Puasa dan Solusi Jusuf Kalla

Oleh: Supa Atha`na Direktur eLSIM dan Iranian Corner Unhas

Bulan Ramadan,2006, ada peristiwa menarik yang dialami Jusuf Kalla. Pelayan sebuah kafe di Madrid, Spanyol, dengan berani menegur dan mendebat Jusuf Kalla.
Saat itu, Kalla masih menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.Jusuf Kalla bersama 12 orang rombongan yang ikut lawatan dari Amerika Serikat, menuju Jerman lalu ke Madrid. Sekitar pukul lima sore waktu setempat, rombongan mencari sebuah kafe untuk minum kopi. Kebetulan memang hampir semuanya sudah berniat untuk tidak berpuasa dengan alasan sedang dalam perjalanan (musafir).
“Kami pesan kopi,” kata Jusuf Kalla. Pelayan datang terus bertanya;”Anda Muslim?” “Ya,” jawab Jusuf Kalla. “Lho, kenapa tidak puasa?”kata pelayan tadi.
Menghadapi konflik masalah puasa dengan Hamad, nama pelayan toko yang berasal dari Maroko, Jusuf Kalla maju dengan penuh keyakinan dan bekal pengetahuan agama yang dimilikinya menerangkan bahwa logika keberatan pelayan untuk tidak mau berdamai memberikan hak kenyamanan dan menikmati karunia Tuhan untuk menyuguhkan kopi adalah salah. Jusuf Kalla berkeyakinan bahwa seorang muslim yang sedang musafir tidak wajib puasa di bulan Ramadan. Oleh karena itu, ia ingin menikmati fasilitas, kemudahan, dan kenyamanan yang Tuhan berikan kepada hamban-Nya, maka ia dan rombongan berbuka di siang hari tersebut.
Adapun si Hamad tetap bertahan dengan logiknya sendiri akan tetapi tetap menyuguhkan kopi dengan syarat bahwa Jusuf Kalla tetap harus puasa esok hari dan jangan memudahkan kondisi musafir. Jusuf Kalla mengiyakan saran dan pendapat si Hamad tetapi belum tentu sepakat dan melaksanakan sebab Jusuf Kalla punya keyakinan yang kuat dengan pendapatnya sendiri. `Iya’ disitu tidak berarti harus menerima pendapat si Hamad akan tetapi lebih pada sikap penghargaan dan penghormatan serta toleransi guna sebagai strategi untuk mencari soulsi demi mencapai tujuan damai dalam mewujudkan dan melaksanakan sekaligus rasa syukur atas fasilitas dari perintah Tuhan.
Konflik puasa itu menunjukkan bahwa Jusuf Kalla dalam menyelesaikan sebuah persoalan untuk mencapai perdamaian bertumpu pada sikap keyakinan logika, pemahaman yang utuh dan kebenaran argumentasi, kepercayaan diri yang tinggi akan tetapi pada saat yang sama harus bisa saling memahami, menghormati, dan toleran dengan orang lain.
Pemahaman dan keyakinan logika berkenaan seorang musafir ditekankan tidak puasa di Bulan Ramadan dalam keadaan musafir berdasarkan ayat quran: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (Q.S.Al-Baqarah:185).”
Dalam konteks logika Jusuf Kalla ketika tidak puasa dalam perjalanan berdasarkan ayat tersebut adalah dalam kerangka mewujudkan kemudahan guna mensyukuri fasilitas yang diberikan dan disediakan oleh Tuhan bagi umat-Nya. Aturan agama memang pada prinsipnya ada untuk memudahkan umat manusia. Aturan agama juga tidak membenarkan penyikapan secera berlebihan. Di dalam Al-Quran Allah Subhanahu wa Taala beberapa kali telah memberi peringatan kepada ahli-kitab agar tidak berlebih-lebihan dalam agama mereka yaitu menambah-nambahkan perkara yang tiada. (Surah Al-Maidah : 77 dan An-Nisa :171). Oleh kerana itu Rasulullah SAW melarang umatnya dari bersikap berlebih-lebihan dalam agama. Dalam sebuah hadisnya Rasulullah SAW berpesan yang bermaksud : “Jauhilah oleh kalian akan sikap berlebihan dalam agama karena binasanya umat terdahulu adalah sikap melampaui batas dalam agama” (Sahihah no. 1283). Salah satu sikap berlebihan tersebut adalah ketika Tuhan memberikan kemudahan lalu mengabaikannya? Salah satu contoh adalah saran Hamad kepada Kalla.
Mengapa berlebihan? Karena sudah jelas ketentuan ayat bahwa seorang musafir harus menggantikan puasanya di hari yang lain (awala safarin faaiddatun min ayyaumin ukharo). Ayat itu menggunakan fa `jawabussyart’ sekaligus menyatu dengan fiil amr dalam kata `faiddatun’. Fil amr adalah sebuah perintah dan penekanan pelaksanaan. Jadi pemahaman terhadap ayat tersebut adalah maka barang siapa dalam perjalanan maka seharusnya menggantinya pada hari yang lain. Artinya, seorang musafir sebaiknya berbuka puasa.
Oleh karena itu saya akan megikuti pilihan Kalla untuk tidak puasa bila dalam keadaan musafir dan tidak akan mengikuti saran Hamad walaupun saya tetap menghormati dan tetap toleran terhadap pendapatnya.
Kisah menarik Kalla yang lain seputar puasa dan Bulan Ramadan ketika ia memberlakukan kenaikan tarif listrik. Menurutnya, ini mesti dilakukan di Bulan Ramadan sebab masyarakat yang puasa tidak akan marah dan tentunya masyarakat tidak akan demo.
Kisah itu menunjukkan gaya solusi Kalla yang- kalau boleh-di sebagai sebagai gaya solusi pragmatis humanis. Disebut demikian karena Kalla mampu memanfaatkan hal yang praktis dan peluang yang ada untuk mencari dan mendapatkan solusi dari konflik yang ada baik itu solusi perdamaian dalam lingkup diri pribadi dengan orang lain, maupun pada tingkat yang lebih luas antara pemerintah dan rakyat, maupun hubungan perdamaian antar bangsa.
Solusi diplomasi pragmatis humanis juga merupakan sebuah kesadaran terhadap relativitas, keterbatasan dan kesementaraan pengetahuan manusia. Kesadaran itu membuat Jusuf Kalla bersikap selalu siap untuk berdialog dengan pihak manapun. Oleh karena itu, Jusuf Kalla begitu akrab dan populer dengan sikapnya yang egalitarian; mau mendengarkan pendapat anak-anak, rakyat umum hingga berani melakukan debat dengan orang yang dipandang sangat ahli dalam sebuah bidang studi tertentu.
Dalam solusi diplomasi pragmatis humanis ini juga mendesakkan sebuah kondisi untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia, masyarakat, negara dan dunia dalam waktu pendek atau mendesakkan sesuatu yang punya dampak langsung terhadap kebutuhan pokok manusia pada umumnya . Kalla selalu menempatkan kebutuhan praktis manusia harus didahulukan walaupun harus melabrak pakem-pakem yang konvensional dan menggantinya dengan memakai sebuah cara atau menyusun sebuah pengetahuan terbaru dan yang terbaik. Selanjutnya, menetapkan sebuah target jangka menengah dan jangka panjang yang melibatkan sebuah reformasi fundamental atau inovasi. Karena bagi Kalla hal-hal lain tidak bisa dicapai kalau kebutuhan dasar tidak terpenuhi.
Pada akhirnya gaya solusi pragmatis humanis Jusuf Kalla ini sangat sejalan dengan beberapa semangat puasa Bulan Ramadan yaitu: Pertama, memanfaatkan dan memaksimalkan sesuatu yang telah ada sebelumnya. Puasa Ramadan adalah sebuah tradisi yang telah dilakukan pada umat-umat terdahulu. Kedua, keinginan untuk memudahkan umat manusia. Ketiga, mendesakan hal-hal yang fitrawi dan berkenaan kebutuhan pokok manusia. Keempat, harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan kemampuan yang maksimal. Kelima, harus berdasarkan pandangan dan pemahaman yang utuh serta logika yang kuat. Keenam, punya ketegasan sikap dan kekukuhan kepribadian tanpa harus mengorbankan yang namanya sikap menghormati , menghargai, dan toleran terhadap pendapat dan keyakinan orang lain. Bagi yang tidak berpuasa hormatilah orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sebaliknya bagi yang berpuasa hormatilah pula orang yang tidak menjalan puasa, karena mungkin disitu ada orang-orang yang lagi sakit, anak kecil,wanita yg datang bulan, wanita yang sedang menyusui bayinya, para musafir , para pekerja berat yang harus menghidupi seluruh isi keluarganya, kaum non Muslim tidak terkena wajib puasa, dan lain-lain. Persilahkanlah mereka untuk makan-minum kapan saja mereka perlukan, dan kita tidak Perlu tersinggung dalam hal ini. Ketujuh, adalah menunjukkan rasa empati dan simpati pada kehidupan orang lain. Dengan faktor-faktor tersebut maka puasa di Bulan Ramadan kali ini dan solusi diplomasi pragmatis humanis bisa dipahami dan dilaksanakan dengan lebih cepat dan lebih baik. Selamat berpuasa!


Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: