Category Archives: Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat

EVALUASI KEBUTUHAN GIGITIRUAN PADA USIA LANJUT

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari harapan hidup penduduknya. Demikian juga di Indonesia, sebagai suatu negara berkembang, dimana usia harapan hidup penduduknya juga makin meningkat. Berdasarkan badan pusat statistik tahun 1992, jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia, pada tahun 2000 diproyeksikan sebesar 7,25% dan pada tahun 2020 sebesar 11,34%. Hal ini tidak saja terjadi di Indonesia, tapi dapat juga dilihat pada negara maju seperti di Amerika, yang mana jumlah penduduk usia lanjut meningkat jadi 22%. Dengan perbandingan lebih banyak wanita dibandingkan pria. Hal ini berdasarkan pada sensus tahun 1980, dimana pada usia 65 tahun ada sekitar 79,4 pria pada setiap 100 wanita. (1,2).

Proses menua adalah proses fisiologis yang dialami oleh semua manusia seiring dengan bertambahnya usia. Meskipun proses ini berusaha dihindari, tetapi tetap harus dijalani. Kemunduran fungsi merupakan salah satu akibat proses menua. (3)

Pada usia lanjut ini, terjadi perubahan-perubahan degeneratif, fisiologis dan biologis yang sangat kompleks pada jaringan tubuh. Rongga mulut juga mengalami perubahan baik pada jaringan keras maupun pada jaringan lunak mulut. Gambaran klinis yang sering terlihat adalah mukosa mulut menjadi lebih pucat dan kering, mudah mengalami iritasi, atrisi gigi dan hilangnya gigi, berkurang aliran saliva, menurunnya persepsi terhadap rasa. (1) Adanya kasus karier yang cukup  berarti, dimana karier akan menyerang lebih dari 63%, penderita usia 65-69 tahun dan menyerang lebih dari 70% penderita usia 75-79 tahun.(5) Edentulous pada usia lanjut juga mempunyai prevalensi yang sangat tinggi. Sampai hari ini dilaporkan terdapat kasus edentulous sekitar sepertiga sampai seperdua dari populasi usia 65 tahun keatas pada kebanyakan negara industri. Bahkan terdapat kasus yang lebih banyak lagi pada negara berkembang. (6, 7)

Kebutuhan akan perawatan medik yang memadai merupakan faktor yang penting dalam kehidupan dan pada golongan usia lanjut memerlukan pelayanan yang lebih kompleks. Sehubungan dengan harapan hidup yang telah berlipat ganda selama abad ini dan kebutuhan gigitiruan yang akan naik, sudah saatnya kita menelaah perawatan gigi, khususnya ditinjau dari segi prostodontik pada usia lanjut. (8)

Pada masa depan, perawatan gigi tiruan akan lebih bervariasi dan rumit. Fakta menunjukkan bahwa pasien cenderung menunda perawatan gigi tiruan sehingga timbul kesulitan dalam pembuatannya karena terjadi kerusakan yang lebih parah. (9) Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, dokter gigi sebagai salah satu tenaga di bidang kesehatan perlu mengetahui keadaan-keadaan rongga mulut pada usia lanjut agar dapat memberikan perawatan yang sebaik-baiknya. (4)

I.2. Rumusan Masalah

“Usila” adalah kelompok usia lanjut yang saat ini mengalami peningkatan populasi dikarenakan adanya peningkatan usia harapan hidup di Indonesia. Keadaan ini akan membawa dampak pada berbagai masalah kehidupan yang saling berkaitan. (1,2)

Proses menua mengakibatkan perubahan-perubahan struktural yang merupakan proses degeneratif, akibat terjadinya kemunduran fungsi organ dalam tubuh yang berkaitan dengan status kesehatan. Kebutuhan akan perawatan medik (termasuk perawatan dan rehabilitatif dental) merupakan faktor penting dalam kehidupan usila karena memerlukan pelayanan yang lebih kompleks. (1,4,8)

Berdasarkan realita diatas, maka dipandang perlu dan penting untuk :

  1. Mengetahui persentase kehilangan gigi, gigi goyang derajat 3, dan sisa akar pada usia lanjut ³ 60 tahun khususnya pada suku Mandar di Kabupaten Majene Sulawesi Barat.

  2. Mengetahui persentase kebutuhan gigitiruan sebagian dan penuh berdasarkan jenis kelamin pada usia lanjut ³ 60 tahun khususnya pada suku Mandar di Kabupaten Majene Sulawesi Barat.
  3. Mengetahui persentase kebutuhan gigitiruan sesuai dengan klasifikasi Kennedy pada usia lanjut ³ 60 tahun khususnya pada suku Mandar di Kabupaten Majene Sulawesi Barat.

I.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk :

  1. Mengetahui persentase kehilangan gigi, gigi goyang derajat 3, dan sisa akar pada usia lanjut ³ 60 tahun khususnya pada suku Mandar di Kabupaten Majene Sulawesi Barat.
  2. Mengetahui persentase kebutuhan gigitiruan sebagian dan penuh berdasarkan jenis kelamin pada usia lanjut ³ 60 tahun khususnya pada suku Mandar di Kabupaten Majene Sulawesi Barat.
  3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi Departemen Kesehatan Kabupaten Majene dalam rangka pembinaan dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut terhadap usia lanjut di Kabupaten Majene pada masa yang akan datang.
  4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu bahan bacaan.
  5. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan menjadi pengalaman berharga bagi penyusun.
  6. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sehingga dapat mempertahankan keadaan gigi dan mulut yang sehat selama mungkin.

  7. Mengetahui persentase kebutuhan gigitiruan sesuai dengan klasifikasi Kennedy pada usia lanjut ³ 60 tahun khususnya pada suku Mandar di Kabupaten Majene Sulawesi Barat.

Iklan

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL PADA NY. N KEHAMILAN 38 – 40 MINGGU DENGAN PRE EKLAMPSIA RINGAN DI RSIA SITTI FATIMA TANGGAL 04 – 11 APRIL 2005

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pembangunan nasional adalah pembangunan yang berwawasan kesehatan. Visi Indonesia Sehat 2010, merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan yakni masyarakat bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 1999)

Dalam sistem kesehatan nasional dinyatakan bahwa tujuan pembangunan kesehatan nasional adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi semua penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Termasuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat untuk pembangunan manusia yang berkualitas.

Tujuan utama setiap kehamilan agar berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna dan ibu yang sehat. Tetapi dalam kenyataan hal ini selalu berjalan dengan tidak lancar, seringkali proses pengembangan janin intrauterine mendapat gangguan, yang mana gangguan tersebut dapat terjadi pada setiap tahap, tergantung pada tahap dimana gangguan itu terjadi, maka hasil kehamilannya dapat abortus, prematur, atau cacat bawaan.

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan tidak semata-mata berada di tangan pemerintah melainkan tanggung jawab bersama dari setiap individu dan masyarakat. Karena apapun peran yang dimainkan oleh pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dicapai.

Salah satu fenomena utama yang mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan adalah masih rendahnya upaya dan derajat kesehatan yang ditandai dengan angka kematian ibu yang masih tinggi. Dewasa ini derajat kesehatan ibu masih rawan ini ditandai dengan tingginya dan lambatnya penurunan angka kematian ibu yaitu sebesar 337/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1991) menjadi 421/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1992). Berdasarkan data internet bahwa tingginya angka kematian ibu sesuai data survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2003 yakni 307/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih lebih tinggi 3 – 6 kali dibanding di negara-negara Asean lainnya atau 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju (http//www.Depkes.90id/index.php?option:news&task=viewarticle&sid=445 itemid = 2 diakses 25 September 2005, pukul 20.00 Wita)

Di Indonesia ada 3 penyebab kematian ibu yaitu perdarahan sekitar antara 40% sampai 60% dari total angka kematian ibu hamil pre eklampsia/eklampsia 20 – 30% dan infeksi jalan lahir 20 – 30% (http.//orienta.co.id/kesehatan/beritasehat/ detail.php?id=2125) diakses 25 September pukul 19.55 Wita).

Diharapkan angka kematian ibu dapat diturunkan dari 307/100.000 kelahiran hidup menjadi 150/100.000 kelahiran hidup di tahun 2010 (Depkes RI. 2004)

Frekwensi kejadian preeklampsia dilaporkan sekitar 3 – 10% dari kehamilan (Mochtar Rustam, 1998 hal. 201)

Di Sulawesi Selatan dilaporkan jumlah kematian ibu maternal di tahun 2003 September 184 orang diantaranya ibu hamil 53 orang, ibu bersalin 75 orang dan ibu nifas 56 orang (Dinkes Propinsi Sulawesi Selatan, 2004 Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2003).

Sesuai data yang kami peroleh di RSIA Sitti Fatima Makassar berdasarkan data periode 1 Januari – 31 Oktober 2004 terdapat 49 ibu hamil yang didiagnosis pre eklampsia dari 3.210 ibu hamil yang memeriksakan diri diantaranya 29 ibu hamil yang didiagnosis bereklampsia ringan dan 20 ibu hamil yang didiagnosis pre eklampsia berat sedangkan yang didiagnosis eklampsia terdapat 4 ibu hamil.

Upaya pemerintah dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah pergerakan Tim Dati II, pengembangan daerah binaan intensif Dati II, penerapan penjagaan mutu pelayanan KIA, peningkatan KIA yang terkait langsung dengan upaya pencegahan kesakitan dan kematian ibu serta upaya promotif untuk berbagai kelompok sasaran dan pemantapan peran serta masyarakat.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa penyebab langsung kematian ibu dapat dideteksi dan dicegah pada masa kehamilan yakni dengan pelaksanaan asuhan kehamilan atau biasanya dikenal Antenatal Care.

Pembahasan kasus pre eklampsia ringan pada karya tulis ini dilatar belakangi pada kejadian pre eklampsia ringan sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat timbul pre eklampsia berat bahkan eklampsia. Oleh sebab itu penulis terdorong untuk menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Kebidanan khususnya pada preeklampsia ringan yang diuraikan 7 step di RSIA Sitti Fatima Makassar.

Dengan penerapan Manajemen Asuhan Kebidanan yang adekuat teratur diharapkan dapat mendeteksi lebih dini keadaan-keadaan yang tergolong resiko kehamilan atau persalinan baik terhadap ibu maupun janin sehingga setiap kehamilan yang diinginkan pada akhirnya lahir seorang bayi yang sehat tanpa mengganggu kesehatan ibunya.

Berdasarkan masalah tersebut, maka penulis tertarik untuk membahas kasus yang tertuang dalam kasus yang berjudul Manajemen Asuhan Kebidanan dengan Kasus Pre Eklampsia Ringan di RSIA Sitti Fatima Makassar.

B.     Ruang Lingkup Pembahasan ­

Adapun yang menjadi ruang lingkup pembahasan penulisan makalah ini adalah Manajemen Kebidanan Ante Natal Care pada Ny. N dengan kasus preklampsia ringan di RSIA Sitti Fatima Makassar yang dilakukan selama tujuh hari yaitu mulai tanggal 22 – 9 – 2002 sampai tanggal 29 – 9 – 2002.

C.    Tujuan Penulisan

1.      Tujuan Umum

Mampu melaksanakan Manajemen Asuhan Kebidanan pada kasus preeklampsia ringan sesuai wewenang bidan.

2.      Tujuan Khusus :

  • Dapat melaksanakan pengkajian pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Dapat melaksanakan identifikasi diagnosa/masalah pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Dapat melaksanakan identifikasi diagnosa/masalah potensial pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Dapat melaksanakan identifikasi perlunya tindakan segera, konsultasi dan kolaborasi pada Ny. N dengan kasus pre eklampsia ringan.
  • Dapat menyusun rencana tindakan pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Dapat melaksanakan implementasi secara langsung rencana tindakan asuhan pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Melaksanakan evaluasi efektivitas asuhan yang akan dicapai pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Membuat dokumentasi pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.

D.    Manfaat Penulisan

  1. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Diploma Tiga Kebidanan pada Akademi Kebidanan Depkes Makassar.
  2. Bagi institusi merupakan masukan tentang penerapan manajemen kebidanan dengan kasus preeklampsia ringan.
  3. Dapat meningkatkan kualitas pelayanan klien di RSIA Sitti Fatima Makassar dalam penerapan manajemen kebidanan dengan kasus preeklampsia ringan.
  4. Meningkatkan keterampilan penulis dalam melakukan manajemen kebidanan pada kasus preeklampsia ringan.

E.     Metode Penulisan

1.      Studi Kepustakaan

Dalam metode ini penulis membaca dan mempelajari buku-buku, literatur-literatur yang berkaitan dengan preeklampsia.

2.      Studi Kasus

Melalui asuhan kebidanan pada ibu yang berkunjung di RSIA Siti Fatima yaitu terdiri dari tujuh langkah sebagai berikut : kajian dan analisa data, diagnosa masalah aktual, diagnosa masalah potensial, identifikasi tindakan segera, rencana tindakan, implementasi dan evaluasi dari asuhan yang diberikan terhadap ibu. Untuk menghimpun data/informasi dalam pengkajian digunakan cara : pemeriksaan fisik secara sistematis pada ibu mulai dari inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, dan pemeriksaan laboratorium.

3.      Studi Dokumentasi

Dalam manajemen kebidanan dengan kasus pre eklampsia ringan, penulis membaca dan mempelajari status yang berhubungan dengan keadaan klien baik bersumber dari bidan, dokter, maupun pemeriksaan penunjang lainnya.

4.      Diskusi

Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab dan diskusi dengan klien, bidan, dokter asisten Obgyn, pembimbing karya tulis dan rekan-rekan seprofesi lainnya.

F.     Sistimatika Penulisan

Sistimatika penulisan dari karya tulis ini adalah :

BAB I           PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Ruang Lingkup Pembahasan
  3. Tujuan Penulisan
    1. Tujuan Umum
    2. Tujuan Khusus
    3. Manfaat Penulisan
    4. Metode Penulisan
    5. Sistematika Penulisan

BAB II          TINJAUAN PUSTAKA

  1. Dasar Teori Antenatal Care
  2. Pengertian Antenatal Care
  3. Tujuan Antenatal Care
  4. Pemeriksaan Ibu Hamil
    1. Anamnesis
    2. Pemeriksaan
    3. Diagnosis
    4. Pemeriksaan kehamilan ulangan
    5. Penanganan Kehamilan
      1. Dasar Teori Pre Eklampsia
        1. Pengertian Pre Eklampsia
        2. Etiologi Pre Eklampsia
        3. Patofisiologi Pre Eklampsia
        4. Gambaran Klinik Pre Eklampsia
        5. Diagnosis Pre Eklampsia
        6. Pencegahan Pre Eklampsia
        7. Penanganan Pre Eklampsia Ringan
    6. Dasar Teori Manajemen Kebidanan
      1. Pengertian Proses Manajemen Kebidanan
      2. Proses Manajemen Kebidanan
        1. Step I          Pengumpulan Data
        2. Step II         Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
        3. Step III       Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial
        4. Step IV       Menilai perlunya tindakan segera, konsultasi dan kolaborasi
        5. Step V         Pengembangan rencana asuhan
        6. Step VI       Mengimplementasikan langsung rencana asuhan
        7. Step VII      Evaluasi efektivitas asuhan kebidanan
      3. Jenis Pendokumentasian Manajemen Kebidanan

BAB III        STUDI KASUS

BAB IV        PEMBAHASAN

BAB V          KESIMPULAN DAN SARAN

LAMPIRAN DAN DAFTAR PUSTAKA