Tag Archives: NOVEL

Gambaran Fenomena Sosial Dalam Novel Berita Dari Pinggiran (Suatu Pendekatan Sosiologi)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah suatu cara mengungkapkan gagasan, ide, dan pemikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Karya sastra merupakan hasil kegiatan kreatif, imajinatif, dan artistik Sebagai hasil kegiatan yang imajinatif sastra menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialami pengarang kepada penikmat karya yang dibuatnya.

Sastra “menyajikan kehidupan” dan “kehidupan” sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial, walaupun karya sastra “meniru” alam dan dunia subjektif manusia (Wellek, 1990: 109).

Karya sastra lahir sebagai perpaduan antara hasil renungan, pemikiran, dan perasaan seorang pengarang. Keber­adaan karya sastra yang dihasilkan seorang pengarang di tengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan karena merupakan cermin kehidupan yang memantulkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal tersebut yang membedakan karya sastra dengan tulisan biasa.

Berdasarkan karya sastra yang demikian itu, kiranya tidak berlebihan apabila sastra dipakai sebagai alat pen­didikan. Karya sastra sendiri sebenarnya ditulis dengan maksud menunjukkan nilai-nilai kehidupan atau setidaknya mempersoalkan nilai-nilai yang dipandangnya kurang sesuai dengan kebutuhan zaman atau kebutuhan manusia pada umumnya (Sumarjo dalam Reksohadiprojo, 1989: 148).

Sebuah karya sastra berusaha menggugah kesadaran dan memberikan pengalaman yang imajinatif kepada pembaca. Penginderaan dan daya fantasi pembaca diajak memasuki pengalaman orang lain berdasarkan gambaran yang disajikan pengarangnya secara jernih, jelas, dan menawan.

Karya sastra apabila dikaji lebih mendalam sesungguh­nya banyak mengandung nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pendidikan.

Novel merupakan salah satu karya sastra yang dapat diteliti secara ilmiah yang di dalamnya melukiskan berbagai peristiwa yang dialami oleh pelaku-pelakunya. Pelaku yang ada dalam sebuah novel merupakan suatu proses kreatif dari pengarangnya. Jadi, hasil karya seorang pengarang pada dasarnya bersumber dari hasil imajinatif dan proses krea­tifnya.

Iwan Simatupang termasuk salah seorang sastrawan yang produktif semasa hidupnya. pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh membuat karya-karyanya banyak dikagumi para kritikus dan penikmat sastra, Novelnya yang pertama, “Merahnya Merah”, diterbitkan pada tahun 1968, disusul dengan “Ziarah” (1969), “Kering” (1972), dan “Koong” 1975) .          Semuanya    mendapat      sambutan antusias dari para sastrawan dan peminat sastra Indonesia pada khususnya.

Penelitian mengenai novel-novel Iwan Simatupang pernah dilakukan oleh Dami N. Toda dalam tesisnya yang berjudul “Novel Baru Iwan Simatupang” yang selesai ditulis pada tahun 1974, kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul yang sama pada tahun 1980.

Khusus mengenai novel “Ziarah” pernah dilakukan pene­litian oleh J. Prapta Dihardja dalam skripsinya yang berju­dul “Gaya Iwan Simatupang dalam Ziarah” (J. Prapta Dihar­dja. 1985), demikian pula Okke KS. Zaimat mengkaji “Ziarah” dalam desertasinya yang berjudul “Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan Simatupang” (Zaimat, 1990).

Beberapa peneliti lain seperti Elia Tjasa (1972), Umar Yunus (1986), Kurnia Jaya Raya. (1989), dan beberapa peneli­ti asing dari Australia, Francis, dan Malaysia, pernah membicarakan “Ziarah” dalam kaitannya dengan, novel-novel Iwan yang lain. Dari semua pembicaraan tersebut umumnya menempatkan “Ziarah” sebagai karya puncak: Iwan Simatupang yang pada tahun 1475 “Ziarah” diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dengan judul “The Pilgrim” dan mendapat hadiah sastra ASEAN terbaik. pada tahun 1977.

Novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang membawa proble­matik yang tak habis-habisnya dan ada yang menganggap plotnya tidak jelas. Hal ini menyebabkan novel tersebut dicap sebagai novel bercorak kegelisahan batin dan bersifat absurd sehingga nilai-nilai yang dikandungnya sulit untuk dikaji.

Munculnya anggapan bahwa novel yang mengandung absurd­itas sulit dipahami dan nilai-nilai pendidikan yang mungkin terdapat di dalamnya tidak dapat ditemukan mendorong penu­lis mengangkatnya sebagai bahan analisis.

B.   Rumusan Masalah

Berpegang pada dasar pemikiran di atas dan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, peneliti mengangkat masalah sebagai berikut:

  1. Apakah novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang mengandung nilai-nilai pendidikan?
  2. Bentuk nilai-nilai pendidikan yang bagaimanakah yang dapat ditarik dari novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  3. Bagaimana relevansinya dengan kehidupan dewasa ini?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai pada hakikatnya menjawab masalah yang dikemukakan di atas dan dapat dirumuskan sebagai berikut;

  1. Mengungkapkan ada tidaknya nilai-nilai pendidikan dalam berbagai aspek yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwang Simatupang.
  2. Menggali bentuk-bentuk nilai pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  3. Merelevansikan nilai-nilai dan bentuk-bentuk pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang dengan kehidupan dewasa ini.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain;

  1. Membantu pembaca/penikmat sastra dalam memahami ada tidaknya nilai-nilai dan bentuk-bentuk pendidikan yang terdapat dalam novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.
  2. Ikut memberi kontribusi kepada khasanah ilmu pengetahuan sastra Indonesia pada khususnya dan khasanah ilmu penge­tahuan sastra dunia pada umumnya.


Pemakaian Kalimat Inversi Dalam Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” Karya Hamka

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan alat yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehari- hari. Setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari bahasa; bahasa juga dipergunakan untuk menanggapi apa yang terjadi di alam sekitar atau peristiwa yang terjadi.

Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Untuk berkomunikasi dengan sesama anggota masyarakat, kehadiran bahasa yang komunikatif akan menunjang tujuan yang hendak dicapai secara cepat. Bahasa yang komunikatif adalah bahasa yang dapat dipakai untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada masyarakat pemakainya. Tanpa bahasa, komunikasi atau hubungan antar manusia tidak dapat berlangsung dengan baik. Komunikasi dapat tercapai apabila pemakai bahasa mampu menggunakan kalimat – kalimat yang baik dan benar.

Untuk menggunakan kalimat yang baik dan benar perlu pemahaman mengenai kaidah-kaidahnya sesuai tata bahasa yang berlaku. Dalam tata bahasa dikenal sebagai suatu ilmu yang di dalamnya terdapat kumpulan kaidah, aturan, atau pedoman sistem berbahasa; baik sistem bunyi, sistem bentuk kata atau kalimat, maupun maknanya.

Penelitian tentang kalimat pernah dilaksanakan Rokhmah 1994 di kota Ujung Pandang. Hal yang sama pernah Ambo Endre 1993 di Minasa Tene. Akan ini membahas masalah kemampuan siswa kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk, akan penulis kaji lebih jauh adalah kalimat dalam kalimat tunggal dan kalimat inversi dalam majemuk. Alasan lain dilakukannya penelitian ini bahwa kalimat inversi adalah bagian dari kalimat, sedangkan kalimat adalah pembentuk tuturan. Kita berkomunikasi melalui kalimat, karena kalimatlah yang dapat menyampaikan pikiran dan perasaan manusia secara utuh. Di samping itu, kalimat merupakan salah satu sub pokok bahasan yang tercantum dalam kurikulum SMA.

Dengan demikian, masalah kalimat, khususnya inversi, perlu dijadikan kajian tersendiri.

B. Rumusan Masalah

Seperti yang telah dikemukakan pada latar belakang bahwa bahasa sebagai alat komunikasi sangat penting dalam kehidupan pemahaman terhadap kaidah-kaidah bahasa. Kalimat adalah salah satu aspek pembahasan dan memerlukan pemahaman yang luas banyaknya kalimat, maka penulis hanya pemakaian kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka. Hal ini menimbulkan masalah sebagai berikut.

  1. Apakah kalimat inversi dapat ditemukan pada kalimat tunggal dan kalimat majemuk dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” ?
  2. Bagaimana pola kalimat          inversi            dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” ?
    1. mendapatkan jenis kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”;
    2. mendapatkan gambaran tentang pola kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, adalah :

D. Manfaat

Sejalan dengan tujuan di atas maka manfaat yang bisa diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :

  1. Memperoleh gambaran tentang kalimat-kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”,
  2. Memperoleh deskripsi tentang pola-pola kalimat inversi dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”,
  3. Dapat memberi konstribusi di dalam perkembangan ilmu kesusasteraan Indonesia.

PENDIDIKAN; NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM ROMAN “AZAB DAN SENGSARA” KARYA MERARI SIREGAR

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Karya sastra adalah suatu cara mengungkapkan gagasan, ide, dan pemikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Karya sastra merupakan hasil kegiatan kreatif, imajinatif, dan artistik. Sebagai kegiatan yang imajinatif, sastra menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialami pengarang kepada penikmat karya sastra.

Karya sastra lahir sebagai perpaduan antara hasil renungan, pemikiran, dan perasaan seorang pengarang. Keberadaan karya sastra yang dihasilkan seorang pengarang di tengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan karena merupakan cermin kehidupan yang memantulkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal tersebut yang membedakan karya sastra dengan tulisan biasa. Dalam karya sastra terkandung nilai yang perlu digali untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, sastra dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.

Karya sastra merupakan hasil renungan manusia tentang kehidupan yang keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan itu sendiri. Peristiwa-peristiwa yang ada dalam kehidupan ini menjadi dasar olahan pengarang. Objek yang menjadi dasar olahan tersebut dituangkan ke dalam karya sastra yang hasilnya memberi dampak sendiri bagi penikmatnya. Dampak tersebut memperkaya pengalaman. Dengan kata. lain, apa pun yang ditemukan penikmat dalam karya sastra yang dibacanya tentang masalah kehidupan, seperti maut, cinta, kebahagiaan, keadilan penderitaan, baik dan buruk, semua itu berkaitan dengan pengalaman batinnya.

Objek sastra adalah manusia dan kehidupannya Oleh karena itu, karya sastra merupakan suatu sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai yang dianggap lebih tinggi serta menafsirkan makna dan hakikat hidup. Jadi, karya sastra sebagai karya kemanusiaan selalu menceritakan pengalaman hidup manusia Telah diketahui bahwa kehidupan masyarakat sesuatu yang sangat kompleks. Kekomplesan tersebut diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam sekitarnya, dan manusia dengan Tuhannya. Hubungan-hubungan tersebut menimbulkan konflik yang menyebabkan kepincangan dan penyelewengan dalam kehidupan.

Perpaduan keindahan dan realitas kehidupan yang terkandung dalam  karya sastra dapat menggugah dan mempengaruhi jiwa seseorang. Seorang pengarang dikatakan berhasil menciptakan karya sastra yang baik apabila dapat mempengaruhi perasaan seseorang atau masyarakat yang mengkomsumsi karya sastra tersebut. Dengan demikian, keberhasilan karya sastra bukan terletak pada keberhasilan seorang pengarang untuk menciptakan karya sastra tersebut, tetapi keberhasilannya terlihat dan tergambar pada pengaruhnya terhadap orang atau masyarakat yang mengkomsumsinya. Secara tidak langsung, masyarakatlah yang menentukan mana karya sastra yang bermutu dan mana yang kurang bermutu.

Pada hakekatnya, seorang pengarang seharusnya memiliki kebebasan ekspresi dalam berkarya Dengan adanya kebebasan berekspresi, tanpa ikatan-ikatan seperti pada pengarang-pengarang lama, maka akan lahir dengan sendirinya keberanian untuk menyatakan kejujuran. Dengan demikian, seorang pengarang dapat mewakili perasaan dan keinginan dari masyarakatnya atau lingkungannya melalui ketajaman pena yang dimilikinya.

Djoko Pradopo (1994:59) mengatakan :

“Karya sastra adalah karya seni, yaitu suatu karya yang menghendaki kreativitas. Dalam definisi sastra telah disebutkan bahwa karya sastra itu karya yang bersifat imajinatif, yaitu karya sastra yang terjadi akibat pegangan dan hasil pegangan itu adalah penemuan-penemuan baru, kemudian penemuan­-penemuan baru itu disusun ke dalam suatu sistem dengan kekuatan imajinasi hingga terciptalah suatu dunia baru yang sebelumnya belum ada”.

Berdasarkan konsepsi di atas dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah hasil kegiatan kreatif; imajinatif, dan artistik yang dapat memberikan pengayaan batin yang sangat berharga bagi manusia.

Di dalam kehidupan yang nyata maupun kehidupan yang dijumpai dalam sebuah karya sastra, biasanya seseorang mendapatkan kebahagiaan, kelembutan, kedamaian, pengertian, cinta, dan kasih sayang dari pasangannya Akan tetapi, lain halnya yang dialami oleh pelaku utama Aminuddin dan Mariamin dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar. Mariamin menikah dengan pria yang tidak dicintainya yang ternyata tidak mendapatkan sesuatu yang didambakan dari suaminya dan hanyalah kekecewaan yang diperoleh. Demikian pula halnya dengan Aminuddin yang tidak memperoleh kebahagiaan dalam perkawinannya. Kedua insan yang tidak merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga itu disatukan dalam kehendak dan harapan dari kedua orang tuanya. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik sehingga penulis atau peneliti ingin mengembangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Sastra adalah alat untuk menyampaikan aturan, ajaran, nasihat, atau agama (Samna, 1984: 14). Karya sastra merupakan salah satu media untuk memberikan informasi, baik berupa pesan pendidikan moral maupun agama, sangatlah perlu ditumbuhkembangkan dan disebarluaskan dalam masyarakat. Hal ini sangat bermanfaat bagi masyarakat di dalam memahami kehidupan yang berisi tentang kekuatan dan kelemahan, kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kebahagiaan dan sebagainya.

Roman sebagai salah satu karya sera yang cukup populer dalam masyarakat merupakan karya fiksi yang tidak sekedar mengungkapkan dan menceritakan aspek-­aspek kemanusiaan saja, tetapi lebih dari itu, fiksi mengajak pembaca atau masyarakat memikirkan dan merenungi kehidupan yang penuh dengan keanekaragaman peristiwa.

Roman sebagai suatu karya sastra semakin besar peranannya, walaupun terdapat keterbatasan dalam penyebarannya di kalangan masyarakat. Roman sering diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang pelakunya diceritakan sejak kecil sampai meninggal dunia. Perbedaan dengan novel yaitu prosa fiksi yang menceritakan kehidupan pelakunya yang luar biasa dan dapat mengakibatkan perubahan nasib. Jadi, perbedaan roman dengan novel terletak pada cakupan hal atau masalah yang diceritakan. Pada Roman hal yang diceritakan meliputi semua kehidupan manusia dari kecil hingga meninggal dunia, sedang novel yang diceritakan adalah kehidupan pelakunya yang luar biasa.

Sejak terbitnya roman yang pertama di Indonesia, yaitu “Azab dan Sengsara”, hasil karya Merari Siregar, maka terus mengalirlah karya-karya sastra dari tangan para sastrawan Indonesia Di samping itu corak dan sifatnya pun terus berkembang, baik gaya maupun pikiran serta masalah-masalah yang dikemukakan oleh para sastrawan dalam karya-karyanya.

Menurut Semi (1988:20) :

“Sastra, seperti halnya karya seni lain, hampir setiap zaman memegang peranan penting karena sastra dapat mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan yang berfungsi sebagai alat untuk meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti positif; baik masa sekarang maupun masa yang akan datang”.

Menurut Harjana (1991:83) Keberadaan karya sastra bukan dikhususkan bagi segolongan orang-orang tertentu saja, melainkan untuk semua orang dan semua tingkatan. Sastra ditulis untuk dibaca siapa saja dan latar belakang pendidikan apa saja.

Karya sastra memberi kesenangan dan faedah bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat penikmatnya. Nilai-nilai yang terdapat di dalamnya sangat bermanfaat untuk diteladani. Besar kemungkinan di dalam roman “Azab dan Sengsara” juga terdapat nilai pendidikan yang sangat berfaedah bagi masyarakat. Dengan dasar pemikiran seperti inilah sehingga penulis merasa perlu menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam roman “Azab dan Sengsara”.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang yang diuraikan di atas, maka perlu dirumuskan masalah dalam penelitian ini. Rumusan masalah itu memberikan batasan masalah kepada penulis sehingga pembahasan tidak terlepas dari yang diharapkan.

Adapun masalah yang diangkat penulis dalam penelitian ini adalah nilai-nilai apakah yang terkandung dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar ?

C.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini merupakan usaha untuk mendapat jawaban terhadap permasalahan yang telah dirumuskan, yakni untuk menemukan nilai-nilai yang terdapat dalam roman “Azab dan Sengsara”.

D.   Manfaat Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya memberikan pemahaman terhadap masalah yang diangkat, tetapi juga diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap masalah yang mempunyai hubungan dengan nilai-nilai tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh seseorang, termasuk penelitian karya sastra, seharusnyalah memberikan manfaat kepada siapa saja yang membacanya Demikian pula yang dilakukan penulis, diharapkan dapat memberikan manfaat, baik kepada penulis sendiri maupun kepada pembaca.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yaitu :

  1. Untuk meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra.
  2. Untuk membantu pembaca atau penikmat sastra dalam mecnahami nilai-nilai yang terdapat dalam roman “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar.

GAMBARAN SOSIAL MASYARAKAT DESA TANGGIR DALAM NOVEL “DI KAKI BUKIT CIBALAK” KARYA AHMAD TOHARI

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Sastra adalah kreativitas manusia dalam wujud bahasa yang selalu mempersoalkan kehidupan manusia. Menurut Semi (1989:8), “Sastra merupakan basil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupan dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya”. Oleh karena objeknya adalah manusia dan kehidupannya, maka dapatlah dikatakan bahwa Sastra adalah gambaran kehidupan manusia.

Penggambaran kehidupan manusia dalam Sastra didasarkan pada upaya serta daya imajinasi pengarang sehingga kehidupan tersebut bersifat imajinatif. Namun, tidak jarang dijumpai bahwa kehidupan manusia yang digambarkan dalam sastra merupakan kehidupan faktual, baik kehidupan individu (pengarang) maupun kehidupan sosial (masyarakat) yang diolah berdasarkan imajinasi pengarang. Berkaitan dengan hal ini Hardjana (1981:14) mengatakan bahwa proses penghayatan seorang pengarang dalam melahirkan karyanya berpangkal pada persepsi hayali yang semata-mata menggerakkan angan-angan. Dengan demikian, kehidupan manusia dalam sastra merupakan pembauran antara kehidupan imajinasi dan faktual.

Menurut Barnet (dalam Semi, 1989:20), sastra, sebagaimana karya seni lainnya, hampir setiap zaman memegang peranan penting karena sastra dapat mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan yang berfungsi sebagai wadah untuk meneruskan norma suatu masyarakat dalam arti positif, baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Sastra lahir sebagai proses kreativitas manusia yang bersumber dari kehidupan masyarakat (manusia) tempat ia itu dilahirkan. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan semata-mata sebuah imitasi. Sastra merupakan suatu luapan emosi yang spontan dari hal yang dilihat dan dirasakan oleh sastrawan dalam lingkungan kehidupan yang kemudian dituangkannya dalam karya sastra.

Karya sastra merupakan pancaran kehidupan sosial dan gejolak kehidupan pengarang. Pancaran kehidupan tersebut muncul karena adanya interaksi secara langsung atau tidak langsung, secara sadar maupun tidak sadar, kemudian diwujudkan dalam tulisan yang ditata sedemikian rupa dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra lahir dari masyarakat untuk masyarakat dan berguna untuk mengarahkan pola hidup yang lebih baik. Oleh karena sastra lahir dari masyarakat, maka dengan sendirinya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Hal itulah yang menyebabkan sastra sering dikaji untuk mengungkap misteri kehidupan. Sejalan dengan itu Wellek (1990 : 109) mengatakan bahwa sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa yang bersifat sosial karena merupakan konvensi dari norma masyarakat. Sastra menyajikan kehidupan dan penghidupan yang sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru slam dan dunia subjektivitas manusia.

Karya sastra itu lahir melalui peramuan imajinasi pengarang dengan gambaran atau realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Pengarang merupakan anggota masyarakat sehingga dia ikut merasakan dan mengalami akibat dari kejadian-kejadian yang timbul di dalam masyarakat. Oleh karena itu, ide-ide yang diekspresikan dalam karyanya tidak dapat dipisahkan dari situasi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, hal-hal yang dilihat, dialami, dan dirasakan oleh pengarang dalam lingkungannya termasuk lingkungan sosialnya, diramu sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah karya sastra.

Totalitas ekspresi pengarang yang dituangkan dalam karyanya menjadi lebih hidup karena merupakan basil persentuhan dengan lingkungan masyarakat yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang dialami oleh suatu masyarakat, baik berupa kemelut hidup, kemiskinan, kelaparan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, maupun kepincangan sosial dan berbagai masalah sosial lainnya dalam kehidupan masyarakat.

Hardjana (1992:72) mengemukakan bahwa daya khayal pengarang dipengaruhi oleh dunia lingkungan dan terutama karena adanya minat pengarang yang mendalam terhadap manusia yang ada dalam masyarakat lingkungan hidup, persoalan-persoalan yang dialami, keadaan dan watak masyarakat oleh seorang pengarang merupakan pencerminan lingkungan masyarakat tertentu.

Karya sastra yang diramu sedemikian rupa dari basil persentuhan dengan lingkungan masyarakat menunjukkan bahwa karya sastra, khususnya novel, memuat realitas sosial di dalamnya. Novel digambarkan oleh Jhonson (dalam Faruk, 1994 : 46) sebagai genre sastra yang cenderung realitas. Novel merepresentasikan suatu gambaran yang jauh lebih realistik mengenai gambaran sosial. Taine (dalam Faruk, 1994 : 46) mengemukakan bahwa salah satu tujuan novel adalah menggambarkan kehidupan nyata, mendeskripsikan karakter-karakter, mensugestikan rancangan tindakan, dan memberikan penilaian terhadap motif-motif tindakan.

Novel sebagai salah satu genre karya sastra, di samping mempunyai sifat yang imajinatif juga berangkat dari realitas sosial. Dapat dikatakan bahwa novel merupakan cerminan dari masyarakat tertentu. Asumsi ini diperkuat oleh pendapat yang dikemukakan oleh Scholes (dalam Yunus, 1985:139) yang mengatakan bahwa sastra tidak dapat melepaskan dirinya dari realitas meskipun sifatnya imajinatif.

Salah satu novel yang bercerita tentang kehidupan sosial masyarakat tertentu dapat dilihat dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak (DKBC) karya Ahmad Tohari. Novel ini menggambarkan keadaan sosial masyarakat Jawa Tengah, pada salah satu desa kecil bernama Desa Tanggir tahun 70-an. Novel ini menggambarkan tentang masyarakat desa yang hidup dalam kemiskinan, kehidupan desa yang tidak lagi memberikan kedamaian, perlakuan tidak adil yang dilakukan oleh aparat desa, adanya kesenjangan antara masyarakat bawah yang diwakili oleh tokoh Pambudi, Mbok Ralem, Sanis, Pak Badi dan tokoh-tokoh cerita lainnya dengan masyarakat atas yang diwakili oleh tokoh Pak Dirga sebagai kepala desa.

Novel DKBC menceritakan tentang masyarakat Desa Tanggir yang sebagian bestir masyarakatnya adalah petani. Ada yang mengolah sawahnya sendiri dan sebagian lagi mengolah sawah tetangga dengan imbalan yang relatif rendah. Jangankan untuk membeli pakaian, untuk makan sehari-hari saja sulit untuk mereka penuhi. Seperti yang dialami oleh tokoh Mbok Ralem yang ditinggal mati suaminya dan memiliki dua orang anak teak mempunyai biaya untuk mengobati penyakitnya, maka ia meminta bantuan kepada Pambudi agar diberi pinjaman dari koperasi yang dikelola Pambudi. Akan tetapi hal itu tidak disetujui oleh kepala desa karena Mbok Ralem masih mempunyai utang pada koperasi desa. Sikap kepala desa tersebut menjadi pemicu perselisihan antara Pambudi dengan kepala desa karena Pambudi menganggap bahwa Mbok Ralem sepatutnya diberi pertolongan mengingat kondisi ekonominya yang sangat menyedihkan, padahal ada uang dana darurat milik koperasi. Ternyata uang dana darurat itu digunakan untuk pelebaran jalan yang memiliki keuntungan yang sangat besar. Sikap kepala desa tersebut mencerminkan segelintir manusia yang tidak perduli dengan hal-hal yang dialami orang lain dan hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri.

Oleh karena Pambudi tidak mau diajak bekerja lama dan takut rencana liciknya disebarkan, maka Pak Dirga berusaha menyingkirkan Pambudi dari desanya dengan cara menfitnah Pambudi. Karena fitnah tersebut, Pambudi akhirnya tersingkir dari Desa Tanggir. Tersingkirnya Pambudi membuat Pak Dirga selaku kepala desa merasa lega dan bebas melakukan semua rencana liciknya yang dapat merugikan rakyat banyak, misalnya melakukan korupsi atau menyalahgunakan uang koperasi. Koperasi desa yang diharapkan dapat membantu masyarakat desa yang sedang menderita justru sebaliknya, kas koperasi digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi Pak Dirga.

Adanya berbagai masalah sosial yang dialami oleh masyarakat desa seperti yang terjadi pada masyarakat Desa Tanggir merupakan masalah-masalah manusia yang asasi sehingga memerlukan bantuan kita semua guna mencari alternatif pemecahannya agar dapat mengembalikan kehidupan masyarakat desa sebagaimana mestinya.

Realitas sosial yang diungkapkan Tohari dalam novel DKBC sama dengan realitas yang terjadi pada masyarakat kita di beberapa desa pada saat ini. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Luxemburg dkk. (1986:230) bahwa “Sastra yang ditulis pada kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu”.

Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan wituk menentukan aspek-aspek sosial dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, karya Ahmad Tohari, adalah pendekatan sosiologi. Ini bertolak dari pandangan bahwa sastra merupakan pancaran kehidupan masyarakat dan mencerminkan suka duka kehidupan bermasyarakat.

Latar belakang masalah itulah yang membuat penulis memilih judul “Gambaran Sosial Masyarakat Desa Tanggir dalam Novel Di Kaki Bukit Cibalak Karya Ahmad Tohari” dengan menggunakan pendekatan sosiologi.

B.   Rumusan Masalah

Berpegang pada dasar pemikiran di atas dan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, peneliti mengangkat masalah penelitian ini sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah gambaran kehidupan sosial masyarakat Desa Tanggir dalam novel DKBC?
  2. Bagaimanakah sikap masyarakat Desa Tanggir terhadap masalah-masalah sosial yang dialami dalam novel DKBC karya Ahmad Tohari tersebut ?

C.   Tujuan Penelitian

Penelitian ini disusun dengan maksud untuk menjawab dan mengungkap pokok permasalahan yang berkaitan dengan gambaran sosial masyarakat Desa Tanggir yang terdapat dalam novel DKBC karya Ahmad Tohari. Tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

  1. Menggambarkan kehidupan sosial masyarakat Desa Tanggir.
  2. Menjelaskan sikap masyarakat Desa Tanggir terhadap masalah-masalah sosial.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Menambah wawasan peneliti sesuai dengan bidang ilmu yang digelutinya.
  2. Meningkatkan apresiasi pembaca terhadap karya sastra dalam bentuk novel.
  3. Membantu pembaca atau penikmat sastra dalam pemahaman ada tidaknya gambaran sosial yang terdapat dalam novel “Di Kaki Bukit Cibalak” karya Ahmad Tohari dan
  4. Sebagai bahan acuan bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian ini dengan pendekatan yang lain.

ANALISIS GAYA PENCERITAAN DALAM NOVEL

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Sastra sebagai gambaran dunia (dalam kata) dapat mengungkapkan rahasia terhadap dunia manusia dan dapat memberikan pengalaman batin yang sangat berharga kepada pembaca. Sastra dapat memberikan makna terhadap eksistensi manusia serta dapat memberikan jalan kepada kebenaran dengan cara mengungkap tabir rahasia hidup dan liku-liku kejiwaan (psikologi) manusia. Di samping itu, Sastra dapat pula berfungsi sebagai hiburan dan pengisi waktu luang. Karena itu, Sastra tidak hadir dengan begitu saja, tetapi keberadaannya memberikan andil dalam masyarakat.

Banyak persoalan dan peristiwa yang terdapat dalam sastra (novel) yang dapat menambah pengalaman dan pengetahuan pembacanya. Peristiwa itu sebagai bagian dari penciptaan karya sastra, misalnya: watak pelaku, suasana yang digambarkan, adanya puncak masalah (klimaks), serta ketegangan yang mengakibatkan terjadinya konflik. N.H. Dini dengan gaya mengarang yang sederhana menggunakan gambaran suatu peristiwa dengan goresan yang sangat halus dan memikat.

Prosa flksi seperti novel merupakan suatu karya imajinasi yang sangat subjektif. Prosa fiksi cenderung mendayagunakan gaya penceritaan yang merupakan salah satu unsur yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Di dalamnya menggambarkan segala aspek dan sendi kehidupan umat manusia yang sebagian dengan pendapat yang dikemukakan oleh Wellek dan Austin (1989:109), sebagai berikut :

“Sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia.”

Walaupun novel N.H. Dini sering dicetak ulang, namun tidak pernah didapatkan bertumpuk di toko buku. Sebaliknya, buku-buku inpres yang dapat dipesan dari percetakan ratusan ribu eksemplar, pada akhirnya juga bertumpuk di toko atau di perpustakaan dengan label milik negara (perpustakaan). Novel lebih banyak menjadi koleksi pribadi bagi penggemarnya. Hanya, sudah banyak penggemar sastra beralih ke bacaan biasa yang dikenal dengan novel populer (pop). Hal ini merupakan suatu realita dalam sastra karena karya sastra adalah suatu karya yang imajinatif sangat luas. Bahkan, hampir memasuki semua sisi kehidupan manusia di dunia sebagai karya sastra yang imajinatif sastra tidak hanya membawa pesan kepada pembacanya, tetapi juga meninggalkan pesan perasaan seseorang.

Oleh karena itu, kalau membaca karya-karya sastra hendaknya pikiran dan perasaan senantiasa terbuka, agar dapat mengenal sastra itu dari semua segi, misalnya, emosional dan keindahan (estetika), bukan karena hanya mengenai sastra secara logika. Jadi, memahami karya sastra bukan hanya yang tersurat, tetapi juga hal-hal yang tersirat. Di samping itu, kenyataan di atas juga mengisyaratkan bahwa karya-karya N.H. Dini sangat disukai masyarakat.

Dalam usaha memahami karya sastra hendaknya jangan menggunakan kacamata eksak atau yang bersifat objektif, tetapi hendaknya menggunakan kacamata yang imajinatif atau yang fiktif. Dengan cara tersebut, maker dengan mudah pembaca akan menangkap makna yang terkandung dalam karya sastra serta dapat mengetahui antara yang nyata dan yang bersifat khayalan. Dengan dasar itu, pembaca akan sanggup pula memahami ungkapan serta makna yang terdapat dalam novel. Novel sebagai suatu karya sastra sama halnya dengan karya seni lainnya, seperti cerpen yang diciptakan dari ilham yang diterima oleh pengarang. Karya sastra sangat dipengaruhi oleh tingkat daya khayal pengarang. Kemampuan seorang pengarang menggunakan teknik dan gaya penceritaan sangat mempengaruhi daya tank seseorang untuk membaca karya sastra, baik itu untuk pengetahuan umum, sebagai hiburan, atau mengisi waktu luang. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa gaya penceritaan memainkan peranan yang sangat penting dalam sebuah karya sastra.

Kembali pembaca menyinggung N.H. Dini dengan kepiawaiannya mampu menjadi seorang penulis ternama di antara sederatan penulis besar lainnya. Salah satu karyanya yang patut diperhitungkan oleh penikmat sastra adalah “Tirai Menurun”. Karya ini adalah karya yang sangat laris dan sudah lama beredar di masyarakat. karya ini termasuk salah satu karya yang bermutu tinggi karena sampai hari ini, ia tetap dibaca dan dinikmati banyak orang. Dengan bertitik tolak dari pandangan di atas yang menekankan pentingnya peranan gaya penceritaan dalam penentuan kesuksesan sebuah karya sastra dan dari ilustrasi di atas secara keseluruhan, penulis melakukan penelitian dengan judul Analisis Gayer Penceritaan dalam novel Tirai Menurun Karya N.H. Dini.

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, berikut dirumuskan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini, yaitu : Bagaimanakah gaya penceritaan yang digunakan dalam novel “Tirai Menurun” karya N.H. Dini?

C.   Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jawaban atas masalah yang telah dirumuskan di atas. Namun, untuk lebih jelasnya, akan disebutkan tujuan dari penelitian ini, yaitu: Untuk mendeskripsikan gaya penceritaan yang digunakan dalam novel “Tirai Menurun” karya N.H. Dini.

D.   Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk :

  1. Menambah wawasan peneliti sesuai dengan kajian ilmu yang digelutinya;
  2. Membantu pembaca karya sastra dalam mengenal gaya penceritaan N.H. Dini;
  3. Untuk mengembangkan pengkajian karya sastra;
  4. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap peneliti berikutnya.