Category Archives: Fakultas Pendidikan dan Keguruan

PENGUASAAN PENGGUNAAN KATA SAPAAN DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA OLEH SISWA KELAS II SLTP NEGERI PAMBUSUANG

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Pengajaran bahasa Indonesia pada umumnya sama dengan pelajaran lain, yaitu merupakan suatu sistem dalam arti setiap unsur pembentukannya mempunyai fungsi dan peran masing-masing dalam rangka mencapai tujuan pelajaran yang telah digariskan. Unsur-unsur yang membentuk sistem itu adalah Kurikulum, metode, buku teks, alat pelajaran, guru, pelaksanaan pengajaran, dan siswa.

Masalah pembinaan bahasa Indonesia dalam hubungannya dengan pendidikan dan pengajaran merupakan hal yang sangat esensial. Hal ini perlu diperhatikan keberadaannya agar hasil yang dicapai dalam penjabaran pengajaran bahasa Indonesia dalam lingkungan formal sesuai target.

Diketahui bahwa masalah pengajaran bahasa Indonesia dalam pendidikan formal belumlah dapat menjamin penguasaan peserta didik terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal inilah yang perlu diketahui sekaligus dipahami, sekurang-kurangnya yang ada dalam pengelolaan pengajaran bahasa Indonesia dalam pendidikan formal.

Berbahasa merupakan kegiatan keterampilan yang memiliki aspek berbahasa. Aspek yang dimaksud adalah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Di antara aspek yang sate dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Secara umum keterampilan menyimak dan berbicara sudah dimulai pada saat anak masih usia prasekolah. Sedangkan keterampilan membaca dan menulis diperoleh setelah anak memasuki lembaga pendidikan formal. Pertanyaan yang perlu dijawab sekarang adalah pendidikan mana seseorang harus mampu dan telah memiliki keterampiIan menulis sebagai salah satu komponen keterampilan berbahasa ? Untuk lembaga pendidikan seperti di Indonesia, keterampilan tampaknya telah dimulai sejak anak duduk pada tingkat sekolah dasar.

Dalam kehidupan yang sudah modern ini, keterampilan menulis dibutuhkan. Kiranya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa keterampilan menulis merupakan ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Menulis juga merupakan suatu kegiatan produktif dan ekspresif. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktek yang seringkali dan secara teratur.

Dalam pengalaman akademis sehari-hari, masih ditemukan penggunaan bahasa Indonesia yang salah dalam penulisan. Di lingkungan sekolah misalnya, siswa sering membuat kalimat yang tidak sesuai dengan konteksnya dan kaidah bahasa Indonesia. Hal ini kemungkinan bersumber dari rendahnya tingkat kemampuan siswa tentang struktur kata.

Identifikasi tentang kesalahan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia sangat penting disebabkan oleh kenyataan bahwa kondisi di sekolah mulai dari SD sampai perguruan tinggi dewasa ini masih ditandai oleh terjadinya kesalahan. Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu.

Oleh karena itu, pengkajian melalui suatu penelitian tentang tipologi kesalahan dalam menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia perlu dilakukan. Jika dari hasil penelitian diketahui bahwa penguasaan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia cukup memadai, hal tersebut patut disyukuri dan terus ditingkatkan. Sebaliknya, jika hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan siswa dalam hal tersebut masih kurang, maka diperlukan pengkajian tentang berbagai faktor yang menjadi penghambat agar dimanfaatkan secara optimal dalam upaya peningkatan pengajaran bahasa Indonesia.

Menyadari hal tersebut, maka pada dasarnya penerapan Kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia mengharapkan siswa mampu dan terampil berbahasa Indonesia. Khususnya menerapkan kaidah penulisan ejaan. Dalam hal ini penulisan dan ejaan yang telah dibakukan. Berhubugan dengan pula standardisasi dan pembakuan bahasa Indonesia adalah penetapan atau aturan berbahasa. Berdasarkan bahasa yang dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa, ditetapkan pula mana yang berlaku pada bahasa itu.

Kemampuan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia adalah jenis kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa, khususnya pada jenjang SLTP. Kemampuan itu merupakan kunci yang dapat memudahkan siswa berkomunikasi dengan efektif. Secara tertulis, siswa SLTP sebagai hasil proses pendidikan formal perlu dibekali kemampuan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini merupakan modal untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi maupun sebagai bekal untuk hidup bermasyarakat.

Dalam pendidikan sekolah tingkat lanjutan pertama, hasil pengajaran bahasa Indonesia belum dapat dikatakan sebagai hasil yang memuaskan. Kenyataan ini dapat dilihat pada hasil EBTA – EBTANAS  bahasa  Indonesia khusus di SLTP Negeri Pambusuang, sebelum dan sesudah menggunakan kurikulum 1994 masih menunjukkan hasil  yang belum optimal. Khusus sekolah lanjutan pertama yang ada di pinggiran dan luar kota, baik negeri maupun swasta, hasil pengajaran bahasa Indonesia belum dapat memberikan hasil yang memadai. Keadaan semacam ini timbul karena kuatnya pengaruh bahasa daerah, kurangnya kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia (Kirana, 2000: 3).

Dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa di sekolah lanjutan, Kurikulum 1994 mengupayakan penyebaran Kurikulum yang dengan jelas mengarah kepada pembinaan kemampuan berbahasa anak didik. Pengetahuan dan penguasaan bahasa dalam arti internalisasi. Struktur bahasa dalam semua tataran kebahasaan senantiasa dikaitkan dengan pembinaan kemampuan berkomunikasi, baik secara Iisan maupun tulisan. Bentuk-bentuk komunikasi dan strukturnya harus sesuai dengan kaidah­-kaidah gramatikal dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dan setiap pemakaian bahasa harus menguasai hal tersebut.

