Category Archives: Fakultas Pendidikan dan Keguruan

PENDIDIKAN;INTERDEPENDENSI PENGAJARAN SASTRA DENGAN PENGAJARAN BAHASA DALAM PENCAPAIAN TUJUAN PENGAJARAN SASTRA BERDASARKAN KURIKULUM 1994

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pengajaran sastra di sekolah tidak berdiri sendiri sebagai sebuah mata pelajaran yang mandiri, melainkan hanya menjadi bagian mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sastra yang dalam kurikulum 1984 ditegaskan dengan sebutan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia hanya merupakan salah satu pokok bahasan dari sejumlah bahasa lain yang terdapat dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam kurikulum 1994, sastra dipadukan ke dalam empat pokok bahasan yang lain secara terpadu. Teks sastra tidak hanya dipakai untuk pembelajaran tata bahasa, pemekaran kosa kata, atau kegiatan berbahasa yang lain.

Terhadap pengajaran sastra kita dewasa ini, banyak keluhan yang muncul di tengah masyarakat, baik dari kalangan sastrawan para ahli pendidikan dan pengajar, maupun dari guru sastra itu sendiri. Sebab, banyak mata pelajaran sastra tidak diajarkan secara baik dan cenderung hanya menjadi hapalan saja (Prisma, 1994:42 dalam Jabrohim).

Melalui pengajaran sastra Indonesia di SMU khususnya dan SMTA umumnya, guru dan masyarakat mengharapkan agar siswa memiliki wawasan yang memadai tentang sastra, bersikap positif terhadap sastra mampu mengembangkan wawasan, kemampuan dan sikap positifnya terhadap sastra serta mampu mengembangkan wawasan, kemampuan, dan sikap positifnya lebih lanjut. Harapan demikian kiranya tidaklah terlampau berlebihan, sebab SMU adalah lembaga pendidikan sebagai lanjutan dari sekolah umum tingkat pertama dam yang akan mempersiapkan siswanya untuk pendidikan yang lebih tinggi serta mempunyai program pendidikan yang lebih tinggi serta mempunyai program pendidikan untuk siswa yang tidak akan melanjutkan studinya.

Menurut Toegiman (1974:16) ada beberapa faktor yang menyebabkan pengajaran sastra kurang mengarah kepada hal-hal yang apresiasif, tetapi lebih menitikberatkan segi historisnya. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor buku pelajaran sastra, faktor sarana, faktor guru, faktor sistem ujian, dan faktor sastra Indonesia itu sendiri.

Menurut Rahman (1989), para pengajar sudah lama mengeluh mengenai buruknya pengajaran sastra baik di tingkat sekolah menengah maupun di tingkat perguruan tinggi. Kurikulum yang tidak jelas arahnya, pengajar yang jumlah dan kemampuannya kurang memadai, bahan yang tidak lengkap, semuanya itu merupakan penyebab sehingga pengajaran sastra hanya seadanya saja.

Dalam kurikulum 1984 (dalam Haeruddin), kegagalan yang dihadapi oleh guru bahasa Indonesia menurut Syamsudduha (dalam Haeruddin, 1997), bahwa pembelajaran sastra yang ditempatkan sebagai bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia lebih cenderung kurang diperhatikan, karena sebagian besar guru bahasa Indonesia lebih cenderung mengajarkan masalah kebahasan. Pada satu pihak diharapkan masalah kesusastraan diperhatikan, padahal waktu yang tersedia sangat terbatas.

Menurut pengamatan Purwo (1991), ada tiga masalah yang perlu dicatat sehubungan dengan pengajaran apresiasi sastra di sekolah lanjutan atas, yaitu :

  1. Pengajaran apresiasi sastra merupakan bagian dari pengajaran bahasa Indonesia. Selain itu, materi pengajaran lebih menekankan hapalan istilah dan  pengertian sastra serta pengenalan sejarah sastra dalam jalur kronologi semata dari pada mengakrabkan diri dengan karya sastra itu sendiri sembari mendalami makna sejarah bagi perkembangan sastra.
  2. Bahan pengajaran seorang guru bahas Indonesia menjadi semakin membentuk lingkaran setan karena tuntutan pengajaran sastra. Jika yang pertama lebih mengarah kepada keterampilan, maka yang kedua mensyaratkan keakraban yang berlapang dad dalam rengkuhan pengetahuan yang melampaui batas-batas kebahasaan.
  3. Pilihan materi pengajaran dihadapkan kepada kenyataan yang menantang kebijakan pendidikan yang telah digariskan. Artinya penambahan ragam sastra yang terjadi dalam masyarakat berkecepatan jauh lebih tinggi daripada kemampuan penyesuaian kurikulum pendidikan yang sudah sarat dengan berbagai hambatan.

Masalah lain yang menjadi dasar pemikiran dan menjadi dasar perimbangan adalah seperti terbuktinya pengajaran sastra yang tidak seimbang antara teori dan praktek di SMU Negeri I Wonomulyo (Mustari, 1995).

Hasil yang serupa dapat pula dijumpai pada hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suriati tentang siswa SMU Negeri 2 Polewali mengenai faktor-faktor penyebab pengajaran sastra kurang mengarah kepada hal-hal yang apresiasif, yaitu guru kurang sering memberikan tugas mengapresiasi novel kepada siswa dan tidak adanya keakraban guru murid dengan karya sastra (Suriati, 1997:46)

Demikian pula halnya dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Taking (1994) tentang ketidakmampuan siswa SMU menagpresiasi cerpen disebabkan oleh faktor kurangnya buku-buku sastra di perpustakaan dan sikap siswa dalam mengikuti pelajaran bahasa dan sastra Indonesia kurang antusias, serta masih kurangnya frekuensi kegiatan apresiasi sastra oleh guru (Taking, 1994:57)

Melihat kenyataan-kenyataan yang dinyatakan di atas, dipandang perlu mengadakan penelitian terhadap interpendensi pengajaran sastra dengan pengajaran bahas Indonesia dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra di kelas II SMU Negeri 3 Polewali berdasarkan kurikulum 1994. Karena peneliti ingin melihat bagaimana gambaran pengajaran bahasa Indonesia dengan berpedoman pada kurikulum 1994 yang menggunakan muatan lokal dengan memadukan antara bahasa dan sastra dalam pembelajarannya.

Lokasi penelitian ini adalah SMU Negeri I Tinambung karena dianggap dapat memberi data yang terpercaya untuk menjawab permasalahan interdependensi pengajaran sastra dengan pengajaran bahas Indonesia dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra yang diharapkan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan gambaran fenomena yang telah dipaparkan pada latar belakang dan untuk lebih mengarahkan penelitian ini, maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti, yaitu :

  • Bagaimana interdependensi pengajaran sastra dengan pengajaran bahasa Indonesia dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra berdasarkan kurikulum 1994 di kelas II SMU Negeri I Tinambung ?
  • Faktor-faktor apakah yang menjadi kendala dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra yang diharapkan ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai interdependensi pengajaran sastra dengan pengajaran bahas Indonesia dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra dengan faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra berdasarkan kurikulum 1994.

Manfaat hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat :

  1. Menjadi pedoman pada pembinaan pendidikan guru bahasa Indonesia sebagian acuan strategi dalam rangka meningkatkan pengajaran.
  2. Menjadi masukan untuk dapat memberikan pelajaran sastra dengan perubahan dan pengembangan pengajaran.
  3. Difungsikan sebagai masukan untuk melaksanakan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia khususnya dalam pengajaran sastra berdasarkan kurikulum 1994 di SMU Negeri I Tinambung pada khususnya dan SLTA yang lain pada umumnya.

Gambaran Fenomena Sosial Dalam Novel Berita Dari Pinggiran (Suatu Pendekatan Sosiologi)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah suatu cara mengungkapkan gagasan, ide, dan pemikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Karya sastra merupakan hasil kegiatan kreatif, imajinatif, dan artistik Sebagai hasil kegiatan yang imajinatif sastra menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialami pengarang kepada penikmat karya yang dibuatnya.

Sastra “menyajikan kehidupan” dan “kehidupan” sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial, walaupun karya sastra “meniru” alam dan dunia subjektif manusia (Wellek, 1990: 109).

Karya sastra lahir sebagai perpaduan antara hasil renungan, pemikiran, dan perasaan seorang pengarang. Keber­adaan karya sastra yang dihasilkan seorang pengarang di tengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan karena merupakan cermin kehidupan yang memantulkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal tersebut yang membedakan karya sastra dengan tulisan biasa.

Berdasarkan karya sastra yang demikian itu, kiranya tidak berlebihan apabila sastra dipakai sebagai alat pen­didikan. Karya sastra sendiri sebenarnya ditulis dengan maksud menunjukkan nilai-nilai kehidupan atau setidaknya mempersoalkan nilai-nilai yang dipandangnya kurang sesuai dengan kebutuhan zaman atau kebutuhan manusia pada umumnya (Sumarjo dalam Reksohadiprojo, 1989: 148).

Sebuah karya sastra berusaha menggugah kesadaran dan memberikan pengalaman yang imajinatif kepada pembaca. Penginderaan dan daya fantasi pembaca diajak memasuki pengalaman orang lain berdasarkan gambaran yang disajikan pengarangnya secara jernih, jelas, dan menawan.

Karya sastra apabila dikaji lebih mendalam sesungguh­nya banyak mengandung nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pendidikan.

Novel merupakan salah satu karya sastra yang dapat diteliti secara ilmiah yang di dalamnya melukiskan berbagai peristiwa yang dialami oleh pelaku-pelakunya. Pelaku yang ada dalam sebuah novel merupakan suatu proses kreatif dari pengarangnya. Jadi, hasil karya seorang pengarang pada dasarnya bersumber dari hasil imajinatif dan proses krea­tifnya.

Iwan Simatupang termasuk salah seorang sastrawan yang produktif semasa hidupnya. pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh membuat karya-karyanya banyak dikagumi para kritikus dan penikmat sastra, Novelnya yang pertama, “Merahnya Merah”, diterbitkan pada tahun 1968, disusul dengan “Ziarah” (1969), “Kering” (1972), dan “Koong” 1975) .          Semuanya    mendapat      sambutan antusias dari para sastrawan dan peminat sastra Indonesia pada khususnya.

Penelitian mengenai novel-novel Iwan Simatupang pernah dilakukan oleh Dami N. Toda dalam tesisnya yang berjudul “Novel Baru Iwan Simatupang” yang selesai ditulis pada tahun 1974, kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul yang sama pada tahun 1980.

Khusus mengenai novel “Ziarah” pernah dilakukan pene­litian oleh J. Prapta Dihardja dalam skripsinya yang berju­dul “Gaya Iwan Simatupang dalam Ziarah” (J. Prapta Dihar­dja. 1985), demikian pula Okke KS. Zaimat mengkaji “Ziarah” dalam desertasinya yang berjudul “Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan Simatupang” (Zaimat, 1990).

Beberapa peneliti lain seperti Elia Tjasa (1972), Umar Yunus (1986), Kurnia Jaya Raya. (1989), dan beberapa peneli­ti asing dari Australia, Francis, dan Malaysia, pernah membicarakan “Ziarah” dalam kaitannya dengan, novel-novel Iwan yang lain. Dari semua pembicaraan tersebut umumnya menempatkan “Ziarah” sebagai karya puncak: Iwan Simatupang yang pada tahun 1475 “Ziarah” diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dengan judul “The Pilgrim” dan mendapat hadiah sastra ASEAN terbaik. pada tahun 1977.

Novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang membawa proble­matik yang tak habis-habisnya dan ada yang menganggap plotnya tidak jelas. Hal ini menyebabkan novel tersebut dicap sebagai novel bercorak kegelisahan batin dan bersifat absurd sehingga nilai-nilai yang dikandungnya sulit untuk dikaji.

Munculnya anggapan bahwa novel yang mengandung absurd­itas sulit dipahami dan nilai-nilai pendidikan yang mungkin terdapat di dalamnya tidak dapat ditemukan mendorong penu­lis mengangkatnya sebagai bahan analisis.

B.   Rumusan Masalah

Berpegang pada dasar pemikiran di atas dan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, peneliti mengangkat masalah sebagai berikut:

  1. Apakah novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang mengandung nilai-nilai pendidikan?
  2. Bentuk nilai-nilai pendidikan yang bagaimanakah yang dapat ditarik dari novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  3. Bagaimana relevansinya dengan kehidupan dewasa ini?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai pada hakikatnya menjawab masalah yang dikemukakan di atas dan dapat dirumuskan sebagai berikut;

  1. Mengungkapkan ada tidaknya nilai-nilai pendidikan dalam berbagai aspek yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwang Simatupang.
  2. Menggali bentuk-bentuk nilai pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  3. Merelevansikan nilai-nilai dan bentuk-bentuk pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang dengan kehidupan dewasa ini.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain;

  1. Membantu pembaca/penikmat sastra dalam memahami ada tidaknya nilai-nilai dan bentuk-bentuk pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  2. Ikut memberi kontribusi kepada khasanah ilmu pengetahuan sastra Indonesia pada khususnya dan khasanah ilmu penge­tahuan sastra dunia pada umumnya.


ANALISIS PEMAKAIAN PRONOMINA INTERMINATIVA BAHASA INDONESIA DALAM HARIAN FAJAR

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa dipergunakan untuk mengutarakan dan menerima pikiran dan perasaan manusia. Sebagian besar kegiatan manusia melibatkan penggunaan bahasa, sehingga wajarlah apabila setiap manusia berusaha untuk mengerti dan memahami bahasa dengan baik dan benar.

Tjiptadi dan Negoro, (1983:1) mengemukakan bahwa” Bahasa ialah alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain. Dengan demikian, bahasa terjadi antara dua belah pihak yaitu pihak yang menyampaikan pikiran dan perasaan itu”.

Dengan demikian, bahasa dapat diartikan sebagai alat yang ampuh amok, menyatakan maksud, pikiran, dan perasaan kepada orang lain. Begitu akrabnya bahasa dengan manusia, sehingga manusia cendrung menganggap bahwa bahasa merupakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Oleh karena itu, banyak orang kurang memahami hakikat bahasa, bahkan tidak menyadari pentingnya bahasa dalam kehidupan sosial. Padahal fungsi bahasa adalah sebagai sarana komunikasi vital dalam manusia dan mahluk lainnya. Bahasa sebagai instrumental, regulasi, representasional, personal, heuristik, intraksional, dan imaginative.

Maju mundurnya suatu bahasa bergantung pada setiap pemakai bahasa pemakaian bahasa bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengolah bahasanya sehingga menjadi bahasa yang baku dan penyusunannya tetap gramatikal.

Harian Fajar adalah sebuah koran terbesar di bagian timur Indonesia

diharapkan menjadi contoh dan pelopor dalam penulisan kaidah-kaidah Indonesia yang baik dan benar, agar berita-berita yang disuguhkan kepada masyarakat, tidak semata-mata untuk menarik minat pembaca saja melainkan juga membina masyarakat dalam pengaturan tata tulis yang benar. Walaupun dalam bidang jurnalistik, kebakuan suatu bahasa mungkin. bukanlah merupakan suatu keharusan yang harus dipedomani.

Harian Fajar terbitan 9 Februari 2000 dalam kolom tajuk, diberitakan

mengenai “Anarkisme dan Idealisme berkebahasaan dalam dunia pers”. Dijelaskan bahwa dalam era reformasi membuka ruang gerak dan peluang amat luas bagi pers nasional untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan perjuangannya, namun para jurnalis tidak lepas dari ketentuan atau undang-undang pers.

Bila dikaitkan dengan fungsi bahasa yang imaginatif, maka para jurnalis tidak terlepas dari fungsi tersebut untuk menerbitkan sebuah berita yang sifatnya gramatikal atau tidak itu bergantung pada penulisnya. Hal ini pun dapat di lihat pada pemakaian pronomina interminativa kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang bahasa Indonesia yang sering pembaca jumpai dalam pemakaiannya. Para penutur atau pemakai bahasa terkadang tidak mengetahui penggunaan secara tepat.

Secara gramatik bentuk sesuatu dan seseorang dapat berdiri sendiri atau menduduki (mengisi) fungsi atau gatra kalimat (subjek atau objek), sedangkan kata suatu dan seorang tidak dapat berdiri sendiri. Kata suatu dan seorang dimasukkan kedalam kelompok kata penggolong benda yang belum tentu, sedangkan kata sesuatu dan seseorang, merupakan pengganti suatu benda yang belum di ketahui.

Ditemukan pemakaian kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang yang tidak lagi melihat adanya penggunaan secara tepat, akibatnya banyak pemakaian kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang yang tidak sesuai dengan sifat dan fungsi yang dimilikinya. Banyak kalimat yang seharusnya menggunakan kata ganti suatu, tetapi yang digunakan kata ganti sesuatu. Begitupula penggunaan kata seorang dan seseorang.

Dengan adanya kekeliruan seperti itu, maka penulis mencoba mengkaji perilaku kata-kata seperti suatu, sesuatu, seorang dan seseorang dalam Harian Fajar, agar para penutur atau pemakai bahasa Indonesia dapat mengetahui penggunaan pronomina interminativa dalam Harian Fajar secara tepat.

B.   Rumusan Masalah

Masalah pemakaian pronomina interminativa, kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang dalam bahasa Indonesia dalam bidang jurnalistik bukanlah masalah yang sederhana, melainkan sangat lugs dan kompleks. Oleh karena penulis akan mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana penggunaan pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam Harian Fajar ditinjau dari segi preskriptif.
  2. Bagaimana perilaku sintaksis pronatnina interminativa bahasa Indonesia dalam Harian Fajar?
  3. Untuk mengetahui penggunaan pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam surat kabar Harian Fajar ditinjau dari segi preskriptif.
  4. Untuk mengetahui perilaku sintaksis pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam surat kabar Harian Fajar.

C.   Tujuan Penelitian

D.   Manfaat Penelitian

  1. Untuk memudahkan pembaca agar dapat memahami pemakaian pronomina interminativa bahasa Indonesia khususnya dalam bidang jurnalistik;
  2. Sebagai masukan dan bahan perbandingan bagi peneliti-peneliti ilmiah lainnya serta merupakan tambahan karya ilmiah yang dapat dijadikan sebagai sumber acuan dalam penelitian.


Tinjauan Pengajaran Bahasa Indonesia pada kelas I MTsN DDI Kanang

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Hampir setiap hari para guru berhadapan dengan persoalan-persoalan pendidikan, baik dalam proses belajar mengajar dan juga masalah lain yang tidak bersentuhan langsung dengan pendidikan.

Mengingat pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan berhasil tidaknya pendidikan adalah guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan, sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.

Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pembimbing sekaligus pengajar. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah kemampuan mengajar di kelas. Kemampuan mengajar ini menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang guru yang tidak lancar berkomunikasi, guru bidang studi apa pun, akan mengakibatkan proses pengajaran tidak efektif. Siswa sekedar mengikuti proses belajar tanpa memahami penjelasan guru.

Sekolah melalui guru mengatur anak dalam upaya mengembangkan kecerdasan untuk mencapai kemanfaatan. Di dalam dua lingkungan dasar, rumah dan sekolah, anak dapat belajar untuk menghormati modalitas mereka melalui pengalaman yang dimaksudkan untuk membangun penghargaan diri, citra diri, kepercayaan diri, dan keterampilan.

Persekolahan tradisional berupaya menutup pikiran kreatif anak, dan membungkam keingintahuan mereka. Anak-anak yang tumbuh dan besar dalam sekolah-sekolah tradisional akan mengalami degradasi mental (cepat putus asa, tidak sanggup bertindak sendiri atau selalu mengharapkan petunjuk, dan tentu saja tidak suka bersaing).

Tuduhan negatif terhadap para pekerja keras tidak sebanding dengan celaan yang diterima para pelajar keras orang yang gila belajar. Anggapan bahwa terlalu banyak belajar bisa membuat orang (pelajar atau mahasiswa, selanjutnya disebut pelajar saja) bila hanya berlandaskan pada beberapa fakta, yang sesungguhnya terjadi akibat adanya ketidakseimbangan sistem syaraf pelaku belajar. Hal itu juga merupakan akibat aksiden dari suatu sistem pembelajaran yang tidak kondusif. Dengan kata lain sistem pebelajaran yang diterapkan tidak sesuai dengan gaya belajar siswa.

