Tag Archives: budaya

PERSEPSI SISWA KELAS III MADRASAH TSANAWIYAH DDI KANANG TENTANG….

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Pendidikan berisi suatu interaksi antara pendidik dan peserta didik sebagai untuk membantu peserta didik dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. lnteraksi tersebut dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga dan sekolah (Sukmadinata, 1998: 1). Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memegang peran signifikan dalam proses pengajaran.

Pendidikan dapat mengubah pandangan hidup, budaya dan perilaku manusia. Pendidikan juga berfungsi mengantar manusia menguak tabir kehidupan sekaligus menempatkan dirinya sebagai pelaku dalam setiap perubahan. Pendidikan menurut Meier (2002:41) bertujuan menyiapkan manusia untuk menghadapi berbagai perubahan yang membutuhkan kekuatan pikiran, kesadaran dan kreatifitas. Dalam Alquran terdapat konsep perintah membaca, menelaah, meneliti, dan menghimpun dan sebagainya. Hal ini merupakan sinyal fenomenon bahkan neumenon dalam Islam. Tuntutan atau perintah membaca dalam Islam sangat urgen, karena manusia sebagai khalifah bukan sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas tetapi harus didasari bismi rabbikka (dengan nama Tuhan), dalam memilih bahan­bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan nama Allah.

Agama mendorong manusia untuk menggunakan persepsi rasional yang baik, religius yang amat etis pula. Agama sangat menghendaki suatu bentuk intelektualisme. Etos keilmuan adalah suatu bagian integral keagamaan yang sehat. Ia muncul karena adanya kemampuan pada dirinya sendiri dan pada sistem keyakinan yang dianut.

Mengingat pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan berhasil tidaknya pendidikan adalah guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.

Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pembimbing sekaligus pengajar. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah kemampuan mengajar di kelas. Kemampuan mengajar ini menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang guru yang tidak lancar berkomunikasi, guru bidang studi apapun, akan mengakibatkan proses pengajaran tidak efektif. Siswa sekedar mengikuti proses belajar tanpa memahami penjelasan guru.

Bahasa Indonesia merupakan media pengantar resmi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, manusia Indonesia yang ingin maju dan menguasai ilmu pengetahuan perlu membekali dirinya dengan bahasa Indonesia yang memadai. Menguasai bahasa Indonesia merupakan prasyarat wajib dalam dunia pendidikan, formal maupun informal.

Mengingat peranan bahasa Indonesia yang cukup besar, maka perlu pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia melalui berbagai pendekatan, misalnya pendekatan sosial budaya, sosial politik, dan pendekatan       psikologi massa. Pengembangan bahasa Indonesia juga dilaksanakan dengan menggunakan teknik kebahasaan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat, terutama masyarakat profesional. Selain itu, yang mendapat perhatian serius dari berbagai pihak adalah pendidikan bahasa. Pengajaran bahasa Indonesia harus bertujuan untuk meningkatkan mutu prestasi belajar. Dengan kata lain, perencanaan pengajaran bahasa Indonesia, termasuk pengajaran sastra sebaiknya dilandasi oleh hasil penelitian.

Perencanaan pengajaran bahasa Indonesia tersebut seharusnya memperhatikan perubahan atau perbaikan kurikulum dan faktor-faktor yang terkait dengan keberhasilan belajar peserta didik. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa selain komponen guru, kurikulum, dan sarana pendidikan lainnya, faktor motivasi, minat, kreativitas, dan persepsi turut berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan untuk meningkatkan motivasi, kreativitas, minat, dan memperbaiki persepsi-persepsi siswa agar hasil belajarnya lebih baik.

Salah satu hal yang menarik bagi penulis adalah adanya fenomena tentang berbagai tanggapan, pandangan, dan pendapat tentang sastra Indonesia di kalangan siswa, yang dapat diistilahkan sebagai persepsi terhadap sastra Indonesia. Persepsi terhadap sastra Indonesia tersebut memiliki pecan penting dalam meningkatkan mutu pengajaran sastra Indonesia. Persepsi awal akan menentukan proses pembelajaran dalam ruang kelas. Seorang siswa yang memiliki persepsi awal yang buruk terhadap sastra Indonesia juga akan mempengaruhi motivasi belajarnya, dan prestasinya. Pengajaran sastra bukan sekedar mengajarkan bahasa atau cars berbahasa dan berkomunikasi. Pengajaran sastra membutuhkan keuletan, teknik dan metode tertentu. Sastra pada hakikatnya melibatkan budaya, seni, emosi, dan nalar manusia. Oleh sebab itu, banyak orang yang menemukan kesadaran religius dan sosial setelah membaca karya sastra.

Dewasa ini, fungsi dan kedudukan sastra Indonesia menjadi signifikan akibat munculnya berbagai persoalan dalam masyarakat kita. Persoalan-persoalan itu sesungguhnya dimulai dari ruang kelas, antara lain (Alwasilah, 2002:79):

  1. Tingkat pendidikan dan strategi pengajaran sastra yang berbanding terbalik dengan kemajuan global.
  2. Kecenderungan para pejabat menggunakan istilah-istilah yang membingungkan, yang seringkali tidak dipahami oleh mereka sendiri. Perilaku ini semakin memperbodoh rakyat.
  3. Asumsi yang muncul di masyarakat mengatakan bahwa pengajaran sastra Indonesia selama ini membosankan siswa. Pengajaran sastra Indonesia yang kaku dan terstruktur tidak akan sanggup mencerdaskan siswa. Pengajaran sastra membutuhkan keterbukaan, pola pikir yang tidak terstruktur.
  4. Siswa tidak terlatih membuat karya sastra dengan menggunakan nalar (logika) sehingga menurunkan motivasi belajar mereka. Pengajaran sastra lebih banyak menggunakan sistem ceramah sebagaimana pengajaran bahasa.
  5. Siswa putri (siswi) masih dianggap tidak berani mengemukakan pendapatnya dalam ruang kelas dan cenderung diam.
  6. Ada asumsi yang mengatakan bahwa persepsi siswa terhadap mata pelajaran sastra cenderung negatif. Salah satu penyebabnya adalah cara mengajar guru sastra tersebut tidak sanggup menumbuhkan minat belajar siswa.

Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang merupakan lokasi populasi yang penulis anggap sebagai lokasi penelitian paling memenuhi syarat dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan peserta didik Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang secara keseluruhan berjenis kelamin perempuan. Perempuan dalam kebudayaan Indonesia masih menduduki warga negara kelas dua. Usia siswa yang masih sangat muda memungkinkan pengaruh budaya feodalisme Indonesia dan dogma-dogma agama yang dipahami secara sempit mempengaruhi persepsi siswa terhadap berbagai persoalan, khususnya terhadap karya sastra. Bertolak dari latar belakang di atas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian yang bertujuan mengungkap persepsi siswa terhadap pengajaran sastra Indonesia. Judul penelitian yang dimaksud oleh penulis adalah “Persepsi Siswa Kelas III Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang terhadap Pengajaran Sastra”.

B.   Rumusan Masalah

Bertolak dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Bagaimanakah persepsi siswa kelas III Madrasah Tsanawiyah Kanang DDI terhadap pengajaran sastra?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa kelas III Madrasah Tsanawiyah Kanang DDI terhadap pengajaran sastra Indonesia.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(1)  Sebagai bahan masukan bagi guru untuk meningkatkan mutu pengajaran sastra Indonesia di Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang.

(2)  Sebagai bahan masukan bagi dunia pendidikan dalam upaya memperbaiki persepsi siswa terhadap sastra Indonesia khususnya siswa Madrasah Tsanawiyah DDI Kanang.

(3)  Memberikan informasi bagi peneliti lain yang berminat melanjutkan penelitian tentang masalah ini.

Iklan

FILSAFAT MODERN DAN PEMBENTUKANNYA (Renaisans, Rasionalisme dan Empirisme)

FILSAFAT MODERN DAN PEMBENTUKANNYA

(Renaisans, Rasionalisme dan Empirisme)

Oleh: Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latarbelakang

Tradisi pemikiran Barat dewasa ini merupakan paradigma bagi pengembangan budaya Barat dengan implikasi yang sangat luas dan mendalam di semua segi dari seluruh lini kehidupan. Memahami tradisi pemikiran Barat sebagaimana tercermin dalam pandangan filsafatnya merupakan kearifan tersendiri, karena kita akan dapat melacak segi-segi positifnya yang layak kita tiru dan menemukan sisi-sisi negatifnya untuk tidak kita ulangi.

Ditinjau dari sudut sejarah, filsafat Barat memiliki empat periodisasi. Periodisasi ini didasarkan atas corak pemikiran yang dominan pada waktu itu. Pertama, adalah zaman Yunani Kuno, ciri yang menonjol dari filsafat Yunani kuno adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. Para filosof pada masa ini mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya, sehingga ciri pemikiran filsafat pada zaman ini disebut kosmosentris. Kedua, adalah zaman Abad Pertengahan, ciri pemikiran filsafat pada zaman ini di sebut teosentris. Para filosof pada masa ini memakai pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma-dogma agama Kristiani, akibatnya perkembangan alam pemikiran Eropa pada abad pertengahan sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama, sehingga pemikiran filsafat terlalu seragam bahkan dipandang seakan-akan tidak penting bagi sejarah pemikiran filsafat sebenarnya. Ketiga, adalah zaman Abad Modern, para filosof zaman ini menjadikan manusia sebagai pusat analisis filsafat, maka corak filsafat zaman ini lazim disebut antroposentris. Filsafat Barat modern dengan demikian memiliki corak yang berbeda dengan filsafat Abad Pertengahan. Letak perbedaan itu terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas kekuasaan mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman Modern otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri yaitu akal. Kekuasaan yang mengikat itu adalah agama dengan gerejanya serta Raja dengan kekuasaan politiknya yang bersifat absolut. Keempat, adalah Abad Kontemporer dengan ciri pokok pemikiran logosentris, artinya teks menjadi tema sentral diskursus filsafat.[1]

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka pembahasan dalam makalah ini akan dibatasi pada filsafat modern dan pembentukannya yang difokuskan pada tiga masalah inti yaitu Renaisans, Rasionalisme dan Empirisme dalam rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana filsafat Barat pada era renaisans?
  2. Bagaimana filsafat modern aliran rasionalisme?
  3. Bagaimana filsafat modern aliran empirisme?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Renaisans

Tidak mudah menentukan batas yang jelas mengenai akhir zaman pertengahan dan awal yang pasti dari zaman modern. Hal ini disebabkan perbedaan pandangan para ahli sejarah tentang peralihan zaman pertengahan ke zaman modern. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa zaman pertengahan berakhir ketika Konstantinopel ditaklukkan oleh Turki Usmani pada tahun 1453 M. Peristiwa tersebut dianggap sebagai akhir zaman pertengahan dan titik awal zaman modern. Ada juga yang berpendapat bahwa  penemuan benua Amerika oleh Columbus pada tahun 1492 M., menandai awal zaman modern. Para ahli yang lain cenderung menganggap era gerakan reformasi keagamaan yang dimotori oleh Martin Luther pada tahun 1517 M., sebagai akhir zaman pertengahan. Namun mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa akhir abad ke 14 sekaligus menjadi akhir zaman pertengahan yang ditandai oleh suatu gerakan yang disebut renaissance pada abad ke 15 dan 16. Dengan demikian abad ke 17 menjadi bagian awal dari zaman filsafat modern.[2]

Renaisans berasal dari istilah bahasa Prancis renaissance yang berarti kelahiran kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh para ahli sejarah untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual yang terjadi di Eropa, khususnya di Italia sepanjang abad ke 15 dan ke 16. Istilah ini mula-mula digunakan oleh seorang ahli sejarah terkenal yang bernama Michelet, kemudian dikembangkan oleh J. Burckhardt (1860) untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode Abad Pertengahan.

Abad Pertengahan adalah abad ketika alam pikiran dikungkung oleh Gereja. Dalam keadaan seperti itu kebebasan pemikiran amat dibatasi, sehingga perkembangan sains sulit terjadi, demikian pula filsafat tidak berkembang, bahkan dapat dikatakan bahwa manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri. Oleh karena itu, orang mulai mencari alternatif. Dalam perenungan mencari alternatif  itulah orang teringat pada suatu zaman ketika peradaban begitu bebas dan maju, pemikiran tidak dikungkung, sehingga sains berkembang, yaitu zaman Yunani kuno. Pada zaman Yunani kuno tersebut orang melihat kemajuan kemanusiaan telah terjadi. Kondisi seperti itulah yang hendak dihidupkan kembali.[3]

Pada pertengahan abad ke-14, di Italia muncul gerakan pembaruan di bidang keagamaan dan kemasyarakatan yang dipelopori oleh kaum humanis Italia. Tujuan utama gerakan  ini adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan filsafat Yunani dengan ajaran agama Kristen. Gerakan ini berusaha meyakinkan Gereja bahwa sifat pikiran-pikiran klasik itu tidak dapat binasa. Dengan memanfaatkan kebudayaan dan bahasa klasik itu mereka berupaya menyatukan kembali Gereja yang terpecah-pecah dalam banyak sekte.[4]

Tidak dapat dinafikan bahwa pada abad pertengahan orang telah mempelajari karya-karya para filosof Yunani dan Latin, namun apa yang telah dilakukan oleh orang pada masa itu berbeda dengan apa yang diinginkan dan dilakukan oleh kaum humanis. Para humanis bermaksud meningkatkan perkembangan yang harmonis dari kecakapan serta berbagai keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan adanya kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur klasik Yunani. Para humanis pada umumnya berpendapat bahwa hal-hal yang alamiah pada diri manusia adalah modal yang cukup untuk meraih pengetahuan dan menciptakan peradaban manusia. Tanpa wahyu, manusia dapat menghasilkan karya budaya yang sebenarnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa humanisme telah memberi sumbangannya kepada renaisans untuk menjadikan kebudayaan bersifat alamiah.[5]

Zaman renaisans banyak memberikan perhatian pada aspek realitas. Perhatian yang sebenarnya difokuskan pada hal-hal yang bersifat kongkret dalam lingkup alam semesta, manusia, kehidupan masyarakat dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat upaya manusia untuk memberi tempat kepada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan dan porsi yang lebih besar, karena ada suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala macam persoalan yang diperlukan pemecahannya. Hal ini dibuktikan dengan perang terbuka terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap orang-orang yang enggan menggunakan akalnya. Asumsi yang digunakan adalah, semakin besar kekuasaan akal, maka akan lahir dunia baru yang dihuni oleh manusia-manusia yang dapat merasakan kepuasan atas dasar kepemimpinan akal yang sehat.[6]

Pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam filsafat. Zaman renaisans terkenal dengan  era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir seperti pada zaman Yunani kuno. Manusia dikenal sebagai animal rationale, karena pada masa ini pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Ilahi. Saat itu manusia Barat mulia berpikir secara baru dan berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan Gereja yang selama ini telah mengungkung kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan.[7]

Zaman ini juga sering disebut sebagai Zaman Humanisme. Maksud ungkapan tersebut adalah manusia diangkat dari Abad pertengahan. Pada abad tersebut manusia kurang dihargai kemanusiaannya. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran gereja, bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia sendiri. Humanisme menghendaki ukurannya haruslah manusia, karena manusia mempunyai kemampuan berpikir. Bertolak dari sini, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya sendiri dan mengatur dunia. Karena semangat humanisme tersebut , akhirnya agama Kristen semakin ditinggalkan, sementara pengetahuan rasional dan sains berkembang pesat terpisah dari agama dan nilai-nilai spiritual.[8]

Renaisans tidak lahir secara kebetulan, tetapi ada pra kondisi yang mengawali terjadinya kelahiran tersebut. Menurut Mahmud Hamdi Zaqzuq, ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi kelahiran Renaisans, yaitu:

1. Implikasi yang sangat signifikan yang ditimbulkan oleh gerakan keilmuan dan filsafat. Gerakan tersebut lahir sebagai hasil dari penerjemahan ilmu-ilmu Islam ke dalam bahasa latin selama dua abad, yaitu abad ke-13 dan 14. Bahkan sebelumnya telah terjadi penerjemahan kitab-kitab Arab di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal itu dilakukan setelah Barat sadar bahwa Arab memiliki kunci-kunci khazanah turas klasik Yunani.[9]

Hasil dari penerjemahan karya-karya Muslim berpengaruh terhadap kurikulum Eropa Barat secara revolusioner. Terutama di bidang matematika, kedokteran, astronomi, filologi, fisika, ilmu kimia, geografi, sejarah, musik, teologi, dan filsafat. Transformasi tersebut menumbuhkan universitas-universitas Eropa abad keduabelas dan ketigabelas.

Hal itu telah menstimulasi perkembangan lebih lanjut teori dan praktik kedokteran, memodifikasi doktrin-doktrin teologi, memprakarsai dunia baru dalam matematika, menghasilkan kontroversi baru dalam teologi dan filsafat. [10]

2. Pasca penaklukan Konstantinopel oleh Turki Usmani, terjadi migrasi para pendeta dan sarjana ke Italia dan negara-negara Eropa lainnya. Para sarjana tersebut menjadi pionir-pionir bagi pengembangan ilmu di Eropa. Mereka secara bahu-membahu menghidupkan turas klasik Yunani di Florensia, dengan membawa teks-teks dan manuskrip-manuskrip yang belum dikenal sebelumnya.

3. Pendirian berbagai lembaga ilmiah yang mengajarkan beragam ilmu, seperti berdirinya Akademi Florensia dan College de France di Paris.[11] Dalam universitas-universitas abad keduabelas dan abad ketigabelas, ilmu pengetahuan telah didasarkan hampir sepenuhnya pad tulisan-tulisan dari para penulis Muslim atau Yunani, sebagaimana diterjemahkan dari sumber-sumber bahasa Arab dan Yunani. Ilmu pengetahuan Muslim Aristotelian tetap merupakan inti dari kurikulum  Universitas Paris hingga abad keenambelas. Tidak sampai pertengahan abad keenambelas dan datangnya Copernicus dalam astronomi, Paracelsus dalam ilmu kedokteran dan Vesalius dalam anatomi, ilmu pengetahuan Muslim-Helenistik telah membuka jalan kepada konsep-konsep baru tentang manusia dan dunianya, sehingga menimbulkan keruntuhan periode abad pertengahan.[12]

Selain itu, ada beberapa faktor yang dikemukakan Slamet Santoso seperti yang dikutip Rizal Mustansyir, yaitu:

  1. Hubungan antara kerajaan Islam di Semenanjung Iberia dengan Prancis membuat para pendeta mendapat kesempatan belajar di Spanyol kemudian mereka kembali ke Prancis untuk  menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh di lembaga-lembaga pendidikan di Prancis.[13]
  2. Perang Salib (1100-1300 M) yang terulang enam kali, tidak hanya menjadi ajang peperangan fisik, namun juga menjadikan para tentara atau serdadu Eropa yang berasal dari berbagai negara itu menyadari kemajuan negara-negara Islam, sehingga mereka menyebarkan pengalaman mereka itu sekembalinya di negara-negara masing-masing.

Pada zaman renaisans ada banyak penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Di antara tokoh-tokohnya adalah:

1. Nicolaus Copernicus (1473-1543)

Ia dilahirkan di Torun, Polandia dan belajar di Universitas Cracow. Walaupun ia tidak mengambil studi astronomi, namun ia mempunyai koleksi buku-buku astronomi dan matematika. Ia sering disebut sebagai Founder of  Astronomy. Ia mengembangkan teori bahwa matahari adalah pusat jagad raya dan bumi mempunyai dua macam gerak, yaitu: perputaran sehari-hari pada porosnya dan perputaran tahunan mengitari matahari. Teori itu disebut heliocentric menggeser teori Ptolemaic. Ini adalah perkembangan besar, tetapi yang lebih penting adalah metode yang dipakai Copernicus, yaitu metode mencakup penelitian terhadap benda-benda langit dan kalkulasi matematik dari pergerakan benda-benda tersebut.[14]

2. Galileo Galilei (1564-1642)

Galileo Galilei adalah salah seorang penemu terbesar di bidang ilmu pengetahuan. Ia menemukan bahwa sebuah peluru yang ditembakkan membuat suatu gerak parabola, bukan gerak horizontal yang kemudian berubah menjadi gerak vertikal. Ia menerima pandangan bahwa matahari adalah pusat jagad raya. Dengan teleskopnya, ia mengamati jagad raya dan menemukan bahwa bintang Bimasakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak sekali jumlahnya dan masing-masing berdiri sendiri. Selain itu, ia juga berhasil mengamati bentuk Venus dan menemukan beberapa satelit Jupiter.[15]

3. Francis Bacon (1561-1626)

Francis Bacon adalah seorang filosof dan politikus Inggris. Ia belajar di Cambridge University dan kemudian menduduki jabatan penting di pemerintahan serta pernah terpilih menjadi anggota parlemen. Ia adalah pendukung penggunaan scientific methods, ia berpendapat bahwa pengakuan tentang pengetahuan pada zaman dahulu kebanyakan salah, tetapi ia percaya bahwa orang dapat mengungkapkan kebenaran dengan inductive method, tetapi lebih dahulu harus membersihkan fikiran dari prasangka yang ia namakan idols (arca).[16] Bacon telah memberi kita pernyataan yang klasik tentang kesalahan-kesalahan berpikir dalam Idols of the Mind.

Pertama, Arca-arca Suku (Idols of the Tribes). Kita condong menerima bukti-bukti dan kejadian-kejadian yang menguntungkan pihak atau kelompok kita (suku atau bangsa). Kedua, Arca-arca Gua (Idols of Cave). Kita cenderung memandang diri kita sebagai pusat dunia dan menekankan pendapat kita yang terbatas. Ketiga, Arca-arca Pasar (Idols of the Market) yang menjadikan kita terpengaruh oleh kata-kata atau nama-nama yang kita kenal dalam percakapan kita sehari-hari. Kita disesatkan oleh kata-kata yang diucapkan secara emosional. Sebagai contoh, dalam Masyarakat (Amerika) kata-kata komunis, radikal dan teroris. Keempat, Arca-arca Panggung (Idols of Theatre) yang timbul karena sikap kita berpegang pada partai, kepercayaan atau keyakinan. Tingkah laku, cara-cara dan aliran-aliran pikiran adalah seperti panggung, dalam arti bahwa mereka membawa kita ke dunia khayal. Akhirnya arca panggung membawa kita kepada kesimpulan yang salah dasar.[17]

Bacon menolak silogisme, sebab dipandang tanpa arti dalam ilmu pengetahuan karena tidak mengajarkan kebenaran-kebenaran yang baru. Ia juga menekankan bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat dihasilkan melalui pengamatan, eksperimen dan harus berdasarkan data-data yang tersusun. Dengan demikian Bacon dapat dipandang sebagai peletak dasar-dasar metode induksi modern dan pelopor dalam usaha sitematisasi secara logis prosedur ilmiah.[18]

Dalam bidang filsafat, zaman renaisans tidak menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni dan sains. Filsafat berkembang bukan pada zaman itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya yaitu zaman modern. Meskipun terdapat berbagai perubahan mendasar, namun abad-abad renaisans tidaklah secara langsung menjadi lahan subur bagi pertumbuhan filsafat. Baru pada abad ke-17 dengan dorongan daya hidup yang kuat sejak era renaisans, filsafat mendapatkan pengungkapannya yang lebih jelas. Jadi, zaman modern filsafat didahului oleh zaman renaisans. Ciri-ciri filsafat renaisans dapat ditemukan pada filsafat modern. Ciri tersebut antara lain, menghidupkan kembali rasionalisme Yunani, individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain. [19]

Pada abad ke-17 pemikiran renaisans mencapai kesempurnaannya pada diri beberapa tokoh besar. Pada abad ini tercapai kedewasaan pemikiran, sehingga ada kesatuan yang memberi semangat yang diperlukan pada abad-abad berikutnya. Pada masa ini, yang dipandang sebagai sumber pengetahuan hanyalah apa yang secara alamiah dapat dipakai manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Sebagai akibat dari kecenderungan berbeda dalam memberi penekanan kepada salah satu dari keduanya, maka pada abad ini lahir dua aliran yang saling bertentangan, yaitu rasionalisme yang memberi penekanan pada rasio dan empirisme yang memberi penekanan pada empiri.

B. Rasionalisme

Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.

Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.

Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran rasionalisme.[20]

Pada zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme adalah Rene Descartes (1595-1650). Tokoh rasionalisme lainnya adalah Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716). Descartes dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut Bertrand Russel, kata “Bapak” pantas diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern itu yang membangun filsafat berdasarkan atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dia pula orang pertama di akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat dan tegas yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci dan bukan yang lainnya. Hal ini disebabkan perasaan tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban dan banyak memakan korban. Ia melihat tokoh-tokoh Gereja yang mengatasnamakan agama telah menyebabkan lambannya perkembangan itu. Ia ingin filsafat dilepaskan dari dominasi agama Kristen, selanjutnya kembali kepada semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal.

Descartes sangat menyadari bahwa tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh Gereja bahwa dasar filsafat haruslah rasio. Tokoh-tokoh Gereja waktu itu masih berpegang teguh pada keyakinan bahwa dasar filsafat haruslah iman sebagaimana tersirat dalam jargon credo ut intelligam yang dipopulerkan oleh Anselmus. Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun argumentasinya dalam sebuah metode yang sering disebut cogito Descartes, atau metode cogito saja. Metode tersebut dikenal juga dengan metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt).[21]

Lebih jelas uraian Descartes tentang bagaimana memperoleh hasil yang sahih dari metode yang ia canangkan dapat dijumpai dalam bagian kedua dari karyanya Anaximenes Discourse on Methode yang menjelaskan perlunya memperhatikan empat hal berikut ini:

  1. Tidak menerima sesuatu apa pun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
  2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
  3. Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
  4. Dalam proses pencarian dan penelaahan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang terabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu.[22]

Atas dasar aturan-aturan itulah Descartes mengembangkan pikiran filsafatnya. Ia meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Pertama-tama ia mulai meragukan hal-hal yang berkaitan dengan panca indera. Ia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu dimungkinkan karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi dan pengalaman tentang roh halus, ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Di dalam mimpi, seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi. Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan hal gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Oleh karena itu, Descartes berkata, ”Aku dapat meragukan bahwa aku di sini sedang siap untuk pergi ke luar; ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis sepeti itu, padahal aku ada di tempat tidur sedang bermimpi”. Jadi, siapa yang dapat menjamin bahwa yang sedang kita alami sekarang adalah kejadian yang sebenarnya dan bukan mimpi?

Pada langkah pertama ini Descartes berhasil meragukan semua benda yang dapat diindera. Sekarang , apa yang dapat dipercaya dan yang sungguh-sungguh ada? Menurut Descartes, dalam keempat keadaan itu (mimpi, halusinasi, ilusi dan hal gaib), juga  dalam jaga, ada sesuatu yang selalu muncul. Ada yang selalu muncul baik dalam jaga maupun dalam mimpi, yaitu gerak, jumlah  dan besaran (volume). Ketiga hal tersebut adalah matematika. Untuk membuktikan ketiga hal ini benar-benar ada, maka Descartes pun meragukannya. Ia mengatakan bahwa matematika bisa salah. Saya sering salah menjumlah angka, salah mengukur besaran, demikian pula pada gerak. Jadi, ilmu pasti pun masih dapat saya ragukan, meskipun matematika lebih pasti dari benda. Kalau begitu, apa yang pasti itu dan dapat kujadikan dasar bagi filsafatku? Aku ingin yang pasti, yang distinct. [23]

Sampailah ia sekarang kepada langkah ketiga dalam metode cogito. Satu-satunya hal yang tak dapat ia ragukan adalah eksistensi dirinya sendiri yang sedang ragu-ragu. Mengenai satu hal ini tidak ada satu manusia pun yang dapat menipunya termasuk setan licik dan botak sekali pun. Bahkan jika kemudian ia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, maka penyesatan itu pun bagi Descartes merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang disesatkan. Ini bukan khayalan, melainkan kenyataan. Batu karang kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa latin cogito ergo sum (saya berpikir, karena itu saya ada).

Dalam usaha untuk menjelaskan mengapa kebenaran yang satu (saya berpikir, maka saya ada) adalah benar, Descartes berkesimpulan bahwa dia merasa diyakinkan oleh kejelasan dan ketegasan dari ide tersebut. Di atas dasar ini dia menalar bahwa semua kebenaran dapat kita kenal karena kejelasan dan ketegasan yang timbul dalam pikiran kita:” Apa pun yang dapat digambarkan secara jelas dan tegas adalah benar.

Dengan demikian, falsafah rasional mempercayai bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukanlah turunan dari dunia pengalaman melainkan dari dunia pikiran. Descartes mengakui bahwa pengetahuan dapat dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan seperti dalam mimpi atau khayalan, maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data keinderaan tidak dapat diandalkan. [24]

Cogito ergo sum dianggap sebagai fase yang paling penting dalam filsafat Descartes yang disebut sebagai kebenaran filsafat yang pertama (primum philosophium). Aku sebagai sesuatu yang berpikir adalah suatu substansi yang seluruh tabiat dan hakikatnya terdiri dari pikiran dan keberadaannya tidak butuh kepada suatu tempat atau sesuatu yang bersifat bendawi.

Untuk menguatkan gagasannya, ia mengemukakan ide-ide bawaan (innate ideas). Descartes berpendapat bahwa dalam dirinya terdapat tiga ide bawaan yang telah ada pada dirinya sejak lahir, yaitu pemikiran, Tuhan dan keluasan. Argumen tentang ide bawaan tersebut adalah ketika saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berpikir, maka harus diterima bahwa pemikiran merupakan hakikat saya. Ketika saya mempunyai ide sempurna, maka pasti ada penyebab sempurna bagi ide tersebut, karena akibat tidak mungkin melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain adalah Tuhan. Adapun alasan tentang keluasan karena saya mengerti ada materi sebagai keluasan, sebagaimana diketahui dan dipelajari dalam ilmu geometri.

Mengenai substansi, Descartes menyimpulkan bahwa selain dari Tuhan ada dua substansi, yaitu jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran dan materi yang hakikatnya adalah keluasan. Tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar dirinya, maka ia kesulitan membuktikan adanya dunia luar tersebut. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia luar adalah bahwa Tuhan akan menipu saya sekiranya Ia memberi ide keluasan. Namun tidak mungkin Tuhan sebagai wujud yang sempurna akan menipu saya. Jadi, di luar saya benar-benar ada dunia material.[25]

Adapun Spinoza beranggapan bahwa hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. Jika Descartes membagi substansi menjadi tiga, yaitu tubuh (bodies), jiwa (mind) dan Tuhan, maka Spinoza menyimpulkan hanya ada satu substansi. Adapun bodies dan mind bukan substansi yang berdiri sendiri, melainkan sifat dari satu substansi yang tak terbatas. Ketika ia ditanya,”Bagaimana membedakan atribut bodies dan mind?” Spinoza memberi jawaban mengejutkan: ”Anda hanyalah satu bagian dari substansi kosmik (universe)”. Jika demikian, alam semesta juga adalah Tuhan. Bagi Spinoza, Tuhan dan alam semesta adalah satu dan sama. Ya, Spinoza percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan yang dimaksudkannya adalah alam semesta ini. Tuhan Spinoza itu tidak berkemauan, tidak melakukan sesuatu, tak mempedulikan manusia dan tak terbatas (ultimate). Inilah penjelasan logis dan dapat diketahui tentang Tuhan menurut Spinoza.[26]

Sebagai penganut rasionalisme, Spinoza dianggap sebagai orang yang tepat dalam memberikan gambaran tentang apa yang dipikirkan oleh penganut rasionalisme. Ia berusaha menyusun sebuah sistem filsafat yang menyerupai sistem ilmu ukur (geometri). Seperti halnya orang Yunani, Spinoza mengatakan bahwa dalil-dalil ilmu ukur merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Spinoza meyakini bahwa jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan dalam ilmu ukur, maka ia pasti akan memahami makna yang terkandung dalam pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat di antara dua buah titik”, maka kita harus mengakui kebenaran pernyataan tersebut. Kebenaran yang menjadi aksioma.[27]

Contoh ilmu ukur (geometri) yang dikemukakan oleh Spinoza di atas adalah salah satu contoh favorit kaum rasionalis. Mereka berdalih bahwa aksioma dasar geometri seperti, “sebuah garis lurus merupakan jarak yang terdekat antara dua titik”, adalah idea yang jelas dan tegas yang baru kemudian dapat diketahui oleh manusia. Dari aksioma dasar itu dapat dideduksikan sebuah sistem yang terdiri dari subaksioma-subaksioma. Hasilnya adalah sebuah jaringan pernyataan yang formal dan konsisten yang secara logis tersusun dalam batas-batas yang telah digariskan oleh suatu aksioma dasar yang sudah pasti.[28]

C. Empirisme

Para pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang telah dirintis oleh Descartes. Mereka lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme.[29] Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme[30]

Orang pertama pada abad ke-17 yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Jika Bacon lebih berarti dalam bidang metode penelitian, maka Hobbes dalam bidang doktrin atau ajaran. Hobbes telah menyusun suatu sistem yang lengkap berdasar kepada empirisme secara konsekuen. Meskipun ia bertolak pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan rasionalisme matematis. Ia mempersatukan empirisme dengan rasionalisme dalam bentuk suatu filsafat materialistis yang konsekuen pada zaman modern.

Menurut Hobbes, filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum, sebab filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat, atau tentang penampakan-panampakan yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati untuk mencari sebab-sebabnya. Adapun alatnya adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dengan kata-kata yang menggambarkan fakta-fakta itu. Di dalam pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bentuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita. Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian; ruang, waktu, bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak.  Menurut Hobbes, tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata, tetapi yang benar-benar nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Segala gejala pada benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang ada pada si pengamat saja. Segala yang ada ditentukan oleh sebab yang hukumnya sesuai dengan hukum ilmu pasti dan ilmu alam. Dunia adalah keseluruhan sebab akibat termasuk situasi kesadaran kita.[31]

Sebagai penganut empirisme, pengenalan atau pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Pengalaman adalah awal dari segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala pengetahuan diturunkan dari pengalaman. Dengan demikian, hanya pengalamanlah yang memberi jaminan kepastian.

Berbeda dengan kaum rasionalis, Hobbes memandang bahwa pengenalan dengan akal hanyalah mempunyai fungsi mekanis semata-mata. Ketika melakukan proses penjumlahan dan pengurangan misalnya, pengalaman dan akal yang mewujudkannya. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan yang disimpan dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lalu. Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indera kita. Gerak ini diteruskan ke otak kita kemudian ke jantung. Di dalam jantung timbul reaksi, yaitu suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan yang sebenarnya terjadi  pada awal gerak reaksi tadi.

Untuk mempertegas pandangannya, Hobbes menyatakan bahwa tidak ada yang universal kecuali nama belaka. Konsekuensinya ide dapat digambarkan melalui kata-kata. Dengan kata lain, tanpa kata-kata ide tidak dapat digambarkan. Tanpa bahasa tidak ada kebenaran atau kebohongan. Sebab, apa yang dikatakan benar atau tidak benar itu hanya sekedar sifat saja dari kata-kata. Setiap benda diberi nama dan membuat ciri atau identitas-identitas di dalam pikiran orang.[32]

Selanjutnya tradisi empiris diteruskan oleh John Locke (1632-1704) yang untuk pertama kali menerapkan metode empiris kepada persoalan-persoalan tentang pengenalan atau pengetahuan. Bagi Locke, yang terpenting adalah menguraikan cara manusia mengenal. Locke berusaha menggabungkan teori-teori empirisme seperti yang diajarkan Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Usaha ini untuk memperkuat ajaran empirismenya. Ia menentang teori rasionalisme mengenai idea-idea dan asas-asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Peran akal adalah pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Oleh karena itu akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri.[33] Pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa). Di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pangalaman inderawi. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. Tapi pikiran, menurut Locke, bukanlah sesuatu yang pasif terhadap segala sesuatu yang datang dari luar. Beberapa aktifitas berlangsung dalam pikiran. Gagasan-gagasan yang datang dari indera tadi diolah dengan cara berpikir, bernalar, mempercayai, meragukan dan dengan demikian memunculkan apa yang dinamakannya dengan perenungan.

Locke menekankan bahwa satu-satunya yang dapat kita tangkap adalah penginderaan sederhana. Ketika kita makan apel misalnya, kita tidak merasakan seluruh apel itu dalam satu penginderaan saja. Sebenarnya, kita menerima serangkaian penginderaan sederhana, yaitu apel itu berwarna hijau, rasanya segar, baunya segar dan sebagainya. Setelah kita makan apel berkali-kali, kita akan berpikir bahwa kita sedang makan apel. Pemikiran kita tentang apel inilah yang kemudian disebut Locke sebagai gagasan yang rumit atau ia sebut dengan persepsi. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa semua bahan dari pengetahuan kita tentang dunia didapatkan melalui penginderaan.[34] Ini berarti bahwa semua pengetahuan kita betapapun rumitnya, dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama yang dapat diibaratkan seperti atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali seperti demikian itu bukanlah pengetahuan atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.[35]

Di tangan empirisme Locke, filsafat mengalami perubahan arah. Jika rasionalisme Descartes mengajarkan bahwa pengetahuan yang paling berharga tidak berasal dari pengalaman, maka menurut Locke, pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan. Namun demikian, empirisme dihadapkan pada sebuah persoalan yang sampai begitu jauh belum bisa dipecahkan secara memuaskan oleh filsafat. Persoalannya adalah menunjukkan bagaimana kita mempunyai pengetahuan tentang sesuatu selain diri kita dan cara kerja pikiran itu sendiri.[36]


BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan terdahulu dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Renaisans berasal dari bahasa Prancis renaisance yang berarti kelahiran kembali. Istilah ini sering digunakan untuk menamai berbagai gelombang kebudayaan dan pemikiran di Eropa yang terjadi mulai dari Italia, kemudian meluas ke beberapa negara Eropa lainnya. Kemunculan renaisans telah membawa hidupnya kembali ilmu pengetahuan, filsafat dan perubahan di berbagai lini kehidupan, sehingga para sejarawan menganggapnya sebagai awal zaman modern. Berbagai perubahan yang terjadi selama era renaisans menjadi persiapan bagi pembentukan filsafat pad abad ke-17, atau yang dikenal dengan filsafat modern.
  2. Rasionalisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal. Rasionalisme tidak mengingkari peran pengalaman, tetapi pengalaman dipandang sebagai perangsang bagi akal atau sebagai pendukung bagi pengetahuan yang telah ditemukan oleh akal. Akal dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri melalui metode deduktif. Rasionalisme menonjolkan “diri” yang metafisik, ketika Descartes meragukan “aku” yang empiris, ragunya adalah ragu metafisik.
  3. Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Akal bukanlah sumber pengetahuan, akan tetapi akal berfungsi mengolah data-data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode induktif. Jika rasionalisme menonjolkan “aku” yang metafisik, maka empirisme menonjolkan “aku” yang empiris.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro.  Filsafat Umum. Cet. V; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

Anees, Bambang Q- dan Radea Juli A. Hambali. Filsafat Untuk Umum. Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2003.

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Ravertz, Jerome R.  The Philosophy of Science. Diterjemahkan oleh Saut Pasaribu dengan judul Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Mustansyir, Rizal  dan Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Cet. VII; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Nakosteen, Mehdi. History of Islamic Origins of Western Education A. D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education. Diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah dengan judul Kontribusi Islam atas dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis abad kemasan Islam. Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam perspektif. Cet. XVI; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.

Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum. Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998.

Titus, Harold H., et al. Living Issues in philosophy. Diterjemahkan oleh H.M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat. Cet.  I; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984.

Zaqzu>q, Mah}mu>d H{amdiy. Dira>sa>t fi> al-Falsafat al-H{adi>s\ah. Cet. II; Kairo: Da>r al-T{iba>‘at al-Muh}ammadiyyah, 1988.


[1] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, selanjutnya disebut Rizal, Filsafat Ilmu (Cet. VII; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h. 58-59.

[2] Mah}mu>d H{amdiy Zaqzu>q, selanjutnya disebut Zaqzuq, Dira>sa>t fi> al-Falsafat al-H{adi>s\ah (Cet. II; Kairo: Da>r al-T{iba>‘at al-Muh}ammadiyyah, 1988), h. 16.

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998), h. 109.

[4] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum (Cet. V; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 109.

[5] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993), h. 11., lihat Jerome R. Ravertz, The Philosophy of Science, diterjemahkan Saut Pasaribu, Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 29.

[6] Asmoro Achmadi, op. cit., h. 110.

[7] Rizal, op. cit., h. 70.

[8] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 110.

[9] Zaqzuq, loc. cit.

[10] Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Western Education A. D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education, diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah, Kontribusi Islam atas dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis abad kemasan Islam (Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 271.

[11] Zaqzuq, op.cit., h. 17-18.

[12] Mehdi Nakosteen, op. cit., h. 276.

[13] Rizal, op. cit., h. 134.

[14] Harold H. Titus et al., Living Issues in philosophy, diterjemahkan H.M. Rasjidi, Persoalan-Persoalan Filsafat (Cet. I; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984), h. 258.

[15] Harun Hadiwijono, op.cit., h. 14.

[16] Harold H. Titus et al., op. cit., h. 192.

[17] Ibid., h. 191.

[18] Harun Hadiwijono, op. cit., h. 15.

[19] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 111.

[20] Rizal, op. cit., h. 73-74.

[21] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 112-113.

[22] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 96.

[23] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 129-131.

[24] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam perspektif (Cet. XVI; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), h. 100-101.

[25] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 98-99.

[26] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 137-138.

[27] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 27.

[28] Jujun S. Suriasumantri, loc. cit.

[29] Harun Hadiwijono, op.cit., h. 31.

[30] Ahmad Tafsir, op. cit., h. 173.

[31] Harun Hadiwijono, op. cit., h. 32.

[32] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 109-110.

[33] Harun Hadiwijono, op. cit., h. 36.

[34] Bambang Q-Anees dan Radea Juli A. Hambali, selanjutnya disebut Bambang, Filsafat Untuk Umum (Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 334.

[35] Juhaya S. Praja, op. cit., h. 26.

[36] Bambang, op. cit., h. 335.


THOMAS KHUN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Masalah ilmu pengetahuan mungkin menjadi masalah terpenting bagi kehidupan manusia. Hal ini menjadi ciri manusia karena manusia senantiasa bereksistensi, tidak hanya berada seperti batu atau rumput yang berada di tengah lapangan, tetapi mengada. Oleh karena itu, manusia berbudaya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk kehidupan pribadi dan lingkungannya yang telah mereka antisipasikan.[1]

Pada zaman Yunani kuno, ilmu dengan filsafat sukar dipisahkan. Pembuktian empirik kurang mendapat perhatian dan metode ilmiah tampaknya belum berkembang. Sedikit demi sedikit, dengan makin berkembangnya penalaran dan metode ilmiah, dengan makin kuatnya dan makin dihargainya pembuktian empirik, dan seiring dengan itu, makin meluasnya penggunaan instrumen penelitian, satu persatu cabang-cabang ilmu mulai melepaskan diri dari filsafat, definisi ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut, sedangkan sewaktu posisi ilmu lebih bebas dan lebih mandiri, definisi ilmu umumnya didasarkan pada apa yang dikerjakan oleh ilmu itu dengan melihat metode yang digunakannya. Berkembanglah ilmu-ilmu alamiah (natural sciences) dan ilmu-ilmu social (social science). Astronomi, anggota ilmu-illmu alamiah, merupakan salah satu ilmu yang pertama-tama melepaskan diri dari filsafat, sedangkan psikologi, anggota ilmu-ilmu sosial, termasuk yang terakhir melepaskan diri dari filsafat.[2]

Tidak dapat juga dipungkiri ilmu yang terspesialisasi itu semakin menambah sekat-sekat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, sehingga muncul arogansi ilmu yang satu terhadap ilmu lain. Tugas filsafat diantaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan.[3]

Menurut Kuhn seorang ilmuan selalu bekerja dengan paradigma tertentu. Paradigma itu memungkinkan sang ilmuan untuk memecahkan kesulitan yang muncul dalam rangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tak dapat dimasukkan dalam kerangka ilmunya, dan menuntut revolusi paradigmatik.

Jasa Kuhn sebenarnya terletak pada pendobrakan citra filsafat ilmu sebagai logika ilmu, serta menggulingkan anggapan seakan ilmu sebagai kenyataan yang mempunyai kebenaran sui generis (objektif dan satu-satunya). Dengan itu Kuhn menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tak terlepas dari faktor ruang dan waktu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas penulis mencoba menguraikan  menjadi beberapa rumusan masalah

1. Bagaimana pengertian paradigma

2. Bagaimana gambaran ilmu normal

3. Paradigma ilmu pengetahuan menurut Kuhn

BAB II

PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN

A. Paradigma

Inggris: paradigm. Dari bahasa Yunani para deigma, dari para (di samping, di sebelah) dan dekynai (memperlihatkan: yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal).[4]

Beberapa pengertian:

1.   Cara memandang sesuatu

2.  Dalam ilmu pengetahuan: model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomena yang dipandang, dijelaskan.

3.  Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.[5]

Paradigma merupakan konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah: yang dalam konseptualisasi Kuhn: menjadi wacana untuk temuan ilmiah  baru.[6]

B. Ilmu Normal

Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).

Yang dimaksud Kuhn “ilmu normal” adalah kegiatan penelitian yang secara teguh berdasarkan satu atau lebih pencapaian ilmiah (scientific achievements) di masa lalu, yakni pencapaian-pencapaian yang oleh komunitas atau masyarakat ilmiah bidang tertentu pada suatu masa dinyatakan sebagai pemberi landasan untuk praktek selanjutnya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa ilmu normal memiliki dua ciri esensial:

1.   Pencapaian ilmiah itu cukup baru sehingga mampu menarik para pemraktek ilmu dari berbagai cara lain dalam menjalankan kegiatan ilmiah; maksudnya dihadapkan pada berbagai alternatif cara menjalankan kegiatan ilmiah, sebagian besar pemraktek ilmu cenderung memilih untuk mengacu pada pencapaian itu dalam menjalankan kegiatan ilmiah  mereka.

2.  Pencapaian itu cukup terbuka sehingga masih terdapat berbagai masalah yang memerlukan penyelesaian oleh pemraktek ilmu dengan mengacu pada pencapaian-pencapaian itu.

Ilmu normal bekerja berdasarkan paradigma yang dianut atau yang berlaku. Karena itu, pada dasarnya penelitian normal tidak dimaksudkan untuk pembaharuan besar, melainkan hanya untuk mengartikulasi paradigma itu. Kegiatan ilmiah ilmu normal hanya brtujuan untuk menambah lingkup dan presisi pada bidang-bidang yang terhadapnya paradigma dapat diaplikasikan. Jadi ilmu normal adalah jenis kegiatan ilmiah yang sangat restriktif. Keuntungannya adalah bahwa kegiatan ilmiah yang demikian itu dapat sangat mendalam dan cermat.

Dalam keangka ilmu normal, para ilmuan biasanya bekerja dalam kerangka  seperangkat aturan yang sudah dirumuskan secara jelas berdasarkan paradigma dalam bidang tertentu, sehingga pada dasarnya solusinya sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu.karena itu kegiatan ilmiah dalam kerangka ilmu normal adalah seperti  kegiatan “puzzle solving”. Implikasinya adalah bahwa kegagalan menghasilkan suatu solusi terhadap masalah tertentu lebih mencerminkan tingkat kemampuan ilmuan ketimbang sifat dari masalah yang bersangkutan atau metode yang digunakan.

Walaupun ilmu normal itu adalah kegiatan kumulatif (menambah pengetahuan) dalam bidang yang batas-batasnya ditentukan oleh paradigma tertentu, namun dalam perjalanan kegiatannya dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan. Maksudnya, dalam kegiatan ilmiah itu dapat timbul penyimpangan, yang oleh kuhn disebut anomali. Terbawa oleh sifatnya sendiri, yakni oleh batas-batas yang ditetapkan oleh paradigma, ilmu normal akan mendorong para ilmuan pemrakteknya menyadari adanya anomali, yakni hal baru atau pertanyaan yang tidak ter”cover” atau terliputi oleh kerangka paradigma yang bersangkutan, yang tidak terantisipasi berdasarkan paradigma yang menjadi acuan kegiatan ilmiah. Adanya anomali merupakan prasyarat bagi penemuan baru, yang akhirnya dapat mengakibatkan perubahan paradigma.[7]

C. Paradigma Ilmu Pengetahuan Menurut Thomas S. Kuhn

Thomas Samuel Kuhn mula-mula meniti karirnya sebagai ahli fisika, tetapi kemudian mendalami sejarah ilmu. Lewat tulisannya, The Structure of Scientific Revolutions (1962), ia menjadi seorang penganjur yang gigih yang berusaha meyakinkan bahwa titik pangkal segala penyelidikan adalah berguru pada sejarah ilmu. Sebagai penulis sejarah dan sosiolog ilmu kuhn mendekati ilmu secara eksternal. Kuhn dengan mendasarkan pada sejarah ilmu, justru berpendapat bahwa terjadinya perubahan-perubahan yang berarti tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah (falsifikasi) suatu teori atau system, melainkan berlangsung melalui revolusi-revolusi ilmiah. Dengan kata lain, Kuhn berdiri dalam posisi melawan keyakinan yang mengatakan bahwa kemajuan ilmu berlangsung secara kumulatif. Ia mengambl posisi alternatif bahwa kemajuan ilmiah pertam-tama bersifat revolusioner. Secara sederhana yang dimaksud revolusi ilmiah oleh Kuhn adalah segala perkembangan nonkumulatif di mana paradigma yang terlebih dahulu ada (=lama) diganti dengan tak terdamaikan lagi, keseluruhan ataupun sebagian, dengan yang baru.

Gagasannya yang sangat radikal dan progresif tersebut kiranya berasal dari pengalaman ilmiah yang pernah dihadapinya sendiri. Pada tahun 1947 Kuhn diminta untuk mengajar mekanika klasik abad ke 17, maka kemudian ia membaca mekanika Aristotelian yang melatar belakangi perkembangan mekanika Galilei dan Newton. Dia sangat heran dan sering tidak percaya bahwa mekanika Aristotelian inilah yang mendasari lahirnya mekanika Galilei dan Newton yang sangat termasyhur di abad ke-17, Karena ia melihat betapa mekanika Aristoteles itu mengandung begitu banyak kesalahan-kesalahan. Pengalaman inilah yang menjadi cikal bakal yang memunculkan gagasannya mengenai revolusi ilmiah. Revolusi ilmiah dimengerti oleh Kuhn sebagai episode-episode perkembangan nonkumulatif di mana paradigma yang lama digantikan seluruhnya atau sebagian oleh pradigma baru yang tidak dapat didamaikan dengan paradigma sebelumnya.[8]

Kuhn tidak memberikan definisi yang formal dan eksak tentang istilah “paradigma” itu, meskipun sesungguhnya istilah itu merupakan istilah kunci dalam pandangannya tentang ilmu. Paradigma menurut kuhn mencakup hal berikut ini:

  1. Model yang berdasarkanya muncul sejumlah tradisi penelitian ilmiah tertentu yang terpadu (koheren).
  2. Pencapaian (hasil-hasil) ilmiah yang diakui secara universal yang untuk suatu masa tertentu menawarkan model, masalah dan solusi kepada komunitas pemraktek.
  3. Hampir merupakan pandangan dunia, yakni cara memandang dunia melalui kacamata yang disediakan oleh cabang ilmu tertentu.
  4. Terdiri atas sejumlah teori dan teknik khusus yang sesuai bagi pemecahan masalah-masalah penelitian.
  5. Perpaduan teori dan metode yang bersama-sama mewujudkan sesuatu yang mendekati suatu pandangan dunia.
  6. Matriks disipliner, yakni keseluruhan konstelasi sejumalah keyakinan, generalisasi simbolik, model, nilai, komitmen, teknik, dan eksemplar yang dianut dan mempersatukan para anggota komunitas ilmiah tertentu.
  7. Eksemplar, yakni penyelesian (solusi) teka-teki atau masalah ilmiah yang dugunakan sebagai model atau contoh, dan yang dapat menggantikan aturan eksplisit sebagai landasan untuk solusi teka-teki lainnya dari ilmu normal; eksemplar ini dihasilkan oleh penelitian yang sukses yang kemudian digunakan oleh para pemraktek sebagai model.

Jadi, dengan penggunaan istilah paradigma itu, Kuhn hendak menunjuk pada sejumlah contoh praktek ilmiah aktual yang diterima atau diakui dalam lingkungan komunitas ilmiah, menyajikan model-model yang berdasarkannya lahir tradisi penelitian ilmiah yang terpadu (koheren). Contoh praktek ilmiah itu mencakup dalil,  teori, penerapan dan instrumentasi. Dengan demikian, para ilmuan yang penelitiannya didasarkan pada paradigma yang sama, pada dasarnya terikat pada aturan dan standar yang sama dalam mengemban ilmunya. Keterikatan pada aturan dan standar ini adalah prasyarat bagi adanya ilmu normal. Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa paradigma itu adalah cara pandang atau kerangka berpikir yang berdasarkan fakta atau gejala diinterpretasi dan dipahami.

Paradigma menetapkan kriteria untuk memilih masalah yang dapat diasumsikan mempunyai solusi. Hanya masalah yang memenuhi kriteria yang diderivasi dari paradigma saja yang dapat disebut masalah ilmiah, yang layak digarap oleh ilmuan. Dengan demikian, maka paradigma menjadi sumber keterpaduan bagi tradisi penelitian yang normal. Aturan penelitian diderivasi dari paradigma. Namun, menurut Kuhn, tanpa adanya aturan ini, paradigma saja sudah cukup untuk membimbing penelitian. Jadi, ilmu normal sebenarnya tidak terlalu memerlukan aturan atau metode yang standar (yang disepakati oleh komunitas ilmiah). Tanpa aturan dan metode yang baku, ilmu normal dapat berjalan. Ini berarti bahwa tiap ilmuan dapat menciptakan aturan dan metode penelitian dan pengkajian sendiri sesuai dengan keperluan, sepanjang aturan dan metode ini diderivasi dari paradigma yang berlaku. Tetapi, jika paradigmanya belum mapan, maka perangkat aturan akan diperlukan atau menjadi penting.[9]

Ilmu yang sudah mapan dianggap oleh Kuhn dikuasai oleh paradigma tunggal. Paradigma ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science), dimana ilmuan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma secara rinci dan mendalam. Dalam tahap ini seorang ilmuan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiah lainnya.

Tetapi suatu  ketika dapat terjadi, dalam menjalankan risetnya itu, sang ilmuan menjumpai berbagai fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan teorinya. Pada saat inilah terjadi suatu anomali, yang apabila makin menumpuk kuantitas maupun kualitasnyaakan menimbulkan krisis. Dalam situasi krisis ini, paradigma yang ada diperiksa dan dipertanyakan, ini menyebabkan keadaan ilmiah yang keluar dari ilmu normal. Krisis menjadi situasi yang bisa menyebabkan revolusi ilmiah. Pada masa krisis ini ada kegelisahan mendalam yang dihadapi komunitas ilmiah.

Dalam upaya mengatasi krisis itu, sang ilmuan bisa kembali pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu, atau dapat juga mengembangkan suatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Terobosan yang terakhir, yaitu proses peralihan  komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru, itulah yang disebut sebagai revolusi ilmiah. Dikatakan oleh Kuhn bahwa peralihan tadi tidak semata-mata karena alasan logis rasional, melainkan mirip dengan proses pertobatan dalam agama. Jadi perkembangan berlangsung lewat sebuah lompatan-lompatan yang radikal dan revolusioner.

Perubahan sebuah teori bukan hanya sekedar peningkatan dari teori yang lama, tetapi sudah menyentuh pada perubahan struktural. Jadi tidak ada lagi tampak sebuah inti yang terlindung dari sebuah teori ketika dikalahkan oleh sebuah teori tandingan. Demikianlah teori gravitasi Newton secara structural hancur ketika diserang oleh relativitas Einstein, sama halnya dengan kejatuhan geosentris Ptolemeus dari heliosentris Kopernikus. Sehingga teori yang dikalahkan tinggal sebagai pengetahuan sejarah.[10]

Struktur perkembangan ilmu pengetahuan menurut Kuhn dapat diugkapkan secara kronologis sebagai berikut:

Pra ilmu– Ilmu normal   -Anomali- Krisis – Isme     -Revolusi – Ilmu normal baru

Normal sains                              Jumud

“isme”

Krisis

BAB III

KESIMPULAN

  1. Paradigma berasal Dari bahasa Yunani para deigma, dari para (di samping, di sebelah) dan dekynai (memperlihatkan: yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal). Paradigma merupakan konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah.
  2. Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science).pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).
  3. Struktur perkembangan ilmu pengetahuan menurut Kuhn dapat diugkapkan secara kronologis sebagai berikut:

Pra ilmu– Ilmu normal   -Anomali- Krisis – Isme     -Revolusi – Ilmu normal baru

Normal sains                              Jumud

“isme”

Krisis baru

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002

Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004

Muhajir, Noeng. Filsafat Ilmu Edisi II. Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001

Semiawan, Conny. Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman. Cet. I; Bandung: Mizan, 2005

Sidharta, B Arif. Apakah Filsafat Dan Filsafat Ilmu Itu. Cet. I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008

Soetomo, Greg. Sains Dan Problem Ketuhanan. Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1995

Wiramihardja, Sutardjo A. Pengantar Filsafat. Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007


[1]Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Filsafat (Cet. II; Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h. 79

[2]Conny Semiawan dkk, Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman (Cet. I; Bandung: Mizan, 2005), h. 107

[3]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 3

[4]Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 779

[5]Ibid

[6]Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu Edisi II (Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), h. 177

[7]B Arif Sidharta, Apakah Filsafat Dan Filsafat Ilmu Itu (Cet. I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008), h. 93

[8]Greg Soetomo, Sains Dan Problem Ketuhanan (Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1995), h. 21

[9]B. Arif Sidharta,…Op. Cit., h.  94-95

[10]Greg Soetomo,….Op. Cit., h. 22-23


MENUJU INTEGRASI ILMU-ILMU KEISLAMAN DENGAN ILMU-ILMU UMUM

MENUJU INTEGRASI ILMU-ILMU KEISLAMAN DENGAN ILMU-ILMU UMUM

Oleh: Syekhuddin

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemikiran tentang integrasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan dewasa ini yang dilakukan oleh kalangan intelektual muslim, tidak lepas dari kesadaran beragama. Secara totalitas ditengah ramainya dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan sebuah konsep bahwa ummat Islam akan maju dapat menyusul menyamai orang-orang barat apabila mampu menstransformasikan dan menyerap secara aktual terhadap ilmu pengetahuan dalam rangka memahami wahyu, atau mampu memahami wahyu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.[1]

Disamping itu terdapat asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari negara-negara barat dianggap sebagai pengetahuan yang sekuler oleh karenanya ilmu tersebut harus ditolak, atau minimal ilmu pengetahuan tersebut harus dimaknai dan diterjemahkan dengan pemahaman secara islami. Ilmu pengetahuan yang sesungguhnya merupakan hasil dari pembacaan manusia terhadap ayat-ayat Allah swt, kehilangan dimensi spiritualitasnya, maka berkembangkanlah ilmu atau sains yang tidak punya kaitan sama sekali dengan agama. Tidaklah mengherankan jika kemudian ilmu dan teknologi yang seharusnya memberi manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi kehidupan manusia ternyata berubah menjadi alat yang digunakan untuk kepentingan sesaat yang justru menjadi “penyebab” terjadinya malapetaka yang merugikan manusia.[2]

Dipandang dari sisi aksiologis ilmu dan teknologi harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia. Artinya ilmu dan teknologi menjadi instrumen penting dalam setiap proses pembangunan sebagai usaha untuk mewujudkan kemaslahatan hidup manusia seluruhnya. Dengan demikian, ilmu dan teknologi haruslah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan bukan sebaliknya.[3]

Untuk mencapai sasaran tersebut maka perlu dilakukan suatu upaya mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dengan ilmu-ilmu keislaman, sehingga ilmu-ilmu umum tersebut tidak bebas nilai atau sekuler. Pendekatan interdisciplinary dan inter koneksitas antara disiplin ilmu agama dan umum perlu dibangun dan dikembangkan terus-menerus tanpa kenal henti.

Buka masanya sekarang disiplin ilmu –ilmu agama (Islam) menyendiri dan steril dari kontak dan intervensi ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kealaman dan begitu pula sebaliknya.[4]

B. Permasalahan

Permasalahan yang penting diajukan adalah bagaimana mengintegrasikan atau menyatukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu umum.

II. PEMBAHASAN

Sebelum sampai kepada pembahasan penyatuan /integrasi ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu umum, maka akan dibahas terlebih  dahulu tentang : Alquran dan ilmu pengetahuan, rekonstruksi sains Islam, suatu integrasi ilmu pengetahuan Islam dan umum.

A. Alquran dan Ilmu Pengetahuan (Sains)

Alquran diturunkan oleh Allah swt. kepada manusia untuk menjadi petunjuk dan menjadi pemisah antara yang hak dan yang batil sesuai dengan firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 185. Alquran juga menuntun manusia untuk menjalani segala aspek kehidupan, termasuk di dalamnya menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Alquran menempatkan ilmu dan ilmuan dalam kedudukan yang tinggi sejajar dengan orang-orang yang beriman (QS: al-Mujadilah: 11). Banyak nash Alquran yang menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan wahyu yang pertama kali turun, adalah ayat yang berkenaan dengan ilmu, yaitu perintah untuk membaca seperti yang terdapat dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5. Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia diketahuinya.[5]

Disamping itu, Alquran menghargai panca indra dan menetapkan bahwasanya indra tersebut adalah menjadi pintu ilmu pengetahuan. (QS.Al-Nahl: 78) Syeikh Mahmu>d Abdul Wahab Fayid mengatakan bahwa ayat ini mendahulukan pendengaran dan penglihatan dari pada hati disebabkan karena keduanya itu sebagai sumber petunjuk berbagai macam pemikiran dan merupakan kunci pembuka pengetahuan yang rasional.[6]

Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab mengatakan, bahwa seluruh cabang ilmu pengetahuan yang terdahulu dan yang kemudian, yang telah diketahui maupun yang belum, semua bersumber dari al-Qur’an al-Karim. Namun Imam Al-Sy>athibi (w. 1388 M), tidak sependapat dengan Al-Gazali.[7]

Dr. M. Quraish Shihab mengatakan, membahas hubungan Alquran dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah. Tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian Alquran dan sesuai pula dengan logika ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak perlu melihat apakah di dalam Alquran terdapat ilmu matematika, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu komputer dll, tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat–ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat Alquran yang bertentangan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?[8]

Kuntowijoyo mengatakan bahwa Alquran sesungguhnya menyediakan kemungkinan yang sangat besar untuk dijadikan sebagai cara berpikir. Cara berpikir inilah yang dinamakan paradigma Alquran, paradigma Islam. Pengembangan eksperimen-eksperimen ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada paradigma Alquran jelas akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Kegiatan itu mungkin menjadi pendorong munculnya ilmu-ilmu pengetahuan alternatif. Jelas bahwa premis-premis normatif Alquran dapat dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional. Struktur transendental Alquran adalah sebuah ide normatif dan filosofis yang dapat dirumuskan menjadi paradigma teoretis. Ia akan memberikan kerangka bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan empiris dan rasional yang orisinal, dalam arti sesuai dengan kebutuhan pragmatis umat manusia sebagai khalifah di bumi. Itulah sebabnya pengembangan teori-teori ilmu pengetahuan Islam dimaksudkan untuk kemaslahatan umat Islam.[9]

B. Rekontruksi Ilmu Pengetahuan Islam

Dalam perkembangan keilmuan Islam, terdapat pengelompokan disiplin ilmu agama dengan ilmu umum. Hal ini secara implisit menunjukkan adanya dikotomi ilmu pengetahuan.

Kondisi seperti ini terjadi mulai abad pertengahan sejarah Islam hingga sekarang. Dalam konteks Indonesia,  dikatomi ilmu umum dan ilmu agama malah sudah terlembagakan. Hal ini bisa dilihat dari adanya dua tipe lembaga pendidikan yang dinaungi oleh departemen yang berbeda. Lembaga pendidikan yang berlabel agama di bawah naungan DEPAG sedangkan lembaga pendidikan umum berada di bawah DEPDIKNAS.

Pandangan dikotomis terhadap ilmu pengetahuan Islam seperti itu, tidak sesuai dengan pandangan integralistik ilmu pengetahuan pada permulaan sejarah umat Islam. Ternyata pandangan dikotomis yang menempatkan Islam sebagai suatu disiplin yang selama ini terasing dari disiplin ilmu lain telah menyebabkan ketertinggalan para ilmuan Islam baik dalam mengembangkan wawasan keilmuan maupun untuk menyelesaikan berbagai masalah dengan multidimensional approach (pendekatan dari berbagai sudut pandang). Oleh karena itu wajarlah jika dikotomi ilmu pengetahuan mendapatkan gugatan dari masyarakat, termasuk gugatan dari para ilmuan muslim melalui wacana Islamisasi ilmu pengetahuan.[10]

Muhammad Abid al-Jabiry dalam Amin Abdullah mengatakan: Adalah merupakan kecelakaan sejarah umat Islam, ketika bangunan keilmuan natural sciences (al-ulu>m al-kauniyyah) menjadi terpisah dan tidak bersentuhan sama sekali dengan ilmu-ilmu keislaman yang pondasi dasarnya adalah “teks” atau nash. Meskipun peradaban Islam klasik pernah mengukir sejarahnya dengan nama-nama yang dikenal menguasai ilmu-ilmu kealaman, antara lain seperti Al-Biru>ni (w. 1041) seorang ensiklopedis muslim, Ibn Sina seorang filosuf dan ahli kedokteran, Ibn Haitsam (w.1039) seorang fisikawan, dan lain-lain. Sayang perguruan tinggi Islam, yang ada sekarang kurang mengenalnya atau mungkin sama sekali tidak mengenalnya lagi, lebih-lebih perkembangan metodologi ilmu-ilmu kealaman yang berkembang sekarang ini, yang sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu-ilmu keislaman yang ada sekarang.[11]

Selain ilmuan-ilmuan muslim yang dikemukakan di atas masih banyak ilmuan lain yang terkenal diantaranya, Abu Abbas al-Fadhl Ha>tim an-Nizari (w-922) seorang ahli astronomi, Umar Ibn Ibrahim al-Khayyami (w.1123) yang lebih di kenal dengan Umar Khayyam penulis buku aljabar, Muhammad al-Syarif al-Idrisi (1100-1166) ahli ilmu bumi.

Pada periode klasik Islam ini (Abad VII-XIII) dijuluki The golden age of Islam, telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ada beberapa faktor yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan pada periode ini, yaitu:

  1. Agama Islam sebagai motivasi.
  2. Kesatuan bahasa yang memudahkan komunikasi ilmiah.
  3. Kebijakan pemerintah untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
  4. Didirikannya akademi, Laboratorium, dan perpustakaan sebagai sarana pengembangan ilmu.
  5. Ketekunan ilmuan untuk mengadakan riset dan eksperimen.
  6. Pandangan Internasional yang membuka isolasi dengan dunia luar.
  7. Penguasaan terhadap bekas wilayah pengembangan filsafat klasik Yunani.

Pada periode klasik Islam  tidak terdapat dikotomi ilmu pengetahuan. Memang telah dikembangkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari Alquran dan hadis dan ilmu pengetahuan yang bersumber dari alam dan masyarakat, tetapi masih berada dalam satu kerangka yaitu pengetahuan Islam.[12]

Sesudah periode klasik ini, yaitu sejak abad XIII, Ilmu pengetahuan Islam mulai mengalami kemunduran, produktivitas ilmuan-ilmuan muslim sangat berkurang. Di dunia barat justru terjadi sebaliknya, warisan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dari Islam dikembangkan, sehingga mengantar mereka mencapai dunia baru melalui pintu gerbang renaissance, dan reformasi. Kondisi seperti ini mempengaruhi struktur ilmu pengetahuan dalam Islam.

Ilmu pengetahuan yang dikaji dari Alquran dan hadis yang dianggap sebagai ilmu pengetahuan Islam, sedangkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari alam, dan dari masyarakat dikeluarkan dari struktur ilmu pengetahuan Islam. Dengan demikian muncullah dikotomi ilmu pengetahuan Islam dengan umum. Kalau hal ini dibiarkan terus berkembang maka akan membawa dampak negatif, misalnya teknologi nuklir bisa menjadi senjata pemusnah yang seharusnya untuk kesejahteraan manusia. Oleh karena itu Ilmu pengetahuan Islam perlu direkonstruksi kembali dengan paradigma baru yaitu bahwa ilmu pengetahuan Islam menggambarkan terintegrasinya seluruh sistem ilmu pengetahuan dalam satu kerangka. Ilmu pengetahuan Islam menggunakan pendekatan wahyu, pendekatan filsafat, dan pendekatan empirik, baik dalam pembahasan substansi ilmu, maupun pembahasan tentang fungsi dan tujuan ilmu pengetahuan. Dengan rekonstruksi ilmu pengetahuan Islam tidak terkait lagi adanya dikotomi antara ilmu pengetahuan Islam (syari’ah) dengan ilmu pengetahuan umum, keduanya saling berhubungan secara fungsional (fungsional Corelation)[13]

C. Integrasi Ilmu Pengetahuan ke Islaman dengan Umum

Setelah umat Islam mengalami kemunduran sekitar abad XIII-XIX, justru pihak Barat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dari Islam sehingga ia mencapai masa renaissance. Ilmu pengetahuan umum (sains) berkembang pesat sedangkan ilmu pengetahuan Islam mengalami kemunduran, yang pada akhirnya muncullah dikotomi antara dua bidang ilmu tersebut.

Tidak hanya sampai di sini tetapi muncul pula sekularisasi ilmu pengetahuan. Namun sekularisasi ilmu pengetahuan ini mendapat tantangan dari kaum Gereja. Galileo (L. 1564 M) yang dipandang sebagai pahlawan sekularisasi ilmu pengetahuan mendapat hukuman mati tahun 1633 M, karena mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan pandangan Gereja. Galileo memperkokoh pandangan Copernicus bahwa matahari adalah pusat jagat raya berdasarkan fakta empiris melalui observasi dan eksperimen. Sedangkan Gereja memandang bahwa bumi adalah pusat jagat raya (Geosentrisme) didasarkan pada informasi Bibel.[14]

Pemberian hukuman kepada para ilmuan yang berani berbeda pandangan dengan kaum Gereja menjadi pemicu lahirnya ilmu pengetahuan yang memisahkan diri dari doktrin agama. Kredibilitas Gereja sebagai sumber informasi ilmiah merosot, sehingga semakin mempersubur tumbuhnya pendekatan saintifik dalam ilmu pengetahaun menuju ilmu pengetahuan sekuler.[15] Sekularisasi ilmu pengetahuan secara ontologis membuang segala yang bersifat religius dan mistis, karena dianggap tidak relevan dengan ilmu. Alam dan realitas sosial didemitologisasikan dan disterilkan dari sesuatu yang bersifat ruh dan spirit dan didesakralisasi (di alam ini tidak ada yang sakral).

–       Sekularisasi ilmu pengetahuan dari segi metodologi menggunakan epistemologi rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme berpendapat bahwa rasio adalah alat pengetahuan yang obyektif karena dapat melihat realitas dengan konstan. Sedangkan empirisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang absah adalah empiris (pengalaman).

–       Sekularisasi ilmu pengetahuan pada aspek aksiologi bahwa ilmu itu bebas nilai atau netral, nilai-nilai ilmu hanya diberikan oleh manusia pemakainya. Memasukkan nilai ke dalam ilmu, menurut kaum sekular, menyebabkan ilmu itu “memihak”, dan dengan demikian menghilangkan obyektivitasnya.[16]

Kondisi inilah yang memotivasi para cendekiawan muslim berusaha keras dalam mengintegrasikan kembali ilmu dan agama. Upaya yang pertama kali diusulkan adalah islamisasi ilmu pengetahuan. Upaya “islamisasi ilmu” bagi kalangan muslim yang telah lama tertinggal jauh dalam peradaban dunia moderen memiliki dilema tersendiri. Dilema tersebut adalah apakah akan membungkus sains Barat dengan label “Islami” atau “Islam”? Ataukah berupaya keras menstransformasikan normativitas agama, melalui rujukan utamanya Alquran dan Hadis, ke dalam realitas kesejarahannya secara empirik? . Kedua-duanya sama-sama sulit jika usahanya tidak dilandasi dengan berangkat dari dasar kritik epistemologis. Dari sebagian banyak cendikiawan muslim yang pernah memperdebatkan tentang islamisasi ilmu, di antaranya bisa disebut adalah: Ismail Raji Al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Fazlur Rahman, dan Ziauddin Sardar. Kemunculan ide: “Islamisasi ilmu” tidak lepas dari ketimpangan-ketimpangan yang merupakan akibat langsung keterpisahan antara sains dan agama. Sekulerisme telah membuat sains sangat jauh dari kemungkinan untuk didekati melalui kajian agama. Pemikiran kalangan yang mengusung ide “Islamisasi ilmu” masih terkesan sporadis, dan belum terpadu menjadi sebuah pemikiran yang utuh. Akan tetapi, tema ini sejak kurun abad 15 H., telah menjadi tema sentral di kalangan cendekiawan muslim.

Tokoh yang mengusulkan pertama kali upaya ini adalah filosof asal Palestina yang hijrah ke Amerika Serikat, Isma>’il Ra>ji Al-Faru>qi. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu tauhid. Hal ini dimaksudkan agar ada koherensi antara ilmu pengetahuan dengan iman.

Upaya yang lainnya, yang merupakan antitesis dari usul yang pertama, adalah ilmuisasi Islam. Upaya ini diusung oleh Kuntowijoyo. Dia mengusulkan agar melakukan perumusan teori ilmu pengetahuan yang didasarkan kepada Alquran, menjadikan Alquran sebagai suatu paradigma. Upaya yang dilakukan adalah objektifikasi. Islam dijadikan sebagai suatu ilmu yang objektif, sehingga ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran dapat dirasakan oleh seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), tidak hanya untuk umat Islam tapi non-muslim juga bisa merasakan hasil dari objektivikasi ajaran Islam.

Masalah yang muncul kemudian adalah apakah integrasi/islamisasi ilmu pengetahuan keislaman, dengan ilmu-ilmu umum mungkin dilakukan dengan tetap tegak diatas prinsip–prinsip tanpa mengacu pada pendekatan teologi normatif.

Moh. Natsir Mahmud mengemukakan beberapa proposisi (usulan) tentang kemungkinan islamisasi  ilmu pengetahuan, sebagai berikut:

  1. Dalam pandangan Islam, alam semesta sebagai obyek ilmu pengetahuan tidak netral, melainkan mengandung nilai (value) dan “maksud” yang luhur. Bila alam dikelola dengan “maksud” yang inheren dalam dirinya akan membawa manfaat bagi manusia. “Maksud” alam tersebut adalah suci (baik) sesuai dengan misi yang diemban dari Tuhan.
  2. Ilmu pengetahuan adalah produk akal pikiran manusia sebagai hasil pemahaman atas fenomena di sekitarnya. Sebagai produk pikiran, maka corak ilmu yang dihasilkan akan diwarnai pula oleh corak pikiran yang digunakan dalam mengkaji fenomena yang diteliti.
  3. Dalam pandangan Islam, proses pencarian ilmu tidak hanya berputar-putar di sekitar rasio dan empiri, tetapi juga melibatkan al-qalb yakni intuisi batin yang suci. Rasio dan empiri mendeskripsikan fakta dan al-qalb memaknai fakta, sehingga analisis dan konklusi yang diberikan sarat makna-makna atau nilai.
  4. Dalam pandangan Islam realitas itu tidak hanya realitas fisis tetapi juga ada realitas non-fisis atau metafisis. Pandangan ini diakui oleh ontologi rasionalisme yang mengakui sejumlah kenyataan empiris, yakni empiris sensual, rasional, empiris etik dan empiris transenden.[17]

Azyumardi Azra, mengemukakan ada tiga tipologi respon cendekiawan muslim berkaitan dengan hubungan antara keilmuan agama dengan keilmuan umum.

Pertama: Restorasionis, yang mengatakan bahwa ilmu yang bermanfaat dan dibutuhkan adalah praktek agama (ibadah). Cendekiawan yang berpendapat seperti ini adalah Ibrahim Musa (w. 1398 M) dari Andalusia. Ibnu Taymiah, mengatakan bahwa ilmu itu hanya pengetahuan yang berasal dari nabi saja. Begitu juga Abu Al-A’la Maudu>di, pemimpin jamaat al-Islam Pakistan, mengatakan ilmu-ilmu dari barat, geografi, fisika, kimia, biologi, zoologi, geologi dan ilmu ekonomi adalah sumber kesesatan karena tanpa rujukan kepada Allah swt. dan Nabi Muhammad saw.

Kedua: Rekonstruksionis interprestasi agama untuk memperbaiki hubungan peradaban modern dengan Islam. Mereka mengatakan bahwa Islam pada masa Nabi Muhammad dan sahabat sangat revolutif, progresif, dan rasionalis. Sayyid Ahmad Khan (w. 1898 M) mengatakan firman Tuhan dan kebenaran ilmiah adalah sama-sama benar. Jamal al-Din al-Afga>ni  menyatakan bahwa Islam memiliki semangat ilmiah.

Ketiga: Reintegrasi, merupakan rekonstruksi ilmu-ilmu yang berasal dari al-ayah al-qur’aniyah dan yang berasal dari al-ayah al-kawniyah berarti kembali kepada kesatuan transsendental semua ilmu pengetahuan.[18]

Kuntowijoyo menyatakan bahwa inti dari integrasi adalah upaya menyatukan (bukan sekedar menggabungkan) wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia (ilmu-ilmu integralistik), tidak mengucilkan Tuhan (sekularisme) atau mengucilkan manusia (other worldly asceticisme).[19] Model integrasi adalah menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai grand theory pengetahuan. Sehingga ayat-ayat qauliyah dan qauniyah dapat dipakai.[20]

Integrasi yang dimaksud di sini adalah berkaitan dengan usaha memadukan keilmuan umum dengan Islam tanpa harus menghilangkan keunikan–keunikan antara dua keilmuan tersebut.

Terdapat keritikan yang menarik berkaitan dengan integrasi antara ilmu agama dengan sains:

(1)    Integrasi yang hanya cenderung mencocok-cocokkan ayat-ayat Alquran secara dangkal dengan temuan-temuan ilmiah. Disinilah pentingnya integrasi konstruktif dimana integrasi yang menghasilkan kontribusi baru yang tak diperoleh bila kedua ilmu tersebut terpisah. Atau bahkan integrasi diperlukan untuk menghindari dampak negatif yang mungkin muncul jika keduanya berjalan sendiri-sendiri …. Tapi ada kelemahan dari integrasi, di mana adanya penaklukan, seperti teologi ditaklukkan oleh sains.[21]

(2)    Berkaitan dengan pembagian keilmuan, yaitu qauniyah (Alam) dan qauliyah (Teologis). Kuntowijoyo mengatakan bahwa ilmu itu bukan hanya qauniyah dan qauliyah tetapi juga ilmu nafsiyah. Kalau ilmu qauniyah berkenaan dengan hukum alam, ilmu qauniyah berkenaan dengan hukum Tuhan dan ilmu nafsiyah berkenaan makna, nilai dan kesadaran. Ilmu nafsiyah inilah yang disebut sebagai humaniora (ilmu-ilmu kemanusiaan, hermeneutikal).[22]

Amin Abdullah memandang, integrasi keilmuan mengalami kesulitan, yaitu kesulitan memadukan studi Islam dan umum yang kadang tidak saling akur karena keduanya ingin saling mengalahkan. Oleh karena itu, diperlukan usaha interkoneksitas yang lebih arif dan bijaksana. Interkoneksitas yang dimaksud oleh Amin Abdullah adalah: “Usaha memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia. Sehingga setiap bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan agama, keilmuan sosial, humaniora, maupun kealaman tidak dapat berdiri sendiri …. maka dibutuhkan kerjasama, saling tegur sapa, saling membutuhkan, saling koreksi dan saling keterhubungan antara disiplin keilmuan.[23]

Pendekatan integratif-interkonektif merupakan pendekatan yang tidak saling melumatkan dan peleburan antara keilmuan umum dan agama. Pendekatan keilmuan umum dan Islam sebenarnya dapat dibagi menjadi tiga corak yaitu: paralel, linear dan sirkular.

–     Pendekatan paralel masing-masing corak keilmuan umum dan agama berjalan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dan persentuhan antara satu dengan yang lainnya.

–     Pendekatan Linear, salah satu dan keduanya akan menjadi primadona, sehingga ada kemungkinan berat sebelah.

–     Pendekatan Sirkular, masing-masing corak keilmuan dapat memahami keterbatasan, kekurangan dan kelemahan pada masing-masing keilmuan dan sekaligus bersedia mengambil manfaat dari temuan-temuan yang ditawarkan oleh tradisi keilmuan yang lain serta memiliki kemampuan untuk memperbaiki kekurangan yang melekat pada diri sendiri.[24]

Pendekatan integratif-interkonektif merupakan usaha untuk menjadikan sebuah keterhubungan antara keilmuan agama dan keilmuan umum. Muara dari pendekatan integratif-interkonektif menjadikan keilmuan mengalami proses obyektivikasi dimana keilmuan tersebut dirasakan oleh orang non Islam sebagai sesuatu yang natural (sewajarnya), tidak sebagai perbuatan keagamaan.  Sekalipun demikian, dari sisi yang mempunyai perbuatan, bisa tetap menganggapnya sebagai perbuatan keagamaan, termasuk amal, sehingga Islam dapat menjadi rahmat bagi semua orang.[25]

Contoh konkrit dari proses objektivikasi keilmuan Islam adalah Ekonomi Syariah yang prakteknya dan teori-teorinya berasal dari wahyu Tuhan. Islam menyediakan etika dalam perilaku ekonomi antara lain; bagi hasil (al-Mud{a>rabah) dan kerja sama (al-Musya>rakah). Di sini Islam mengalami objektivitas dimana etika agama menjadi ilmu yang bermanfaat bagi seluruh manusia, baik muslim maupun non muslim, bahkan arti agama sekalipun. Kedepan, pola kerja keilmuan yang integralistik dengan basis moralitas keagamaan yang humanistik dituntut dapat memasuki wilayah-wilayah yang lebih luas seperti: psikologi, sosiologi, antropologi, kesehatan, teknologi, ekonomi, politik, hubungan internasional, hukum dan peradilan dan seterusnya.[26]

Perbedaan pendekatan integrasi-interkoneksi dengan Islamisasi ilmu adalah dalam hal hubungan antara keilmuan umum dengan keilmuan agama. Kalau menggunakan pendekatan islamisasi ilmu, maka terjadi pemilahan, peleburan dan pelumatan antara ilmu umum dengan ilmu agama. Sedangkan pendekatan integrasi interkoneksi lebih bersifat menghargai keilmuan umum yang sudah ada, karena keilmuan umum juga telah memiliki basis epistemologi, ontologi dan aksiologi yang mapan, sambil mencari letak persamaan, baik metode pendekatan (approach) dan metode berpikir (procedure) antar keilmuan dan memasukkan nilai-nilai keilmuan Islam ke dalamnya, sehingga keilmuan umum dan agama dapat saling bekerja sama tanpa saling mengalahkan.

Dari uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dalam mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman ke dalam ilmu-ilmu umum sebaiknya mengacu kepada perspektif ontologis, epistemologis dan aksiologis.

–       Dari perspektif ontologis, bahwa ilmu itu pada hakekatnya, adalah merupakan pemahaman yang timbul dari hasil studi yang mendalam, sistematis, obyektif dan menyeluruh tentang ayat-ayat Allah swt. baik berupa ayat-ayat qauliyyah yang terhimpun di dalam Alquran maupun ayat-ayat kauniyah yang terhampar dijagat alam raya ini. Karena keterbatasan kemampuan manusia untuk mengkaji ayat-ayat tersebut, maka hasil kajian / pemikiran manusia tersebut harus dipahami atau diterima sebagai pengetahuan yang relatif kebenarannya, dan pengetahuan yang memiliki kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh Allah swt.

–       Dari perspektif Epistemologi, adalah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi diperoleh melalui usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan instrumen penglihatan, pendengaran dan hati yang diciptakan Allah swt. terhadap hukum-hukum alam dan sosial (sunnatullah). Karena itu tidak menafikan Tuhan sebagai sumber dari segala realitas termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.

–       Dari perspektif aksiologi, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus diarahkan kepada pemberian manfaat dan pemenuhan kebutuhan hidup umat manusia. Bukan sebaliknya, ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk menghancurkan kehidupan manusia. Perlu disadari bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian dari ayat-ayat Allah dan merupakan amanat bagi pemiliknya yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di sisi-Nya.

BAB III. KESIMPULAN

  1. Alquran diturunkan kepada manusia disamping sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil, juga menuntun manusia untuk menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
  2. Sejak kredibilitas Gereja sebagai sumber informasi ilmiah merosot, maka bertumbuh suburlah pendekatan saintifik dalam ilmu pengetahuan menuju ilmu pengetahuan sekuler.
  3. Terjadinya dikotomi ilmu pengetahuan Islam dengan ilmu-ilmu umum menyebabkan para ilmuan Islam berusaha melakukan Islamisasi atau integrasi kedua ilmu tersebut, sebab kalau hal ini tidak dilakukan maka akan membawa  dampak negatif bagi kehidupan manusia.
  4. Respon cendekiawan muslim berkaitan hubungan antara ilmu pengetahuan Islam dan umum ada 3 tipologi, yaitu: Restorasionis, Rekonstruksionis, dan Reintegrasi.
  5. Penyatuan antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu umum lebih condong kepada integrasi-interkoneksitas dan mengacu kepada perspektif ontologis, Epistemologis dan aksiologis.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin. Islamic Studies Di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, Cet.I, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2006

_______, Islamic Stadies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi, Cet I; Yogyakarta: Penerbit SUKA Press, 2007.

Arief, Armai. Reformasi Pendiidkan Islam, Cet. I, Jakarta: CRSD Press, 2005.

Azra, Azyumardi. Reintegrasi Ilmu-Ilmu, Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005.

Bagir, Zainal Abidin (ed), Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005

Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya, (Madinah Al-Munawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd li Thibaat al-Mushhaf al-Syarief, 1418 H.

Fayid, Syeikh Mahmud Abdul Wahab, Al-Tarbiyah Fie Kitab Allah, diterjemahkan Drs. Judi Al-Falasany, “Pendidikan Dalam Alquran”, Semarang: Penerbit CV. Wicaksana, 1989.

Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, Cet. II, Jakarta; Penerbit: Teraju, 2005.

Said, Nurman. dkk, Sinergi Agama dan Sains, (ed) Cet I; Makassar: Alauddin Press, 2005.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Alquran, Cet. I, Bandung: Penerbit Mizan, 1992

Suriasumantri, Jujun S. Ilmu Dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik, Jakarta: Gramedia, 1986.


[1] Armai Arief, Reformasi Pendidikan Islam, (Cet; Jakarta: CRSD Press, 2005), h.124.

[2] Nurman Said, Wahyuddin Halim, Muhammad Sabri, Sinergi Agama dan Sains, (ed) (Cet I; Makassar: Alauddin Press, 2005), h. xxxvi.

[3] Ibid., h.xxxvii

[4] Prof.DR.H.M. Amin Abdullah, dkk., Islamic Stadies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi, (Cet I; Yogyakarta: Penerbit Suka Press, 2007), h. 33.

[5] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya, (Madinah Almunawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd Li Thibaat al-Mushhaf al-Syarief, 1418 H), h. 1079.

[6] Syeikh Mahmud Abdul Wahab Fayid, Al-Tarbiyah Fie Kitab Allah, diterjemahkan Drs. Judi Al.Falasany, “Pendidikan Dalam Alquran” Semarang: Penerbit CV.Wicaksana, 1989), h. 23-24.

[7] Dr.M.Quraish shihab, Membumikan Alquran, (Cet I, Bandung: Penerbit Mizan, 1992) h .41

[8] Ibid.,

[9] Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, (Cet. II, Jakarta: Penerbit: Teraju, 2005), h.25-26.

[10] M. Shaleh Putuhena, Ke Arah Rekonstruksi Sains Islam, Nurman Said, Wahyuddin Hakim, Muhammad Sabri, op.cit, h.107

[11] Prof. Dr.H.M. Amin Abdullah, dkk, op.cit; h. 27.

[12] M.Shaleh Putuhena, op.cit., h. 107.

[13] Ibid., h. 119.

[14] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik, (Jakarta: Gramedia, 1986), h. 3.

[15] Prof.DR. Moh. Natsir Mahmud, Landasan Paradigmalik Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Nurman Said, Wahyuddin Halim Muhammad Sabri, (ed), Op.cit; h. 129.

[16] Lihat Ibid., h. 129-133.

[17] Ibid., h. 134.

[18] Azyumardi Azra, Reintegrasi Ilmu-ilmu dalam Islam Zainal Abidin Bagir (ed) Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005) h. 206- 211.

[19] Kuntowijoyo, op.cit., h. 57-58.

[20] Imam Suprayogo, Membangun Integrasi Ilmu dan Agama. Pengalaman UIN Malang. Zainal Abidin Bagir, (ed), op,cit, h.49 – 50.

[21] Zainal Abidin Bagir (ed), Integrasi Ilmu dan Agama, Interprestasi dan Aksi, (bandung: Mizan, 2005) h, 50-51.

[22] Kuntowijoyo, op.cit; h. 51.

[23] Prof.DR.M.Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Cet.I, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2006), h. VII-VIII.

[24] Ibid., h. 219 – 223.

[25] Kuntowijoyo, op.cit., h. 62.

[26] Prof.Dr. M.Amin Abdullah, op.cit, h. 105.


LOGIKA INFERENSIAL

LOGIKA INFERENSIAL

Oleh: Syekhuddin

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Filsafat merupakan akar dari seluruh ilmu yang ada, dari hasil pemikiran-pemikiran filsafat itulah muncul teori-teori yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kelimuan dan teknologi di jagat raya ini.

Kita sudah begitu sering berfikir, rasa-rasanya berfikir begitu mudah. semenjak kita sudah biasa melakukannya. Setiap hari kita sudah berdialog dengan diri kita sendiri, berdialog dengan orang lain, bicara, menulis, membaca suatu uraian, mengkaji suatu tulisan, mendengarkan penjelasan-penjelasan dan mencoba menarik kesimpulan-kesimpulan dari hal-hal yang kita lihat dan kita dengar. Terus menerus seringkali hampir tidak kita sadari.

Namun bila kita selidiki lebih lanjut, dan terutama bila harus dipraktekkan sungguh-sungguh ternyata bahwa berfikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Manakala kita berfikir seksama dan sistematis berbagai penalaran, segera akan dapat kita ketahui bahwa banyak penalaran tidak menyambung. Kegiatan berfikir-fikir benar-benar dituntut kesanggupan pengamatan yang kuat dan cermat; dituntut untuk melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan, kesalahan-kesalahan yang terselubung; waspada terhadap pembenaran diri (rasionalisasi) yang dicari-cari, terhadap segalanya yang tidak berkaitan (tidak relevan), terhadap prasangka-prasangka, terhadap pembuatan oleh rasa perasaan pribadi atau kelompok/ golongan.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan “Logika Inferensi” dapat dirumuskan, sebagai berikut:

1. Bagaimana pengertian logika inferensi?

2. Bagaimana sejarah logika?

II. LOGIKA

A. Pengertian

Logic (logika) berasal dari kata logos (Bhs. Yunani) yang artinya kata (word) atau apa yang diucapkan,[1] kemudian berubah menjadi studi sistem preskriptif dari argumen dan penalaran (reasoning), yaitu sistem yang menjadi acuan bagaimana manusia harus berfikir. Logika dapat dikatakan sebagai bentuk penarikan kesimpulan, apakah sesuatu atau argumen itu absah (valid) atau sebagai pendapat yang keliru (fallacious).[2]

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, logika berarti; [1] pengetahuan tentang kaidah berfikir, [2] jalan fikiran yang masuk akal.[3] Inferensi berarti simpulan; yang disimpulkan.[4] Oleh karena demikian, logika inferensial dapat didefinisikan sebagai “berfikir dengan akal yang sehat untuk memperoleh kesimpulan”. Contohnya, ketika seseorang menghadapi sebuah persoalan yang memerlukan jalan keluar (pemecahan), lalu persoalan tersebut ia fikirkan dengan menggunakan akal yang sehat, kemudian dari hasil berfikir itu ia mendapatkan sebuah simpulan pemecahan dari persoalan tersebut.

M. Taib Thahir Abd. Muin mengemukakan bahwa ilmu manthiq (logika) menurut bahasa ialah bertutur benar. Adapun definisinya bermacam-macam, namun kesimpulannya sama, antara lain; [1] ilmu tentang undang-undang berfikir, [2] ilmu untuk mencari dalil, [3] ilmu untuk menggerakkan fikiran kepada jalan yang lurus dalam memperoleh suatu kebenaran, [4] ilmu yang membahas tentang undang-undang yang umum untuk fikiran, [5] alat yang merupakan undang-undang berfikir dan bila undang ini dipelihara dan diperhatikan, maka hati nurani manusia pasti dapat terhindar dari fikiran-fikiran yang salah.[5]

B. Sejarah Ringkas Logika

W. Poespoprodjo dalam bukunya yang berjudul Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu, membagi sejarah logika,[6] sebagai berikut:

1. Dunia Yunani Tua

Menurut sebagian kisah sejarah Zeno dari Citium (±340-265) disebutkan bahwa tokoh Stoa adalah yang pertama kali menggunakan istilah logika. Namun demikian, akar logika sudah terdapat dalam pikiran dialektis para filsuf mazhab Elea. Mereka telah melihat masalah identitas dan perlawanan asas dalam realitas. Tetapi kaum sofis-lah yang membuat fikiran manusia sebagai titik api pemikiran secara eksplisit. Gorgias (±483-375) dari Lionti (Sicilia), mempersoalkan masalah pikiran dan bahasa, masalah penggunaan bahasa dalam kegiatan pemikiran. Dapatkah ungkapan mengatakan secara tepat apa yang ditangkap pikiran?

Sokrates (470-399) dengan metodenya, mengembangkan metode induktif. Dalam metode ini dikumpulkan contoh dan peristiwa konkrit untuk kemudian dicari  ciri umumnya. Plato, yang nama aslinya Aristokles, (428-347) mengumumkan metode Sokrates tersebut sehingga menjadi teori ide, yakni teori dinge an sich versi Plato. Sedangkan oleh Aristoteles, dikembangkan menjadi teori tentang ilmu. Menurut Plato, ide adalah bentuk “mulajadi” atau model yang bersifat umum dan sempurna yang disebut prototypa, sedangkan benda individual duniawi hanya merupakan bentuk tiruan yang tidak sempurna yang disebut ectypa. Gagasan Plato ini banyak memberikan dasar terhadap perkembangan logika, lebih-lebih yang bertalian dengan ideogenesis dan penggunaan bahasa dalam pemikiran. Namun demikian, logikè epistèmè (logika ilmiyah) sesungguhnya baru dapat dikatan terwujud berkat karya Aristoteles.

Sesudah Aristoteles, Theoprastus mengembangkan teori logika Aristoteles, dan kaum Stoa mengembangkan teori logika dengan menggarap masalah bentuk argument disjungtif dan hipotesis serta beberapa segi masalah bahasa. Chrysippus yang Stoa mengembangkan  logika proposisi dan mengajukan bentuk-bentuk berfikir yang sistematis.

Galenus, Alexander Aphrodisiens, dan Sextus Empiricus mengadakan sistematisasi logika dengan mengikuti cara geometri, yakni metode ilmu ukur. Galenus sangat berpengaruh karena tuntutannya yang sangat ketat aksiomatisasi logika. Karya utama Galenus berjudul Logika Ordini Geometrico Demonstrata. Tapi impian Galenus hanya terlaksana jauh kemudian. Yakni di akhir abad XVII melalui karya saceheri yang berjudul Logica Demonstrativa.

Kemudian muncullah zaman dekadensi logika. Salama ini logika mmengembang karena menyertai perkembangan pengetahuan dan ilmu yang menyadari betapa berseluk beluknya kegiatan berpikir yang langkahnya mesti dipertanggungjawabkan. Kini ilmu menjadi dangkal sifatnya dan sangat sederhana, maka logika juga merosot. Tetapi beberapa karya pantas mendapat perhatian kita, yakni Eisagogen dari Porphyrios, kemudian komentar-komentar dari Boethius dan Fons Scientiae (Sumber Ilmu) karya Johannes Damascenus.[7]

2. Logika Abad Pertengahan

Pada mulanya hingga tahun 1141, penggarapan logika hanya berkisar pada karya Aristoteles yang berjudul Kategoriai dan Peri Hermenias. Karya tersebut ditambah dengan karya Phorphyrios yang bernama Eisagogen dan traktat Boethius yang mencakup masalah pembagian, masalah metode debat, silogisme kategoris hipotesis, yang biasa disebut logika lama. Sesudah tahun 1141, keempat karya Aristoteles lainnya dikenal lebih luas dan disebut sebagai logika baru.[8] Logika lama dan logika baru kemudian disebut logika antik untuk membedakan diri dari logika terministis atau logika modern, disebut juga logika suposisi yang tumbuh berkat pengaruh para filosof Arab.[9] Di dalam logika ini di ditunjuk pentingnya pendalaman tentang suposisi untuk menerangkan kesesatan logis, dan tekanan terletak pada ciri-ciri term sebagai symbol tata bahasa dari konsep-konsep seperti yang terdapat di dalam karya Petrus Hispanus, William dari Ockham.

Thomas Aquinas dkk., mengusahakan sistimatisasi dan mengajukan komentar-komentar dalam usaha mengembangkan logika yang telah ada. Pada abad XIII-XV berkembanglah logika seperti yang sudah disebutkan di atas, disebut logika modern. Tokohnya adalah Petrus Hispanus, Roger Bacon, W. Okcham, dan Raimon Lullus yang menemukan metode logika baru yang disebut Ars Magna, yakni semacam Al-jabar pengertian dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi.

Abad pertengahan mencatat berbagai pemikiran yang sangat penting bagi perkembangan logika. Karya Boethius yang orisinal dibidang silogisme hipotesis, berpengaruh bagi perkembangan teori konsekwensi yang merupakan salah satu hasil terpenting bagi perkembangan logika di abad pertengahan. Kemudian dapat dicatat juga teori tentang cirri-ciri term, teori suposisi yang jika diperdalam ternyata lebih kaya dari semiotika matematika di zaman ini. Selanjutnya diskusi tentang universalia, munculnya logika hubungan, penyempurnaan teori silogisme,  penggarapan logika modal, dan lain-lain penyempurnaan terknis.[10]

3. Logika Dunia Modern

Logika Aristoteles, selain mengalami perkembangan yang murni, juga dilanjutkan oleh sebagian pemikir, tetapi dengan tekanan-tekanan yang berbeda. Thomas Hobbes, (1632-1704) dalam karyanya Leviatham (1651) dan John Locke (1632-1704) dalam karyanya yang bernama Essay Concerning Human Understanding (1690). Meskipun mengikuti tradisi aristoteles, tetapi dokrin-dokrinya sangat dikuasai paham nominalisme. Pemikiran dipandang sebagai suatu proses manipulasi tanda-tanda verbal dan mirip operasi-operasi dalam matematika. Kedua tokoh ini memberikan suatu interpretasi tentang kedudukan di dalam pengalaman.

Logika Aristoteles yang rancangan utamanya bersifat deduktif silogistik dan menunjukkan tanda-tanda induktif berhadapan dengan dua bentuk metode pemikiran lainnya, yakni logika fisika induktif murni sebagaimana terpapar dalam karya Francis Bacon, Novum Organum (London, 1620) serta matematika deduktif murni sebagaimana terurai di dalam karya Rene Descartes, Discors The La Methode (1637).

Metode induktif untuk menemukan kebenaran, yang direncanakan Francis Bacon, didasarkan pada pengamatan empiris, analisis data yang diamati, penyimpulan yang terwujud dalam hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut.[11]

4. Logika di India

Di Asia hanya India yang sudah mengembangkan logika secara formal sejak masa lalunya. Logika lahir dari Sri Gautama yang harus sering berdebat melawan golongan Hindu fanatic yang menyerang aliran kesusilaan yang diajarkannya. Dengan sistematis logika dipaparkannya dalam Nyaya-Sutra sehingga mencapai taraf perkembangan ilmu. Nyaya-Sutra mendapat komentar dari Prasastapada, yang kemudian disempurnakan oleh pengikut-pengikut Buddha lainnya.

Logika terus sebagai metode berdebat, dan mengundang banyak komentar dari orang-orang seperti Uddyotakara, Vacaspati Misra, Mazdab Nyaya, Kumarila Bhatta, Mazdab Mimamza Dharmakirti, seorang Buddhis Udayana, Bhagavata, dan lain-lain.[12]

C. Logika Formal dan Logika Material

Setelah pengetahuan logika makin ramai dibicarakan orang maka logika artificialis dibedakan orang menjadi dua macam, yaitu logika formal dan logika material.[13]

Logika formal mempelajari asas-asas, aturan-aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus ditaati, agar orang dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Logika material mempelajari langsung pekerjaan akal, serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan-kenyataan praktis yang sesungguhnya. Apakah hasil-hasil logika formal itu sungguh sesuai dengan isi (materi) kenyataan yang sebenarnya.[14]

Logika material mempelajari sumber-sumber dan asal-usul pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, dan akhirnya merumuskan metode ilmu pengetahuan. Logika material inilah yang menjadi sumber yakni yang menimbulkan filsafat mengenal (kennisleer) dan filsafat ilmu pengetahuan (wetenschapsleer).[15]

Logika formal dinamakan orang juga logika minor, sedang logika material dinamakan sebagai logika mayor. Dan apa yang disebut dengan logika formal sekarang ini ialah ilmu yang mengandung kumpulan kaidah-kaidah cara berfikir untuk mencapai kebenaran.[16]

D. Positivistic Logic

Positivisme Logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.

Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.

Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.

Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lain teori tentang “makna yang dapat dibuktikan”, yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam bidang metafisika.

Para pengkritik Positivisme Logis berpendapat bahwa landasan dasar yang digunakan oleh Positivisme Logis sendiri tidak dinyatakan dalam bentuk yang konsisten. Misalnya, prinsip tentang teori tentang “makna yang dapat dibuktikan” seperti yang dinyatakan di atas itu sendiri tidak dapat dibuktikan secara empiris. Masalah lain yang muncul adalah dalam hal pembuktian teori. Masalah yang dinyatakan dalam bentuk eksistensi positif (misalnya: ada burung berwarna hitam) atau dalam bentuk universal negatif (misalnya: tidak semua burung berwarna hitam) mungkin akan mudah dibuktikan kebenarannya, namun masalah yang dinyatakan sebaliknya, yaitu dalam bentuk eksistensi negatif (misalnya: tidak ada burung yang berwarna hitam) atau universal positif (misalnya: semua burung berwarna hitam) akan sulit atau bahkan tidak mungkin dibuktikan.

Karl Popper, salah satu kritikus Positivisme Logis yang terkenal, menulis buku berjudul Logik der Forschung (Logika Penemuan Ilmiah) pada tahun 1934. Di buku ini dia menyajikan alternatif dari teori syarat pembuktian makna, yaitu dengan membuat pernyataan ilmiah dalam bentuk yang dapat dipersangkalkan (falsifiability). Pertama, topik yang dibahas Popper bukanlah tentang membedakan antara pernyataan yang bermakna dan yang tidak, namun untuk membedakan antara pernyataan yang ilmiah dari pernyataan yang bersifat metafisik. Menurutnya, pernyataan metafisik tidaklah harus tidak bermakna apa-apa, dan sebuah pernyataan yang bersifat metafisik pada satu masa, karena pada saat tersebut belum ditemukan metode penyangkalannya, belum tentu akan selamanya bersifat metafisik. Sebagai contoh, psikoanalisis pada jaman itu tidak memiliki metode penyangkalannya, sehingga tidak dapat digolongkan sebagai ilmiah, namun jika suatu saat nanti berkembang menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penyangkalan, maka akan dapat digolongkan sebagai ilmiah.[17]

E. Mathematical Logic

Logika matematika adalah cabang ilmu pengetahuan logika dan matematika. Logika matematika mempelajari tentang matematis ilmu logika dan aplikasinya ke dalam ruang lingkup matematika. Logika matematika juga memiliki kaitan erat dengan ilmu komputer dan logika filsafat. Lebih dari itu, logika matematika kadang dianggap sebagai ilmu yang bisa memetakan logika manusia.

Logika matematika sebenarnya mengacu kepada dua ruang lingkup penelitian yang berbeda. Yang pertama adalah aplikasi teknik-teknik logika formal ke dalam matematika dan penalaran matematika. Sedangkan yang kedua, sebaliknya, adalah aplikasi dari teknik-teknik matematika ke dalam representasi dan analisis logika formal. Bisa dikatakan bahwa logika matematika menyatukan kekuatan ekspresi dari logika formal dan kekuatan deduksi dari sistem pembuktian formal (formal proof system). Penggunaan matematika dalam hubungannya dengan logika dan filsafat dimulai pada zaman Yunani kuno.

Beberapa hasil teori logika yang telah berhasil dan terkenal di kalangan para matematikawan barat di antaranya adalah Teori silogisme dari Aristoteles dan aksioma Euclid untuk geometri planar. Sekitar tahun 1700, percobaan-percobaan untuk melakukan operasi-operasi logika formal dengan memakai simbol-simbol dan aljabar juga dilakukan oleh banyak matematikawan lain, termasuk Leibniz dan Lambert. Akan tetapi, informasi mengenai hasil pekerjaan mereka sangat sedikit dan jarang sekali ditemukan, yang karena itu tidak terlalu diketahui oleh publik.[18]

F. Postmodern Logic

Istilah postmodern, pertama kali dilontarkan oleh Arnold Toynbee pada tahun 1939. Kendati sampai saat ini belum ada kesepakatan dalam pendefinisiannya, tetapi istilah tersebut berhasil menarik perhatian banyak orang di Barat. Pada tahun 1960, untuk pertama kalinya istilah itu berhasil diekspor ke benua Eropa sehingga banyak pemikir Eropa mulai tertarik pada pemikiran tersebut. J Francois Lyotard, salah satu contoh pribadi yang telah terpikat dengan konsep tersebut. Ia berhasil menggarap karyanya yang berjudul The Post-Modern Condition sebagai kritikan atas karya The Grand Narrative yang dianggap sebagai dongeng khayalan hasil karya masa Modernitas.

Ketidakjelasan definisi sebagai mana yang telah disinggung menjadi penyebab munculnya kekacauan dalam memahami konsep tersebut. Tentu, kesalahan berkonsep akan berdampak besar dalam menentukan kebenaran berfikir dan menjadi ambigu. Sedang kekacauan akibat konsep berfikir yang tidak jelas akan membingungkan pelaku dalam pengaplikasian konsep tersebut.

Banyak versi dalam mengartikan istilah postmodernisme ini. Foster menjelaskan, sebagian orang seperti Lyotard beranggapan, postmodernisme adalah lawan dari modernisme yang dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern. Sedang sebagian lagi seperti Jameson beranggapan, postmodernisme adalah pengembangan dari modernitas seperti yang diungkap Bryan S. Turner dalam Theories of Modernity and Post-Modernity-nya. Dapat dilihat, betapa jauh perbedaan pendapat antara dua kelompok tadi tentang memahami Post-modernis. Satu mengatakan, konsep modernisme sangat berseberangan dengan postmodernisme bahkan terjadi paradok, sedang yang lain menganggap bahwa postmodernisme adalah bentuk sempurna dari modernisme, yang mana tidak mungkin kita dapat masuk jenjang postmodernisme tanpa melalui tahapan modernitas. Dari pendapat terakhir inilah akhirnya postmodernisme dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain: Post-Modernis Ressistace, Post-Modernism Reaction, Opposition Post-Modernisme dan Affirmative Post-Modernism. Akibat dari perdebatan antara dua pendapat di atas, muncullah pendapat ketiga yang ingin menengahi antara dua pendapat yang kontradiktif tadi.

Zygmunt Bauman dalam karyanya yang berjudul Post-Modern Ethics berpendapat, kata “post” dalam istilah tadi bukan berartikan “setelah” (masa berikutnya) sehingga muncullah kesimpulan-kesimpulan seperti di atas tadi. Menurut Bauman, postmodernisme adalah usaha keras sebagai reaksi dari kesia-siaan zaman modernis yang sirna begitu saja bagai ditiup angin. Adapun penyebab dari kesia-siaan zaman modernis adalah akibat dari tekanan yang bersumber dari prasangka (insting, wahm) belaka. Asas pemikiran postmdernisme sebagaimana berbagai isme dan aliran pemikiran lain di Barat, selalu bertumpu dan berakhir pada empat pola pemikiran; epistemologi materialisme, humanisme, liberalisme dan sekularisme. Tidak terkecuali dengan postmodernisme.[19]

G. Pragmatic Logic

Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani “pragma” yang berarti perbuatan atau tindakan. “isme” di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya yaitu aliran, ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme adalah ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori adalah benar if it works (apabila teori dapat diaplikasikan).

Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

H. Transendental Logic

Emanuel Kant menemukan Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki bentuk-bentuk pemikiran yang mengatasi batas pengalaman.[20]

III. KESIMPULAN

Dari uraian pembahasan di atas, penulis memberikan kesimpulan bahwa dalam menghasilkan kesimpulan dari hasil pemikiran diperlukan metode, strategi dan pendekatan-pendakatan yang terkonstruk agar inferensinya lebih baik.

Berfikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Manakala kita berfikir seksama dan sistematis berbagai penalaran, segera akan dapat kita ketahui bahwa banyak penalaran tidak menyambung tidak menyekrup. Kegiatan berfikir-fikir benar-benar dituntut kesanggupan pengamatan yang kuat dan cermat; dituntut untuk melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan, kesalahan-kesalahan yang terselubung; waspada terhadap pembenaran diri (rasionalisasi) yang dicari-cari, terhadap segalanya yang tidak berkaitan (tidak relevan), terhadap prasangka-prasangka, terhadap pembuatan oleh rasa perasaan pribadi atau kelompok / golongan.

Jadi jelasnya berfilsafat tidak hanya sekedar berfikir mendalam namun ada aturan-aturan atau prosedur yang harus dijadikan sebagai syarat agar dapat dikatakan berfilsafat.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, et al.. Kamus Besar Bahasa Indonesia Ed. III; Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 2005 M.

Bakry, Hasbullah. Sistematik Filsafat. Cet. IX; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1992 M.

Muin, M. Taib Thahir Abd. Ilmu Manthiq (Logika). Cet. IV; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1993 M.

Poespoprodjo, W.. Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu. Cet. I; Bandung: Pustaka Grafika, 1999 M.

WP, Santika. Logika Digital. Bandung: Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, 2007 M.

Faby, Larsa Pranenza Rahila http://www.informatika.org/~rinaldi/Matdis/2007-2008/Makalah/MakalahIF2153-0708-001.pdf

Luthfi, Muchtar. http://jurnalislam.net/id

http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme_Logis


[1]Dr. Mohd Shabry AR., dalam seminar mata kuliah Filsafat Ilmu pada hari Rabu, 05 Oktober 2008 yang lalu menjelaskan bahwa sebenarnya arti asal kata logos adalah Tuhan pencipta word.

[2]Santika WP, Logika Digital, (Bandung: Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, 2007 M.), h. 2.

[3]Hasan Alwi, et al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Ed. III; Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 2005 M.),  h. 680.

[4]Ibid., h. 432

[5]M. Taib Thahir Abd. Muin, Ilmu Manthiq (Logika), (Cet. IV; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1993 M.), h. 16-17.

[6]W. Poespoprodjo, Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu, (Cet. I; Bandung: Pustaka Grafika, 1999 M.), h. 41.

[7]Ibid., h. 42-43.

[8]Menurut buku Richard B. Angel yang berjudul “Reasoning and Logic”, Aristoteles sendiri meninggalkan enam buah buku khusus yang membicarakan ilmu logika ini yang oleh murid-muridnya diberi nama “Organon”. Keenam buku tersebut adalah Categoriae (mengenai pengertian-pengertian), De Interpretatiae (Mengenai keputusan-keputusan) Analitica Priora (mengenai silogisme) Analitica Posteriora (Mengenai pembuktian) Topika (mengenai berdebat) dan De Sophisticis Elenchis (mengenai kesalahan-kesalahan berfikir). http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

[9]Di dunia Islam, ilmu logika ini tidak diterima begitu saja dengan mulus, tapi direspon dengan berbagai macam pendapat oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka. Al-H{a>fiz} Ibnu S{ala>h} dan Ima>m Nawawi misalnya, mereka sangat menentang penggunaan ilmu logika. Penentangan mereka itu bukan hanya sebatas menentang tidak setuju atau tidak sepakat tapi jauh lebih keras dari itu. Penentangan mereka sampai kepada mengharamkan ilmu logika untuk digunakan di dalam dunia Islam. Namun demikian, sebagian besar dari mereka (Jumhu>r Ulama) membolehkan mempelajari ilmu logika dengan syarat orang-orang yang akan mempelajarinya sudah kokoh iman dan cukup akalnya. Selain penolakan yang tegas serupa di atas, di antara mereka ada juga yang malah menganjurkannya, seperti Al-Gaza>liy, Al-Fara>biy, Al-Kindiy dan lain-lain. Al-Kindiy bukan hanya menganjurkan tapi malah mempelajari dan sekaligus menyelidiki logika yunani secara khusus, bahkan Al-Fara>biy melakukannya lebih mendalam lagi dari apa yang sudah dilakukan oleh Al-Kindiy. http://www.parapemikir.com/articles/6472/1/Logika/Page1.html

[10]W. Poespoprodjo, op. cit., h. 43.

[11]Ibid., h. 44.

[12]Ibid., h. 56.

[13]Hasbullah Bakry, Sistematik Filsafat, (Cet. IX; Jakarta: Penerbit Wijaya, 1992 M.), h. 20-21.

[14]Ibid.

[15]Ibid.

[16]Ibid.

[17]http://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme_Logis

[18]Larsa Pranenza Rahila Faby, http://www.informatika.org/~rinaldi/Matdis/2007-2008/Makalah/MakalahIF2153-0708-001.pdf

[19]Muchtar Luthfi, Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran. Lihat, http://jurnalislam.net/id

[20]http://www.ebonk.org/blog/archives/2005/06/27/logika/


ISLAM SEBAGAI ADIKUASA; FAKTOR-FAKTOR PENYOKONG

ISLAM SEBAGAI ADIKUASA; FAKTOR-FAKTOR PENYOKONG

Oleh : Syekhuddin

BAB I

PENDAHULUAN

I.  Latar Belakang

Ilmu merupakan salah satu dari sekian pengetahuan, dan kadang-kadang disebut juga dengan nama pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) karena metode untuk memperolehnya dilakukan melalui metode ilmiah.

Perkembangan ilmu telah mengalami dekade yang ditandai oleh ketidak pastian. Penemuan-penemuan yang telah terjadi bukan saja menghasilkan kepuasan dan keasyikan, melainkan membawa juga konsekwensi dasyat dalam kehidupan manusia. Penemuan yang dihasilkan bertumpu pada kreativitas manusia, suatu kemampuan yang unik bagi makhluk manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Untuk mengetahui apa sesungguhnya ilmu itu harus melalui filsafat ilmu. Dengan demikian setiap ilmuan merasa sangat penting untuk mendalami filsafat ilmu untuk mengenal hakekat ilmu yang dimilikinya.

Ketika Immanuel Kant menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat, maka semenjak itu refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian. Lahirlah cabang filsafat yang disebut sebagai Filsafat Pengetahuan. Melalui cabang filsafat ini diterangkan sumber dan sarana serta tata-cara untuk menggunakan sarana-sarana itu guna mencapai pengetahuan ilmiah.

Karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan a higher level of know ledge maka lahirlah Filsafat Ilmu sebagai penerusan pengembangan Filsafat Pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: ilmu (pengetahuan).

Ajaran Islam melalui Al-Qur’an telah memberikan landasan untuk membentuk konsep Filsafat Ilmu. Sehingga ketika Filsafat Ilmu yang berlandaskan ajaran Islam (Al-Qur’an) berhasil diwujudkan, tidaklah salah jika diberi predikat islami atau Qur’ani sehingga menjadi Filsafat Islami atau Filsafat Qur’ani.

Adapun Filsafat Ilmu tanpa melandaskan diri pada konsep Agama atau bahkan dipisahkan dari dimensi keimanan menurut ajaran Islam, dalam bahasa lain Filsafat Ilmu ini disebut Filsafat Ilmu sekuler yang berpijak pada pandangan sekularisme.

B. Rumusan Masalah

Setelah penulis mengemukakan beberapa persolan latar belakang diatas maka dapat kami tulis beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu :

  1. Pengertian Filsafat Ilmu
  2. Objek Telaah Filsafat Ilmu

BAB II

PEMBAHASAN

1.  Pengertian Filsafat Ilmu

Sebelum penulis mengemukakan Filsafat Ilmu terlebih dahulu dikemukakan pengertian Filsafat. Adapun pengertian Filsafat sebagai berikut:

Istilah “Filsafat” dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Philoshophy (Inggris), Philoshophia (Latin), Philoshophie (Jerman, Belanda, Prancis). Semua istilah itu bersumber dari Yunani Philoshophia. Istilah Yunani Philein berarti “mencintai”, sedang philos berarti “Teman”. Selanjutnya istilah sophos berarti “bijaksana”, sedangkan sophia berarti “kebijaksanaan”.[1]

Adapun pengertian Filsafat menurut para Filosof antara lain : Konsep Rene Descartes.

Menurut Rene Descartes, filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.[2]

Konsep Francis Bacon

Menurut Francis Bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat mengenai semua pengetahuan sebagai bidangnya.[3]

Adapun pengertian filsafat ilmu terdapat berbagai pendapat sehingga sulit untuk memberikan suatu batasan yang positif. Misalnya perbedaan pendapat antara Ernest Nagel dengan Stephen Toulmin tentang apakah filsafat ilmu merupakan suatu studi scientific achievement in vivo atau studi tentang masalah-masalah mengenai penjelasan (problems of explanaton).

Ada beberapa titik pandang (view points) untuk menetapkan dasar pemahaman terhadap filsafat ilmu sebagai berikut :

Pertama menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah perumusan world-views yang konsisten dengan, dan pada beberapa pengertian didasarkan atas, teori-teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan ini, merupakan tugas dari filusuf ilmu (philosopher of science) untuk mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu.

Pandangan kedua menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah suatu eksposisi dari presuppositions dan predispositions dari para ilmuan. Filusuf ilmu mungkin mengemukakan bahwa para ilmuan menduga (presuppose) alam tidak berubah-ubah, dan terdapat suatu keteraturan di alam sehingga gejala-gejala alam yang tidak begitu kompleks cukup didapat oleh  peneliti. Sebagai tambahan, peneliti mungkin tidak menutup keinginan-keinginan deterministik para ilmuan lebih daripada hukum-hukum statistik, atau pandangan mekanistik lebih daripada penjelasan teologis. Pandangan ini cenderung mengasimilasikan filsafat ilmu dengan sosiologi.

Pandangan ketiga mengemukakan bahwa filsafat ilmu itu adalah suatu disiplin yang di dalamnya konsep-konsep dan teori-teori tentang ilmu dianalisis dan diklasifikasikan. Hal ini berarti memberikan kejelasan tentang makna dari berbagai konsep seperti partikel, gelombang, potensial dan komplek di dalam pemanfaatan ilmiahnya. Akan tetapi, Gilbert Ryle telah menunjukkan terdapat sesuatu yang pretensius (pretentious) tentang pandangan ini mengenai filsafat ilmu sehingga para ilmuan memerlukan filsafat ilmu untuk menjelaskan kepada mereka makna dari konsep-konsep ilmiah.

Filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi, dan dalam hal ini kadang-kadang filsafat ilmu ditumbuhkan pengertiannya dengan metodologi. Jadi filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelidikan lainjutan. Akan tetapi, yang perlu untuk dipahami adalah bahwa filsafat ilmu itu pada dasarnya science of science.[4]

B. Objek Telaah Filsafat Ilmu

Ilmu pengetahuan selalu memperbarui diri seiring dengan perkembangan zaman, dan itu berlangsung menurut hukum kemajuan.[5] Sampai saat ini, ilmu dianggap masih dalam keadaan antara kurang dan lengkap, antara keliru dan benar, antara terpencar dan padu dan lain sebagainya. Sehingga tidaklah aneh dalam kaedah ilmu pengetahuan bila ia mengalami goyah setelah pasti atau roboh setelah diyakini.

Pada mulanya ilmu bersifat perkiraan kemudian meningkat menjadi menyakinkan. Para peneliti masih terus melakukan eksperimen-eksperimennya terhadap pelbagai kaidah ilmu pengetahuan, yang selama berabad-abad dianggap sebagai kebenaran yang tak perlu dipersoalkan lagi.[6] Para peneliti akan memulai usaha penelitian baru untuk menemukan kaedah-kaedah ilmu yang baru yang diharapkan akan menjadi hukum-hukum atau teori-teori yang akan berlaku di zaman yang akan datang.[7]

Pada masa yang lalu ilmu pengetahuan identik dengan filsafat, sehingga pembatasannya bergantung pada sistem filsafat yang dianutnya. Perkembangan filsafat dapat mengantarkan suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan itu tumbuh dengan subur serta bercabang dengan mekar. Selanjutnya masing-masing cabang melepaskan diri dari batas filsafatnya dan berkembang mandiri yang masing-masing mengikuti metodologinya sendiri.

Setelah dilakukan gerakan demitologisasi yang di pelopori para filusuf pra-socrates, filsafat dengan kemampuan rasionalitasnya setapak demi setapak telah mencapai puncak perkembangannya sebagaimana ditunjukkan melalui Socrates, Plato dan Aristoteles. Semenjak itu filsafat yang semula bercorak metologik berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai macam bidang. Hal tersebut terbukti dengan pernyataan Aristoteles bahwa filsafat sebagai semua kegiatan yang dapat dipertanggung jawabkan secara akaliah, dan membaginya menjadi ilmu pengetahuan Poietis (terapan), ilmu pengetahuan praktis (dalam arti normatif seperti etika, politik) dan ilmu pengetahuan teoritik. Ilmu pengetahuan inilah yang dianggap sebagai yang terpenting dan membaginya menjadi ilmu alam, ilmu pasti dan filsafat pertama yang selanjutnyanya dikenal sebagai metafisika.

Setelah refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian maka lahirlah cabang filsafat yang disebut sebagai filsafat pengetahuan, dimana komponen-komponen pendukungnya yakni logika, filsafat bahasa, matematika, dan metodologi. Dari cabang filsafat ini dijelaskan sumber dan sarana serta tata cara untuk menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Dalam konteks pengetahuan ilmiah ini, maka lahirlah cabang filsafat yang disebut filsafat ilmu sebagai penerusan atau pengembangan filsafat pengetahuan.

Objek Telaah filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu: pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua menelaah “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”.[8] Pokok bahasan yang pertama erat hubungannya dengan filsafat pengetahuan (epistemologi), yang secara umum menyelidiki syarat-syarat dan bentuk-bentuk pengetahuan manusia. Pada pokok bahasan kedua, terkait dengan cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah, filsafat ilmu berhubungan erat dengan logika serta metodologi, dan kadang-kadang pengertian filsafat ilmu ditumbuhkan dengan metodologi.

Filsafat ilmu dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1.  Filsafat ilmu umum, yang mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan antara ilmu dengan kenyataan, kesatuan, perjenjangan, susunan kenyataan, dan sebagainya.

2. Filsafat ilmu khusus, yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu, seperti dalam kelompok ilmu alam, kelompok ilmu masyarakat, kelompok ilmu tehnik dan sebagainya[9].

Filsafat ilmu dapat pula dikelompokkan berdasarkan model pendekatan, yaitu :

1.  Filsafat ilmu terapan, yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pikiran kefilsafatan yang melatarbelakangi pengetahuan normatif dunia ilmu. Pada kajian ini dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat. Jadi filsafat ilmu terapan tidak bertitik tolak dari dunia filsafat melainkan dari dunia ilmu. Dengan kata lain filsafat ilmu terapan merupakan deskripsi pengetahuan normatif. Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup :

a. Pengetahuan yang berupa pola pikir hakekat keilmuan.

b. Pengetahuan mengenai model praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir.

c. Pengetahuan mengenai berbagai sarana ilmiah.

d. Serangkaian nilai yang bersifat etis yang terkait dengan pola pikir dengan model praktek yang khusus, misalnya: etika profesi.

2. Filsafat ilmu murni, yaitu bentuk kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap materi kefilsafatan, membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatif yang baru. Bila filsafat ilmu terapan berangkat dari kajian filosof terhadap asumsi-asumsi dasar yang ada dalam ilmu, misalnya terkait dengan anggapan dasar tentang “realitas” dalam ilmu-ilmu khusus dan konsekuensinya pada pemahaman terhadap “realitas” secara keseluruhan.

Adapun mengenai bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Paling sedikit ada tiga aspek dari suatu filsafat ilmu: ontologis, epistemologis, dan akiologis.[10]

Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu. paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhirnya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang ada sebagaimana menifestasi kebenaran yang kita cari.

Berlainan dengan agama, atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berdasarkan obyek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, dimana obyek-obyek yang berbeda di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi kepada empiris.

Epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya.[11]

Epistemologi berusaha untuk memaparkan dan menjawab problem-problem yang muncul dalam area tertentu, misalnya: positivisme logis. Semua epistemologi meletakkan beberapa oposisi sebagai penyusun teori pengetahuan, tujuannya yaitu meletakkan yang memungkinkan bagi suatu pengetahuan.

Axiologi ilmu meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik-material.

Filsafat ilmu dalam perkembangannya juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap bukan saja kemanfaatan, tetapi juga arti maknanya terhadap kehidupan umat manusia.

Salah satu pertanyaan Einstein; mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?. Kalau kita mengkaji pertanyaan ini, maka masalahnya terletak dalam hakekat ilmu itu sendiri. Seperti dicanangkan oleh Francis Bacon berabad abad yang silam: Pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkah atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada orang yang menggunakan kekuasaan tersebut. Ilmu itu sendiri bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap.[12]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dari itu kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

–      Yang dimaksud filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelidikan lanjutan.

–      Objek Telaah filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu: pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua menelaah “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”.

Pengertian dan objek telaah filsafat yang ada di atas memberikan kita wawasan yang cukup luas sehingga membuat kita akan selalu berpikir untuk melanjutkan para filosof-filosof yang telah lalu.

DAFTAR PUSTAKA

Beerling dkk, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islam World, vol. 3 (New York: Oxford University Press, 1995), h. 328

Suriasumantri, S. Jujun, Ilmu dalam Perspektif. Cet. XIII, (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia 1997).

Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, Cet. V (Bandung: Mizan 1993).

Al-Aqqad, Mahmud, Abbas, Filsafat Al-Qur’an. Cet. II, (Jakarta: Pustaka Firdaus Tahun 1996).

Musa, Yusuf, Al-Qur’an dan Filsafat, Cet. I, (Jakarta: Bulan Bintang 1998).

I Setiawan, I Made Putrawan, Conny R, Semiawan, Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Cet. IV. (Bandung: Remaja Rosda Karya Tahun 1999).

Asmoro, Achmadi, Filsafat Umum, Cet. II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada tahun 1997).

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Cet. I (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta 2001)


[1]Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Cet.,I, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2001), h. 18.

[2]Acmadi Asmoro, Filsafat Umum, (Cet. II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 3.

[3]Ibid.

[4]Semiawan R. Conny, Putrawan Made, I dan Setiawan, I, TH., Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, (Cet. IV, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1999), h. 55.

[5]Abbas Mahmud Al-Aqqad, Filsafat Qur’an, (Cet. II, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1996), h. 11.

[6]Ibid.

[7]Yusuf Musa, Al-Qur’an dan Filsafat, (Cet. I, Jakarta : Bulan Bintang, 1988), h. 66.

[8] Yusuf Musa, Ibid, h.78

[9] Beerling dkk, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islam World, vol. 3 (New York: Oxford University Press, 1995), h. 328

[10]Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, (Cet. V, Bandung : Mizan, 1993), h. 32.

[11]Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Cet. XIII, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia 1997), h. 9.

[12]Jujun S. Suriasumantri, Ibid. h. 35.


FILSAFAT SEMIOTIKA

FILSAFAT SEMIOTIKA

Oleh : Syekhuddin

BAB I   PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa memiliki urgensi yang tinggi pada saat sekarang ini, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai aliran filsafat, seperti fenomologi, eksistensialisme, analitika, neopositivisme, hermeneutika, dan semiotika. Orang menyebut filsafat abad ke-20 hingga saat ini adalah filsafat bahasa (Logosentrisme). Banyak diantara para filosof yang memandang “Bahasa” sebagai objek pemikiran mereka sehingga bahasa telah menjadi tema sentral filsafat Eropa dan amerika.

Sebagai disiplin ilmu, pendekatan, metodologi, atau bidang kajian-kajian, semiotika nampaknya kini mulai banyak didekati, tidak saja oleh para akademisi, tetapi juga oleh para mahasiswa, khususnya pada program studi komunikasi. Semiotika telah menjadi bidang kajian yang sangat penting dalam disiplin komunikasi, karena semiotika merupakan bagian dari bahasa. Secara umum semiotika telah dimulai sejak filosof Yunani kuno, seperti Plato dan Aristoteles, dan juga pada ahli-ahli skolastik abad pertengahan. Semiotika merupakan cabang ilmu yang berkaitan dengan system tanda dan yang berlaku bagi penggunaan tanda.[1]

B. Rumusan Dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas. Penulis akan mengulas secara ringkas FILSAFAT SEMIOTIKA dengan membatasi beberapa hal, yaitu:

  1. Pengertian Semiotika
  2. Pokok dan Tokoh Semiotika
  3. Aplikasi Semiotika Komunikasi
  4. Berkomunikasi Dengan Simbol-Simbol
  5. Dasar-Dasar Semiotika Islam

BAB II  PEMBAHASAN SEMIOTIKA DAN SEMIOLOGI

Kata Semiotika berasal dari bahasa Yunani, semeion, yang berarti “tanda” atau seme, yang berarti “penafsir tanda”. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan poetika. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai adanya api.

Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri[2]

Kata semiotika dan semiologi adalah istilah yang ada dalam sejarah linguistic, selain kedua istilah ini ada pula digunakan istilah lain seperti semasiologi, sememik, dan semik untuk merujuk kepada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang.[3]

Sesungguhnya kedua istilah ini,  semiotika dan semiologi, mengandung pengertian yang persis sama, walaupun penggunaan salah satu dari kedua istilah tersebut biasanya menunjukkan pemikiran pemakainya: mereka yang bergabung dengan Pierce atau mengacu pada tradisi Amerika menggunakan kata   semiotika, dan mereka yang bergabung Saussure atau mengacu pada tradisi Eropa menggunakan kata semiologi. Namun yang terakhir, jika dibandingkan dengan yang pertama, kian jarang dipakai, ada kecendrungan istilah semiotika lebih populer dari istilah semiologi sehingga para penganut Saussure pun sering menggunakannya.[4]

Baik semiotika maupun semiologi, keduanya kurang lebih dapat saling menggantikan karena sama-sama digunakan untuk mengacu kepada ilmu tentang tanda.

Pada dasarnya, semiosis dapat dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat diberikan dalam istilah semiotika sebagai suatu hubungan antara lima istilah:

S ( s, i, e, r, c )

S adalah untuk  semiotic relation (hubungan semiotic), s untuk sign ( tanda); I untuk interpreter (penafsir); e untuk effect atau pengaruh, r untuk reference (rujukan); dan c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi)

Begitulah, semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda; secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.[5]

Secara singkat dapat dikatakan bahwa studi semiotika disusun dalam tiga poros. Poros horizontal menyajikan tiga jenis penyelidikan semiotika (murni, deskriptif, dan terapan); poros vertical menyajikan tiga tataran hubungan semiotic (sintaktik, semantic, dan pragmatic); dan poros yang menyajikan tiga kategori sarana informasi (signals, signs, dan symbols).[6]

BAB III  POKOK DAN TOKOH SEMIOTIKA

PRAGMATISME CHARLES SANDERS PIERCE

Ia adalah salah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensional, seorang pemikir yang argumentative. Namun ironisnya, di tengah-tengah kehidupan masyarakat, teman-temannya membiarkan dia hidup dalam kesusahan sampai meninggalnya, tahun 1914. Ia diperbolehkan menjadi lector di suatu Universitas hanya lima tahun. Setelah itu Pierce diberhentikan. Barangkali karena Pierce, seperti dituturkan Cobley dan Jansz, tidak dapat menjadi contoh dari gaya hidup akademik yang santun, lingkungan tempat dia secara bertahap mengonstruksi ‘Semiotika”-nya. “Sifat pemarah dan sulit diatur itu diduga karena penyakit sarafnya yang sering kambuh dan kerusakan kulir di sekitar wajah yang agak parah,”[7]

Pierce lahir dalam keluarga intelektual pada tahun 1839 (ayahnya, Benjamin adalah seorang professor matematika di Harvard). Padsa tahun 1859, 1862, dan 1863 secara berturut-turut ia menerima gelar B.A., M.A., dan B.Sc. dari Universitas Harvard. Selama lebih dari tiga puluh tahun (1859-1860, 1861-1891) Pierce banyak melaksanakan tugas astronomi dan geodesi untuk Survei Pantai Amerika Serikat. Dari tahun 1879-1884, ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidang logika di Universitas Johns Hopkins.

Pierce terkenal karena teori tandanya. Di dalam lingkup semiotika, seringkali mengulang-ulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. Berdasarkan objeknya, Pierce membagi tanda atas icon, index, dan symbol. Dan dia juga membaginya menjadi sepuluh jenis: Qualisign, Iconic Sinsign, Rhematic Indexical Sinsign, Dicent Sinsign, Iconic Legisign, Rhematic Indexical Legisign, Dicent Indexical Legisign, Rhematic Symbol, Dicent Simbol, dan Argument.[8]

TEORI TANDA FERDINAND DE SAUSSURE

Dilahirkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. Ia hidup sezaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkheim. Selain sebagai seorang ahli linguistic, ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa Indo-Eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu social dan kemanusiaan.[9]

Ia sebetulnya tidak pernah mencetak pemikirannya menjadi buku. Catatan-catatannya dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi sebuah outline.

Bahasa di mata Saussure tak ubahnya sebuah karya musik. Untuk memahami sebuah simponi, kita harus memperhatikan keutuhan karya musik secara keseluruhan dan bukan kepada permainan individual dari setiap pemain musik. Untuk memahami bahasa, kita harus melihatnya secara “sinkronis”, sebagai sebuah jaringan hubungan antara bunyi dan makna. Kita tidak boleh melihatnya secara atomistic, secara individual.[10]

Sedikitnya, ada lima pandangan dari Saussure yang di kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yaitu pandangan tentang (1) signifier (penanda) dan signified (petanda); (2) form (bentuk) dan content (isi); (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan, ujaran); (4) synchronic (sikronik) dan diachronic (diakronik); serta (5) syntagmatik (sintagmatik) associative (paradigmatic)

LINGUISTIK STRUKTURAL ROMAN JAKOBSON

Beliau adalah murid ahli fonologi Rusia Nikolai Trouberzkoy. Dilahirkan di Moskow pada tahun 1896. Ia dianggap sebagai salah seorang ahli linguistic abad ke-20 yang menonjol, yang pertama kali meneliti secara serius baik pembelajaran bahasa maupun bagaimana fungsi bahasa bisa hilang pada afasia. Pemikiran awalnya yang penting adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metaphor retoris (kesamaan), dan metonimia (kesinambungan), Ia pelopor utama upaya pendekatan strukturalis pada bahasa, khususnya karena ia sangat menekankan bahwa pola suara bahasa pada hakikatnya bersifat relasional. Hubungan antara suara dalam konteks tertentu menghasilkan makna dan signifikansi. Ia adalah seorang dari teoretikus yang pertama-tama berusaha menjelaskan proses komunikasi  teks sastra.

Analisis  Jakobson atas bahasa mengambil ide dari Saussure yang menyatakan bahwa bahasa atau struktur bahasa bersifat diferensial. Jakobson memandang bahwa bahasa memiliki enam macam fungsi, yaitu: (1) fungsi referensial, pengacu pesan; (2) fungsi emotif, pengungkap keadaan pembicara; (3) fungsi konatif, pengungkap keinginan pembicara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak; (4) fungsi metalingual, penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan; (5) fungsi fatis, pembuka, pembentuk, pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak; dan (6) fungsi fuitis, penyandi pesan. Dan ia yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantic, unit-unit yang bermakna, dan dilakukan dengan mengetahui cirri-ciri pembeda dari suatu suara yang memisahkannya dengan cirri-ciri suara yang lain.[11]

METASEMIOTIKA LOUIS HJELMSLEV

Lahir di Denmark pada tahun 1889, dan meninggal pada1966. Dikenal sebagai salah satu tokoh linguistic yang berperan dalam pengembangan semiologi pasca Saussure. Ia mengembangkan sistem dwipihak yang merupakan ciri sistem Saussure, dan membagi tanda ke dalam expression dan content, dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure.[12]

Sumbangan Hjelmslev terhadap semiologi Saussure adalah dalam menegaskan perlunya sebuah “sains yang mempelajari bagaimana tanda hidup dan berfungsi dalam masyarakat”

Dalam pandangan Hjelmslev, sebuah tanda tidak hanya mengandung sebuah hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya.

Hjelmslev mengatakan bahwa “sebuah semiotika denotative adalah sebuah semiotika dimana bidangnya bukanlah semiotic”, sedangkan semiotika konotatif adalah ” sebuah semiotika di mana bidangnya bersifat semiotik’. Meskipun begitu, sebenarnya tidak hanya demikian yang berlangsung. Bidang kandungan bisa menjadi semiotika, dan menurut Hjelmslev ini disebut sebagai suatu “metasemiotika”. Menurut Hjelmslev, linguistic adalah sebuah contoh metasemiotika: telaah tentang bahasa yang juga adalah bahasa itu sendiri.[13]

SEMIOLOGI DAN MITOLOGI ROLAND BARTHESP.

Barthes lahir tahun 1915 dari keluarga kelas menengah Protestan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis. Ayahnya, seorang perwira angkatan laut, meninggal dalam sebuah pertempuran di laut utara sebelun usia Barthes genap mencapai satu tahun. Sepeninggal ayahnya, ia kemudian diasuh oleh ibu, kakek, dan neneknya.

Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktekkan model linguistic dan semiologi Saussurean. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama; eksponen penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra. Ia berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.[14]

Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca ( the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tartan kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya.[15]

BAB IV  APLIKASI SEMIOTIKA KOMUNIKASI

MEDIA

Pada dasarnya, studi media massa mencakup pencarianan pesan dan makna-makna dalam materinya, karena sesungguhnya semiotika komunikasi, seperti halnya basis studi komunikasi, adalah proses komunikasi, dan intinya adalah makna. Dengan kata lain mempelajari media adalah mempalajari makna dari mana asalnya, seperti apa, seberapa jauh tujuannya, bagaimanakah ia memasuki materi media, dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita sendiri.[16]

Teknik-teknik analisis yang diterapkan, secara garis besar, terdiri atas teknik-teknik kuantitatif dan kualitatif. Teknik analisis kuantitatif adalah yang paling dapat mengatasi kekurangan dalam objektivitas, namun hasilnya kurang mantap. Titik tolaknya ialah bahwa ciri-ciri yang dapat diukur dinyatakan sebagai tanda. Dalam surat kabar, perhatian terhadap masalah dinyatakan dalam jumlah kolom, besarnya judul, jumlah ilustrasi dan letak. Pada analisis kualitatif, tanda-tanda yang diteliti tidak atau hampir tidak dapat diukur secara matematis.[17]

Dalam studi media terdapat tiga pendekatan untuk menjelaskan media. Pertama, pendekatan politik-ekonomi (the political-economy approach); kedua pendekatan organisasi (organizational approach); dan ketiga, pendekatan kulturalis (culturalist approach)111

Pendekatan politik-ekonomi berpendapat bahwa isi media lebih ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik di luar pengelolaan media. Factor seperti pemilik media, modal, dan pendapatan media dianggap lebih menentukan bagaimana wujud isi media. Faktor-faktor inilah yang menentukan peristiwa apa saja yang bisa atau tidak bisa ditampilkan dalam pemberitaaan, serta kearah mana kecenderungan pemberitaan sebuah media hendak diarahkan.[18]

Pendekatan organisasi bertolak belakang dengan pendekatan politik-ekonomi. Pendekatan organisasi melihat pengelola media sebagai pihak yang aktif dalam proses pembentukan dan produksi berita. Dalam pendekatan ini, berita dilihat sebagai hasil dari mekanisme yang ada di dalam ruang redaksi. Praktik kerja, profesionalisme, dan tata urutan yang ada dalam ruang organisasi adalah unsur-unsur dinamik yang mempengaruhi pemberitaan.[19]

Pendekatan kulturalis merupakan gabungan antara pendekatan politik-ekonomi dan pendekatan organisasi. Proses produksi berita di sini dilihat sebagai mekanisme yang rumit yang melibatkan factor internal media. Mekanisme yang rumit ini ditunjukkan dengan bagaimana perdebatan yang terjadi dalam ruang pemberitaan. Media pada dasarnya memang mempunyai mekanisme  untuk menentukan pola dan aturan organisasi, tetapi berabagai pola yang dipakai untuk memaknai peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekuatan-kekuatan politik-ekonomi di luar media.[20]

KOMUNIKASI PERIKLANAN

Dalam komunikasi periklanan, ia tidak hanya mennggunakan bahasa sebagai alatnya, tetapi juka komunikasi lainnya seperti gambar, warna, dan bunyi. Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, kita bisa mengkajinya lewat sistem tanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baik yang verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks, terutama dalam iklan radio, televise, dan film.[21]

Pada dasarnya, lambang yang digunakan dalam iklan terdiri atas dua jenis, yaitu yang verbal dan yang nonverbal. Lambang verbal adalah bahasa yang kita kenal; lambang nonverbal adalah bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan, yang tidak secara khusus meniru rupa atas bentuk realitas. Ikon adalah bentuk dan warna yang serupa atau mirip dengan keadaan sebenarnya seperti gambar benda, orang, atau binatang. Ikon di sini digunakan sebagai lambing.[22]

TANDA NONVERBAL

Tanda nonverbal dapat diartikan semua tanda yang bukan kata-kata. Ada beberapa cara untuk menggolongkan tanda-tanda;

  1. Tanda yang ditimbulkan oleh alam yang kemudian diketahui oleh manusia melalui pengalamannya; misalnya, kalau langit sudah mendung menandakan akan turun hujan, dan kalau hujan sudah turun terus-menerus ada alasan untuk mengatakan banjir, dan kalau banjir ada alasan untuk menyatakan timbulnya penyakit.
  2. Tanda yang ditimbulkan oleh binatang; misalnya kalau anjing menyalak kemungkinan ada tamu yang memasuki halaman rumah, atau tanda bahwa ada pencuri
  3. Tanda yang ditimbulkan oleh manusia. Tanda ini dapat dibedakan atas yang bersifat verbal dan yang bersifat nonverbal. Yang bersifat verbal adalah tanda- tanda yang digunakan sebagai alat komunikasi yang dihasilkan oleh alat bicara, sedangkan yang bersifat nonverbal dapat berupa:
    1. Tanda yang menggunakan anggota badan, lalu diikuti dengan lambang, misalnya “Mari!”
    2. Suara, misalnya bersiul, atau membunyikan ssst… yang bermakna memanggil seseorang.
    3. Tanda yang diciptakan oleh manusia untuk menghemat waktu, tenaga, dan menjaga kerahasiaan, misalnya, rambu-rambu lalu lintas, bendera, tiupan terompet.
    4. Benda- benada yang bermakna cultural dan ritual, misalnya buah pinang muda yang menandakan daging, gambir menandakan darah, bibit pohon kelapa menandakan bahwa kedua pengantin harus banyak mendatangkan manfaat bagi sesama manusia dan alam sekitar.[23]

FILM

Hubungan antara film dan masyarakat memiliki sejarah yang panjang dalam kajian para ahli komunikasi. Dari permulaan sejarahnaya film dengan lebih mudah dapat menjadi alat komunikasi yang sejati, karena ia tidak mengalami unsur-unsur teknik, politik, ekonomi, social dan demokrafi yang merintangi kemajuan surat kabar pada masa pertumbuhannya dalam abad ke-18 dan permulaan abad ke-19. Film mencapai puncaknya di antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II, namun kemudian merosot tajam setelah tahun 1945, seiring dengan munculnya medium televisi.[24]

Film merupakan bidang kajian yang amat relevan bagi analisis structural atau semiotika. Film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Berbeda dengan fotografi statis, rangkaian gambar dalam film menciptakan imajinasi dan sistem penandaaan. Ciri gambar-gambar film adalah persamaannya dengan realitas yang ditunjuknya. Gambar yang dinamis dalam film merupakan ikonis bagi realitas yang dinotasikannya.[25]

Film umumnya dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara; kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik film. Sistem semiotika yang lebih penting lagi dalam film adalah digunakannya tanda-tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu.[26]

Namun, seiring dengan kebangkitan film, muncul pula film-film yang mengumbar seks, criminal, dan kekerasan. Inilah yang kemudian melahirkan berbagai studi  komunikasi massa. Kekuatan dan kemampuan film menjangkau banyak segmen social, lantas membuat para ahli mengatakan bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Sejak itu maka merebaklah berbagai penelitian yang hendak melihat dampak film terhadap masyarakat.[27]

KOMIK-KARTUN-KARIKATUR

Pengertian ‘komik” secara umum adalah cerita bergambar dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku, yang pada umumnya mudah dicerana dan lucu, dan ada juga yang menampilkan cerita-cerita serius. Komik bertujuan utama menghibur pembaca dengan bacaan ringan, cerita rekaan yang dilukiskan relative panjang dan tidak selamanya mengangkat masalah hangat meskipun menyampaikan moral tertentu. Bentuk penyampaian komik lebih atraktif dan menjangkau sasaran yang lebih luas. Bahasa komik terutama sekali adalah bahasa gambar karena komik hadir sebagai bahasa gambar dan bahasa teks.[28]

Kartun adalah sebuah gambar lelucon yang muncul di media massa, yang hanya berisikan humor semata, tanpa membawa beban kritik social apapun. Namun ada juga yang mengungkapkan masalah sesaat secara ringkas namun tajam dan humoristis sehingga tidak jarang membuat pembaca tersenyum sendiri.[29]

Karikatur adalah gambar lelucon yang membawa pesan kritik social sebagaimana kita lihat di setiap ruang opini surat kabar. Menurut Sudarta, kartun adalah semua gambar humor, termasuk karikatur itu sendiri. Sedangkan karikatur adalah deformasi berlebihan atas wajah seseorang, biasanya orang terkenal, dengan mempercantiknya dengan penggambaran ciri khas lahiriyahnya untuk tujuan mengejek.[30]

Sebagai kartun opini, setidaknya empat hal teknis harus diingat

  1. Harus informative dan komunikatif
  2. Harus situasional dengan pengungkapan yang hangat
  3. Cukup memuat kandungan humor
  4. Harus mempunyai gambar yang baik.

Fungsi kartun dan juga karikatur yaitu bertujuan utama menyindir atau memperingatkan. Karena itu, dapat dijumpai kartun editorial, kartun politis, kartun social, kartun moral yang kisahnya selalu membidik sasaran tertentu, lazimnya masalah penting di dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, tokohnya yang umumnya berupa manusia menjadi semacam representasi dari rakyat. Dengan bahasa parodinya, kartun yang bagus berhasil menyampaikan amanat rakyat secara humoristis sehingga masalah penting semakin menarik perhatian atau bahkan beruba menjadi tanda bahaya dan pihak yang disindir tidak marah, paling-paling tersenyum kecut.[31]

SASTRA

Dalam lapangan sastra, karya sastra dengan keutuhannya secara semiotic dapat dipandang sebagai sebuah tanda. Dimensi ruang dan waktu dalam sebuah cerita rekaan mengandung tabiat tanda-menanda yang menyiratkan makna semiotika. Dari dua level antara mimetic dan semiotic (atau tataran kebehasaan dan mistis) sebuah karya sastra menemukan keutuhannya untuk difahami dan dihayati.[32]

Dalam penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan semiotika, tanda yang berupa indekslah yang paling banyak dicari, yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam pengertian luasnya. Dalam pengokohan seorang dokter, misalnya, dicari tanda-tanda yang memberikan indeks bahwa sang tokoh itu adalah dokter, karena ia selalu mempergunakan istilah-istilah kedokteran, alat-alat kedokteran.[33]

Wawasan semiotika dalam studi sastra memiliki tiga asumsi:

Pertama, karya sastra merupakan gejala komunikasi yang berakaitan dengan pengarang, wujud sastra sebagai sistem tanda, dan pembaca.

Kedua, karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda yang memiliki struktur dalam tata tingkat tertentu.

Ketiga, karya sastra merupakan fakta yang harus direkonstruksikan pembaca sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.[34]

MUSIK

Sistem tanda musik adalah oditif. Namun, untuk mencapai pendengarnya, penggubah musik mempersembahkan kreasinya dengan perantara pemain musik dalam bentuk sistem tanda perantara tertulis, jadi visual. Bagi semiotikus musik, adanya tanda-tanda perantara, yakni musik yang dicatat dalam partitur orkestra merupakan jalan keluar. Hal ini sangat memudahkan dalam menganalisis karya musik sebagai teks. Itulah sebabnya pengapa penelitian musik semula terutama terarah pada sintaksis, tidak ada semiotika tanpa semantic. Jadi, juga tidak ada semiotika musik tanpa semantic musik.[35]

BAB V BERKOMUNIKASI DENGAN SIMBOL-SIMBOL

Hidup agaknya memang digerakkan oleh symbol-simbol, dibentuk oleh simbol-simbol, dan dirayakan dengan simbol-simbol.. Ketika aksi terorisme 11 September meluluhlantakkan Gedung Kembar WTC di kawasan Manhattan, New York, Amerika Serikat. Dan ketika orang-orang di negeri kita sendiri hiruk–pikuk menghancurkan, memporakporandakan, dan membakari bedung pemerintahan, kendaraan, mall, atau tempat-tempat ibadah, sasaran ssungguhnya tentu bukanlah benda-benda itu sendiri. Sasaran mereka sesungguhnya adalah simbol. Gedung-gedung pencakar langit, kendarasan, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya itu bisa saja dilihat sebagai simbol “kecongkakan,” “kekuasaan,” “kesewenangan,” “keserakahan,” “kepura-puraan,” atau apapun. Dan itulah rupanya yang hendak mereka hantam dan hancurkan.[36]154

Dalam ibadah haji, pakaian ihram yang berwarna putih dan tidak berjahit, menyimbolkan kesucian dan pemisahan dengan kehidupan sehari-hari. Mengelilingi ka’bah menyimbolkan kesatuan antara Tuhan dan manusia, manusia dan manusia, langit dan bumi. Ritual sa’I menyimbolkan upaya Siti Hajar mencari air untuk dirinya sendiri dan anaknya, begitu pula ibadah qurban adalah symbol solidaritas.[37]

APA ITU SIMBOL ?

Simbol adalah bentuk yang menandai sesuatu yang lain di luar perwujudan bentuk simbolik itu sendiri. Simbol juga dapat semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya, yang menyatakan sesuatu hal, atau mengandung maksud tertentu. Misalnya, warna putih merupakan lambang kesucian, lambang padi lambang kemakmuran, dan kopiah merupakan salah satutanda pengenal bagi warga Negara Republik Indonesia.

Dalam konsep Pierce simbol diartikan sebagai tanda yang mengacu pada objek tertentu di luar tanda itu sendiri

Menurut James P. Spradley Simbol adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjuk kepada sesuatu.

Menurut Wellek dan Warren Simbol adalah suatu istilah dalam logika, matematika, semantic, semiotic, dan epistemology.[38]

Pada dasarnya simbol dapat dibedakan menjadi:

  1. symbol-simbol universal, berkaitan dengan arketipos, misalnya tidur sebagai lambang kematian
  2. simbol cultural yang dilatarbelakangi oleh suatu kebudayaan tertentu misalnya keris dalam kebudayyaaan Jawa.
  3. simbol individual yang biasanya dapat ditafsirkan dalam konteks keseluruhan karya seorang pengarang.

Simbol atau lambang merupakan salah satu kategori tanda (sign). Dalam wawasan Pierce, tanda (sign)  terdiri atas ikon (icon), indeks (index), dan simbol (symbol). Hubungan butir-butir tersebut oleh Pierce digambarkan sebagai berikut:

Icons

Signs                           Index ( Indices)

Symbols

Pada dasarnya ikon merupakan tanda yang bisa menggambarkan ciri utama sesuatu, meskipun sesuatu yang lazim disebut sebagai objek acuan tersebut tidak hadir. Misalnya, gambar Amin Rais adalah ikon Amin Rais.

Indeks adalah tanda yang hadir secara asosiatif akibat terdapatnya hubungan ciri acuan yang sifatnya tetap. Kata rokok, misalnya, memiliki indeks asap.[39]

Banyak orang yang selalu mengartikan simbol sama dengan tanda. Sebetulnya tanda berkaitan langsung dengan objek, sedangkan simbol memerlukan proses pemaknaan yang lebih intensif setelah menghubungkan dia dengan objek. Dengan kata lain, simbol lebih substantive daripada tanda. Oleh karena itu, salib yang di pasang di depan gereja, umpamanya, hanya merupakan tanda bahwa rumah tersebut rumah ibadah orang Kristen. Namun, salib yang terbuat dari kayu merupakan simbol yang dihormati oleh semua orang Kristen.[40]

Isyarat adalah suatu hal atau keadaan yang diberitahukan oleh subjek kepada objek. Artinya, subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberi tahu kepada objek yang diberi isyarat agar objek mengetahuinya pada saat itu juga. Isyarat tidak dapat ditangguhkan pemakaiannya. Ia hanya berlaku pada saat dikeluarkan oleh subjek. Isyarat yang ditangguhkan penggunaannya akan beruba menjadi tanda. Tanda itu sendiri berarti suatu hal atau keadaan yang menerangkan objek kepada subjek. Sementara, simbol atau lambang ialah suatu hal atau keadaaan yang memimpin pemahaman subjek kepada objek. Contoh-contoh yang berkenaan dengan isyarat, tanda, dan lambang atau symbol.

Pertama, isyarat dapat berupa gerak tubuh atau anggota badan, suara-suara atau bunyi-bunyian, sinar atau asap. Sementara itu, isyarat-isyarat morse bisa berupa kibaran bendera yang dipakai pramuka atau angkatan Laut.

Kedua, tanda-tanda dapat berupa benda-benda seperti tugu-tugu jarak jalan, tanda-tanda lalu lintas, tanda pangkat atau jabatan, tanda-tanda baca atau tanda tangan.

Ketiga, lambang atau simbol dapat berupa lambang partai, simbol matematika dan logika, departemen, sekolah, institute, dan lain-lain.[41]

SIMBOLISASI KEBUTUHAN POKOK MANUSIA

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Dan salah satu sifat dasar manusia, adalah kemampuan menggunakan simbol. Kemampuan manusia menciptakan simbol membuktikan bahwa manusia sudah memiliki kebudayaan yang tinggi dalam berkomunikasi, mulai dari simbol yang sederhana seperti bunyi dan isyarat, sampai kepada simbol yang dimodifikasi dalam betuk signal-signal melalui gelombang udara dan cahaya, seperti radio, televise, telegram, telex, dan satelit.[42]

Sebagai pengguna dan penafsir simbol, manusia terkadang irasional dengan menganggap seolah-olah ada kemestian atau ada hubungan alamiah antara satu simbol dengan apa yang disimbolkan. Buktinya, masih ada orang yang menanam kepala kerbau sebelum sebuah gedung dibangun, konon demi keselamatan gedung itu. Sebagian orang masih mempercayai hari baik atau hari buruk untuk membuat sebuah keputusan penting atau melakukan suatu perjalanan.[43]

SIMBOL STATUS DAN GAYA HIDUP

Status adalah simbol dari kesuksesan hidup, status pada dasarnya mengarah pada posisi yang dimiliki seseorang di dalam sejumlah kelompok ataiu organisasi dan prestise melekat pada posisi tersebut. Di dalam kehidupan masyarakat secara umum, seseorang yang memiliki suatu pekerjaan, memiliki status yang baik (bankir, dokter, pengacara, pengusaha), dan yang lainnya memiliki status yang lebih kecil (pedagang kaki lima, buruh harian, pemulung sampah). Status merupakan kekuatan yang besar di dalam masyarakat yang digunakan untuk mengendalikan orang dengan cara yang halus.[44]

Orang yang punya status tertentu kerap kali dihubung-hubungkan dengan gaya hidup. Gaya hidup adalah istilah menyeluruh yang meliputi cita rasa seseorang di dalam fashion, mobil, hiburan dan rekreasi, bacaan dan hal-hal yang lain. Pakaian merupakan bahasa diam yang berkomunikasi melalui pemakaian simbol-simbol verbal. Mobil bukanlah alat transportasi semata. Mobil memancarkan pula identitas pemakainya. Mobil adalah sebuah symbol.[45]

Gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas social ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Tampaknya manusia modern kini tak lagi sekedar membeli barang, tetapi membeli merek. Dan merek bukanlah sekedar nama. Di dalamnya terkandung sifat, makna, arti, dan isi dari produk bersangkutan. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, merek akan menandai simbol dan status dari produk tersebut.[46]

SIMBOL-SIMBOL BUDAYA DAN RELIGI

James P. Spradley mengatakan “Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Makna hanya dapat disimpan di dalam simbol, ujar Clifford Geerts. Pengetahuan kebudayaan lebih dari suatu kumpulan simbol, baik istilah-istilah rakyat maupun jenis-jenis simbol lain. Semua simbol, baik kata-kata yang terucapkan, sebuah objek seperti sebuah bendera, suatu gerak tubuh seperti melambaikan tangan, sebuah tempat seperti masjid atau gereja, atau suatu peristiwa seperti perkawinan, merupakan bagian-bagian suatu sistem simbol. Simbol itu meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau kita alami.[47]

Menurut Geerts; Bahkan kekuatan sebuah agama dalam menyangga nilai-nilai social terletak pada kemampuan simbol-simbolnya untuk merumuskan sebuah dunia tempat nilai-nilai itu, dan juga, kekuatan-kekuatan yang melawan perwujudan nilai-nilai itu, menjadi bahan-bahan dasarnya. Agama melukiskan kekuatan imajinasi manusia untuk membangun sebuah gambaran kenyataan.

Nama diri pun adalah simbol pertama dan utama bagi seseorang. Nama dapat melambangkan status, cita rasa budaya, untuk memperoleh citra tertentu, sebagai nama hoki atau apapun alasannya. Nama pribadi adalah unsur penting identitas seseorang dalam masyarakat, karena interaksi dimulai dengan nama dan hanya kemudian diikuti dengan atribut-atribut lainnya.[48]

Tak cuma nama orang, nama-nama tempat atau nama-nama sungai pun menyimpan banyak nama simbolik, jenis tumbuhan juga kerap dijadikan simbol atau lambang dalam berbagai budaya, bahkan sampai menyebar ke wilayah makanan. Ternyata, makanan rakyat ada juga yang diberi kandungan makna simbolis, yakni berupa ajaran filsafat, atau mistis.

KATA-KATA DAN MAKNA

PADA MULANYA ADALAH KATA

Kata dalam komunikasi pergaulan social ditentukan oleh hasil dari tawar-menawar yang tanpa henti. Dalam situasi tawar-menawar inilah berbagai peristiwa lucu atau, kadang-kadang tragis dalam komunikasi bisa terjadi. Kata pada dasarnya adalah satuan bentuk kebahasaan yang telah mengandung satuan makna tertentu. Lepas dari itu, terkadang suatu kata mengalami erosi makna dari maknanya yang asli, hal ini dapat dilihat pada reksi semantic seseorang terhadap suatu kata.

Setiap orang mempunyai hubungan mesra tersendiri dengan kata-kata tertentu, yang bagi dirinya memiliki makna khusus. Contoh kata cinta. Bagi seorang wanita yang hidup berbahagia dengan suaminya, kata cinta penuh dengan makna ‘bahagia’, ‘beruntung’, gairah hidup’, ‘senag hati’, dsb. Akan tetapi seorang wanita yang patah hati korban hawa nafsu lelaki yang memakai kata cinta untuk mengelabuinya saja, kata cinta pasti mempunyai makna lain sekali.[49]

Makna kata muda dimanipulasi. Maka itu, dalam berbagai kampanye pemilu era Orde Baru, di beberapa tempat, terutama yang dekat di lokasi pesantren, para jurkam dari suatu partai politik menyerang kontestan lain dengan mengutip Firman Allah dalam QS Al-Baqarah (2) : 35

Ÿwur $t/tø)s? Ínɋ»yd notyf¤±9$# $tRqä3tFsù z`ÏB tûüÏHÍ>»©à9$# ÇÌÎÈ

Dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Sedangkan para jurkam dari partai yang diserang membelas manipulasi ayat itu dengan manipulasi ayat lainnya yakni Firman Allah dalam QS Al-Fath (48) : 18

* ô‰s)©9 š_ÅÌu‘ ª!$# Ç`t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# øŒÎ) štRqãè΃$t7ム|MøtrB Íotyf¤±9$# zÇÊÑÈ

Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon[50]

MEMAHAMI MAKNA

Upaya memahami makna, sesungguhnya merupakan salah satu masalah filsafat yang tertua dalam umur manusia. Konsep makna telah menarik perhatian disiplin komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan linguistic. Itulah sebabnya, beberapa pakar komunikasi sering menyebut kata makna ketika mereka merumuskan definisi komunikasi. Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, misalnya, mengatakan, “Komunikasi adalah proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih.[51]

Tampaknya, kita perlu terlebih dahulu membedakan pemaknaan secara lebih tajam tentang istilah-istilah yang nyaris berimpit antara apa yang disebut (1) terjemah atau translation, (2) tafsir atau interpretasi, (3) ekstrapolasi, dan (4) makna atau meaning.

Membuat terjemah adalah upaya mengemukakan materi atau substansi yang sama dengan media yang berbeda; media tersebut mungkin berupa bahasa satu ke bahasa lain, dari verbal ke gambar, dan sebagainya. Pada penafsiran kita tetap berpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya, konteksnya agar dapat dikemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas. Ekstrapolasi lebih menekankan kepada kemampuan daya pikir manusia untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan. Materi yang tersajikan dilihat tidak lebih dari tanda-tanda atau indicator pada sesuatu yang lebih jauh lagi. Memberiakn makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran, dan mempunyai kesejajaran dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih menuntut kemampuan integrative manusia: indrawi, daya pikirnya, dan akal budinya.[52]

MAKNA DENOTATIVE DAN KONOTATIF

Salah satu cara yang digunakan para ahli untuk membahas lingkup makna yang besar ini adalah dengan membedakan antara makna denotatif dengan makna konotatif. Makna denotatif pada dasarnya meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata (yang disebut sebagai makan referensial).

Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan dalam kamus. Sebagai contoh, di dalam kamus, kata mawar berarti ‘sejenis bunga‘. Makna konotatif ialah makna denotatif ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan perasaan yang ditimbulkan olehfkata mawar itu. Kata konotasi itu sendiri berasal dari bahasa latin connotare, “menjadi tanda” dan mengarah kepada makna-makna cultural yang terpisah/berbeda dengan kata (dalam bentuk-bentuk lain dalam komunikasi).[53]

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di adalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda. Sedangkan konotasi diartikan sebagai aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca).Jadi, sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negative. [54]

MEMAHAMI BAHASA

Bahasa adalah alat untuk melukiskan sesuatu pikiran, perasaan atau pengalaman; alat ini terdiri dari kata-kata.

Dalam wacana linguistic bahasa diartikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekolompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.[55]

DASAR-DASAR SEMIOTIKA ISLAM

Dasar-dasar semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce tersebut dalam Islam ada pada konsep dilalah, yaitu suatu hal yang dapat membangkitkan adanya petunjuk. Apa yang diacunya atau apa yang ditunjuknya disebut madlul.[56]

Kedua konsep ini dibahas secara rinci dalam ilmu mantiq atau logika, ilmu ma’ani, ilmu bayan atau semantika Islam, dan ilmu tafsir. Jadi belum menjadi ilmu tersendiri. Ia hanya bersifat filosofis yang dititipkan pembahasannya pada ilmu mantiq. Ilmu mantiq adalah ilmu yang mempelajari bagaimana orang bernalar, atau bagaimana caranya orang bisa berpikir benar.[57]

Kata dilalah dalam ilmu mantiq merujuk pada dua pengertian:

Pertama, kata dilalah didefinisikan sebagai sesuatu yang memberikan pengertian tentang sesuatu yang lain, apakah bisa dimengerti atau tidak bisa dimengerti. Sesuatu yang memberikan pengertian disebut دال, (yang menunjukkan), sedangkan sesuatu yang lain disebut مدلول  (yang ditunjukkan)[58]. Contohnya, Lafal Ali atau Muhammad, keduanya bisa dimengerti sebagai zat (diri) seseorang yang diberi nama Ali atau Muhammad.

Kedua, kata dilalah didefinisikan sebagai, فهم أمر من أمر , artinya adalah, mengerti terhadap sesuatu karena didasarkan pada pemahaman sesuatu yang lainnya.[59]. Contohnya, mengartikan حيوان مفترس, (binatang buas) kepada kata أسد, (singa atau macan), Ungkapan حيوان مفترس, disebut مدلول, atau أمر مفهوم,yaitu sesuatu yangdimengerti, sedangkan kata أسد (singa) disebut دال atauمنه أمر مفهوم, artinya sesuatu yang membeikan pengertian.[60]

Menurut para ahli filsafat Islam terdapat dua dilalah (petunjuk) atau jejak dalam term Derrida, yaitu dilalah lafdziyyah, dan dilalah ghair lafdziyyah. Dilalah lafdziyyah adalah petunjuk berupa lafadz, ungkapan atau suara. Dilalah ghair lafdziyyah adalah petunjuk yang bukan merupakan lafadz atau suara tetapi merupakan isyarat, tanda, atau symbol, bekas-bekas, jejak, penomena alam dan lainnya.

BAB VI

KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

? Semiotika (kadang juga disebut semiologi) adalah disiplin ilmu yang mempelajari tanda (sign). Dalam kehidupan sehari-hari tanda hadir dalam bentuk yang beraneka ragam; bisa berwujud simbol, lambang, kode, ikon, isyarat, sinyal, dsb. Bahkan segala aspek kehidupan ini penuh dengan tanda. Dan dengan sarana tandalah manusia bisa berfikir, tanpa tanda kita tidak dapat berkomunikasi.

? Dalam perbincangan mengenai semiotika sebagai sebuah ilmu, ada semacam ruang kontradiksi yang secara histories dibangun diantara dua kubu semiotika, yaitu semiotika continental Ferdinand de Saussure dan semiotika amerika Charles Sander Pierce.

? Mempelajari semiotika sama dengan kita mempelajari tentang berbagai tanda. Cara kita berpakaian, apa yang kita makan, dan cara kita bersosialisasi sebetulnya juga mengomunikasikan hal-hal mengenai diri kita, dan dengan begitu, dapat kita pelajari sebagai tanda.

? Tanda itu sebenarnya bertebaran di mana-mana; di sekujur tubuh kita: ketika kita berkata, ketika kita tersenyum, ketika kita menangis, ketika kita cemberut, dst.

? Dasar-dasar semiotika dalam Islam dapat dilihat pada konsep dilalah dengan beragam pembagiannya.

? Konsep semiotika dalam Islam dibahas dalam ilmu mantiq, ilmu balagah, dan ilmu tafsir, namun belum menjadi ilmu tersndiri.

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M.

Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap hakikat bahasa, makna, tanda, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M

Muhammad Mahdy Wahdan, Al-Mantiq al-Muyassar, Juz I (Cairo: Maktabah al-Azhar li al-Turats, 1993, h. 5

Muhammad Nur al-Ibrahimy, Ilmu Mantiq, Cet. II; Surabaya: Maktabah Sa’ad bin Nashir Nabhan, 1980)

Umar, Ahmad Muhtar, Ilmu al-Dilalah, Cet. III; Cairo: Alam al-Kutub, 1992

Winfried NoTH, Semiotik, Cet I; Surabaya: Airlangga University Press, 2006

Zoest, Aart Van, Semiotika, Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa Yang Kita Lakukan Dengannya, diterjemahkan oleh Ani Soekawati dari Semiotiek, Overteken. Hoe ze werken en way we ermee doen, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung 1993)


[1]Aart Van Zoest, Semiotika, Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa Yang Kita Lakukan Dengannya, diterjemahkan oleh Ani Soekawati dari Semiotiek, Overteken. Hoe ze werken en way we ermee doen, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung 1993)

[2]Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M. h. 16

[3]Ibid, h. 11

[4]Ibid, h. 12, Ahmad Muhtar Umar, Ilmu al-Dilalah, (Cet. III; Cairo: Alam al-Kutub, 1992), h. 14

[5]Ibid, h. 17

[6]Ibid, h. 19

[7]Ibid, h. 39

[8]Ibid, h. 41, lihat: Winfried NÖTH, Semiotik, Cet I; Surabaya: Airlangga University Press, 2006, h. 39, Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap hakikat bahasa, makna, tanda, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 M). h. 130

[9]Ibid, h. 45

[10]Ibid, h. 44, Winfried NÖTH, op. cit., h. 56

[11]Ibid, h. 56, Winfried NÖTH, op. cit., h. 74

[12]Ibid, h. 60, Winfried NÖTH, op. cit., h. 64

[13]Ibid, h. 63

[14]Ibid

[15]Ibid, h. 68, Winfried NÖTH, op. cit., h. 314

[16]Ibid, h. 110

[17]Ibid, h. 111

[18]Ibid

[19]Ibid, h. 112

[20]Ibid,

[21]Ibid, h. 116, Winfried NÖTH, op. cit., h. 484

[22]Ibid

[23]Ibid, h. 122, Winfried NÖTH, op. cit., h. 395

[24]Ibid, h. 126

[25]Ibid, h. 128

[26]Ibid

[27]Ibid, h. 127, Winfried NÖTH, op. cit., h. 471

[28]Ibid, h. 132

[29]Ibid, h. 140

[30]Ibid, h. 138

[31]Ibid, h. 141, Winfried NÖTH, op. cit., h. 480

[32]Ibid,

[33]Ibid, h. 143

[34]Ibid, h. 142, Winfried NÖTH, op. cit., h. 352

[35]Ibid, h. 144, Winfried NÖTH, op. cit., h. 437

[36]Ibid, h. 154

[37]Ibid, h. 155

[38]Ibid, h. 156

[39]Ibid, h. 159

[40]Ibid, h. 160

[41]Ibid, h. 161, Winfried NÖTH, op. cit., h 107 dan 115

[42]Ibid, h. 164

[43]Ibid, h. 165

[44]Ibid, h. 167

[45]Ibid, h. 171

[46]Ibid, h. 169

[47]Ibid, h. 177

[48]Ibid, h. 189

[49]Ibid, h. 249

[50]Ibid, h. 253

[51]Ibid, h. 255

[52]Ibid, h. 256

[53]Ibid, h. 263

[54]Ibid, h. 264

[55]Winfried NÖTH, op. cit., h. 229

[56]Asep Ahmad Hidayat, op. cit., h. 193

[57]Muhammad Nur al-Ibrahimy, Ilmu Mantiq, Cet. II; Surabaya: Maktabah Sa’ad bin Nashir Nabhan, 1980), h. 6, Lihat juga: Muhammad Mahdy Wahdan, Al-Mantiq al-Muyassar, Juz I (Cairo: Maktabah al-Azhar li al-Turats, 1993, h. 5

[58]Muhammad Nur al-Ibrahimy,  op. cit., h.11

[59]Muhammad Nur al-Ibrahimy, loc. cit

[60]Ibid