Pengajaran kaidah gramatikal kepada siswa dimaksudkan untuk menanamkan pengetahuan dan penguasaan kaidah gramatikal yang bersifat fungsional. Pengetahuan dan penguasaan kaidah gramatikal yang bersifat fungsional bagi anak didik memungkinkan dapat menyusun kalimat-kalimat yang gramatikal.

Tujuan pengajaran bahasa ini akan tercapai apabila guru lebih banyak melibatkan siswa dalam berbagai situasi perbuatan bahasa. Artinya, bahwa guru harus memberikan latihan-latihan dan contoh-contoh penggunaan bahasa yang baik dan benar. Dengan memberikan berbagai contoh pola kalimat beserta variasinya dan diikuti pemberian latihan, maka siswa dengan mudah mengenal bentuk kalimat dan dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Untuk mencapai hasil pengajaran bahasa Indonesia yang maksimal, salah satu yang dapat ditempuh adalah mengajarkan secara intensif penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia. Pemahaman siswa terhadap kata sapaan dan penggunaannya dalam menyusun kalimat bahasa Indonesia sangat penting karena mempunyai fungsi dalam tatanan struktur tata bahasa Indonesia dan fungsi sosial bahasa Indonesia.

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai pengajaran dalam menyusun kalimat bahasa Indonesia, rata-rata menunjukkan hasil yang belum memuaskan. Misalnya penelitian tentang :

  1. Kemampuan Siswa Kelas II SLTP Negeri 2 Polewali menggunakan kosakata dalam kalimat bahasa Indonesia, Hardiah 1999.
  2. Penguasaan Pemenggalan Kata bagi Siswa Kelas II SLTP Negeri 4 Polewali Kabupaten Polmas, Candra Kirana, 2000.
  3. Kemampuan Siswa kelas 1 SLTP Negeri I Wonomulyo menggunakan kata bilangan dalam menyusun kalimat, Sri Seger Asriyanty, 2000.

Umumnya peneliti tersebut menemukan bahwa kemampuan siswa menggunakan kata dalam menyusun kalimat belum memadai.

Penelitian tentang penguasaan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia merupakan salah satu bagian pelajaran bahasa Indonesia di SLTP yang belum memperoleh hasil yang baik. Khusus di SLTP Negeri Pambusuang, masalah penguasaan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan memainkan peranan penting pada seluruh sekolah lanjutan tingkat pertama baik negeri maupun swasta dalam rangka meningkatkan pengetahuan bahasa Indonesia di kalangan siswa pada umumnya.

Mengingat pentingnya arti, nilai, dan fungsi kemampuan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia, maka sewajarnya jika pengajaran jenis-jenis, ciri-ciri, maupun pengertian kata sapaan perlu dibina dan ditingkatkan. Pembinaan sebaik-baiknya terhadap pengajaran kata sapaan di sekolah lanjutan tingkat pertama, bukan saja akan menciptakan siswa yang memiliki kemampuan dalam berbahasa Indonesia yang selama ini masih dianggap kurang efektif, tetapi juga menciptakan keterampilan dalam sikap dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itulah, penggunaan kata sapaan dalam pengajaran bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian, baik dari pihak guru bahasa Indonesia maupun dari pihak-pihak yang lain yang bermaksud mengembangkan pengajaran bahasa Indonesia.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian yang berkaitan dengan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia, yaitu “Penguasaan Penggunaan Kata Sapaan dalam Kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Negeri Pambusuang”.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang ada sekarang adalah bagaimana mengetahui dan memahami kesulitan belajar siswa pada umumnya dan mengetahui kemampuan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia. Dengan demikian, masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah :

“Bagaimanakah penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Negeri Pambusuang”.

C.   Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan yang dikemukakan di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah untuk siswa kelas II SLTP Negeri ­kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan ukuran tentang penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Pambusuang dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia.

PENGUASAAN IDIOM BAHASA INDONESIA DALAM KALIMAT SISWA KELAS II SLTP NEGERI I CAMPALAGIAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Penggunaan idiom dalam kalimat bahasa Indonesia perlu menjadi fokus perhatian, karena kenyataan menunjukkan bahwa para pengguna bahasa banyak yang tidak memperhatikan pemakaian bahasa Indonesia dengan baik. Mereka tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap kemantapan pemakaian bahasa Indonesia baku. Mereka sering menambah atau mengurangi penggunaan kata atau kalimat dengan sekehendak hatinya atau mengubah penggunaan idiom atau ungkapan sehingga menimbulkan pengertian dan pemaknaan yang keliru. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika sering ditemukan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia, baik dalam bahasa tulis maupun bahasa lisan.

Bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses berpikir dan dalam kegiatan manusia, sebagaimana dikatakan oleh Alwasilah (1993: 2) bahwa bahasa adalah kegiatan berpikir manusia dan kegiatan ini sangat bermacam-macam, sering tidak logis, kadang tidak terduga atau sering kali kacau karena kekuatan emosi, takut, hasrat, keinginan, harapan, dan sebagainya.

Berdasarkan pernyataan Alwasilah tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Bahasa dapat mengelola alam pikiran manusia sehingga diwujudkan dalam kegiatan, seperti mengekspresikan kekuatan emosi yang dimilikinya. Jadi, bahasa selain mengandung aspek dan bentuk, juga mengandung isi.

Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Keraf (1988:25) bahwa bentuk atau ekspresi adalah segi yang dapat diserap oleh panca indera, yaitu dengan mendengar atau melihat, sedangkan segi isi atau makna adalah segi yang menimbulkan reaksi dalam pikiran pendengar atau pembaca karena rangsangan aspek isi atau makna.

Karena bentuk merupakan ekspresi makna, maka bentuk itu sendiri dapat merangsang penafsiran yang lebih dari satu makna terutama penggunaan idiom dalam kalimat. Idiom atau ungkapan sering digunakan oleh pemakai bahasa, balk lisan maupun tertulis. Tujuan penggunaan idiom atau ungkapan itu agar pendengar atau pembaca merasa lebih tertarik terhadap apa yang didengar atau dibacanya.

Idiom pada dasarnya seringkali digunakan oleh penutur bahasa dalam berkomunikasi dengan masyarakat luas. Penggunaan idiom ini sengaja dilakukan terutama untuk menyatakan sesuatu secara tidak langsung kepada lawan bicara, hanya dengan menyatakan di luar konteks kata yang lebih mudah dicerna dan dimengerti oleh pendengar tanpa adanya kesalahan persepsi antara penutur dan petutur. Misalnya, kata pencuri lebih halus kedengarannya bila menggunakan kata panjang tangan.

Salah satu bagian idiom yaitu ungkapan tetap. Ungkapan tetap merupakan pasangan kata yang teradat, yang pemakaiannya tidak boleh dipisahkan dengan kata yang mengikutinya. Seperti kata sesuai dengan, dalam penulisan kata ini seringkali didapati hanya menggunakan kata sesuai tanpa diikuti oleh kata dengan. Pada hal seharusnya kata ini sesuai selalu bersama dalam setiap penulisannya agar makna yang ditimbulkannya betul-­betul dimengerti oleh pembaca atau pendengar.

Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa masih sangat banyak orang yang belum memahami penggunaan idiom. Sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Habriani (1998: 45) menyimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas II SLTP Negeri 1 Polewali menggunakan idiom dalam karangan bahasa Indonesia belum memadai. Hal serupa juga disimpulkan oleh Anwar (1997: 39) bahwa kemampuan siswa kelas I SLTP Negeri Wonomulyo menentukan idiom dalam karangan siswa belum memadai. Dengan pertimbangan tersebut penulis mengangkat satu judul penelitian skripsi, yaitu Penguasaan Idiom Bahasa Indonesia dalam Kalimat oleh Siswa Kelas II SL TP Negeri I Campalagian.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian ini, yaitu: Bagaimanakah penguasaan idiom bahasa Indonesia dalam kalimat oleh siswa kelas II SLTP Negeri I Campalagian.

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penguasaan idiom bahasa Indonesia dalam kalimat oleh siswa kelas II SLTP Negeri I Campalagian.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Memberikan informasi yang akurat tentang penguasaan siswa kelas II SLTP Negeri I Campalagian menggunakan idiom bahasa Indonesia dalam kalimat, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia.
  2. Memberikan bahan masukan bagi guru bidang studi bahasa Indonesia di mengatasi kesulitan siswa dalam penggunaan idiom bahasa Indonesia dalam kalimat.
  3. Memberikan bahan perbandingan bagi mahasiswa atau peneliti lain yang ingin meneliti masalah yang relevan dengan penelitian ini.

PENGGUNAAN BAHASA FIGURATIF DALAM NASKAH PIDATO SISWA KELAS II SMU NEGERI CAMPALAGIAN KABUPATEN POLMAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Bangsa Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 yang isinya antara lain : mengaku berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia, selanjutnya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. IVIMPR/1999 menggariskan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dilaksanakan dengan mewujudkan penggunaannya secara baik dan benar.

Peranan penelitian dalam pengajaran bahasa sangat penting karena banyak masalah dalam bidang ini yang perlu dipecahkan. Di samping itu, penelitian semacam ini bermanfaat untuk bidang pendidikan dan pengajaran karena bidang ini memerlukan landasan ilmiah. Perencanaan pendidikan bahasa tidaklah mungkin dapat diharapkan hasilnya yang memuaskan jika tidak disertai penelitian bahasa terlebih dahulu.

Dalam pengajaran bahasa ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni yang bersifat integratif (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dan yang bersifat teori-teori bahasa yakni (semantik, sintaksis).

Bahasa Indonesia dalam kaitannya dan peranannya sebagai media komunikasi dapat dilakukan dalam berbagai model. Salah satu bentuk yang konkret adalah pidato.

Di sekolah-sekolah sering kita jumpai siswa yang sangat sulit untuk mengungkapkan dan mengutarakan ide-idenya, meskipun ide-ide itu sudah tercermin dalam benaknya. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurang kaya dan kurang memahami kosakata dan gaya bahasa.

Ahli pidato yang baik sering memanfaatkan bahasa kias atau majas untuk menjelaskan gagasan-gagasan mereka. Seorang retorik klasik yang telah dimanfaatkan oleh novelis Romawi, Cicero dan Suetonicus, dengan memakai figura dalam pengertian bayangan, gambaran, sindiran, dan kiasan­kiasan.

Majas, kiasan atau figura of speech adalah bahasa kias, bahasa yang indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal lain yang lebih umum. Dengan kata lain, penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu (Dale dalam Tarigan 1986:112)

Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi para penyimak dan pembaca. Kata retorika berasal dari bahasa Yunani rhetor yang berarti orator atau ahli pidato. Pada masa Yunani kuno retorika memang merupakan bagian penting dari suatu pendidikan. Oleh karena itu, gaya bahasa sangat penting serta harus dikuasai benar-benar oleh orang-orang Yunani dan Romawi pada saat hingga berkembang sampai sekarang dan memerlukan tindak lanjut yang sesuai.

Implikasi lebih lanjut menyangkut pendidikan bahasa Indonesia tidak diragukan lagi bahwa bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah umumnya adalah variasi baku. Kemahiran dan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan diharapkan dapat dilakukan oleh siswa khususnya dalam bentuk pidato.

Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah bertujuan menanamkan dasar-dasar pengetahuan sikap, nilai, serta keterampilan berbahasa Indonesia dan salah satu model pendidikan yang diharapkan yakni berpidato. Pengajaran bahasa Indonesia dapat menumbuhkan sikap positif terhadap bangsa Indonesia Hasil Pengajaran bahasa Indonesia mencerminkan sikap seorang siswa untuk mencintai bahasa Indonesia, merasa memiliki bahasa Indonesia, bangsa akan bahasa Indonesia dan mereka menyadari bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa dan ia menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu ciri identitas bangsa.

Sering ditemukan betapa banyak siswa yang sangat sulit untuk berbicara di depan umum untuk mengutarakan pendapat mereka ini disebabkan oleh kurangnya perhatian seorang guru untuk memberikan pelatihan dan praktik, baik dalam bentuk pidato lisan, maupun dalam bentuk naskah pidato.

Pidato pada dasarnya mendidik dan mengembangkan kreativitas seorang siswa karena keterampilan berbahasa semua ada dalam pelatihan dan praktik pidato dari empat keterampilan berbahasa yakni keterampilan menulis, menyimak, membaca dan berbicara. Dalam pidato juga sering ditemukan gaya bahasa yang dipergunakan oleh seorang orator.

Majas atau gaya bahasa memberikan nilai tersendiri bagi seorang orator atau ahli pidato untuk menarik simpati para pendengar, jika mereka bisa menggunakan gaya bahasa dan kosakata yang tepat.

Peningkatan pemakaian gaya bahasa, jelas memperkaya kosakata pemakaiannya. Seseorang dikatakan mempunyai kosakata yang kaya kalau dia memahami makna kosakata tersebut. Oleh karena itu, pengajaran gaya bahasa merupakan suatu teknik penting dalam pengajaran kosakata, seterusnya pengajaran kosakata turut pula menunjang pengajaran semantik, sehingga ketiga pengajaran di atas antara satu dengan yang lain sating menunjang dan sating mengisi dan melengkapi. Majas dan kosakata mempunyai hubungan erat, hubungan timbal balik. Majas dan semantik mempunyai hubungan erat sebab tanpa pengetahuan mengenai makna kata, terlebih-lebih makna konotatif, sukar untuk memahami gaya bahasa yang beraneka ragam itu.

Semakin kaya kosa kata seseorang maka semakin mantap pula memahami makna kosakata itu, maka semakin beragam pula majas yang dapat dimanfaatkannya. Selain itu, semakin mudah pula dia memahami serta menghayati majas yang dipakai ofeh orang lain.

Peningkatan pemakaian gaya bahasa atau majas, jelas akan memperkaya kosakata yang kaya kalau dia memahami makna kosakata tersebut. Oleh karena itu pengajaran gaya bahasa merupakan suatu teknik penting dalam pengajaran kosakata.

Gaya bahasa merupakan bagian ilmu bahasa, penyelidikan gaya bahasa mencakup masalah perulangan bunyi, inversi atau pembalikan susunan kata dan susunan kalimat yang mempunyai fungsi estetis. Dengan demikian, gaya bahasa mempelajari segala cars untuk mencapai suatu efek tertentu dalam pernyataan. Misalnya metafora susunan kalimat dan sebagainya.

Gaya bahasa, baik yang mengandung makna perbandingan dan pertanyaan maupun perulangan dan pertautan sebagaimana pembagian yang dikemukakan oleh Tarigan (1986), pada umumnya cenderung lebih berpengaruh pada daya emosi ketimbang pada daya nalar. Karena itu, gaya bahasa dapat disebut sebagai salah satu aspek penting dari bahasa emotif. Keterpengaruhan daya emosi itu sering membuat daya nalar jadi melemah, dalam bahasa pidato politik berkembang suatu gaya bahasa yang saya sebut gaya topeng (Tampubolon, 1998:3). Biasa kita dengar atau baca di media massa, misalnya pemerintah terns mengusahakan anggaran berimbang dan sudah diamankan. Kedua kalimat itu terasa indah karena penggunaan kata

berimbang dan diamankan tetapi makna kata di atas adalah pinjaman lust negeri (utang). Gaya topeng tersebut begitu berpengaruh pada daya emosi. Menurut pendapat pats ahli retorika, yaitu Aristoteles dan Cicero (Effendy, dalam Faizah 2003: 18} menyarankan sebuah pidato harus memiliki teori kuda yaitu;

– Exordium    = Kepala

– Protetis        = Punggung – Arguments = Perut

– Conclusio   = Ekor

Exordium adalah bagian pendahuluan sebuah pidato berfungsi sebagai pengantar ke arah pokok persoalan yang akan dibahas dan sebagai upaya menyiapkan mental hadirin. Beberapa cars dapat ditampilkan untuk menarik perhatian antara lain

–       Mengemukakan pertanyaan

–       Menjadikan ilustrasi yang spesifik

–       Memberi fakta yang mengejutkan.

Protetis diibaratkan Punggung pada tubuh kuda bagian ini merupakan pokok pembahasan yang mengemukakan latar belakang masalah uraian yang harus menggunakan bahasa yang sarat dengan makna pesan dan menghindari istilah-istilah yang sulit dipahami.

Arguments diibaratkan dengan bagian perut kuda bagian ini merupakan tubuh naskah pidato yang merupakan kesatuan argumentasi

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah : Bagaimana penggunaan bahasa figuratif dalam naskah pidato siswa Kelas II SMU Negeri Campalagian Kabupaten Polman.

C.   Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas masalah yang telah dikemukakan di atas. Jadi penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan bahasa figuratif dalam naskah pidato siswa kelas II SMU Negeri Campalagian Kabupaten Polman.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dapat dicapai dari penelitian ini, adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan data informasi tentang penggunaan bahasa figuratif dalam naskah pidato siswa kelas II SMU Negeri Campalagian Kabupaten Polman;
  2. Memberikan masukan dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan;
  3. Memberikan sumbangan pikiran dalam usaha pengkajian yang menggambarkan sejumlah penggunaan bahasa figuratif dalam naskah pidato siswa kelas II SMU Negeri Campalagian Kabupaten Polman;
  4. meningkatkan apresiasi pembaca terhadap karya generasi muda dalam bentuk naskah pidato;
  5. Membantu pemerhati kebahasaan dalam memahami pidato dan penggunaan bahasa figuratif; dan
  6. Menjadi bahan pertimbangan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan penelitian


PENGARUH PEMBERIAN MOTIVASI DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SISWA KELAS I SLTP NEGERI 2 WONOMULYO

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberhasilan suatu bangsa dalam melaksanakan pembangunan bergantung pada kualitas manusianya. Sementara untuk mendapatkan manusia yang berkualitas harus melalui proses yang membutuhkan pengorbanan pada setiap jenjang pendidikan. Dalam proses tersebut manusia dibimbing dan diarahkan oleh penggerak, yang tidak lain adalah guru atau tenaga pengajar.

Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menghasilkan manusia yang berkualitas. Seperti adanya penyempurnaan atau perbaikan kurikulum, pengadaan sarana dan prasarana, penataan, dan penambahan tingkat pendidikan bagi tenaga pendidik, serta pemantapan pendekatan proses belajar-mengajar. Hal ini sejalan dengan pendapat (Usman, 1993:1) yang mengatakan bahwa berbagai upaya pembenahan sistem pendidikan dan perangkatnya di Indonesia terus dilakukan, akibatnya muncul beberapa peraturan pendidikan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan peraturan-peraturan yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan saat ini. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kerja para guru karena kemampuan profesional guru amatlah penting dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.

Pendapat di atas menitik beratkan pada keprofesionalan seorang guru, karena gurulah yang berperan penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Selain itu, guru pulalah yang berhadapan langsung dengan siswa. Untuk itu, guru berkewajiban meningkatkan kemampuan profesionalnya, terutama dalam hal pengaktifan siswa dalam belajar.

Usaha pemerintah di atas, diarahkan pada pencapaian tujuan belajar mengajar secara maksimal dan berorientasi pada peningkatan hasil belajar peserta didik, namun karena semakin banyaknya variabel yang berpengaruh terhadap hasil belajar, maka yang diharapkan belum tercapai dengan maksimal. Oleh sebab itu, peranan guru sangat dibutuhkan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Untuk mencapai tujuan pendidikan serta manusia yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh rumusan tujuan pendidikan yang mantap, kelengkapan sekolah, kecerdasan peserta didik serta ketatnya peraturan sekolah. Namun yang terpenting adalah peranan yang dimainkan oleh pendidik atau guru untuk mencari celah-celah yang dapat memberi pengaruh agar hasil belajar siswa meningkat, khususnya pada bidang studi bahasa dan sastra Indonesia.

Sebagai seorang guru diharapkan membantu peserta didik untuk dapat menerima, memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu, guru hendaknya mampu mengaktifkan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Pengaktifan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan motivasi belajar.

Motivasi adalah salah satu komponen pengajaran yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Mouley (dalam Sahabuddin, 1995:155) bahwa tidak ada suatu masalah dalam mengajar yang lebih penting daripada motivasi.

Pendapat tersebut sejalan pula dengan pendapat Crow dan Crow (dalam Sahabuddin, 1995;155) bahwa tidak ada rencana pelajar dianggap lengkap bila tidak mencakup motivasi.

Berdasarkan pendapat di atas, sangat jelas bahwa motivasi sangat penting dalam proses belajar-mengajar agar hasil belajar siswa meningkat. Namun kenyataan yang ada di lapangan, pemberian motivasi kurang diperhatikan oleh guru. Padahal ada beberapa bentuk-bentuk motivasi khususnya dalam proses belajar-mengajar yang baik dipergunakan agar siswa lebih giat belajar.

Atas dasar pemikiran di atas, penulis termotivasi untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian motivasi terhadap hasil belajar Bahasa dan Sastra Indonesia dengan judul penelitian “Pengaruh Pemberian Motivasi dalam Proses Belajar-Mengajar terhadap Hasil Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa Kelas I SLTP Negeri 2 Wonomulyo”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diberikan di atas, maka permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah :

  1. Seberapa besar pengaruh pemberian motivasi dalam proses belajar-mengajar terhadap hasil belajar bahasa dan sastra Indonesia siswa kelas I SLTP Negeri 2 Wonomulyo
  2. Apakah ada perbedaan yang berarti dalam hasil belajar kelompok siswa yang diberi motivasi dengan kelompok siswa yang tidak diberi motivasi pada siswa kelas I SLTP Negeri 2 Wonomulyo.

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan masalah di atas, tujuan penelitian ini yaitu:

  1. Untuk mengetahui Seberapa besar pengaruh pemberian motivasi dalam proses belajar-mengajar terhadap hasil belajar bahasa dan sastra Indonesia Kelas I SLTP Negeri 2 Wonomulyo.
  2. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang berarti dalam hasil belajar kelompok siswa yang diberikan motivasi dengan kelompok siswa yang tidak diberikan motivasi pada siswa kelas I SLTP Negeri 2 Wonomulyo.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini yaitu :

  1. Sebagai informasi bagi guru SLTP Negeri dalam mengaktifkan siswa saat proses belajar-mengajar berlangsung.
  2. Sebagai bahan masukan bagi guru SLTP Negeri 2 Wonomulyo bahwa dengan menggunakan bentuk-bentuk motivasi dalam mengajar bahasa dan sastra Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
  3. Sebagai informasi awal bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian yang relevan dengan penelitian ini.

Pemakaian Kalimat Inversi Dalam Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” Karya Hamka

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan alat yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehari- hari. Setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari bahasa; bahasa juga dipergunakan untuk menanggapi apa yang terjadi di alam sekitar atau peristiwa yang terjadi.

Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Untuk berkomunikasi dengan sesama anggota masyarakat, kehadiran bahasa yang komunikatif akan menunjang tujuan yang hendak dicapai secara cepat. Bahasa yang komunikatif adalah bahasa yang dapat dipakai untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada masyarakat pemakainya. Tanpa bahasa, komunikasi atau hubungan antar manusia tidak dapat berlangsung dengan baik. Komunikasi dapat tercapai apabila pemakai bahasa mampu menggunakan kalimat – kalimat yang baik dan benar.

Untuk menggunakan kalimat yang baik dan benar perlu pemahaman mengenai kaidah-kaidahnya sesuai tata bahasa yang berlaku. Dalam tata bahasa dikenal sebagai suatu ilmu yang di dalamnya terdapat kumpulan kaidah, aturan, atau pedoman sistem berbahasa; baik sistem bunyi, sistem bentuk kata atau kalimat, maupun maknanya.

Penelitian tentang kalimat pernah dilaksanakan Rokhmah 1994 di kota Ujung Pandang. Hal yang sama pernah Ambo Endre 1993 di Minasa Tene. Akan ini membahas masalah kemampuan siswa kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk, akan penulis kaji lebih jauh adalah kalimat dalam kalimat tunggal dan kalimat inversi dalam majemuk. Alasan lain dilakukannya penelitian ini bahwa kalimat inversi adalah bagian dari kalimat, sedangkan kalimat adalah pembentuk tuturan. Kita berkomunikasi melalui kalimat, karena kalimatlah yang dapat menyampaikan pikiran dan perasaan manusia secara utuh. Di samping itu, kalimat merupakan salah satu sub pokok bahasan yang tercantum dalam kurikulum SMA.

Dengan demikian, masalah kalimat, khususnya inversi, perlu dijadikan kajian tersendiri.

B. Rumusan Masalah

Seperti yang telah dikemukakan pada latar belakang bahwa bahasa sebagai alat komunikasi sangat penting dalam kehidupan pemahaman terhadap kaidah-kaidah bahasa. Kalimat adalah salah satu aspek pembahasan dan memerlukan pemahaman yang luas banyaknya kalimat, maka penulis hanya pemakaian kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka. Hal ini menimbulkan masalah sebagai berikut.

  1. Apakah kalimat inversi dapat ditemukan pada kalimat tunggal dan kalimat majemuk dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” ?
  2. Bagaimana pola kalimat          inversi            dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” ?
    1. mendapatkan jenis kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”;
    2. mendapatkan gambaran tentang pola kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, adalah :

D. Manfaat

Sejalan dengan tujuan di atas maka manfaat yang bisa diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :

  1. Memperoleh gambaran tentang kalimat-kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”,
  2. Memperoleh deskripsi tentang pola-pola kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”,
  3. Dapat memberi konstribusi di dalam perkembangan ilmu kesusasteraan Indonesia.

PENDIDIKAN; NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM ROMAN “AZAB DAN SENGSARA” KARYA MERARI SIREGAR

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Karya sastra adalah suatu cara mengungkapkan gagasan, ide, dan pemikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Karya sastra merupakan hasil kegiatan kreatif, imajinatif, dan artistik. Sebagai kegiatan yang imajinatif, sastra menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialami pengarang kepada penikmat karya sastra.

Karya sastra lahir sebagai perpaduan antara hasil renungan, pemikiran, dan perasaan seorang pengarang. Keberadaan karya sastra yang dihasilkan seorang pengarang di tengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan karena merupakan cermin kehidupan yang memantulkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal tersebut yang membedakan karya sastra dengan tulisan biasa. Dalam karya sastra terkandung nilai yang perlu digali untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, sastra dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.

Karya sastra merupakan hasil renungan manusia tentang kehidupan yang keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan itu sendiri. Peristiwa-peristiwa yang ada dalam kehidupan ini menjadi dasar olahan pengarang. Objek yang menjadi dasar olahan tersebut dituangkan ke dalam karya sastra yang hasilnya memberi dampak sendiri bagi penikmatnya. Dampak tersebut memperkaya pengalaman. Dengan kata. lain, apa pun yang ditemukan penikmat dalam karya sastra yang dibacanya tentang masalah kehidupan, seperti maut, cinta, kebahagiaan, keadilan penderitaan, baik dan buruk, semua itu berkaitan dengan pengalaman batinnya.

Objek sastra adalah manusia dan kehidupannya Oleh karena itu, karya sastra merupakan suatu sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai yang dianggap lebih tinggi serta menafsirkan makna dan hakikat hidup. Jadi, karya sastra sebagai karya kemanusiaan selalu menceritakan pengalaman hidup manusia Telah diketahui bahwa kehidupan masyarakat sesuatu yang sangat kompleks. Kekomplesan tersebut diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam sekitarnya, dan manusia dengan Tuhannya. Hubungan-hubungan tersebut menimbulkan konflik yang menyebabkan kepincangan dan penyelewengan dalam kehidupan.

Perpaduan keindahan dan realitas kehidupan yang terkandung dalam  karya sastra dapat menggugah dan mempengaruhi jiwa seseorang. Seorang pengarang dikatakan berhasil menciptakan karya sastra yang baik apabila dapat mempengaruhi perasaan seseorang atau masyarakat yang mengkomsumsi karya sastra tersebut. Dengan demikian, keberhasilan karya sastra bukan terletak pada keberhasilan seorang pengarang untuk menciptakan karya sastra tersebut, tetapi keberhasilannya terlihat dan tergambar pada pengaruhnya terhadap orang atau masyarakat yang mengkomsumsinya. Secara tidak langsung, masyarakatlah yang menentukan mana karya sastra yang bermutu dan mana yang kurang bermutu.

Pada hakekatnya, seorang pengarang seharusnya memiliki kebebasan ekspresi dalam berkarya Dengan adanya kebebasan berekspresi, tanpa ikatan-ikatan seperti pada pengarang-pengarang lama, maka akan lahir dengan sendirinya keberanian untuk menyatakan kejujuran. Dengan demikian, seorang pengarang dapat mewakili perasaan dan keinginan dari masyarakatnya atau lingkungannya melalui ketajaman pena yang dimilikinya.

Djoko Pradopo (1994:59) mengatakan :

“Karya sastra adalah karya seni, yaitu suatu karya yang menghendaki kreativitas. Dalam definisi sastra telah disebutkan bahwa karya sastra itu karya yang bersifat imajinatif, yaitu karya sastra yang terjadi akibat pegangan dan hasil pegangan itu adalah penemuan-penemuan baru, kemudian penemuan­-penemuan baru itu disusun ke dalam suatu sistem dengan kekuatan imajinasi hingga terciptalah suatu dunia baru yang sebelumnya belum ada”.

Berdasarkan konsepsi di atas dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah hasil kegiatan kreatif; imajinatif, dan artistik yang dapat memberikan pengayaan batin yang sangat berharga bagi manusia.

Di dalam kehidupan yang nyata maupun kehidupan yang dijumpai dalam sebuah karya sastra, biasanya seseorang mendapatkan kebahagiaan, kelembutan, kedamaian, pengertian, cinta, dan kasih sayang dari pasangannya Akan tetapi, lain halnya yang dialami oleh pelaku utama Aminuddin dan Mariamin dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar. Mariamin menikah dengan pria yang tidak dicintainya yang ternyata tidak mendapatkan sesuatu yang didambakan dari suaminya dan hanyalah kekecewaan yang diperoleh. Demikian pula halnya dengan Aminuddin yang tidak memperoleh kebahagiaan dalam perkawinannya. Kedua insan yang tidak merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga itu disatukan dalam kehendak dan harapan dari kedua orang tuanya. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik sehingga penulis atau peneliti ingin mengembangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Sastra adalah alat untuk menyampaikan aturan, ajaran, nasihat, atau agama (Samna, 1984: 14). Karya sastra merupakan salah satu media untuk memberikan informasi, baik berupa pesan pendidikan moral maupun agama, sangatlah perlu ditumbuhkembangkan dan disebarluaskan dalam masyarakat. Hal ini sangat bermanfaat bagi masyarakat di dalam memahami kehidupan yang berisi tentang kekuatan dan kelemahan, kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kebahagiaan dan sebagainya.

Roman sebagai salah satu karya sera yang cukup populer dalam masyarakat merupakan karya fiksi yang tidak sekedar mengungkapkan dan menceritakan aspek-­aspek kemanusiaan saja, tetapi lebih dari itu, fiksi mengajak pembaca atau masyarakat memikirkan dan merenungi kehidupan yang penuh dengan keanekaragaman peristiwa.

Roman sebagai suatu karya sastra semakin besar peranannya, walaupun terdapat keterbatasan dalam penyebarannya di kalangan masyarakat. Roman sering diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang pelakunya diceritakan sejak kecil sampai meninggal dunia. Perbedaan dengan novel yaitu prosa fiksi yang menceritakan kehidupan pelakunya yang luar biasa dan dapat mengakibatkan perubahan nasib. Jadi, perbedaan roman dengan novel terletak pada cakupan hal atau masalah yang diceritakan. Pada Roman hal yang diceritakan meliputi semua kehidupan manusia dari kecil hingga meninggal dunia, sedang novel yang diceritakan adalah kehidupan pelakunya yang luar biasa.

Sejak terbitnya roman yang pertama di Indonesia, yaitu “Azab dan Sengsara”, hasil karya Merari Siregar, maka terus mengalirlah karya-karya sastra dari tangan para sastrawan Indonesia Di samping itu corak dan sifatnya pun terus berkembang, baik gaya maupun pikiran serta masalah-masalah yang dikemukakan oleh para sastrawan dalam karya-karyanya.

Menurut Semi (1988:20) :

“Sastra, seperti halnya karya seni lain, hampir setiap zaman memegang peranan penting karena sastra dapat mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan yang berfungsi sebagai alat untuk meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti positif; baik masa sekarang maupun masa yang akan datang”.

Menurut Harjana (1991:83) Keberadaan karya sastra bukan dikhususkan bagi segolongan orang-orang tertentu saja, melainkan untuk semua orang dan semua tingkatan. Sastra ditulis untuk dibaca siapa saja dan latar belakang pendidikan apa saja.

Karya sastra memberi kesenangan dan faedah bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat penikmatnya. Nilai-nilai yang terdapat di dalamnya sangat bermanfaat untuk diteladani. Besar kemungkinan di dalam roman “Azab dan Sengsara” juga terdapat nilai pendidikan yang sangat berfaedah bagi masyarakat. Dengan dasar pemikiran seperti inilah sehingga penulis merasa perlu menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam roman “Azab dan Sengsara”.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang yang diuraikan di atas, maka perlu dirumuskan masalah dalam penelitian ini. Rumusan masalah itu memberikan batasan masalah kepada penulis sehingga pembahasan tidak terlepas dari yang diharapkan.

Adapun masalah yang diangkat penulis dalam penelitian ini adalah nilai-nilai apakah yang terkandung dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar ?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini merupakan usaha untuk mendapat jawaban terhadap permasalahan yang telah dirumuskan, yakni untuk menemukan nilai-nilai yang terdapat dalam roman “Azab dan Sengsara”.

D.   Manfaat Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya memberikan pemahaman terhadap masalah yang diangkat, tetapi juga diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap masalah yang mempunyai hubungan dengan nilai-nilai tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh seseorang, termasuk penelitian karya sastra, seharusnyalah memberikan manfaat kepada siapa saja yang membacanya Demikian pula yang dilakukan penulis, diharapkan dapat memberikan manfaat, baik kepada penulis sendiri maupun kepada pembaca.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yaitu :

  1. Untuk meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra.
  2. Untuk membantu pembaca atau penikmat sastra dalam mecnahami nilai-nilai yang terdapat dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar.

MAKNA PEMMALI DALAM MASYARAKAT BUGIS SOPPENG

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Bangsa Indonesia kaya akan keanekaragaman suku, agama, dan bahasa yang memungkinkan diadakannya penelitian ­bidang folklor. Pengetahuan dan penelitian folklor sangat untuk inventarisasi, dokumentasi, dan referensi. Dalam mencari identitas bangsa Indonesia, sangat perlu menelusuri ­keberadaan folklor sebagai bagian kebudayaan bangsa.

Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan serta kebiasaan yang dipunyai manusia sebagai anggota masyarakat, Taylor (dalam Mattulada 1997:1). Kebudayaan yang di hasilkan manusia sebagai wujud. Kebudayaan paling sedikit mempunyai 3 wujud, yakni (1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide, gagasan, nilai-nilai, norma, dan peraturan, (2) wujud kebudayaan sebagai aktivitas berpola masyarakat, dan (3) wujud kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia yang dikemuka­kan oleh Koentjaraningrat (dalam Mattulada, 1997: 1).

Sulawesi Selatan adalah daerah yang memiliki kebudayaan yang khasnya didiami oleh empat suku asli, yaitu suku Mandar, dan Toraja. Semua suku memiliki bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi pan bermasyarakat. Setiap suku bangsa akan memelihara tradisi dan sistem budayanya sebagai identitas mereka agar masyarakat suku yang bersangkutan tetap ­berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun bentuk bahasa, perilaku, norma senantiasa dijaga dan dipertahankan.

Tradisi adalah kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat bersangkutan. Tradisi anggota masyarakat berprilaku baik dalam pan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat gaib dan keagamaan (Esten, 1999: 21).

Suku Bugis sebagai salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan memiliki nilai kebudayaan tersendiri. Salah satu kekayaan budaya Bugis ialah folklor. Folklor dalam masyarakat Bugis biasanya ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya melalui penuturan lisan. Penuturan lisan demikian lazim disebut sastra lisan. Namun, penulis menggunakan istilah folklor karena memiliki lingkup kajian yang lebih luas dan mencakup sastra lisan.

Jumlah folklor dalam masyarakat Bugis cukup banyak. Bugis, salah satu jenisnya ialah salah satu jenisnya ialah pemmali. Jenis folkor tadi merupakan warisan budaya yang menggambarkan masyarakat Bugis di masa lalu. Warisan Budaya tersebut dijadikan sebagai pedoman, falsafah dan nilai-nilai yang mencerminkan watak dan peradaban masa lalu.

Pemmali merupakan satu bentuk  bahasa rakyat yang dimiliki suku Bugis. Pemmali adalah pantangan atau larangan untuk berbuat dan mengatakan sesuatu. Pemmali sebagai bahasa tradisional hingga kini masih ada dalam masyarakat Bugis. Isi Pammali mengandung ajaran moral, nasihat, dan petunjuk aturan atau hukum adat, Mattulada (dalam Sulo, 1996: 20).

Pemmali memiliki fungsi dan kedudukan di masyarakat sebagai seni bertutur yang bersifat suci dan sakral. Pemmali menjadi bagian adat-istiadat yang selalu berada dalam ingatan masyarakat. Secara umum Pemmali menggunakan untaian kata yang indah dan tinggi nilainya. Untaian kata-kata dalam Pammali mengandung arti dalam makna simbolik.

Pammali biasanya dituturkan oleh orang tua kepada anak, kakak kepada adiknya, suami kepada istrinya, dan sebagainya. Pemmali muncul atau dituturkan apabila seseorang melakukan yang tidak sesuai dengan adat, dianggap melanggar etika, dan perbuatan lainnya yang dianggap tidak pantas.

Masyarakat Bugis menggunakan pemmali sebagai pengendalian dari diri dalam bertindak. Pemmali diwariskan secara turun-temurun akibat adanya pengalaman masa lalu dan kebiasaan-kebiasaan yang dihubungkan dengan kejadian yang menimpanya. Meski­ pun kejadian yang dialami terjadi hanya karena kebetulan saja, tetap diyakini sebagai ganjaran atas pelanggaran terhadap Pemmali.

Pemmali sebagai folklor yang dituturkan dari mulut ke mulut hanya akan bertahan seiring eksistensi masyarakat Bugis. Saat ini muncul kekhawatiran akan eksistensi pemmali. Hal tersebut disebabkan kurangnya minat masyarakat, khususnya generasi muda Bugis untuk mendalami, menjaga, dan memahami nilai yang terkandung dalam pemmali. Permasalahan lain adalah tidak terdokumentasinya secara bagus pemmali yang ada dalam masya­rakat Bugis termasuk dalam masyarakat Bugis Soppeng. Jika hal tersebut harus berlangsung dikhawatirkan akan mengakibatkan salah satu nilai kebudayaan Bugis.

Beberapa hal di atas mendasari penulis berminat untuk makna yang terkandung dalam Pemmali. Penulis berharap nilai-nilai luhur yang dimiliki pemmali tetapi lestari dan dipahami oleh masyarakat Bugis. Dengan mema­hami nilai luhur yang terdapat dalam pemmali masyarakat Bugis dapat mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Penelitian tentang pemmali ini dilakukan pada masyarakat Bugis  Soppeng. Alasannya, penelitian terhadap pemmali dalam masyarakat Bugis Soppeng masih langkah. Sulo (1996) meneliti namun penelitian itu Pemmali, namun penelitian ini hanya dikhususkan dalam masyarakat­  petani. Penelitian ini menitikberatkan pada pemmali yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan lapisan masyarakat Bugis Soppeng.

B.   Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut. Makna apa yang terkandung pada pemmali dalam masyarakat Bugis Soppeng?

C.   Tujuan Hasil Penelitian

Bertolak dari permasalahan yang telah dikemukakan pada bagian rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna Pemmali dalam masyarakat Soppeng.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Membantu masyarakat untuk memahami makna pemmali;
  2. Membantu masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Pemmali;
  3. Memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengkaji nilai-nilai budaya dalam pemmali;
  4. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap penggunaan bahasa bugis dalam masyarakat bagi penelitian, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum;
  5. Sebagai bahan perbandingan bagi pihak yang ingin meneliti pemmali;