Manusia memulai proses belajar sejak lahir. pernyataan-pernyataan negatif sampai yang berbentuk hinaan mendominasi perkembangan manusia usia dini. Sementara itu, pernyataan positif, dukungan atau motivasi sangat sedikit diperoleh. Dampaknya tentu saja tidak sesuai dengan obsesi. Bayangkan jika itu terjadi sebaliknya.

Pendidikan tradisional (peninggalan penjajah) bertumpu pada otoritas pengajar. Faham paternalistik memegang kendali pendidikan kala itu. Beberapa sekolah lokal di pelosok-pelosok daerah terpencil masih menganut paham ini hingga-kini, bahkan lembaga pendidikan terkemuka di beberapa kota besar masih mempertahankan professor konservatif (pengajar kadaluarsa). Para professor ini mengajar berdasarkan pada jasa jasanya di masa lalu, bukan karena jasa jasanya menemukan gaya belajar yang efektif bagi siswa yang akan matang di masa depan.

Menciptakan komunitas belajar dalam sekolah-sekolah tradisional dibutuhkan pengkondisian secara terus-menerus, dan tidak boleh berlebihan. Siswa akan tahu betapa bermanfaatnya komunitas belajar yang terbangun jika mereka diuntungkan oleh kondisi pembelajaran yang menimbulkan gairah tanpa henti.

Sistem pendekatan dalam membimbing siswa mengenal sekolah baru atau perguruan tinggi bagi mahasiswa baru selalu diwarnai tindakan-tindakan kontraedukatif. Segala sesuatu yang sifatnya dogmatis, kaku, irrasional, apatis, menekan, dapat dimasukkan ke dalam sistem pembelajaran semacam itu. Komentar yang sifatnya mencela juga kerapkali dimunculkan untuk memicu semangat belajar siswa. Sejak dilahirkan manusia telah dijejali celaan yang sifatnya meruntuhkan. Alasan yang mendukung prinsip belajar dari celaan (komentar negatif) ini adalah untuk menempa mental siswa awal. Benarkah pendekatan semacam itu sanggup membuat seluruh kekuatan belajar (indra, otak, emosi) siswa berfungsi sebaik-baiknya.

Parade sikap meniru-niru militer hampir sama banyaknya dengan pertanyaan dogmatis yang berupaya ditanamkan dalam otak siswa oleh para guru, dosen atau fungsionaris terpilih. Siswa tidak diajak untuk berpikir jernih, tetapi diajar mengalahkan lawan dengan cara apapun. Statement hitam-putih selalu dimunculkan dalam mengawal para siswa memasuki alam yang mengharuskan pengerahan nalar (objektifiaksi). Cara-cara seperti ini malah akan melahirkan siswa congkak dan ingin selalu menguasai. Pembelajaran yang diterima siswa pada akhirnya tidak mendatangkan manfaat, selain kenangan hura-hura.

Ada hubungan kuat antara model pembelajaran yang dianut dengan konstruksi otak manusia. Dr. Paul Maclean (dalam Deporter dan Hernacki, 2002: 33) menyebut bagian-bagian otak manusia sebagai “triune” (three in one). Bagian-bagian itu adalah: otak reptil, limbik dan neokorteks.

Otak reptil menekankan insting mempertahankan diri, bersifat ingin menguasai. Masa-masa awal perkembangan manusia pengaruh otak reptil ini sangat dominan. Otak limbik menampung semua perangkat emosi dan kognisi, lalu diteruskan ke neokorteks. Neokorteks adalah bagian otak yang menghasilkan gaga belajar, pola pikir dan daya cipta. Pusat kecerdasan ada di neokorteks. Universitas kita sebagaimana sekolah-sekolah yang sudah ada masih menganut sistem pembelajaran reptil.

Strategi pembelajaran sesungguhnya bertolak dari tujuan yang dirangkum dalam tujuan pendidikan. Menurut Prasetya (1997:27) tujuan pendidikan memiliki beberapa sumber, sebagai berikut:

  1. Manusia kebanyakan mengalami kesulitan-kesulitan dalam proses pendewasaan atau kematangannya yang berdampak signifikan terhadap sekitarnya.
  2. Sekolah. Pengalaman-pengalaman seseorang, kekuatan-kekuatan, jenis-jenis sekolah dan guru-guru di dalamnya merupakan sumber-sumber pokok dari filsafat pendidikan.
  3. Lingkungan. Lingkungan sosial budaya seseorang tinggal dan dibesarkan adalah sumber yang lain dari filsafat pendidikan. Jika seseorang dibesarkan pada masyarakat yang menempatkan suatu nilai pendidikan yang tinggi hal itu akan mempengaruhi filsafat pendidikan seseorang.

Pada hakikatnya pendidikan adalah suatu usaha untuk membudayakan manusia atau memanusiakan manusia. Manusia sendiri merupakan pribadi yang utuh dan kompleks sehingga sulit dipelajari secara tuntas. Oleh karena itu, masalah pendidikan tidak pernah selesai sebab pada hakikatnya manusia sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika hidupnya. Dalam keadaan seperti itulah pendidikan tetap memerlukan inovasi yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai manusia, baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai makhluk religius.

Prinsip, pendidikan dalam rangka pengembangan etos keilmuan menuju intelektualisme merupakan bagian dari diktum agama. Oleh sebab itu, dalam Islam ada kewajiban muslimin dan muslimat untuk berpendidikan, meski sampai ke negeri asing, bahkan sampai ke liang lahat.

Dalam Alquran terdapat konsep perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya. Hal ini merupakan sinyal fenomenon bahkan neumenon dalam Islam. Tuntutan atau perintah membaca dalam Islam sangat etis, karena manusia sebagai khalifah rukan sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas tetapi hares didasari Bismi Rabbika (dengan nama Tuhanmu), dalam memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan nama Allah.

Agama mendorong manusia untuk menggunakan persepsi rasional yang baik, sampai kepada persepsi religius yang amat etis pula. Agama sangat menghendaki suatu bentuk intelektualisme. Etos keilmuan adalah suatu bagian integral keagamaan yang sehat. Ia muncul karena adanya kemampuan pada dirinya sendiri dan pada sistem keyakinan yang dianut.

Mengingat pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan berhasil tidaknya pendidikan adalah guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.

Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pembimbing sekaligus pengajar. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah kemampuan mengajar di kelas. Kemampuan mengajar ini menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang guru yang tidak lancar berkomunikasi, guru bidang studi apapun, akan mengakibatkan proses pengajaran tidak efektif. Siswa sekedar mengikuti proses belajar tanpa memahami penjelasan guru.

Pengajaran bahasa Indonesia dalam era globalisasi tentu saja berbeda dengan sebelumnya. Proses Pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat dilaksanakan bagaimana seorang siswa belajar bahasa asing dan bahasa daerah tertentu. Belajar bahasa Indonesia seharusnya melibatkan pemikiran (nalar), sejarah, dan mengurangi Pengajaran yang bersifat verbal semata.

Selain itu, guru juga dituntut memperhatikan prinsip-prinsip Pengajaran bahasa. Sejumlah prinsip, yang antara lain adalah: (1) sebagian besar waktu siswa digunakan untuk berlatih menggunakan bahasa; dan (2) mengembangkan sikap positif terhadap bahasa yang dipelajari. Kedua pandangan tersebut sangat relevan dengan tujuan Pengajaran bahasa yang langsung berhubungan dengan aspek pembuatan kosakata, berbicara, membaca, dan kebahasaan.

Perkembangan teknologi dewasa ini mempengaruhi cara Pengajaran bahasa, cara manusia berbahasa, dan kebudayaan nasional. Perubahan cepat tersebut antara Lain: munculnya budaya komunikasi instant seperti telepon dan Internet, era otonomi daerah yang menekankan pengajaran bahasa daerah, munculnya kritik terhadap para ahli bahasa yang menyusun buku-buku mata pelajaran yang kurang bermutu, banyaknya kaum intelektual yang tidak bisa membuat karya tulis, banyak pejabat yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan rendahnya minat belajar bahasa Indonesia di kalangan siswa.

Para guru bahasa saat ini ditantang menjelajah fenomena komunikasi manusia yang sangat kompleks. Oleh karena itu, cara-cara tradisional, teori-teori lama, observasi kaku selama ini dirasakan kurang ampuh untuk menghadapi berondongan isu-isu di atas.

Proses pengajaran bahasa Indonesia sebagai lokus utama dalam mewujudkan perubahan menyeluruh ke arah pemahaman bahasa yang sempurna merupakan ulasan yang sangat menarik. Serangkaian persoalan yang menghimpit kita membutuhkan kecermatan berbahasa (lisan dan tulisan).

Dengan demikian, sebagai langkah awal dan paling mendesak adalah perlunya mematangkan pemahaman kebahasaan di tingkat sekolah lanjutan pertama. Proses pengajaran bahasa di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama perlu diteliti untuk memperoleh informasi tentang pengajaran bahasa yang terjadi selama ini. Penulis tertarik mengangkat judul penelitian ini: Tinjauan Pengajaran Bahasa Indonesia pada kelas I MTsN DDI KANANG.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas. maka dapatlah dirumuskan masalah yang akan diselidiki dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah proses pembelajaran bahasa Indonesia di MTsN DDI KANANG.

C.   Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang telah dirumuskan di atas. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran bahasa Indonesia pada kelas I MTsN DDI KANANG.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Sebagai masukan dan informasi bagi guru, khususnya guru mata pelajaran bahasa Indonesia tentang proses pembelajaran bahasa Indonesia yang efektif dan tidak membosankan.
  2. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah setempat dalam menilai proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
  3. Sebagai bahan perbandingan dan referensi bagi peneliti selanjutnya khususnya yang akan mengkaji masalah yang sama.


PERSEPSI SISWA KELAS III MADRASAH TSANAWIYAH DDI KANANG TENTANG….

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Pendidikan berisi suatu interaksi antara pendidik dan peserta didik sebagai untuk membantu peserta didik dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. lnteraksi tersebut dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga dan sekolah (Sukmadinata, 1998: 1). Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memegang peran signifikan dalam proses pengajaran.

Pendidikan dapat mengubah pandangan hidup, budaya dan perilaku manusia. Pendidikan juga berfungsi mengantar manusia menguak tabir kehidupan sekaligus menempatkan dirinya sebagai pelaku dalam setiap perubahan. Pendidikan menurut Meier (2002:41) bertujuan menyiapkan manusia untuk menghadapi berbagai perubahan yang membutuhkan kekuatan pikiran, kesadaran dan kreatifitas. Dalam Alquran terdapat konsep perintah membaca, menelaah, meneliti, dan menghimpun dan sebagainya. Hal ini merupakan sinyal fenomenon bahkan neumenon dalam Islam. Tuntutan atau perintah membaca dalam Islam sangat urgen, karena manusia sebagai khalifah bukan sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas tetapi harus didasari bismi rabbikka (dengan nama Tuhan), dalam memilih bahan­bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan nama Allah.

Agama mendorong manusia untuk menggunakan persepsi rasional yang baik, religius yang amat etis pula. Agama sangat menghendaki suatu bentuk intelektualisme. Etos keilmuan adalah suatu bagian integral keagamaan yang sehat. Ia muncul karena adanya kemampuan pada dirinya sendiri dan pada sistem keyakinan yang dianut.

Mengingat pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan berhasil tidaknya pendidikan adalah guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.

Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pembimbing sekaligus pengajar. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah kemampuan mengajar di kelas. Kemampuan mengajar ini menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang guru yang tidak lancar berkomunikasi, guru bidang studi apapun, akan mengakibatkan proses pengajaran tidak efektif. Siswa sekedar mengikuti proses belajar tanpa memahami penjelasan guru.

Bahasa Indonesia merupakan media pengantar resmi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, manusia Indonesia yang ingin maju dan menguasai ilmu pengetahuan perlu membekali dirinya dengan bahasa Indonesia yang memadai. Menguasai bahasa Indonesia merupakan prasyarat wajib dalam dunia pendidikan, formal maupun informal.

Mengingat peranan bahasa Indonesia yang cukup besar, maka perlu pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia melalui berbagai pendekatan, misalnya pendekatan sosial budaya, sosial politik, dan pendekatan       psikologi massa. Pengembangan bahasa Indonesia juga dilaksanakan dengan menggunakan teknik kebahasaan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat, terutama masyarakat profesional. Selain itu, yang mendapat perhatian serius dari berbagai pihak adalah pendidikan bahasa. Pengajaran bahasa Indonesia harus bertujuan untuk meningkatkan mutu prestasi belajar. Dengan kata lain, perencanaan pengajaran bahasa Indonesia, termasuk pengajaran sastra sebaiknya dilandasi oleh hasil penelitian.

Perencanaan pengajaran bahasa Indonesia tersebut seharusnya memperhatikan perubahan atau perbaikan kurikulum dan faktor-faktor yang terkait dengan keberhasilan belajar peserta didik. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa selain komponen guru, kurikulum, dan sarana pendidikan lainnya, faktor motivasi, minat, kreativitas, dan persepsi turut berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan untuk meningkatkan motivasi, kreativitas, minat, dan memperbaiki persepsi-persepsi siswa agar hasil belajarnya lebih baik.

Salah satu hal yang menarik bagi penulis adalah adanya fenomena tentang berbagai tanggapan, pandangan, dan pendapat tentang sastra Indonesia di kalangan siswa, yang dapat diistilahkan sebagai persepsi terhadap sastra Indonesia. Persepsi terhadap sastra Indonesia tersebut memiliki pecan penting dalam meningkatkan mutu pengajaran sastra Indonesia. Persepsi awal akan menentukan proses pembelajaran dalam ruang kelas. Seorang siswa yang memiliki persepsi awal yang buruk terhadap sastra Indonesia juga akan mempengaruhi motivasi belajarnya, dan prestasinya. Pengajaran sastra bukan sekedar mengajarkan bahasa atau cars berbahasa dan berkomunikasi. Pengajaran sastra membutuhkan keuletan, teknik dan metode tertentu. Sastra pada hakikatnya melibatkan budaya, seni, emosi, dan nalar manusia. Oleh sebab itu, banyak orang yang menemukan kesadaran religius dan sosial setelah membaca karya sastra.

Dewasa ini, fungsi dan kedudukan sastra Indonesia menjadi signifikan akibat munculnya berbagai persoalan dalam masyarakat kita. Persoalan-persoalan itu sesungguhnya dimulai dari ruang kelas, antara lain (Alwasilah, 2002:79):

  1. Tingkat pendidikan dan strategi pengajaran sastra yang berbanding terbalik dengan kemajuan global.
  2. Kecenderungan para pejabat menggunakan istilah-istilah yang membingungkan, yang seringkali tidak dipahami oleh mereka sendiri. Perilaku ini semakin memperbodoh rakyat.
  3. Asumsi yang muncul di masyarakat mengatakan bahwa pengajaran sastra Indonesia selama ini membosankan siswa. Pengajaran sastra Indonesia yang kaku dan terstruktur tidak akan sanggup mencerdaskan siswa. Pengajaran sastra membutuhkan keterbukaan, pola pikir yang tidak terstruktur.
  4. Siswa tidak terlatih membuat karya sastra dengan menggunakan nalar (logika) sehingga menurunkan motivasi belajar mereka. Pengajaran sastra lebih banyak menggunakan sistem ceramah sebagaimana pengajaran bahasa.
  5. Siswa putri (siswi) masih dianggap tidak berani mengemukakan pendapatnya dalam ruang kelas dan cenderung diam.
  6. Ada asumsi yang mengatakan bahwa persepsi siswa terhadap mata pelajaran sastra cenderung negatif. Salah satu penyebabnya adalah cara mengajar guru sastra tersebut tidak sanggup menumbuhkan minat belajar siswa.

Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang merupakan lokasi populasi yang penulis anggap sebagai lokasi penelitian paling memenuhi syarat dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan peserta didik Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang secara keseluruhan berjenis kelamin perempuan. Perempuan dalam kebudayaan Indonesia masih menduduki warga negara kelas dua. Usia siswa yang masih sangat muda memungkinkan pengaruh budaya feodalisme Indonesia dan dogma-dogma agama yang dipahami secara sempit mempengaruhi persepsi siswa terhadap berbagai persoalan, khususnya terhadap karya sastra. Bertolak dari latar belakang di atas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian yang bertujuan mengungkap persepsi siswa terhadap pengajaran sastra Indonesia. Judul penelitian yang dimaksud oleh penulis adalah “Persepsi Siswa Kelas III Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang terhadap Pengajaran Sastra”.

B.   Rumusan Masalah

Bertolak dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Bagaimanakah persepsi siswa kelas III Madrasah Tsanawiyah Kanang DDI terhadap pengajaran sastra?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa kelas III Madrasah Tsanawiyah Kanang DDI terhadap pengajaran sastra Indonesia.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(1)  Sebagai bahan masukan bagi guru untuk meningkatkan mutu pengajaran sastra Indonesia di Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang.

(2)  Sebagai bahan masukan bagi dunia pendidikan dalam upaya memperbaiki persepsi siswa terhadap sastra Indonesia khususnya siswa Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang.

(3)  Memberikan informasi bagi peneliti lain yang berminat melanjutkan penelitian tentang masalah ini.


PERANAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DALAM PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Visi reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan reformasi kehidupan nasional yang tertera dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya asing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berdasarkan hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin.

Perwujudan masyarakat berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subyek  yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional pada bidangnya masing-masing. Dalam era globalisasi dan pasar bebas manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tidak menentu. Ibarat nelayan di “Lautan Lepas” yang dapat menyesatkan jika tidak memiliki kompas sebagai pedoman untuk bertindak dan mengarunginya. Hal tersebut telah mengakibatkan hubungan yang tidak linier antara pendidikan dengan lapangan kerja atau “one to one relationship”, karena apa yang terjadi dalam lapangan kerja sulit diikuti oleh dunia pendidikan, sehingga terjadi kesenjangan.

Dalam kaitannya dengan pendidikan, Tilaar mengemukakan bahwa pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efesiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Lebih lanjut Tilaar dalam Mulyasa bahwa sedikitnya ada tujuh masalah pokok sistem pendidikan nasional yaitu :

“1.   Menurunnya akhlak dan moral peserta didik,

2.   Pemerataan kesempatan belajar,

3.   Masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan,

4.   Status kelembagaan,

5.   Manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan,

6.   Sumber daya yang belum profesional.”[1]

Menghadapi hal tersebut, perlu dilakukan penataan terhadap sistem pendidikan secara kaffah (menyeluruh), terutama berkaitan dengan kualitas pendidikan, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Dalam hal ini, perlu adanya perubahan-perubahan sosial yang memberi arah bahwa pendidikan merupakan pendekatan dasar dalam proses perubahan itu.

Lebih lanjut DR. E. Mulyasa, M. Pd mengemukakan bahwa :

“Pendidikan adalah kehidupan, untuk itu kegiatan belajar harus dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup (life skill atau live competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan dan kebutuhan peserta didik.”[2]

Pemecahan masalah secara reflektif sangat penting dalam kegiatan belajar yang dilakukan melalui kerjasama secara demokratis. UNESCO (1994) mengemukakan dua prinsip pendidikan yang sangat relevan dengan Pancasila : pertama, pendidikan harus ditetapkan pada empat pilar yaitu belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar hidup dalam kebersamaan dan belajar menjadi diri sendiri. Kedua, belajar seumur hidup (live long learning). Kultur yang demikian harus dikembangkan dalam pembangunan manusia, karena pada akhirnya aspek kultural dari kehidupan manusia lebih penting dari pertumbuhan ekonomi.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah dimanfaatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan.

“Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional juga mencanangkan “Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan” pada   tanggal 2 Mei 2002. Namun demikian, berbagai indikator mutu  pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sebagian   sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu   pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar   lainnya masih memprihatinkan.”[3]

Selanjutnya sedikitnya terdapat tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami perubahan secara merata yaitu :

“1.  Faktor kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan  pendekatan education production function atau input- out put analysis yang   tidak dilaksanakan secara    konsekuen.

2. Faktor penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara   birokratik sentralistik.

3. Faktor peran  serta  masyarakat, khususnya  orang tua siswa dalam    penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim.”[4]

Menyadari hal tersebut, pemerintah telah melakukan upaya penyempurnaan sistem pendidikan, baik melalui penataan perangkat lunak maupun perangkat keras. Di antara upaya tersebut, antara lain dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, yang secara langsung berpengaruh terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan. Bila sebelumnya pengelolaan pendidikan merupakan wewenang pusat, maka dengan berlakunya undang-undang tersebut kewenangannya berada pada pemerintah daerah kota/kabupaten.

Sejalan dengan uraian di atas, maka dalam rangka melaksanakan otonomi daerah, mengantisipasi perubahan-perubahan global pada persaingan pasar bebas, serta tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi, khusunya teknologi informasi yang semakin hari semakin canggih, maka pemerataan pelayanan pendidikan perlu diarahkan pada pendidikan yang transparan, berkeadilan, dan demokratis.

Untuk kepentingan tersebut diperlukan perubahan yang cukup mendasar dalam sisem pendidikan nasional, yang dipandang oleh berbagai pihak sudah tidak efektif, dan tidak mampu lagi memberikan bekal serta tidak dapat mempersiapkan peserta didik untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Perubahan mendasar tersebut berkaitan dengan kurikulum, yang dengan sendirinya menuntut dan mempersyaratkan berbagai perubahan pada komponen-komponen lain.

Berkaitan dengan perubahan kurikulum, berbagai pihak menganalisis dan melihat perlunya diterapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) (competency based curriculum), yang dapat membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan jaman dan tuntutan reformasi, guna menjawab tantangan arus globalisasi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur dan adaptif terhadap berbagai perubahan. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik, melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif, efesien, dan berhasil guna.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi seperti yang digariskan dalam Hluan Negara. Hal tersebut diharapkan dapat dijadikan landasan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan, baik secara makro maupun mikro. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memberi peluang kepada kepala sekolah, dan peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial dan lain sebagainya yang tumbuh dari aktivitas, kreativitas dan profesionalisme yang dimiliki.

Dengan adanya peranan kurikulum berbasis kompetensi dalam peningkatan prestasi belajar bidang studi pendidikan agama Kristen (PAK) bagi siswa Kristen di SD Negeri Nomor 13 Samarinda Seberang dituntut bekerja sama yang optimal antara para pengajar dalam meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Sehingga mutu pendidikan khususnya bidang studi pendidikan agama Kristen bagi siswa Kristen di SD Negeri Nomor 13 Samarinda Seberang dapat lebih ditingkatkan. Dengan kata lain kurikulum berbasis kompetensi (KBK) memerlukan pengajaran berbentuk tim, dan menuntut kerjasama yang kompak diantara para anggota tim. Kerjasama para guru sangat penting dalam proses pendidikan yang akhir-akhir ini mengalami perubahan yang sangat pesat.

B. Perumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka perlu ditentukan perumusan masalah yang akan diteliti. Sebelum penelitian dimulai terlebih dahulu peneliti membuat perumusan masalah, maka dalam hal itu akan jelas kelihatan sasaran dan penelitian suatu permasalahan yang dikedepankan hendaknya dicari jalan keluarnya  supaya masalah tersebut tidak selalu menjadi masalah. Namun ada kalanya mencari pemecahan masalah itu mengalami kesulitan, apabila masalah yang dihadapi atau dipilih itu tidak dirumuskan dengan jelas menurut Soehardi dalam bukunya yang berjudul Politik Sosial Modern menuliskan masalah adalah :

“Masalah sebagai suatu persoalan atau problem yang sukar   diselesaikan dan  terdiri dari suatu kompleks soal-soal yang telah   diketahui. Kompleks soal-soal mana mencatat supaya diselesaikan   dengan segera.”[5]

Sejalan dengan itu dalam menentukan sub masalah dapat juga dibantu oleh ketajaman dan ketepatan rumusan masalah sehubungan dengan hal itu S. Nasution mengatakan bahwa :

“Syarat tentang rumusan masalah antara lain : “Pertama, harus dalam bahasa yang jelas; kedua, tujuan penelitian yang jelas; ketiga, langsung tanpa putar belit atau pendahuluan panjang lebar”[6]

Berdasarkan paparan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sesuai dengan judul “Peranan Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Peningkatan Prestasi Belajar Bidang Studi PAK bagi Siswa Kristen di SD Negeri Nomor 13 Samarinda Seberang”. Dengan uraian di atas agar penelitian ini dapat memberi jawaban yang jelas, maka rumusan masalah adalah :

  1. Sejauh manakah implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi di SD Negeri Nomor 13 Samarinda Seberang ?
  2. Bagaimanakah Prestasi Belajar Siswa Kristen dalam bidang studi PAK di SD Negeri Nomor 13 Samarinda Seberang ?

C. Batasan Masalah

Menurut S. Nasution mengatakan :

“Tiap masalah pada hakekatnya kompleks sehingga tak dapat diselesaikan segala aspeknya dengan tuntas. Maka karena itu   peneliti harus membatasi ruang lingkup masalahnya.”[7]

Berorientasi pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dikemukakan ruang lingkup masalah dalam KBK. Berdasarkan pada judul penelitian skripsi ini, maka penulis membatasi dari segi aspek-aspek yang mendukung Winarno Surakhmad mengatakan :

“Sebab batasan masalah perlu memenuhi syarat dalam perumusan   terbatas. Pembatasan ini diperlukan bukan saja untuk memudahkan atau menyederhanakan masalah bagi pemecahannya, tenaga, waktu, biaya, dll yang timbul dalam rencana itu.”[8]

Jadi batasan masalah yang di teliti penulis sesuai dengan judul adalah : “Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Prestasi Belajar   Siswa   Kristen dalam bidang studi PAK”

D. Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk mengupayakan merumuskan permasalahan, mengajukan pertanyaan dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan jalan menemukan fakta–fakta dan memberi penafsiran yang benar. Semua usaha yang dilakukan oleh setiap orang tentunya mempunyai suatu tujuan yang ingin dicapai, maka dalam konteks penelitian ini sesuai dengan judul tujuannya adalah :

  1. Untuk mengetahui implementasi kurikulum berbasis kompetensi di SD Negeri Nomor 13 Samarinda Seberang.
  2. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa Kristen dalam bidang studi PAK di SD Negeri No.13 Samarinda Seberang.

E. Manfaat Penelitian

Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi masukan pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan.

Dari hasil penelitian ini nantinya dapat digunakan bagi yang berkepentingan sehubungan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui kurikulum berbasis kompetensi.

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi Guru guna meningkatkan proses belajar mengajar untuk mengarahkan pada prestasi belajar siswa yang akan dicapai.

Diharapkan hasil penelitian ini menjadi bahan informasi perpustakaan dan menjadi bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya.


[1] Soehardi. Politik Sosial Modern. (Yogyakarta : Rineka Cipta, 1975). Hal. 1

[2] S. Nasution. Metode Research. (Bandung : Jemmars, 1978). Hal. 25-26

[3] S. Nasution. Op. Cit. hal. 31

[4] Winarno Surakhmad. Paper, Tesis, Disertasi (Bandung : Tarsito. 1985). Hal. 38

[5] Soehardi. Politik Sosial Modern. Yogyakarta : Rineka Cipta. 1975). Hal. 1

[6] Nasution. Op. Cit. Hal. 31

[7] S. Nasution. Op. Cit. hal 31.

[8] Winarno Surakhmad. Paper, Tesis, Disertasi. (Bandung : Tarsito, 1985). Hal. 38


PENYIMPANGAN AFIKSASI PADA JUDUL BERITA SURAT KABAR HARIAN PEDOMAN RAKYAT

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam UUD 1845, Pasal 36, ditetapkan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Oleh karena itu, wajarlah jika pemerintah menghimbau semua warga negara Indonesia agar membina diri masing-masing dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik sesuai dengan situasi pemakaiannya, yang benar dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Sebagai bahasa yang hidup, pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus semakin ditingkatkan. Hal itu dapat dilakukan pada semua bidang yang dianggap tepat dan dapat menunjang kesempurnaan bahasa Indonesia. Pada bidang morfologi misalnya, pembinaan dan pengembangan biasanya diarahkan pada proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dapat dilakukan dengan cara, antara lain : proses pembubuhan afiks atau afik­sasi, pemajemukan, dan pengulangan atau reduplikasi.

Khusus mengenai proses pembentukan kata melalui afiksasi atau pembubuhan afiks (imbuhan), pada umumnya sangat berpotensi mengubah makna dan bentuk kata. Sebagai contoh, dapat dilihat pada kata-kata tersebut seperti : temu, amen, lempar, dan sebagainya. Jika Kata-kata itu dibubuhi afiks menjadi penemu, temuan, penemuan, den sebagainya, demikian pula terhadap kata amen dan lempar, maka makna dan bentuk kata-kata tersebut akan berubah, misalnya : temu (muka berhadapan muka ; tatap muka), penemu (orang yang menemukan); temuan (hasil menemukan); penemuan (proses atau cara menemukan). Jadi, proses pembubuhan afiks atau afiksasi sangat penting dan memerlukan ketelitian karena jika salah, maka akan menjadi makna dan bentuknya tidak komunikatif.

Berdasarkan kenyataan itu, media massa, dalam hal ini surat sebagaimana diketahui, merupakan salah satu media yang dianggap resmi da­lam pemakaian bahasa. Oleh karena itu, tidak salah jika setiap surat kabar, sesuai dengan keberadaannya itu selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar, penuh ketelitian dalam penggunaan bahasa Indonesia, termasuk dalam hal pembentukan kata melalui afiksasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, ada delapan orang atau lembaga yang patut menjadi panutan berbahasa Indonesia yang baik dan benar yaitu Presiden dan Wakil Presiden, Menteri, pemimpin lembaga tertinggi negara, pemimpin TNI, guru dan dosen, wartawan dan penerbit, sekretaris dan pengonsep pidato, dan pemuka agama (Arifin, 1993 : 12). Penulis hanya menyoroti dua di antaranya, yaitu wartawan dan penerbit.

Selanjutnya, Arifin menjelaskan bahwa berita dalam televisi, radio, surat kabar, majalah, serta tulisan dalam buku-buku, yang merupakan produk warta­wan dan penerbit, sangat mewarnai pemakaian bahasa dalam masyarakat. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat masuk akal jika wartawan dan penerbit perlu meningkatkan kemahiran dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penyebaran informasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena di samping sebagai salah satu media resmi, juga media massa sangat berpotensi dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang balk dan benar. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah media massa, dalam hal ini surat kabar, sudah patut menja­di panutan berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah sudah mene­rapkan kaidah-kaidah morfologis dalam penulisan berita-beritanya? Ataukah lebih mengutamakan prinsip ekonomi bahasa sebagai salah satu cirinya.

Dalam pemakaian bahasa di surat kabar, terdapat istilah “ekonomi bahasa”. Artinya, kita dapat menggunakan kata atau kalimat dengan         sehemat-hematnya. Akan tetapi, penghematan itu jangan sampai merusak kaidah baha­sa, apalagi menimbulkan salah paham (Arifin, 1993 : 15).

Bertolak pada uraian di atas, penulis tertarik pada salah satu media cetak yang terbit di kawasan Indonesia Timur, yakni surat kabar harian Pedoman Rakyat sebagai objek penelitian. Surat kabar Pedoman Rakyat, di samping sebagai media tertua di kawasan Indonesia Timur, juga hingga sekarang masih tetap mempertahankan keberadaannya sebagai media informasi yang digemari oleh masyarakat.

Suatu hal yang menarik perhatian pembaca pada saat akan membaca sebuah surat kabar, yaitu judul-judul yang tercantum pada berita. Badudu      (1994 : 6), mengatakan bahwa menyusun bahasa untuk kepala berita memerlukan keahlian tersendiri karena ditulis dengan huruf yang benar ukurannya, hendak­lah kepala berita dibuat sesingkat-singkatnya dan dapat menarik perhatian pembaca. Namun, judul yang singkat bukan berarti bahwa harus menyalahi aturan atau kaidah bahasa secara sewenang-wenang. Berkaitan dengan hal itu, Iman Asyi’ri (1984 : 29) mengatakan bahwa judul sudah menggambarkan isi atau hal yang akan dibahas.

Berdasarkan yang tercantum dalam surat kabar harian Pedoman Rakyat, terutama dalam hal pembentukan kata melalui afiksasi atau pembubuhan afiks (imbuhan).

B.   Rumusan Masalah

Pada umunya, pembahasan afiksasi merupakan hal yang cukup rumit sering menemui kesulitan. Melihat kenyataan itu, penulisan skripsi ini akan dipusatkan pada masalah :

  1. Afiks apa sajakah yang harian Pedoman Rakyat ?
  2. Apakah afiks pada judul-judul berita harian Pedoman Rakyat sudah relevan keberadaannya sebagai pembentukan kata dalam kalimat ?

C.   Batasan Masalah

Afiksasi mempunyai jangkauan yang cukup luas. Agar pembahasan yang dilakukan lebih terarah dan terinci, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini. Aspek yang akan ditelaah dalam penelitian ini adalah pemakaian afiks pada judul-judul berita surat kabar harian Pedoman Rakyat sebanyak 10 terbitan, edisi Juni 2000. Afiks yang dimaksud adalah afiks asli bahasa Indonesia.

D.   Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan penyimpangan afiks pada judul berita surat kabar harian Pedoman Rakyat.

E.   Manfaat Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian yang dilakukan, penulis  mengharapkan agar dapat :

  1. Memberikan masukan bagi media massa pada umumnya dan lebih khusus bagi harian Pedoman Rakyat, sejalan dengan keberadaan media massa se­bagai salah satu panutan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  2. Menjadi sumbangan bagi siapa saja yang mempunyai minat dan perhatian terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia;