Tag Archives: BAHASA

PENDIDIKAN;INTERDEPENDENSI PENGAJARAN SASTRA DENGAN PENGAJARAN BAHASA DALAM PENCAPAIAN TUJUAN PENGAJARAN SASTRA BERDASARKAN KURIKULUM 1994

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pengajaran sastra di sekolah tidak berdiri sendiri sebagai sebuah mata pelajaran yang mandiri, melainkan hanya menjadi bagian mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sastra yang dalam kurikulum 1984 ditegaskan dengan sebutan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia hanya merupakan salah satu pokok bahasan dari sejumlah bahasa lain yang terdapat dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam kurikulum 1994, sastra dipadukan ke dalam empat pokok bahasan yang lain secara terpadu. Teks sastra tidak hanya dipakai untuk pembelajaran tata bahasa, pemekaran kosa kata, atau kegiatan berbahasa yang lain.

Terhadap pengajaran sastra kita dewasa ini, banyak keluhan yang muncul di tengah masyarakat, baik dari kalangan sastrawan para ahli pendidikan dan pengajar, maupun dari guru sastra itu sendiri. Sebab, banyak mata pelajaran sastra tidak diajarkan secara baik dan cenderung hanya menjadi hapalan saja (Prisma, 1994:42 dalam Jabrohim).

Melalui pengajaran sastra Indonesia di SMU khususnya dan SMTA umumnya, guru dan masyarakat mengharapkan agar siswa memiliki wawasan yang memadai tentang sastra, bersikap positif terhadap sastra mampu mengembangkan wawasan, kemampuan dan sikap positifnya terhadap sastra serta mampu mengembangkan wawasan, kemampuan, dan sikap positifnya lebih lanjut. Harapan demikian kiranya tidaklah terlampau berlebihan, sebab SMU adalah lembaga pendidikan sebagai lanjutan dari sekolah umum tingkat pertama dam yang akan mempersiapkan siswanya untuk pendidikan yang lebih tinggi serta mempunyai program pendidikan yang lebih tinggi serta mempunyai program pendidikan untuk siswa yang tidak akan melanjutkan studinya.

Menurut Toegiman (1974:16) ada beberapa faktor yang menyebabkan pengajaran sastra kurang mengarah kepada hal-hal yang apresiasif, tetapi lebih menitikberatkan segi historisnya. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor buku pelajaran sastra, faktor sarana, faktor guru, faktor sistem ujian, dan faktor sastra Indonesia itu sendiri.

Menurut Rahman (1989), para pengajar sudah lama mengeluh mengenai buruknya pengajaran sastra baik di tingkat sekolah menengah maupun di tingkat perguruan tinggi. Kurikulum yang tidak jelas arahnya, pengajar yang jumlah dan kemampuannya kurang memadai, bahan yang tidak lengkap, semuanya itu merupakan penyebab sehingga pengajaran sastra hanya seadanya saja.

Dalam kurikulum 1984 (dalam Haeruddin), kegagalan yang dihadapi oleh guru bahasa Indonesia menurut Syamsudduha (dalam Haeruddin, 1997), bahwa pembelajaran sastra yang ditempatkan sebagai bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia lebih cenderung kurang diperhatikan, karena sebagian besar guru bahasa Indonesia lebih cenderung mengajarkan masalah kebahasan. Pada satu pihak diharapkan masalah kesusastraan diperhatikan, padahal waktu yang tersedia sangat terbatas.

Menurut pengamatan Purwo (1991), ada tiga masalah yang perlu dicatat sehubungan dengan pengajaran apresiasi sastra di sekolah lanjutan atas, yaitu :

  1. Pengajaran apresiasi sastra merupakan bagian dari pengajaran bahasa Indonesia. Selain itu, materi pengajaran lebih menekankan hapalan istilah dan  pengertian sastra serta pengenalan sejarah sastra dalam jalur kronologi semata dari pada mengakrabkan diri dengan karya sastra itu sendiri sembari mendalami makna sejarah bagi perkembangan sastra.
  2. Bahan pengajaran seorang guru bahas Indonesia menjadi semakin membentuk lingkaran setan karena tuntutan pengajaran sastra. Jika yang pertama lebih mengarah kepada keterampilan, maka yang kedua mensyaratkan keakraban yang berlapang dad dalam rengkuhan pengetahuan yang melampaui batas-batas kebahasaan.
  3. Pilihan materi pengajaran dihadapkan kepada kenyataan yang menantang kebijakan pendidikan yang telah digariskan. Artinya penambahan ragam sastra yang terjadi dalam masyarakat berkecepatan jauh lebih tinggi daripada kemampuan penyesuaian kurikulum pendidikan yang sudah sarat dengan berbagai hambatan.

Masalah lain yang menjadi dasar pemikiran dan menjadi dasar perimbangan adalah seperti terbuktinya pengajaran sastra yang tidak seimbang antara teori dan praktek di SMU Negeri I Wonomulyo (Mustari, 1995).

Hasil yang serupa dapat pula dijumpai pada hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suriati tentang siswa SMU Negeri 2 Polewali mengenai faktor-faktor penyebab pengajaran sastra kurang mengarah kepada hal-hal yang apresiasif, yaitu guru kurang sering memberikan tugas mengapresiasi novel kepada siswa dan tidak adanya keakraban guru murid dengan karya sastra (Suriati, 1997:46)

Demikian pula halnya dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Taking (1994) tentang ketidakmampuan siswa SMU menagpresiasi cerpen disebabkan oleh faktor kurangnya buku-buku sastra di perpustakaan dan sikap siswa dalam mengikuti pelajaran bahasa dan sastra Indonesia kurang antusias, serta masih kurangnya frekuensi kegiatan apresiasi sastra oleh guru (Taking, 1994:57)

Melihat kenyataan-kenyataan yang dinyatakan di atas, dipandang perlu mengadakan penelitian terhadap interpendensi pengajaran sastra dengan pengajaran bahas Indonesia dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra di kelas II SMU Negeri 3 Polewali berdasarkan kurikulum 1994. Karena peneliti ingin melihat bagaimana gambaran pengajaran bahasa Indonesia dengan berpedoman pada kurikulum 1994 yang menggunakan muatan lokal dengan memadukan antara bahasa dan sastra dalam pembelajarannya.

Lokasi penelitian ini adalah SMU Negeri I Tinambung karena dianggap dapat memberi data yang terpercaya untuk menjawab permasalahan interdependensi pengajaran sastra dengan pengajaran bahas Indonesia dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra yang diharapkan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan gambaran fenomena yang telah dipaparkan pada latar belakang dan untuk lebih mengarahkan penelitian ini, maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti, yaitu :

  • Bagaimana interdependensi pengajaran sastra dengan pengajaran bahasa Indonesia dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra berdasarkan kurikulum 1994 di kelas II SMU Negeri I Tinambung ?
  • Faktor-faktor apakah yang menjadi kendala dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra yang diharapkan ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai interdependensi pengajaran sastra dengan pengajaran bahas Indonesia dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra dengan faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pencapaian tujuan pengajaran sastra berdasarkan kurikulum 1994.

Manfaat hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat :

  1. Menjadi pedoman pada pembinaan pendidikan guru bahasa Indonesia sebagian acuan strategi dalam rangka meningkatkan pengajaran.
  2. Menjadi masukan untuk dapat memberikan pelajaran sastra dengan perubahan dan pengembangan pengajaran.
  3. Difungsikan sebagai masukan untuk melaksanakan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia khususnya dalam pengajaran sastra berdasarkan kurikulum 1994 di SMU Negeri I Tinambung pada khususnya dan SLTA yang lain pada umumnya.

ANALISIS PEMAKAIAN PRONOMINA INTERMINATIVA BAHASA INDONESIA DALAM HARIAN FAJAR

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa dipergunakan untuk mengutarakan dan menerima pikiran dan perasaan manusia. Sebagian besar kegiatan manusia melibatkan penggunaan bahasa, sehingga wajarlah apabila setiap manusia berusaha untuk mengerti dan memahami bahasa dengan baik dan benar.

Tjiptadi dan Negoro, (1983:1) mengemukakan bahwa” Bahasa ialah alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain. Dengan demikian, bahasa terjadi antara dua belah pihak yaitu pihak yang menyampaikan pikiran dan perasaan itu”.

Dengan demikian, bahasa dapat diartikan sebagai alat yang ampuh amok, menyatakan maksud, pikiran, dan perasaan kepada orang lain. Begitu akrabnya bahasa dengan manusia, sehingga manusia cendrung menganggap bahwa bahasa merupakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Oleh karena itu, banyak orang kurang memahami hakikat bahasa, bahkan tidak menyadari pentingnya bahasa dalam kehidupan sosial. Padahal fungsi bahasa adalah sebagai sarana komunikasi vital dalam manusia dan mahluk lainnya. Bahasa sebagai instrumental, regulasi, representasional, personal, heuristik, intraksional, dan imaginative.

Maju mundurnya suatu bahasa bergantung pada setiap pemakai bahasa pemakaian bahasa bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengolah bahasanya sehingga menjadi bahasa yang baku dan penyusunannya tetap gramatikal.

Harian Fajar adalah sebuah koran terbesar di bagian timur Indonesia

diharapkan menjadi contoh dan pelopor dalam penulisan kaidah-kaidah Indonesia yang baik dan benar, agar berita-berita yang disuguhkan kepada masyarakat, tidak semata-mata untuk menarik minat pembaca saja melainkan juga membina masyarakat dalam pengaturan tata tulis yang benar. Walaupun dalam bidang jurnalistik, kebakuan suatu bahasa mungkin. bukanlah merupakan suatu keharusan yang harus dipedomani.

Harian Fajar terbitan 9 Februari 2000 dalam kolom tajuk, diberitakan

mengenai “Anarkisme dan Idealisme berkebahasaan dalam dunia pers”. Dijelaskan bahwa dalam era reformasi membuka ruang gerak dan peluang amat luas bagi pers nasional untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan perjuangannya, namun para jurnalis tidak lepas dari ketentuan atau undang-undang pers.

Bila dikaitkan dengan fungsi bahasa yang imaginatif, maka para jurnalis tidak terlepas dari fungsi tersebut untuk menerbitkan sebuah berita yang sifatnya gramatikal atau tidak itu bergantung pada penulisnya. Hal ini pun dapat di lihat pada pemakaian pronomina interminativa kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang bahasa Indonesia yang sering pembaca jumpai dalam pemakaiannya. Para penutur atau pemakai bahasa terkadang tidak mengetahui penggunaan secara tepat.

Secara gramatik bentuk sesuatu dan seseorang dapat berdiri sendiri atau menduduki (mengisi) fungsi atau gatra kalimat (subjek atau objek), sedangkan kata suatu dan seorang tidak dapat berdiri sendiri. Kata suatu dan seorang dimasukkan kedalam kelompok kata penggolong benda yang belum tentu, sedangkan kata sesuatu dan seseorang, merupakan pengganti suatu benda yang belum di ketahui.

Ditemukan pemakaian kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang yang tidak lagi melihat adanya penggunaan secara tepat, akibatnya banyak pemakaian kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang yang tidak sesuai dengan sifat dan fungsi yang dimilikinya. Banyak kalimat yang seharusnya menggunakan kata ganti suatu, tetapi yang digunakan kata ganti sesuatu. Begitupula penggunaan kata seorang dan seseorang.

Dengan adanya kekeliruan seperti itu, maka penulis mencoba mengkaji perilaku kata-kata seperti suatu, sesuatu, seorang dan seseorang dalam Harian Fajar, agar para penutur atau pemakai bahasa Indonesia dapat mengetahui penggunaan pronomina interminativa dalam Harian Fajar secara tepat.

B.   Rumusan Masalah

Masalah pemakaian pronomina interminativa, kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang dalam bahasa Indonesia dalam bidang jurnalistik bukanlah masalah yang sederhana, melainkan sangat lugs dan kompleks. Oleh karena penulis akan mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana penggunaan pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam Harian Fajar ditinjau dari segi preskriptif.
  2. Bagaimana perilaku sintaksis pronatnina interminativa bahasa Indonesia dalam Harian Fajar?
  3. Untuk mengetahui penggunaan pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam surat kabar Harian Fajar ditinjau dari segi preskriptif.
  4. Untuk mengetahui perilaku sintaksis pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam surat kabar Harian Fajar.

C.   Tujuan Penelitian

D.   Manfaat Penelitian

  1. Untuk memudahkan pembaca agar dapat memahami pemakaian pronomina interminativa bahasa Indonesia khususnya dalam bidang jurnalistik;
  2. Sebagai masukan dan bahan perbandingan bagi peneliti-peneliti ilmiah lainnya serta merupakan tambahan karya ilmiah yang dapat dijadikan sebagai sumber acuan dalam penelitian.


PENGUASAAN IDIOM BAHASA INDONESIA DALAM KALIMAT SISWA KELAS II SLTP NEGERI I CAMPALAGIAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Penggunaan idiom dalam kalimat bahasa Indonesia perlu menjadi fokus perhatian, karena kenyataan menunjukkan bahwa para pengguna bahasa banyak yang tidak memperhatikan pemakaian bahasa Indonesia dengan baik. Mereka tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap kemantapan pemakaian bahasa Indonesia baku. Mereka sering menambah atau mengurangi penggunaan kata atau kalimat dengan sekehendak hatinya atau mengubah penggunaan idiom atau ungkapan sehingga menimbulkan pengertian dan pemaknaan yang keliru. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika sering ditemukan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia, baik dalam bahasa tulis maupun bahasa lisan.

Bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses berpikir dan dalam kegiatan manusia, sebagaimana dikatakan oleh Alwasilah (1993: 2) bahwa bahasa adalah kegiatan berpikir manusia dan kegiatan ini sangat bermacam-macam, sering tidak logis, kadang tidak terduga atau sering kali kacau karena kekuatan emosi, takut, hasrat, keinginan, harapan, dan sebagainya.

Berdasarkan pernyataan Alwasilah tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Bahasa dapat mengelola alam pikiran manusia sehingga diwujudkan dalam kegiatan, seperti mengekspresikan kekuatan emosi yang dimilikinya. Jadi, bahasa selain mengandung aspek dan bentuk, juga mengandung isi.

Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Keraf (1988:25) bahwa bentuk atau ekspresi adalah segi yang dapat diserap oleh panca indera, yaitu dengan mendengar atau melihat, sedangkan segi isi atau makna adalah segi yang menimbulkan reaksi dalam pikiran pendengar atau pembaca karena rangsangan aspek isi atau makna.

Karena bentuk merupakan ekspresi makna, maka bentuk itu sendiri dapat merangsang penafsiran yang lebih dari satu makna terutama penggunaan idiom dalam kalimat. Idiom atau ungkapan sering digunakan oleh pemakai bahasa, balk lisan maupun tertulis. Tujuan penggunaan idiom atau ungkapan itu agar pendengar atau pembaca merasa lebih tertarik terhadap apa yang didengar atau dibacanya.

Idiom pada dasarnya seringkali digunakan oleh penutur bahasa dalam berkomunikasi dengan masyarakat luas. Penggunaan idiom ini sengaja dilakukan terutama untuk menyatakan sesuatu secara tidak langsung kepada lawan bicara, hanya dengan menyatakan di luar konteks kata yang lebih mudah dicerna dan dimengerti oleh pendengar tanpa adanya kesalahan persepsi antara penutur dan petutur. Misalnya, kata pencuri lebih halus kedengarannya bila menggunakan kata panjang tangan.

Salah satu bagian idiom yaitu ungkapan tetap. Ungkapan tetap merupakan pasangan kata yang teradat, yang pemakaiannya tidak boleh dipisahkan dengan kata yang mengikutinya. Seperti kata sesuai dengan, dalam penulisan kata ini seringkali didapati hanya menggunakan kata sesuai tanpa diikuti oleh kata dengan. Pada hal seharusnya kata ini sesuai selalu bersama dalam setiap penulisannya agar makna yang ditimbulkannya betul-­betul dimengerti oleh pembaca atau pendengar.

Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa masih sangat banyak orang yang belum memahami penggunaan idiom. Sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Habriani (1998: 45) menyimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas II SLTP Negeri 1 Polewali menggunakan idiom dalam karangan bahasa Indonesia belum memadai. Hal serupa juga disimpulkan oleh Anwar (1997: 39) bahwa kemampuan siswa kelas I SLTP Negeri Wonomulyo menentukan idiom dalam karangan siswa belum memadai. Dengan pertimbangan tersebut penulis mengangkat satu judul penelitian skripsi, yaitu Penguasaan Idiom Bahasa Indonesia dalam Kalimat oleh Siswa Kelas II SL TP Negeri I Campalagian.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian ini, yaitu: Bagaimanakah penguasaan idiom bahasa Indonesia dalam kalimat oleh siswa kelas II SLTP Negeri I Campalagian.

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penguasaan idiom bahasa Indonesia dalam kalimat oleh siswa kelas II SLTP Negeri I Campalagian.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Memberikan informasi yang akurat tentang penguasaan siswa kelas II SLTP Negeri I Campalagian menggunakan idiom bahasa Indonesia dalam kalimat, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia.
  2. Memberikan bahan masukan bagi guru bidang studi bahasa Indonesia di mengatasi kesulitan siswa dalam penggunaan idiom bahasa Indonesia dalam kalimat.
  3. Memberikan bahan perbandingan bagi mahasiswa atau peneliti lain yang ingin meneliti masalah yang relevan dengan penelitian ini.