Tag Archives: agama

PERSEPSI SISWA KELAS III MADRASAH TSANAWIYAH DDI KANANG TENTANG….

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Pendidikan berisi suatu interaksi antara pendidik dan peserta didik sebagai untuk membantu peserta didik dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. lnteraksi tersebut dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga dan sekolah (Sukmadinata, 1998: 1). Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memegang peran signifikan dalam proses pengajaran.

Pendidikan dapat mengubah pandangan hidup, budaya dan perilaku manusia. Pendidikan juga berfungsi mengantar manusia menguak tabir kehidupan sekaligus menempatkan dirinya sebagai pelaku dalam setiap perubahan. Pendidikan menurut Meier (2002:41) bertujuan menyiapkan manusia untuk menghadapi berbagai perubahan yang membutuhkan kekuatan pikiran, kesadaran dan kreatifitas. Dalam Alquran terdapat konsep perintah membaca, menelaah, meneliti, dan menghimpun dan sebagainya. Hal ini merupakan sinyal fenomenon bahkan neumenon dalam Islam. Tuntutan atau perintah membaca dalam Islam sangat urgen, karena manusia sebagai khalifah bukan sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas tetapi harus didasari bismi rabbikka (dengan nama Tuhan), dalam memilih bahan­bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan nama Allah.

Agama mendorong manusia untuk menggunakan persepsi rasional yang baik, religius yang amat etis pula. Agama sangat menghendaki suatu bentuk intelektualisme. Etos keilmuan adalah suatu bagian integral keagamaan yang sehat. Ia muncul karena adanya kemampuan pada dirinya sendiri dan pada sistem keyakinan yang dianut.

Mengingat pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan berhasil tidaknya pendidikan adalah guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.

Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pembimbing sekaligus pengajar. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah kemampuan mengajar di kelas. Kemampuan mengajar ini menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang guru yang tidak lancar berkomunikasi, guru bidang studi apapun, akan mengakibatkan proses pengajaran tidak efektif. Siswa sekedar mengikuti proses belajar tanpa memahami penjelasan guru.

Bahasa Indonesia merupakan media pengantar resmi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, manusia Indonesia yang ingin maju dan menguasai ilmu pengetahuan perlu membekali dirinya dengan bahasa Indonesia yang memadai. Menguasai bahasa Indonesia merupakan prasyarat wajib dalam dunia pendidikan, formal maupun informal.

Mengingat peranan bahasa Indonesia yang cukup besar, maka perlu pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia melalui berbagai pendekatan, misalnya pendekatan sosial budaya, sosial politik, dan pendekatan       psikologi massa. Pengembangan bahasa Indonesia juga dilaksanakan dengan menggunakan teknik kebahasaan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat, terutama masyarakat profesional. Selain itu, yang mendapat perhatian serius dari berbagai pihak adalah pendidikan bahasa. Pengajaran bahasa Indonesia harus bertujuan untuk meningkatkan mutu prestasi belajar. Dengan kata lain, perencanaan pengajaran bahasa Indonesia, termasuk pengajaran sastra sebaiknya dilandasi oleh hasil penelitian.

Perencanaan pengajaran bahasa Indonesia tersebut seharusnya memperhatikan perubahan atau perbaikan kurikulum dan faktor-faktor yang terkait dengan keberhasilan belajar peserta didik. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa selain komponen guru, kurikulum, dan sarana pendidikan lainnya, faktor motivasi, minat, kreativitas, dan persepsi turut berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan untuk meningkatkan motivasi, kreativitas, minat, dan memperbaiki persepsi-persepsi siswa agar hasil belajarnya lebih baik.

Salah satu hal yang menarik bagi penulis adalah adanya fenomena tentang berbagai tanggapan, pandangan, dan pendapat tentang sastra Indonesia di kalangan siswa, yang dapat diistilahkan sebagai persepsi terhadap sastra Indonesia. Persepsi terhadap sastra Indonesia tersebut memiliki pecan penting dalam meningkatkan mutu pengajaran sastra Indonesia. Persepsi awal akan menentukan proses pembelajaran dalam ruang kelas. Seorang siswa yang memiliki persepsi awal yang buruk terhadap sastra Indonesia juga akan mempengaruhi motivasi belajarnya, dan prestasinya. Pengajaran sastra bukan sekedar mengajarkan bahasa atau cars berbahasa dan berkomunikasi. Pengajaran sastra membutuhkan keuletan, teknik dan metode tertentu. Sastra pada hakikatnya melibatkan budaya, seni, emosi, dan nalar manusia. Oleh sebab itu, banyak orang yang menemukan kesadaran religius dan sosial setelah membaca karya sastra.

Dewasa ini, fungsi dan kedudukan sastra Indonesia menjadi signifikan akibat munculnya berbagai persoalan dalam masyarakat kita. Persoalan-persoalan itu sesungguhnya dimulai dari ruang kelas, antara lain (Alwasilah, 2002:79):

  1. Tingkat pendidikan dan strategi pengajaran sastra yang berbanding terbalik dengan kemajuan global.
  2. Kecenderungan para pejabat menggunakan istilah-istilah yang membingungkan, yang seringkali tidak dipahami oleh mereka sendiri. Perilaku ini semakin memperbodoh rakyat.
  3. Asumsi yang muncul di masyarakat mengatakan bahwa pengajaran sastra Indonesia selama ini membosankan siswa. Pengajaran sastra Indonesia yang kaku dan terstruktur tidak akan sanggup mencerdaskan siswa. Pengajaran sastra membutuhkan keterbukaan, pola pikir yang tidak terstruktur.
  4. Siswa tidak terlatih membuat karya sastra dengan menggunakan nalar (logika) sehingga menurunkan motivasi belajar mereka. Pengajaran sastra lebih banyak menggunakan sistem ceramah sebagaimana pengajaran bahasa.
  5. Siswa putri (siswi) masih dianggap tidak berani mengemukakan pendapatnya dalam ruang kelas dan cenderung diam.
  6. Ada asumsi yang mengatakan bahwa persepsi siswa terhadap mata pelajaran sastra cenderung negatif. Salah satu penyebabnya adalah cara mengajar guru sastra tersebut tidak sanggup menumbuhkan minat belajar siswa.

Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang merupakan lokasi populasi yang penulis anggap sebagai lokasi penelitian paling memenuhi syarat dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan peserta didik Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang secara keseluruhan berjenis kelamin perempuan. Perempuan dalam kebudayaan Indonesia masih menduduki warga negara kelas dua. Usia siswa yang masih sangat muda memungkinkan pengaruh budaya feodalisme Indonesia dan dogma-dogma agama yang dipahami secara sempit mempengaruhi persepsi siswa terhadap berbagai persoalan, khususnya terhadap karya sastra. Bertolak dari latar belakang di atas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian yang bertujuan mengungkap persepsi siswa terhadap pengajaran sastra Indonesia. Judul penelitian yang dimaksud oleh penulis adalah “Persepsi Siswa Kelas III Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang terhadap Pengajaran Sastra”.

B.   Rumusan Masalah

Bertolak dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Bagaimanakah persepsi siswa kelas III Madrasah Tsanawiyah Kanang DDI terhadap pengajaran sastra?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa kelas III Madrasah Tsanawiyah Kanang DDI terhadap pengajaran sastra Indonesia.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(1)  Sebagai bahan masukan bagi guru untuk meningkatkan mutu pengajaran sastra Indonesia di Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang.

(2)  Sebagai bahan masukan bagi dunia pendidikan dalam upaya memperbaiki persepsi siswa terhadap sastra Indonesia khususnya siswa Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang.

(3)  Memberikan informasi bagi peneliti lain yang berminat melanjutkan penelitian tentang masalah ini.

Iklan

FILSAFAT MODERN DAN PEMBENTUKANNYA (Renaisans, Rasionalisme dan Empirisme)

FILSAFAT MODERN DAN PEMBENTUKANNYA

(Renaisans, Rasionalisme dan Empirisme)

Oleh: Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latarbelakang

Tradisi pemikiran Barat dewasa ini merupakan paradigma bagi pengembangan budaya Barat dengan implikasi yang sangat luas dan mendalam di semua segi dari seluruh lini kehidupan. Memahami tradisi pemikiran Barat sebagaimana tercermin dalam pandangan filsafatnya merupakan kearifan tersendiri, karena kita akan dapat melacak segi-segi positifnya yang layak kita tiru dan menemukan sisi-sisi negatifnya untuk tidak kita ulangi.

Ditinjau dari sudut sejarah, filsafat Barat memiliki empat periodisasi. Periodisasi ini didasarkan atas corak pemikiran yang dominan pada waktu itu. Pertama, adalah zaman Yunani Kuno, ciri yang menonjol dari filsafat Yunani kuno adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. Para filosof pada masa ini mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya, sehingga ciri pemikiran filsafat pada zaman ini disebut kosmosentris. Kedua, adalah zaman Abad Pertengahan, ciri pemikiran filsafat pada zaman ini di sebut teosentris. Para filosof pada masa ini memakai pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma-dogma agama Kristiani, akibatnya perkembangan alam pemikiran Eropa pada abad pertengahan sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama, sehingga pemikiran filsafat terlalu seragam bahkan dipandang seakan-akan tidak penting bagi sejarah pemikiran filsafat sebenarnya. Ketiga, adalah zaman Abad Modern, para filosof zaman ini menjadikan manusia sebagai pusat analisis filsafat, maka corak filsafat zaman ini lazim disebut antroposentris. Filsafat Barat modern dengan demikian memiliki corak yang berbeda dengan filsafat Abad Pertengahan. Letak perbedaan itu terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas kekuasaan mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman Modern otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri yaitu akal. Kekuasaan yang mengikat itu adalah agama dengan gerejanya serta Raja dengan kekuasaan politiknya yang bersifat absolut. Keempat, adalah Abad Kontemporer dengan ciri pokok pemikiran logosentris, artinya teks menjadi tema sentral diskursus filsafat.[1]

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka pembahasan dalam makalah ini akan dibatasi pada filsafat modern dan pembentukannya yang difokuskan pada tiga masalah inti yaitu Renaisans, Rasionalisme dan Empirisme dalam rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana filsafat Barat pada era renaisans?
  2. Bagaimana filsafat modern aliran rasionalisme?
  3. Bagaimana filsafat modern aliran empirisme?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Renaisans

Tidak mudah menentukan batas yang jelas mengenai akhir zaman pertengahan dan awal yang pasti dari zaman modern. Hal ini disebabkan perbedaan pandangan para ahli sejarah tentang peralihan zaman pertengahan ke zaman modern. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa zaman pertengahan berakhir ketika Konstantinopel ditaklukkan oleh Turki Usmani pada tahun 1453 M. Peristiwa tersebut dianggap sebagai akhir zaman pertengahan dan titik awal zaman modern. Ada juga yang berpendapat bahwa  penemuan benua Amerika oleh Columbus pada tahun 1492 M., menandai awal zaman modern. Para ahli yang lain cenderung menganggap era gerakan reformasi keagamaan yang dimotori oleh Martin Luther pada tahun 1517 M., sebagai akhir zaman pertengahan. Namun mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa akhir abad ke 14 sekaligus menjadi akhir zaman pertengahan yang ditandai oleh suatu gerakan yang disebut renaissance pada abad ke 15 dan 16. Dengan demikian abad ke 17 menjadi bagian awal dari zaman filsafat modern.[2]

Renaisans berasal dari istilah bahasa Prancis renaissance yang berarti kelahiran kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh para ahli sejarah untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual yang terjadi di Eropa, khususnya di Italia sepanjang abad ke 15 dan ke 16. Istilah ini mula-mula digunakan oleh seorang ahli sejarah terkenal yang bernama Michelet, kemudian dikembangkan oleh J. Burckhardt (1860) untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode Abad Pertengahan.

Abad Pertengahan adalah abad ketika alam pikiran dikungkung oleh Gereja. Dalam keadaan seperti itu kebebasan pemikiran amat dibatasi, sehingga perkembangan sains sulit terjadi, demikian pula filsafat tidak berkembang, bahkan dapat dikatakan bahwa manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri. Oleh karena itu, orang mulai mencari alternatif. Dalam perenungan mencari alternatif  itulah orang teringat pada suatu zaman ketika peradaban begitu bebas dan maju, pemikiran tidak dikungkung, sehingga sains berkembang, yaitu zaman Yunani kuno. Pada zaman Yunani kuno tersebut orang melihat kemajuan kemanusiaan telah terjadi. Kondisi seperti itulah yang hendak dihidupkan kembali.[3]

Pada pertengahan abad ke-14, di Italia muncul gerakan pembaruan di bidang keagamaan dan kemasyarakatan yang dipelopori oleh kaum humanis Italia. Tujuan utama gerakan  ini adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan filsafat Yunani dengan ajaran agama Kristen. Gerakan ini berusaha meyakinkan Gereja bahwa sifat pikiran-pikiran klasik itu tidak dapat binasa. Dengan memanfaatkan kebudayaan dan bahasa klasik itu mereka berupaya menyatukan kembali Gereja yang terpecah-pecah dalam banyak sekte.[4]

Tidak dapat dinafikan bahwa pada abad pertengahan orang telah mempelajari karya-karya para filosof Yunani dan Latin, namun apa yang telah dilakukan oleh orang pada masa itu berbeda dengan apa yang diinginkan dan dilakukan oleh kaum humanis. Para humanis bermaksud meningkatkan perkembangan yang harmonis dari kecakapan serta berbagai keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan adanya kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur klasik Yunani. Para humanis pada umumnya berpendapat bahwa hal-hal yang alamiah pada diri manusia adalah modal yang cukup untuk meraih pengetahuan dan menciptakan peradaban manusia. Tanpa wahyu, manusia dapat menghasilkan karya budaya yang sebenarnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa humanisme telah memberi sumbangannya kepada renaisans untuk menjadikan kebudayaan bersifat alamiah.[5]

Zaman renaisans banyak memberikan perhatian pada aspek realitas. Perhatian yang sebenarnya difokuskan pada hal-hal yang bersifat kongkret dalam lingkup alam semesta, manusia, kehidupan masyarakat dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat upaya manusia untuk memberi tempat kepada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan dan porsi yang lebih besar, karena ada suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala macam persoalan yang diperlukan pemecahannya. Hal ini dibuktikan dengan perang terbuka terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap orang-orang yang enggan menggunakan akalnya. Asumsi yang digunakan adalah, semakin besar kekuasaan akal, maka akan lahir dunia baru yang dihuni oleh manusia-manusia yang dapat merasakan kepuasan atas dasar kepemimpinan akal yang sehat.[6]

Pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam filsafat. Zaman renaisans terkenal dengan  era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir seperti pada zaman Yunani kuno. Manusia dikenal sebagai animal rationale, karena pada masa ini pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Ilahi. Saat itu manusia Barat mulia berpikir secara baru dan berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan Gereja yang selama ini telah mengungkung kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan.[7]

Zaman ini juga sering disebut sebagai Zaman Humanisme. Maksud ungkapan tersebut adalah manusia diangkat dari Abad pertengahan. Pada abad tersebut manusia kurang dihargai kemanusiaannya. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran gereja, bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia sendiri. Humanisme menghendaki ukurannya haruslah manusia, karena manusia mempunyai kemampuan berpikir. Bertolak dari sini, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya sendiri dan mengatur dunia. Karena semangat humanisme tersebut , akhirnya agama Kristen semakin ditinggalkan, sementara pengetahuan rasional dan sains berkembang pesat terpisah dari agama dan nilai-nilai spiritual.[8]

Renaisans tidak lahir secara kebetulan, tetapi ada pra kondisi yang mengawali terjadinya kelahiran tersebut. Menurut Mahmud Hamdi Zaqzuq, ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi kelahiran Renaisans, yaitu:

1. Implikasi yang sangat signifikan yang ditimbulkan oleh gerakan keilmuan dan filsafat. Gerakan tersebut lahir sebagai hasil dari penerjemahan ilmu-ilmu Islam ke dalam bahasa latin selama dua abad, yaitu abad ke-13 dan 14. Bahkan sebelumnya telah terjadi penerjemahan kitab-kitab Arab di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal itu dilakukan setelah Barat sadar bahwa Arab memiliki kunci-kunci khazanah turas klasik Yunani.[9]

Hasil dari penerjemahan karya-karya Muslim berpengaruh terhadap kurikulum Eropa Barat secara revolusioner. Terutama di bidang matematika, kedokteran, astronomi, filologi, fisika, ilmu kimia, geografi, sejarah, musik, teologi, dan filsafat. Transformasi tersebut menumbuhkan universitas-universitas Eropa abad keduabelas dan ketigabelas.

Hal itu telah menstimulasi perkembangan lebih lanjut teori dan praktik kedokteran, memodifikasi doktrin-doktrin teologi, memprakarsai dunia baru dalam matematika, menghasilkan kontroversi baru dalam teologi dan filsafat. [10]

2. Pasca penaklukan Konstantinopel oleh Turki Usmani, terjadi migrasi para pendeta dan sarjana ke Italia dan negara-negara Eropa lainnya. Para sarjana tersebut menjadi pionir-pionir bagi pengembangan ilmu di Eropa. Mereka secara bahu-membahu menghidupkan turas klasik Yunani di Florensia, dengan membawa teks-teks dan manuskrip-manuskrip yang belum dikenal sebelumnya.

3. Pendirian berbagai lembaga ilmiah yang mengajarkan beragam ilmu, seperti berdirinya Akademi Florensia dan College de France di Paris.[11] Dalam universitas-universitas abad keduabelas dan abad ketigabelas, ilmu pengetahuan telah didasarkan hampir sepenuhnya pad tulisan-tulisan dari para penulis Muslim atau Yunani, sebagaimana diterjemahkan dari sumber-sumber bahasa Arab dan Yunani. Ilmu pengetahuan Muslim Aristotelian tetap merupakan inti dari kurikulum  Universitas Paris hingga abad keenambelas. Tidak sampai pertengahan abad keenambelas dan datangnya Copernicus dalam astronomi, Paracelsus dalam ilmu kedokteran dan Vesalius dalam anatomi, ilmu pengetahuan Muslim-Helenistik telah membuka jalan kepada konsep-konsep baru tentang manusia dan dunianya, sehingga menimbulkan keruntuhan periode abad pertengahan.[12]

Selain itu, ada beberapa faktor yang dikemukakan Slamet Santoso seperti yang dikutip Rizal Mustansyir, yaitu:

  1. Hubungan antara kerajaan Islam di Semenanjung Iberia dengan Prancis membuat para pendeta mendapat kesempatan belajar di Spanyol kemudian mereka kembali ke Prancis untuk  menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh di lembaga-lembaga pendidikan di Prancis.[13]
  2. Perang Salib (1100-1300 M) yang terulang enam kali, tidak hanya menjadi ajang peperangan fisik, namun juga menjadikan para tentara atau serdadu Eropa yang berasal dari berbagai negara itu menyadari kemajuan negara-negara Islam, sehingga mereka menyebarkan pengalaman mereka itu sekembalinya di negara-negara masing-masing.

Pada zaman renaisans ada banyak penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Di antara tokoh-tokohnya adalah:

1. Nicolaus Copernicus (1473-1543)

Ia dilahirkan di Torun, Polandia dan belajar di Universitas Cracow. Walaupun ia tidak mengambil studi astronomi, namun ia mempunyai koleksi buku-buku astronomi dan matematika. Ia sering disebut sebagai Founder of  Astronomy. Ia mengembangkan teori bahwa matahari adalah pusat jagad raya dan bumi mempunyai dua macam gerak, yaitu: perputaran sehari-hari pada porosnya dan perputaran tahunan mengitari matahari. Teori itu disebut heliocentric menggeser teori Ptolemaic. Ini adalah perkembangan besar, tetapi yang lebih penting adalah metode yang dipakai Copernicus, yaitu metode mencakup penelitian terhadap benda-benda langit dan kalkulasi matematik dari pergerakan benda-benda tersebut.[14]

2. Galileo Galilei (1564-1642)

Galileo Galilei adalah salah seorang penemu terbesar di bidang ilmu pengetahuan. Ia menemukan bahwa sebuah peluru yang ditembakkan membuat suatu gerak parabola, bukan gerak horizontal yang kemudian berubah menjadi gerak vertikal. Ia menerima pandangan bahwa matahari adalah pusat jagad raya. Dengan teleskopnya, ia mengamati jagad raya dan menemukan bahwa bintang Bimasakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak sekali jumlahnya dan masing-masing berdiri sendiri. Selain itu, ia juga berhasil mengamati bentuk Venus dan menemukan beberapa satelit Jupiter.[15]

3. Francis Bacon (1561-1626)

Francis Bacon adalah seorang filosof dan politikus Inggris. Ia belajar di Cambridge University dan kemudian menduduki jabatan penting di pemerintahan serta pernah terpilih menjadi anggota parlemen. Ia adalah pendukung penggunaan scientific methods, ia berpendapat bahwa pengakuan tentang pengetahuan pada zaman dahulu kebanyakan salah, tetapi ia percaya bahwa orang dapat mengungkapkan kebenaran dengan inductive method, tetapi lebih dahulu harus membersihkan fikiran dari prasangka yang ia namakan idols (arca).[16] Bacon telah memberi kita pernyataan yang klasik tentang kesalahan-kesalahan berpikir dalam Idols of the Mind.

Pertama, Arca-arca Suku (Idols of the Tribes). Kita condong menerima bukti-bukti dan kejadian-kejadian yang menguntungkan pihak atau kelompok kita (suku atau bangsa). Kedua, Arca-arca Gua (Idols of Cave). Kita cenderung memandang diri kita sebagai pusat dunia dan menekankan pendapat kita yang terbatas. Ketiga, Arca-arca Pasar (Idols of the Market) yang menjadikan kita terpengaruh oleh kata-kata atau nama-nama yang kita kenal dalam percakapan kita sehari-hari. Kita disesatkan oleh kata-kata yang diucapkan secara emosional. Sebagai contoh, dalam Masyarakat (Amerika) kata-kata komunis, radikal dan teroris. Keempat, Arca-arca Panggung (Idols of Theatre) yang timbul karena sikap kita berpegang pada partai, kepercayaan atau keyakinan. Tingkah laku, cara-cara dan aliran-aliran pikiran adalah seperti panggung, dalam arti bahwa mereka membawa kita ke dunia khayal. Akhirnya arca panggung membawa kita kepada kesimpulan yang salah dasar.[17]

Bacon menolak silogisme, sebab dipandang tanpa arti dalam ilmu pengetahuan karena tidak mengajarkan kebenaran-kebenaran yang baru. Ia juga menekankan bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat dihasilkan melalui pengamatan, eksperimen dan harus berdasarkan data-data yang tersusun. Dengan demikian Bacon dapat dipandang sebagai peletak dasar-dasar metode induksi modern dan pelopor dalam usaha sitematisasi secara logis prosedur ilmiah.[18]

Dalam bidang filsafat, zaman renaisans tidak menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni dan sains. Filsafat berkembang bukan pada zaman itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya yaitu zaman modern. Meskipun terdapat berbagai perubahan mendasar, namun abad-abad renaisans tidaklah secara langsung menjadi lahan subur bagi pertumbuhan filsafat. Baru pada abad ke-17 dengan dorongan daya hidup yang kuat sejak era renaisans, filsafat mendapatkan pengungkapannya yang lebih jelas. Jadi, zaman modern filsafat didahului oleh zaman renaisans. Ciri-ciri filsafat renaisans dapat ditemukan pada filsafat modern. Ciri tersebut antara lain, menghidupkan kembali rasionalisme Yunani, individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain. [19]

Pada abad ke-17 pemikiran renaisans mencapai kesempurnaannya pada diri beberapa tokoh besar. Pada abad ini tercapai kedewasaan pemikiran, sehingga ada kesatuan yang memberi semangat yang diperlukan pada abad-abad berikutnya. Pada masa ini, yang dipandang sebagai sumber pengetahuan hanyalah apa yang secara alamiah dapat dipakai manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Sebagai akibat dari kecenderungan berbeda dalam memberi penekanan kepada salah satu dari keduanya, maka pada abad ini lahir dua aliran yang saling bertentangan, yaitu rasionalisme yang memberi penekanan pada rasio dan empirisme yang memberi penekanan pada empiri.

B. Rasionalisme

Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.

Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.

Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran rasionalisme.[20]

Pada zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme adalah Rene Descartes (1595-1650). Tokoh rasionalisme lainnya adalah Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716). Descartes dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut Bertrand Russel, kata “Bapak” pantas diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern itu yang membangun filsafat berdasarkan atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dia pula orang pertama di akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat dan tegas yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci dan bukan yang lainnya. Hal ini disebabkan perasaan tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban dan banyak memakan korban. Ia melihat tokoh-tokoh Gereja yang mengatasnamakan agama telah menyebabkan lambannya perkembangan itu. Ia ingin filsafat dilepaskan dari dominasi agama Kristen, selanjutnya kembali kepada semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal.

Descartes sangat menyadari bahwa tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh Gereja bahwa dasar filsafat haruslah rasio. Tokoh-tokoh Gereja waktu itu masih berpegang teguh pada keyakinan bahwa dasar filsafat haruslah iman sebagaimana tersirat dalam jargon credo ut intelligam yang dipopulerkan oleh Anselmus. Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun argumentasinya dalam sebuah metode yang sering disebut cogito Descartes, atau metode cogito saja. Metode tersebut dikenal juga dengan metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt).[21]

Lebih jelas uraian Descartes tentang bagaimana memperoleh hasil yang sahih dari metode yang ia canangkan dapat dijumpai dalam bagian kedua dari karyanya Anaximenes Discourse on Methode yang menjelaskan perlunya memperhatikan empat hal berikut ini:

  1. Tidak menerima sesuatu apa pun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
  2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
  3. Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
  4. Dalam proses pencarian dan penelaahan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang terabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu.[22]

Atas dasar aturan-aturan itulah Descartes mengembangkan pikiran filsafatnya. Ia meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Pertama-tama ia mulai meragukan hal-hal yang berkaitan dengan panca indera. Ia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu dimungkinkan karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi dan pengalaman tentang roh halus, ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Di dalam mimpi, seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi. Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan hal gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Oleh karena itu, Descartes berkata, ”Aku dapat meragukan bahwa aku di sini sedang siap untuk pergi ke luar; ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis sepeti itu, padahal aku ada di tempat tidur sedang bermimpi”. Jadi, siapa yang dapat menjamin bahwa yang sedang kita alami sekarang adalah kejadian yang sebenarnya dan bukan mimpi?

Pada langkah pertama ini Descartes berhasil meragukan semua benda yang dapat diindera. Sekarang , apa yang dapat dipercaya dan yang sungguh-sungguh ada? Menurut Descartes, dalam keempat keadaan itu (mimpi, halusinasi, ilusi dan hal gaib), juga  dalam jaga, ada sesuatu yang selalu muncul. Ada yang selalu muncul baik dalam jaga maupun dalam mimpi, yaitu gerak, jumlah  dan besaran (volume). Ketiga hal tersebut adalah matematika. Untuk membuktikan ketiga hal ini benar-benar ada, maka Descartes pun meragukannya. Ia mengatakan bahwa matematika bisa salah. Saya sering salah menjumlah angka, salah mengukur besaran, demikian pula pada gerak. Jadi, ilmu pasti pun masih dapat saya ragukan, meskipun matematika lebih pasti dari benda. Kalau begitu, apa yang pasti itu dan dapat kujadikan dasar bagi filsafatku? Aku ingin yang pasti, yang distinct. [23]

Sampailah ia sekarang kepada langkah ketiga dalam metode cogito. Satu-satunya hal yang tak dapat ia ragukan adalah eksistensi dirinya sendiri yang sedang ragu-ragu. Mengenai satu hal ini tidak ada satu manusia pun yang dapat menipunya termasuk setan licik dan botak sekali pun. Bahkan jika kemudian ia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, maka penyesatan itu pun bagi Descartes merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang disesatkan. Ini bukan khayalan, melainkan kenyataan. Batu karang kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa latin cogito ergo sum (saya berpikir, karena itu saya ada).

Dalam usaha untuk menjelaskan mengapa kebenaran yang satu (saya berpikir, maka saya ada) adalah benar, Descartes berkesimpulan bahwa dia merasa diyakinkan oleh kejelasan dan ketegasan dari ide tersebut. Di atas dasar ini dia menalar bahwa semua kebenaran dapat kita kenal karena kejelasan dan ketegasan yang timbul dalam pikiran kita:” Apa pun yang dapat digambarkan secara jelas dan tegas adalah benar.

Dengan demikian, falsafah rasional mempercayai bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukanlah turunan dari dunia pengalaman melainkan dari dunia pikiran. Descartes mengakui bahwa pengetahuan dapat dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan seperti dalam mimpi atau khayalan, maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data keinderaan tidak dapat diandalkan. [24]

Cogito ergo sum dianggap sebagai fase yang paling penting dalam filsafat Descartes yang disebut sebagai kebenaran filsafat yang pertama (primum philosophium). Aku sebagai sesuatu yang berpikir adalah suatu substansi yang seluruh tabiat dan hakikatnya terdiri dari pikiran dan keberadaannya tidak butuh kepada suatu tempat atau sesuatu yang bersifat bendawi.

Untuk menguatkan gagasannya, ia mengemukakan ide-ide bawaan (innate ideas). Descartes berpendapat bahwa dalam dirinya terdapat tiga ide bawaan yang telah ada pada dirinya sejak lahir, yaitu pemikiran, Tuhan dan keluasan. Argumen tentang ide bawaan tersebut adalah ketika saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berpikir, maka harus diterima bahwa pemikiran merupakan hakikat saya. Ketika saya mempunyai ide sempurna, maka pasti ada penyebab sempurna bagi ide tersebut, karena akibat tidak mungkin melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain adalah Tuhan. Adapun alasan tentang keluasan karena saya mengerti ada materi sebagai keluasan, sebagaimana diketahui dan dipelajari dalam ilmu geometri.

Mengenai substansi, Descartes menyimpulkan bahwa selain dari Tuhan ada dua substansi, yaitu jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran dan materi yang hakikatnya adalah keluasan. Tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar dirinya, maka ia kesulitan membuktikan adanya dunia luar tersebut. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia luar adalah bahwa Tuhan akan menipu saya sekiranya Ia memberi ide keluasan. Namun tidak mungkin Tuhan sebagai wujud yang sempurna akan menipu saya. Jadi, di luar saya benar-benar ada dunia material.[25]

Adapun Spinoza beranggapan bahwa hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. Jika Descartes membagi substansi menjadi tiga, yaitu tubuh (bodies), jiwa (mind) dan Tuhan, maka Spinoza menyimpulkan hanya ada satu substansi. Adapun bodies dan mind bukan substansi yang berdiri sendiri, melainkan sifat dari satu substansi yang tak terbatas. Ketika ia ditanya,”Bagaimana membedakan atribut bodies dan mind?” Spinoza memberi jawaban mengejutkan: ”Anda hanyalah satu bagian dari substansi kosmik (universe)”. Jika demikian, alam semesta juga adalah Tuhan. Bagi Spinoza, Tuhan dan alam semesta adalah satu dan sama. Ya, Spinoza percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan yang dimaksudkannya adalah alam semesta ini. Tuhan Spinoza itu tidak berkemauan, tidak melakukan sesuatu, tak mempedulikan manusia dan tak terbatas (ultimate). Inilah penjelasan logis dan dapat diketahui tentang Tuhan menurut Spinoza.[26]

Sebagai penganut rasionalisme, Spinoza dianggap sebagai orang yang tepat dalam memberikan gambaran tentang apa yang dipikirkan oleh penganut rasionalisme. Ia berusaha menyusun sebuah sistem filsafat yang menyerupai sistem ilmu ukur (geometri). Seperti halnya orang Yunani, Spinoza mengatakan bahwa dalil-dalil ilmu ukur merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Spinoza meyakini bahwa jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan dalam ilmu ukur, maka ia pasti akan memahami makna yang terkandung dalam pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat di antara dua buah titik”, maka kita harus mengakui kebenaran pernyataan tersebut. Kebenaran yang menjadi aksioma.[27]

Contoh ilmu ukur (geometri) yang dikemukakan oleh Spinoza di atas adalah salah satu contoh favorit kaum rasionalis. Mereka berdalih bahwa aksioma dasar geometri seperti, “sebuah garis lurus merupakan jarak yang terdekat antara dua titik”, adalah idea yang jelas dan tegas yang baru kemudian dapat diketahui oleh manusia. Dari aksioma dasar itu dapat dideduksikan sebuah sistem yang terdiri dari subaksioma-subaksioma. Hasilnya adalah sebuah jaringan pernyataan yang formal dan konsisten yang secara logis tersusun dalam batas-batas yang telah digariskan oleh suatu aksioma dasar yang sudah pasti.[28]

C. Empirisme

Para pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang telah dirintis oleh Descartes. Mereka lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme.[29] Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme[30]

Orang pertama pada abad ke-17 yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Jika Bacon lebih berarti dalam bidang metode penelitian, maka Hobbes dalam bidang doktrin atau ajaran. Hobbes telah menyusun suatu sistem yang lengkap berdasar kepada empirisme secara konsekuen. Meskipun ia bertolak pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan rasionalisme matematis. Ia mempersatukan empirisme dengan rasionalisme dalam bentuk suatu filsafat materialistis yang konsekuen pada zaman modern.

Menurut Hobbes, filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum, sebab filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat, atau tentang penampakan-panampakan yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati untuk mencari sebab-sebabnya. Adapun alatnya adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dengan kata-kata yang menggambarkan fakta-fakta itu. Di dalam pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bentuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita. Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian; ruang, waktu, bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak.  Menurut Hobbes, tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata, tetapi yang benar-benar nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Segala gejala pada benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang ada pada si pengamat saja. Segala yang ada ditentukan oleh sebab yang hukumnya sesuai dengan hukum ilmu pasti dan ilmu alam. Dunia adalah keseluruhan sebab akibat termasuk situasi kesadaran kita.[31]

Sebagai penganut empirisme, pengenalan atau pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Pengalaman adalah awal dari segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala pengetahuan diturunkan dari pengalaman. Dengan demikian, hanya pengalamanlah yang memberi jaminan kepastian.

Berbeda dengan kaum rasionalis, Hobbes memandang bahwa pengenalan dengan akal hanyalah mempunyai fungsi mekanis semata-mata. Ketika melakukan proses penjumlahan dan pengurangan misalnya, pengalaman dan akal yang mewujudkannya. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan yang disimpan dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lalu. Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indera kita. Gerak ini diteruskan ke otak kita kemudian ke jantung. Di dalam jantung timbul reaksi, yaitu suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan yang sebenarnya terjadi  pada awal gerak reaksi tadi.

Untuk mempertegas pandangannya, Hobbes menyatakan bahwa tidak ada yang universal kecuali nama belaka. Konsekuensinya ide dapat digambarkan melalui kata-kata. Dengan kata lain, tanpa kata-kata ide tidak dapat digambarkan. Tanpa bahasa tidak ada kebenaran atau kebohongan. Sebab, apa yang dikatakan benar atau tidak benar itu hanya sekedar sifat saja dari kata-kata. Setiap benda diberi nama dan membuat ciri atau identitas-identitas di dalam pikiran orang.[32]

Selanjutnya tradisi empiris diteruskan oleh John Locke (1632-1704) yang untuk pertama kali menerapkan metode empiris kepada persoalan-persoalan tentang pengenalan atau pengetahuan. Bagi Locke, yang terpenting adalah menguraikan cara manusia mengenal. Locke berusaha menggabungkan teori-teori empirisme seperti yang diajarkan Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Usaha ini untuk memperkuat ajaran empirismenya. Ia menentang teori rasionalisme mengenai idea-idea dan asas-asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Peran akal adalah pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Oleh karena itu akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri.[33] Pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa). Di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pangalaman inderawi. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. Tapi pikiran, menurut Locke, bukanlah sesuatu yang pasif terhadap segala sesuatu yang datang dari luar. Beberapa aktifitas berlangsung dalam pikiran. Gagasan-gagasan yang datang dari indera tadi diolah dengan cara berpikir, bernalar, mempercayai, meragukan dan dengan demikian memunculkan apa yang dinamakannya dengan perenungan.

Locke menekankan bahwa satu-satunya yang dapat kita tangkap adalah penginderaan sederhana. Ketika kita makan apel misalnya, kita tidak merasakan seluruh apel itu dalam satu penginderaan saja. Sebenarnya, kita menerima serangkaian penginderaan sederhana, yaitu apel itu berwarna hijau, rasanya segar, baunya segar dan sebagainya. Setelah kita makan apel berkali-kali, kita akan berpikir bahwa kita sedang makan apel. Pemikiran kita tentang apel inilah yang kemudian disebut Locke sebagai gagasan yang rumit atau ia sebut dengan persepsi. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa semua bahan dari pengetahuan kita tentang dunia didapatkan melalui penginderaan.[34] Ini berarti bahwa semua pengetahuan kita betapapun rumitnya, dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama yang dapat diibaratkan seperti atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali seperti demikian itu bukanlah pengetahuan atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.[35]

Di tangan empirisme Locke, filsafat mengalami perubahan arah. Jika rasionalisme Descartes mengajarkan bahwa pengetahuan yang paling berharga tidak berasal dari pengalaman, maka menurut Locke, pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan. Namun demikian, empirisme dihadapkan pada sebuah persoalan yang sampai begitu jauh belum bisa dipecahkan secara memuaskan oleh filsafat. Persoalannya adalah menunjukkan bagaimana kita mempunyai pengetahuan tentang sesuatu selain diri kita dan cara kerja pikiran itu sendiri.[36]


BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan terdahulu dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Renaisans berasal dari bahasa Prancis renaisance yang berarti kelahiran kembali. Istilah ini sering digunakan untuk menamai berbagai gelombang kebudayaan dan pemikiran di Eropa yang terjadi mulai dari Italia, kemudian meluas ke beberapa negara Eropa lainnya. Kemunculan renaisans telah membawa hidupnya kembali ilmu pengetahuan, filsafat dan perubahan di berbagai lini kehidupan, sehingga para sejarawan menganggapnya sebagai awal zaman modern. Berbagai perubahan yang terjadi selama era renaisans menjadi persiapan bagi pembentukan filsafat pad abad ke-17, atau yang dikenal dengan filsafat modern.
  2. Rasionalisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal. Rasionalisme tidak mengingkari peran pengalaman, tetapi pengalaman dipandang sebagai perangsang bagi akal atau sebagai pendukung bagi pengetahuan yang telah ditemukan oleh akal. Akal dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri melalui metode deduktif. Rasionalisme menonjolkan “diri” yang metafisik, ketika Descartes meragukan “aku” yang empiris, ragunya adalah ragu metafisik.
  3. Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Akal bukanlah sumber pengetahuan, akan tetapi akal berfungsi mengolah data-data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode induktif. Jika rasionalisme menonjolkan “aku” yang metafisik, maka empirisme menonjolkan “aku” yang empiris.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro.  Filsafat Umum. Cet. V; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

Anees, Bambang Q- dan Radea Juli A. Hambali. Filsafat Untuk Umum. Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2003.

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Ravertz, Jerome R.  The Philosophy of Science. Diterjemahkan oleh Saut Pasaribu dengan judul Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Mustansyir, Rizal  dan Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Cet. VII; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Nakosteen, Mehdi. History of Islamic Origins of Western Education A. D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education. Diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah dengan judul Kontribusi Islam atas dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis abad kemasan Islam. Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam perspektif. Cet. XVI; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.

Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum. Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998.

Titus, Harold H., et al. Living Issues in philosophy. Diterjemahkan oleh H.M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat. Cet.  I; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984.

Zaqzu>q, Mah}mu>d H{amdiy. Dira>sa>t fi> al-Falsafat al-H{adi>s\ah. Cet. II; Kairo: Da>r al-T{iba>‘at al-Muh}ammadiyyah, 1988.


[1] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, selanjutnya disebut Rizal, Filsafat Ilmu (Cet. VII; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h. 58-59.

[2] Mah}mu>d H{amdiy Zaqzu>q, selanjutnya disebut Zaqzuq, Dira>sa>t fi> al-Falsafat al-H{adi>s\ah (Cet. II; Kairo: Da>r al-T{iba>‘at al-Muh}ammadiyyah, 1988), h. 16.

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998), h. 109.

[4] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum (Cet. V; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 109.

[5] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993), h. 11., lihat Jerome R. Ravertz, The Philosophy of Science, diterjemahkan Saut Pasaribu, Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 29.

[6] Asmoro Achmadi, op. cit., h. 110.

[7] Rizal, op. cit., h. 70.

[8] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 110.

[9] Zaqzuq, loc. cit.

[10] Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Western Education A. D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education, diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah, Kontribusi Islam atas dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis abad kemasan Islam (Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 271.

[11] Zaqzuq, op.cit., h. 17-18.

[12] Mehdi Nakosteen, op. cit., h. 276.

[13] Rizal, op. cit., h. 134.

[14] Harold H. Titus et al., Living Issues in philosophy, diterjemahkan H.M. Rasjidi, Persoalan-Persoalan Filsafat (Cet. I; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984), h. 258.

[15] Harun Hadiwijono, op.cit., h. 14.

[16] Harold H. Titus et al., op. cit., h. 192.

[17] Ibid., h. 191.

[18] Harun Hadiwijono, op. cit., h. 15.

[19] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 111.

[20] Rizal, op. cit., h. 73-74.

[21] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 112-113.

[22] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 96.

[23] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 129-131.

[24] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam perspektif (Cet. XVI; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), h. 100-101.

[25] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 98-99.

[26] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 137-138.

[27] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 27.

[28] Jujun S. Suriasumantri, loc. cit.

[29] Harun Hadiwijono, op.cit., h. 31.

[30] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 173.

[31] Harun Hadiwijono, op. cit., h. 32.

[32] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 109-110.

[33] Harun Hadiwijono, op. cit., h. 36.

[34] Bambang Q-Anees dan Radea Juli A. Hambali, selanjutnya disebut Bambang, Filsafat Untuk Umum (Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 334.

[35] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 26.

[36] Bambang, op. cit., h. 335.


THOMAS KHUN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Masalah ilmu pengetahuan mungkin menjadi masalah terpenting bagi kehidupan manusia. Hal ini menjadi ciri manusia karena manusia senantiasa bereksistensi, tidak hanya berada seperti batu atau rumput yang berada di tengah lapangan, tetapi mengada. Oleh karena itu, manusia berbudaya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk kehidupan pribadi dan lingkungannya yang telah mereka antisipasikan.[1]

Pada zaman Yunani kuno, ilmu dengan filsafat sukar dipisahkan. Pembuktian empirik kurang mendapat perhatian dan metode ilmiah tampaknya belum berkembang. Sedikit demi sedikit, dengan makin berkembangnya penalaran dan metode ilmiah, dengan makin kuatnya dan makin dihargainya pembuktian empirik, dan seiring dengan itu, makin meluasnya penggunaan instrumen penelitian, satu persatu cabang-cabang ilmu mulai melepaskan diri dari filsafat, definisi ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut, sedangkan sewaktu posisi ilmu lebih bebas dan lebih mandiri, definisi ilmu umumnya didasarkan pada apa yang dikerjakan oleh ilmu itu dengan melihat metode yang digunakannya. Berkembanglah ilmu-ilmu alamiah (natural sciences) dan ilmu-ilmu social (social science). Astronomi, anggota ilmu-illmu alamiah, merupakan salah satu ilmu yang pertama-tama melepaskan diri dari filsafat, sedangkan psikologi, anggota ilmu-ilmu sosial, termasuk yang terakhir melepaskan diri dari filsafat.[2]

Tidak dapat juga dipungkiri ilmu yang terspesialisasi itu semakin menambah sekat-sekat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, sehingga muncul arogansi ilmu yang satu terhadap ilmu lain. Tugas filsafat diantaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan.[3]

Menurut Kuhn seorang ilmuan selalu bekerja dengan paradigma tertentu. Paradigma itu memungkinkan sang ilmuan untuk memecahkan kesulitan yang muncul dalam rangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tak dapat dimasukkan dalam kerangka ilmunya, dan menuntut revolusi paradigmatik.

Jasa Kuhn sebenarnya terletak pada pendobrakan citra filsafat ilmu sebagai logika ilmu, serta menggulingkan anggapan seakan ilmu sebagai kenyataan yang mempunyai kebenaran sui generis (objektif dan satu-satunya). Dengan itu Kuhn menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tak terlepas dari faktor ruang dan waktu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas penulis mencoba menguraikan  menjadi beberapa rumusan masalah

1. Bagaimana pengertian paradigma

2. Bagaimana gambaran ilmu normal

3. Paradigma ilmu pengetahuan menurut Kuhn

BAB II

PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN

A. Paradigma

Inggris: paradigm. Dari bahasa Yunani para deigma, dari para (di samping, di sebelah) dan dekynai (memperlihatkan: yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal).[4]

Beberapa pengertian:

1.   Cara memandang sesuatu

2.  Dalam ilmu pengetahuan: model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomena yang dipandang, dijelaskan.

3.  Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.[5]

Paradigma merupakan konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah: yang dalam konseptualisasi Kuhn: menjadi wacana untuk temuan ilmiah  baru.[6]

B. Ilmu Normal

Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).

Yang dimaksud Kuhn “ilmu normal” adalah kegiatan penelitian yang secara teguh berdasarkan satu atau lebih pencapaian ilmiah (scientific achievements) di masa lalu, yakni pencapaian-pencapaian yang oleh komunitas atau masyarakat ilmiah bidang tertentu pada suatu masa dinyatakan sebagai pemberi landasan untuk praktek selanjutnya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa ilmu normal memiliki dua ciri esensial:

1.   Pencapaian ilmiah itu cukup baru sehingga mampu menarik para pemraktek ilmu dari berbagai cara lain dalam menjalankan kegiatan ilmiah; maksudnya dihadapkan pada berbagai alternatif cara menjalankan kegiatan ilmiah, sebagian besar pemraktek ilmu cenderung memilih untuk mengacu pada pencapaian itu dalam menjalankan kegiatan ilmiah  mereka.

2.  Pencapaian itu cukup terbuka sehingga masih terdapat berbagai masalah yang memerlukan penyelesaian oleh pemraktek ilmu dengan mengacu pada pencapaian-pencapaian itu.

Ilmu normal bekerja berdasarkan paradigma yang dianut atau yang berlaku. Karena itu, pada dasarnya penelitian normal tidak dimaksudkan untuk pembaharuan besar, melainkan hanya untuk mengartikulasi paradigma itu. Kegiatan ilmiah ilmu normal hanya brtujuan untuk menambah lingkup dan presisi pada bidang-bidang yang terhadapnya paradigma dapat diaplikasikan. Jadi ilmu normal adalah jenis kegiatan ilmiah yang sangat restriktif. Keuntungannya adalah bahwa kegiatan ilmiah yang demikian itu dapat sangat mendalam dan cermat.

Dalam keangka ilmu normal, para ilmuan biasanya bekerja dalam kerangka  seperangkat aturan yang sudah dirumuskan secara jelas berdasarkan paradigma dalam bidang tertentu, sehingga pada dasarnya solusinya sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu.karena itu kegiatan ilmiah dalam kerangka ilmu normal adalah seperti  kegiatan “puzzle solving”. Implikasinya adalah bahwa kegagalan menghasilkan suatu solusi terhadap masalah tertentu lebih mencerminkan tingkat kemampuan ilmuan ketimbang sifat dari masalah yang bersangkutan atau metode yang digunakan.

Walaupun ilmu normal itu adalah kegiatan kumulatif (menambah pengetahuan) dalam bidang yang batas-batasnya ditentukan oleh paradigma tertentu, namun dalam perjalanan kegiatannya dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan. Maksudnya, dalam kegiatan ilmiah itu dapat timbul penyimpangan, yang oleh kuhn disebut anomali. Terbawa oleh sifatnya sendiri, yakni oleh batas-batas yang ditetapkan oleh paradigma, ilmu normal akan mendorong para ilmuan pemrakteknya menyadari adanya anomali, yakni hal baru atau pertanyaan yang tidak ter”cover” atau terliputi oleh kerangka paradigma yang bersangkutan, yang tidak terantisipasi berdasarkan paradigma yang menjadi acuan kegiatan ilmiah. Adanya anomali merupakan prasyarat bagi penemuan baru, yang akhirnya dapat mengakibatkan perubahan paradigma.[7]

C. Paradigma Ilmu Pengetahuan Menurut Thomas S. Kuhn

Thomas Samuel Kuhn mula-mula meniti karirnya sebagai ahli fisika, tetapi kemudian mendalami sejarah ilmu. Lewat tulisannya, The Structure of Scientific Revolutions (1962), ia menjadi seorang penganjur yang gigih yang berusaha meyakinkan bahwa titik pangkal segala penyelidikan adalah berguru pada sejarah ilmu. Sebagai penulis sejarah dan sosiolog ilmu kuhn mendekati ilmu secara eksternal. Kuhn dengan mendasarkan pada sejarah ilmu, justru berpendapat bahwa terjadinya perubahan-perubahan yang berarti tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah (falsifikasi) suatu teori atau system, melainkan berlangsung melalui revolusi-revolusi ilmiah. Dengan kata lain, Kuhn berdiri dalam posisi melawan keyakinan yang mengatakan bahwa kemajuan ilmu berlangsung secara kumulatif. Ia mengambl posisi alternatif bahwa kemajuan ilmiah pertam-tama bersifat revolusioner. Secara sederhana yang dimaksud revolusi ilmiah oleh Kuhn adalah segala perkembangan nonkumulatif di mana paradigma yang terlebih dahulu ada (=lama) diganti dengan tak terdamaikan lagi, keseluruhan ataupun sebagian, dengan yang baru.

Gagasannya yang sangat radikal dan progresif tersebut kiranya berasal dari pengalaman ilmiah yang pernah dihadapinya sendiri. Pada tahun 1947 Kuhn diminta untuk mengajar mekanika klasik abad ke 17, maka kemudian ia membaca mekanika Aristotelian yang melatar belakangi perkembangan mekanika Galilei dan Newton. Dia sangat heran dan sering tidak percaya bahwa mekanika Aristotelian inilah yang mendasari lahirnya mekanika Galilei dan Newton yang sangat termasyhur di abad ke-17, Karena ia melihat betapa mekanika Aristoteles itu mengandung begitu banyak kesalahan-kesalahan. Pengalaman inilah yang menjadi cikal bakal yang memunculkan gagasannya mengenai revolusi ilmiah. Revolusi ilmiah dimengerti oleh Kuhn sebagai episode-episode perkembangan nonkumulatif di mana paradigma yang lama digantikan seluruhnya atau sebagian oleh pradigma baru yang tidak dapat didamaikan dengan paradigma sebelumnya.[8]

Kuhn tidak memberikan definisi yang formal dan eksak tentang istilah “paradigma” itu, meskipun sesungguhnya istilah itu merupakan istilah kunci dalam pandangannya tentang ilmu. Paradigma menurut kuhn mencakup hal berikut ini:

  1. Model yang berdasarkanya muncul sejumlah tradisi penelitian ilmiah tertentu yang terpadu (koheren).
  2. Pencapaian (hasil-hasil) ilmiah yang diakui secara universal yang untuk suatu masa tertentu menawarkan model, masalah dan solusi kepada komunitas pemraktek.
  3. Hampir merupakan pandangan dunia, yakni cara memandang dunia melalui kacamata yang disediakan oleh cabang ilmu tertentu.
  4. Terdiri atas sejumlah teori dan teknik khusus yang sesuai bagi pemecahan masalah-masalah penelitian.
  5. Perpaduan teori dan metode yang bersama-sama mewujudkan sesuatu yang mendekati suatu pandangan dunia.
  6. Matriks disipliner, yakni keseluruhan konstelasi sejumalah keyakinan, generalisasi simbolik, model, nilai, komitmen, teknik, dan eksemplar yang dianut dan mempersatukan para anggota komunitas ilmiah tertentu.
  7. Eksemplar, yakni penyelesian (solusi) teka-teki atau masalah ilmiah yang dugunakan sebagai model atau contoh, dan yang dapat menggantikan aturan eksplisit sebagai landasan untuk solusi teka-teki lainnya dari ilmu normal; eksemplar ini dihasilkan oleh penelitian yang sukses yang kemudian digunakan oleh para pemraktek sebagai model.

Jadi, dengan penggunaan istilah paradigma itu, Kuhn hendak menunjuk pada sejumlah contoh praktek ilmiah aktual yang diterima atau diakui dalam lingkungan komunitas ilmiah, menyajikan model-model yang berdasarkannya lahir tradisi penelitian ilmiah yang terpadu (koheren). Contoh praktek ilmiah itu mencakup dalil,  teori, penerapan dan instrumentasi. Dengan demikian, para ilmuan yang penelitiannya didasarkan pada paradigma yang sama, pada dasarnya terikat pada aturan dan standar yang sama dalam mengemban ilmunya. Keterikatan pada aturan dan standar ini adalah prasyarat bagi adanya ilmu normal. Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa paradigma itu adalah cara pandang atau kerangka berpikir yang berdasarkan fakta atau gejala diinterpretasi dan dipahami.

Paradigma menetapkan kriteria untuk memilih masalah yang dapat diasumsikan mempunyai solusi. Hanya masalah yang memenuhi kriteria yang diderivasi dari paradigma saja yang dapat disebut masalah ilmiah, yang layak digarap oleh ilmuan. Dengan demikian, maka paradigma menjadi sumber keterpaduan bagi tradisi penelitian yang normal. Aturan penelitian diderivasi dari paradigma. Namun, menurut Kuhn, tanpa adanya aturan ini, paradigma saja sudah cukup untuk membimbing penelitian. Jadi, ilmu normal sebenarnya tidak terlalu memerlukan aturan atau metode yang standar (yang disepakati oleh komunitas ilmiah). Tanpa aturan dan metode yang baku, ilmu normal dapat berjalan. Ini berarti bahwa tiap ilmuan dapat menciptakan aturan dan metode penelitian dan pengkajian sendiri sesuai dengan keperluan, sepanjang aturan dan metode ini diderivasi dari paradigma yang berlaku. Tetapi, jika paradigmanya belum mapan, maka perangkat aturan akan diperlukan atau menjadi penting.[9]

Ilmu yang sudah mapan dianggap oleh Kuhn dikuasai oleh paradigma tunggal. Paradigma ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science), dimana ilmuan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma secara rinci dan mendalam. Dalam tahap ini seorang ilmuan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiah lainnya.

Tetapi suatu  ketika dapat terjadi, dalam menjalankan risetnya itu, sang ilmuan menjumpai berbagai fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan teorinya. Pada saat inilah terjadi suatu anomali, yang apabila makin menumpuk kuantitas maupun kualitasnyaakan menimbulkan krisis. Dalam situasi krisis ini, paradigma yang ada diperiksa dan dipertanyakan, ini menyebabkan keadaan ilmiah yang keluar dari ilmu normal. Krisis menjadi situasi yang bisa menyebabkan revolusi ilmiah. Pada masa krisis ini ada kegelisahan mendalam yang dihadapi komunitas ilmiah.

Dalam upaya mengatasi krisis itu, sang ilmuan bisa kembali pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu, atau dapat juga mengembangkan suatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Terobosan yang terakhir, yaitu proses peralihan  komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru, itulah yang disebut sebagai revolusi ilmiah. Dikatakan oleh Kuhn bahwa peralihan tadi tidak semata-mata karena alasan logis rasional, melainkan mirip dengan proses pertobatan dalam agama. Jadi perkembangan berlangsung lewat sebuah lompatan-lompatan yang radikal dan revolusioner.

Perubahan sebuah teori bukan hanya sekedar peningkatan dari teori yang lama, tetapi sudah menyentuh pada perubahan struktural. Jadi tidak ada lagi tampak sebuah inti yang terlindung dari sebuah teori ketika dikalahkan oleh sebuah teori tandingan. Demikianlah teori gravitasi Newton secara structural hancur ketika diserang oleh relativitas Einstein, sama halnya dengan kejatuhan geosentris Ptolemeus dari heliosentris Kopernikus. Sehingga teori yang dikalahkan tinggal sebagai pengetahuan sejarah.[10]

Struktur perkembangan ilmu pengetahuan menurut Kuhn dapat diugkapkan secara kronologis sebagai berikut:

Pra ilmu– Ilmu normal   -Anomali- Krisis – Isme     -Revolusi – Ilmu normal baru

Normal sains                              Jumud

“isme”

Krisis

BAB III

KESIMPULAN

  1. Paradigma berasal Dari bahasa Yunani para deigma, dari para (di samping, di sebelah) dan dekynai (memperlihatkan: yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal). Paradigma merupakan konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah.
  2. Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science).pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).
  3. Struktur perkembangan ilmu pengetahuan menurut Kuhn dapat diugkapkan secara kronologis sebagai berikut:

Pra ilmu– Ilmu normal   -Anomali- Krisis – Isme     -Revolusi – Ilmu normal baru

Normal sains                              Jumud

“isme”

Krisis baru

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002

Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004

Muhajir, Noeng. Filsafat Ilmu Edisi II. Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001

Semiawan, Conny. Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman. Cet. I; Bandung: Mizan, 2005

Sidharta, B Arif. Apakah Filsafat Dan Filsafat Ilmu Itu. Cet. I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008

Soetomo, Greg. Sains Dan Problem Ketuhanan. Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1995

Wiramihardja, Sutardjo A. Pengantar Filsafat. Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007


[1]Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Filsafat (Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h. 79

[2]Conny Semiawan dkk, Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman (Cet. I; Bandung: Mizan, 2005), h. 107

[3]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 3

[4]Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 779

[5]Ibid

[6]Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu Edisi II (Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), h. 177

[7]B Arif Sidharta, Apakah Filsafat Dan Filsafat Ilmu Itu (Cet. I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008), h. 93

[8]Greg Soetomo, Sains Dan Problem Ketuhanan (Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1995), h. 21

[9]B. Arif Sidharta,…Op. Cit., h.  94-95

[10]Greg Soetomo,….Op. Cit., h. 22-23


SUMBER KEBENARAN

Epistemologi Filsafat dan epistemologi Islam

Oleh : Syekhuddin

I. PENDAHULUAN

Sepanjang sejarah manusia senantiasa dihantui oleh berbagai pertanyaan mendasar tentang diri dan kehidupannya. Berbagai jawaban yang bersifat spekulatif coba diajukan oleh para pemikir sepanjang sejarah dan terkadang jawaban-jawaban yang diajukan saling kontradiksi satu dengan yang lainnya. Perbedaan jawaban yang diajukan menjadikan perbedaan mendasar pada pandangan dan pola hidup (pandangan dunia dan ideology) manusia sepanjang sejarah. Salah satu perdebatan mendasar dalam sejarah kehidupan manusia adalah perdebatan seputar sumber dan asal usul pengetahuan.[1] Perbedaan pandangan seputar sumber dan asal-usul pengetahuan (atau lebih dikenal dengan epistemologi) inilah yang kemudian menjadi dasar pemicu perbedaan pandangan dunia dan ideology manusia.[2]

Filsafat dan agama sebagai dua kekuatan yang mewarnai dunia telah menawarkan konstruk epistemologi  yang berbeda dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya. Dibelahan dunia Barat sejak zaman Yunani Kuno filsafat telah berkembang sebagi suatu bentuk kreatifitas berpikir manusia dalam memecahkan persoalan kehidupan dengan menggunakan kekuatan daya nalarnya. Sepanjang sejarah perkembangan filsafat telah banyak jawaban yang diajukan oleh para filosof mengenai permasalahan-permasalahan mendasar manusia, khusunya persoalan seputar epistemologi. Berbagai aliran filsafat kemudian bermunculan mewarnai kancah intelektual manusia. Masing-masing aliran tersebut memberikan formulasi jawaban yang berbeda sebagai produk pemikiran filsafatnya yang dijadikan acuan bagi  penganutnya.

Sementara itu agama juga memberikan formulasi jawaban sendiri, yang tentunya berbeda dengan jawaban yang telah diajukan oleh filsafat. Terjadinya perbedaan antar filsafat dan agama dalam hal ini adalah dikarenakan perbedaan pendekatan yang dilakukan oleh keduanya. Filsafat dalam pengembaraanya mencari hakekat keberadaan manusia menggunakan kekuatan akal sedangkan agama bersumber pada kitab suci yang diyakini sebagai wahyu dari Tuhan oleh para penganutnya.

Islam sebagai agama yang diturunkan untuk menjawab seluruh pertanyaan dan menyelesaikan seluruh permasalahan hidup manusia. Tentunya juga memberikan formulasi jawaban mengenai permasalahan epistemologi yang dimana jawaban atas permasalahan tersebut bersumber pada wahyu Allah yang termaktub dalam Alquran. Ayat-ayat suci Alquran yang memberikan jawaban yang universal terhadap persoalan kemanusiaan, termasuk diantaranya persoalan epistemologi kemudian dinterpretasikan dengan pendekatan logis oleh para pemikir muslim yang akhirnya merumuskan sekumpulan teori filsafat Islam.

Berdasarkan asumsi diatas, pada makalah ini singkat ini, penulis mencoba untuk memaparkan beberapa permasalahan yaitu:

  1. Apa ruang lingkup epistemologi?
  2. Bagaimana konsep epistemologi filsafat?
  3. Bagaimana konsep epistemologi Islam?

II. PEMBAHASAN

  1. A. Ruang Lingkup Epistemologi

Secara etimologi epistemologi berasal bahasa Yunani, yaitu episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti teori atau ilmu.[3] Sedangkan secara terminologi epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakekat ilmu pengetahuan manusia, khususnya pada empat masalah, yaitu,

  1. Sumber-sumber ilmu pengetahuan
  2. Alat pencapaian pengetahuan
  3. Metode pencapaian pengetahuan
  4. Batasan pengetahuan atau klasifikasi pengetahuan.[4]

Epistemologi selain dianggap sebagai cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan manusia. Juga sering diidentikkan dengan asumsi-asumsi teoritik yang mendasari suatu pendapat ataupun bangunan pengetahuan manusia.[5] Terjadinya perbedaan pada tataran bangunan pengetahuan sangat ditentukan oleh perbedaan epistemologi. Secara umum pengetahuan manusia dibagi atas tiga kategori, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat dan mistik.[6] Terjadinya perbedaan jenis pengetahuan manusia ini disebabkan oleh konstruksi epistemologi yang berbeda diantara ketiganya. Bahkan menurut Murtadha Muthahhari, terjadinya perbedaan ideology dan pandangan dunia disebabkan oleh perbedaan dalam tataran epistemologi.[7]

Sepanjang sejarah pemikiran manusia telah terjadi perdebatan panjang para filosof mengenai point-point pembahasan epistemologi. Perdebatan tersebut telah menghasilkan berbagai aliran filsafat dan ideology yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap permasalahan mengenai pengetahuan dan kehidupan manusia.

  1. B. Epistemologi filsafat

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang teori pengetahuan manusia. Dalam perkembangan filsafat, dalam hal ini filsafat barat persoalan epistemologi telah menghasilkan empat aliran utama dalam sejarah filsafat Barat yaitu:

  1. Rasionalisme

Rasionalisme dapat didefinisikan sebagai paham yang sangat menekankan akal sebagai sumber utama pengetahuan manusia dan pemegang otoritas terakhir dalam penentuan kebenaran pengetahuan manusia.[8] Aliran ini biasa dinisbatkan kepada beberapa tokoh pemikir barat, diantaranya Rene Descartes, Spionoza, Leibniz dan Christian Wolf. Meski sebenarnya akar-akar pemikirannya sudah ditemukan dalam pemikiran para filosof klasik, yaitu Plato dan Aristoteles.[9]

Bagi kelompok rasionalisme sumber pengetahuan manusia didasarkan pada innate idea (ide bawaan) yang dibawa oleh manusia sejak ia lahir. Ide bawaan tersebut menurut Descartes terbagi atas tiga kategori, yaitu;

  • Cogitans atau pemikiran, bahwa secara fitr manusia membawa ide bawaan yang sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang berpikir, dari sinilah keluar statement Descartes yang sangat terkenal, yaitu cogito ergo sum yaitu aku berpikir maka aku ada.
  • Allah Atau deus, manusia secara fitr memiliki ide tentang suatu wujud yang sempurna, dan wujud yang sempurna itu tak lain adalah Tuhan.
  • Extensia atau keluasan , yaitu ide bawaan manusia, materi yang memiliki keluasan dalam ruang.[10]

Ketiga ide bawaan diatas dijadikan aksioma pengetahuan dalam filsafat rasionalisme yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Dalam metode pencapaian pengetahuan Descartes memperkenalkan metode yang dikenal dengan metode keraguan  (dibium methodicum) yaitu meragukan segala sesuatu termasuk segala hal yang telah dianggap pasti dalam kerangka pengetahuan manusia.[11] Proses keraguan inilah yan kemudian akan mengantarkan manusia sampai pada pengetahuan yang valid dan diterima kebenarannya secara pasti.

Sekalipun rasionalisme sangat menekankan fungsi rasio dalam mencapai pengetahuan, bukan berarti rasionalisme mengingkari peranan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang kerja akal dan memberikan bahan –bahan agar akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia pada kebenaran adalah semata-mata dengan akal.[12] Bagi rasionalisme data-data yang dibawa oleh indera masih belum jelas dan kacau bahkan terkadang menipu. Akallah yang kemudian mengatur laporan indera tersebut sehingga dapat terbentuk pengetahuan yang benar.

Selain akal bekerja mengolah data-data inderawi akal manusia juga dapat menghasilkan pengetahuan tentang realitas yang tak terinderai atau realitas yang abstrak. Oleh karena itu Rasionalisme membagi dua jenis pengetahuan tentang hak-hak yang kongkret yang kemudian lebih dikenal dengan sains dan pengetahuan tentang hal-hal yang abstrak yang kemudian lebih dikenal dengan filsafat.[13]

  1. Empirisme

Empirisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu empiria yang artinya pengalaman. Berbeda dengan rasionalisme yang menjadikan akal manusia sebagai sumber dan penjamin kepastian suatu kebenaran pengetahuan manusia. Empirisme memandang hanya pengalaman inderawilah sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan kepastian pengetahuan manusia.[14]

Aliran Empirisme dinisbatkan kepada beberapa tokoh pemikir Barat diantaranya Francis Bacon, Thomas Hobbes, David Hume, dan John locke.[15] John Locke memperkenalkan teori tabula rasa sebagai pijakan aksiomatik dalam teori filsafatnya . menurut teori tersebut pada mulanya manusia lahir dalam keadaan kosong dari pengetahuan, kemudian pengalamanlah yang kemudian mengisi jiwa manusia sehingga memiliki pengetahuan.[16]

Oleh karena itu, empirisme sangat menekankan pengalaman inderawi sebagai satu-satunya jalan dalam pencapaian pengetahuan bagi manusia. Maka, empirisme sangat menekankan metode eksperimen dalam proses pencapaian pengetahuan manusia. Seseorang yang tak memiliki satu jenis indera tertentu maka ia ia tidak dapat memiliki konsepsi tentang pengetahuan yang berhubungan indera tersebut.[17]

Metode verifikatif-induktif merupakan metode yang ditawarkan oleh empirisme dalam menguji keabsahan suatu pengetahuan manusia.[18] Yaitu dengan melakukan pengujian terhadap pengetahuan manusia berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang empiris dan menggunakan metode induktif yaitu mengambil kesimpulan umum dari hal-hal atau fenomena-fenomena yang bersifat khusus.

Karena empirisme hanya membatasi pengetahuan manusia pada aspek inderawi semata maka pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia hanyalah pengetahuan sains, karena pengetahuan sainslah yang dapat dibuktikan kebenarannya secara empirik. Aliran empirisme inilah yang kemudian berkembang pada abad 18 di Eropa menjadi aliran Positivisme yang sangat menggaungkan kebenaran ilmiah.

  1. Kritisisme

Ketika terjadi pertarungan filsafat antara aliran rasionalisme dan empirisme mengenai dasar pengetahuan manusia. Immanuel Kant seorang filosof Jerman kemudian mencoba melakukan upaya menyelesaikan perbedaan tajam antara kedua aliran tersebut.[19] Pada mulanya Kant mengikuti aliran rasionalisme, kemudian menurut pengakuannya sendiri ia kemudian terjaga dari mimpi rasionalismenya setelah membaca buku David Hume. Tetapi kemudian ia tetap berpendapat bahwa empirisme tidak bisa ia terima begitu saja karena akan membawa keraguan pada akal. Kant tetap mengakui bahwa akal dapat mencapai kebenaran, untuk itu ia kemudian menetapkan syarat-syarat dalam pencapaian kebenaran akal, itulah sebabnya aliran filsafatnya sering disebut dengan filsafat kritisisme.[20]

Dalam filsafat kritisisme, Kant menganggap bahwa pengalaman dan akal manusia sama-sama dapat digunakan dalam mencapai pengetahuan manusia. Selanjutnya Kant membagi tahapan pencapaian pengetahuan manusia menjadi tingkatan, yaitu;

  • Tahap pencapaian inderawi

Tahapan pertama dalam proses pencapaian pengetahuan bagi Kant adalah pencapaian inderawi terhadap realitas eksternal. Namun yang dapat dicapai oleh manusia hanyalah fenomenanya atau gejala yang tampak saja yang tak lain adalah sintesis dari unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk a priori ruang dan waktu dalam struktur pemikiran manusia.[21]

  • Tahap akal budi

Bersamaan dengan pencapaian inderawi secara spontan bekerjalah akal budi manusia. Tugas akal budi manusia adalah menyusun dan menghubungkan data-data inderawi. Dalam hal ini akal budi manusia bekerja dengan bantuan daya fantasinya. Pengetahuan akal budi baru bisa diperoleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi dengan bentuk-bentuk a priori yang dinamai oleh Kant dengan “kategori” yakni ide bawaan yang mempunyai fungsi epistemologi dalam diri manusia untuk menyusun pengetahuan.[22]

  • Tahap rasio/intelek

Menurut Kant, yang dimaksud dengan rasio/intelek adalah kemampuan asasi yang menciptakan pengertian-pengertian umum dan mutlak.[23] Pada tahapan ini, proses pengetahuan manusia telah sampai pada kaidah-kaidah asasi yang tidak bisa lagi diruntut dan bersifat mutlak Kant menyebutnya dengan idea transendental. Tugas idea transendental ini ialah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkatan dibawahnya.[24]

Menurut Kant idea transendental ini merupakan idea bawaan yang merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologi yang berada diluar jangkauan pembuktian empiris teoritis.[25] Idea transendental ini terbagi tiga, yaitu;

  • idea psikis yaitu merupakan gagasan-gagasan mutlak yang mendasari segala gejala yang bersifat batiniah.
  • idea Kosmologis, yaitu idea yang menyatukan seluruh gagasan-gagasan yang bersifat lahiriah.
  • idea teologis yaitu gagasan yang mendasari seluruh gejala baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah, yaitu yang terdapat dalam suatu pribadi yang mutlak, yakni Tuhan.[26]
  1. Intuisionalisme

Dalam perkembangan selanjutnya epistemologi filsafat Barat kemudian dilengkapi dengan munculnya aliran intuisionalisme yang dipelopori oleh Henry Bergson.  Bagi Bergson indera dan akal manusia sama-sama terbatas dalam memahami realitas secara keseluruhan. Berdasarkan kelemahan akal dan indera tersebut kemudian Henry Bergson kemudian mengembangkan kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh manusia, yaitu intuisi.[27]

Secara epistemologi, pengetahuan intuitif berasal dari intuisi yang memperoleh melalui pengamatan langsung, tidak mengenai keberadaan lahiriah suatu objek melainkan hakekat keberadaan dari suatu objek tersebut.[28] Bagi Bergson ada dua cara dalam proses pencapaian pengetahuan, yaitu analisis dan intuisi. Analisis ialah aktifitas intelektual dalam mengenali objek dengan observasi bergerak mengairi objek atau dengan melakukan pemisahan terhadap bagian-bagian konstituen objek. Analisis bekerja menuju sebuah gerneralisasi abstrak yang kemudian melenyapkan keunikan suatu objek.

Sedangkan intuisi menurut Bergson adalah semacam rasio yang mana peneliti menempatkan dirinya dalam objeknya untuk menemukan apa yang unik dalam objek tersebut. Berpikir secara intuitif berarti berpikir dalam durasi. Durasi dalam hal ini dipahami sebagi waktu dalam gerak yang berkelanjutan dan bukan waktu yang kemudian terspesialisasi oleh rasio menjadi momen-momen atau titik-titik dalam garis. Bagi Bergson hanya intuisilah yang mampu menangkap fenomena dalam durasi dan realitas sesungguhnya adalah durasi, yaitu realitas yang tidak statis melainkan senantiasa dalam proses evolusi kemenjadian.[29]

Henry Berson membagi pengetahuan menjadi dua, yaitu pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan “tentang” (knowledge of) pengetahuan pertama disebut dengan pengetahuan diskursif atau pengetahuan simbolis yang didapat dari metode analisis dan pengetahuan kedua disebut dengan pengetahuan intuitif karena diperoleh secara langsung melalui intuisi.[30]

C. Epistemologi Islam

Berbicara mengenai epistemologi Islam, kita dapat mendekatinya dengan melakukan pengkajian terhadap pendapat para pemikir islam mengenai konsep-konsep epistemologi yang digali dari nash-nash islam berdasarkan konsepsi pemikiran mereka berdasarkan ruang lingkup epistemologi yang telah dijelaskan sebelumnya.

Mengenai sumber-sumber pengetahuan yang merupakan bahasan pertama dalam epistemologi, para filosof Islam menganggap bahwa realitas tidak hanya terbatas pada realitas yang bersifat fisik melainkan juga mengakui  realitas yang bersifat non fisik. Oleh karena itu dalam epistemologi Islam kita mengenal realitas non fisik baik berupa realitas imajinal (mental) maupun realitas metafisika murni yang dibahas oleh para pemikir.[31]

Menurut Jalaluddin Rakhmat, secara epistemologi Alquran memperkenalkan empat sumber pengetahuan manusia yaitu;

  1. Alquran dan sunnah
  2. Alam semesta
  3. Diri manusia
  4. Sejarah.[32]

Mengenai alat pencapaian pengetahuan secara umum para pemikir Islam sepakat bahwa ada tiga alat epistemologi yang dimiliki oleh manusia dalam mencapai pengetahuan. Yaitu Indera, Akal dan Hati. Ketiga alat epistemologi ini kemudian menghasilkan tiga metode dalam pencapaian pengetahuan yaitu:

  1. Metode observasi sebagaimana yang dikenal dalam epistemologi Barat atau disebut juga metode bayani yang menggunakan indera sebagai  pirantinya.
  2. Metode deduksi logis atau demonstrative (burhani) dengan menggunkan akal.
  3. Metode intuitif atau irfani dengan menggunakan hati.[33]

Metode observasi ditujukan untuk melakukan pengkajian terhadap objek-objek yang bersifat inderawi dan menghasilkan pengetahuan sains, dalam istilah Muhammad Baqir Shadr metode ini juga disebut dengan teori disposesi.[34] Sedangkan metode demonstrative ditujukan untuk memahami realitas-realitas imajinal manusia dan melahirkan ilmu-ilmu murni berupa logika, filsafat dan matematika. Selanjutnya metode intuitif digunakan untuk memahami secara langsung realitas metafisis yang bersifat hudhuri dalam jiwa manusia. Dan menghasilkan pengetahuan mistik.[35]

Berbicara mengenai titik tekan penggunaan metode demonstrative dan intuitif dalam proses pencapaian pengetahuan manusia para filosof Muslim kemudian berbeda pendapat. Dalam sejarah filsafat Islam secara umum filsafat Islam terbagi ketiga aliran besar yaitu:

  1. Aliran paripatetik atau masysya’iyah

Secara harfiah paripatetik atau masysya’iyah berarti jalan modar-mandir. Penggunaan istilah ini disebutkan merujuk pada Plato yang mengajarkan filsafat kepada murid-muridnya dengan berjalan-jalan. Penamaan aliran ini sangat jelas terpengaruh oleh pemikiran Yunani yang dibangun oleh Aristoteles dan Plato. Meskipun banyak melakukan revisi terhadap pemikiran Yunani aliran ini dibangun atas dasar Aristotellanisme dan  Neo Platonis.[36]

Aliran paripatetik dinisbatkan kepada tokoh-tokoh filosof Islam generasi awal diantaranya al-Farabi dan Ibnu Sinaa. Aliran ini sangat menekankan metode diskursif-demonstratif dengan menekankan pada aspek rasionalitas manusia.[37]

  1. Aliran iluminasi atau hikmah isyraqiyah

Aliran iluminasi menurut berbagai sumber didasarkan pada ajaran Plato. Aliran ini dinisbatkan kepada seorang filosof – sufi Islam yaitu Syiihabuddin Suhrawardi al-Maqtul. Secara epistemologi aliran ini sangat menekankan perolehan kebenaran lewat pengalaman intuitif dan kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis.[38]

Mengenai proses mendapatkan pengetahuan, yang dalam bahasa iluminasi disebut juga dengan pencerahan (isyraq) menurut Syuhrawardi ada empat tahapan yang dilalui yaitu:

  • Tahap pertama adalah pembebasan  diri dari kecenderungan-kecendrungan duniawi untuk menerima pengalaman Ilahi
  • Tahap iluminasi, yaitu tahapan dimana manusia mendapatkan penglihatan akan sinar ketuhanan serta mendapatkan apa yang disebutkan dengan cahaya ilham.
  • Tahap diskursif, dimana pengetahuan yang didapatkan dengan pencerahan kemudian dikonstuksi lewat premis-premis yang didasarkan pada logika diskursif.
  • Tahap keempat ialah tahapan pembahasan dan penulisan.[39]
  1. Teosofi Transendental atau hikmah muta’alliyan

Teosofi Transendental merupakan aliran filsafat Islam yang didirikan oleh Mulla Shadra dalam merumuskan alirannya berusaha memadukan konsep-konsep pemikiran Islam yang telah dibangun sebelumnya, yaitu pemikiran kalam, paripatetik, ilmunisasi dan sufisme.[40]

Secara epistemologi teosofi transendental menekankan tiga prinsip utama dalam perolehan ilmu pengetahuan  yaitu, intuisi intelektual atau isyraq, pembuktian rasional secara Deduktif-silogistik, dan syariat.[41] Dalam hal ini nash Alquran, dan hadis. Sehingga filsafat hikmah atau xteosofi transcendental adalah kebijaksanaan yang diperoleh lewat pencerahan spritual atau intuisi intelektual dan disajikan dalam bentuk argumentasi yang rasional dan didasarkan pada nash-nash Islam.[42]

Klasifikasi pengetahuan dalam pandangan pemikir muslim, khususnya pemikir ilmunisasi dan teosofi transendental secara umum terbagi dua yaitu:

  • Ilmu hushuli (knowledge by represence) yaitu pengetahuan manusia yang masih menggunakan perantara dimana antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui mengalami keterpisahan.
  • Ilmu hudhuri (knowledge by presence) yaitu pengetahuan manusia yang tidak menggunakan perantara dimana objek pengetahuan hadir dalam jiwa manusia sebagai subjek yang mengetahui.[43]

  1. III. PENUTUP

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam makalah ini penulis berkesimpulan:

  1. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang teori pengetahuan, yang             ruang lingkupnya terdiri dari sumber-sumber pengetahuan, alat pencapaian pengetahuan, metode pencapaian pengetahuan dan klasifikasi pengetahuan.
  2. Epistemologi filsafat dalam hal ini barat terbagi kedalam empat aliran utama yaitu:
  • rasionalisme yang sangat menekankan fungsi rasio dalam proses pencapaian         pengetahuan manusia
  • empirisme yang mengutamakan pengalaman manusia sebagai sumber   pengetahuan
  • kritisisme yang menggabungkan epistemologi rasionalisme dan empirisme   dalam proses pencapaian pengetahuan.
  • intuisionalisme yang sangat menekankan peranan intuisi manusia dalam mencapai          kebenaran pengetahuan.

3.   Epistemologi Islam meyakini realitas fisik dan non fisik sebagai sumber pengetahuan. Serta penggunaan indera, akal dan hati sebagai alat dengan menggunakan metode            observasi, demonstrative dan intuitif dalam proses pencapaian pengetahuan.

4.    Dalam persoalan metode pencapaian pengetahuan epistemologi Islam terbagi kedalam tiga aliran filsafat, yaitu paripatetik, iluminasi dan teosofi transendental.

5.    Secara  umum klasifikasi pengetahuan dalam Islam terbagi dua yaitu: ilmu hushuli dan ilmu hudhuri.

DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahrial, Menyoal Obyektivisme Ilmu Pengetahuan. Bandung: teraju 2002

——————Muhammad Iqbal. Bandung :  Teraju.  2003

Ammar, Hasan Abu, Ringkasan Logika Muslim Jakarta: Yayasan al-Muntazhar 1992

Bagir, Haedar, Buku Saku Filsafat Islam. Bandung : Arasy 2005

Bakhtiar, Amsal,  Filsafat Agama. Jakarta: Logos Wacana Ilmu 1997

Kartanegara, Mulyadi, Panorama Filsafat Islam. Bandung : Mizan 2002

Kosmic, Manual Training Pencerahan . Jakarta : Kosmic 2002

Muslih. Muhammad, Filsafat Ilmu. Yogyakarta Belukar

Muthahhari, Murtada, Masysla-ye Syenikh diterjemahkan oleh Muhammad Jawad Bafaqih dengan judul mengenal epistemologi, Jakarta : Lentera Basritama 2001

————————- Man and Universe diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Manusia Dan Alam Semesta. 2002

Poedjawijatna, IR.  Pembimbing Kearah Alam Filsafat. Jakarta : Rineka Cipta. 1997

Rakhmat, Jalaluddin,  Islam Alternatif. Bandung : Mizan. 2004

Shadr, Muhammad Baqir, Falsafatuna Diterjemahkan oleh Muhammad Nur Mufid Bandung : Mizan. 1994

Tafsir, Ahmad,  Filsafat Umum. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2001


[1]Muhammad Baqir Shadr, Falsafatuna, Diterjemahkan oleh M. Nur Mufid Ali, (Cet. IV; Bandung: Mizan, 1994) h. 25

[2] Lihat Murtadha Muthahhari, Mas’ala-ye Syenokh, Diterjemahkan oleh Muhammad Jawad Bafaqih dengan Judul Mengenal Epistemologi, (Cet. I; lentera, 2001) h. 17-22

[3] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu (Cet. II; Yogyakarta: Belukar. 2005) h. 20

[4] Kosmic. Manual Training Filsafat, (Jakarta: Kosmic. 2002) H. 76

[5] Ibid

[6] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum. (Cet. IX ; Bandung : remaja Rosdakarya. 2001), h. 23

[7] Murtadha Muthahhari, op.cit., h. 19

[8] Donny Gahrial Adian, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan. (Cet. I ; Bandung : Teraju.2002). h. 43

[9] Muhammad Muslih., op.cit., h. 49-50

[10] Kosmic., op.cit., h. 124

[11] Donny Gahrial Adian., op.cit., h. 45

[12] Ahmad Tafsir., op.cit., h. 25

[13]Kosmic., op.cit., h. 125

[14] Donny Gahrial Adian., op.cit., h. 48

[15] Lihat Ir. Poedjawijatna, PembimbingKearah Alam Filsafat. (Cet. X ; Jakarta: Roneka Cipta. 1997). h. 103-106

[16] Ahmad Tafsir., op.cit., h. 24

[17] Muhammad Baqir Shadr, op.cit., h. 33

[18] Donny Gahrial Adian., loc.cit

[19] Ir. Poedjawijatna., op.cit., h. 107

[20] Ibid

[21] Muhammad Muslih., op.cit., h. 63

[22] Ibid., h. 64

[23] Ibid

[24] Kosmic., op.cit., h. 134

[25] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama. (Jakarta ; Logos Wacana  ilmu. 1997), h. 170

[26] Muhammad  Muslih., op.cit., h. 65

[27] Ahmad Tafsir., op.cit., h. 27

[28] Muhammad  Muslih., op.cit., h. 70

[29] Donny Gahrial Adian, Muhammad Iqbal (Cet. I ; Bandung : Teraju, 2003) h. 46-47

[30] Muhammad Muslih, loc.cit

[31] Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam,. (Cet. I ; Bandung : Mizan. 2002). h. 58

[32] Lihat.  Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif. (Cet. XII ; Bandung : Mizan. 2004) h. 203-205. Lihat juga Murtadha Muthahhari, Man and Universe diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul manusiadan Alam semesta. (Cet. II; Jakarta : Lentera Basritama. 2002) h. 47-48

[33] Mulyadi Kartanegara., op.cit., h. 63

[34] Lihat Muhammad Baqir Shadr., op.cit., h. 36-37

[35] Kosmic., op.cit., h. 203

[36] Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam. (Cet. I ; Bandung : Arasy. 2005) h. 85

[37] Ibid., h. 103

[38] Ibid., h. 138

[39] Lihat Ibid., h. 13-1398

[40] Kosmic. Op.cit. h. 233

[41] Haidar Baqir. Op.cit. h. 171

[42] Kosmic. Op.cit. h. 234

[43] Hasan Abu Ammar, Ringkasan Logika Muslim. (Cet. I ; Jakarta : yayasan al- Muntazhar, 1992), 14


MENUJU INTEGRASI ILMU-ILMU KEISLAMAN DENGAN ILMU-ILMU UMUM

MENUJU INTEGRASI ILMU-ILMU KEISLAMAN DENGAN ILMU-ILMU UMUM

Oleh: Syekhuddin

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemikiran tentang integrasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan dewasa ini yang dilakukan oleh kalangan intelektual muslim, tidak lepas dari kesadaran beragama. Secara totalitas ditengah ramainya dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan sebuah konsep bahwa ummat Islam akan maju dapat menyusul menyamai orang-orang barat apabila mampu menstransformasikan dan menyerap secara aktual terhadap ilmu pengetahuan dalam rangka memahami wahyu, atau mampu memahami wahyu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.[1]

Disamping itu terdapat asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari negara-negara barat dianggap sebagai pengetahuan yang sekuler oleh karenanya ilmu tersebut harus ditolak, atau minimal ilmu pengetahuan tersebut harus dimaknai dan diterjemahkan dengan pemahaman secara islami. Ilmu pengetahuan yang sesungguhnya merupakan hasil dari pembacaan manusia terhadap ayat-ayat Allah swt, kehilangan dimensi spiritualitasnya, maka berkembangkanlah ilmu atau sains yang tidak punya kaitan sama sekali dengan agama. Tidaklah mengherankan jika kemudian ilmu dan teknologi yang seharusnya memberi manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi kehidupan manusia ternyata berubah menjadi alat yang digunakan untuk kepentingan sesaat yang justru menjadi “penyebab” terjadinya malapetaka yang merugikan manusia.[2]

Dipandang dari sisi aksiologis ilmu dan teknologi harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia. Artinya ilmu dan teknologi menjadi instrumen penting dalam setiap proses pembangunan sebagai usaha untuk mewujudkan kemaslahatan hidup manusia seluruhnya. Dengan demikian, ilmu dan teknologi haruslah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan bukan sebaliknya.[3]

Untuk mencapai sasaran tersebut maka perlu dilakukan suatu upaya mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dengan ilmu-ilmu keislaman, sehingga ilmu-ilmu umum tersebut tidak bebas nilai atau sekuler. Pendekatan interdisciplinary dan inter koneksitas antara disiplin ilmu agama dan umum perlu dibangun dan dikembangkan terus-menerus tanpa kenal henti.

Buka masanya sekarang disiplin ilmu –ilmu agama (Islam) menyendiri dan steril dari kontak dan intervensi ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kealaman dan begitu pula sebaliknya.[4]

B. Permasalahan

Permasalahan yang penting diajukan adalah bagaimana mengintegrasikan atau menyatukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu umum.

II. PEMBAHASAN

Sebelum sampai kepada pembahasan penyatuan /integrasi ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu umum, maka akan dibahas terlebih  dahulu tentang : Alquran dan ilmu pengetahuan, rekonstruksi sains Islam, suatu integrasi ilmu pengetahuan Islam dan umum.

A. Alquran dan Ilmu Pengetahuan (Sains)

Alquran diturunkan oleh Allah swt. kepada manusia untuk menjadi petunjuk dan menjadi pemisah antara yang hak dan yang batil sesuai dengan firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 185. Alquran juga menuntun manusia untuk menjalani segala aspek kehidupan, termasuk di dalamnya menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Alquran menempatkan ilmu dan ilmuan dalam kedudukan yang tinggi sejajar dengan orang-orang yang beriman (QS: al-Mujadilah: 11). Banyak nash Alquran yang menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan wahyu yang pertama kali turun, adalah ayat yang berkenaan dengan ilmu, yaitu perintah untuk membaca seperti yang terdapat dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5. Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia diketahuinya.[5]

Disamping itu, Alquran menghargai panca indra dan menetapkan bahwasanya indra tersebut adalah menjadi pintu ilmu pengetahuan. (QS.Al-Nahl: 78) Syeikh Mahmu>d Abdul Wahab Fayid mengatakan bahwa ayat ini mendahulukan pendengaran dan penglihatan dari pada hati disebabkan karena keduanya itu sebagai sumber petunjuk berbagai macam pemikiran dan merupakan kunci pembuka pengetahuan yang rasional.[6]

Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab mengatakan, bahwa seluruh cabang ilmu pengetahuan yang terdahulu dan yang kemudian, yang telah diketahui maupun yang belum, semua bersumber dari al-Qur’an al-Karim. Namun Imam Al-Sy>athibi (w. 1388 M), tidak sependapat dengan Al-Gazali.[7]

Dr. M. Quraish Shihab mengatakan, membahas hubungan Alquran dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah. Tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian Alquran dan sesuai pula dengan logika ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak perlu melihat apakah di dalam Alquran terdapat ilmu matematika, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu komputer dll, tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat–ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat Alquran yang bertentangan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?[8]

Kuntowijoyo mengatakan bahwa Alquran sesungguhnya menyediakan kemungkinan yang sangat besar untuk dijadikan sebagai cara berpikir. Cara berpikir inilah yang dinamakan paradigma Alquran, paradigma Islam. Pengembangan eksperimen-eksperimen ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada paradigma Alquran jelas akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Kegiatan itu mungkin menjadi pendorong munculnya ilmu-ilmu pengetahuan alternatif. Jelas bahwa premis-premis normatif Alquran dapat dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional. Struktur transendental Alquran adalah sebuah ide normatif dan filosofis yang dapat dirumuskan menjadi paradigma teoretis. Ia akan memberikan kerangka bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan empiris dan rasional yang orisinal, dalam arti sesuai dengan kebutuhan pragmatis umat manusia sebagai khalifah di bumi. Itulah sebabnya pengembangan teori-teori ilmu pengetahuan Islam dimaksudkan untuk kemaslahatan umat Islam.[9]

B. Rekontruksi Ilmu Pengetahuan Islam

Dalam perkembangan keilmuan Islam, terdapat pengelompokan disiplin ilmu agama dengan ilmu umum. Hal ini secara implisit menunjukkan adanya dikotomi ilmu pengetahuan.

Kondisi seperti ini terjadi mulai abad pertengahan sejarah Islam hingga sekarang. Dalam konteks Indonesia,  dikatomi ilmu umum dan ilmu agama malah sudah terlembagakan. Hal ini bisa dilihat dari adanya dua tipe lembaga pendidikan yang dinaungi oleh departemen yang berbeda. Lembaga pendidikan yang berlabel agama di bawah naungan DEPAG sedangkan lembaga pendidikan umum berada di bawah DEPDIKNAS.

Pandangan dikotomis terhadap ilmu pengetahuan Islam seperti itu, tidak sesuai dengan pandangan integralistik ilmu pengetahuan pada permulaan sejarah umat Islam. Ternyata pandangan dikotomis yang menempatkan Islam sebagai suatu disiplin yang selama ini terasing dari disiplin ilmu lain telah menyebabkan ketertinggalan para ilmuan Islam baik dalam mengembangkan wawasan keilmuan maupun untuk menyelesaikan berbagai masalah dengan multidimensional approach (pendekatan dari berbagai sudut pandang). Oleh karena itu wajarlah jika dikotomi ilmu pengetahuan mendapatkan gugatan dari masyarakat, termasuk gugatan dari para ilmuan muslim melalui wacana Islamisasi ilmu pengetahuan.[10]

Muhammad Abid al-Jabiry dalam Amin Abdullah mengatakan: Adalah merupakan kecelakaan sejarah umat Islam, ketika bangunan keilmuan natural sciences (al-ulu>m al-kauniyyah) menjadi terpisah dan tidak bersentuhan sama sekali dengan ilmu-ilmu keislaman yang pondasi dasarnya adalah “teks” atau nash. Meskipun peradaban Islam klasik pernah mengukir sejarahnya dengan nama-nama yang dikenal menguasai ilmu-ilmu kealaman, antara lain seperti Al-Biru>ni (w. 1041) seorang ensiklopedis muslim, Ibn Sina seorang filosuf dan ahli kedokteran, Ibn Haitsam (w.1039) seorang fisikawan, dan lain-lain. Sayang perguruan tinggi Islam, yang ada sekarang kurang mengenalnya atau mungkin sama sekali tidak mengenalnya lagi, lebih-lebih perkembangan metodologi ilmu-ilmu kealaman yang berkembang sekarang ini, yang sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu-ilmu keislaman yang ada sekarang.[11]

Selain ilmuan-ilmuan muslim yang dikemukakan di atas masih banyak ilmuan lain yang terkenal diantaranya, Abu Abbas al-Fadhl Ha>tim an-Nizari (w-922) seorang ahli astronomi, Umar Ibn Ibrahim al-Khayyami (w.1123) yang lebih di kenal dengan Umar Khayyam penulis buku aljabar, Muhammad al-Syarif al-Idrisi (1100-1166) ahli ilmu bumi.

Pada periode klasik Islam ini (Abad VII-XIII) dijuluki The golden age of Islam, telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ada beberapa faktor yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan pada periode ini, yaitu:

  1. Agama Islam sebagai motivasi.
  2. Kesatuan bahasa yang memudahkan komunikasi ilmiah.
  3. Kebijakan pemerintah untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
  4. Didirikannya akademi, Laboratorium, dan perpustakaan sebagai sarana pengembangan ilmu.
  5. Ketekunan ilmuan untuk mengadakan riset dan eksperimen.
  6. Pandangan Internasional yang membuka isolasi dengan dunia luar.
  7. Penguasaan terhadap bekas wilayah pengembangan filsafat klasik Yunani.

Pada periode klasik Islam  tidak terdapat dikotomi ilmu pengetahuan. Memang telah dikembangkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari Alquran dan hadis dan ilmu pengetahuan yang bersumber dari alam dan masyarakat, tetapi masih berada dalam satu kerangka yaitu pengetahuan Islam.[12]

Sesudah periode klasik ini, yaitu sejak abad XIII, Ilmu pengetahuan Islam mulai mengalami kemunduran, produktivitas ilmuan-ilmuan muslim sangat berkurang. Di dunia barat justru terjadi sebaliknya, warisan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dari Islam dikembangkan, sehingga mengantar mereka mencapai dunia baru melalui pintu gerbang renaissance, dan reformasi. Kondisi seperti ini mempengaruhi struktur ilmu pengetahuan dalam Islam.

Ilmu pengetahuan yang dikaji dari Alquran dan hadis yang dianggap sebagai ilmu pengetahuan Islam, sedangkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari alam, dan dari masyarakat dikeluarkan dari struktur ilmu pengetahuan Islam. Dengan demikian muncullah dikotomi ilmu pengetahuan Islam dengan umum. Kalau hal ini dibiarkan terus berkembang maka akan membawa dampak negatif, misalnya teknologi nuklir bisa menjadi senjata pemusnah yang seharusnya untuk kesejahteraan manusia. Oleh karena itu Ilmu pengetahuan Islam perlu direkonstruksi kembali dengan paradigma baru yaitu bahwa ilmu pengetahuan Islam menggambarkan terintegrasinya seluruh sistem ilmu pengetahuan dalam satu kerangka. Ilmu pengetahuan Islam menggunakan pendekatan wahyu, pendekatan filsafat, dan pendekatan empirik, baik dalam pembahasan substansi ilmu, maupun pembahasan tentang fungsi dan tujuan ilmu pengetahuan. Dengan rekonstruksi ilmu pengetahuan Islam tidak terkait lagi adanya dikotomi antara ilmu pengetahuan Islam (syari’ah) dengan ilmu pengetahuan umum, keduanya saling berhubungan secara fungsional (fungsional Corelation)[13]

C. Integrasi Ilmu Pengetahuan ke Islaman dengan Umum

Setelah umat Islam mengalami kemunduran sekitar abad XIII-XIX, justru pihak Barat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dari Islam sehingga ia mencapai masa renaissance. Ilmu pengetahuan umum (sains) berkembang pesat sedangkan ilmu pengetahuan Islam mengalami kemunduran, yang pada akhirnya muncullah dikotomi antara dua bidang ilmu tersebut.

Tidak hanya sampai di sini tetapi muncul pula sekularisasi ilmu pengetahuan. Namun sekularisasi ilmu pengetahuan ini mendapat tantangan dari kaum Gereja. Galileo (L. 1564 M) yang dipandang sebagai pahlawan sekularisasi ilmu pengetahuan mendapat hukuman mati tahun 1633 M, karena mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan pandangan Gereja. Galileo memperkokoh pandangan Copernicus bahwa matahari adalah pusat jagat raya berdasarkan fakta empiris melalui observasi dan eksperimen. Sedangkan Gereja memandang bahwa bumi adalah pusat jagat raya (Geosentrisme) didasarkan pada informasi Bibel.[14]

Pemberian hukuman kepada para ilmuan yang berani berbeda pandangan dengan kaum Gereja menjadi pemicu lahirnya ilmu pengetahuan yang memisahkan diri dari doktrin agama. Kredibilitas Gereja sebagai sumber informasi ilmiah merosot, sehingga semakin mempersubur tumbuhnya pendekatan saintifik dalam ilmu pengetahaun menuju ilmu pengetahuan sekuler.[15] Sekularisasi ilmu pengetahuan secara ontologis membuang segala yang bersifat religius dan mistis, karena dianggap tidak relevan dengan ilmu. Alam dan realitas sosial didemitologisasikan dan disterilkan dari sesuatu yang bersifat ruh dan spirit dan didesakralisasi (di alam ini tidak ada yang sakral).

–       Sekularisasi ilmu pengetahuan dari segi metodologi menggunakan epistemologi rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme berpendapat bahwa rasio adalah alat pengetahuan yang obyektif karena dapat melihat realitas dengan konstan. Sedangkan empirisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang absah adalah empiris (pengalaman).

–       Sekularisasi ilmu pengetahuan pada aspek aksiologi bahwa ilmu itu bebas nilai atau netral, nilai-nilai ilmu hanya diberikan oleh manusia pemakainya. Memasukkan nilai ke dalam ilmu, menurut kaum sekular, menyebabkan ilmu itu “memihak”, dan dengan demikian menghilangkan obyektivitasnya.[16]

Kondisi inilah yang memotivasi para cendekiawan muslim berusaha keras dalam mengintegrasikan kembali ilmu dan agama. Upaya yang pertama kali diusulkan adalah islamisasi ilmu pengetahuan. Upaya “islamisasi ilmu” bagi kalangan muslim yang telah lama tertinggal jauh dalam peradaban dunia moderen memiliki dilema tersendiri. Dilema tersebut adalah apakah akan membungkus sains Barat dengan label “Islami” atau “Islam”? Ataukah berupaya keras menstransformasikan normativitas agama, melalui rujukan utamanya Alquran dan Hadis, ke dalam realitas kesejarahannya secara empirik? . Kedua-duanya sama-sama sulit jika usahanya tidak dilandasi dengan berangkat dari dasar kritik epistemologis. Dari sebagian banyak cendikiawan muslim yang pernah memperdebatkan tentang islamisasi ilmu, di antaranya bisa disebut adalah: Ismail Raji Al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Fazlur Rahman, dan Ziauddin Sardar. Kemunculan ide: “Islamisasi ilmu” tidak lepas dari ketimpangan-ketimpangan yang merupakan akibat langsung keterpisahan antara sains dan agama. Sekulerisme telah membuat sains sangat jauh dari kemungkinan untuk didekati melalui kajian agama. Pemikiran kalangan yang mengusung ide “Islamisasi ilmu” masih terkesan sporadis, dan belum terpadu menjadi sebuah pemikiran yang utuh. Akan tetapi, tema ini sejak kurun abad 15 H., telah menjadi tema sentral di kalangan cendekiawan muslim.

Tokoh yang mengusulkan pertama kali upaya ini adalah filosof asal Palestina yang hijrah ke Amerika Serikat, Isma>’il Ra>ji Al-Faru>qi. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu tauhid. Hal ini dimaksudkan agar ada koherensi antara ilmu pengetahuan dengan iman.

Upaya yang lainnya, yang merupakan antitesis dari usul yang pertama, adalah ilmuisasi Islam. Upaya ini diusung oleh Kuntowijoyo. Dia mengusulkan agar melakukan perumusan teori ilmu pengetahuan yang didasarkan kepada Alquran, menjadikan Alquran sebagai suatu paradigma. Upaya yang dilakukan adalah objektifikasi. Islam dijadikan sebagai suatu ilmu yang objektif, sehingga ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran dapat dirasakan oleh seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), tidak hanya untuk umat Islam tapi non-muslim juga bisa merasakan hasil dari objektivikasi ajaran Islam.

Masalah yang muncul kemudian adalah apakah integrasi/islamisasi ilmu pengetahuan keislaman, dengan ilmu-ilmu umum mungkin dilakukan dengan tetap tegak diatas prinsip–prinsip tanpa mengacu pada pendekatan teologi normatif.

Moh. Natsir Mahmud mengemukakan beberapa proposisi (usulan) tentang kemungkinan islamisasi  ilmu pengetahuan, sebagai berikut:

  1. Dalam pandangan Islam, alam semesta sebagai obyek ilmu pengetahuan tidak netral, melainkan mengandung nilai (value) dan “maksud” yang luhur. Bila alam dikelola dengan “maksud” yang inheren dalam dirinya akan membawa manfaat bagi manusia. “Maksud” alam tersebut adalah suci (baik) sesuai dengan misi yang diemban dari Tuhan.
  2. Ilmu pengetahuan adalah produk akal pikiran manusia sebagai hasil pemahaman atas fenomena di sekitarnya. Sebagai produk pikiran, maka corak ilmu yang dihasilkan akan diwarnai pula oleh corak pikiran yang digunakan dalam mengkaji fenomena yang diteliti.
  3. Dalam pandangan Islam, proses pencarian ilmu tidak hanya berputar-putar di sekitar rasio dan empiri, tetapi juga melibatkan al-qalb yakni intuisi batin yang suci. Rasio dan empiri mendeskripsikan fakta dan al-qalb memaknai fakta, sehingga analisis dan konklusi yang diberikan sarat makna-makna atau nilai.
  4. Dalam pandangan Islam realitas itu tidak hanya realitas fisis tetapi juga ada realitas non-fisis atau metafisis. Pandangan ini diakui oleh ontologi rasionalisme yang mengakui sejumlah kenyataan empiris, yakni empiris sensual, rasional, empiris etik dan empiris transenden.[17]

Azyumardi Azra, mengemukakan ada tiga tipologi respon cendekiawan muslim berkaitan dengan hubungan antara keilmuan agama dengan keilmuan umum.

Pertama: Restorasionis, yang mengatakan bahwa ilmu yang bermanfaat dan dibutuhkan adalah praktek agama (ibadah). Cendekiawan yang berpendapat seperti ini adalah Ibrahim Musa (w. 1398 M) dari Andalusia. Ibnu Taymiah, mengatakan bahwa ilmu itu hanya pengetahuan yang berasal dari nabi saja. Begitu juga Abu Al-A’la Maudu>di, pemimpin jamaat al-Islam Pakistan, mengatakan ilmu-ilmu dari barat, geografi, fisika, kimia, biologi, zoologi, geologi dan ilmu ekonomi adalah sumber kesesatan karena tanpa rujukan kepada Allah swt. dan Nabi Muhammad saw.

Kedua: Rekonstruksionis interprestasi agama untuk memperbaiki hubungan peradaban modern dengan Islam. Mereka mengatakan bahwa Islam pada masa Nabi Muhammad dan sahabat sangat revolutif, progresif, dan rasionalis. Sayyid Ahmad Khan (w. 1898 M) mengatakan firman Tuhan dan kebenaran ilmiah adalah sama-sama benar. Jamal al-Din al-Afga>ni  menyatakan bahwa Islam memiliki semangat ilmiah.

Ketiga: Reintegrasi, merupakan rekonstruksi ilmu-ilmu yang berasal dari al-ayah al-qur’aniyah dan yang berasal dari al-ayah al-kawniyah berarti kembali kepada kesatuan transsendental semua ilmu pengetahuan.[18]

Kuntowijoyo menyatakan bahwa inti dari integrasi adalah upaya menyatukan (bukan sekedar menggabungkan) wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia (ilmu-ilmu integralistik), tidak mengucilkan Tuhan (sekularisme) atau mengucilkan manusia (other worldly asceticisme).[19] Model integrasi adalah menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai grand theory pengetahuan. Sehingga ayat-ayat qauliyah dan qauniyah dapat dipakai.[20]

Integrasi yang dimaksud di sini adalah berkaitan dengan usaha memadukan keilmuan umum dengan Islam tanpa harus menghilangkan keunikan–keunikan antara dua keilmuan tersebut.

Terdapat keritikan yang menarik berkaitan dengan integrasi antara ilmu agama dengan sains:

(1)    Integrasi yang hanya cenderung mencocok-cocokkan ayat-ayat Alquran secara dangkal dengan temuan-temuan ilmiah. Disinilah pentingnya integrasi konstruktif dimana integrasi yang menghasilkan kontribusi baru yang tak diperoleh bila kedua ilmu tersebut terpisah. Atau bahkan integrasi diperlukan untuk menghindari dampak negatif yang mungkin muncul jika keduanya berjalan sendiri-sendiri …. Tapi ada kelemahan dari integrasi, di mana adanya penaklukan, seperti teologi ditaklukkan oleh sains.[21]

(2)    Berkaitan dengan pembagian keilmuan, yaitu qauniyah (Alam) dan qauliyah (Teologis). Kuntowijoyo mengatakan bahwa ilmu itu bukan hanya qauniyah dan qauliyah tetapi juga ilmu nafsiyah. Kalau ilmu qauniyah berkenaan dengan hukum alam, ilmu qauniyah berkenaan dengan hukum Tuhan dan ilmu nafsiyah berkenaan makna, nilai dan kesadaran. Ilmu nafsiyah inilah yang disebut sebagai humaniora (ilmu-ilmu kemanusiaan, hermeneutikal).[22]

Amin Abdullah memandang, integrasi keilmuan mengalami kesulitan, yaitu kesulitan memadukan studi Islam dan umum yang kadang tidak saling akur karena keduanya ingin saling mengalahkan. Oleh karena itu, diperlukan usaha interkoneksitas yang lebih arif dan bijaksana. Interkoneksitas yang dimaksud oleh Amin Abdullah adalah: “Usaha memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia. Sehingga setiap bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan agama, keilmuan sosial, humaniora, maupun kealaman tidak dapat berdiri sendiri …. maka dibutuhkan kerjasama, saling tegur sapa, saling membutuhkan, saling koreksi dan saling keterhubungan antara disiplin keilmuan.[23]

Pendekatan integratif-interkonektif merupakan pendekatan yang tidak saling melumatkan dan peleburan antara keilmuan umum dan agama. Pendekatan keilmuan umum dan Islam sebenarnya dapat dibagi menjadi tiga corak yaitu: paralel, linear dan sirkular.

–     Pendekatan paralel masing-masing corak keilmuan umum dan agama berjalan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dan persentuhan antara satu dengan yang lainnya.

–     Pendekatan Linear, salah satu dan keduanya akan menjadi primadona, sehingga ada kemungkinan berat sebelah.

–     Pendekatan Sirkular, masing-masing corak keilmuan dapat memahami keterbatasan, kekurangan dan kelemahan pada masing-masing keilmuan dan sekaligus bersedia mengambil manfaat dari temuan-temuan yang ditawarkan oleh tradisi keilmuan yang lain serta memiliki kemampuan untuk memperbaiki kekurangan yang melekat pada diri sendiri.[24]

Pendekatan integratif-interkonektif merupakan usaha untuk menjadikan sebuah keterhubungan antara keilmuan agama dan keilmuan umum. Muara dari pendekatan integratif-interkonektif menjadikan keilmuan mengalami proses obyektivikasi dimana keilmuan tersebut dirasakan oleh orang non Islam sebagai sesuatu yang natural (sewajarnya), tidak sebagai perbuatan keagamaan.  Sekalipun demikian, dari sisi yang mempunyai perbuatan, bisa tetap menganggapnya sebagai perbuatan keagamaan, termasuk amal, sehingga Islam dapat menjadi rahmat bagi semua orang.[25]

Contoh konkrit dari proses objektivikasi keilmuan Islam adalah Ekonomi Syariah yang prakteknya dan teori-teorinya berasal dari wahyu Tuhan. Islam menyediakan etika dalam perilaku ekonomi antara lain; bagi hasil (al-Mud{a>rabah) dan kerja sama (al-Musya>rakah). Di sini Islam mengalami objektivitas dimana etika agama menjadi ilmu yang bermanfaat bagi seluruh manusia, baik muslim maupun non muslim, bahkan arti agama sekalipun. Kedepan, pola kerja keilmuan yang integralistik dengan basis moralitas keagamaan yang humanistik dituntut dapat memasuki wilayah-wilayah yang lebih luas seperti: psikologi, sosiologi, antropologi, kesehatan, teknologi, ekonomi, politik, hubungan internasional, hukum dan peradilan dan seterusnya.[26]

Perbedaan pendekatan integrasi-interkoneksi dengan Islamisasi ilmu adalah dalam hal hubungan antara keilmuan umum dengan keilmuan agama. Kalau menggunakan pendekatan islamisasi ilmu, maka terjadi pemilahan, peleburan dan pelumatan antara ilmu umum dengan ilmu agama. Sedangkan pendekatan integrasi interkoneksi lebih bersifat menghargai keilmuan umum yang sudah ada, karena keilmuan umum juga telah memiliki basis epistemologi, ontologi dan aksiologi yang mapan, sambil mencari letak persamaan, baik metode pendekatan (approach) dan metode berpikir (procedure) antar keilmuan dan memasukkan nilai-nilai keilmuan Islam ke dalamnya, sehingga keilmuan umum dan agama dapat saling bekerja sama tanpa saling mengalahkan.

Dari uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dalam mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman ke dalam ilmu-ilmu umum sebaiknya mengacu kepada perspektif ontologis, epistemologis dan aksiologis.

–       Dari perspektif ontologis, bahwa ilmu itu pada hakekatnya, adalah merupakan pemahaman yang timbul dari hasil studi yang mendalam, sistematis, obyektif dan menyeluruh tentang ayat-ayat Allah swt. baik berupa ayat-ayat qauliyyah yang terhimpun di dalam Alquran maupun ayat-ayat kauniyah yang terhampar dijagat alam raya ini. Karena keterbatasan kemampuan manusia untuk mengkaji ayat-ayat tersebut, maka hasil kajian / pemikiran manusia tersebut harus dipahami atau diterima sebagai pengetahuan yang relatif kebenarannya, dan pengetahuan yang memiliki kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh Allah swt.

–       Dari perspektif Epistemologi, adalah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi diperoleh melalui usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan instrumen penglihatan, pendengaran dan hati yang diciptakan Allah swt. terhadap hukum-hukum alam dan sosial (sunnatullah). Karena itu tidak menafikan Tuhan sebagai sumber dari segala realitas termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.

–       Dari perspektif aksiologi, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus diarahkan kepada pemberian manfaat dan pemenuhan kebutuhan hidup umat manusia. Bukan sebaliknya, ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk menghancurkan kehidupan manusia. Perlu disadari bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian dari ayat-ayat Allah dan merupakan amanat bagi pemiliknya yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di sisi-Nya.

BAB III. KESIMPULAN

  1. Alquran diturunkan kepada manusia disamping sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil, juga menuntun manusia untuk menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
  2. Sejak kredibilitas Gereja sebagai sumber informasi ilmiah merosot, maka bertumbuh suburlah pendekatan saintifik dalam ilmu pengetahuan menuju ilmu pengetahuan sekuler.
  3. Terjadinya dikotomi ilmu pengetahuan Islam dengan ilmu-ilmu umum menyebabkan para ilmuan Islam berusaha melakukan Islamisasi atau integrasi kedua ilmu tersebut, sebab kalau hal ini tidak dilakukan maka akan membawa  dampak negatif bagi kehidupan manusia.
  4. Respon cendekiawan muslim berkaitan hubungan antara ilmu pengetahuan Islam dan umum ada 3 tipologi, yaitu: Restorasionis, Rekonstruksionis, dan Reintegrasi.
  5. Penyatuan antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu umum lebih condong kepada integrasi-interkoneksitas dan mengacu kepada perspektif ontologis, Epistemologis dan aksiologis.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin. Islamic Studies Di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, Cet.I, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2006

_______, Islamic Stadies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi, Cet I; Yogyakarta: Penerbit SUKA Press, 2007.

Arief, Armai. Reformasi Pendiidkan Islam, Cet. I, Jakarta: CRSD Press, 2005.

Azra, Azyumardi. Reintegrasi Ilmu-Ilmu, Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005.

Bagir, Zainal Abidin (ed), Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005

Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya, (Madinah Al-Munawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd li Thibaat al-Mushhaf al-Syarief, 1418 H.

Fayid, Syeikh Mahmud Abdul Wahab, Al-Tarbiyah Fie Kitab Allah, diterjemahkan Drs. Judi Al-Falasany, “Pendidikan Dalam Alquran”, Semarang: Penerbit CV. Wicaksana, 1989.

Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, Cet. II, Jakarta; Penerbit: Teraju, 2005.

Said, Nurman. dkk, Sinergi Agama dan Sains, (ed) Cet I; Makassar: Alauddin Press, 2005.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Alquran, Cet. I, Bandung: Penerbit Mizan, 1992

Suriasumantri, Jujun S. Ilmu Dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik, Jakarta: Gramedia, 1986.


[1] Armai Arief, Reformasi Pendidikan Islam, (Cet; Jakarta: CRSD Press, 2005), h.124.

[2] Nurman Said, Wahyuddin Halim, Muhammad Sabri, Sinergi Agama dan Sains, (ed) (Cet I; Makassar: Alauddin Press, 2005), h. xxxvi.

[3] Ibid., h.xxxvii

[4] Prof.DR.H.M. Amin Abdullah, dkk., Islamic Stadies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi, (Cet I; Yogyakarta: Penerbit Suka Press, 2007), h. 33.

[5] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya, (Madinah Almunawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd Li Thibaat al-Mushhaf al-Syarief, 1418 H), h. 1079.

[6] Syeikh Mahmud Abdul Wahab Fayid, Al-Tarbiyah Fie Kitab Allah, diterjemahkan Drs. Judi Al.Falasany, “Pendidikan Dalam Alquran” Semarang: Penerbit CV.Wicaksana, 1989), h. 23-24.

[7] Dr.M.Quraish shihab, Membumikan Alquran, (Cet I, Bandung: Penerbit Mizan, 1992) h .41

[8] Ibid.,

[9] Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, (Cet. II, Jakarta: Penerbit: Teraju, 2005), h.25-26.

[10] M. Shaleh Putuhena, Ke Arah Rekonstruksi Sains Islam, Nurman Said, Wahyuddin Hakim, Muhammad Sabri, op.cit, h.107

[11] Prof. Dr.H.M. Amin Abdullah, dkk, op.cit; h. 27.

[12] M.Shaleh Putuhena, op.cit., h. 107.

[13] Ibid., h. 119.

[14] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik, (Jakarta: Gramedia, 1986), h. 3.

[15] Prof.DR. Moh. Natsir Mahmud, Landasan Paradigmalik Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Nurman Said, Wahyuddin Halim Muhammad Sabri, (ed), Op.cit; h. 129.

[16] Lihat Ibid., h. 129-133.

[17] Ibid., h. 134.

[18] Azyumardi Azra, Reintegrasi Ilmu-ilmu dalam Islam Zainal Abidin Bagir (ed) Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005) h. 206- 211.

[19] Kuntowijoyo, op.cit., h. 57-58.

[20] Imam Suprayogo, Membangun Integrasi Ilmu dan Agama. Pengalaman UIN Malang. Zainal Abidin Bagir, (ed), op,cit, h.49 – 50.

[21] Zainal Abidin Bagir (ed), Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi dan Aksi, (bandung: Mizan, 2005) h, 50-51.

[22] Kuntowijoyo, op.cit; h. 51.

[23] Prof.DR.M.Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Cet.I, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2006), h. VII-VIII.

[24] Ibid., h. 219 – 223.

[25] Kuntowijoyo, op.cit., h. 62.

[26] Prof.Dr. M.Amin Abdullah, op.cit, h. 105.


LOGIKA INFERENSIAL

LOGIKA INFERENSIAL

Oleh: Syekhuddin

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Filsafat merupakan akar dari seluruh ilmu yang ada, dari hasil pemikiran-pemikiran filsafat itulah muncul teori-teori yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kelimuan dan teknologi di jagat raya ini.

Kita sudah begitu sering berfikir, rasa-rasanya berfikir begitu mudah. semenjak kita sudah biasa melakukannya. Setiap hari kita sudah berdialog dengan diri kita sendiri, berdialog dengan orang lain, bicara, menulis, membaca suatu uraian, mengkaji suatu tulisan, mendengarkan penjelasan-penjelasan dan mencoba menarik kesimpulan-kesimpulan dari hal-hal yang kita lihat dan kita dengar. Terus menerus seringkali hampir tidak kita sadari.

Namun bila kita selidiki lebih lanjut, dan terutama bila harus dipraktekkan sungguh-sungguh ternyata bahwa berfikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Manakala kita berfikir seksama dan sistematis berbagai penalaran, segera akan dapat kita ketahui bahwa banyak penalaran tidak menyambung. Kegiatan berfikir-fikir benar-benar dituntut kesanggupan pengamatan yang kuat dan cermat; dituntut untuk melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan, kesalahan-kesalahan yang terselubung; waspada terhadap pembenaran diri (rasionalisasi) yang dicari-cari, terhadap segalanya yang tidak berkaitan (tidak relevan), terhadap prasangka-prasangka, terhadap pembuatan oleh rasa perasaan pribadi atau kelompok/ golongan.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan “Logika Inferensi” dapat dirumuskan, sebagai berikut:

1. Bagaimana pengertian logika inferensi?

2. Bagaimana sejarah logika?

II. LOGIKA

A. Pengertian

Logic (logika) berasal dari kata logos (Bhs. Yunani) yang artinya kata (word) atau apa yang diucapkan,[1] kemudian berubah menjadi studi sistem preskriptif dari argumen dan penalaran (reasoning), yaitu sistem yang menjadi acuan bagaimana manusia harus berfikir. Logika dapat dikatakan sebagai bentuk penarikan kesimpulan, apakah sesuatu atau argumen itu absah (valid) atau sebagai pendapat yang keliru (fallacious).[2]

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, logika berarti; [1] pengetahuan tentang kaidah berfikir, [2] jalan fikiran yang masuk akal.[3] Inferensi berarti simpulan; yang disimpulkan.[4] Oleh karena demikian, logika inferensial dapat didefinisikan sebagai “berfikir dengan akal yang sehat untuk memperoleh kesimpulan”. Contohnya, ketika seseorang menghadapi sebuah persoalan yang memerlukan jalan keluar (pemecahan), lalu persoalan tersebut ia fikirkan dengan menggunakan akal yang sehat, kemudian dari hasil berfikir itu ia mendapatkan sebuah simpulan pemecahan dari persoalan tersebut.

M. Taib Thahir Abd. Muin mengemukakan bahwa ilmu manthiq (logika) menurut bahasa ialah bertutur benar. Adapun definisinya bermacam-macam, namun kesimpulannya sama, antara lain; [1] ilmu tentang undang-undang berfikir, [2] ilmu untuk mencari dalil, [3] ilmu untuk menggerakkan fikiran kepada jalan yang lurus dalam memperoleh suatu kebenaran, [4] ilmu yang membahas tentang undang-undang yang umum untuk fikiran, [5] alat yang merupakan undang-undang berfikir dan bila undang ini dipelihara dan diperhatikan, maka hati nurani manusia pasti dapat terhindar dari fikiran-fikiran yang salah.[5]

B. Sejarah Ringkas Logika

W. Poespoprodjo dalam bukunya yang berjudul Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu, membagi sejarah logika,[6] sebagai berikut:

1. Dunia Yunani Tua

Menurut sebagian kisah sejarah Zeno dari Citium (±340-265) disebutkan bahwa tokoh Stoa adalah yang pertama kali menggunakan istilah logika. Namun demikian, akar logika sudah terdapat dalam pikiran dialektis para filsuf mazhab Elea. Mereka telah melihat masalah identitas dan perlawanan asas dalam realitas. Tetapi kaum sofis-lah yang membuat fikiran manusia sebagai titik api pemikiran secara eksplisit. Gorgias (±483-375) dari Lionti (Sicilia), mempersoalkan masalah pikiran dan bahasa, masalah penggunaan bahasa dalam kegiatan pemikiran. Dapatkah ungkapan mengatakan secara tepat apa yang ditangkap pikiran?

Sokrates (470-399) dengan metodenya, mengembangkan metode induktif. Dalam metode ini dikumpulkan contoh dan peristiwa konkrit untuk kemudian dicari  ciri umumnya. Plato, yang nama aslinya Aristokles, (428-347) mengumumkan metode Sokrates tersebut sehingga menjadi teori ide, yakni teori dinge an sich versi Plato. Sedangkan oleh Aristoteles, dikembangkan menjadi teori tentang ilmu. Menurut Plato, ide adalah bentuk “mulajadi” atau model yang bersifat umum dan sempurna yang disebut prototypa, sedangkan benda individual duniawi hanya merupakan bentuk tiruan yang tidak sempurna yang disebut ectypa. Gagasan Plato ini banyak memberikan dasar terhadap perkembangan logika, lebih-lebih yang bertalian dengan ideogenesis dan penggunaan bahasa dalam pemikiran. Namun demikian, logikè epistèmè (logika ilmiyah) sesungguhnya baru dapat dikatan terwujud berkat karya Aristoteles.

Sesudah Aristoteles, Theoprastus mengembangkan teori logika Aristoteles, dan kaum Stoa mengembangkan teori logika dengan menggarap masalah bentuk argument disjungtif dan hipotesis serta beberapa segi masalah bahasa. Chrysippus yang Stoa mengembangkan  logika proposisi dan mengajukan bentuk-bentuk berfikir yang sistematis.

Galenus, Alexander Aphrodisiens, dan Sextus Empiricus mengadakan sistematisasi logika dengan mengikuti cara geometri, yakni metode ilmu ukur. Galenus sangat berpengaruh karena tuntutannya yang sangat ketat aksiomatisasi logika. Karya utama Galenus berjudul Logika Ordini Geometrico Demonstrata. Tapi impian Galenus hanya terlaksana jauh kemudian. Yakni di akhir abad XVII melalui karya saceheri yang berjudul Logica Demonstrativa.

Kemudian muncullah zaman dekadensi logika. Salama ini logika mmengembang karena menyertai perkembangan pengetahuan dan ilmu yang menyadari betapa berseluk beluknya kegiatan berpikir yang langkahnya mesti dipertanggungjawabkan. Kini ilmu menjadi dangkal sifatnya dan sangat sederhana, maka logika juga merosot. Tetapi beberapa karya pantas mendapat perhatian kita, yakni Eisagogen dari Porphyrios, kemudian komentar-komentar dari Boethius dan Fons Scientiae (Sumber Ilmu) karya Johannes Damascenus.[7]

2. Logika Abad Pertengahan

Pada mulanya hingga tahun 1141, penggarapan logika hanya berkisar pada karya Aristoteles yang berjudul Kategoriai dan Peri Hermenias. Karya tersebut ditambah dengan karya Phorphyrios yang bernama Eisagogen dan traktat Boethius yang mencakup masalah pembagian, masalah metode debat, silogisme kategoris hipotesis, yang biasa disebut logika lama. Sesudah tahun 1141, keempat karya Aristoteles lainnya dikenal lebih luas dan disebut sebagai logika baru.[8] Logika lama dan logika baru kemudian disebut logika antik untuk membedakan diri dari logika terministis atau logika modern, disebut juga logika suposisi yang tumbuh berkat pengaruh para filosof Arab.[9] Di dalam logika ini di ditunjuk pentingnya pendalaman tentang suposisi untuk menerangkan kesesatan logis, dan tekanan terletak pada ciri-ciri term sebagai symbol tata bahasa dari konsep-konsep seperti yang terdapat di dalam karya Petrus Hispanus, William dari Ockham.

Thomas Aquinas dkk., mengusahakan sistimatisasi dan mengajukan komentar-komentar dalam usaha mengembangkan logika yang telah ada. Pada abad XIII-XV berkembanglah logika seperti yang sudah disebutkan di atas, disebut logika modern. Tokohnya adalah Petrus Hispanus, Roger Bacon, W. Okcham, dan Raimon Lullus yang menemukan metode logika baru yang disebut Ars Magna, yakni semacam Al-jabar pengertian dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi.

Abad pertengahan mencatat berbagai pemikiran yang sangat penting bagi perkembangan logika. Karya Boethius yang orisinal dibidang silogisme hipotesis, berpengaruh bagi perkembangan teori konsekwensi yang merupakan salah satu hasil terpenting bagi perkembangan logika di abad pertengahan. Kemudian dapat dicatat juga teori tentang cirri-ciri term, teori suposisi yang jika diperdalam ternyata lebih kaya dari semiotika matematika di zaman ini. Selanjutnya diskusi tentang universalia, munculnya logika hubungan, penyempurnaan teori silogisme,  penggarapan logika modal, dan lain-lain penyempurnaan terknis.[10]

3. Logika Dunia Modern

Logika Aristoteles, selain mengalami perkembangan yang murni, juga dilanjutkan oleh sebagian pemikir, tetapi dengan tekanan-tekanan yang berbeda. Thomas Hobbes, (1632-1704) dalam karyanya Leviatham (1651) dan John Locke (1632-1704) dalam karyanya yang bernama Essay Concerning Human Understanding (1690). Meskipun mengikuti tradisi aristoteles, tetapi dokrin-dokrinya sangat dikuasai paham nominalisme. Pemikiran dipandang sebagai suatu proses manipulasi tanda-tanda verbal dan mirip operasi-operasi dalam matematika. Kedua tokoh ini memberikan suatu interpretasi tentang kedudukan di dalam pengalaman.

Logika Aristoteles yang rancangan utamanya bersifat deduktif silogistik dan menunjukkan tanda-tanda induktif berhadapan dengan dua bentuk metode pemikiran lainnya, yakni logika fisika induktif murni sebagaimana terpapar dalam karya Francis Bacon, Novum Organum (London, 1620) serta matematika deduktif murni sebagaimana terurai di dalam karya Rene Descartes, Discors The La Methode (1637).

Metode induktif untuk menemukan kebenaran, yang direncanakan Francis Bacon, didasarkan pada pengamatan empiris, analisis data yang diamati, penyimpulan yang terwujud dalam hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut.[11]

4. Logika di India

Di Asia hanya India yang sudah mengembangkan logika secara formal sejak masa lalunya. Logika lahir dari Sri Gautama yang harus sering berdebat melawan golongan Hindu fanatic yang menyerang aliran kesusilaan yang diajarkannya. Dengan sistematis logika dipaparkannya dalam Nyaya-Sutra sehingga mencapai taraf perkembangan ilmu. Nyaya-Sutra mendapat komentar dari Prasastapada, yang kemudian disempurnakan oleh pengikut-pengikut Buddha lainnya.

Logika terus sebagai metode berdebat, dan mengundang banyak komentar dari orang-orang seperti Uddyotakara, Vacaspati Misra, Mazdab Nyaya, Kumarila Bhatta, Mazdab Mimamza Dharmakirti, seorang Buddhis Udayana, Bhagavata, dan lain-lain.[12]

C. Logika Formal dan Logika Material

Setelah pengetahuan logika makin ramai dibicarakan orang maka logika artificialis dibedakan orang menjadi dua macam, yaitu logika formal dan logika material.[13]

Logika formal mempelajari asas-asas, aturan-aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus ditaati, agar orang dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Logika material mempelajari langsung pekerjaan akal, serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan-kenyataan praktis yang sesungguhnya. Apakah hasil-hasil logika formal itu sungguh sesuai dengan isi (materi) kenyataan yang sebenarnya.[14]

Logika material mempelajari sumber-sumber dan asal-usul pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, dan akhirnya merumuskan metode ilmu pengetahuan. Logika material inilah yang menjadi sumber yakni yang menimbulkan filsafat mengenal (kennisleer) dan filsafat ilmu pengetahuan (wetenschapsleer).[15]

Logika formal dinamakan orang juga logika minor, sedang logika material dinamakan sebagai logika mayor. Dan apa yang disebut dengan logika formal sekarang ini ialah ilmu yang mengandung kumpulan kaidah-kaidah cara berfikir untuk mencapai kebenaran.[16]

D. Positivistic Logic

Positivisme Logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.

Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.

Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.

Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lain teori tentang “makna yang dapat dibuktikan”, yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam bidang metafisika.

Para pengkritik Positivisme Logis berpendapat bahwa landasan dasar yang digunakan oleh Positivisme Logis sendiri tidak dinyatakan dalam bentuk yang konsisten. Misalnya, prinsip tentang teori tentang “makna yang dapat dibuktikan” seperti yang dinyatakan di atas itu sendiri tidak dapat dibuktikan secara empiris. Masalah lain yang muncul adalah dalam hal pembuktian teori. Masalah yang dinyatakan dalam bentuk eksistensi positif (misalnya: ada burung berwarna hitam) atau dalam bentuk universal negatif (misalnya: tidak semua burung berwarna hitam) mungkin akan mudah dibuktikan kebenarannya, namun masalah yang dinyatakan sebaliknya, yaitu dalam bentuk eksistensi negatif (misalnya: tidak ada burung yang berwarna hitam) atau universal positif (misalnya: semua burung berwarna hitam) akan sulit atau bahkan tidak mungkin dibuktikan.

Karl Popper, salah satu kritikus Positivisme Logis yang terkenal, menulis buku berjudul Logik der Forschung (Logika Penemuan Ilmiah) pada tahun 1934. Di buku ini dia menyajikan alternatif dari teori syarat pembuktian makna, yaitu dengan membuat pernyataan ilmiah dalam bentuk yang dapat dipersangkalkan (falsifiability). Pertama, topik yang dibahas Popper bukanlah tentang membedakan antara pernyataan yang bermakna dan yang tidak, namun untuk membedakan antara pernyataan yang ilmiah dari pernyataan yang bersifat metafisik. Menurutnya, pernyataan metafisik tidaklah harus tidak bermakna apa-apa, dan sebuah pernyataan yang bersifat metafisik pada satu masa, karena pada saat tersebut belum ditemukan metode penyangkalannya, belum tentu akan selamanya bersifat metafisik. Sebagai contoh, psikoanalisis pada jaman itu tidak memiliki metode penyangkalannya, sehingga tidak dapat digolongkan sebagai ilmiah, namun jika suatu saat nanti berkembang menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penyangkalan, maka akan dapat digolongkan sebagai ilmiah.[17]

E. Mathematical Logic

Logika matematika adalah cabang ilmu pengetahuan logika dan matematika. Logika matematika mempelajari tentang matematis ilmu logika dan aplikasinya ke dalam ruang lingkup matematika. Logika matematika juga memiliki kaitan erat dengan ilmu komputer dan logika filsafat. Lebih dari itu, logika matematika kadang dianggap sebagai ilmu yang bisa memetakan logika manusia.

Logika matematika sebenarnya mengacu kepada dua ruang lingkup penelitian yang berbeda. Yang pertama adalah aplikasi teknik-teknik logika formal ke dalam matematika dan penalaran matematika. Sedangkan yang kedua, sebaliknya, adalah aplikasi dari teknik-teknik matematika ke dalam representasi dan analisis logika formal. Bisa dikatakan bahwa logika matematika menyatukan kekuatan ekspresi dari logika formal dan kekuatan deduksi dari sistem pembuktian formal (formal proof system). Penggunaan matematika dalam hubungannya dengan logika dan filsafat dimulai pada zaman Yunani kuno.

Beberapa hasil teori logika yang telah berhasil dan terkenal di kalangan para matematikawan barat di antaranya adalah Teori silogisme dari Aristoteles dan aksioma Euclid untuk geometri planar. Sekitar tahun 1700, percobaan-percobaan untuk melakukan operasi-operasi logika formal dengan memakai simbol-simbol dan aljabar juga dilakukan oleh banyak matematikawan lain, termasuk Leibniz dan Lambert. Akan tetapi, informasi mengenai hasil pekerjaan mereka sangat sedikit dan jarang sekali ditemukan, yang karena itu tidak terlalu diketahui oleh publik.[18]

F. Postmodern Logic

Istilah postmodern, pertama kali dilontarkan oleh Arnold Toynbee pada tahun 1939. Kendati sampai saat ini belum ada kesepakatan dalam pendefinisiannya, tetapi istilah tersebut berhasil menarik perhatian banyak orang di Barat. Pada tahun 1960, untuk pertama kalinya istilah itu berhasil diekspor ke benua Eropa sehingga banyak pemikir Eropa mulai tertarik pada pemikiran tersebut. J Francois Lyotard, salah satu contoh pribadi yang telah terpikat dengan konsep tersebut. Ia berhasil menggarap karyanya yang berjudul The Post-Modern Condition sebagai kritikan atas karya The Grand Narrative yang dianggap sebagai dongeng khayalan hasil karya masa Modernitas.

Ketidakjelasan definisi sebagai mana yang telah disinggung menjadi penyebab munculnya kekacauan dalam memahami konsep tersebut. Tentu, kesalahan berkonsep akan berdampak besar dalam menentukan kebenaran berfikir dan menjadi ambigu. Sedang kekacauan akibat konsep berfikir yang tidak jelas akan membingungkan pelaku dalam pengaplikasian konsep tersebut.

Banyak versi dalam mengartikan istilah postmodernisme ini. Foster menjelaskan, sebagian orang seperti Lyotard beranggapan, postmodernisme adalah lawan dari modernisme yang dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern. Sedang sebagian lagi seperti Jameson beranggapan, postmodernisme adalah pengembangan dari modernitas seperti yang diungkap Bryan S. Turner dalam Theories of Modernity and Post-Modernity-nya. Dapat dilihat, betapa jauh perbedaan pendapat antara dua kelompok tadi tentang memahami Post-modernis. Satu mengatakan, konsep modernisme sangat berseberangan dengan postmodernisme bahkan terjadi paradok, sedang yang lain menganggap bahwa postmodernisme adalah bentuk sempurna dari modernisme, yang mana tidak mungkin kita dapat masuk jenjang postmodernisme tanpa melalui tahapan modernitas. Dari pendapat terakhir inilah akhirnya postmodernisme dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain: Post-Modernis Ressistace, Post-Modernism Reaction, Opposition Post-Modernisme dan Affirmative Post-Modernism. Akibat dari perdebatan antara dua pendapat di atas, muncullah pendapat ketiga yang ingin menengahi antara dua pendapat yang kontradiktif tadi.

Zygmunt Bauman dalam karyanya yang berjudul Post-Modern Ethics berpendapat, kata “post” dalam istilah tadi bukan berartikan “setelah” (masa berikutnya) sehingga muncullah kesimpulan-kesimpulan seperti di atas tadi. Menurut Bauman, postmodernisme adalah usaha keras sebagai reaksi dari kesia-siaan zaman modernis yang sirna begitu saja bagai ditiup angin. Adapun penyebab dari kesia-siaan zaman modernis adalah akibat dari tekanan yang bersumber dari prasangka (insting, wahm) belaka. Asas pemikiran postmdernisme sebagaimana berbagai isme dan aliran pemikiran lain di Barat, selalu bertumpu dan berakhir pada empat pola pemikiran; epistemologi materialisme, humanisme, liberalisme dan sekularisme. Tidak terkecuali dengan postmodernisme.[19]

G. Pragmatic Logic

Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani “pragma” yang berarti perbuatan atau tindakan. “isme” di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya yaitu aliran, ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme adalah ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori adalah benar if it works (apabila teori dapat diaplikasikan).

Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

H. Transendental Logic

Emanuel Kant menemukan Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki bentuk-bentuk pemikiran yang mengatasi batas pengalaman.[20]

III. KESIMPULAN

Dari uraian pembahasan di atas, penulis memberikan kesimpulan bahwa dalam menghasilkan kesimpulan dari hasil pemikiran diperlukan metode, strategi dan pendekatan-pendakatan yang terkonstruk agar inferensinya lebih baik.

Berfikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Manakala kita berfikir seksama dan sistematis berbagai penalaran, segera akan dapat kita ketahui bahwa banyak penalaran tidak menyambung tidak menyekrup. Kegiatan berfikir-fikir benar-benar dituntut kesanggupan pengamatan yang kuat dan cermat; dituntut untuk melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan, kesalahan-kesalahan yang terselubung; waspada terhadap pembenaran diri (rasionalisasi) yang dicari-cari, terhadap segalanya yang tidak berkaitan (tidak relevan), terhadap prasangka-prasangka, terhadap pembuatan oleh rasa perasaan pribadi atau kelompok / golongan.

Jadi jelasnya berfilsafat tidak hanya sekedar berfikir mendalam namun ada aturan-aturan atau prosedur yang harus dijadikan sebagai syarat agar dapat dikatakan berfilsafat.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, et al.. Kamus Besar Bahasa Indonesia Ed. III; Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 2005 M.

Bakry, Hasbullah. Sistematik Filsafat. Cet. IX; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1992 M.

Muin, M. Taib Thahir Abd. Ilmu Manthiq (Logika). Cet. IV; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1993 M.

Poespoprodjo, W.. Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu. Cet. I; Bandung: Pustaka Grafika, 1999 M.

WP, Santika. Logika Digital. Bandung: Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, 2007 M.

Faby, Larsa Pranenza Rahila http://www.informatika.org/~rinaldi/Matdis/2007-2008/Makalah/MakalahIF2153-0708-001.pdf

Luthfi, Muchtar. http://jurnalislam.net/id

http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme_Logis


[1]Dr. Mohd Shabry AR., dalam seminar mata kuliah Filsafat Ilmu pada hari Rabu, 05 Oktober 2008 yang lalu menjelaskan bahwa sebenarnya arti asal kata logos adalah Tuhan pencipta word.

[2]Santika WP, Logika Digital, (Bandung: Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, 2007 M.), h. 2.

[3]Hasan Alwi, et al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Ed. III; Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 2005 M.),  h. 680.

[4]Ibid., h. 432

[5]M. Taib Thahir Abd. Muin, Ilmu Manthiq (Logika), (Cet. IV; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1993 M.), h. 16-17.

[6]W. Poespoprodjo, Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu, (Cet. I; Bandung: Pustaka Grafika, 1999 M.), h. 41.

[7]Ibid., h. 42-43.

[8]Menurut buku Richard B. Angel yang berjudul “Reasoning and Logic”, Aristoteles sendiri meninggalkan enam buah buku khusus yang membicarakan ilmu logika ini yang oleh murid-muridnya diberi nama “Organon”. Keenam buku tersebut adalah Categoriae (mengenai pengertian-pengertian), De Interpretatiae (Mengenai keputusan-keputusan) Analitica Priora (mengenai silogisme) Analitica Posteriora (Mengenai pembuktian) Topika (mengenai berdebat) dan De Sophisticis Elenchis (mengenai kesalahan-kesalahan berfikir). http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

[9]Di dunia Islam, ilmu logika ini tidak diterima begitu saja dengan mulus, tapi direspon dengan berbagai macam pendapat oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka. Al-H{a>fiz} Ibnu S{ala>h} dan Ima>m Nawawi misalnya, mereka sangat menentang penggunaan ilmu logika. Penentangan mereka itu bukan hanya sebatas menentang tidak setuju atau tidak sepakat tapi jauh lebih keras dari itu. Penentangan mereka sampai kepada mengharamkan ilmu logika untuk digunakan di dalam dunia Islam. Namun demikian, sebagian besar dari mereka (Jumhu>r Ulama) membolehkan mempelajari ilmu logika dengan syarat orang-orang yang akan mempelajarinya sudah kokoh iman dan cukup akalnya. Selain penolakan yang tegas serupa di atas, di antara mereka ada juga yang malah menganjurkannya, seperti Al-Gaza>liy, Al-Fara>biy, Al-Kindiy dan lain-lain. Al-Kindiy bukan hanya menganjurkan tapi malah mempelajari dan sekaligus menyelidiki logika yunani secara khusus, bahkan Al-Fara>biy melakukannya lebih mendalam lagi dari apa yang sudah dilakukan oleh Al-Kindiy. http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

[10]W. Poespoprodjo, op. cit., h. 43.

[11]Ibid., h. 44.

[12]Ibid., h. 56.

[13]Hasbullah Bakry, Sistematik Filsafat, (Cet. IX; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1992 M.), h. 20-21.

[14]Ibid.

[15]Ibid.

[16]Ibid.

[17]http://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme_Logis

[18]Larsa Pranenza Rahila Faby, http://www.informatika.org/~rinaldi/Matdis/2007-2008/Makalah/MakalahIF2153-0708-001.pdf

[19]Muchtar Luthfi, Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran. Lihat, http://jurnalislam.net/id

[20]http://www.ebonk.org/blog/archives/2005/06/27/logika/


ISLAM SEBAGAI ADIKUASA; FAKTOR-FAKTOR PENYOKONG

ISLAM SEBAGAI ADIKUASA; FAKTOR-FAKTOR PENYOKONG

Oleh : Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

I.  Latar Belakang

Ilmu merupakan salah satu dari sekian pengetahuan, dan kadang-kadang disebut juga dengan nama pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) karena metode untuk memperolehnya dilakukan melalui metode ilmiah.

Perkembangan ilmu telah mengalami dekade yang ditandai oleh ketidak pastian. Penemuan-penemuan yang telah terjadi bukan saja menghasilkan kepuasan dan keasyikan, melainkan membawa juga konsekwensi dasyat dalam kehidupan manusia. Penemuan yang dihasilkan bertumpu pada kreativitas manusia, suatu kemampuan yang unik bagi makhluk manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Untuk mengetahui apa sesungguhnya ilmu itu harus melalui filsafat ilmu. Dengan demikian setiap ilmuan merasa sangat penting untuk mendalami filsafat ilmu untuk mengenal hakekat ilmu yang dimilikinya.

Ketika Immanuel Kant menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat, maka semenjak itu refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian. Lahirlah cabang filsafat yang disebut sebagai Filsafat Pengetahuan. Melalui cabang filsafat ini diterangkan sumber dan sarana serta tata-cara untuk menggunakan sarana-sarana itu guna mencapai pengetahuan ilmiah.

Karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan a higher level of know ledge maka lahirlah Filsafat Ilmu sebagai penerusan pengembangan Filsafat Pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: ilmu (pengetahuan).

Ajaran Islam melalui Al-Qur’an telah memberikan landasan untuk membentuk konsep Filsafat Ilmu. Sehingga ketika Filsafat Ilmu yang berlandaskan ajaran Islam (Al-Qur’an) berhasil diwujudkan, tidaklah salah jika diberi predikat islami atau Qur’ani sehingga menjadi Filsafat Islami atau Filsafat Qur’ani.

Adapun Filsafat Ilmu tanpa melandaskan diri pada konsep Agama atau bahkan dipisahkan dari dimensi keimanan menurut ajaran Islam, dalam bahasa lain Filsafat Ilmu ini disebut Filsafat Ilmu sekuler yang berpijak pada pandangan sekularisme.

B. Rumusan Masalah

Setelah penulis mengemukakan beberapa persolan latar belakang diatas maka dapat kami tulis beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu :

  1. Pengertian Filsafat Ilmu
  2. Objek Telaah Filsafat Ilmu

BAB II

PEMBAHASAN

1.  Pengertian Filsafat Ilmu

Sebelum penulis mengemukakan Filsafat Ilmu terlebih dahulu dikemukakan pengertian Filsafat. Adapun pengertian Filsafat sebagai berikut:

Istilah “Filsafat” dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Philoshophy (Inggris), Philoshophia (Latin), Philoshophie (Jerman, Belanda, Prancis). Semua istilah itu bersumber dari Yunani Philoshophia. Istilah Yunani Philein berarti “mencintai”, sedang philos berarti “Teman”. Selanjutnya istilah sophos berarti “bijaksana”, sedangkan sophia berarti “kebijaksanaan”.[1]

Adapun pengertian Filsafat menurut para Filosof antara lain : Konsep Rene Descartes.

Menurut Rene Descartes, filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.[2]

Konsep Francis Bacon

Menurut Francis Bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat mengenai semua pengetahuan sebagai bidangnya.[3]

Adapun pengertian filsafat ilmu terdapat berbagai pendapat sehingga sulit untuk memberikan suatu batasan yang positif. Misalnya perbedaan pendapat antara Ernest Nagel dengan Stephen Toulmin tentang apakah filsafat ilmu merupakan suatu studi scientific achievement in vivo atau studi tentang masalah-masalah mengenai penjelasan (problems of explanaton).

Ada beberapa titik pandang (view points) untuk menetapkan dasar pemahaman terhadap filsafat ilmu sebagai berikut :

Pertama menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah perumusan world-views yang konsisten dengan, dan pada beberapa pengertian didasarkan atas, teori-teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan ini, merupakan tugas dari filusuf ilmu (philosopher of science) untuk mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu.

Pandangan kedua menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah suatu eksposisi dari presuppositions dan predispositions dari para ilmuan. Filusuf ilmu mungkin mengemukakan bahwa para ilmuan menduga (presuppose) alam tidak berubah-ubah, dan terdapat suatu keteraturan di alam sehingga gejala-gejala alam yang tidak begitu kompleks cukup didapat oleh  peneliti. Sebagai tambahan, peneliti mungkin tidak menutup keinginan-keinginan deterministik para ilmuan lebih daripada hukum-hukum statistik, atau pandangan mekanistik lebih daripada penjelasan teologis. Pandangan ini cenderung mengasimilasikan filsafat ilmu dengan sosiologi.

Pandangan ketiga mengemukakan bahwa filsafat ilmu itu adalah suatu disiplin yang di dalamnya konsep-konsep dan teori-teori tentang ilmu dianalisis dan diklasifikasikan. Hal ini berarti memberikan kejelasan tentang makna dari berbagai konsep seperti partikel, gelombang, potensial dan komplek di dalam pemanfaatan ilmiahnya. Akan tetapi, Gilbert Ryle telah menunjukkan terdapat sesuatu yang pretensius (pretentious) tentang pandangan ini mengenai filsafat ilmu sehingga para ilmuan memerlukan filsafat ilmu untuk menjelaskan kepada mereka makna dari konsep-konsep ilmiah.

Filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi, dan dalam hal ini kadang-kadang filsafat ilmu ditumbuhkan pengertiannya dengan metodologi. Jadi filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelidikan lainjutan. Akan tetapi, yang perlu untuk dipahami adalah bahwa filsafat ilmu itu pada dasarnya science of science.[4]

B. Objek Telaah Filsafat Ilmu

Ilmu pengetahuan selalu memperbarui diri seiring dengan perkembangan zaman, dan itu berlangsung menurut hukum kemajuan.[5] Sampai saat ini, ilmu dianggap masih dalam keadaan antara kurang dan lengkap, antara keliru dan benar, antara terpencar dan padu dan lain sebagainya. Sehingga tidaklah aneh dalam kaedah ilmu pengetahuan bila ia mengalami goyah setelah pasti atau roboh setelah diyakini.

Pada mulanya ilmu bersifat perkiraan kemudian meningkat menjadi menyakinkan. Para peneliti masih terus melakukan eksperimen-eksperimennya terhadap pelbagai kaidah ilmu pengetahuan, yang selama berabad-abad dianggap sebagai kebenaran yang tak perlu dipersoalkan lagi.[6] Para peneliti akan memulai usaha penelitian baru untuk menemukan kaedah-kaedah ilmu yang baru yang diharapkan akan menjadi hukum-hukum atau teori-teori yang akan berlaku di zaman yang akan datang.[7]

Pada masa yang lalu ilmu pengetahuan identik dengan filsafat, sehingga pembatasannya bergantung pada sistem filsafat yang dianutnya. Perkembangan filsafat dapat mengantarkan suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan itu tumbuh dengan subur serta bercabang dengan mekar. Selanjutnya masing-masing cabang melepaskan diri dari batas filsafatnya dan berkembang mandiri yang masing-masing mengikuti metodologinya sendiri.

Setelah dilakukan gerakan demitologisasi yang di pelopori para filusuf pra-socrates, filsafat dengan kemampuan rasionalitasnya setapak demi setapak telah mencapai puncak perkembangannya sebagaimana ditunjukkan melalui Socrates, Plato dan Aristoteles. Semenjak itu filsafat yang semula bercorak metologik berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai macam bidang. Hal tersebut terbukti dengan pernyataan Aristoteles bahwa filsafat sebagai semua kegiatan yang dapat dipertanggung jawabkan secara akaliah, dan membaginya menjadi ilmu pengetahuan Poietis (terapan), ilmu pengetahuan praktis (dalam arti normatif seperti etika, politik) dan ilmu pengetahuan teoritik. Ilmu pengetahuan inilah yang dianggap sebagai yang terpenting dan membaginya menjadi ilmu alam, ilmu pasti dan filsafat pertama yang selanjutnyanya dikenal sebagai metafisika.

Setelah refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian maka lahirlah cabang filsafat yang disebut sebagai filsafat pengetahuan, dimana komponen-komponen pendukungnya yakni logika, filsafat bahasa, matematika, dan metodologi. Dari cabang filsafat ini dijelaskan sumber dan sarana serta tata cara untuk menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Dalam konteks pengetahuan ilmiah ini, maka lahirlah cabang filsafat yang disebut filsafat ilmu sebagai penerusan atau pengembangan filsafat pengetahuan.

Objek Telaah filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu: pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua menelaah “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”.[8] Pokok bahasan yang pertama erat hubungannya dengan filsafat pengetahuan (epistemologi), yang secara umum menyelidiki syarat-syarat dan bentuk-bentuk pengetahuan manusia. Pada pokok bahasan kedua, terkait dengan cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah, filsafat ilmu berhubungan erat dengan logika serta metodologi, dan kadang-kadang pengertian filsafat ilmu ditumbuhkan dengan metodologi.

Filsafat ilmu dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1.  Filsafat ilmu umum, yang mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan antara ilmu dengan kenyataan, kesatuan, perjenjangan, susunan kenyataan, dan sebagainya.

2. Filsafat ilmu khusus, yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu, seperti dalam kelompok ilmu alam, kelompok ilmu masyarakat, kelompok ilmu tehnik dan sebagainya[9].

Filsafat ilmu dapat pula dikelompokkan berdasarkan model pendekatan, yaitu :

1.  Filsafat ilmu terapan, yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pikiran kefilsafatan yang melatarbelakangi pengetahuan normatif dunia ilmu. Pada kajian ini dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat. Jadi filsafat ilmu terapan tidak bertitik tolak dari dunia filsafat melainkan dari dunia ilmu. Dengan kata lain filsafat ilmu terapan merupakan deskripsi pengetahuan normatif. Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup :

a. Pengetahuan yang berupa pola pikir hakekat keilmuan.

b. Pengetahuan mengenai model praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir.

c. Pengetahuan mengenai berbagai sarana ilmiah.

d. Serangkaian nilai yang bersifat etis yang terkait dengan pola pikir dengan model praktek yang khusus, misalnya: etika profesi.

2. Filsafat ilmu murni, yaitu bentuk kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap materi kefilsafatan, membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatif yang baru. Bila filsafat ilmu terapan berangkat dari kajian filosof terhadap asumsi-asumsi dasar yang ada dalam ilmu, misalnya terkait dengan anggapan dasar tentang “realitas” dalam ilmu-ilmu khusus dan konsekuensinya pada pemahaman terhadap “realitas” secara keseluruhan.

Adapun mengenai bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Paling sedikit ada tiga aspek dari suatu filsafat ilmu: ontologis, epistemologis, dan akiologis.[10]

Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu. paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhirnya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang ada sebagaimana menifestasi kebenaran yang kita cari.

Berlainan dengan agama, atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berdasarkan obyek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, dimana obyek-obyek yang berbeda di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi kepada empiris.

Epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya.[11]

Epistemologi berusaha untuk memaparkan dan menjawab problem-problem yang muncul dalam area tertentu, misalnya: positivisme logis. Semua epistemologi meletakkan beberapa oposisi sebagai penyusun teori pengetahuan, tujuannya yaitu meletakkan yang memungkinkan bagi suatu pengetahuan.

Axiologi ilmu meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik-material.

Filsafat ilmu dalam perkembangannya juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap bukan saja kemanfaatan, tetapi juga arti maknanya terhadap kehidupan umat manusia.

Salah satu pertanyaan Einstein; mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?. Kalau kita mengkaji pertanyaan ini, maka masalahnya terletak dalam hakekat ilmu itu sendiri. Seperti dicanangkan oleh Francis Bacon berabad abad yang silam: Pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkah atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada orang yang menggunakan kekuasaan tersebut. Ilmu itu sendiri bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap.[12]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dari itu kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

–      Yang dimaksud filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelidikan lanjutan.

–      Objek Telaah filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu: pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua menelaah “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”.

Pengertian dan objek telaah filsafat yang ada di atas memberikan kita wawasan yang cukup luas sehingga membuat kita akan selalu berpikir untuk melanjutkan para filosof-filosof yang telah lalu.

DAFTAR PUSTAKA

Beerling dkk, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islam World, vol. 3 (New York: Oxford University Press, 1995), h. 328

Suriasumantri, S. Jujun, Ilmu dalam Perspektif. Cet. XIII, (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia 1997).

Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, Cet. V (Bandung: Mizan 1993).

Al-Aqqad, Mahmud, Abbas, Filsafat Al-Qur’an. Cet. II, (Jakarta: Pustaka Firdaus Tahun 1996).

Musa, Yusuf, Al-Qur’an dan Filsafat, Cet. I, (Jakarta: Bulan Bintang 1998).

I Setiawan, I Made Putrawan, Conny R, Semiawan, Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Cet. IV. (Bandung: Remaja Rosda Karya Tahun 1999).

Asmoro, Achmadi, Filsafat Umum, Cet. II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada tahun 1997).

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Cet. I (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta 2001)


[1]Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Cet.,I, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2001), h. 18.

[2]Acmadi Asmoro, Filsafat Umum, (Cet. II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 3.

[3]Ibid.

[4]Semiawan R. Conny, Putrawan Made, I dan Setiawan, I, TH., Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, (Cet. IV, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1999), h. 55.

[5]Abbas Mahmud Al-Aqqad, Filsafat Qur’an, (Cet. II, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1996), h. 11.

[6]Ibid.

[7]Yusuf Musa, Al-Qur’an dan Filsafat, (Cet. I, Jakarta : Bulan Bintang, 1988), h. 66.

[8] Yusuf Musa, Ibid, h.78

[9] Beerling dkk, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islam World, vol. 3 (New York: Oxford University Press, 1995), h. 328

[10]Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, (Cet. V, Bandung : Mizan, 1993), h. 32.

[11]Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Cet. XIII, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia 1997), h. 9.

[12]Jujun S. Suriasumantri, Ibid. h. 35.