Tag Archives: KATA

ANALISIS PEMAKAIAN PRONOMINA INTERMINATIVA BAHASA INDONESIA DALAM HARIAN FAJAR

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa dipergunakan untuk mengutarakan dan menerima pikiran dan perasaan manusia. Sebagian besar kegiatan manusia melibatkan penggunaan bahasa, sehingga wajarlah apabila setiap manusia berusaha untuk mengerti dan memahami bahasa dengan baik dan benar.

Tjiptadi dan Negoro, (1983:1) mengemukakan bahwa” Bahasa ialah alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain. Dengan demikian, bahasa terjadi antara dua belah pihak yaitu pihak yang menyampaikan pikiran dan perasaan itu”.

Dengan demikian, bahasa dapat diartikan sebagai alat yang ampuh amok, menyatakan maksud, pikiran, dan perasaan kepada orang lain. Begitu akrabnya bahasa dengan manusia, sehingga manusia cendrung menganggap bahwa bahasa merupakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Oleh karena itu, banyak orang kurang memahami hakikat bahasa, bahkan tidak menyadari pentingnya bahasa dalam kehidupan sosial. Padahal fungsi bahasa adalah sebagai sarana komunikasi vital dalam manusia dan mahluk lainnya. Bahasa sebagai instrumental, regulasi, representasional, personal, heuristik, intraksional, dan imaginative.

Maju mundurnya suatu bahasa bergantung pada setiap pemakai bahasa pemakaian bahasa bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengolah bahasanya sehingga menjadi bahasa yang baku dan penyusunannya tetap gramatikal.

Harian Fajar adalah sebuah koran terbesar di bagian timur Indonesia

diharapkan menjadi contoh dan pelopor dalam penulisan kaidah-kaidah Indonesia yang baik dan benar, agar berita-berita yang disuguhkan kepada masyarakat, tidak semata-mata untuk menarik minat pembaca saja melainkan juga membina masyarakat dalam pengaturan tata tulis yang benar. Walaupun dalam bidang jurnalistik, kebakuan suatu bahasa mungkin. bukanlah merupakan suatu keharusan yang harus dipedomani.

Harian Fajar terbitan 9 Februari 2000 dalam kolom tajuk, diberitakan

mengenai “Anarkisme dan Idealisme berkebahasaan dalam dunia pers”. Dijelaskan bahwa dalam era reformasi membuka ruang gerak dan peluang amat luas bagi pers nasional untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan perjuangannya, namun para jurnalis tidak lepas dari ketentuan atau undang-undang pers.

Bila dikaitkan dengan fungsi bahasa yang imaginatif, maka para jurnalis tidak terlepas dari fungsi tersebut untuk menerbitkan sebuah berita yang sifatnya gramatikal atau tidak itu bergantung pada penulisnya. Hal ini pun dapat di lihat pada pemakaian pronomina interminativa kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang bahasa Indonesia yang sering pembaca jumpai dalam pemakaiannya. Para penutur atau pemakai bahasa terkadang tidak mengetahui penggunaan secara tepat.

Secara gramatik bentuk sesuatu dan seseorang dapat berdiri sendiri atau menduduki (mengisi) fungsi atau gatra kalimat (subjek atau objek), sedangkan kata suatu dan seorang tidak dapat berdiri sendiri. Kata suatu dan seorang dimasukkan kedalam kelompok kata penggolong benda yang belum tentu, sedangkan kata sesuatu dan seseorang, merupakan pengganti suatu benda yang belum di ketahui.

Ditemukan pemakaian kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang yang tidak lagi melihat adanya penggunaan secara tepat, akibatnya banyak pemakaian kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang yang tidak sesuai dengan sifat dan fungsi yang dimilikinya. Banyak kalimat yang seharusnya menggunakan kata ganti suatu, tetapi yang digunakan kata ganti sesuatu. Begitupula penggunaan kata seorang dan seseorang.

Dengan adanya kekeliruan seperti itu, maka penulis mencoba mengkaji perilaku kata-kata seperti suatu, sesuatu, seorang dan seseorang dalam Harian Fajar, agar para penutur atau pemakai bahasa Indonesia dapat mengetahui penggunaan pronomina interminativa dalam Harian Fajar secara tepat.

B.   Rumusan Masalah

Masalah pemakaian pronomina interminativa, kata suatu, sesuatu, seorang dan seseorang dalam bahasa Indonesia dalam bidang jurnalistik bukanlah masalah yang sederhana, melainkan sangat lugs dan kompleks. Oleh karena penulis akan mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana penggunaan pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam Harian Fajar ditinjau dari segi preskriptif.
  2. Bagaimana perilaku sintaksis pronatnina interminativa bahasa Indonesia dalam Harian Fajar?
  3. Untuk mengetahui penggunaan pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam surat kabar Harian Fajar ditinjau dari segi preskriptif.
  4. Untuk mengetahui perilaku sintaksis pronomina interminativa bahasa Indonesia dalam surat kabar Harian Fajar.

C.   Tujuan Penelitian

D.   Manfaat Penelitian

  1. Untuk memudahkan pembaca agar dapat memahami pemakaian pronomina interminativa bahasa Indonesia khususnya dalam bidang jurnalistik;
  2. Sebagai masukan dan bahan perbandingan bagi peneliti-peneliti ilmiah lainnya serta merupakan tambahan karya ilmiah yang dapat dijadikan sebagai sumber acuan dalam penelitian.


Tinjauan Pengajaran Bahasa Indonesia pada kelas I MTsN DDI Kanang

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Hampir setiap hari para guru berhadapan dengan persoalan-persoalan pendidikan, baik dalam proses belajar mengajar dan juga masalah lain yang tidak bersentuhan langsung dengan pendidikan.

Mengingat pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan berhasil tidaknya pendidikan adalah guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan, sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.

Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pembimbing sekaligus pengajar. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah kemampuan mengajar di kelas. Kemampuan mengajar ini menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang guru yang tidak lancar berkomunikasi, guru bidang studi apa pun, akan mengakibatkan proses pengajaran tidak efektif. Siswa sekedar mengikuti proses belajar tanpa memahami penjelasan guru.

Sekolah melalui guru mengatur anak dalam upaya mengembangkan kecerdasan untuk mencapai kemanfaatan. Di dalam dua lingkungan dasar, rumah dan sekolah, anak dapat belajar untuk menghormati modalitas mereka melalui pengalaman yang dimaksudkan untuk membangun penghargaan diri, citra diri, kepercayaan diri, dan keterampilan.

Persekolahan tradisional berupaya menutup pikiran kreatif anak, dan membungkam keingintahuan mereka. Anak-anak yang tumbuh dan besar dalam sekolah-sekolah tradisional akan mengalami degradasi mental (cepat putus asa, tidak sanggup bertindak sendiri atau selalu mengharapkan petunjuk, dan tentu saja tidak suka bersaing).

Tuduhan negatif terhadap para pekerja keras tidak sebanding dengan celaan yang diterima para pelajar keras orang yang gila belajar. Anggapan bahwa terlalu banyak belajar bisa membuat orang (pelajar atau mahasiswa, selanjutnya disebut pelajar saja) bila hanya berlandaskan pada beberapa fakta, yang sesungguhnya terjadi akibat adanya ketidakseimbangan sistem syaraf pelaku belajar. Hal itu juga merupakan akibat aksiden dari suatu sistem pembelajaran yang tidak kondusif. Dengan kata lain sistem pebelajaran yang diterapkan tidak sesuai dengan gaya belajar siswa.

Manusia memulai proses belajar sejak lahir. pernyataan-pernyataan negatif sampai yang berbentuk hinaan mendominasi perkembangan manusia usia dini. Sementara itu, pernyataan positif, dukungan atau motivasi sangat sedikit diperoleh. Dampaknya tentu saja tidak sesuai dengan obsesi. Bayangkan jika itu terjadi sebaliknya.

Pendidikan tradisional (peninggalan penjajah) bertumpu pada otoritas pengajar. Faham paternalistik memegang kendali pendidikan kala itu. Beberapa sekolah lokal di pelosok-pelosok daerah terpencil masih menganut paham ini hingga-kini, bahkan lembaga pendidikan terkemuka di beberapa kota besar masih mempertahankan professor konservatif (pengajar kadaluarsa). Para professor ini mengajar berdasarkan pada jasa jasanya di masa lalu, bukan karena jasa jasanya menemukan gaya belajar yang efektif bagi siswa yang akan matang di masa depan.

Menciptakan komunitas belajar dalam sekolah-sekolah tradisional dibutuhkan pengkondisian secara terus-menerus, dan tidak boleh berlebihan. Siswa akan tahu betapa bermanfaatnya komunitas belajar yang terbangun jika mereka diuntungkan oleh kondisi pembelajaran yang menimbulkan gairah tanpa henti.

Sistem pendekatan dalam membimbing siswa mengenal sekolah baru atau perguruan tinggi bagi mahasiswa baru selalu diwarnai tindakan-tindakan kontraedukatif. Segala sesuatu yang sifatnya dogmatis, kaku, irrasional, apatis, menekan, dapat dimasukkan ke dalam sistem pembelajaran semacam itu. Komentar yang sifatnya mencela juga kerapkali dimunculkan untuk memicu semangat belajar siswa. Sejak dilahirkan manusia telah dijejali celaan yang sifatnya meruntuhkan. Alasan yang mendukung prinsip belajar dari celaan (komentar negatif) ini adalah untuk menempa mental siswa awal. Benarkah pendekatan semacam itu sanggup membuat seluruh kekuatan belajar (indra, otak, emosi) siswa berfungsi sebaik-baiknya.

Parade sikap meniru-niru militer hampir sama banyaknya dengan pertanyaan dogmatis yang berupaya ditanamkan dalam otak siswa oleh para guru, dosen atau fungsionaris terpilih. Siswa tidak diajak untuk berpikir jernih, tetapi diajar mengalahkan lawan dengan cara apapun. Statement hitam-putih selalu dimunculkan dalam mengawal para siswa memasuki alam yang mengharuskan pengerahan nalar (objektifiaksi). Cara-cara seperti ini malah akan melahirkan siswa congkak dan ingin selalu menguasai. Pembelajaran yang diterima siswa pada akhirnya tidak mendatangkan manfaat, selain kenangan hura-hura.

Ada hubungan kuat antara model pembelajaran yang dianut dengan konstruksi otak manusia. Dr. Paul Maclean (dalam Deporter dan Hernacki, 2002: 33) menyebut bagian-bagian otak manusia sebagai “triune” (three in one). Bagian-bagian itu adalah: otak reptil, limbik dan neokorteks.

Otak reptil menekankan insting mempertahankan diri, bersifat ingin menguasai. Masa-masa awal perkembangan manusia pengaruh otak reptil ini sangat dominan. Otak limbik menampung semua perangkat emosi dan kognisi, lalu diteruskan ke neokorteks. Neokorteks adalah bagian otak yang menghasilkan gaga belajar, pola pikir dan daya cipta. Pusat kecerdasan ada di neokorteks. Universitas kita sebagaimana sekolah-sekolah yang sudah ada masih menganut sistem pembelajaran reptil.

Strategi pembelajaran sesungguhnya bertolak dari tujuan yang dirangkum dalam tujuan pendidikan. Menurut Prasetya (1997:27) tujuan pendidikan memiliki beberapa sumber, sebagai berikut:

  1. Manusia kebanyakan mengalami kesulitan-kesulitan dalam proses pendewasaan atau kematangannya yang berdampak signifikan terhadap sekitarnya.
  2. Sekolah. Pengalaman-pengalaman seseorang, kekuatan-kekuatan, jenis-jenis sekolah dan guru-guru di dalamnya merupakan sumber-sumber pokok dari filsafat pendidikan.
  3. Lingkungan. Lingkungan sosial budaya seseorang tinggal dan dibesarkan adalah sumber yang lain dari filsafat pendidikan. Jika seseorang dibesarkan pada masyarakat yang menempatkan suatu nilai pendidikan yang tinggi hal itu akan mempengaruhi filsafat pendidikan seseorang.

Pada hakikatnya pendidikan adalah suatu usaha untuk membudayakan manusia atau memanusiakan manusia. Manusia sendiri merupakan pribadi yang utuh dan kompleks sehingga sulit dipelajari secara tuntas. Oleh karena itu, masalah pendidikan tidak pernah selesai sebab pada hakikatnya manusia sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika hidupnya. Dalam keadaan seperti itulah pendidikan tetap memerlukan inovasi yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai manusia, baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai makhluk religius.

Prinsip, pendidikan dalam rangka pengembangan etos keilmuan menuju intelektualisme merupakan bagian dari diktum agama. Oleh sebab itu, dalam Islam ada kewajiban muslimin dan muslimat untuk berpendidikan, meski sampai ke negeri asing, bahkan sampai ke liang lahat.

Dalam Alquran terdapat konsep perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya. Hal ini merupakan sinyal fenomenon bahkan neumenon dalam Islam. Tuntutan atau perintah membaca dalam Islam sangat etis, karena manusia sebagai khalifah rukan sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas tetapi hares didasari Bismi Rabbika (dengan nama Tuhanmu), dalam memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan nama Allah.

Agama mendorong manusia untuk menggunakan persepsi rasional yang baik, sampai kepada persepsi religius yang amat etis pula. Agama sangat menghendaki suatu bentuk intelektualisme. Etos keilmuan adalah suatu bagian integral keagamaan yang sehat. Ia muncul karena adanya kemampuan pada dirinya sendiri dan pada sistem keyakinan yang dianut.

Mengingat pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang paling menentukan berhasil tidaknya pendidikan adalah guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.

Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pembimbing sekaligus pengajar. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah kemampuan mengajar di kelas. Kemampuan mengajar ini menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang guru yang tidak lancar berkomunikasi, guru bidang studi apapun, akan mengakibatkan proses pengajaran tidak efektif. Siswa sekedar mengikuti proses belajar tanpa memahami penjelasan guru.

Pengajaran bahasa Indonesia dalam era globalisasi tentu saja berbeda dengan sebelumnya. Proses Pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat dilaksanakan bagaimana seorang siswa belajar bahasa asing dan bahasa daerah tertentu. Belajar bahasa Indonesia seharusnya melibatkan pemikiran (nalar), sejarah, dan mengurangi Pengajaran yang bersifat verbal semata.

Selain itu, guru juga dituntut memperhatikan prinsip-prinsip Pengajaran bahasa. Sejumlah prinsip, yang antara lain adalah: (1) sebagian besar waktu siswa digunakan untuk berlatih menggunakan bahasa; dan (2) mengembangkan sikap positif terhadap bahasa yang dipelajari. Kedua pandangan tersebut sangat relevan dengan tujuan Pengajaran bahasa yang langsung berhubungan dengan aspek pembuatan kosakata, berbicara, membaca, dan kebahasaan.

Perkembangan teknologi dewasa ini mempengaruhi cara Pengajaran bahasa, cara manusia berbahasa, dan kebudayaan nasional. Perubahan cepat tersebut antara Lain: munculnya budaya komunikasi instant seperti telepon dan Internet, era otonomi daerah yang menekankan pengajaran bahasa daerah, munculnya kritik terhadap para ahli bahasa yang menyusun buku-buku mata pelajaran yang kurang bermutu, banyaknya kaum intelektual yang tidak bisa membuat karya tulis, banyak pejabat yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan rendahnya minat belajar bahasa Indonesia di kalangan siswa.

Para guru bahasa saat ini ditantang menjelajah fenomena komunikasi manusia yang sangat kompleks. Oleh karena itu, cara-cara tradisional, teori-teori lama, observasi kaku selama ini dirasakan kurang ampuh untuk menghadapi berondongan isu-isu di atas.

Proses pengajaran bahasa Indonesia sebagai lokus utama dalam mewujudkan perubahan menyeluruh ke arah pemahaman bahasa yang sempurna merupakan ulasan yang sangat menarik. Serangkaian persoalan yang menghimpit kita membutuhkan kecermatan berbahasa (lisan dan tulisan).

Dengan demikian, sebagai langkah awal dan paling mendesak adalah perlunya mematangkan pemahaman kebahasaan di tingkat sekolah lanjutan pertama. Proses pengajaran bahasa di sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama perlu diteliti untuk memperoleh informasi tentang pengajaran bahasa yang terjadi selama ini. Penulis tertarik mengangkat judul penelitian ini: Tinjauan Pengajaran Bahasa Indonesia pada kelas I MTsN DDI KANANG.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas. maka dapatlah dirumuskan masalah yang akan diselidiki dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah proses pembelajaran bahasa Indonesia di MTsN DDI KANANG.

C.   Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang telah dirumuskan di atas. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran bahasa Indonesia pada kelas I MTsN DDI KANANG.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Sebagai masukan dan informasi bagi guru, khususnya guru mata pelajaran bahasa Indonesia tentang proses pembelajaran bahasa Indonesia yang efektif dan tidak membosankan.
  2. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah setempat dalam menilai proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
  3. Sebagai bahan perbandingan dan referensi bagi peneliti selanjutnya khususnya yang akan mengkaji masalah yang sama.


PENGUASAAN PENGGUNAAN KATA SAPAAN DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA OLEH SISWA KELAS II SLTP NEGERI PAMBUSUANG

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Pengajaran bahasa Indonesia pada umumnya sama dengan pelajaran lain, yaitu merupakan suatu sistem dalam arti setiap unsur pembentukannya mempunyai fungsi dan peran masing-masing dalam rangka mencapai tujuan pelajaran yang telah digariskan. Unsur-unsur yang membentuk sistem itu adalah Kurikulum, metode, buku teks, alat pelajaran, guru, pelaksanaan pengajaran, dan siswa.

Masalah pembinaan bahasa Indonesia dalam hubungannya dengan pendidikan dan pengajaran merupakan hal yang sangat esensial. Hal ini perlu diperhatikan keberadaannya agar hasil yang dicapai dalam penjabaran pengajaran bahasa Indonesia dalam lingkungan formal sesuai target.

Diketahui bahwa masalah pengajaran bahasa Indonesia dalam pendidikan formal belumlah dapat menjamin penguasaan peserta didik terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal inilah yang perlu diketahui sekaligus dipahami, sekurang-kurangnya yang ada dalam pengelolaan pengajaran bahasa Indonesia dalam pendidikan formal.

Berbahasa merupakan kegiatan keterampilan yang memiliki aspek berbahasa. Aspek yang dimaksud adalah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Di antara aspek yang sate dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Secara umum keterampilan menyimak dan berbicara sudah dimulai pada saat anak masih usia prasekolah. Sedangkan keterampilan membaca dan menulis diperoleh setelah anak memasuki lembaga pendidikan formal. Pertanyaan yang perlu dijawab sekarang adalah pendidikan mana seseorang harus mampu dan telah memiliki keterampiIan menulis sebagai salah satu komponen keterampilan berbahasa ? Untuk lembaga pendidikan seperti di Indonesia, keterampilan tampaknya telah dimulai sejak anak duduk pada tingkat sekolah dasar.

Dalam kehidupan yang sudah modern ini, keterampilan menulis dibutuhkan. Kiranya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa keterampilan menulis merupakan ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Menulis juga merupakan suatu kegiatan produktif dan ekspresif. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktek yang seringkali dan secara teratur.

Dalam pengalaman akademis sehari-hari, masih ditemukan penggunaan bahasa Indonesia yang salah dalam penulisan. Di lingkungan sekolah misalnya, siswa sering membuat kalimat yang tidak sesuai dengan konteksnya dan kaidah bahasa Indonesia. Hal ini kemungkinan bersumber dari rendahnya tingkat kemampuan siswa tentang struktur kata.

Identifikasi tentang kesalahan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia sangat penting disebabkan oleh kenyataan bahwa kondisi di sekolah mulai dari SD sampai perguruan tinggi dewasa ini masih ditandai oleh terjadinya kesalahan. Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu.

Oleh karena itu, pengkajian melalui suatu penelitian tentang tipologi kesalahan dalam menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia perlu dilakukan. Jika dari hasil penelitian diketahui bahwa penguasaan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia cukup memadai, hal tersebut patut disyukuri dan terus ditingkatkan. Sebaliknya, jika hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan siswa dalam hal tersebut masih kurang, maka diperlukan pengkajian tentang berbagai faktor yang menjadi penghambat agar dimanfaatkan secara optimal dalam upaya peningkatan pengajaran bahasa Indonesia.

Menyadari hal tersebut, maka pada dasarnya penerapan Kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia mengharapkan siswa mampu dan terampil berbahasa Indonesia. Khususnya menerapkan kaidah penulisan ejaan. Dalam hal ini penulisan dan ejaan yang telah dibakukan. Berhubugan dengan pula standardisasi dan pembakuan bahasa Indonesia adalah penetapan atau aturan berbahasa. Berdasarkan bahasa yang dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa, ditetapkan pula mana yang berlaku pada bahasa itu.

Kemampuan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia adalah jenis kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa, khususnya pada jenjang SLTP. Kemampuan itu merupakan kunci yang dapat memudahkan siswa berkomunikasi dengan efektif. Secara tertulis, siswa SLTP sebagai hasil proses pendidikan formal perlu dibekali kemampuan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini merupakan modal untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi maupun sebagai bekal untuk hidup bermasyarakat.

Dalam pendidikan sekolah tingkat lanjutan pertama, hasil pengajaran bahasa Indonesia belum dapat dikatakan sebagai hasil yang memuaskan. Kenyataan ini dapat dilihat pada hasil EBTA – EBTANAS  bahasa  Indonesia khusus di SLTP Negeri Pambusuang, sebelum dan sesudah menggunakan kurikulum 1994 masih menunjukkan hasil  yang belum optimal. Khusus sekolah lanjutan pertama yang ada di pinggiran dan luar kota, baik negeri maupun swasta, hasil pengajaran bahasa Indonesia belum dapat memberikan hasil yang memadai. Keadaan semacam ini timbul karena kuatnya pengaruh bahasa daerah, kurangnya kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia (Kirana, 2000: 3).

Dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa di sekolah lanjutan, Kurikulum 1994 mengupayakan penyebaran Kurikulum yang dengan jelas mengarah kepada pembinaan kemampuan berbahasa anak didik. Pengetahuan dan penguasaan bahasa dalam arti internalisasi. Struktur bahasa dalam semua tataran kebahasaan senantiasa dikaitkan dengan pembinaan kemampuan berkomunikasi, baik secara Iisan maupun tulisan. Bentuk-bentuk komunikasi dan strukturnya harus sesuai dengan kaidah­-kaidah gramatikal dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dan setiap pemakaian bahasa harus menguasai hal tersebut.

Pengajaran kaidah gramatikal kepada siswa dimaksudkan untuk menanamkan pengetahuan dan penguasaan kaidah gramatikal yang bersifat fungsional. Pengetahuan dan penguasaan kaidah gramatikal yang bersifat fungsional bagi anak didik memungkinkan dapat menyusun kalimat-kalimat yang gramatikal.

Tujuan pengajaran bahasa ini akan tercapai apabila guru lebih banyak melibatkan siswa dalam berbagai situasi perbuatan bahasa. Artinya, bahwa guru harus memberikan latihan-latihan dan contoh-contoh penggunaan bahasa yang baik dan benar. Dengan memberikan berbagai contoh pola kalimat beserta variasinya dan diikuti pemberian latihan, maka siswa dengan mudah mengenal bentuk kalimat dan dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Untuk mencapai hasil pengajaran bahasa Indonesia yang maksimal, salah satu yang dapat ditempuh adalah mengajarkan secara intensif penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia. Pemahaman siswa terhadap kata sapaan dan penggunaannya dalam menyusun kalimat bahasa Indonesia sangat penting karena mempunyai fungsi dalam tatanan struktur tata bahasa Indonesia dan fungsi sosial bahasa Indonesia.

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai pengajaran dalam menyusun kalimat bahasa Indonesia, rata-rata menunjukkan hasil yang belum memuaskan. Misalnya penelitian tentang :

  1. Kemampuan Siswa Kelas II SLTP Negeri 2 Polewali menggunakan kosakata dalam kalimat bahasa Indonesia, Hardiah 1999.
  2. Penguasaan Pemenggalan Kata bagi Siswa Kelas II SLTP Negeri 4 Polewali Kabupaten Polmas, Candra Kirana, 2000.
  3. Kemampuan Siswa kelas 1 SLTP Negeri I Wonomulyo menggunakan kata bilangan dalam menyusun kalimat, Sri Seger Asriyanty, 2000.

Umumnya peneliti tersebut menemukan bahwa kemampuan siswa menggunakan kata dalam menyusun kalimat belum memadai.

Penelitian tentang penguasaan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia merupakan salah satu bagian pelajaran bahasa Indonesia di SLTP yang belum memperoleh hasil yang baik. Khusus di SLTP Negeri Pambusuang, masalah penguasaan menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan memainkan peranan penting pada seluruh sekolah lanjutan tingkat pertama baik negeri maupun swasta dalam rangka meningkatkan pengetahuan bahasa Indonesia di kalangan siswa pada umumnya.

Mengingat pentingnya arti, nilai, dan fungsi kemampuan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia, maka sewajarnya jika pengajaran jenis-jenis, ciri-ciri, maupun pengertian kata sapaan perlu dibina dan ditingkatkan. Pembinaan sebaik-baiknya terhadap pengajaran kata sapaan di sekolah lanjutan tingkat pertama, bukan saja akan menciptakan siswa yang memiliki kemampuan dalam berbahasa Indonesia yang selama ini masih dianggap kurang efektif, tetapi juga menciptakan keterampilan dalam sikap dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itulah, penggunaan kata sapaan dalam pengajaran bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian, baik dari pihak guru bahasa Indonesia maupun dari pihak-pihak yang lain yang bermaksud mengembangkan pengajaran bahasa Indonesia.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian yang berkaitan dengan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia, yaitu “Penguasaan Penggunaan Kata Sapaan dalam Kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Negeri Pambusuang”.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang ada sekarang adalah bagaimana mengetahui dan memahami kesulitan belajar siswa pada umumnya dan mengetahui kemampuan siswa menggunakan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia. Dengan demikian, masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah :

“Bagaimanakah penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Negeri Pambusuang”.

C.   Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan yang dikemukakan di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah untuk siswa kelas II SLTP Negeri ­kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia.

D.   Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan ukuran tentang penguasaan penggunaan kata sapaan dalam kalimat bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SLTP Pambusuang dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia.