Kol Inf Meris Wiryadi (Ajudan Wapres):
“Yang tidak pernah saya lupakan adalah Bapak dan Ibu JK memberikan nama buat anak saya yang keempat, paling kecil: Naila Rahma Pratiwi. Bahkan Ibu Mufidah sempat datang ke rumah saya di Tangerang untuk menjenguk. Pak JK sering juga bertanya kepada saya, apa kamu tidak kangen anak-anak karena sering berdinas keluar kota atau lainnya? Saya jawabm “siap, tidak Pak, kan berdinas’. Sangat menyenangkan menjadi ajudan Pak JK.”

Sabryna Hanoum Danusaputra (Sekretaris Pribadi Wapres RI):
“Suatu kali pada saat Idul Fitri hari pertama, Bapak memanggil saya dan bertanya,’Kau hitung semua orang yang suka sapu-sapu di halaman Istana Wapres’. Setelah saya hitung, saya laporkan kepada beliau, dan ternyata saat itu juga Bapak memberikan THR epada mereka. Saya kagum, dalam posisinya yang sangat tinggi dan di tengah kesibukannya, beliau masih memikirkan orang-orang kecil di sekelilingnya.”

Pelda Marinir Perantau Jaya (Sopir Pribadi Wapres):
“Pak JK bertanya, ‘Pak Supir, sudah berapa lama kamu di sini?
Cukup lama, Pak?
Dari zaman siapa?
Dair zaman Pak darmono, Pak Tri, Gus Dur, Megawati, Hamzah Haz.
Cukup sudah ya pengalamanmu ya.. Kalau kau pintar, kau bikin buku,” kata Pak JK lagi.
“Saya senangnya dalam mengemudikan kendaraan Pak JK tidak pernah mengatur dalam hal kecepatan. Beliau tenang saja, tidak pernah komplain. Aktivitas Pak JK setelah berada di dalam mobil dan jalan, biasanya Pak JK menelepon. Pak JK tidak pernah tertidur dalam mobil, dan dalam perjalanan Pak JK suka mengamati suasana jalan dan berdiskusi.”(syekhuddin/as kambie)

Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: